As Long As You Love Me #1

image

Hi hi semuaaa!! *lambai-lambai ala miss universe* author akhirnya kembali dengan FF baru dan tetap memilih terus bekarya meski dalam derita 😞 by the way..author harap kalian harus banyak bersabar juga ya? Soalnya, kali ini author bakal sedikit jarang mengepost FF..soalnya author juga harus memanage waktu antara FFdan kuliah 😊 soooo..dimohon pengertian para reader semua yang budiman ☺️ Ok! Langsung aja kita ke TeeKaaPee!!! *emang ini acara OVJ thor? 😒* Happy reading guys 😚😘

# # # # # # # # # # # # # # #

Cast :

Marc Marquez Alenta
Lee Ji Eun (Jane Alzamora)
Emilio Alzamora
Shanti Hernandez
Valentino Rossi
Etc…

Genre :

Action, Romance, Family

Author :

@LeaObiraga

$ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $

Epilog :

Marc sudah berdiri cukup lama sampai akhirnya pria paruh baya didepannya mulai membuka suaranya, “..kuharap kau tidak mengecewakanku, anak baru.”
“Kau bisa mengandalkanku, Vale. Ini hal yang mudah.” Balas Marc santai sembari tersenyum tipis kearah pria paruh baya didepannya itu. Setelah semua urusan mereka selesai, Marc berjalan keluar dari ruang remang itu dengan langkah mantap.
“Putri perdana menteri, hm?” Gumam Marc kemudian menatap sekilas map yang ada ditangannya itu, “..tentunya butuh sedikit kerja keras, bukan?”
Penasaran, Marc pun sedikit mengintip isi map yang menjadi misi pertamanya itu.
“Memiliki darah Korea dari sang ibu dan Spanyol dari sang ayah..hm? Menarik..dan wajahnya, yaahh..mungkin dia dominan pada ibunya. Lalu? Harus kupanggil apa? Jane atau Ji Eun?” Gumam Marc pelan hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri, “..apa tidak sayang membunuh gadis secantik dan semani ini? Ah! Sudahlah..masa bodo. Yang penting misi ini harus kujalankan.” Tambahnya lagi kemudian masuk kedalam BMW Cope miliknya yang sedari tadi setia menunggu tuannya.

$ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $

Part 1 :

“Bibi Emma! Bibi Emma!” Hari masih pagi sekali namun suara Ji Eun sudah menggema diseluruh penjuru rumah itu.
“Ada apa nona?”
“Kau melihat kunci mobilku?” Tanya gadis itu sambil masih terus mencari keberadaan kunci mobilnya.
“Mobil anda sudah siap, nona. Kata ayah anda, anda tidak boleh berangkat sendiri. Makanya, beliau sudah menyiapkan seorang supir dan seorang body guard untuk anda.”
Semangat Ji Eun yang tadi menggebu-gebu kini menguap hilang. Rasa kesal mulai meletup-letup didalam dadanya. Sepertinya daddy terlalu pikun untuk mengingat janjinya sendiri. geram gadis itu dalam hati.
Dengan langkah kesal, Ji Eun kembali naik keatas untuk menemui seseorang yang pantas bertanggung jawab untuk segala kesialannya ini.
“Oppa! oppa bukan pintunya!” Seru gadis itu kencang sambil terus mengetuk kasar pintu kamar kakak lelakiknya, “..YA! Bukan pintunya CEPAT!” Seru kesal gadis itu akhirnya karena merasa diabaikan.
“YA! Lee Ji Eun-aah! Micheosseo?! Mwo ya?!” Bentak geram Ji Hyun dengan mata yang masih memerah karena kantuk.
“YA! Nae saekki oppa! Apa yang oppa katakan pada daddy sampai aku harus kembali dikawal seperti ini, eo?!”
Sejenak Ji Hyun berpikir kemudian dan senyum jahil mulai melengkung dibibirnya, “..oh itu, yeodongsaeng ku tersayang..oppa hanya memberitahu kejadian yang sebenarnya dan sejujurnya pada daddy kalau kau..”
“Keumanhae! Aku benci oppa!”
Gadis itu berbalik dan kembali berjalan kearah sebuah kamar yang terletak dipojok lorong ini, “..daddy! Bukan pintunya!” Seru gadis itu kencang dan mengetuk pintu itu dengan kasar dan kesal, “..daddy!!!”
Dan tak berapa lama seorang pria paruh baya nampak dari balik pintu kamar itu.
“Ada apa, sayang? Tumben kau bangun pagi sekali..”
“Kenapa harus dikawal lagi? Daddy sudah berjanji bukan? Aku rela mengikuti banyak kursus bela diri supaya tidak dikawal lagi, daddy!” Protes Ji Eun tanpa mau mendengar perkataan ayahnya lebih lanjut lagi.
“Sayang..situasi sekarang beda dari kemarin-kemarin. Daddy hanya mau benar-benar menjamin keamananmu. Dan daddy tidak menerima protes apapun lagi darimu. Sebaiknya kau segera bersiap. Pesawatmu akan segera berangkat.”
Emilio kembali masuk kedalam kamarnya, sedang Ji Eun hanya bisa menatap punggung ayahnya dengan rasa tidak percaya.
“Aku benci daddy! Daddy tidak pernah menepati janji! Aku sangat benci padamu!” Seru gadis itu geram kemudian berjalan kembali kekamarnya. Matanya mulai memanas. Butir-butir bening itu mulai tertahan disana.
“Apa yang kurang? Taekwondo..Aikido..kursus menembak..aku sudah berusaha!” Gumamnya kesal sembari menepis lampu tidurnya sampai terjatuh. Bukan hanya lampu tidurnya saja, namun beberapa benda diatas meja riasnya pun ditepis jatuh berantakan.
“Bagaimana kalau perjalanan ku ini tak ada yang boleh tau?” Gumam Ji Eun lagi kemudian mulai memasukan beberapa pakaiannya kedalam sebuah ransel biru miliknya.
Dan dengan mengendap-endap gadis itu keluar dari rumah besar itu.
Bebas! Aku hanya mau itu sebentar saja…kalau tidak ayah berikan, akan kudapatkan kebebasan itu sendiri dan tentunya dengan caraku!

Ji Eun berjalan dengan perut yang terus berbunyi. Gadis itu sadar, sejak pagi tadi ia belum mengisi perutnya dengan makanan.
“Astaga! Bodohnya..kenapa harus lupa dompet?! Benar-benar sial!” Gerutu gadis itu pada dirinya sendiri.
“Hei!”
Suara teguran itu sontak membuat Ji Eun sedikit melonjak kaget. Segera gadis itu berbalik dan mendapati sosok pria tampan sedang berjalan kearahnya, “..Lee Ji Eun, kan?”
Dahi Ji Eun mengernyit, Dari mana dia tau namaku? Kenal dengannya pun aku tidak., “..kau siapa?”
“Mungkin ayahmu belum bercerita, ya? Kalau aku ini saudara sepupu jauhmu..”
“Pembohong! Banyak orang yang sering bilang begitu padaku kalau bertemu. Tapi semuanya bohong!” Ketus Ji Eun. Gadis itu berniat berjalan meninggalkan Marc sampai akhirnya pria itu menangkap tangannya.
“Aku Daniel..Daniel Javier.”
Beberapa saat kemudian Ji Eun melongi terkejut. Setaunya Daniel itu kurus dan berkawat gigi tapi kenapa…
“Orang kurus bisa memiliki tubuh bagus kalau berusaha kan? Dan lagi, kita sudah 7 tahun tidak bertemu.”
Marc mulai tersenyum ketika gadis didepannya ini percaya akan sandiwaranya.
“Entahlah..tapi..kau tidak bohong kan?”
Marc segera menggeleng menjawab perkataan Ji Eun, “..kalau begitu, aku mau tinggal dirumahmu saja. Aku sedang kabur dari rumah. Tentu kalau kau Daniel, kau akan dengan senang hati mengijinkanku tinggal kan?”
“Kenapa tidak? Ayo!”
Marc menggiring Ji Eun masuk kedalam BMW Cope miliknya. Dan setelah keduanya berada dalam mobil, Marc segera menyetir menjauh dari tempat itu. Keberhasilan itu akan datang pada orang yang mau menunggu dengan sabar, bukan?
Tak berselang lama, mobil Marc sudah diparkirnya didepan sebuah rumah mewah, “..ini rumahmu?” Tanya Ji Eun.
“Yaah..begitulah. Sangat tidak enak jika ditinggali sendiri.”
Ji Eun melongo kaget, Rumah sebesar ini, hanya ditinggalinya sendiri? Berarti..kalau denganku? Hanya kami berdua?
“Tidak apa-apa. Didalam ada asisten rumah tanggaku. Namanya Shanti. Jadi dalam rumah ini hanya kita bertiga.”
“Dan hanya aku saja yang perempuan?”
“Tidak masalah kan?”
Ji Eun segera menggeleng ketika perutnya kembali bereaksi, “..aku juga belum sarapan. Ayo!” Ajak Marc dan mereka masuk bersama dalam rumah itu.
Beberapa saat Ji Eun sedikit takjub dengan rumah pria ini. Interior mewah yang tertata rapi tepat pada tempatnya. Pemilihan warna untuk cat rumah ini yang sesuai dengan interiornya.
“Ku harap kau nyaman disini.”
“Kuharap juga begitu.”
Tidak buruk juga. Toh, hari ini tidak sial-sial amat.

$ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $

[Bagaimana?] tanya sebuah suara berat diujung sambungan telepon sana.
“Semuanya mulai berjalan sesuai rencanaku. Kau tenang saja. Aku akan segera membereskan tugas ini.” Balas Marc yakin sembari membubuhkan senyum tipis dibibirnya.
[Bagus. Dan kuharap, kau tidak main-main denganku. Aku punya banyak mata yang bisa memantau mu dimana pun kau berada.]
“Kau tenang saja. Percayakan tugas ini padaku.”
Dan sambungan telepon itu pun terputus. Marc kemudian berjalan keluar dari kamarnya dan diam-diam mengintip masuk kedalam sebuah kamar yang pintunya membuka sedikit cela.
“Lihat-lihat apa?” Seru gadis itu yang entah dari mana, tau kalau Marc sedang mengamatinya, “..tolong tutup pintunya. Aku mau tidur!” Pinta gadis itu.
Astaga. Kalau aku mau, aku sudah membunuhmu sekarang!
Meskipun sedikit kesal, Marc akhirnya menutup pintu kamar gadis itu.
“Tuan muda, ada telepon untuk anda.”
“Siapa?”
“Ayah anda.”
Raut muka Marc berubah. Datar dan dingin. Entah mengapa, rasa benci yang Marc rasakan pada pria paruh baya itu tak kunjung hilang sampai saat ini.
“Bilang saja aku tidak mau bicara dengannya lagi.” Pinta Marc dingin dan datar kemudian berjalan turun dan memghilang dibalik pintu rumah.
Marc mau mencari sedikit hiburan. Entah dimana, yang penting Marc bisa sedikit melupakan tentang pria yang adalah ayahnya itu.

Flashback :

“Mommy!!!” Jerit Alex dan Marc kecil bersamaan ketika wanita paruh baya yang sangat mereka sayangi itu sudah tebaring tak bernyawa dengan bersimbah darah.
Mata Marc kecil menangkap sebuah pistol yang tergenggam erat ditangan ayahnya yang berrdiri tepat didepan mayat ibunya, “..apa yang daddy lakukan?” Tanya Marc lambat-lambat. Air matanya mulai bergulir deras, dan membasahi pipinya. Sedang tangannya terus mendekap adik kecilnya Alex.
Tanpa menjawab, pria paruh baya itu malah berlari pergi dari rumah. Dan menghilang entah kemana.
Bertahun-tahun, Marc dan Alex hidup sendirian. Susah payah, Marc menjaga adiknya sendirian, membiayai sekolah keduanya sendirian. Hingga suatu ketika, pria paruh itu kembali lagi sudah dalam keadaan mapan.
“Ayo ikut dengan daddy.” Bujuk Julia pada putra sulungnya yang mulai beranjak remaja itu.
“Pergi kau! Kau bukan daddy ku dan aku juga Alex, tidak membutuhkan mu lagi. Dasar pembunuh!” Maki Marc kemudian meninggalkan pria paruh baya itu, masih mematung ditempatnya.
Semakin dekat dengan rumahnya, perasaannya makin tak karuan. Dan benar, setibanya dirumah..”ALEEEXX!!” Jerit Marc pilu. Ia bahkan tak pernah menyangka kalau adiknya akan bernasib sama dengan ibunya. Namun kerja siapa ini? Siapa yang sudah membunuh adiknya seperti ini. Merenggut keluarga Marc satu-satunya.
Hingga akhirnya terpikir oleh Marc seorang pria. Julia. Ya, pria itu pastilah pelakunya.
Rasa benci Marc makin menggunung. Tak ada lagi yang perlu diperbaiki. Ayahku sudah mati! Ayahku sudah mati! tekat Marc dalam hatinya.

Flashback End :

“Tidak baik kalau duduk sendirian begitu!”
Suara Ji Eun seketika membuat Marc sadar dari lamunannya. Pria itu berbalik dan mendapati gadis itu sudah duduk disampingnya, “..oh ya, terima kasih sudah mengijinkanku tinggal dirumahmu ini.”
“Tidak masalah.”
“Oh ya, bagaimana kedua orang tuamu?”
Sejenak Marc terdiam. Kau terjebak dalam sandiwara ini, Marc. Jawablah sekenannya.
“Mereka baik-baik saja.” Jawab Marc akhirnya.
“Hmm..kenapa mereka membiarkan mu tinggal disini sendirian?”
“Entahlah. Tapi aku hanya ingin hidup mandiri.”
Gadis ini. Kalau dilihat sedekat, jauh lebih cantik ketimbang dalam fotonya.
“Kau melamun apa dari tadi?”
“Tidak. Aku hanya sedang berpikir saja, kenapa aku harus jadi saudara mu, ya? Padahal, kalau kita bukan saudara..mungkin aku sudah menjadikanmu pacarku.” Canda Marc.
“Ha-ha-ha..lucu..lucu sekali.”
“Sungguh. Aku tidak bercanda.”
“Terserah kau saja.”
“Kalau begitu, kau mau tidak jadi pacarku!”
“Tidak Mau.”
Tawa Marc pecah. Gadis yang unik. Sangat unik. Kurasa aku mulai menyukai gadis ini.

To Be Continued…

Naahh…bagaimana? 😀 kalian suka? 😊 kalau suka, jangan lupa ‘LIKE’ atau tinggalkan ‘COMMENT’ 😉 author tunggu, ya? 😉

Tell Your Mom, I Love Her! #12 (Last Part)

photocat_tellyourmomilovehercover2

Happy Reading ya, guys 😘

*************************

Part 12 :

[Lupakan rencanamu, Scott. Ibu tetap tidak mau menerima wanita itu juga anaknya.]
“Itu terserah ibu. Aku tetap akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”
[Scott! Dengarkan ibu! Kau akan menikah dengan Stella dan harus segera kembali ke Manchester. Titik! Ibu tak mau dengar alasan apapun lagi dari mu dan..]
“Aku yang tidak akan menerima nasehat ibu lagi. Dan lupakan pernikahan itu. Aku tidak mencintai Stella. Katakan maaf ku padanya.”
Scott langsung menutup pembicaraan ditelepon itu dan mengambil kunci mobil juga jacket kulit hitam miliknya kemudian keluar dari apartemen mewahnya. Tak peduli dengan seberapa berantakan keadaannya saat ini, pria itu terus berjalan dengan mantap dan mengacuhkan setiap mata yang terus memandanginya dengan ngeri.
“Masa peringatan kalian habis, Marc..Ji Eun. Inilah batas kesabaranku.” Gumam pria itu kemudian melaju cepat Ferarri putih miliknya keluar dari area gedung parkir itu.
Caranya menyetir bak orang kesetanan. Tak peduli beberapa mobil juga pejalan kaki yang hampir menjadi korban keganasannya menyetir. Kecepatan maupun caranya menyetir tidak berubah sedikit pun sampai beberapa saat kemudian, mobil ferarri itu sudah terparkir diarea parkir Olympic Park.
Dengan langkah mantap pria itu berjalan menyusuri tiap area wahana permainan di Olympic Park. Hingga akhirnya mata pria itu menangkap sosok yang amat sangat dia rindukan beberapa minggu ini. Dan sesuai rencana, gadis kecil itu sedang menunggu sendirian disebuah bangku panjang.
Dengan langkah hati-hati, Scott berjalan mendekat kearah Hanna, “..hei, manis. Sedang apa?” Tanya Scott lembut. Pria itu tidak mau membuat gadis kecil itu ketakutan melihatnya.
“Kenapa kau disini?” Tanya Hanna dengan suara yang sedikit bergetar. Namun, ada rasa lega yang Hanna rasakan, seperti rasa rindunya telah terbayar.
Tanpa sadar, air mata Scott menetes. Hanna dapat melihat betapa terlukanya pria itu. Penampilannya sudah cukup menjelaskan penyesalannya, “..kumohon, kau mau jalan-jalan denganku sebentar. Setelah itu, aku tidak akan muncul dihadapanmu lagi, hm?” Bujuk Scott masih terus disela isakannya.
Sejenak Hanna mempertimbangkan yang akhirnya, gadis kecil itu mengangguk dan mengikuti Scott dengan patuh.
Sesampai mereka diarea parkir, Hanna mulai merasa ada sesuatu yang janggal. Pria ini nampak sangat depresi dan tidak seharusnya Hanna mempercayainya begitu saja.
“Kita mau kemana?” Tanya Hanna dengan suara gemetar ketika Scott memasukannya kedalam mobil.
Scott tak menjawab, pria itu kemudian menyalakan mesin dan menyetir menjauh dari taman bermain itu. Sedang Hanna, gadis kecil itu mulai menangis ketakutan.
Sambil menyetir Scott mengetik sebuah pesan diponselnya dan nampak senyum licik tersungging dibibirnya.
“Kita mau kemana?” Tanya Hanna sembari terus menangis ketakutan. Gadis kecil itu terus mendesak untuk turun. Tapi seperti tuli dan tak perduli, Scott mengacuhkan tangisan dan ketakutan Hanna itu. Yang dipikirannya saat ini adalah, menghabiskan waktunya bersama Hanna, malaikat kecilnya.

*************************

“Aku tadi hanya pergi membeli es krim sebentar. Sekarang bagaimana Marc?” Tanya Ji Eun disela-sela isakkannya. Sekujur tubuh wanita itu mulai bergetar hebat.
“Kita cari lagi, ya? Kalau tidak ketemu juga, kita lapor saja kepolisi.” Usul Marc dan Ji Eun hanya mengangguk patuh. Keduanya pun mulai berpencar untuk mencari Hanna. Namun, setelah lama berkeliling gadis kecil itu tak kunjung ketemu juga.
Panik, khawatir juga takut mulai menggelayuti hati Ji Eun. Wanita itu bahkan tak perduli dengan perutnya yang terus protes minta diisi. Nafsu makannya hilang sudah sekarang.
“Kita harus bagaimana sekarang?” Tanya Ji Eun dengan suara bergetar. Sedang Marc hanya terdiam tak tau harus menjawab apa lagi. Toh, pria itu juga mulai merasa khawatir dan takut sekarang.
Dalam kekalutan mereka itu, ponsel Marc bergetar pertanda sebuah pesan masuk. Dan betapa terkejutnya Marc ketika membaca pesan itu, “Kalau aku tidak bisa miliki Hanna. Begitu pun dengan kalian.”
“Scott..” Desis Marc geram.
“Apa?”
“Scott..Hanna sekarang bersama dengan Scott. Pria itu..”
Marc mulai mengepal tangannya dengan geram. Amarah mulai meletup-letup dihatinya. Segera pria itu berjalan dengan langkah cepat menuju area parkir, sedang Ji Eun mengikuti Marc dengan setengah berlari.
“Kita mau apa?” Tanya Ji Eun sedikit bingung.
“Mengejar mereka. Mungkin saja mereka belum begitu jauh.”
“Tapi kemana, Marc?”
Pria itu hanya menggeleng. Dan masuk kedalam mobil, “..cepat hubungi 999..setidaknya kita juga harus punya bala bantuan.” Pinta Marc kemudian mulai menyetir mobilnya menjauh dari Olympic Park.

Hanna tak lagi banyak bertanya. Tangisannya pun sudah meredah. Pandangan gadis itu terus melihat keluar, ketempat demi tempat yang Scott lewati bersamanya. Seketika tersembul sedikit memori pada tempat-tempat ini.
Taman bermain tempat Scott memberinya gaun biru cantik, rumah sakit De Deu tempat pertama Hanna bertemu dengan Scott dan sekolahnya tempat dimana Hanna sangat ketakutan melihat amarah Scott waktu itu.
Batin gadis kecil itu mulai bertanya-tanya, apa maksud pria ini membawa Hanna melewati tempat-tempat kenangan mereka.
Hingga tibalah mereka pada sebuah bangunan sekolah, yang setau Hanna ini adalah sebuah SMA. Sejenak Scott memberhentikan mobilnya dan menatap lama kedalam sekolah bangunan sekolah yang lengang karena liburan itu.
“Disinilah pertama kali aku bertemu dengan ibumu, Ji Eun. Aku benar-benar jatuh cinta padanya saat itu, bahkan aku rela melakukan apapun untuk mendapatkannya. Kami sangat mencintai dan berhasil memelihara hubungan kami sampai kuliah.”
Kembali Scott menyetir menjauh dari gedung itu dan berhenti lagi didepan sebuah bangunan kampus, “..disini..disinilah semuanya berakhir. Ketika aku terlalu bodoh dan egois, menyakiti Ji Eun dan melepas kalian berdua. Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan sangat merindukan kalian berdua. Aku juga bahkan tidak pernah sadar kalau selama ini aku selalu mencintai kalian berdua.”
Hanna mengernyit bingung. Apa yang Scott bicarakan? Gadis itu masih terlalu kecil untuk mencerna dengan baik maksud perkataan Scott, “..oh ya, ini..” Scott merogoh sakunya dan mengambil sebuah foto kecil dari dalam dompetnya, “..ini adalah foto USG pertama mu. Malam itu Ji Eun membawa ini padaku. Dan hampir saja aku buang karena frustasi tapi…entah mengapa, aku mengurungkan niatku itu dan terus menyimpannya sampai saat ini.”
Mata Hanna menerawang menatap foto USG itu, “..aku tau kau mungkin tidak begitu mengerti apa yang dari tadi kuceritakan tapi..kebenaran yang sesungguhnya adalah kau..kau putri kandungku. Putri yang dulu dengan bodohnya ku sia-siakan. Terserah kau mau percaya atau tidak..tapi setidaknya aku sedikit bisa merasa lega karena bisa menghabiskan sedikit waktuku bersamamu.”
Scott kembali menyetir menjauh dari bangunan kampus itu. Dan arah perjalanannya mulai membuat Hanna sedikit lega, “..ku pikir kau akan menculikku.” Celetuk polos gadis kecil itu.
“Mana mungkin, sayang.” Balas Scott singkat kemudian berhenti tepat didepan rumah Ji Eun, “..turunlah..aku harus segera pergi. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan.” Pinta Scott kemudian, “..oh ya, boleh kau memanggilku daddy sekali ini saja?”
Hanna nampak berpikir sesaat sampai akhirnya bibir mungil gadis kecil itu mulai bergerak, “..daddy..” Ucap gadis kecil itu ragu. Namun, tak berapa lama, seperti ada sebuah keyakinan dalam hatinya. Tangan mungilnya mulai menyusur dan menyentuh lembut pipi Scott yang mulai dibasahi air mata, “..maafkan aku daddy..aku tidak mau membencimu lagi. Aku menyayangimu.”
Air mata Scott yang awalnya hanya beberapa tetes saja, kini mulai turun dengan deras. Pria itu tak bisa menahan lagi rasa rindunya terhadap gadis kecil ini. Dengan spontan, pria itu memeluk erat tubuh mungil Hanna. Menghabiskan sisa-sisa menit kebersamaannya dengan gadis kecilnya itu.
“Daddy juga sayang padamu, Hanna. Sangat sayang.” Ungkap Scott seakan tak ada lagi kata maupun kalimat yang sanggup mengungkapkan perasaannya terhadap gadis kecil it saat ini. Ini akan jadi yang pertama dan terakhir, Hanna. Tapi ingatlah..bahwa daddy akan selalu sayang padamu.

Perasaan Scott lega. Seluruh beban dan pikiran yang mengganggunya beberapa minggu ini menguap sudah. Hatinya jauh lebih enteng sekarang. Pria itu terus menyetir dengan santai, senyum pun tak lepas dari wajah pria itu. Hingga sampai beberapa mobil polisi mengejar mobilnya dari belakang. Scott tau, seharusnya ia tidak lagi boleh menghindar, namun kakinya yang menginjak pedal gas, seakan tak berkoordinasi dengan baik dengan otaknya sehingga, mobil pria itu kembali melaju membabi buta dijalanan.
Scott terus berusaha meyakinkan hatinya juga mengkoordinasi tubuhnya, agar mau menurut dan tidak lagi melarikn diri seperti pengecut. Namun seperti semuanya terlambat ketika tanpa sadar, Scott sudah berada diluar jalur.
Pria itu tepat berada dijalur yang berbeda arah dengannya. Dan kalau pun aku mati hari ini. Setidaknya aku mati dengan perasaan bahagia. Dan tak ada lagi beban yang menggantung dihatiku.
Tabrakan keras antara sebuah truk gandeng dengan mobil Ferarri putih Scott tak terelakan. Membuat beberapa mobil polisi yang sedari tadi memburu Scott segera turun dan berlari menghampiri kedua mobil tersebut.
“Cepat panggil ambulans!” Seru salah seorang polisi yang masih terdengar samar ditelinga Scott. Dan lama kelamaan, pendengarannya melemah, matanya mengabur dan gelap, napasnya berhenti menderu dan jantungnya tak lagi berpacu. Kau akan menjadi ayah yang baik untuk Hanna kan, Marc?

*************************

Flashback :

“Eomma..”
Sejenak Ji Eun tertegun dengan panggilan baru untuknya dari Hanna itu. Jantung Ji Eun hampir melonjak keluar, antara karena senang atau terkejut. Gadis kecil itu kemudian berjalan mendekati Ji Eun dan memeluk wanita itu dengan penuh sayang.
“Kau eomma kandung ku kan?” Tanya Hanna membuat hati Ji Eun menjadi pilu, “..terima kasih, eomma. Selama ini mau jadi eonni yang baik dan sayang padaku. Selama ini sudah mau memberikanku kedua orang tua yang lengkap. Tapi, sebenarnya aku tidak apa-apa kalau hanya dengan eomma saja. Aku juga tidak akan perduli dengan apa yang akan teman-temanku katakan padaku. Aku sayang eomma juga daddy. Aku tidak berharap kalian bersatu lagi karena eomma sendiri sudah punya Marc. Tapi aku mau, kalian tetap mengurusiku bersama dan bergantian menjemputku dari sekolah. Boleh kan kalau setiap seminggu sekali aku menginap dirumah daddy?”
Ji Eun masih terdiam. Masih berusaha mencerna tiap perkataan polos gadis kecilnya itu. Ji Eun bahkan menganggap dirinya terlalu bodoh selama ini yang menganggap Hanna sebagai anak kecil yang rapuh. Ia salah kalau menganggap Hanna tak akan mau menerima situasi ini. Bahkan kalau mau dibilang, bocah 4 tahun ini memiliki sikap yang lebih dewasa ketimbangnya yang sudah berusia 21 tahun.
Ji Eun memeluk erat tubuh Hanna. Mendekapnya hangat dan mengecup pucuk kepalanya.
“Maafkan eomma. Sungguh maafkan eomma, sayang. Eomma hanya tidak ingin kau tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Eomma juga tidak ingin melukaimu dengan menceritakan bahwa ayahmu sudah menolakmu dulu. Sekarang eomma sangat menyesal, sayang. Maafkan eomma.” Isak Ji Eun sambil terus mendekap Hanna erat.
“Tidak eomma. Tidak apa-apa. Tadi..daddy menceritakan semuanya padaku. Bagaimana kalian saling jatuh cinta, bagaimana kalian memelihara cinta kalian itu, sampai dimana kalian terpisahkan karena egoisme. Aku tidak mau menyalahkan eomma atau daddy. Aku hanya mau berterima kasih pada eomma yang terus memperjuangkan dan mempertahankan aku, meski eomma sendiri tau kalau daddy tak akan mau bertanggung jawab.”
Ji Eun terus terisak. Air matanya kian membanjiri wajahnya. Dan dibelakangnya sana, Marc hanya bisa menatap haru pemandangan didepannya itu.
Hanna adalah gadis kecil yang tangguh. Setangguh Ji Eun. Dia bahkan tak berespon berlebihan atau bahkan membenci Ji Eun, “..Hanna.” Sapa Marc pelan.
“..maafkan aku juga yang berusaha menjauhkanmu dari ayahmu. Tapi, kalau kau ingin daddy dan eomma mu kembali. Aku tidak apa-apa.”
Gadis kecil itu melepas diri dari dekapam Ji Eun dan beralih pada Marc. Gadis kecil itu merengkuh wajah Marc dengan kedua tangan mungilnya, “..tidak. Aku juga sayang padamu. Aku ingin kau jadi daddy ku juga.”
“Terima ka..”
Belum Marc menyelesaikan kalimatnya, ponsel pria itu berdering. Segera, Marc menerima panggilan itu dan beberapa saat kemudian raut wajahnya berubah tegang.
Ponsel digenggamannya itu diturunkan perlahan.
“Ada apa Marc?” Tanya Ji Eun penasaran.
“Ji Eun..Hanna..Scott meninggal. Tadi saat polisi melakukan pengejaran, mobil Scott mengalami tabrakan mengerikan dengan truk gandeng. Dan dia…langsung meninggal ditempat.”
Perkataan Marc sudah cukup jelas untuk keduanya. Hanna mulai menangis histeris. Hari ini, gadis itu baru mengetahui ayahnya yang sebenarnya, namun hari ini juga, Tuhan mengambil kembali ayahnya. Sedang Ji Eun, wanita itu masih membatu. Tak ada setetes air mata pun yang turun atau sepatah kata pun darinya.
Rasa sesal. Ya, itulah yang Ji Eun rasakan kini.

Flashback End :

Ji Eun masih terdiam dikamarnya. Entah sudah berapa jam wanita itu terus duduk didepan jendela sembari menatap keluar dengan pandangan kosong.
Saat peti jenazah Scott dimasukan kedalam liang lahat pun, tak setetes atau sepatah kata yang keluar. Hanya pandangan kosong juga hati yang terus menjeritkan penyesalan Ji Eun.
Toh, sekeras apapun aku menjerit atau menangis sekarang, Scott tak akan bangkit lagi. Ia sudah pergi. Dia tak akan mendengar permintaan maafku lagi.
Perlahan, Marc masuk kedalam kamar Ji Eun dan duduk disamping gadis itu.
“Sampai kapan kau mau begini terus?”
“Sampi rasa bersalahku hilang, Marc.”
“Kapan? Ji Eun..dengan begini, rasa penyesalanmu tidak akan hilang. Kau tau, cara satu-satunya menebus kesalahan kita pada Scott adalah menjaga Hanna. Menyayangi Hanna. Dan membesarkan Hanna dengan baik tanpa sedikit pun membiarkannya melupakan sosok ayah kandungnya. Kalau kau hanya sibuk menghukum diri seperti ini, kau tak akan ada waktu untuk menebus kesalahanmu itu.”
Ji Eun akhirnya berbalik. Dan air mata yang sedari kemarin terus disimpannya, akhirnya menetes juga. Makin lama makin deras. Segera Ji Eun menghambur kedalam pelukan Marc dan menangis sesenggukan didalam dekapan hangat pria itu.
“Aku takut tidak bisa membesarkan Hanna sesuai harapan Scott. Aku takut, suatu saat nanti Hanna akan membenciku karena membuatnya kehilangan ayahnya. Aku takut Marc.”
“Hanna tidak pernah membencimu Ji Eun. Dia tidak akan pernah bisa membencimu. Dia malah membutuhkanmu sekarang. Dan aku..aku bersumpah akan menjadi ayah yang baik untuknya. Kita akan membesarkannya dengan kasih sayang. Kau mau kan?”
Terharu. Ya, Ji Eun sangat terharu dengan tekat Marc. Entah apa jadinya Ji Eun kalau dalam hidupnya, ia tidak pernah bertemu dengan Marc. Mungkin saat ini, ia masih sibuk untuk terus menghukum dirinya sendiri.
“Terima kasih sayang..terima kasih.” Ucap Ji Eun tulus.

Persiapan pernikahan Marc dan Ji Eun sudah matang. Segala duka sudah mereka tinggalkan dibelakang. Dan Hanna, gadis kecil itu bahkan lebih bersemangat ketimbang Ji Eun dan Marc.
“..aku akan punya adik dan kami bisa bermain bersama. Menyenangkan sekali kan, grandma..grandpa!” Ujar Hanna penuh semangat. Sedang Ra Im dan Joo Won hanya tertawa renyah menanggapi celotehan demi celotehan polos Hanna.
“Memangnya kau mau punya adik berapa banyak?” Tanya Marc setengah becanda.
“2 atau 1 mungkin.” Jawab gadis kecil itu dengan tampang serius. Membuat Marc tak bisa menahan tawa gemasnya terhadap Hanna.
“Bagaimana Ji Eun?”
Mendengar pertanyaan Marc yang terkesan sedikit menyindirnya itu membuat Marc langsung mendapat tatapan bengis.
Semuanya kembali ceria Scott. Aku tau kau terus memperhatikan Hanna dari atas sana. Dia sekarang bahagia, dan aku berjanji. Dia tak akan melupakanmu lagi.

*************************

Prosesi lempar bunga adalah satu hal yang paling ditunggu-tunggu oleh kerabat pengantin, terkhususnya wanita.
Anya sudah berdiri mantap dibelakang sana, sedang Ji Eun memunggungi mereka dan bersiap-siap untuk melempar bunga.
“1..2..3..!!” Pada hitungan ketiga, Ji Eun melempar sebuket kecil bunga mawar merah itu kebelakang. Dan bisa ditebak, Anya lah yang berhasil menggapai bunga itu. Selain karena postur tubuhnya yang tinggi semampai. Tapi juga, karena niat wanita itu ingin segera menikah diusia mudanya.
Acara resepsi pernikahan Marc dan Ji Eun dihelat disebuah taman luas yang letaknya tak begitu jauh dari gereja.
“Sekarang, aku bisa memanggilmu daddy, kan?” Tanya Hanna polos sembari naik kepangkuan Marc.
“Tentu saja, sayang. Oh ya, kau mau melakukan satu hak untuk daddy?”
“Apa?”
Segera Marc berbisik ditelinga Hanna, “..kau bisa?”
Hanna hanya menjawab dengan mencungkan jempolnya kearah Marc. Dan gadis kecil itu kemudian berlari kecil kearah Ji Eun, “..eomma, menunduk sebentar aku mau bisikan sesuatu!” Pinta gadis kecil itu yang membuat Ji Eun mau tak mau mematuh. Wanita itu perlahana sedikit menunduk dan membiarkan gadis kecil itu mengucapakn kalimat..
“Daddy Marc bilang : Katakan pada ibumu, kalau aku mencintainya. Sangat mencintainya!”
Ji Eun tersenyum dan kembali membisikan sesuatu pada Hanna, “..pergilah.”.
“Eommau bilang apa?” Tanya Marc setibanya Hanna kembali padanya.
Gadis kecil itu kemudian membisikan hal yang tadi juga diungkapkan Ji Eun, “Eomma bilang : Dia juga sangat mencintaimu!”
“Lalu bagaimana dengamu? Aku mencintaimu, Hanna! Dan kau?”
“Aku sangat..sangat..sangat menyayangimu, daddy.” Ungkap gadis kecil itu sambil tersenyum lebar.

The End..

Guys..maaf ya, kalo terkesan terburu-buru dan jelek sekali 😔 author sekarang lagi mengejar waktu karena, sekarang udah mulai kuliah jadi author gk punya banyak waktu untuk buat FF..tapi, author tetap menunggu kritik dan saran dari kalian semua..☺️ Terima kasih sudah membaca FF ini (Tell Your Mom, I Love Her!) dari Part 1-12..terima kasih juga buat setiap masukan yang sudah kalian berikan..akan author simpan untuk FF- FF selanjutnya..😊 sampai jumpa lagi di FF yang lain ☺️

Tell Your Mom, I Love Her! #11

photocat_tellyourmomilovehercover2

Happy Reading ya, guys 😘

*************************

Part 11 :

Marc masih belum mau beranjak dari ranjang Alex. Masih banyak pertanyaan pula yang menggelayuti hatinya seperti, ‘Siapa orang-orang itu?’, ‘Apa maksud mereka melakukan ini?’, ‘Mengapa Alex?’ dan masih banyak pertanyaan lain yang terus mengganggunya. Dan kalau pun benar seperti yang dikatakan Anya bahwa orang-orang itu mafia, pasti ada dalang dibalik tindakan mafia-mafia itu, bukan?
Marc makin bingung. Pria itu bahkan hampir tak pernah mendengar kalau Alex punya masalah dengan seseorang. Selain karena sikapnya yang dingin. Adik lelakinya itu pun selalu menyibukkan dirinya dengan belajar. Mana mungkin, kan?
Tengah sibuk berpikir, Marc dikejutkan dengan gerakkan tangan Alex yang kemudian diikuti dengan sadarnya Alex.
“Alex..” Ujar Marc hampir seperti berbisik. Segera, Marc keluar dari kamar rawat Alex dan memanggil seorang dokter untuk memastikan lagi keadaan adiknya itu.
“Bagaimana dok?” Tanya Marc dengan senyum lega yang mulai melengkung dibibirnya.
“Dia sudah baik-baik saja. Namun, saya harap Alex bisa istirahat yang cukup untuk seminggu kedepan.” Jawab dokter itu kemudian melangkah keluar dari kamar rawat Alex.
Sejenak, Marc menangkap ada yang aneh dengan tatapan Alex. Namun Marc lebih memilih untuk mengabaikkan, mengingat pesan dokter tadi kalau Alex harus banyak beristirahat.
“Marc..” Seru Alex dengan suara serak yang seketika menghentikan langkah Marc untuk keluar dari kamar itu, “..bisa kita bicara sebentar? Ini soal kejadian kemarin malam.”
Seketika Marc membalikkan badannya dan kembali berjalan mendekati ranjang rawat Alex.

Kedua pria beda generasi itu masih saling diam dan belum ada yang berniat untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Marc tau, seharusnya dia yang memulai duluan karena dialah orang yang meminta ayahnya itu untuk bicara saat ini.
“Sebenarnya..” Marc akhirnya mengeluarkan suaranya dan mulai bicara, “..ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu.”
“Aku tau. Makanya aku kemari, nak. Ada apa?”
Sejenak Marc kembali terdiam. Setelah merasa siap, pria itu mulai membuka mulutnya lagi, “..aku akan menikahi seorang gadis dad..aku mencintainya.”
Pria paruh baya itu tersentak mendengar ucapan mantap putra sulungnya. Kaget sudah pasti, tapi rasa bahagia tak dapat pria paruh baya itu sembunyikan dari wajahnya.
“Kau sudah memiliki kekasih dan tidak memperkenalkannya pada kami?”
“Sebenarnya sudah kuperkenalkan, dad. Dia gadis yang kemarin malam datang waktu Alex masuk rumah sakit.”
Sejenak Julia tertegun. Pria paruh baya itu berusaha mengorek memorinya dan akhirnya menemukan, “..dr. Lee?? dr. Lee Ji Eun? Kau..dan dr. Lee?”
Marc hanya mengangguk menjawab pertanyaan ayahnya itu. Namun, tatapannya tetap lurus dan nampak serius, “..tentu saja daddy setuju, Marc. Siapa pun pasti ingin punya menantu seperti dr. Lee itu. Sudah cantik, pintar dan berbakat. Daddy penasaran, bagaimana reaksi mommy mu kalau mendengar ini.”
“Tapi dad…ada hal mengenai Ji Eun yang belum dad ketahui dan aku ingin memberitahukan itu padamu.” Marc menghela napas panjang dan menghembuskannya. Pria itu sudah siap. Siap dengan resiko apapun. Meski ia harus dimaki ayahnya sekali pun, yang dia inginkan hanyalah menikah dengan gadis yang dia cintai itu, “..Ji Eun..dia punya seorang putri. Putri yang dikandungnya sewaktu ia masih menempuh perkuliahan. Putri yang didapatnya dari seorang pria bajingan yang tak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tapi dad…aku mencintai mereka.”
Marc tau ekspresi ayahnya berubah. Yang tadinya tersenyum bahagia, kini beubah dingin dan datar, “..aku akan tetap menikahi Ji Eun, dad. Tak perduli seperti apa masa lalunya. Aku sangat mencintainya, begitu juga dengan putrinya.” Pria itu menatap mantap dan lurus tepat didalam manik mata pria paruh baya didepannya itu. Sedang pria paruh baya itu, bahkan masih menolak untuk memberi jawaban, “..dad, kumohon..”
Masih terdiam. Dan kemudian pria paruh baya itu memperbaiki posisi duduknya dan mulai membuka mulutnya, “..nak, daddy tidak membenci keputusanmu. Daddy diam bukan karena marah, tapi takjub dengan sikapmu. Bahkan, kalau itu dihadapkan pada daddy sendiri, mungkin daddy tak akan sanggup dan lari. Tapi kau bukan daddy. Kau Marc…putra sulung yang sangat daddy banggakan. Toh, kalau dia pilihanmu, daddy hanya bisa memberikan restu, bukan?”
Senyum kebar mengembang diwajah Marc. Pria itu tak menyangka kalau ayahnya tidak marah padanya. Padahal sejak tadi, Marc sudah siap jika ayahnya akan memakinya atau mengusirnya. Tapi dia salah, bukan makian, tapi pujian.
Setidaknya, sekarang perasaan Marc sudah sedikit lega, “..daddy akan coba jelaskan pada mommy mu..dia pasti mengerti.”
“Terima kasih, dad.”

*************************

“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Kita bisa bicara ditempat yang lebih leluasa kan?”
Ji Eun mengedarkan pandangannya kesekeliling restoran mewah itu dan kembali memandang dirinya sendiri dengan busananya malam ini, “..apa tidak sebaiknya kita pulang dan ganti baju dulu?”
“Oh ayolah…kau akan tetap terlihat cantik dengan mengenakan apapun dan dalam keadaan apapun.” Sergah Marc sambari tersenyum lembut kearah Ji Eun. Tangan besar pria itu kemudian menggenggam erat kedua tangan Ji Eun yang sedari tadi diletakkan diatas meja. Mata coklatnya memandang lurus kedalam manik mata Ji Eun dan mengunci gadis itu didalam matanya, “..aku ingin kita akhiri ini.” Ujar Marc yang lantas membuat Ji Eun melongo tidak mengerti. Sakit. Jelas sangat sakit ketika kau sudah sangat mencintai seseorang dan ia mengatakan untuk mengakhiri semuanya. Jelas tidak akan bisa diterima dengan akal sehat sekali pun. Marc tersenyum pria itu tau, mungkin sekarang Ji Eun sedang salah paham dengan maksud ucapannya, “..kita akhiri hubungan kita sebagai sepasang kekasih dan menjalin hubungan yang lebih lagi dari itu.”
Sejenak Ji Eun tertegun, berusah mencerna perkataan Marc sampai akhirnya, Marc merogoh saku celananya dan kemudian menyodorkan sebuah kotak berbalut kain beludru merah dan membukanya, “..will you marry me?” Ucap Marc lancar dan tanpa ada ragu sedikit pun. Ji Eun masih membatu. Belum mampu merespon dan mencerna ini semua. Namun, hatinya seperti sudah lebih dahulu mencerna maksud Marc dan tanpa wanita itu sadari, air matanya mulai bergulir turun. Bukan karena sedih. Tapi karena terlalu bahagia dan tak percaya. Meski belum mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya, Ji Eun mengangguk. Ia mengiyakan lamaran Marc itu dengan bahagia.
“Kalau begitu, besok…apa kau punya waktu?”
“Untuk apa?” Tanya Ji Eun penasaran.
“Sudah saatnya aku memperkenalkanmu pada orang tuaku, bukan?”
Jantung Ji Eun memompa. Ingin sekali wanita itu menjawab, ‘Mungkin aku terlalu sibuk besok.’ Tapi yang ia jawan adalah, “..te-tentu saja.”
“Baguslah.” Jawab Marc singkat.
Ya. Ini terlalu cepat. Tapi…aku bahagia. Itu saja.

Ji Eun mulai membongkar isi lemarinya. Wanita itu mulai berpikir, apa yang akan dia kenakan besok untuk menemui orang tua Marc. Tentunya Ji Eun harus berbusana rapih, agar memiliki kesan sopan dimata kedua orang tua Marc.
“Sayang..kau sedang apa?” Tanya Ra Im yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu kamar Ji Eun. Dengan wajah sedikit memelas, Ji Eun menatap baju-baju yang berhamburan diatas kasurnya itu, “..besok aku akan bertemu dengan orang tua Marc. Apa yang harus aku lakukan?”
Ra Im tertawa renyah mendengar ucapan putrinya itu. Wanita paruh baya itu kemudian mendekat keatas kasur Ji Eun dan mulai melihat-lihat semua pakaian yang bertebaran itu.
“Sayang. Saran eomma, tampilah natural. Dan jangan bersikap berlebihan didepan mereka, hm? Setiap orang tua, pasti menginginkan menantu yang baik dan manis untuk putra mereka. Dan ibu berpikir, mungkin seperti itu juga kedua orang tua Marc. Dulu pun, waktu appa mu mau membawa eomma bertemu dengan keluarganya, eomma tidak terlalu ambil pusing soal penampilan. Yang penting eomma tampil apa adanya dan menunjukan sikap natural eomma. Dan eomma harap, kau juga akan seperti itu, sayang.”
Tampil natural, ya? Sedikit demi sedikit, Ji Eun paham dengan apa yang dikatakan ibunya. Setelah memberi sedikit wejangan kepada Ji Eun, wanita paruh baya itu berlalu pergi, “..eomma benar. Aku hanya perlu tampil senatural mungkin.”

*************************

“Eonni mau kemana?” Tanya Hanna sembari mengernyitkan keningnya dan memiringkan sedikit kepalanya.
“Rahasia.” Balas Ji Eun singkat kemudian terkikik pelan. Sedikit kesal, Hanna mengembungkan pipinya dan mulai merajuk.
“Eonni mau bertemu dengan Marc, ya? Kenapa aku tidak diajak?”
Ji Eun tertawa mendengar pertanyaan polos Hanna. Toh, salah Marc, kenapa setiap mengajaknya kencan selalu membawa Hanna.
“Sayang, kali ini situasinya beda. Lebih pribadi, eo? Eonni janji akan membawakanmu oleh-oleh nanti.” Bujuk Ji Eun agar gadis kecil itu tak lagi banyak bertanya.
“Baiklah..jangan lupa sampaikan salamku untuk Marc, ya? Oh ya..tanyakan padanya, kapan aku akan bertemu dengan Kanya lagi?”
Ji Eun hanya mengangguk kemudian mengecup pucuk kepala Hanna dan berpamitan ketika mobil Marc sudah terpakir didepan pekarangan rumah Ji Eun.
“Kau sudah siap?” Tanya Marc ketika Ji Eun sudah duduk didalam mobil.
“Entahlah. Aku gugup sekali.”
Dengan lembut Marc menggenggam erat tangan Ji Eun yang terasa sedingin es itu, “..kau sangat cantik malam ini.” Puji Marc setengah berbisik. Membuat rasa gugup Ji Eun bergani menjadi debaran yang menghangatkan.
“Aku tidak memakai dandanan. Hanya bedak dan lipstik saja.”
“Tetap saja sangat cantik.”
Seketika wajah Ji Eun bersemu merah. Oh ayolah..kau bukan gadis remaja lagi yang harus terus tersipu jika dipuji seperti ini. omel Ji Eun pada kekonyolannya sendiri.

Semakin dekat dengan rumah Marc jantung Ji Eun memompa makin cepat dan menyiksa, “..siapa yang menjaga Alex dirumah sakit?” Tanya Ji Eun tiba-tiba ketika Marc sudah memarkirkan mobilnya tepat didepan teras rumahnya.
“Kanya. Dia bilang dia akan menunggu kejutan dari kita.” Jawab Marc sembari tersenyum kemudian keluar dari mobil. Pria itu lantas membukakan pintu mobil untuk Ji Eun dan menuntun gadis itu keluar dari dalam mobil.
“Kau siap?” Tanya Marc kemudian membiarkan Ji Eun mengamit lengannya.
Terasa dilengan Marc kalau Ji Eun gemetaran, “..percaya padaku, semuanya akan baik-baik saja.” Ujar Marc mantap kemudian berjalan bersama Ji Eun masuk kedalam rumahnya.
Dan benar saja. Ji Eun tak melihat bahwa ada pemikirannya sedari tadi yang benar. Semuanya berlawanan dengan khayalannya. Tak ada ekpresi datar mengintimidasi. Apalagi kalimat dingin dan datar. Ji Eun benar-benar disambut seperti sudah menjadi bagian dalam keluarga ini. Roser, ibu Marc, bahkan tak sungkan lagi berpelukan akrab dengan Ji Eun dan langsung mempersilahkannya untuk duduk makan malam bersama mereka. Wanita paruh baya itu bahkan duduk disamping Ji Eun, dan banyak berbagi cerita dengannya. Suasana yang hangat dan akrab. Bahkan, yang lebih membuat Ji Eun takjub, ketika wanita paruh baya itu memuji Ji Eun yang mampu mempertahankan Hanna dalam kandungannya, meski ayah kandung putri kecilnya itu menolak keberadaan merek berdua.
Semakin lama dirumah Marc, Ji Eun makin betah. Wanita itu juga makin mengerti, dan tidak heran lagi, kenapa Marc memiliki sifat yang hangat dan sangat baik kepadanya. Pria itu memiliki keluarga yang sempurna untuk disebuat sebagai keluarga ideal.
Sebenarnya, Ji Eun ingin bermalam. Namun, karena pertimbangan akan Hanna. Mau tak mau Ji Eun harus pulang. Dan sebelum mereka pulang, Marc dan Ji Eun menyempatkan diri untuk singgah disebuah toko boneka. Yaahh..seperti janji Ji Eun pada Hanna sebelum pergi bersama Marc tadi, bahwa dia akan membawakan oleh-oleh untuk gadis kecil itu.
“Hanna suka dengan Stitch, kan?” Tanya Marc dengan senyum lebar diwajahnya.
“Dari mana kau tau?”
Marc melirik kearah Ji Eun dengan senyum hangat, “..aku calon ayahnya. Tega sekali kalau aku tidak tau apa yang putriku sukai, bukan?”
Ji Eun hanya mengangguk sambil membalas senyuman Marc.
“Kalau begitu, kita belikan untuknya yang ini saja.” Tunjuk Marc pada boneka Stitch berukuran besar yang mungkin tingginya sama dengan tinggi Hanna.
Ji Eun sedikit membelalak ketika melihat harga boneka itu, “..kau yakin? Aku tadi tidak membawa uang banyak dan lupa kartu kreditku dirumah.”
“Ji Eun. Aku yang menunjuk boneka itu, berarti aku yang akan belikan itu untuk Hanna.”
“Jangan terlalu memanjakannya?”
“Sebenarnya tidak salah juga kalau aku memanjakannya. Aku sangat sayang padanya.”
Ji Eun terlalu malas berdebat sekarang dan akhirnya mematuh. Marc sudah menganbil boneka besar itu dari etalase dan berjalan menuju kasir.
Setelah membayar, keduanya bergegas pulang karena takut gadis kecil itu sudah tidur dan tak melihat hadiah besar untuknya itu.

*************************

Marc turun dari mobilnya dengan penuh semangat. Ia menggendong boneka besar itu dengan girangnya dan berjalan bersama Ji Eun masuk kedalam rumah wanita itu.
Pekikkan suara gadis kecil itu membuat Marc makin bahagia dengan senyum lebar, Marc menyambut Hanna dalam pelukannya.
“Ini untukku?” Tanya Hanna penuh semangat. Nampak raut bahagia tergambar jelas diwajahnya.
“Tentu saja, sayang.” Balas Marc penuh cinta kemudian mengecup pucuk kepala Hanna.
“Lalu eonni? Apa eonni tidak membelikanku sesuatu?”
Ji Eun terdiam. Dan seperti mendapat idel wanita itu ikut menjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan Hanna, “..karena besok hari libur, bagaimana kalau kita pergi ketaman bermain?”
“Dengan Marc juga? Kalau tidak ada Marc aku tidak ikut.” Ucap polos gadis kecil itu. Ji Eun bahkan bingung, entah sejak kapan Hanna sangat lengket dengan Marc.
“Tentu saja aku ikut. Kita akan bermain sepuasnya sampai bosan.” Seru Marc kemudian diikuti Hanna dengan antusias, Astaga, entah mengapa mereka berdua begitu mirip. pikir Ji Eu. Sembari mendengus geli.
“Kalau begitu, sekarang kau harus segera tidur. Kita akan berangkat pagi-pagi besok, hm?” Ajak Marc kemudian menggendong gadis kecil itu menuju kamar tidurnya dilantai atas. Sedang Ji Eun mengekor keduanya sambil menenteng boneka Stitch milik Hanna.
Segera setelah masuk kekamar Hanna, Marc membaringkan gadis kecil itu diatas kasurnya, “..kau mau kudongengi?” Tanya Marc lembut sembari berjalan menuju rak buku-buku dongeng yang terletak disamping meja belajar Hanna, “..bagaimana dengan ini?” Tunjuk Marc pada sebuah buku cerita dengan sampul yang bertulis ‘The Frog Prince’.
Setelah mendapat anggukan setuju Hanna, Marc seger mendekat kembali kesisi ranjang gadis kecil itu, “..baiklah, ehm..”, “..suatu hari, hiduplah seorang pangeran yang sangat tampan dan pangeran itu sangat dimanja, sehingga ia menjadi sangat sombong dan angkuh juga malas. Suatu ketika, seorang wanita tua datang dan memohon pada si pangeran untuk membiarkannya berteduh sementara waktu didalam istana. Namun, dengan angkuhnya si pangeran menghina wanita tua itu dan mengusirnya dengan kasar. Tidak terima, wanita itu akhirnya mengutuk si pangeran dan merubahnya menjadi seekor katak.”
“Kenapa? Apa dia terlalu jahat?” Potong Hanna dengan wajah sedikit ngeri.
“Tentu saja. Dia jahat dan sombong. Lalu, penyihir itu bilang pada si pangeran ‘Kalau kau mau berubah kewujudmu yang semula, kau harus menemuka seorang putri cantik yang mau mencintaimu dengan tulus sebelum bulan penuh diminggu kedua bulan ini.’. Setelah berkata demikian, wanita tua itu menghilang.”
“Apa wanita tua tadi penyihir?” Tanya Hanna lagi dan nampaknya gadis itu masih enggan untuk mengantuk.
“Tentu saja. Dan kau tau, pangeran itu akhirnya menjadi sangat putus asa. Dia berpikir, mana mungkin ada seorang putri cantik yang mau mencintainya yang dalam wujud katak menjijikan ini.”
“Kasihan dia.”
Marc mengangguk sembari tersenyum, “..dan dua minggu terlewati sudah, namun tak ada seoran putri cantik pun yang ia temui. Rata-rata, semuanya melarikan diri dengan mengumpat ketika melihatnya. Hingga si pangeran menjadi makin dan makin putus asa sampai ia berkata ‘Kalau memang ini hukuman dari Tuhan untukku karena kesombonganku selama ini. Akan kuterima dengan lapang’. Dan ditengah keputus asaannya itu, ia bertemu dengan seoran putri cantik jelita yang tersesat dihutan, putri itu menangis tersedu-sedu dan membuat si pangeran katak itu ibah dan mendekatinya. Katanya, ‘Kau kenapa? Kenapa menangis?’ Tanya si katak pada putri cantik itu. Sesaat putri cantik itu sedikit terkejut, namun ia mulai membiasakan dirinya, ‘Aku tersesat. Dan aku ingin pulang, tapi tidak tau caranya keluar dari tempat ini.’ Jawab putri cantik itu masih tersedu. ‘Kalau begitu, kau mau kuantar?’ Tawar katak itu dan mulai berjalan bersama putri cantik itu. Sepanjang perjalanan, mereka bertukar lelucon dan akhirnya menjadi akrab. Pendek cerita..si putri nan cantik jelita tadi jatuh hati pada katak baik itu, ‘Meski kau tidak mau menerima imbalan, biarlah aku memberimu sedikit kenang-kenangan.’ Ujar putri itu kemudian membungkuk dan mencium katak tadi. Dan kau tau apa yang terjadi..Wussshh! Katak menjijikan tadi berubah menjadi seoran pangeran yang sangat tampan. Akhirnya, mereka menikah dan hidup bahagia selamanya. The End.”
Marc menutup buku itu dan hendak menanyakan pendapat Hanna, namun gadis kecil itu sudah terlelap. Perlahan Marc membungkuk sedikit dan mengecup kening Hanna.
“Kau juga harus pulang untuk istirahat, Marc.” Ujar Ji Eun yang sedari tadi berdiri didepan pintu kamar Hanna.
“Kau tidak mau kudongengi juga?” Canda Marc yang sudah berjalan mendekat kearah Ji Eun.
“Tidak perlu.” Ketus Ji Eun yang hendak berbalik. Belum sempat wanita itu melangkah, Marc menangkap tangannya dan menariknya dalam pelukan Marc.
“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.” Bisik Marc sembari membenamkan wajahnya dibahu mungil Ji Eun.
“Aku juga Marc. Aku juga sangat mencintaimu.” Balas Ji Eun lembut.
Perlahan Marc mengangkat wajahnya dari bahu Ji Eun dan menatap lekat-lekat kedalam manik mata wanita itu, wajahnya dicondongkan perlahan mendekati wajah Ji Eun. Hingga akhirnya bibir Marc yang lembut melumat bibir mungil Ji Eun dengan penuh cinta.
Mungkin aku bukan pria yang sempurna, tapi aku akan berusaha menjadi suami dan ayah terbaik untukmu dan Hanna.

To Be Continued..

Sorry guys..mulai dari part 11 sampai selesai Cuplikan Next Part nya udah gak aku buat lagi…biar bikin penasaran gitu #plak 😒 hehe..tetap author tunggu komentar dan like kalian 😊☺️

Tell Your Mom, I Love Her! #10

photocat_tellyourmomilovehercover2

Sorry ya baru bisa posting sekarang 😔 dan tanpa harus banyak monyong lagi *ngomong thor..ngomong!* Happy Reading ya, guys 😘

*************************

Part 10 :

Marc dan Scott masih sama-sama membatu dan belum ada yang mau merespon ucapan Hanna tadi.
“Ha-Hanna..ini bukan..”
“Iya, Hanna. Aku daddy mu..daddy kandungmu. Dan wanita yang biasa kau panggil dengan sebutan eonni itu adalah mommy kandungmu. Percayalah padaku, sayang.”
“Cukup, Scott! Cukup! Kau sudah tidak waras, Scott. Hanna tidak punya seorang daddy yang kasar, brengsek dan tidak waras sepertimu. Jadi pergi sekarang atau aku tidak akan sungkan untuk menghajarmu.”
Mendengar ucapan Marc membuat emosi Scott makin tersulut, “..aku sudah bilang berulang kali, Marc. Jangan ikut campur urusanku! Kau mau mati, hah?!” Seru Scott marah. Matanya merah dan menyala. Membuat ngeri sipapun yang menatapnya, termasuk Hanna. Kaki kecil gadis itu bergetar hebat.
“Sekarang Hanna ikut denganku. Dan jangan melawan!”
“Tidak mau.”
Kalimat paksaan Scott langsung disergah cepat oleh Hanna. Gadis itu menolak dan berlindung dibelakang Marc. Satu-satunya tempat berlindung yang ia punya, “..kau mengerikan. Aku benci padamu.” Isak gadis kecil itu dari balik tubuh Marc.
“Kau dengar sendiri Scott. Kau itu mengerikan. Jadi pergilah.” Sambung Marc dengan suara rendah kemudian menggendong Hanna dan membawa gadis kecil itu masuk kedalam mobilnya.
Rolls Royce milik Marc menjauh dan tinggallah Scott yang masih berdiri mematung ditempat. Pria itu bahkan tak menyangka kalau putrinya sendiri akan sebegitu ketakutan padanya. Maafkan daddy sayang..daddy selalu saja membuatmu takut.

Ada hal yang tidak biasa malam itu. Entah mengapa, gadis kecil yang selalu cerewet itu mendadak diam dan tiba-tiba saja melontarkan pertanyaan yang jelas membuat ketiga orang dewsa yang sedari tadi menunggunya mengoceh itu luar biasa terkejut.
Hanna menatap bergantian ketiga orang dewasa yang duduk didepannya itu. Air matanya masih belum mau berhenti bergulir turun. Rasa penasarannya pun makin menjadi-jadi. Pertanyaan demi pertanyaan makin menggunung dikepalanya. Tapi satu yang paling ingin ia ketahui adalah, kebenaran ucapan Scott siang tadi.
“Coba seseorang jawab aku. Apa yang dikatakan Scott itu benar atau tidak?” Desaknya. Namun masih sama, ketiga orang dewasa itu tetap memilih diam.
“Scott..dia bohong kan, eonni?” Kini gadis itu menatap lurus kearah Ji Eun. Tatapannya jelas sebuah tatapan penuh tuntutan.
“Apa kalau eonni bilang dia bohong, kau akan percaya pada eonni?” Tanya Ji Eun balik, berusaha menutupi ketakutannya yang makin menjadi-jadi.
“Iya, aku percaya!” Jawab gadis kecil itu mantap.
Ji Eun menunduk, sengaja menghindar dari tatapan Hanna. Ji Eun takut kalau Hanna tau dia lah yang sedang berbohong sekarang.
“Dia memang bukan ayahmu.” Jawab Ji Eun datar namun suaranya bergetar. Seperti ada sesuatu yang terrtahan ditenggorokannya, “..ini sudah malam. Sebaiknya kau segera tidur. Dan eonni mohon..kau jangan sekali-kali lagi, bertemu dengan Scott. Dia itu orang yang sangat jahat, kau sendiri tau itu.”
Gadis kecil itu berjalan mendekati Ji Eun yang masih menolak untuk menatapnya. Ada rasa bersalah yang menggelayut dihati gadis kecil itu, “..eonni..kau marah padaku?” Tanya Hanna lambat-lambat. Nada bicaranya terdengar sangat merasa bersalah. Ji Eun sendiri pun sebenarnya tidak marah dengan Hanna. Wanita itu marah dengan situasi yang makin rumit ini. Situasi yang tak pernah terpikir olehnya sedikitpun.
Wanita itu mengalah dan berbalik menatap wajah lesu gadis kecilnya itu, mengelusnya dengan penuh cinta, mengusap pipinya yang basah karena air mata, “..tidak sayang..eonni tidak marah padamu. Eonni hanya sedih saja, kenapa ada orang yang sejahat Scott?”
“Aku janji eonni..aku janji pada eonni kalau aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Aku tidak mau eonni sedih.” Sesal gadis itu sembari memeluk Ji Eun.
“Iya sayang. Terima kasih.”
Maafkan eomma, sayang. Eomma hanya ingin kau aman. Eomma membohongimu supaya kau tetap baik-baik saja.

*************************

“Bagaimana dengan Hanna?”
“Dia akan baik-baik saja. Lagi pula, Scott sendiri yang membuat Hanna makin jauh darinya.”
Kedua wanita itu diam beberapa saat untuk menyeruput minuman hangat mereka masing-masing, “..kau yakin Scott benar-benar tidak akan mengganggu lagi?”
“Entahlah, Anya..aku juga takut.”
Ji Eun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Wanita itu bahkan tak pernah berpikir kalau masalah yang sudah dianggapnya selesai ini makin memburuk.
“Lalu Marc? Bagaimana dengan dia?”
“Sudah cukup dia kerepotan mengurusiku dan Hanna. Aku hanya tidak mau dia terlibat lebih jauh lagi dengan Scott. Entahlah, aku hanya takut hal buruk akan terjadi padanya kalau dia terus ikut campur.”
Anya mengusap bahu Ji Eun pelan, “..tidak Ji Eun. Kalau aku diposisi Marc pun aku akan terus ikut campur. Lagi pula, dia sangat menyayangi kalian berdua. Kurasa tidak akan mungkin kalau Marc mau lepas tangan begitu saja pada kalian berdua.”
“Tapi bagaimana kalau Scott melukainya. Kau sendiri tau bagaiman Scott itu. Aku hanya tidak mau Marc kenapa-kenapa, itu saja.”
Keduanya kembali terdiam.
“Ji Eun..dengarkan aku. Kau sangat beruntung memiliki Marc disisimu saat ini. Jadi kumohon, hargai usahanya untuk melindungimu dan Hanna, karena mau tidak mau, Marc sekarang sudah terlibat.”
Ji Eun berpikir sejenak. Dan benar, Anya memang tidak salah. Marc bahkan sudah terlibat terlalu jauh dalam urusannya dengan Scott ini. Jadi akan sulit untuk membawa Marc keluar dari masalah mereka, “..sekarang yang terpenting adalah bagaimana cara kalian melindungi Hanna. Itu saja.”
“Terima kasih, Anya. Setidaknya aku merasa sedikit lega sekarang.”

Marc terus melirik kearah pintu ruangan Ji Eun, namun sosok yang ia tunggu itu tak kunjung muncul dari balik pintu. Hingga beberapa saat kemudian, sosok itu akhirnya muncul juga.
“Kau dari mana?” Tanya Marc dengan sedikit nada khawatir kemudian ikut menerobos masuk kedalam rusngan Ji Eun.
“Aku dari cafetaria. Kenapa?”
“Tidak. Hanya saja…eum, bagaimana kemarin? Apa Hanna…”
“Dia belum tau. Kemarin aku coba jelaskan padanya bahwa apa yang Scott katakan itu bohong.”
“Dan Hanna percaya begitu saja?”
“Dia masih kecil, Marc. Tentu saja dia belum begitu paham soal ini. Jadi aku pun tak sulit untuk membohonginya.”
Marc terdiam. Pria itu menatap lurus kearah Ji Eun, mencari makna dari raut wajah wanita itu. Itu raut penyesalan. Yang sebenarnya adalah Ji Eun ingin sekali jujur pada Hanna kalau memang benar Scott itu adalah ayahnya dan Ji Eun lah ibu kandung Hanna.
“Kau juga sedang berbohong padaku sekarang, Ji Eun.”
Perkataan Marc jelas membuat Ji Eun tidak mengerti. Apa maksud Marc dengan dia membohongi pria itu?, “..kumohon jangan berpura-pura tegar seperti ini. Aku tidak keberatan kalau kau menangis didepanku ataupun mengeluh padaku. Tapi jangan simpan rasa sakitmu sendiri. Itu akan sangat melukaiku.” ujar Marc lembut sembari merengkuh wajah Ji Eun dengan kedua tangannya. Perlahan, pria itu mencondongkan wajahnya kearah Ji Eun dan mengecup bibir gadis itu.
“Maafkan aku..aku hanya tidak mau kau khawatir atau terlibat lebih jauh lagi Marc. Kau tidak tau siapa itu Scott.”
“Lalu apa masalahnya? Ji Eun, aku tidak perduli seperti apa Scott itu. Saat ini, aku hanya sedang berusaha melindungi dan mempertahankan apa yang sudah menjadi bagian dalam hidupku. Kau dan Hanna sangat berharga bagiku, apa salah kalau aku berusaha melindungi yang menurutku berharga bagiku?”
Ji Eun menggeleng. Sejenak wanita itu teringat perkataan Anya tadi. Dan benar, siapa pun yang ada diposisi Marc saat ini mungkin akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Marc sekarang. Pria ini hanya mencoba melindungi hal berharga dalam hidupnya. Tak ada yang bisa dipermasalahkan dengan itu.
“Kalau begitu berjanjilah padaku kalau kau akan baik-baik saja dan terus berada disampingku dan Hanna.”
Marc tersenyum hangat sembari mengangguk. Tanpa kau minta pun, selamanya…aku akan terus berada disisimu dan Hanna.

“Kuharap kau disini untuk memberi kami pekerjaan dengan bayaran mahal, tuan muda.”
“Tentu saja. Dan mungkin akan lebih mahal dari tugas-tugas sebelumnya.”
Scott tersenyum licik kearah pria berbadan tinggi besar didepannya itu. Sembari menyodorkan sebuah amplop tebal, Scott menjelaskan detil pekerjaan yang harus dilakukan beberapa pria yang tidak lain adalah mafia itu, “..jangan sampai membuatku kecewa karena…kalian tak akan pernah tau apa yang akan aku lakukan untuk membuat kalian menyesal sudah membuatku kecewa.”
Tanpa harus banyak bicara lagi, Scott bergegas keluar dari ruanga remang itu. Kali ini, meskipun kau memohon beribu ampun sekali pun…tak akan ada gunanya Marc. Aku benar-benar akan menghilangkanmu dari dunia ini.

*************************

Marc yang sebenarnya hanya berniat mengantar Ji Eun, akhirnya harus menginap dirumah wanita itu. Selain karena hujan deras dan Marc tidak sedang membawa mobil, namun karena Hanna juga mendesaknya untuk menginap semalam saja dirumahnya.
Lain lagi dengan Ji Eun. Entah mengapa wanita itu khawatir kalau Marc pulang sekarang. Maka, wanita itu setuju-setuju saja Marc menginap.
“Kau sudah ijin pada orang tuamu?” Tanya Hanna sembari terus sibuk dengan tugas sekolahnya.
“Tentu saja. Kalau belum, mana mungkin aku masih disini, kan?” Balas Marc kemudian melirik kearah tugas yang sedang dibuat Hanna, “..kalau kau ijinkan, aku mau membantumu mengerjakan tugas sekolahmu.” Tawar Marc.
“Benarkah? Baiklah.”
Keduanya pun tenggelam dalam kesibukan mengerjakan tugas. Sedang Ji Eun juga Ra Im menatap pemandangan itu dengan senyum hangat.
“Kurasa dia pria yang baik. Lagi pula, Hanna juga nyaman dan senang bersamanya.” Ujar Ra Im pada putrinya itu.
“Hmm..aku juga berpikir begitu, eomma. Kurasa, dia bisa jadi ayah yang baik untuk Hanna.” Balas Ji Eun sembari terus tersenyum lembut.
Tak berselang lama, pemandangan hangat tadi berubah tegang selesai Marc menerima telepon dari seseorang.
“Ada apa, Marc?” Tanya Ji Eun sedikit khawatir.
“Alex…dia dirumah sakit. Kanya bilang, dia dicelakai orang. Entahlah..tapi aku harus kerumah sakit sekarang.”
“Aku ikut.” Desak Ji Eun. Setelah mendapat persetujuan dari Marc, segera Ji Eun mngambil kunci mobilnya dan mereka bergegas keluar.
Tak sampai 20 menit, Marc juga Ji Eun sudah tiba di Royal Hospital tempat dimana Alex dirawat sekarang. Dengan tergesah-gesah, Marc juga Ji Eun melangkah dikoridor rumah sakit. Sesampai mereka didepan kamar rawat Alex, Ji Eun langsung diserbu dengan pelukan serta tangis ketakutan Kanya. Sedang Marc berusaha menenangkan ibunya.
“Kak Ji Eun..” Isak gadis itu sembari terus memeluk erat tubuh Ji Eun, “..aku takut sekali.”
“Coba jelaskan semuanya padaku perlahan, Kanya.” Desak Marc sembari terus mendekap ibunya.
“Tadi, karena hujan aku meminta Alex menjemputku dari tempat les musik menggunakan mobilmu dan saat diperjalanan pulang, ada beberapa orang pria yang berperawak seperti mafia. Mereka menghalangi jalan kami dan…Alex…mereka hampir membunuh Alex. Aku panik, makanya aku lari untuk mencari bantuan…dan saat bantuan datang, orang-orang itu sudah tidak ada.” Tutur Kanya sembari terus terisak. Ji Eun berusah menenangkan gadis itu dengan mengusap-usap punggung gadis itu, “..kalau tau akan jadi begini, aku pasti tidak akan meminta Alex menjemputku.” Sesal Kanya. Tangis gadis itu kembali pecah.
Sebenarnya siapa orang-orang itu?

“Sialan kalian semua!” Bentak Scott marah. Mata pria itu menyala bak kilat yang menyambar, “..dasar bodoh..bodoh kalian semua! Aku tidak pernah menyuruh kalian untuk menghajar Alex Marquez..”
“Kau bahkan sama bodohnya dengan kami, Scott. Kau tidak pernah menunjukkan fotonya pada kami.” Bantah seorang pria berbadan sedikit kurus memotong ucapan Scott yang berapi-api.
“Tapi ciri-ciri yang kujelaskan pada kalian tempo hari itu jelas brebeda dengan ciri-ciri orang yang semalam kalian cegat, dungu!”
“Lalu kita harus bagaimana sekarang?”
Scott melempar tatapan paling bengis yang pernah ia lontarkan pada siapapun, “..menunggu polisi untuk datang menjemput kalian.”
Desisnya kemudian berlalu pergi dari situ. Belum sempat pria itu keluar, seorang pria berbadan lumayan besar menghadang jalan Scott, “..kalau kami harus masuk penjara, berarti kau juga harus ikut bersama kami, tuan Scott Redding.”
Scott tersenyum licik seperti ada sebuah hal jahat yang sudah terpikir matang dikepalanya, “..lalu, kau mau apa sekarang?”
“Kalau kami menunggu kedatangan polisi-polisi itu disini, berarti kau juga harus ikut menunggu disini bersama kami.”
‘DOORR!’
Bunyi pistol itu membuat ruang remang itu hening, “..nasib kalian bisa sama seperti dia kalau mencoba melawan atau mengancamku.” Ucap Scott dengan nada suara datar dan penuh dengan kelicikkan. Pria itu pun berlalu pergi dari situ.
Awas saja kau Marc Marquez…kali ini, aku sendiri yang akan menanganimu langsung.

To Be Continued…

Cuplikan Part 11 :

“Aku akan tetap menikahi Ji Eun, dad. Tak perduli seperti apa masa lalunya. Aku sangat mencintainya, begitu juga dengan putrinya.” Pria itu menatap mantap dan lurus tepat didalam manik mata pria paruh baya didepannya itu. Sedang pria paruh baya itu, bahkan masih menolak untuk memberi jawaban.

Will Posting Soon..

Sorry guys kalo pendeknya cerita ini masih mengganggu kalian 😭 tapi, author sudah berusaha dengan baik membuat cerita ini bagus *maybe😒* by the way, author tetap menunggu komentar-komentar kalian juga jempol kalian. Dan jangan jadi SILENT READER, please 😔☺️

Tell Your Mom, I Love Her! #9

photocat_tellyourmomilovehercover2

Happy Reading ya, guys ☺️

*************************

Part 9 :

Mata pria itu memerah dan wajahnya pun tak bersahabat sama sekali. Tampak ada amarah yang tertahan disana. Dan tanpa harus menyimpan lama lagi amarah itu, diambilnya jacket beserta kunci mobil dan bergegas keluar dari apartemen mewah miliknya. Pikirnya, seseorang harus bertanggung jawab atas amarahnya ini. Dan seseorang itulah yang mungkin saja akan menjadi pelampiasan amarahnya ini.
Tak memakan waktu lama, Ferrari putih itu sudah terparkir diarea parkir rumah sakit De Deu. Dan segera, si pengemudi turun dan berjalan cepat masuk kedalam rumah sakit.
Semakin dekat dengan tempat yang akan dia tuju, semakin menggebu pula amarah itu didalam hatinya. Kau benar-benar harus bertanggung jawab brengsek! batin pria itu.
Dan tepat sesampai pria itu didepan sebuah poli, ia menemukan sosok yang ia cari. Sosok yang menurutnya patut menjadi pelampiasan amarahnya itu.
“Ikut aku sebentar.” Bisiknya dengan suara rendah pada sosok didepannya sedang orang itu hanya mematuh dan mengikuti arah langkah Scott.
“Kau mau apa?” Tanya sosok itu tak kalah sengit sesampai mereka didepan sebuah koridor sepi, “..jangan bilang kau kemari mau mencari Ji Eun lagi? Itu tidak akan kubiarkan.”
“Dengarkan aku Marc Marquez Alenta, dengar! Aku tidak akan sungkan lagi padamu jika kau terus menerus menghalangiku bertemu Ji Eun maupun Hanna. Aku bahkan akan sengaja melupakan kerjasama antar rumah sakit kita untuk membuatmu tak lagi menjadi pengganggu. Jadi, sebaiknya kau mundur perlahan dan menjauh dari urusanku.”
“Segala sesuatu yang berhubungan dengan Ji Eun dan Hanna juga menjadi urusanku, Scott Redding. Dan kau pikir aku akan takut pada ancamanmu itu? Aku pun mungkin akan melakukan hal yang lebih dari itu untuk membuatmu makin menjauh dari Ji Eun dan Hanna, Scott.”
Scott mengepal kesal kedua tangannya. Sorot matanya makin bengis, “..kau tau..aku akan merebut Ji Eun dan Hanna bagaimana pun caranya. Entah itu dengan cara bersih atau kotor sekali pun!” Desisnya bengis dengan suara rendah.
Tak mau kalah, Marc pun menatap sengit tepat kedalam mata Scott, “..kalau begitu sama denganku. Aku pun akan mempertahankan Ji Eun dan Hanna dengan cara apa pun.”
Ujar Marc kemudian berlalu pergi meninggalkan Scott.
Kita lihat saja, dr. Marquez..kita lihat saja.

“Kau dari mana saja, hah?!” Semprot seorang wanita dengan kesalnya saat Marc baru saja masuk kedalam ruang poli, “..ini memang rumah sakit milikmu..tapi, yang memberikan nilai disini adalah aku. Dan kira-kira apa yang terjadi jika aku memberimu nilai C- Marc?”
“Kau boleh anggap aku gila atau apa..tapi, sungguh. Aku suka melihatmu marah-marah padaku seperti itu. Kau makin manis.” Goda Marc sembari tersenyum jahil kearah Ji Eun. Dan tentu saja, tanpa menunggu sedetik lagi, map berisi dokumen itu menghantam pucuk kepala Marc dengan keras.
“Lain kali bukan dengan map lagi, tuan Marquez. Tapi dengan benda yang jauh lebih keras dan yang pasti membuatmu segera sadar.”
Ji Eun berlalu dari hadapan Marc dan hilang dibalik pintu ruangannya. Entah mengapa hantaman tadi tak terasa sakit dikepala Marc, Aah! Itulah cinta..bahkan kotoran burung pun akan terasa seperti coklat, mungkin? pikir Marc geli.
“Lagi dan lagi..kau itu tidak bosan ya Marc dimarahi begitu terus?”
Seketika suara Tito membuat Marc segera sadar dari lamunannya, “..entahlah, mungkin aku lebih suka dia seperti itu.”
“Mungkin pukulan tadi kurang keras, ya? Atau terlampau keras sampai membuatmu makin gila?”
Tito menggaruk-garuk tengkuknya yang tak terasa gatal dengan perasaan bingung, “..aku bahkan tak percaya kalau kalian berdua sudah menjadi sepasang kekasih. Menurutku itu terlalu cepat, Marc. Apa kau tidak curiga?”
“Curiga? Maksudmu?”
“Yaah..mungkin saja ada sesuatu yang membuatnya terpaksa menerimamu, mungkin?” Tebak Tito asal dan hanya dijawab Marc dengan gelengan kepala.
“Kau terlalu banyak menonton film Detective Conan, Tito..sudahlah. Sekarang kembali bekerja sebelum dia keluar lagi dan menghantam kepala kita dengan vas bunga.”

*************************

          Pandangan Marc tak lepas dari dua bocah yang sibuk berkejar-kejaran disana. Sedang seorang wanita terus memperhatikan Marc dengan tatapan lembut, “..anak lelaki itu bernama Leo. Dia teman Hanna dan kau tau, ibunya dan ibuku bahkan sudah menjodohkan mereka berdua.” Tutur wanita itu geli.
“Mungkin itu keputusan yang tepat.” Balas Marc sembari terkikik pelan, “..karena kulihat Hanna tampak begitu nyaman bersama Leo sampai lupa pada keberadaan kita disini.”
Ji Eun tak berujar lagi selain mengangguk kemudian kembali membereskan kotak-kotak bekal yang sudah kosong itu masuk kedalam keranjang. Merasa diabaikan, segera pria itu menarik pinggang Ji Eun dan merangkul wanita itu dari belakang, “..bahkan kau juga mengabaikanku. Aku kesepian, tau!” Rajuk Marc manja. Pria itu membenamkan wajahnya dibahu mungil Ji Eun dan membiarkan aroma parfum gadis itu masuk kedalam hidungnya.
“Aku mencintaimu.” Bisik Marc lembut dibahu Ji Eun.
“Aku juga.” Balas Ji Eun sembari mendekap lengan Marc yang melingkar dipinggangnya.
Tanpa mereka sadari. Dibalik kaca mobil Ferarri putih sana, seseorang teus memperhatikan mereka dengan geram. Tangannya makin mencengkram kuat stir mobil. Aku sudah memperingatkan kalian. Dan aku tidak akan mengulanginya dua kali.
“Halo..ini aku Scott. Aku punya pekerjaan untukmu, dan tentunya kali ini tidak akan murah.”

Hanna tentu belum lupa dengan tatapan bengis Scott waktu itu. Tapi, entah mengapa gadis kecil itu begitu merindukan sosok Scott. Ia benar-benar ingin bertemu dengan pria yang pernah membuatnya ketakutan setengah mati itu.
Dan tentu saja, bahkan seperti hayalan. Sosok Scott muncul didepan Hanna dengan senyum hangat melengkung sempurna dibibirnya.
“Hei, tuan putri..sedang apa?” Tanya Scott lembut. Pria itu tak mau gadis kecilnya ketakutan lagi padanya seperti waktu itu, “..dimana kakakmu? Dan tadi kulihat kau bersama seorang teman.”
“Le-Leo..Leo sudah..pulang.” Jawab Hanna dengan suara bergetar. Meskipun meindukan pria didepannya ini, Hanna pun tak bisa menghilangkan rasa takutnya pada pria itu.
“Begitu, ya? Kalau begitu..ini untukmu.” Ujar Scott sembari memberikan sebuah paper bag pink pada Hanna.
Penasaran, segera gadis kecil itu membuka paper bag pink tadi dan menemukan sebuah gaun biru cantik, “..ku harap kau suka. Jujur, aku tidak terlalu pandai dalam memilih gaun.”
Senyum lebar seketika mengembang diwajah Hanna. Pria ini tak sejahat waktu itu lagi, pikir gadis kecil itu.
“Aku suka. Terima kasih.”
Scott mulai terbawa suasana. Pria itu langsung saja memeluk tubuh mungil itu erat. Seperti tak ada lagi hari esok baginya untuk memeluk tubuh mungil itu. Daddy merindukanmu, princess. Sangat merindukanmu.
Mungkin inilah yang dirasakan semua ayah didunia ini ketika melihat putri kecil mereka bahagia. Rasa bahagia yang bahkan tak mampu digambarkan dengan kata-kata. Ataupun diukir dengan tinta terindah apapun. Daddy akan membuat keluarga kita utuh lagi, sayang. Daddy akan rebut ibumu dari pria jahat itu. Daddy janji.

*************************

          Ji Eun meremas kuat gaun biru itu dengan geram. Entah rencana apa lagi yang dibuat pria itu. Namun, Ji Eun tak mendapat firasat baik saat ini.
Segera wanita itu mengambil ponselnya dari meja tidur dan menekan beberapa nomer yang sudah ia hafali luar kepala.
Tak berselang lama, seseorang menjawab panggilan Ji Eun dari ujung sambungan telepon sana.
[Halo, Ji Eun..ada apa? Tumben kau menelepon duluan?]
“Marc..bagaimana ini?”
Sejenak pria diseberang sana terdiam seperti sedang mencerna situasi, [..ada apa?] nada bicaranya pun terdengar serius sekarang.
“Aku baru saja menemukan gaun biru milik Hanna. Dan aku yakin, ini pemberian dari Scott. Aku takut jangan sampai Scott sedang merencanakan sesuatu yang jahat untuk Hanna.”
Keluh Ji Eun. Waniat itu bahkan tak bisa menahan tangan juga suaranya yang teus bergetar.
[Ji Eun..dengar. Aku berjanji padamu kalau Hanna tidak akan kenapa-kenapa. Scott pun tidak akan gila menyakiti putrinya sendiri dan kalau pun itu sampai terjadi. Aku yang akan memberinya sedikit pelajaran.]
Perkataan Marc tak lantas membuat Ji Eun tenang. Wanita itu tau benar sifat Scott. Apapun yang menjadi kehendak pria itu, kalau belum terwujud, dia tak akan berhenti. Dan meski dihalangi dengan cara apapun, Scott tidak akan menyerah, [..Ji Eun..kau dengar aku kan?]
“Iya, Marc. Tapi..bagaimana kalau dia juga menyakitimu? Aku tidak mau kalau sampai kau juga menjadi sasaran Scott.”
[Apapun akan aku hadapi untuk melindungi kalian berdua, Ji Eun. Aku janji. Dan dimana Hanna sekarang?]
“Disekolah.”
[Kalau begitu, biar aku yang menjemputnya sepulang sekolah nanti.]
“Baiklah. Teima kasih, Marc. Maaf kalau aku terusmerepotkanmu.”
[Hei..itu bukan merepotkan namanya. Kalian berdua sudah menjadi bagian dari tanggung jawabku, hm?]
Ji Eun tersenyum meski wanita itu tau, Marc tidak mungkin melihatnya tersenyum sekarang.
“Terima kasih Marc..sungguh..terima kasih.” Ucap Ji Run tulus.
Entahlah Marc..entah aku harus merasa tenang sekarang atau terusmerasa khawatir. 

Marc sudah tiba didepan sekolah Hanna, 5 menit sebelum lonceng pulang berbunyi. Dan tak berselang lama, sebuah mobil Ferrari putih pun ikut terparkir dibelakang mobil Marc. Tentu bisa ditebak, siapa lagi pemilik Ferarri putih ini kalau bukan Scott Redding.
“Mau apa kau kesini?” Tanya Marc dingin.
“Harusnya aku yang tanya Marc..sedang apa kau disini?”
Keduanya saling berpandang sengit, “..tentu saja aku datang untuk menjemput Hanna. Aku tidak mau kalau dia sampai bersamamu.”
Scott mengepal kedua tangannya kesal, “..kau tidak berhak memisahkanku dari putriku Marc..kau sama sekali tidak berhak.”
“Aku berhak Scott..sama berhaknya dengan ibumu yang dulu sudah memisahkanmu dari Hanna sewaktu Ji Eun mengandungnya.” Sambar Marc datar namun mampu menusuk hati Scott.
Pria itu sejenak terdiam. Marc sudah terlalu banyak tau, tapi..itu tak akan menjadi halangan untuk seorang Scott Redding bukan?
“Diam kau bajingan! Hanna itu putriku, dan tak ada seorang pun termaksud kau yang bisa memisahkanku dari putriku sendiri!”
“Daddy?”
Suara kecil itu sontak membuat kedua pria tadi membeku ditempat. Dan serempak memutar tubuh mereka kebelakang.
“Ha-Hanna..”

To Be Continued…

Cuplikan Part 10 :

“Eonni..ayo katakan padaku kalau dr. Scott penipu!” Desak gadis kecil itu sembari terisak. Sedang ketiga orang dewasa didepannya hanya mampu terdiam dan tak memberi jawaban apapun pada gadis kecil itu.

Will Posting Soon.. 😊

Sorry ya guys kalo masih rada-rada jelek gimanaaaa gitu 😔 authornya lagi error banget akhir-akhir ini 😭 by the way, author tetap menunggu kritik dan saran kalian kok dalam kolom komentar juga jempol kalian ☺️ Terima kasih sudah membaca 😉 jangan jadi SILENT READER, ya?! 😘

Tell Your Mom, I Love Her! #8

photocat_tellyourmomilovehercover2

 

 

Happy Reading guys ☺️

**********************

Part 8 :

Tatapan tajam penuh tuntutan itu seperti menghujam dan mengintimidasi gadis yang ditatapnya. Sedang gadis itu, ia terus mempertahankan posisi kepalanya yang terus menunduk tanpa memberi kesempatan sedikit pun pada pria didepannya untuk sedikit menatap matanya.
“Sekarang..coba jelaskan padaku.”
Suara pria itu melunak. Begitu pula sorot matanya. Kedua tangan pria itu merengkuh lembut wajah gadis didepannya, mengarahkan wajah itu menghadap ke wajahnya, “..kau bisa jelaskan perlahan semuanya padaku.”
“Jangan jatuh cinta padaku, Marc.” Ujar gadis itu lirih, “..cobalah untuk lupa pada perasaanmu itu. Anggap saja perasaan itu tidak pernah ada.”
“Bagaimana bisa begitu. Seperti halnya aku yang tak bisa memaksamu segera menerimaku, begitu pula kau tak bisa memaksaku untuk tidak mencintaimu.”
“Tapi kau akan menyesal nantinya Marc! Dan kedua orang tuamu pasti akan sangat kecewa padamu.”
Kening Marc berkerut. Setahunya, kedua orang tuanya memaksa pria itu untuk segera memiliki kekasih karena umurnya yang sudah dirasa pantas. Lalu, alasan apa mereka akan kecewa dengan pilihan Marc. Pria itu makin bingung.
“Sebenarnya apa maksudmu?”
“Aku sudah memiliki anak Marc. Aku pernah melahirkan seorang anak, Marc!” Tegas gadis itu, sedang air matanya terus bergulir turun.
Sesaat Marc terdiam. Rasa kaget sudah tentu Marc rasakan. Pria itu bahkan tak pernahberpikir sampai kesitu.
“Siapa pria yang..”
“Scott Redding. Dan anak yang kulahirkan itu…Ha..Hanna.”
Sekali lagi, seperti ada palu yang menghantam dalam hatinya. Kakinya tak dirasa menapaki tanah lagi. Bahkan seperti ada yang menyedot semua energinya, pria itu merasa lemas luar biasa dan bisa jatuh kapan saja ia mau.
Marc kemudian menghela napas panjang. Kembali tangan pria itu merengkuh lembut wajah Ji Eun. Ditatapnya lembut kedalam manik mata gadis itu, “..hanya karena itu kau tidak mengijinkanku untuk tidak jatuh cinta padamu?”, “..dengar..aku tidak perduli kalau kau sudah punya anak atau belum. Lagi pula, aku juga sangat sayang pada Hanna dan aku sanggup menerima kalian berdua.”
“Lalu..bagaimana dengan kedua orang tuamu? Apa mereka akan menerimaku seperti kau menerimaku juga?”
“Mereka harus menerimamu. Bagaimana pun juga, mereka harus menerimamu…karena aku tak bisa menghentikan perasaan ini lagi. Perasaan ini sudah sampai puncaknya.”
Lagi-lagi, suara lembut Marc sanggup membiusnya. Seperti halnya morfin, tatapan, suara juga senyuman pria itu, sanggup mengurangi rasa sakit yang tadi mnghujam hatinya, “..lalu? Bagaimana denganmu?”
“Entahlah..tapi kurasa aku juga punya perasaan yang sama denganmu.” Balas Ji Eun sembari tersenyum.
Perlahan, Marc mencondongkan wajahnya ke wajah Ji Eun. Belum sempat bibir Marc menyentuh bibir Ji Eun Hanna sudah muncul diantara mereka dan terkikik pelan.
“Kita jadi pulang kan? Kalian ini…bagaimana bisa membuatku menunggu dimobil sendirian?” Rajuknya sembari mengembungkan pipinya.
“Ooh…baiklah.”

Malam itu Marc melenggang masuk kedalam kamarnya dengan hati berbunga-bunga. Segera setlah masuk kekamarnya, pria itu membuang dirinya diatas kasur.
“Entahlah..anggap saja aku gila.” Gumam Marc kemudian memejamkan matanya.
“Kulihat kakak senang sekali. Ada apa?” Tanya Kanya yang tiba-tiba saja sudah berdiri didepan pintu kamar Marc.
“Kau tidak ada tangan untuk mengetuk pintu kamarku dulu atau sekedar bilang permisi.”
Kanya hanya mengebas telapaknya kemudian berjalan masuk kedalam kamar Marc.
“Kakak tidak mau cerita padaku?”
Marc sudah duduk diatas kasurnya dan bepikir sejenak, “..bagaimana kalau kau dulu saja yang tau?”
“Aku bisa jamin itu.”
Marc menghela napanya panjang kemudian mulai bercerita, “..aku sudah punya kekasih tapi…”
“Bagus kan kak? Bagaiman bisa berita baik begini kau simpan sendiri. Siapa wanita itu?” Tanya Kanya penuh semangat.
“Tapi ada satu hal, Kanya…kau yakin bisa menjaga rahasia?”
Kanya mengernyit bingung namun mengangguk, mengiyakan tawaran Marc.
“Dia sudah punya seorang putri.”
Napas Kanya tercekat. Matanya membelalak kaget,”..maksudmu..janda?” Bisik gadis itu.
“Bukan. Dia belum menikah.”
Kanya mengangguk paham. Toh, hal itu banyak terjadi akhir-akhir ini kan?
“Lalu..kakak yakin akan bersamanya? Kakak bahagia bersamanya?” Tanya gadis itu penuh perhatian.
“Sama halnya saat aku berakhir pekan bersama kalian..sama halnya aku sangat menyayangimu kalian semua. Begitu pula perasaanku padanya juga putri kecilnya.”
Kanya tersenyum puas mendengar jawaban kakak laki-lakinya itu. Ada rasa bangga yang menggebu dihatinya. Bangga karena dia memiliki kakak yang baik dan bijak seperti Marc. Meski terkadang pria itu sangat menjengkelkan tapi, disaat lain Marc mampu menjadi seorang kakak yang baik dan lembut juga menyenangkan.
“Kalau begitu. Aku akan mendukungmu 100%. Kalau kakak bahagia..kenapa tidak, kan?”
“Terima kasih.”
Setidaknya Marc sedikit lega, karena adiknya yang satu ini sudah mampu menerima Ji Eun dan Hanna.
“Kakak mau kan perkenalkan aku pada kekasih kakak itu juga anaknya?”
Marc mengangguk mengiyakan permintaan Kanya itu. Sedang Kanya hanya tersenyum lebar kemudian berjalan keluar dari kamar Marc.
Malam yang menyenangkan dan indah bukan?

*********************

“Kau yakin adikmu tidak..”
“Kau tenang saja. Aku sudah cerita semuanya pada Kanya dan dia menerimamu dengan baik. Pertemuan ini pun, dia yang menginginkannya.”
Jelas Marc kemudian mempersilahkan Ji Eun masuk kedalam Rolls Royce milik Marc.
Perasaan takut dan gugup bercampur aduk dalam hati Ji Eun. Gadis itu takut kalau-kalau adik Marc akan menolaknya.
“Kita antar pulang Hanna dulu, ya”
“Bagaimana bisa? Dia juga harus ikut dengan kita. Lagi pula aku juga ingin bermain sebentar dengannya.” Rajuk Marc sembari terus berkonsentrasi menyetir.
“Apa tidak apa-apa?”
Marc hanya tersenyum menjawab pertanyaan Ji Eun. Menandakan kalau semuanya akan baik-baik saja.
Tak lama kemudian mobil Marc sudah berhenti dihalaman sekolah Hanna dan sosok mungil itu sudah berlari-lari kecil dari arah sekolahan.
“Kakak Marc juga kemari? Memangnya kita mau jalan-jalan kemana lagi?” Tebak gadis kecil itu polos.
“Nanti juga kau akan tau, sayang. Ayo!” Ajak Ji Eun kemudian membuka kan pintu mobil untuk Hanna.
Setelah memastikan keduanya sudah siap. Segera Marc memacu mobilnya menjauh dari halaman sekolah Hanna.

Jantung Ji Eun tak berhenti berdegup cepat. Bahkan tidak untuk sekedar memelankan deru degupannya. Namun, perasaan lain dirasakan Kanya. Gadis itu sekarang sibuk bermain bersama Hanna. Yang entah sejak kapan keduanya sudah seakrab itu.
“Sudah kubilang kan? Tidak akan ada hal buruk yang terjadi.”
Ji Eun menatap Marc sembari melempar senyum hangat pada pria itu, “..aku senang adikku mau menerima kalian. Setidaknya akan ada yang bisa mendukungku nanti.”
“Maksudmu?”
“Yaah..jujur, aku belum membicarakan ini dengan kedua orang tuaku. Kalau mau bilang, tentu saja aku juga takut. Tapi, akan kucoba nanti ketika kita berdua sudah benar-benar siap.”
Kedua tangan Marc merengkuh wajah Ji Eun dengan lembut. Wajah pria itu pun perlahan dicondongkan mendekat ke wajah Ji Eun. Dan selang beberapa menit kemudian, bibir Marc sudah melumat lembut bibir Ji Eun.
Mungkin ini bukan ciuman pertama untuk Marc. Tapi, bagi pria itu. Ciuman ini adalah ciuman paling mendebarkan.

*******************

“Pria tadi yang mengantar kalian itu..”
“Dia pacar eonni, mom.”
Sahut Hanna sembari terkikik pelan. Gadis kecil itu menatap jahil kearah Ji Eun, “..benar kan eonni?”
Wajah Ji Eun memerah. Wanita itu bahkan tak lagi fokus dengan laporan-laporan pasien yang bertumpuk didepannya.
“Oh ayolah Ji Eun. Kenapa tidak perkenalkana pada appa dan eomma?” Seru pria paruh baya itu setengah mendesak.
“Appa..kalau sudah waktunya, akan kukenalkan pada appa dan eomma.”
Pria paruh baya itu pun mengalah. Ia kembali bersandar dengan santai disofa, “..anggap saja ini janjiku pada appa dan eomma.” Tambah Ji Eun kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya.
“Kak Marc itu baik sekali, daddy. Aku yakin, eonni akan baik-baik saja.”
“Benarkah? Kalau begitu eonni mu harus segera memperkenalkannya pada daddy, bukan?”
Ji Eun kembali melepas lembaran laporan itu dan menatap Hanna juga ayahnya bergantian.
“Hanna..kau harus pergi tidur sekarang. Besok kau harus sekolah kan? Dan appa…aku janji, kalau kami sudah siap aku pasti akan kenalkan dia pada appa.”
Wanita itu tersenyum sembari berjalan kearah Hanna, “..ayo Hanna.”
Ajak Ji Eun kemudian menggendong gadis kecil itu dan membawanya naik kekamarnya.
“Aku harap eonni bisa menikah dengan kak Marc. Dia baik.” Bisik gadis kecil itu digendongan Ji Eun.
Eomma juga berharap seperti itu, sayang. Dan kau…kau bisa memiliki ayah yang pantas untukmu.

To Be Continued..

Cuplikan Part 9 :

“Kau tau..aku akan merebut Ji Eun dan Hanna bagaimana pun caranya. Entah itu dengan cara bersih atau kotor sekali pun!”
“Kalau begitu sama denganku. Aku pun akan mempertahankan Ji Eun dan Hanna dengan cara apa pun.”

Will Posting Soon..

 

Sorry lama gk nge-post 😂 dan sekali nge-post gk jelas + jelek 😭 by the way…tetap tunggu comment dan like dari kalian semua ya, guys ☺️ Don’t be silent reader!!!! 😊

Tell Your Mom, I Love Her! #7

photocat_tellyourmomilovehercover2

Happy Reading guys ☺️ si author gak mau banyak ngomong lagi 😊 Enjoy 😀

********************

Part 7 :

2 bulan sejak hari itu Scott tak lagi bisa bertemu dengan Hanna. Segala usaha sudah Scott lakukan, mulai dari menengok gadis kecil itu sembunyi-sembunyi disekolahnya, menyuruh beberapa orang suruhannya untuk mencari tau keberadaan Hanna, sampai membuntuti Ji Eun, yang menurut Scott, sebagai biang perpisahannya dengan putri kecilnya. Namun tetap saja, segala usaha itu tidak membuahkan setitik hasil untuk Scott. Alih-alih bertemu dengan Hanna, pria itu makin kehilangan jejak Hanna.
Dalam kebimbangannya, ponsel Scott berdering dan dengan cepat pria itu mengangkat tanpa harus melihat terlebih dahulu. Seakan dia sudah tau pasti siapa yang meneleponnya itu.
“Halo..”, “…aku segera kesana.”
Dengan cepat Scott mengambil kunci mobilnya dari atas meja dan bergegas keluar dari apertemen mewah miliknya. Pria itu sudah terlalu berani. batin Scott geram.

Hanna tertawa nyaring ketika sesekali Marc menggelitik perutnya. Gadis kecil itu bahkan tampak sangat nyaman berada terus dalam gendongan Marc. Sama halnya dengan Hanna, Marc juga enggan melepaskan gadis itu dari gendongannya. Entah mengapa, Marc sangat menyayangi bocah perempuan itu.
“Hanna..seharusnya kau ajarkan kakakmu bagaimana caranya tertawa.” Ledek Marc sembari sedikit mengintip Ji Eun yang sedaritadi terus diam dan tak berbicara apapun.
“Mungkin eonni lapar. Bagaimana kalau kita pulang dan makan?” Usul Hanna sembari mengikuti arah tatapan Marc.
-Pulang?! Yang benar saja?- protes Marc dalam hati. Bukan tidak, sudah dengan susah payah Marc merancang ini semua dengan matang. Kemudian, dengan susah payah pula, Marc mengajak wanita itu keluar bersamanya juga Hanna. Dan dengan semudah itu mereka akan pulang? Marc rasa tidak. Maka dengan cepat pria itu mencari cara agar usulan Hanna tadi tidak serta merta langsung ditelan bulat-bulat oleh Ji Eun.
“Bagaimana kalau aku mentraktir kalian makan, huh?” Tawar Marc sembari menatap Hanna dengan tatapan membujuk.
“Kau yakin tidak akanmerepotkanmu?” Tanya Ji Eun yang akhirnya membuka suaranya juga.
“Tentu saja tidak. Ayo, sebelum cacing-cacing dalam perut kalian protes.” Bujuk Marc yang sudah lebih dulu membawa Hanna masuk dalam mobil Rolls Royce miliknya.
Dan akhirnya, meski dengan langkah gontai, Ji Eun mengekor Marc dan ikut masuk kedalam mobil pria itu. Toh, sekali-sekali begini tidak apa-apa kan?

Mobil Marc sudah terparkir rapi disebuah restoran Korea, “..setelah lama tinggal di London, aku yakin kau pasti merindukan masakan-masakan dinegara asalmu.”
Mereka bertiga kemudian masuk kedalam restoran itu. Berbagai macam bau-bau makanan mulai menggoda perut Ji Eun. Yang Marc katakan tidak salah. Ia memang merindukan masakan-masakan ini.
Setlah memesan, mereka menunggu dengan sesekali saling bersenda gurau. Suasana ceria yang jarang sekali Marc maupun Ji Eun dapatkan.
Tak berselang lama, makanan yang menjadi pesanan mereka datang. Dan satu persatu, makanan-makanan itu habis mereka santap.
“Uugh! Aku kenyang sekali.” Keluh Hanna sembari mengusap-usap perutnya yang sedikit membesar itu, “..bagaimana kalau kita pulang? Aku sudah mengantuk.”
Marc dan Ji Eun hanya tertawa renyah melihat tingkah gadis kecil itu. Kemudian, Marc yang akhirnya lebih dahulu bangkit untuk membayar makanan-makanan itu.
“Kulihat kau senang sekali, Ji Eun..sejak kapan kau mulai berkencan dengan Marc, huh?”
Suaraitu seketika membuat Ji Eun membatu ditempat. Wanita itu segera menarik Hanna mendekat kearahnya, “..mau apa kau?” Tanya Ji Eun dingin.
“Sudah jelas kan…aku mau menengok Hanna.” Balas Scott santai. Sedang Hanna mulai menatap ngeri kearah Scott, “..nah, sekarang biarkan aku jalan-jalan sebentar dengan Hanna.”
Ji Eun makin menarik Hanna mendekat kearahnya sedang Scott masih menyodorkan tangannya, “..Ji Eun! Jangan membuatku harus mengambil Hanna dengan paksa..”
“Coba saja kalau kau berani.” Sambung Marc tajam. Pria itu kemudian menggendong Hanna, mengamankan gadis kecil itu dari kebringasan Scott. Sedang Scott, pria itu menatap sengit kearah Marc.
“Berika dia padaku Marc. Kau tidak tau masalah yang sebenarnya!” Desis Scott geram sedang Hanna semakin menyembunyikan wajahnya didada Marc.
“Kalau begitu, kau tanya saja sendiri pada Hanna. Apa dia mau ikut denganmu atau tidak.”
Scott kemudian menatap Hanna yang mulai gemetar dalam gendongan Marc.
“Sayang..Ayo kita jalan-jalan sebentar. Kau mau kan? Kau tau, akhir-akhir iniaku sangat merindukanmu.” Bujuk Scott namun gadis kecil itu tetap menolak menatap mata Scott dana terus bersembunyi didada Marc.
“Kau lihat sendiri kan? Sekarang pergi..” Desis Marc dingin kemudian membawa Hanna dan Ji Eun keluar dari restoran itu tanpa memperdulikan Scott yang masih membatu ditempatnya itu.

“Kemarikan Hanna.” Ujar Ji Eun sembari mengambil Hanna dari gendongan Marc, “..terima kasih untuk hari ini, kami akan pulang sendiri saja.” Ujar Ji Eun kemudian berbalik dan berniat meninggalkan Marc sampai akhirnya Marc memgang pergelangan tangan Ji Eun.
“Bagaimana bisa begitu? Bagaimana kalau Scott…”
“Tidak..kami tidak akan kenapa-kenapa. Kau tenang saja. “
“Cukup!” Bentak Ji Eun sembari menyentak tangan Marc. Sedang air mata gadis itu mulai bergulir turun! “..jangan ikut campur urusanku dan jangan pernah berpura-pura baik padaku!” Bentak Ji Eun disela-sela isakkannya.
“Siapa bilang aku pura-pura baik padamu!” Seru Marc kemudian kembali menggenggam tangan Ji Eun, “..aku tidak pura-pura baik padamu. Aku begini karena aku mencintaimu! Apa aku salah?!”
“Salah Marc! Sangat salah!” Ji Eun kembali terisak. Sedang pandangannya terlempar kearah Hanna yang berdiri disampingnya itu, “..aku yang sebenarnya tidak seperti yang kau pikirkan. Aku mungkin juga bukan wanita yang kau harapkan!”
“Apa maksudmu?”
“Kau akan tau nanti..”
“Tidak. Kau harus jelaskan padaku sekarang.”

To be continued…

Cuplikan Part 8 :

“..aku tidak perduli Ji Eun. Aku pun menyayangi Hanna. Aku bisa menerima kalian berdua dalam hidupku. Percayalah padaku.” Mohon Marc. Sirat kesungguhan terlihat jelas diwajah pria itu.
“..tapi..bagaimana dengan orang tuamu?”
“Aku akan jelaskan juga pada mereka.”

Will Posting Soon 😊…

Tinggalkan komentar ya 😊 terima kasih ☺️

Tell Your Mom, I Love Her! #6

photocat_tellyourmomilovehercover2Happy reading guys :D

* * * * * * * * * *

Part 6 :

Entah ide gila ini datang dari mana tapi, hanya ini sajalah yang mampu terpikir oleh Scott. Entahlah..pria itu begitu yakin kalau gadis kecil yang selalu memanggil Ji Eun ‘eonni’ itu adalah putri kecilnya.
Setidaknya ikatan batin itu tidak bisa berbohong kan?
Scott melaju Ferarri merah miliknya menuju sebuah bangunan sekolah dasar. Pria itu kemudian turun dari mobilnya dan masuk untuk bertanya pada seorang satpam dipos jaga sana. Tak berselang lama kemudian, Scott keluar dari pos jaga dan segera berjalan masuk kedalam sebuah kelas dengan begitu banyak tempelan-tempelan hasil karya murid-murid disekolah itu.
“Miss..aku mencari seorang anak yang bernama Hanna..boleh aku bertemu dengannya sebentar?”
“Baiklah.”
Wanita muda itu kemudian memanggil sosok Hanna yang sedari tadi menunduk dan sibuk dengan buku tulis miliknya.
“Ada apa miss?” Tanya Hanna bingung, mungkin saja tadi dia berbuat nakal, pikir bocah 4 tahun itu.
“Ada seorang kakak yang mencarimu. Setelah selesai, segeralah kembari kemari, hm?”
Gadis kecil itu mengangguk patuh kemudian berjalan keluar dari dalam kelas.
“Kau..dr. Redding yang waktu itu kan? Kau mau apa?” Tanya gadis itu sembari tersenyum manis kepada Scott. Dan ya, Scott kenal betul senyum itu. Itu senyum milik Ji Eun.
“Tidak. Entah kenapa..aku sangat merindukanmu akhir-akhir ini.” Ujar Scott sembari mengusa-usap pelan rambut panjang bergelombang milik gadis kecil itu. Dan tak perlu waktu lama, apa yang diinginkan pria itu segera ia dapat. Ya, sehelai rambut Hanna yang rontok begitu saja.
“Tapi, aku masih belum boleh pulang. Lagi pula, pulang pun aku akan dijemput eonni.”
“Begitu, ya? Baiklah..bagaimana kalau lain kali saja?” Tawar Scott dan dengan cepat gadis itu mengangguk bersemangat, “..kalau begitu aku harus kembali kekelas. Kau tidak ada perlu apapun lagi, kan?”
Scott mengangguk pelan sembari tersenyum. Pria itu lantas bangkit berdiri dan meninggalkan gadis kecil itu. Dan begitu pula dengan Hanna yang langsung berbalik masuk kedalam kelasnya.
Kita akan buktikan Ji Eun. Selama ini kau bohong atau tidak padaku.

* * * * * * * * * *

        Karena kebiasaan baru Marc itu, Marc jadi sering perhatian pada Ji Eun. Dan hari ini, pria itu baru saja membopong Ji Eun yang jatuh pingsan akibat anemia.
“Makanya, kalau kerja itu ingat batasan tenagamu juga. Kau ini bukan mesin.” Omel Marc sembari menyodorkan segelas air juga sebuah tablet tambah darah.
“Kenapa kau yang mengomeliku?” Omel Ji Eun balik. Gadis itu seakan tidak terima dengan nada tinggi Marc.
“Cih! Kau itu..hei! Aku hanya memperingatimu, bukan mengomelimu. Kau tidak malu pingsan didepan pasien seperti tadi? Apa pikir mereka setelah melihatmu seperti tadi, hah?!”
Kali ini pria itu bahkan lebih cerewet ketimbang ibu Ji Eun sendiri.
“Masa bodo!”
Sesaat keduanya terdiam sampai akhirnya Marc yang angkat bicara.
“Pulang lah. Tidak baik kau terus memaksa bekerja dalam keadaan seperti ini.”
Dari nada bicara Marc, tersisip kepedulian didalamnya. Itu tergambar jelas dari ekspresi pria itu yang berubah lembut sama lembutnya dengan suaranya.
Seketika, jantung Ji Eun memompa 2x lebih cepat dari normalnya. Gadis itu sendiri bingung dengan perlakuan pria didepannya ini. Kadang, pria itu akan sangat menjengkelkan sampai-sampai hampir selalu membuat Ji Eun naik pitam. Dan kadang pula, pria itu akan sangat lembut dan mampu membuat Ji Eun kehilangan konsentrasi juga berdebar-debar tak karuan.
“Tidak. Aku masih harus menjemput Hanna.” Jawab gadis itu buru-buru sebelum Marc curiga dengan sikapnya itu.
“Sudahlah. Biar aku yang menjemputnya. Kau tenang saja.”
Sejenak Ji Eun ragu namun, akhirnya gadis itu mengangguk, “..jangan apa-apakan adikku, mengerti!”
Marc hanya memutar bola matanya kesal kemudian berjalan keluar dari ruangan Ji Eun.
Astaga, Ji Eun! Apa yang terjadi padamu? Apa kau mulai mengikuti saran Hanna sekarang, hah?!

* * * * * * * * * *

          Akhir pekan adalah waktu yang paling menyenangkan untuk Hanna. Selain gadis itu sedikit terbebas dari sekolah, hari ini Hanna diajak Ji Eun bermain ditaman.
“Hanna..kau tunggu disini sebentar ya, sayang. Eonni ke mini market sebentar.”
Gadis itu mengangguk patuh dan kemudian kembali sibuk dengan permainan masak-masak juga boneka barbie-nya.
Tanpa Ji Eun dan Hanna sadari. Sedari tadi, ada seseorang yang terus memperhatikan mereka dari jauh. Kini pria itu mulai perlahan mendekati Hanna.
“Kau sibuk sekali. Sedang apa?” Tanya pria itu yang lantas membuat Hanna sedikit melonjak kaget.
“dr. Scott..kau membuatku kaget. Waah..itu semua untukku?”
Mata gadis itu berbinar-binar ketika melihat beberapa paper bag berwarna pink, biru dan ungu muda yang ditenteng Scott.
“Memangnya untuk siapa lagi. Ini.”
“Terima kasih.”
Gadis kecil itu nampak begitu senang. Senyum lebar terus mengembang dan bahkan lebih lebar lagi ketika satu persatu mainan-mainan juga boneka-boneka barbie  ia keluarkan dari paper bag-paper bag itu.
“Scott.”
Suara itu serempak membuat Hanna dan Scott berbalik. Dengan riang, Hanna bangkit berdiri dan menunjukan hadiah-hadiah yang baru saja ia dapat dari Scott pada Ji Eun.
“Eonni. Lihatlah..dr. Scott membelikan ini semua untukku.”
“I-iya, sayang. Scott..ikut denganku!”
Ji Eun melangkah duluan sedang Scott mengekor Ji Eun dari belakang.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Ji Eun dengan sinis.
“Sudah jelaskan, Ji Eun. Aku kesini untuk menengok Hanna. Apa salah?”
“Salah! Sangat salah! Sudah kubilang padamu jangan pernah dekati Hanna, apalagi merecokinya dengan hal-hal menjijikan dan tidak masuk akal itu!”
“Aku punya hak Ji Eun..dan ini yang membuktikan bahwa aku punya hak juga atas Hanna!”
Tidak Mungkin..
Ji Eun menatap tidak percaya kearah selembar kertas yang ditunjuk Scott tadi. Itu lembar tes DNA. Dan angka 99,9% tertera dipojok bawah surat itu. Ka-kapan pria ini..Tubuh gadis itu bergetar hebat, kaki Ji Eun rasanya tak menapak ditanah lagi.
“Apa lagi? Kau mau mengelak lagi? Mau bilang kalau Hanna itu bukan anakku? Lalu? Ini apa Ji Eun? Coba jelaskan.”
Jelaskan apa lagi? Ji Eun bahkan tak mampu berbicara apapun lagi, “..jangan halangi aku mendekati anakku Ji Eun. Jangan pernah.”
‘PLAK!’ Tanpa sadar tangan Ji Eun bergerak dan menampar keras pipi Scott.
“Tidak akan kubiarkan! Pergi kau dari kehidupanku dan putriku..kau tidak punya hak apapun atas Hanna. Dia bukan putrimu.” Desis Ji Eun dingin.
“Apa maksudmu?”
“Kau mengerti maksudku Scott…bukannya kau dan ibumu dulu yang menyuruhku menggugurkan Hanna, hah? Jadi..jangan pernah panggil Hanna anakmu lagi..dia bukan anakmu! Aku pergi dan terima kasih untuk hadiahmu. Lain kali..jangan berikan barang-barang apapun lagi padanya.”
Gadis itu melangkah pergi meninggalkan Scott yang masih membatu ditempatnya.
Dalam hatinya, ia merasa apa yang Ji Eun lakukan padanya saat ini sangat pantas. Scott memang pantang ditampar bahkan dijauhkan dari Hanna. Inilah upah yang harus dibayarnya karena dosanya yang telah membuang kedua harta berharga miliknya itu.
Apa tak ada lagi setitik kesempatan untukku?

* * * * * * * * * *

          Ji Eun masih menangis sesenggukan diruangannya. Kejadian kemarin benar-benar membuatnya takut. Ia takut kalau-kalau Scott datang lagi dan memberitahukan yang sebenarnya pada Hanna. Ji Eun takut Hanna akan membencinya dan meninggalkannya.
Tangis Ji Eun makin pecah ketika asumsi-asumsi itu mulai memenuhi tiap sudut otaknya. Bahkan rasa takut itu tak mau terusir pergi.
“Ji Eun? Kau kenapa?”
Entah sejak kapan pria itu mengetuk pintu, tiba-tiba saja ia sudah membuka pintu ruangan Ji Eun dan masuk dengan wajah cemas.
Segera Ji Eun menghapus air matanya. Namun, bulir-bulir bening itu tak lantas berhenti mengalir turun dari matanya.
“Kau kenapa?” Tanya Marc lagi. Wajah pria itu makin cemas. Segera pria itu mendekat dan mendekap Ji Eun dalam pelukannya, “..tenanglah..kau bisa cerita semuanya padaku kalau kau mau.”
Ji Eun masih menolak untuk bercerita dan terus terisak didada bidang Marc. Tidak mungkin juga Ji Eun bercerita pada Marc kalau Hanna itu putrinya dari Scott dan sekarang dia ketakutan setengah mati kalau-kalau gadis kecil itu tau yang sebenarnya.
“Ya sudah kalau kau tidak mau cerita. Tapi tenang lah..kalau kau mau, aku akan mengantarmu pulang. Tidak baik bekerja dalam keadaan tertekan begini.”
Suara Marc lembut. Sangat lembut sampai-sampai membuat Ji Eun lebih tenang dibanding sebelumnya. Tapi, entah mengapa mata Ji Eun kabur dan lama kelamaan menjadi gelap dan..
“Ji Eun..! Ji Eun!”
Segera Marc mengangkat tubuh Ji Eun dan membawanya keluar.
Ada apa denganmu, hah?! Dan kenapa aku yang menjadi begini takut dan cemas?

“Eonni kenapa?” Tanya Hanna dengan nada cemas. Telapak tangan mungil gadis kecil itu mulai meraba-raba kening Ji Eun, “..eonni sakit ya?”
“Kakak mu tidak apa-apa sayang, hanya saja mungkin dia terlalu lelah bekerja.” Jelas Marc.
“Eonni jadi sangat lain sejak kemarin. Dia sering melamun, bahkan semalam eonni menangis diam-diam dikamar. Aku sangat khawatir.”
Marc mengangkat tubuh gadis kecil itu dan mendudukkannya dipangkuan Marc, “..memangnya kemarin kalian kemana?” Tanya Marc mulai menyelidik. Toh, anak kecil tak mungkin berbohong kan?
“Kemarin kami ke taman. Dan disana kami bertemu dr. Redding. Sempat eonni berbicara dengannya. Entahlah apa yang mereka bicarakan, aku tidak tau. Nah, sekembali kami dari taman itulah eonni jadi semurung ini.”
Jelas Hanna singkat sedang Marc hanya mengangguk paham.
Kenapa setiap kejadian menyangkut Ji Eun pasti selalu ada dr. Redding. Ada apa ini?

To Be Continued…

Cuplikan Part 7 :

“..jangan ikut campur urusanku! Dan jangan berpura-pura baik padaku!” Bentak Ji Eun disela-sela isakkannya.
“Aku tidak pura-pura baik padamu. Aku begini karena aku mencintaimu! Apa aku salah?!”

Will Posting Soon :D

Maaf ya, kalau masih pendek juga *tear* tapi kalo udah lumayan panjang, yaaa syukurlah :D dan buat kalian semua..jadilah pembaca yang budiman dan hargai tulisan author dengan meninggalkan ‘LIKE’ atau ‘COMMENT’ kalian. Karena disini, tidak menerima ‘SILENT READER!’ :) terima kasih :D Gumawo :D Muchas Gracias :D

Tell Your Mom, I Love Her! #5

photocat_tellyourmomilovehercover2iHola, todos! :D Annyeong chingu deul! :D

Happy Reading :D

* * * * * * * * * *

Part 5 :

Entah sejak kapan Marc memiliki kebiasaan baru. Dan kebiasaan barunya itu jelas sangat bertentangan dengan otaknya. Tapi, jelas..sangat diterima dengan baik oleh hati juga matanya.
Entah sejak kapan, Marc tak pernah membiarkan sosok Ji Eun lewat begitu saja dari pantauan matanya. Seperti ada magnet, wajah gadis itu menarik mata Marc untuk terus menatapnya dan tak membiarkan sosoknya diabaikan barang sedetikpun.
“Ini mengerikan!” Gumam Marc tiba-tiba yang membuatnya langsung ditatap aneh oleh Tito.
“Kau kenapa? Habis mimpi buruk?” Tanya Tito sembari menyengir aneh.
Marc hanya memutar bola matanya kesal melihat tingkah konyol sahabatnya itu, “..aah! Jangan-jangan..kau sedang memikirkan dr. Lee, ya?”
‘JLEB!’ Tepat. Entah mungkin Tito yang bisa membaca pikirannya, atau hanya sebuah keberuntungan dalam menebak.
“Ti-tidak! Memangnya aku kurang sibuk sampai harus memikirkannya?”
“Memangnya sekarang kau sibuk?”
Wajah Marc mulai sedikit memerah. Pria itu lantas bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Tito, masih dengan banyak pertanyaan dikepala pria itu.
“Entah aku yang gila atau Tito yang gila. Cih! Mana mungkin aku memikirkan gadis galak itu! Dia pikir aku sesinting itu!” Omel Marc tanpa sadar, beberapa pasang mata terus memandangnya dengan aneh.
“Seharusnya kau magang dipoli jiwa, bukan poli anak.” Ujar ketus Ji Eun sembari tersenyum sinis kearah Marc.
“Cih! Bukan urusanmu. Lagi pula, 2 bulan lagi aku akan keluar dari sini!” Sahut Marc ketus pula sembari mendelik kesal kearah Ji Eun.
“Yaah..yahh..kita lihat saja.” Balas Ji Eun masa bodo kemudian pergi meninggalkan Marc yang masih sedikit kesal. Ya, setidaknya rasa kesal itu hanya terpikir oleh otaknya, tidak untuk hati dan matanya yang terus mengamati Ji Eun sampai gadis itu menghilang dibalik pintu poli.
Cih! Apa yang aku lakukan, hah?!

* * * * * * * * * *

          Ji Eun masih sering gemetar ketika ingatannya terlempar pada kejadian kemarin.

Flashback :

“Ji Eun, tunggu!” Cegat Scott yang sudah berjalan cepat dari arah pintu lift. Sedang Ji Eun, gadis itu terus berjalan cepat dan mengacuhkan seruan-seruan Scott.
Langkah kaki gadis itu tak secepat langkah-langkah panjang Scott, sehingga tak berselang lama, pria itu sudah berhasil menggapai lengan Ji Eun, “..tunggu!” Serunya sembari memutar kasar tubuh Ji Eun.
Tangan besar Scott yang awalnya hanya mencengkram lengan Ji Eun, kini berpindah mencengkram erat kedua bahu mungil Ji Eun.
“Lepaskan! Kau mau apa lagi?!” Bentak Ji Eun sembari meronta melepaskan diri. Kepalan kedua tangan mungilnya memukul-mukul kasar dada Scott namun, tenaga pria itu, yang telah diperkuat dengan emosi yang menggebu, makin mencengkram erat bahu Ji Eun sampai gadis itu sedikit meringis kesakitan.
“Jelaskan padaku dengan jujur. Siapa Hanna?!” Bentak pria itu. Wajahnya memerah, matanya pun begitu. Ada sorot kekejaman dimanik mata pria itu, membuat sekujur tubuh Ji Eun bergetar hebat.
“Je-jelaskan apa lagi, hah?! Hanna bukan anakmu!”
“Bohong!” Bentak pria itu membuat Ji Eun sedikit tersentak kaget, “..jelaskan yang sebenarnya, Ji Eun!”
“Lepaskan aku..lepas!” Jerit Ji Eun yang mulai merasa bahunya nyeri karena terlalu kuat dicengkram Scott.
“Hei..hei!” Seru seorang pria yang mulai berjalan mendekat kearah Ji Eun dan Scott, “.. “..kau mengerti tidak kalau seorang wanita bilang ia tidak suka diperlakukan begitu? dr. Redding..” Marc menatap tajam kearah Scott dan tangan besarnya itu bergantian. Tangan besar itu sudah terlampau kuat mencengkram bahu Ji Eun, “..dan lagi, ini rumah sakit. Dan sebagai putra pemilik rumah sakit ini, aku tidak suka kalau ada salah satu staff rumah sakit yang diperlakukan kasar. Sekarang lepaskan dia.” Paksa Marc sembari menggenggam tangan Ji Eun. Perlahan, Scott melonggarkan genggamannya dan melepaskan Ji Eun, “..baik. Kalau begitu kami permisi.”
Marc menarik Ji Eun menjauh dari Scott dan menghilang dibalik pintu lift.

Flashback End :

Tangan Ji Eun seketika bergetar hebat, sampai-sampai pena yang ia pegang terlepas begitu saja dari tangannya.
Ini tidak bisa aku biarkan! Aku pasti akan melindungi Hanna, bagaimana pun caranya.

* * * * * * * * * *

          Hanna melempar pandangannya kesekitar loby. Tangan mungilnya tak mampu menggapai tombol lift, sehingga ia membutuhkan seorang dewasa untuk membantunya.
“Kau butuh bantuan, manis?” Tegur seorang pria dari belakang Hanna. Segera gadis itu berbalik dan mendapati sosok Marc berdiri dibelakangnya dengan senyum menawan nan hangat.
“Iya. Aku tidak bisa menggapai tombol itu.” Tunjuk gadis itu pada tombol lift yang berada 50cm diatas tubuhnya.
“Baiklah. Memangnya kau mau kemana?” Tanya Marc ramah.
“Aku mau keruangan eonni. Kau bisa antarkan aku?”
“Tentu saja, princess. Ayo.”
Marc menggendong gadis kecil itu dan naik bersamanya diatas lift. Berada sedekat ini dengan Hanna, entah mengapa membuat Marc begitu senang. Gadis ini lumayan cerewet. Namun, ia mampu membius Marc dengan ocehan-ocehan polosnya juga senyum manis dan lucu yang mengembang dibibir mungilnya.
“Kita sudah sampai.” Ujar Marc sembari menurunkan Hanna dari gendongannya.
“Kau harus kembali bekerja?”
Ada nada kecewa dibalik ucapan polos gadis kecil itu.
“Tentu saja, sayang. Kalau aku sedang ada waktu senggang. Kita akan berbincang-bincang lagi, hm?”
Gadis kecil itu mengangguk, “..kalau begitu..semangat!” Ujar Hanna sembari tersenyum lebar kearah Marc.
‘Deg!’ Tuhan..entahlah, tapi aku tidak ingin berpisah dengan gadis kecil ini.

* * * * * * * * * *

          Malam itu, entah mengapa Hanna terus tersenyum ketika melihat Ji Eun. Mungkin terlihat biasa-biasa saja untuk ayah dan ibu mereka, namun tidak untuk Ji Eun.
“Hanna? Kau kenapa?” Tanya Ji Eun penuh curiga.
“Tidak. Hanya saja…aku rasa kau sangat cocok dengan seseorang.” Balasnya sembari tersipu.
“Oh ya? Siapa?”
“Kakak dokter yang bernama Marc itu. Kalian cocok sekali. Eonni..kenapa kau tidak pacaran saja dengan kakak dokter itu? Dia baik.”
Ji Eun menyembur keluar air putih yang baru saja berhasil masuk kedalam rongga mulutnya. Kata-kata Hanna terlampau polos, sampai-sampai Ji Eun merasa geli mendengarnya.
Tidak Mungkin!, “..eonni tidak apa-apa kan?”
“Ti-tidak sayang..tidak apa-apa.” Ji Eun kembali meneguk air putihnya yang masih tersisa setengah digelas, “..sebaiknya kau habiskan makan malammu dulu, baru kita bicarakan ini lagi, eo?”
Gadis kecil itu mengangguk patuh kemudian melanjutkan makan malamnya.
Jangan bercanda? Pria sombong itu? Tidak!

To Be Continued…

Cuplikan Part 6 :

“…sudah kubilang kau jangan pernah dekati Hanna, apalagi sampai merecokinya dengan hal-hal menjijikan dan tidak masuk akal itu!”
“Aku punya hak Ji Eun..dan ini yang membuktikan bahwa aku punya hak juga atas Hanna!”
Tidak mungkin..

Will Posting Soon :D

Maaf ya semua, kalo misalnya cerita si author ini masih pendek *sobing* soalnya emang author sengaja bikin ceritanya pendek-pendek, soalnya kan..si author udah nambahin cuplikan next part nya..maaf ya, guys *tear* Jangan lupa leave ‘LIKE’ or ‘COMMENT’ bellow ya? Jadilah pembaca yang budiman dengan tidak menjadi ‘SILENT READER’ :D