Tell Your Mom, I Love Her! #2

TellYourMomILoveHerCOVERiHola todos!! Annyeong chingu-deul!! :D *lambai-lambai kawaii* setelah author beberapa hari ini mengalami dilema ‘Lost Idea’ sekarang author balik lagi nih dengan Part 2 FF ini *nunjuk judul diatas* tanpa banyak monyong lagi *ngomong thor..ngomong..ta’ kepret nih! -_-* Happy reading guys :D jadilah pembaca yang budiman dengan meninggalkan ‘LIKE’ atau ‘COMMENT’ kalian setelah membaca :) !!No Silent Reader!! Enjoy :D

* * * * * * * * * * * *

Part 2 :

“Eonni..” Gadis kecil itu muncul dari balik pintu Ji Eun dengan ekspresi ketakutan.
“Ada apa, sayang? Mimpi buruk?” Tanya Ji Eun sembari menghampiri gadis kecil itu.
“Ne, eonni. Mimpi yang sangat menakutkan. Boleh, aku tidur dengan eonni malam ini?”
Ji Eun membalas pertanyaan gadis itu dengan senyum lembut sambil mengangguk, kemudian menggendong gadis kecil itu naik keatas ranjang miliknya.
“Memangnya kau mimpi apa?” Tanya Ji Eun lembut setelah membaringkan tubuh Hanna.
“Tadi aku mimpi. Ada seorang pria dia bilang, dia itu ayahku. Lalu, dia terus mendesakku untuk ikut dengannya, tapi aku tidak mau. Aku sendiri tidak kenal siapa dia. Aku takut eonni.” Cerita Hanna masih dengan ekspresi ketakutan, bahkan bulir-bulir keringat membasahi kening gadis kecil itu.
Sedang Ji Eun, wanita itu seketika merasa takut dan khawatir. Rasa cemas yang terlupakan 4 tahun lalu itu kembali menghantuinya. Rasa cemas, kalau-kalau Hanna tau yang sebenarnya dan terluka dengan kenyataan pahit itu.
“Eonni..itu hanya mimpi kan?” Tanya bocah perempuan itu polos dan penuh harap.
“Iya, sayang. Itu hanya mimpi. Mimpi yang harus segera kau lupakan.” Balas Ji Eun sembari mengelus pucuk kepala Hanna lembut, “..sekarang, tidurlah.” Pinta Ji Eun lembut sembari menarik selimut yang terdapat dibawah kaki mereka.
Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Dan mimpi itu…mimpi itu tak akan jadi kenyataan untukku dan Hanna.

* * * * * * * * * * * *

          “Oh ayolah, Ji Eun! Mau sampai kapan kau sembunyikan ini semua dari Hanna?” Wanita muda dengan jubah putih yang sama dengan milik Ji Eun itu mulai menatap Ji Eun penuh tuntutan.
“Entahlah, Anya..aku hanya masih belum siap memberitahukan ini pada Hanna. Lagi pula, aku tidak mau dia mengenal siapa ayahnya. Aku tidak mau dia mencari pria itu.” Balas Ji Eun sembari memijat-mijat kepalanya yang terasa pening.
“Lalu? Sampai kapan?” Tanya Anya masih dengan tatapan menuntut, “..sampai Hanna tau sendiri?”
“Sampai kapan aku bisa mendapat seorang ayah yang pantas untuknya.” Balas Ji Eun memotong pertanyaan Anya.
“Hmm..terserah kau sajalah. Yang menurutmu terbaik..aku hanya bisa mendukung” ucap Anya sambil tersenyum, “..oh ya, kalau ada dokter magang yang tampan..boleh lah kalau kau perkenalkan padaku.” Tawar Anya sembari mengedip sebelah matanya pada Ji Eun.
“Tchss..dipoli kandungan juga ada kan, Anya?”
“Tapi..bisa jadi tidak setampan dipoli anak. Oh ya, katanya putra sulung dr. Marquez magang dipoli anak, ya?”
“Katanya begitu. Tapi kurang tau juga.”
Anya mulai mengambil tempat lebih dekat dengan Ji Eun , “..bagaimana kalau kau dekati dia. Karena, menurut perawat-perawat dan dokter-dokter yang sudah pernah melihatnya, dia itu sangat tampan. Dan katanya lagi..ketampanannya itu melebihi batas normal.”
“Memangnya ada manusia setampan itu?”
Anya memutar bola matanya sebal, “..Ji Eun! Mungkin saja, kan?!”
“Yaah..yaah..lihat saja nanti.” Jawab Ji Eun yang mulai malas mendebat Anya, karena akan percuma saja menurutnya.
“Kalau begitu, aku kembali ke ruanganku dulu, ya? Semangat untuk hari ini, Ji Eun.”
Wanita itu kemudian keluar dari ruang Ji Eun sedang Ji Eun hanya mendengus geli melihat tingkah sahabat semasa SMA-nya itu.
Dia sepertinya tidak waras.

Pria itu berjalan dengan langkah mantap. Raut wajahnya nampak berseri-seri. Senyum manis mematikannya tak lupa ia kembangkan, membuat siapapun wanita normal dirumah sakit itu bisa saja jatuh pingsan.
Ya. Sebagai putra pemilik Dè Deù Hospital dan calon penerus rumah sakit ini, Marc sangat yakin kalau hari-harinya dirumah sakit ini akan mudah, semudah berjalan dijalan tol.
Toh, siapa juga yang akan berani dengan putra pemilik rumah sakit ini? Pikirnya.
“Kau terlambat 10 menit tuan Marc Marquez Alenta!” Seru dingin sebuah suara dari belakang Marc. Pria itu segera berbalik, mencari sumber suara yang kini sudah berdiri tepat dibelakangnya, “..aku tidak akan segan-segan mengurangi nilaimu jika sikapmu seenaknya seperti ini.” Lanjut wanita muda yang nampak seumuran dengan Marc itu.
“Kau..dokter magang juga?” Tanya Marc dengan tatapan datar, “..kalau sesama dokter magang, jangan sok menegurku!” Lanjut pria itu ketus kemudian kembali meneruskan langkahya menuju sebuah ruangan bertulis ‘Poli Anak’.
“Kau baru sampai, bro?” Tanya seorang pria ketika melihat Marc yang baru saja masuk kedalam ruangan itu.
“Hei, Tito. Kau disini juga?” Tanya Marc santai berusaha mengalihkan pertanyaan Tito, “..oh ya, mana dokter pembimbing kita?” Tanya Marc yang mulai meliuk-liukkan kepalanya, berusaha mencari siapa yang akan membimbing mereka.
“Itu. Dia baru datang.” Tunjuk Tito kearah pintu masuk.
Marc mengikuti arah tunjukkan Tito. Seketika, tubuh Marc menegang. Jantungnya memompa 2x lebih cepat dari normalnya. Astaga! Jadi dia! Mati!
“Baiklah. Kalau kalian semua sudah hadir, selamat pagi. Perkenalkan, saya dr. Lee Ji Eun SpA, mulai hari ini sampai selesai. Saya lah yang akan menjadi dokter pembimbing kalian. Yaah..aku tau kalian sedang menatap heran padaku, kenapa aku yang masih seumuran kalian ini sudah bergelar Spesialis Anak?”, “Tapi kurasa itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah…aku tidak akan mentolerir segala bentuk kesalahan yang kalian lakukan. Dan segala bentuk kedisiplinan yang aku terapkan itu adil, tidak memandang siapapun kalian dan…jabatan kalian tentunya. Baiklah, kurasa cukup itu..dan selamat bekerja.”
Ji Eun mulai membagi tugas kepada dokter-dokter magang itu, sedang Marc masih membatu tak percaya dengan apa yang terjadi pagi ini.
“Kenapa kau? Jangan bilang kau jatuh cinta pada dokter pembimbing kita? Iya sih, dia cantik, cerdas dan menarik. Tapi..menurut rumor, dia itu galak.”
Marc menatap Tito dengan tatapan ngeri, “..yang benar saja?”
“Yaah..itu yang kudengar dari perawat-perawat disini.”
Marc menelan ludahnya susah payah. Jantungnya makin memacu dengan cepat. Bulir-bulir keringat halus pun mulai mengucur turun dari keningnya. Hari-hariku akan 10x lebih sulit pastinya batin Marc.

* * * * * * * * * * * *

          Seorang perawat berlari dengan cepat dari arah koridor IGD sana. Wajahnya nampak panik, napasnya masih tersenggal namun, berusaha untuk menyampaikan sesuatu.
“dr. Lee..anda diminta ke IGD sekarang. Ada pasien anak yang gawat disana.”
Tanpa harus membalas lagi, Ji Eun juga dua orang dokter magang segera berlari mengikuti perawat tadi ke IGD.
Sesampainya disana, Ji Eun langsung mengampiri seorang ibu yang menangis sesenggukan disamping ranjang rawat putri kecilnya, “..apa yang terjadi pada anakmu?” Tanya Ji Eun lembut.
“Entahlah, dok. Tadi, aku meninggalkannya sebentar kekamar mandi. Dan setelah aku kembali, napasnya sesak dan sudah kejang-kejang seperti ini. Aku panik dan langsung membawanya kesini.” Jelas wanita paruh baya itu masih terisak.
“Apa sebelum sesak napas dan kejang-kejang seperti ini, dia sempat demam?” Tanya Ji Eun lagi kemudian memeriksa denyut nadi dipergelangan gadis kecil itu.
“Iya. Semalam dia demam tinggi. Dan kupikir, mungkin itu demam biasa. Jadi aku hanya memberinya obat demam.”
Ji Eun mengangguk paham kemudian menatap Marc juga seorang dokter magang lain yang ikut dengannya tadi, “..Marc tolong ambil sampel darah venanya dan kau pantau terus denyutnya. Aku akan segera kembali.”
Ji Eun berlari kearah sebuah ruangan yang adalah ruang penyimpanan obat-obatan.
“Sayang..ini akan seperti digigit semut, tahan sebentar, ya?” Bujuk Marc sebelum menusuk masuk jarum suntik itu. Gadis itu berusaha menahan sakit ketika jarum kecil itu menusuk masuk, “..nah, sudah selesai..maaf, ya kalau tadi sakit.” Bujuk Marc lembut kemudian berlari menuju laboratorium yang tak begitu jauh dari IGD.
“Bisa tolong periksa ini segera. Ada pasien gawat di IGD.” Pinta Marc setengah memohon kepada petugas lab tersebut.
“Baiklah. Setengah jam lagi mungkin akan selesai. Kau bisa tunggu disini.” Balas petugas lab tersebut kemudian kembali masuk kedalam. Sedang Marc menanti dengan cemas diluar.
Sesuai dengan janji petugas lab tadi, setengah jam kemudian hasil tersebut sudah berada ditangan Marc. Tak sempat pria itu membacanya, ia langsung membawa hasil tersebut kepada Ji Eun.
“Apa maksudmu?” Tanya Ji Eun datar, “..ini..apa maksudmu?” Tambahnya kemudian meremas kusut kertas ditangannya itu.
“Maksudnya apa..”
“Tadi apa yang aku suruh padamu, hah?! Kau ini bodoh atau tolol?” Bentak Ji Eun marah. Mata gadis itu menyala bak kilatan petir.
“Marc..kau tadi mengambil darah arteri. Lihat leher anak itu bengkak.” Bisik rekan Marc sesama dokter magang itu, dengan gugup.
Marc menatap leher bocah perempuan yang sudah memar dan bengkak itu. Pria itu membelalak terkejut, ini kesalahan yang sangat fatal. Bahkan gadis kecil itu makin meringis kesakitan.
“Kalau tidak bisa membandingkan darah dari vena dan arteri seperti ini, untuk apa kau jadi dokter, hah?!” Delik tajam Ji Eun kearah Marc yang hanya bisa menunduk dan terdiam, “..cepat ambil lagi darah vena anak ini dan bawa ke laboratorium sekarang!” Bentak marah Ji Eun sembari melempar kasar hasil lab keliru tadi ke wajah Marc, “..atau bilang pada ayahmu untuk mencari rumah sakit lain yang bisa menempatkan calon pembunuh sepertimu.” Tambahnya dengan suara rendah penuh ancaman.

* * * * * * * * * * * *

          Pria itu benar-benar merasa kacau sekarang. Dengan lelah, Marc melempar tubuhnya keatas ranjang.
“Sial! Apa yang kulakukan tadi?! Aku hampir saja membunuh seorang anak!” Keluh Marc pada dirinya sendiri.
“Kau sudah pulang, Marc?” Suara berat itu langsung membuat Marc melonjak bangun dari kasurnya.
“Dad?” Marc menatap pria paruh baya itu dengan tatapan penuh keluhan.
“Ada apa, hah? Oh ya, bagaimana hari pertamamu dirumah sakit? Menyenangkan atau sebaliknya?”
Marc menekuk wajahnya dan menatap datar ayahnya yang sudah mengambil tempat disebelahnya itu, “..buruk, dad! Sangat buruk!” Keluh Marc.
“Buruk? Memangnya apa yang terjadi?”
“Aku..aku salah mengambil sampel darah tadi.” Jujur Marc sembari menunduk menyesal.
“Hmm..lumayan fatal, nak. Tapi..jangan membuatmu sampai sekacau ini. Orang itu tidak sampai meninggal kan?”
Marc mengangguk lesu menjawab pertanyaan ayahnya itu, “..nah..jangan bersedih terus dan ambil pelajaran dari hal tadi. Jangan sampai buat kesalahan yang sama.”
Marc kembali mengangguk. Kini sedikit lengkung senyuman bisa mengembang dibibirnya.
“Lalu? Siapa yang membimbing kalian?”
“dr. Lee..dokter cantik tapi galak.” Tambah Marc setengah bercanda.
“dr. Lee, ya? Kau suka padanya?” Goda pria paruh baya itu sembari menyikut pelan lengan Marc.
“Si-siapa? Aku? Dad yang benar saja? Wanita segalak itu? Tidak!” Elak Marc.
“Begitu, ya? Ya sudah..kalau begitu, segeralah mandi dan turun untuk makan malam.” Pinta pria paruh baya itu kemudian beranjak keluar dari kamar Marc.

To Be Continued…

Cuplikan Part 3 :

“Eonni..ada oppa tampan yang memberikan ini untukmu..dia masih diluar.”
“Siapa?”
“Itu..”
Ji Eun mengikuti arah tunjuk Hanna. ‘Deg!’
…..

Will Posting Soon :D

Tell Your Mom, I Love Her!

TellYourMomILoveHerCOVERiHola, guys! :D Annyeong chingu-deul! :D Jumpa lagi kita :D setelah sekian lama author menghilang tanpa jejak *kemana loe?!* sekarang author nongol lagi dengan FF barunya :) Daaann..tanpa basa-basi yang begitu banyak lagi..author persembahkan FF barunya kepada semua reader yang budiman dan setiawan *Hendra Setiawan kali, thor! -_-* Jangan lupa, setelah membaca, tinggalkan ‘LIKE’ atau ‘COMMENT’ kalian dibawah !!NO SILENT READER!! Gracias! :D Gumawo! :D

* * * * * * * * * * * *

Cast :
Lee Ji Eun (IU) as Lee Ji Eun
Lauren Hanna Lunde as Lee Hanna
Marc Marquez Alenta as Him Self
Scott Redding as Him Self
Etc…

Genre :
Romance, Family

Author :
@LeaObiraga & @EchaObiraga

 

 

Part 1 :

Malam itu..aku masih ingat betul malam itu..dimana malam itu aku sudah siap menerima cacian dan pukulan dari ayahku..malam dimana aku sudah siap jika harus terusir dari rumahku sendiri..malam dimana aku memberitahukan aibku pada kedua orang tuaku..dan pria itu..pria brengsek yang sudah menitipkan benih ini dalam rahimku..dia tak mau bertanggung jawab dan lari, menghilang entah kemana..
“Siapa pria itu, Ji Eun..biar ayah bunuh dia!” mata pria paruh baya itu memerah. Ada selapis tipis air mata yang menggenang dikantung mata keriputnya. Bibir dan suaranya bergetar menyerukan kemarahannya, “..cepat katakan pada, ayah!” bentaknya lagi dan kini membuat kedua wanita didalam ruang itu tersentak dan menangis.
“Yeobo..keumanhe, eo? Ji Eun juga sudah minta maaf..” isak wanita paruh baya itu sembari berusaha menenangkan suaminya.
Aku memang pantas dikasari ayahku. Aku memang pantas mendapat benci darinya. Ini adalah kesalahan terbesar yang memang tak bisa dimaafkan. Terlebih untu pria itu.
Seumur hidup. Aku tak akan pernah mau mengenalnya lagi..begitu pula dengan anakku. Seumur hidupnya..dia tak akan mendapatkan gambaran sedikitpun tentang siapa ayah biologisnya.

4 years latter…

“Hanna..ayo bangun, sayang.” Sapa lembut seorang wanita sembari berjalan mendekat kearah ranjang bersprei Hello Kitty itu.
“Ini masih pagi sekali, mom.” Balas seorang gadis kecil dari atas kasurnya, “..lagi pula, hari ini libur.” Tambahnya yang makin menarik bed cover senada –dengan sprei- menutupi sekujur tubuhnya.
“Baiklah. Kalau begitu, mom dan eonni tak akan mengajakmu jalan-jalan.” Ancam wanita itu kemudian berjalan pelan kembali kearah pintu kamar gadis kecil itu.
(*Eonni = Kakak perempuan yang disebutkan oleh adik perempuan*)
“Memangnya kalian akan pergi kemana?” tanya gadis kecil itu setelah setengah berbalik menghadap wanita tadi, “..kebun binatang? Mall atau..”
“Kau akan tau kalau kau segera bangun dan mandi sekarang.” Pinta wanita itu yang langsung direspon dengan malas oleh gadis kecil tadi.
“Yaah..yaah..mom selalu berhasil membujukku.” Ucap bocah 4 tahun itu sebelum menghilang dibalik pintu kamar mandi.

Mobil Porsche Panamara putih itu melaju dengan kecepatan sedang dijalanan kota London. Dan akhirnya berhenti disebuah bangunan besar nan luas, yang didepannya, bertulis De Deu Hospital.
“Humph! Kupikir hari ini kita akan kekebun binatang atau mall. Kalau tau akan datang kemari untuk menjenguk Leo. Aku tidak akan mau ikut!” geurut gadis kecil itu dengan kesal.
“Oh ayolah sayang..jangan seperti itu. Tidak baik.” Nasehat lembut wanita paruh baya itu sebelum memutar kenop pintu kamar rawat Leo.
Bau obat mulai menguar dari dalam ruangan itu. Sedang diatas ranjang sana seorang bocah lelaki terbaring lemah, bahkan matanya tak ia buka. Terus terpejam seperti sedang tertidur dan menikmati mimpinya sendiri.
“Bagaimana keadaan Leo, Mag?” tanya wanita paruh baya itu kepada seorang wanita paruh baya lain yang tak lain adalah ibu Leo.
“Yaah..seperti yang kau lihat Ra Im. Dia masih seperti itu dan belum sadar.” Jawab Maggie lirih sembari menatap nanar putra kecilnya.
“Apa yang Ji Eun katakan?” tanya Ra Im sembari mengajak Maggie duduk dan menenangkan sahabatnya itu.
“Ji Eun bilang, ini hanya koma ringan karena benturan keras dikepalanya. Dan dia bilang, mungkin dalam beberapa hari ini Leo pasti sadar. Tapi..”
“Percayalah, Mag..percaya pasti Leo sembuh.”
Kedua wanita itu kemudian kembali menatap haru pemandangan didepan mereka. Dimana gadis kecil Ra Im sudah memanjat susah payah keatas ranjang temannya itu.
“Hei, Leo. Aku tau kau tidak mau diganggu saat tidur, tapi..aku mau minta maaf. Aku mau minta maaf kalau waktu itu aku sempat marah padamu dan bilang tak mau berteman lagi denganmu. Aku tau aku salah. Jadi..kau mau berteman denganku lagi, kan? Kalau kau mau..ayo bangun dan kita main lagi. Kau lihat..ibuku membelikanmu mainan. Kita bisa memainkannya bersama kalau kau mau.”
Air mata Maggie turun tanpa bisa ia kendalikan. Kedua wanita itu terharu dengan kepolosan Hanna. Entah gadis itu mengerti situasi atau tidak. Ia tetap memperlakukan Leo selayaknya bocah laki-laki itu hanya tertidur dan sedang asyik bermimpi.
Sesekali gadis kecil itu tertawa geli ketika ia menggelitik telapak kaki telanjang Leo dan mengelus-elus hidung bocah lelaki itu dengan bulu jacaketnya.
Sesaat kemudian seorang wanita muda dengan pakaian putih masuk kedalam bersama seorang perawat dan mereka tersenyum melihat adegan yang terjadi diatas ranjang rawat itu.
“Hanna, sayang..ayo turun. Eonni mau memeriksa keadaan Leo.”
Segera gadis kecil itu turun dari atas ranjang Leo meski tak beranjak sedikit pun dari sisi ranjang bocah lelaki itu.
Wanita muda itu mulai menempelkan steteskop yang ia bawa tadi didada bocah lelaki itu. Dirasa sudah cukup, tangan wanita itu mulai meraba-raba pergelangan mungil Leo sedang pandangannya diarahkan pada jam dinding yang tertempel didinding kamar itu.
“Ji Eun..bagaimana?” tanya Maggie setelah Ji Eun selesai memeriksa Leo dan melaporkan hasil periksaannya pada perawat yang bersamanya tadi.
“Sudah mulai membaik. Denyut nadi juga detak jantungnya sudah tidak selemah kemarin. Jadi, kita tinggal tunggu saja kapan Leo mau bangun dari mimpi indahnya.” Jawab Ji Eun sembari tersenyum lembut, “..dan lagi..tidak boleh ada yang naik keatas tempat tidur pasien, ya?” peringat Ji Eun sembari melirik kearah Hanna yang mulai kembali memanjat dengan susah payah keatas ranjang Leo.
“Oh, ayolah eonni. Lalu aku harus dimana?”
“Kau bisa duduk dikursi ini, Hanna.”
Ji Eun kemudian memindahkan Hanna keatas kursi yang terdapat disamping ranjang rawat Leo, “..eonni..kenapa Leo belum bangun juga? Padahal aku sudah menggelitiki kakinya juga hidungnya. Dia memang seperti babi tidur!”
Baru saja Hanna akan kembali menggelitik hidung Leo dengan bulu jacketnya, bocah lelaki itu perlahan membuka matanya, “..apa yang akan kau lakukan, hah?” tanya bocah lelaki itu dengan suara lemah.
“Leo!” pekik bahagia Maggie kemudian menghampiri putra kecilnya itu dan mengelus-elus pucuk kepala bocah lelaki itu.
“Mommy..apa yang si cerewet ini lakukan disini?”
“Kau masih marah padaku, Leo?” tanya Hanna lambat-lambat. Ada isyarat penyesalan dari pijar mata gadis kecil itu. Ji Eun yang melihat itu seakan kembali teringat sesuatu.
Hanna sangat mirip denganku, bukan? Dan kuharap..hanya aku..bukan pria itu..
“Cium aku dan aku akan memaafkanmu.” Canda Leo kemudian tertawa pelan.
“Tidak mau! Kau bau obat, Leo. Apa tidak ada cara lain?”
“Tidak ada. Ya sudah..kalau kau tidak mau.”
Tingkah kedua bocah 4 tahun itu sontak membuat Maggie, Ji Eun dan Ra Im menahan tawa mereka. Cara mereka bahkan sudah semirip drama-drama Korea yang sering Ji Eun nonton di TV.
“Ba-baiklah! Dipipi saja, ya?”
Lambat-lambat Hanna mencondongkan wajahnya mendekat kewajah Leo. Dan dengan cepat gadis kecil itu mengecup pipi Leo, “..sudah kan? Kau mau memaafkanku?”
Leo mengangguk pelan dan tersenyum. “Nah..kalau begitu. Biarkan Leo istirahat, ya? Besok baru kita datang lagi.” Tawar Ra Im kemudian berpamitan pada Maggie dan Leo.
“Eomma pulang duluan, ya?”
“Ne, eomma.”
“Eonni..kami pulang duluan, ya? Daa eonni!”
“Tunggu! Sepertinya kau lupa sesuatu..”
Ji Eun menatap menuntut kearah Hanna yang juga menatapnya dengan bingung, “..lupa apa eonni?” tanya gadis kecil itu.
“Kau hanya mencium Leo saja. Lalu, eonni?” rajuk manja Ji Eun kemudian mendekat kearah Hanna dan mendekap gadis kecil itu.
“Tentu saja aku juga akan mencium eonni-ku.”
Ji Eun menjongkok hingga tingginya sejajar dengan Hanna dan membiarkan bibir mungil nan lembut gadis kecil itu menempel dipipinya, “..aku sayang eonni..sayaaang sekali.”
“Eonni juga, sayang. Eonni sangaaat sayang padamu.”
Gadis kecil itu melambai kemudian berjalan mejauh dari koridor rumah sakit. Eomma sangat menyayangimu, nak…sangat sayang…

* * * * * * * * * * * *

          “dr. Lee..dokter kepala ruangan memanggil anda. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan soal Poli Anak.”
“Baiklah. Setelah ini saya akan segera kesana?”
Ji Eun segera membereskan arsip-arsip yang bertebaran dimejanya. Dan keluar dari ruangannya menuju ruangan dokter kepala.
“Apa anda mencari saya, dok?”
“Iya. Silahkan duduk. Begini, dr. Lee. Besok kita akan kedatangan 2 kelompok dokter magang, dan salah satu kelompok itu akan ditaruh pada poli anak. Kuharap, kau bisa membimbing mereka dengan baik. Karena salah satu dokter magang yang akan berada dipoli anak adalah putra pemilik rumah sakit ini.”
“Putra dr. Marquez maksudmu?”
“Putra sulung tepatnya.”
Ji Eun mengangguk paham. Tapi, dalam hati gadis itu membuat tekat lain dari perintah dokter kepala mereka ini.
“Tapi..dokter magang tetaplah dokter magang, dok. Siapapun ayahnya dan apapun jabatannya, mereka tetap harus dididik dengan baik. Dan jika salah, mereka harus ditegur dengan cara yang sama pula.”
“Maksudmu?”
“Kau tau maksudku, dok. Aku akan menerapkan disiplin yang merata untuk semua dokter magang dipoli anak nanti.”
Pria lanjut usia itu hanya tersenyum salut kepada keberanian wanita muda didepannya ini, “..baiklah kalau itu maumu..aku akan mendukung.” Balas pria lanjut itu kemudian mempersilahkan Ji Eun keluar dari ruangannya.
Enak saja..tidak ada yang boleh diistimewakan disini..siapapun itu!

To Be Continued..

Cuplikan Part 2 :

“Kalau tidak bisa membandingkan darah dari Vena dan Arteri seperti ini, untuk apa kau jadi dokter, hah?” delik tajam Ji Eun kearah Marc yang hanya bisa menunduk dan terdiam, “..cepat ambil lagi darah anak ini dan bawa ke laboratorium sekarang!” bentak marah wanita muda itu sembari melempar hasil lab keliru tadi kewajah Marc, “..atau bilang pada ayahmu untuk mencari rumah sakit lain yang bisa menempatkan calon pembunuh sepertimu.” Tambahnya dengan suara rendah.

Will Posting soon.. :D

’61 Days With You’ The Last

BeFunky_61DAYSWITHYOUFINAL.jpgAnnyeong chingu-deul :D iHola, todos! :D Hi, everyone :D si author balik lagi nih! :D setelah beberapa hari ngilang, akhirnya nongol lagi dengan chapter terakhir ’61 Days With You’ :D Author pengen banget ngucapin banyak terima kasih buat kalian-kalian semua yang sudah dengan setia membaca FF ini dari Chapter pertama sampai terakhir…dan author sangat terharu dengan apresiasi kalian :D

Ok! si author gak mau banyak cing cong lagi..nih, langsung aja, ya :D Happy reading guys, dan jangan lupa leave ‘LIKE’ or ‘COMMENT’ kalian bellow :D !!NO SILENT READER!! Enjoy, guys :D

****************************

The Last

          Marc masih mematung sembari menatap map merah itu dan Ji Eun bergantian. Apa hanya aku yang memiliki perasaan ini, Ji Eun? jerit Marc dalam hati. Pria itu benar-benar tidak habis pikir kalau Ji Eun ingin segera mengakhiri pernikahan kontrak mereka ini, bahkan sebelum kontraknya habis.
Entah Marc yang salah lihat, atau memang mata Ji Eun sudah diselimuti bulir-bulir bening. “..katakan padaku kalau kau tak mencintaiku..” Ucap Marc tiba-tiba.
Gadis itu masih bergeming. Ia bahkan tak mendongkak sedikitpun untuk menatap Marc atau sekedar menjawab pertanyaan Marc tadi, “..Ji Eun..lihat aku dan katakan kau tidak mencintaiku!” Sentak Marc dan akhirnya membuat gadis itu mendongkak dan menatap Marc tajam semampunya.
“Aku tidak mencintaimu, Marc Marquez Alenta…aku tidak pernah sedikitpun mencintaimu!” Ucap gadis itu mantap dengan penekanan pada kata ‘tidak’. Butir-butir bening itu jatuh mengiringi tiap ucapan gadis itu. Membuat Marc semakin yakin, kalau memang tak ada lagi kesempatan atau pintu keajaiban yang terbuka untuknya.
“Baiklah.” jawab Marc singkat kemudian mengambil pena dalam ranselnya dan menandatangani surat cerai dimap itu, “…kalau begitu pergilah. Kau sudah mendapatkan yang kau mau kan? Pergilah.” Eh?! Apa yang kau katakan, bodoh! Cegah dia! ronta hati Marc. Namun, lagi-lagi Marc lebih patuh pada emosi dan egonya. Ia membiarkan gadis itu berbalik dan pergi, menjauh dan hilang dari hadapannya, dan dari kehidupannya, “..aku mencintaimu, gadis bodoh..” Bisik Marc lirih. Hatinya terasa begitu sakit. Gadis itu bahkan tak mengucapkan apapun sebelum pergi. Hanya membungkuk dan pergi. Mungkin lebih baik begitu. Karena aku tak akan bisa menahan diri lagi kalau kau mengatakan sesuatu. batin Marc.

Ji Eun POV :

Aku berjalan kearah lift dengan langkah mantap. Tapi tidak dengan hatiku yang terus mendesak untuk tetap tinggal. Sakit. Ya, terlalu sakit sampai-sampai aku tak mampu lagi menahan air mata ini mengalir lebih deras. Sesak. Ya, sangat sesak sampai-sampai aku kesulitan untuk menghirup oksigen.
Gadis bodoh macam apa aku ini? Yang terus menerus mengikuti ego dan emosinya, sampai harus menyakiti hatinya sendiri dengan melepaskan orang yang dia cintai.
Aku baru akan keluar dari loby mansion itu sampai ada sebuah tangan yang menahan lenganku. Ya, itu Vanessa.
“Kau mau kemana, Ji Eun?” Tanya Vanessa lembut, “..jangan bilang kau..”
“Semua sudah selesai, Vann…sekarang Marc milikmu..aku berjanji untuk tidak mengganggu lagi.” Ucapku sembari menahan tangis kemudian berlalu pergi dari situ. Sedang wanita itu tak berbuat apa-apa lagi.
Apa Marc benar-benar tidak mengejarku? Atau berusaha menahanku agar tidak pergi? Apa dia benar-benar sudah membenciku?

Ji Eun POV end :

Marc’ POV :

Aku masih berdiri dan mematung didepan pintu apartemenku. Masih menyesalkan yang sudah kulakukan tadi. Bukankah seharusnya, aku menahan gadis itu? Bukankah seharusnya, aku memeluknya dan berkata kalau aku mencintainya? Bukankah seharusnya, aku tidak dengan emosi menandatangani surat sialan itu? Tidak..bukan surat itu yang sialan…akulah laki-laki sialan dan pengecut yang cepat menyerah hanya karena penolakan gadis itu.
Akulah laki-laki sialan dan pengecut yang tidak bisa membaca pijar mata coklat itu lebih dalam lagi. Dan akulah laki-laki sialan dan pengecut yang tak bisa mempertahankan yang seharusnya bisa kupertahankan.
Tekatku untuk memulai semuanya dari awal ternyata hanya ilusiku yang tidak akan menjadi kenyataan.
“Aarrgghh!! Brengsek kau Marc!” Makiku pada diriku sendiri seraya melampiaskannya pada tembok yang tak bersalah itu, “..laki-laki brengsek dan pengecut macam apa kau, hah?!” Makiku lagi dan kali ini membuat tanganku yang beradu dengan tembok itu berdarah.
“Marc! Hentikan!” Seru seorang wanita dari arah lift sana. Pandanganku kabur, dan aku mulai berhalusinasi. Ini Ji Eun..apa gadis itu benar-benar kembali.
“Ji Eun?” Ujarku lirih, hampir menangis. Kurengkuh wajah wanita didepanku itu dengan tatapan memohon.
“Bukan, Marc. Ini aku…Vanessa.” Seru wanita itu seraya menghempas kedua tanganku, “..sadar Marc! Kalau kau memang sangat mencintai Ji Eun…pergi dan katakan! Jangan hanya diam dan menyesal disini. Bilang padanya kalau kau mencintainya dan tak ingin berpisah darinya!” Desak Vanessa.
“Tapi itu yang dia inginkan, Vann…aku tak bisa memaksanya terus bertahan kalau dia sendiri tak mau bertahan. Kalau kupaksakan..aku hanya akan melukainya.” Gumamku tanpa sadar. Seakan aku benar-benar harus menyerah. Menyerah sebelum aku berjuang.

Marc’s POV end :

*****************

          Ji Eun masih merenung dikamarnya. Ingatannya terus berputar pada sosok Marc yang bahkan tak sedikitpun berniat untuk menahannya. Bahkan, saat sidang perceraian mereka digelar pun, Marc tidak hadir sampai hakim akhirnya mengabulkan gugatan cerai itu. Ji Eun juga masih ingat, betapa bodohnya dia yang berharap kalau Marc akan mencegahnya pergi dibandara El Prat, Barcelona waktu itu.
Kembali bulir-bulir bening itu berjatuhan membasahi pipi gadis itu. Dan tak berselang lama, isakkan-isakkan yang sedari tadi berusaha ia tahan, mulai menggema dikamarnya. Aku tidak percaya kalau aku sudah disini. Dirumahku..bahkan ada dikamarku sendiri. Aku pulang. Tapi tidak dengan hatiku. Hatiku masih disana. Di Barcelona.
“Ji Eun..” Seru lembut sebuah suara dari luar kamar gadis itu yang kemudian diikuti dengan terbukanya pintu kamar Ji Eun, “..sayang..kau belum siap?” Tanya wanita paruh baya itu lembut sedang Ji Eun dengan cepat mengusap air matanya.
“Eomma..oh, ini…aku baru saja akan ganti baju.” Jawab gadis itu sembari menyunggingkan senyum paksaan dibibir mungilnya.
“Sayang..kau kenapa? Kau baru habis menangis?” Tanya wanita itu lembut kemudian perlahan mendekat kearah Ji Eun yang sedari tadi duduk dimeja rias, “..ayo ceritakan pada eomma, nak..”
“Aniyeo, eomma..gwenchana..” Elak Ji Eun masih memaksakan seulas senyum diwajahnya.
“Sayang..” Wanita itu merengkuh lembut wajah putrinya dan mengarahkannya kewajahnya, “..kau bisa membohongi orang lain, bahkan dirimu sendiri..tapi, kau tidak bisa membohongiku…ayo ceritakan yang sebenarnya terjadi..”
Bulir-bulir air mata kembali menggenang dipelupuk mata Ji Eun, “..eomma..apakah semua yang kulakukan ini benar?” Tanya gadis itu lirih, “..apa dengan menceraikan Marc..aku sudah melakukan hal yang benar?” tambahnya.
“Lalu..bagaimana dengan perasaanmu sekarang? Kalau kau merasa baik-baik saja, berarti apa yang kau lakukan itu sudah benar..tapi, kalau sebaliknya..maka hal yang kau lakukan itu salah.” Wanita itu kemudian mengambil tempat disebelah putrinya dan menyandarkan kepala gadis itu didalam dekapannya, “..karena dia tidak mencegahmu, bukan berarti dia tidak mencintaimu kan? Tapi..semua kembali padamu, sayang..cobalah, untuk memutuskan ini semua dengan hatimu.”
Eomma benar. Selama ini aku terlalu patuh pada egoku. Sampai-sampai aku lupa pada pendapat hatiku dan mengabaikannya. Aku mencintai seorang pria, namun melepaskannya karena egoku pula. Aku tidak mau menyesal dua kali. Dan inilah finalnya.

****************

          “Ji Eun..boleh, kita bicara berdua saja diluar?” Tawar Hyun Woo. Wajah pria itu nampak tegang dengan butir-butri keringat terlihat mulai membasahi keningnya.
Ji Eun mengangguk dan mengikuti arah langkah Hyun Woo yang membawanya ketaman belakang rumah, Ji Eun.
Tanpa banyak bicara lagi, pria itu berlutut dihadapan Ji Eun dan menyodorkan sebuah kotak berlapis kain beludru berwarna merah tua, “..will you marry me, Lee Ji Eun?” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Hyun Woo yang membuat Ji Eun benar-benar kehilangan kata. Ada rasa terkejut dan bimbang yang bercampur dihatinya.
Selama ini, Hyun Woo begitu baik padanya, dan pria itulah cinta pertama Ji Eun. Tapi, Ji Eun tak mungkin menerima lamaran Hyun Woo ini, karena hati dan cintanya bukanlah lagi untuk pria yang selalu ia sukai ini. Pria yang selalu menjadi pangeran berkuda putih didalam setiap mimpinya.
Ji Eun mulai merasakan panas dipipinya karena air mata yang mulai berjatuhan.
“Maaf Hyun Woo..aku minta maaf.” Ujar Ji Eun kemudian membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Berusaha menahan isakkan yang mulai mendesak keluar, “..aku benar-benar minta maaf..”
Hyun Woo bangkit berdiri dan membawa Ji Eun dalam pelukannya. Dengan lembut Hyun Woo mengusap-usap pundak Ji Eun, berusaha menenangkan gadis itu.
“Aku tau. Aku sudah tau sejak awal Ji Eun. Sejak pertama aku menemukanmu menangis diloby mansion waktu itu. Saat itu, entah mengapa hatiku begitu yakin kalau kau menangis karena pria itu. Tapi, aku berusaha untuk menepis anggapan itu dan berpikir mungkin ada hal lain. Mulai saat itu, aku terus mengamatimu dan benar…setelah perceraian itu, kau terus menangis diam-diam.
Aku mencintaimu. Tapi, akan sangat jahat jika aku memaksamu juga untuk mencintaiku. Dan akan sangat menyakitkan pula untukku jika aku harus berama-sama dengan wanita yang tidak mencintaiku, tidak perduli seberapa besar aku mencintainya.
Pergilah, Ji Eun. Kembalilah padanya. Aku yakin dia juga pasti sangat mencintaimu.”
Hyun Woo melepas pelukannya, dan merengkuh wajah Ji Eun sembari mengusap air mata gadis itu, “..jangan buat dirimu menyesal untuk kedua kalinya, Ji Eun. Pergilah. Aku tidak apa-apa.”
Gadis itu tersenyum kemudian mengecup lembut pipi Hyun Woo, “..terima kasih.” Ujarnya kemudian berlari masuk kembali kedalam rumah. Yang kulakukan sudah benar. Melepasnya pada pilihan hatinya.

******************

          Satu jam lagi balapan akan dimulai. Sedang dilintasan sana, masih ada mesin-mesin Moto2 yang berlalu-lalang saling mengejar.
“Marc..ada seseorang yang mencarimu diluar.” Ujar Vanessa dengan nada dan senyum yang tak biasa. Mungkin Fans yang mendapat passing card pikir Marc kemudian mendengus bosan.
“Bilang padanya aku sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa. Ada race penting yang harus aku jalani sejam lagi.” Balas Marc masih tetap duduk ditempatnya.
Ya. Sudah sebulan ini Marc memiliki kesulitan dalam berkonstrasi. Setiap kali berhasil mengumpulkan fokusnya itu. Bayang-bayang seorang gadis bernama Lee Ji Eun selalu berkelabat dikepalanya dan memporakporandakan fokusnya. Bahkan, yang lebih parah lagi. Marc gagal melewati garis finish di Philip Island karena terjatuh.
“Kau benar tidak mau bertemu dengannya?” Tanya Vanessa sedikit membujuk dan hanya dijawab Marc dengan anggukan mantap.
‘BUK!’ Sebuah sepatu sket berhasil mendarat tepat dipucuk kepala Marc dan membuat pria itu meringis kesakitan, “..siapa itu, hah?!!” Seru geram Marc sembari mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit.
“Kenapa? Mau apa?” seru geram balik sebuah suara yang tak begitu asing lagi ditelinga Marc. Suara yang pemiliknya begitu Marc rindukan sebulan ini. Suara melengking yang sering memaki Marc. Ya. Itu Lee Ji Eun. Gadis itu sudah berdiri dengan garang didepan Marc. Kedua kakinya telanjang sedang sebelah sepatunya sudah ia pegang ditangan kanannya, yang sudah dipersiapkan untuk melempari Marc lagi.
“Nah. Itu dia yang kumaksud, Marc. Kalau begitu aku pergi dulu, ya?”
Vanessa berjalan keluar dari motorhome Marc dan meninggalakn Ji Eun juga Marc didalam sana.
“Sebenarnya apa masalahmu, hah?!” Bentak Marc kesal sedang tangannya masih mengusap-usap pucuk kepalanya.
“Masalahku? Kau masih berani bertanya begitu, tuan Marquez?! Menurutmu bagaimana perasaan seorang wanita yang tidak mau ditemui seorang pria?!” Geramnya kemudian mencengkram kerak baju Marc dengan tangan kirinya.
“Masa bodo! Bukan urusanku! Dan lepaskan tanganmu, cepat!”
Marc menepis tangan Ji Eun dari kerak bajunya dan menatap tajam gadis itu, “..mau apa kau kesini?! Kita tidak punya hubungan apapun lagi, kan?”
Gadis itu terdiam sejenak. Perlahan ia mundur selangkah dan menunduk. Gadis itu merasa matanya kabur karena bulir-bulir air mata kembali menyelimuti matanya.
Apa yang Marc katakan itu benar. Mereka memang tak punya hubungan apapun lagi sekarang. Mereka sudah menjadi orang asing satu sama lain. Bulir-bulir bening itu jatuh. Jatuh saat rasa sakit itu mulai kembali menerjang hatinya.
“Baiklah kalau begitu.” Balas Ji Eun datar kemudian memungut sepatunya tadi dan berbalik. Belum sampat gadis itu melangkah selangkah, Marc memeluk gadis itu dari belakang. Menahan gadis itu agar tidak pergi lagi. Marc tidak mau menyesal lagi dengan melepas gadis itu begitu saja.
Ia pernah melepas gadis itu sebelum berjuang sekali, dan tidak akan dia lakukan lagi kali ini setidaknya Marc harus mencoba dulu.
“Jangan pergi..lagi..” Ucap Marc perlahan, “..setidaknya dengar dulu apa yang akan aku katakan.” Marc memutar tubuh Ji Eun menghadap kearahnya dan menatap dalam manik coklat itu, “..aku mencintaimu..aku sangat mencintaimu..dan aku kesulitan sebulan ini tanpamu. Jujur, aku sangat merindukan makianmu, omelan suara melengkingmu, dan hal-hal konyol yang terjadi diantara kita. Aku ingin kita kembali. Kembali seperti kita 61 hari yang lalu…kita ulang semuanya dari awal.”
Air mata gadis itu makin mengalir deras. Kesungguhan Marc membuatnya tersadar. Kalau selama ini dia terlalu bodoh dan egois. Selalu menutup mata atas segala usaha Marc. “Kau mau…memulai semuanya lagi dari awal bersamaku?” Tanya Ji Eun lambat-lambat dan hanya Marc jawab dengan anggukan sembari tersenyum lembut, “..baiklah..hai, namaku Lee Ji Eun..tapi aku lebih dikenal dengan nama IU. Dan kau?”
“Aku Marc Marquez Alenta. Tapi kau bisa memanggilku Marc. Salam kenal.”
Ya. Kita akan mulai semuanya dari awal. Dan mengukir kenangan baru yang mungkin lebih konyol dari kenangan-kenangan sebelumnya.

**************

          “Kenapa Vanessa bisa ada diapartemenmu waktu itu, hah? Dan kau pake acara tidak berbaju pula..habis melakukan apa?” Omel Ji Eun yang sudah duduk sembari melipat kedua tangannya diatas perutnya yang buncit.
“Hahaha..kau ini. Sensitif sampai sebegitunya. Lagi pula, waktu itu Vanessa datang hanya untuk membawakan rekaman hasil balapanku.” Jelas Marc kemudian perlahan mendekati istrinya itu, “..jangan marah-marah, nanti Melody bangun.” Bisik Marc sembari mengusap-usap perut buncit Ji Eun.
“Melody?” Dahi Ji Eun berkerut mendengar nama itu dari mulut Marc.
“Iya. Melody..anak kita.”
“Kau yakin dia anak perempuan?”
“Yaah..tentu saja aku percaya alat USG dokter Jimmy yang selalu akurat itu.”
Wanita itu tersenyum kemudian ikut mengelus-elus perutnya, “..sayang..daddy sudah memberimu nama. Kau suka?”
Seperti berusaha menjawab pertanyaan ibunya, bayi itu menendang-nendang dari dalam dan membuat senyum Ji Eun makin lebar. Dengan lembut, Marc merengkuh wajah Ji Eun dan menariknya mendekat kewajah Marc hingga hanya bersisa beberapa senti saja, “..aku mencintaimu..” Bisik Marc kemudian melumat lembut bibir Ji Eun.
61 hari bersamamu..adalah 61 hari terbaik dalam hidupku…dan 61 hari hari bersamamu, membuatku mengerti…kalau kau dan aku memang ditakdirkan untuk bersama…aku mencitaimu..

The End..

Attention All!!

sad_stitch_by_tharene-d6byj8uUntuk semua pembaca setia FF ’61 Days With You’. Pertama-tama, author mau ngucapin maaf yang sebesar-besarnya kalo postingan next chapter ’61 Days With You’ bakal telat banget…soalnya, beberapa hari ini sibuk banget dan less idea :( jadi, diharap kesabarannya, ya?

Yang kedua, author mau ngasih pengumuman kalau setelah selesai ’61 Days With You’ bakal ada FF baru lagi dan masih bertema MotoGP. So..always visit my blog, ok?

Ok. Sekian pengumuman dari author..makasih banyak buat pengertian reader-reader sekalian :)

 

Muchas Gracias…Neomu neomu kamsahamnida…Arrigatou…Thank You… :D

61 Days With You #5

BeFunky_61DaysWithYouCOVER2.jpg

iHola, todos!! Annyeong chingu-deul!! Meet again in new chapter of ’61 Days With You’ dan tanpa basa-basi lagi…Happy reading guys :D jangan lupa, tinggalkan ‘LIKE’ atau ‘COMMENT’ kalian dibawah, ya :) !!NO SILENT READER!! Enjoy, all :D

******************

FIVE

Ji Eun POV :

Setelah dua hari aku menginap diapartemen Agatha, aku memutuskan untuk kembali keapartemen Marc. Kurasa, perkataan Emilio dan Agatha ada benarnya. Setidaknya, kami harus meninggalkan kesan yang baik sebelum berpisah, kan?
Aku berdiri dengan canggung didepan pintu apartmen mewah milik pria itu. Dan takut-takut, aku mengangkat tanganku untuk menekan bel rumah yang terdapat disamping pintu itu.
Beberapa saat kemudian ada suara seorang wanita yang dengan hangat menyapaku dari dalam, mungkin saja itu ibu Marc, mommy Roser.
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka dan jauh dari tebakanku. Wanita itu bukan mommy Roser melainkan…”..Vanessa?” gumamku terheran-heran. Aku sedikit mengintip kedalam, apa pria itu ada didalam sana dan benar saja, Marc baru keluar dari kamarnya dengan bertelanjang dada.
Seketika, aku merasakan nyeri dihatiku. Selayaknya ada pisau yang menghujam jantungku berulang-ulang kali. Aku merasa mataku mulai panas. Dan hidungku terasa perih. Tidak! Tidak boleh menangis disini! Tekatku kemudian melengos masuk kedalam tanpa dipersilahkan.
“A-aku hanya akan mengambil beberapa barangku yang tertinggal. Dan..aku akan pindah ke apartemen Agatha sampai semuanya selesai.”
Kulihat Marc yang juga nampak kaget dengan kehadiranku. Ada raut panik disana. Tapi aku tidak perduli lagi, yang harus aku lakukan sekarang adalah segera berkemas dan pergi dari tempat ini.
Aku mengambil semua pakaianku yang masih tersusun rapi dalam lemari milik Marc dan dengan sembarang juga tak beraturan, memasukannya kedala koperku.
“Apa yang kau lakukan? Kau mau kemana?” tanya Marc yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamar kemudian menggenggam tanganku yang masih sibuk berkemas itu.
“Sudah kubilang, kan? Mulai hari ini sampai kontrak kita selesai, aku akan tinggal diapartemen Agatha. Toh, 9 hari lagi kontrak kita selesai, kan?” jawabku sinis kemudian menghempas tangannya yang menggenggam tanganku dan kembali berkemas, “..lagi pula, Vanessa juga sudah ada disini kan? Untuk apa aku mengganggu lagi.” Tambahku yang kemudian menutup koperku dan menyeretnya, “..oh ya, soal surat cerai itu…kau tidak usah repot-repot. Nanti aku dan manager Yoon yang akan mengurus semuanya.”
Aku melangkah keluar dari kamar Marc sedang pria itu masih membatu didalam sana tanpa sedikitpun berniat untuk menahanku. Untuk apa juga aku berharap seperti itu? Toh! Dia tak akan mungkin melakukannya karena disini ada Vanessa. Langkahku dengan cepat membawaku keluar dari apartemen mewah itu. Dan sesampainya diloby, seakan langkah kakiku yang ringan tadi, menjadi berat seketika. Seakan tak lagi bertenaga hanya untuk berjalan keluar dari pintu loby itu. Sedang, pelupuk mataku sudah tertutupi selapis tipis air mata, yang setetes demi setetes jatuh dipipiku. Baru saja aku akan menyeka air mata itu dengan punggung tanganku, sebuah sapu tangan tersodor dihadapanku.
“Oppa..”
Segera kuambil sapu tangan itu darinya dan menyeka air mataku, “..oppa sedang apa?”
“Bisa kita bicara?” tanyanya dengan serius.

Setengah berlari aku mengikuti langkah panjangnya yang membawaku kembali masuk kedalam lift. Dengan cepat, pria itu menekan tombol angka 12 setelah kami berdua sudah masuk kedalam. Dia juga menginap disini, ya? Tapi…untuk apa dia kesini?
Dan tak berapa lama, pintu lift itu akhirnya terbuka. Kami segera keluar kemudian berjalan kesebuah kamar yang tidak begitu jauh dari lift tadi.
“Ayo masuk.” Ajaknya setelah membuka pintu, “..kau pasti heran kan kenapa aku bisa sampai disini?” tanyanya yang memang sedari tadi menjadi pertanyaan diotakku. Perlahan, aku mengangguk kemudian duduk diatas sofa.
“Aku disini karena skandal itu, Ji Eun.” Lanjutnya dan sontak membuatku terkejut. Skandal? Bagaimana dia tau? Iya! Manager Yoon… aku baru teringat kalau manager Yoon adalah saudara tiri Hyun Woo.
“Lalu? Apa yang akan kau lakukan?” tanyaku asal. Sebenarnya aku lebih suka diam karena tak ada yang ingin aku bicarakan dulu untuk saat ini.
“Aku akan membawamu pulang dan mengembalikan semuanya seperti dulu lagi.” Jawabnya yang tak pernah kuduga sebelumnya. Meski aku tak begitu mengerti maksudnya, tapi entah mengapa aku sedikit terhenyak mendengar kalimat ‘mengembalikan semuanya seperti dulu..’ apa mungkin maksudnya, perasaanku yang dulu? Kalau memang begitu…aku harus jawab apa?
“Aku akan membuatmu seperti Lee Ji Eun yang dulu. Lee Ji Eun yang dulu aku kenal dan…” ucapannya terhenti. Membuatku makin penasaran dengan apa yang akan dia sampaikan. Tapi, entah mengapa..hatiku tidak begitu tertarik dengan apa yang akan diucapkan Hyun Woo.
“Dan..aku cintai..” lanjut pria itu akhirnya dan sukses membuatku berdebar. Tapi, debaran ini aneh. Benar-benar aneh dan tidak biasa. Debaran ini tidak sehebat waktu aku dan Marc…Ah! Masa bodo dengan debaran yang kumiliki untuk pria itu..ada hal penting dan nyata yang sekarang harus aku hadapi…yaitu Hyun Woo…,”..lalu? bagaimana dengamu? Apa kau mau?” tanya pria itu yang jelas belum bisa aku jawab sekarang.
“O-oppa..aku..”
“Sstt..kau tidak perlu menjawab sekarang, kan? Aku akan memberimu waktu untuk berpikir.” Balasnya sembari tersenyum lembut kepadaku. Biasanya aku selalu luluh dan suka dengan senyuman lembut itu. Tapi sekarang..entah mengapa senyuman hangat itu membuatku terluka?

Aku tau saat ini Agatha sedang menatapku dengan heran. Karena setau gadis itu, aku akan pulang keapartemen Marc hari ini. Bukannya pulang, aku malah makin membawa banyak barang keapartemennya dan berkata kalau aku akan tinggal bersamanya sampai kontrak ini selesai.
Aku masih duduk merenung sembari bertopang dagu dijendela kamarku. Pandanganku terpaku pada hiruk pikuk kota Barcelona dibawah sana, sedang pikiranku melanglang buna entah kemana.
“Eonni…ini kubuatkan Hot Chocolate untuk eonni..diminum, ya?” tawarnya kemudian meletakkan segelas coklat panas itu diatas meja, “..oh ya, eonni…aku akan kemini market dulu. Mau membeli bahan-bahan makanan..eonni tak apa sendirian, kan?” tanya gadis itu dan hanya kujawab dengan anggukan sambil tersenyum. Dan sosok Agatha akhirnya menghilang seiring dengan tertutupnya pintu kamarku.
Aku mendesah lelah. Lelah dengan semua keadaan rumit ini. Andai aku tau cara menyelesaikannya, sudah kuselesaikan segera dan pergi dari masalah ini. Tapi buntu…tak ada yang dapat kupirkan saat ini. Yang terpikir olehku hanyalah…bagaimana caranya agar aku bisa melupakan pria bodoh yang sudah hampir dua bulan ini menjadi suamiku.

Ji Eun POV end :

Ji Eun masih duduk didepan jendela. Pandanganya masih tak lepas dari langit kota Barcelona yang mulai ditaburi cahaya-cahaya bintang dan bulan. 9 hari lagi ya? Tidak teras semuanya secepat ini…batin Ji Eun. Gadis itu tersenyum ketika ingatannya terlempar pada beberapa kenangan yang ia lewati bersama Marc. Kenangan konyol yang terkadang membuat Ji Eun mendengus geli, terkadang pula dapat membuat Ji Eun bedebar-debar dan tersipu malu.
Tanpa sadar, pipi gadis itu terasa panas karena air mata yang mulai berjatuhan. Makin lama makin deras dan menghasilkan isakkan-isakkan kecil dari bibir mungil Ji Eun.
Ada sesak dan sakit yang ia rasakan didalam hatinya. Sesak sampai ia tak bisa bernapas, dan sakit sampai ia tak bisa mengontrol air matanya lagi. Aku mulai mencintainya…dan aku sadar betul itu…tapi aku terlalu egois untuk mengakuinya…aku terlalu bodoh dan pengecut menyadari betapa aku benar-benar menginginkan Marc disisiku…semakin aku mengatainya menyebalkan, semakin aku sadar bahwa ia sudah menawan hatiku..dan semakin aku mengatakan bahwa ia menggangguku, semakin aku sadar kalau aku ingin dia selalu disisiku..aku mencintainya..Ya..tapi aku terlalu pengecut dan egois untuk mengungkapkan kalimat sederhana itu padanya…atau…aku terlalu takut kalau-kalau dia akan berkata tidak…
Tangis Ji Eun makin pecah seiring ingatannya membawanya kepada kejadian pagi ini. Dimana, dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat Marc bersama wanita itu sepagi itu. Itu juga karena kebodohan Ji Eun. Bukankah dia yang meminta Marc untuk kembali dengan Vanessa? Marc hanya mengikuti sarannya. Dan itu bukan salah pria itu. Itu semua salah Ji Eun. Salah gadis egois yang lebih menjaga gengsinya ketimbang menyadari perasaannya sendiri.
Aku yang harus menyerah kan?

*******************

Marc’s POV :

Aku melihat kesekeliling ruang apartemen ini dan kenangan-kenanganku bersama gadis itu kembali berkelabat dikepalaku. Aku ingat pertama kalinya kami masuk kesini sebagai pasangan suami istri, dimana ditempat tidur itu, gadis itu menggigiti kedua tanganku sampai lebam. Dimana dilantai depan kamar itu, aku hampir menciumnya kalau saja Alex tidak datang untuk mengantarkan makanan pagi itu.
Tanpa sadar, sudut bibirku tertarik keatas, membentuk sebuah lengkung senyum. Dan aku juga ingat, saat dia melempari wajahku dengan sandal tidurnya, karena aku menyindirnya yang memang tak bisa memasak.
Satu lagi kenangan yang paling membekas diingatanku adalah saat gadis itu datang dalam keadaan mabuk dan menangis didalam pelukanku. Saat itu, untuk pertama kalinya aku melihat Ji Eun yang rapuh. Untuk pertama kalinya aku menerima semua umpatan kasarnya tanpa sedikitpun membalas. Dan untuk pertama kalinya, aku dengan sadar mendekap hangat tubuhnya.
Saat itu ada perasaan hangat yang menjalar dari lenganku, yang merangkulnya, sampai kedalam hatiku. Dan aku merasa nyaman terhadap perasaan itu. Selayaknya menghisap morfin. Aku benar-benar ketagihan dengan kehadiran perasaan hangat itu lagi didalam hatiku.
Saat berhasil kucerna semua itu. Satu kesimpulan yang kudapat Aku mencintainya…aku sangat mencintainya…dan aku sangat ingin memilikinya…
Ruang hampa ini, makin bertambah hampa tanpa kehadiran gadis itu, dan aku merindukan semua tentangnya. Aku terjebak…aku benar-benar terjebak dalam perasaan ini dan enggan keluar dari dalamnya. Maka dari itu, satu hal yang harus aku lakukan. Aku harus membawanya kembali disini dan memulai semuanya dari awal lagi…

Marc’s POV end :

Marc sudah mengemasi pakaiannya masuk kedalam koper. Pria itu memutuskan untuk kembali tinggal bersama kedua orang tuanya. Pria itu baru saja akan keluar dari apartemennya saat Ji Eun datang dan berdiri dengan tatapan datar didepannya.
“Kau mau kemana?” tanya gadis itu datar.
“Aku mau pulang. Mau apa kesini?” jawab Marc juga dengan nada yang sama.
“Ada yang perlu kau tanda tangani.” Ujar Ji Eun sembari menyodorkan sebuah map merah kepada Marc. Dengan penasaran, pria itu membuka map tersebut dan membaca isi surat yang terdapat dalam map merah tadi.
Surat cerai? Tapi ini kan.. “..ini belum genap 61 hari..bagaimana bisa kau..”
“Aku sudah memberitahukan semua ini pada agencyku dan mereka setuju. Jadi cepat kau tanda tangani, karena dua jam lagi pesawatku akan berangkat.”
Pesawat? Apa maksudnya?

To Be Continued…

61 Days With You #4

BeFunky_61DaysWithYouCover.jpg

Hi everyone!! :D Ready for 4th Chapter of 61 Days With You? :) Ok, then…Happy reading :D and jangan lupa leave ‘LIKE’ or ‘COMMENT’ kalian bellow, ya? :D !!NO SILENT READER!! Enjoy, guys! :D

***********************

          Pagi itu Ji Eun sudah mengemas semua pakaian dan perlengkapannya masuk kedalam koper. Setelah ia yakin semuanya sudah siap, gadis itu segera keluar dari kamar hotel tempat mereka menginap.
“Sudah semua?” tanya Marc yang sedari tadi menunggu gadis itu diluar.
“Cih! Kau pikir aku sepikun kau!” sahut ketus gadis itu kemudian berjalan kearah lift.
“Pasangan serasi, eh?” goda Shanti kemudian menyikut pelan lengan Marc, “..sudahlah, kau tenang saja. Lama-lama dia akan luluh juga.” Lanjutnya.
“Dia? Luluh? Cih! Jangan bercanda!” balas Marc kesal kemudian berjalan kearah Ji Eun pergi tadi.
Cih! Luluh? Mereka pikir sudah berapa usahaku untuk membuatnya luluh, hah? Sedikit baik padaku saja tidak! Gadis sinting itu!

“12 hari untuk berpikir? Cih! Mana sanggup aku terus mempertahankan ini dengan laki-laki macam dia!” omel Ji Eun sesampainya diloby, sedang beberapa pasang mata terus mengamatinya dengan aneh, mungkin pikir mereka ‘Gadis secantik ini bertingkah seperti orang gila!’, “..mereka pikir laki-laki itu selama ini bersikap baik padaku?! Aah! Ini menyebalkan!”
Gadis itu lantas kemeja resepsionis untuk mengembalikan kunci kamar, setelah itu melenggang sendiri keluar dari hotel besar itu.
Tengah menunggu taksi didepan, mata Ji Eun menangkap sosok yang sepertinya tak begitu asing lagi untuknya. Diperhatikannya sosok diseberang sana dengan seksama dan setelah yakin gadis itu segera berdiri dan berlari menghampiri sosok pria yang ia kenal itu, “..oppa!” serunya sembari berlari kecil menghampiri pria itu.
“Ji Eun-shii? Sedang apa?” tanya pria itu setelah Ji Eun sampai dihadapannya, “…kau sendiri? Mana manager Yoon dan Agatha?” tanya pria yang nampak begitu akrab dengan Ji Eun itu.
“Eum..aku sendiri saja. Dan aku disini…untuk…eumm..tour! Ya, tour! Hehe..” dusta Ji Eun. Dalam hati, gadis itu terus berdoa supaya si bodoh Marc itu tidak menampakkan batang hidungnya sampai ia selesai berbicara dengan pria didepannya ini, “..oh ya, oppa juga…sendirian saja?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Iya. Ada pekerjaan yang harus aku bereskan disini.” Balas pria itu kemudian tersenyum manis.
Astaga…Hyun Woo oppa memang selalu tampan… pekik gadis itu dalam hati. Wajahnya bahkan berseri-seri sekarang, “..oh ya, oppa mau pulang, ya?” tanya gadis itu saat melihat koper-koper besar yang dibawa pria itu.
“Iya. Kau juga kan? Bagaimana kalau kita sama-sama saja?” tawar Hyun Woo yang langsung membuat Ji Eun panic seketika, “..kau juga akan pulang ke Seoul, kan?” tanya pria itu lagi ketika melihat raut panik diwajah Ji Eun.
“E-eum..be-begini…a-aku..aku..ngg…” Ya Tuhan…bagaimana aku menjelaskannya? “..itu..aku ada urusan di Barcelona…jadi…aku…harus kesana..iya!” jawab Ji Eun akhirnya dan gadis itu berharap, pria cerdas dihadapannya itu tidak lagi banyak bertanya.
“Urusan? Urusan apa? Sendirian saja?” tanya pria itu. Untung aku menyukaimu…kalau tidak aku sudah memakimu, oppa!
“Urusan rahasia…dan lagi, manager Yoon juga Agatha sudah menungguku disana.” Kilah gadis itu sedang butir-butir keringat halus sudah mengucur deras dari keningnya. Oppa…mianhe…jeongmal mianhe, oppa…

Tak berapa lama, Marc juga beberapa kru timnya juga Emilio keluar dari hotel tersebut. Mata pria itu menjelajah ditiap sudut hotel itu, berusaha mencari Ji Eun yang sudah melengos hilang duluan tadi, “..kemana gadis bawel itu, hah?! Dia mau ketinggalan pesawat?” omel Marc terus mencari.
“Tidak usah mencari jauh-jauh..itu disana.” Tunjuk Hector sedang Marc mengikuti arah telunjuk pria itu. Dan untuk beberapa saat Marc membatu ditempat. Ada rasa sakit dan marah yang bercampur dan menumbuk-numbuk hatinya. Marc mengepal kesal tangannya hendak menghampiri gadis yang berstatus ‘istri’nya itu.
“Tidak, Marc! Kau harus ingat…ini hanya kontrak. Dan kau tak berhak marah kalau kau tak punya perasaan apapun padanya.” Cegat Emilio sebelum Marc bertindak bodoh.
Segera pria itu tersadar. Ia melihat kedua tangannya yang terkepal kuat disisi tubuhnya. Bodoh! ada apa denganmu!
“Ji Eun!” tegur Shanti kemudian melambai dan gadis itu merespon. Segera gadis itu menghampiri mereka bersama dengan Hyun Woo.
“Kalian sudah siap? Oh ya..ini Hyun Woo…dia temanku semasa SMA.” Ujar Ji Eun dengan senyum manis kemudian memperkenalkan pria itu kepada Marc dan yang lainnya.
Dia bisa tersenyum begitu manisnya didepan pria itu? Cih! Menyebalkan!
“Oh ya…bagaimana kalau aku duluan. 30 menit lagi aku harus cek in…Ji Eun, aku duluan, ya? Sampai ketemu di Seoul..” pamit Hyun Woo kemudian berlalu pergi setelah menaiki sebuah taksi.
“Sampai jumpa, oppa!” seru Ji Eun sembari melambai sampai taksi itu tak lagi terlihat.
“Oppa?” beo Marc dengan kesal, “..sok manis sekali..apa dia tau kau itu liar?” ketus Marc kesal.
“Ada apa denganmu? Lagi pula itu bukan urusanmu! Dan lagi, Hyun Woo-oppa itu jauh lebih baik darimu!” sahut Ji Eun ketus pula.
Kenapa pria ini? Menyebalkan sekali!

***************

          12 jam perjalanan mereka tempuh dari Jepang menuju Barcelona. Lelah sudah pasti mereka rasakan. Segera Ji Eun melenggang keluar ruang kedatangan setelah melihat manager Yoon dan Agatha yang sudah menunggunya diluar sana.
“Kau mau kemana?” tanya Marc datar.
“Aku tidak mau pulang denganmu! Mengerti? Dan jangan banyak tanya, karena itu bukan urusanmu!” balas Ji Eun ketus kemudian berjalan keluar dan menghampiri Agatha juga manager Yoon.
“Mana Marc dan yang lainnya?” tanya Agatha dengan bingung, “..oh ya, Alex…dia tidak bersama kalian?” tambahnya.
“Aku mau menginap diapartemenmu hari ini. Boleh kan? Dan Alex…dia sudah pulang duluan kemarin.” Balas Ji Eun kemudian segera menarik Agatha dan manager Yoon keluar dari ruang tunggu kedatangan bandara El Prat, Brcelona itu.

“Eonni bertemu Hyun Woo-oppa? Disana? Lalu..apa dia tau skandalmu, eonni?” tanya Agatha sedikit panic. Gadis itu sangat tau kalau Ji Eun begitu menyukai Hyun Woo sejak gadis itu masih duduk dibangku SMA.
“Tidak. Sepertinya dia tidak tau. Bukankah itu bagus? Jadi..setelah aku bercerai dari si bodoh Marc itu, aku bisa langsung mendekatinya, kan?” cerita gadis itu bersemangat.
“Eo-eonni…begini…sebenarnya aku mau tanya hal ini dari beberapa hari yang lalu…”
“Tanya apa?”
Sejenak Agatha melirik kearah manager Yoon dan menghela napas panjang sebelum mulai berbicara, “..begini, eonni…eum..aku dan manager Yoon ingin tau..apa kau…benar-benar sebenci itu pada Marc? Eumm…menurutku…50 hari bersama itu bukan waktu yang singkat, lho! Apa…tidak ada perasaan macam itu eonni…perasaan seperti yang kau rasakan untuk Hyun Woo-oppa..”
Ji Eun tertegun sebentar..Ya, ada begitu banyak memori konyol yang terkadang mampu membuatnya berdebar selama 50 hari ini bersama pria itu. Ada begitu banyak memori yang rata-rata semuanya ada pria itu didalamnya. Tapi..sekali lagi. Ji Eun lebih memilih mengikuti otaknya yang berpikir logis, bahwa..pria itu bukanlah haknya. Ia hanya meminjam pria itu dari wanita yang rela diduakan dan rela dengan sabar menunggu prianya untuk dikembalikan. Dan akan sangat jahat pula, kalau Ji Eun merampas apa yang bukan miliknya itu.
“Agatha…dengarkan aku. Ada yang harus aku katakan pada kalian.” Gadis itu berhenti sejenak kemudian memulainya, “..sebenarnya..Marc sudah memiliki seorang kekasih..dan aku merasa sangat kasihan pada gadis itu. Dia rela diduakan..bahkan dia tak keberatan menunggu kami sampai menyelesaikan kontrak ini. Dan akan jahat sekali kalau aku merebut apa yang bukan milikku, kan?”
“Jadi…misalkan kalau Marc bukan milik siapapun…Eonni mau..mempertahankan pernikahan eonni ini?”
“Entahlah Agatha…aku belum tau perasaanku yang sebenarnya seperti apa..”
Beberapa saat apartemen milik Agatha itu terasa sepi. Tak ada lagi yang berbicara sampai bunyi bel pintu apartemen Agatha berbunyi.
“Siapa?” seru gadis itu kemudian berlari kearah pintu itu dan membukanya, “..Marc? A-ayo masuk…eonni ada didalam.” Ajak Agatha dan hanya dijawab gelengan Marc.
“Bisa kau tolong panggilkan Ji Eun? Ada yang ingin aku bicarakan dengannya.” Ucap Marc dengan tatapan tajam. Sepertinya ada yang sangat serius yang hendak dibicarakan pria itu dengan Ji Eun, pikir Agatha. Buru-buru gadis itu berlari lagi kedalam dan menyampaikan apa yang Marc katakan padanya tadi.
Segera Ji Eun menghampiri pria yang masih menunggunya didepan pintu itu.
“Mau apa..hei!” baru gadis itu muncul dihadapan Marc, pria itu langsung membawanya dengan paksa, “..kau mau bawa aku kemana, hah! Lepaskan!” rontanya namun, kuat genggaman Marc lebih besar dari usaha gadis itu melepaskan diri.
Marc membawa masuk gadis itu dengan paksa kedalam mobilnya sedang Ji Eun hanya bisa mengikutnya dengan terpaksa pula.
“Sebenarnya kau mau bawa aku kemana, hah?!” marah gadis itu kemudian menatap Marc dengan tajam.
“Kesuatu tempat..untuk sedikit membuka matamu.” Jawab Marc dingin. Tatapan pria itu lain. Ada rasa takut dalam hati Ji Eun. Apa yang akan dia lakukan denganku?

******************

          “Apa yang Vanessa katakan padamu?” tanya Marc datar. Tatapan pria itu lurus kedepan. Menatap kosong kearah danau ditaman kota Barcelona yang sudah diselimuti gelapnya malam.
“Tidak. Dia tidak mengatakan apapun..”
“Jangan bohong!”
Nada bicara pria itu meninggi seketika. Dan tanpa sadar, nada tinggi Marc itu membuat Ji Eun bergetar ketakutan, “..u-untuk apa aku berbohong padamu? Tidak ada untungnya juga kan?” balas gadis itu masih mengelak.
“Apa dia bilang kalau aku dan dia memiliki hubungan?” tanya Marc masih sedatar tadi, “..dan kuharap kau jujur padaku. Karena ada hal yang perlu kau ketahui juga..”
“Baiklah. Iya…dia bilang kau itu kekasihnya. Dan…itu benar kan? Seharusnya kau merasa beruntung memiliki gadis pengertian seperti Vanessa itu. Dia rela menunggumu seperti ini dengan sabar.”
“Jadi begitu…” jawab pria itu singkat kemudian berdiri dari duduknya, “..terima kasih..kupikir kau belum tau soal ini..” tambahnya kemudian berjalan masuk kedalam mobilnya dengan diikuti Ji Eun. Apa maksudnya?

Malam itu Ji Eun tak bisa memejamkan matanya. Didalam otaknya terus berkelabat perkataan Marc ditaman tadi. Tatapannya..nada bicaranya..sorot matanya..seakan semua itu mampu membuat Ji Eun merasa terluka tiap kali mengingatnya.
Tanpa sadar, pelupuk mata Ji Eun sudah ditutupi selapis tipis air mata yang kapan saja bisa jatuh kalau ia mau. Sebenarnya…yang bodoh itu aku atau dia? Dan yang sebenarnya menjadi keledai bodoh dalam pernikahan ini aku atau dia? Dan air mata itu jatuh seiring ingatannya terlempar pada punggung Marc yang berjalan menjauh darinya tadi. Pria itu tak lagi melirik atau sekedar mencibirnya seperti biasa. Dan Ji Eun merasa tidak nyaman dengan perasaan ini.
Tidak…ini salah…dan aku tidak boleh terus menerus begini…lagi pula, aku masih punya Hyun Woo…untuk apa aku jadi keledai bodoh yang menanti hal mustahil…

Marc’s POV :

Aku baru akan memejamkan mataku saat kejadian ditaman tadi kembali berkelabat diotakku. Berkali-kali aku memaki kebodohanku sendiri dalam hati. Kebodohanku yang menganggap kalau gadis itu sudah mulai bisa membuka hatinya untukku. Yang ternyata itu hanya harapan terliarku yang bahkan tak bisa diwujudkan menjadi kenyataan.
Karena kenyataannya…gadis itu tidak mencintaiku, dan hanya aku yang mulai merasakan perasaan itu. Karena kenyataannya, gadis itu mencintai pria lain dan terlihat begitu manis didepan pria itu, yang bahkan selama ini, tidak pernah aku dapatkan meski statusku adalah suaminya.
Aku cemburu. Ya, aku cemburu. Aku iri pada pria itu. Ya, aku memang sangat iri padanya. Padahal kalau mau dibilang, aku sama pantasnya dengan pria itu. Dan aku bisa lebih pantas lagi darinya. Bahkan…yang lebih membuatku sakit hati ketika dia menyerahkanku pada seseorang yang memang dulu pernah aku cintai.
Apa dia menyerah? Tapi dia serius dan terlihat begitu tenang…dia tak merasa terluka sedikitpun saat mengatakan bahwa aku harus kembali pada Vanessa…sial!
Aku terus menggeliat gelisah tanpa sedikitpun merasakan kantuk diatas tempat tidur. Bau gadis itu masih tercium disprei dan bantal ini. Aku merindukannya…Ya..pria bodoh ini sangat merindukan gadis itu…gadis bawel yang selalu memakinya dan berbicara ketus padanya..gadis bawel yang pernah menggigit bahkan memukulinya sampai berdarah…gadis bawel yang pernah menangis didalam pelukannya dalam keadaan mabuk…
Dan aku sadar betul…semua itu tentu saja bukan kenangan indah untuknya, kan? Karena hanya aku yang mengemas itu sebagai memori berharga…
Marc’s POV end :

To Be Continued…