As Long As You Love Me #9

image

Author memang rada soek ya? Katanya mau hiatus sebentar buat UTS..eh! malah dia nongol (emang author semprul! (-__-“)) sudahlah..dari pada melihat ke  semprulan author..mari langsung saja ke TeKaPe!!! :D

Happy reading :D

 

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Part 9 :

Pagi itu Jorge sudah menunggu sembari bersandar pada Ferarri hitam kesayangannya. Dan ketika orang yang ditunggunya muncul, senyum lebar dan manis mulai mengembang diwajahnya.

Beda dengan senyuman yang ditunjukkan Jorge pada orang itu yang hanya menatap Jorge dengan wajah masam tanpa ada sedikit pun senyum diwajahnya. Dan bak khayalan atau semacamnya, tiba-tiba saja orang yang sedari tadi berwajah masam itu berubah manis dengan senyum indah mengembang diwajahnya.

“Kau sudah siap sayang?”

“Su-sudah..”

Jorge kemudian membukakan pintu penumpang, samping kemudi, dan mempersilahkan gadis itu naik. Barulah setelah itu, Jorge masuk kedalam mobilnya dengan perasaan membucah senang. Gadis itu tak membutuhkan waktu lama untuk melupakan Marc, pikirnya.

Flashback :

“Pakai ini.” Pinta Ji Hyun sembari menyodorkan sebuah earphone kecil kepada Ji Eun.

“Oppa yakin ini akan berhasil?”

“Kita tidak akan tau kalau belum mencobanya, bersiap-siaplah sebentar lagi Jorge datang.”
“Maksud oppa aku ini sejenis kelinci percobaan?”

“Oh ayolah Lee Ji Eun! Ingat, ini hanya sandiwara. Kecuali kau benar-benar menyukai pria maniak itu.”

Ji Eun akhirnya berhenti membantah. Toh, Ji Hyun benar, ini hanya sandiwara. Dan sandiwara ini pun demi melepaskan dirinya dari belenggu pria tolol yang paling dibencinya itu.

Dengan patuh, Ji Eun pun masuk kedalam kamarnya dan mulai bersiap-siap. Tak lupa, Ji Eun memasang earphone itu ditelinganya dan menutupinya dengan geraian rambut coklat gelapnya.

Tuhan..semoga hari ini cepat berlalu…

Dan benar saja, ketika gadis itu keluar dari dalam rumahnya, Jorge sudah menunggu sembari bersandar pada mobil Ferrari hitamnya. Dengan refleks, wajah masam dan tak berekspresi Ji Eun tunjukkan pada pria itu. Dengan langkah kesal, Ji Eun berjalan kearah Jorge yang sudah tersenyum manis padanya.

[Oh ayolah, Lee Ji Eun-ku sayang..kau tak akan memasang wajah semasam itu, kan?] suara aba-aba Ji Hyun mulai terdengar diearphone kecil itu dan segera membuat Ji Eun mengubah ekspresinya tadi menjadi ekspresi paling manis yang pernah ia buat.

Mungkin Jorge akan berpikir kalau gadis ini punya sedikit ganguan mental pagi ini.

“Kau sudah siap sayang?” tanya Jorge manis sembari membukakan pintu mobil untuk Ji Eun.

“Su-sudah.” Balas Ji Eun singkat masih dengan senyum manis dibuat-buatnya, kemudian masuk kedalam mobil Jorge. Astaga! Aku ingin muntah! Ini terlalu menjijikan! Tuhan..semoga saja kami tidak berpapasan dengan Marc dijalan nanti..aku tidak mau dia salah sangka dengan sikapku ini..

Flashback End :

 

Mereka sudah tiba disebuah cafe. Dan entah mengapa, ingin rasanya Ji Eun tak turun dari dalam mobil Jorge. Firasatnya benar-benar tidak enak jika seandainya dia keluar dari dalam mobil Ferrari hitam itu.

“Ayo..” ajak Jorge. Pria itu sudah membukakan pintu mobil untuk Ji Eun, bahkan tangannya sudh terulur untuk digapai gadis itu.

“Eum..ti-tidak. Aku ingin berkeliling saja. Lagi pula, untuk apa ke cafe. Aku sudah sarapan tadi dari rumah.” Kilah Ji Eun yang kembali memasang senyum paksaannya.

“Oh ayolah..aku yakin kau akan suka suasana cafe ini.” Bujuk Jorge.

[Ikut saja, Ji Eun. Dia akan curiga kalau kau menolak. Jangan khawatir soal Marc..oppa akan jelaskan padanya nanti..]

“NANTI?!” pekik Ji Eun spontan membuat Jorge sedikit melonjak kaget dan bingung, “..ehm..ma-maksudku. Nanti saja kita kesini..jalan-jalan saja dulu. Mungkin sore nanti, suasananya akan lebih bagus.”kilah Ji Eun lagi. Bodoh kau Ji Eun! Dasar bodoh!

“Baiklah. Kalau begitu, kau mau jalan-jalan kemana, hm?”

“Bagaimana kalau toko buku. Ada novel baru yang ingin aku beli.”

“Baiklah. Kemana pun kau inginkan, princess.”

Jorge tersenyum dan kembali menutup pintu mobil penumpang itu. [Akting yang bagus, adikku] pekik girang Ji Hyun diseberang sana.

“Aku akan membunuhmu sepulangku nanti, Ji Hyun..” desis Ji Eun setengah berbisik.

Saat Jorge masuk, Ji Eun kembali memasang senyum munafiknya dengan manis, berlaku seperti tidak ada apa-apa yang ia sembunyikan. Dan perlahan, mobil Jorge menjauh dari areaa parkir cafe itu.

Kapan hari ini akan berakhir, Tuhan…

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Entah apa yang membuat Marc datang ke toko buku ini. Pria itu menyusur setiap rak buku, namun tak berniat membeli apa pun. Pikirannya pun tak tertuju pada buku-buku ini, tapi pada seseorang yang sangat suka dengan buku-buku ini.

“Kalau ku ajak dia kemari, mungkin uang ku akan habis hanya untuk membeli beberapa tumpuk novel.” Gumam Marc kemudian terkikik geli.

Ponsel Marc bergetar disakunya dan segera ia mengangkat panggilan itu ketika melihat nama siapa yang tertera disana, “..halo..”

[Kau dimana? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.]

“Bicara apa?”

[Datang saja ke cafe Daydream. Kalau bisa sekarang.]

“Baiklah.”

Marc langsung menutup pembicaraan ditelepon itu dan langsung bergegas keluar dari toko buku. Namun, tepat setelah Marc keluar dari toko buku itu, matanya menangkap sebuah mobil Ferrari hita yang baru saja terparkir disana. Hatinya sedikit tergetlitik untuk melihat siapa gerangan pemilik mobil itu. Dan benar saja, Jorge keluar dari dalam mobil itu dengan wajah sumringah. Ia tidak sendirian, buktinya Jorge masih sempat membukakan pintu mobil untuk seseorang yang duduk dibangku penumpang.

Hati Marc serasa tertikam ketika malihat siapa yang baru saja turun dari kursi penumpang itu, “..Ji Eun?” gumam Marc lirih.

Segera Marc masuk kedalam BMW Cope miliknya, dan memilih memantau dari dalam sana sampai sosok Ji Eun dan Jorge menghilang dibalik pintu toko buku itu.

Sakit dihati Marc makin menjadi-jadi. Rasa curiga mulai menghantui pikirannya. Benarkah ini semua? Apa Ji Eun sudah merelakan diri kepada keputusan ayahnya?

Tidak! Ji Hyun harus jelaskan semua ini padaku..

Segera Marc memacu BMW Cope miliknya ketempat dimana Ji Hyun janjikan padanya tadi.

Tak butuh waktu lama, Marc sudah sampai di Daydream Cafe, dimana mobil Porsche Silver Ji Hyun sudah terparkir. Dengan langkah panjang terburu-buru, Marc masuk ke dalam cafe itu dan langsung menemukan Ji Hyun.

“Kupikir kau akan lama.”

“Jelaskan semuanya padaku.”

Tuntut Marc langsung yang menolak basa-basi Ji Hyun, “..tenang dulu, Marc. Kau tak mau pesan apa-apa dulu?”

“Kumohon jelaskan saja apa yang terjadi pada Ji Eun dan Jorge.”

Bukan langsung menjawab, Ji Hyun malah mengangkat tangan dan melambai kearah seorang pelayan cafe untuk memesan sesuatu untuk Marc, “..sudah kuduga kau akan salah paham. Kupikir kau cerdas dalam hal-hal begini.”

“Maksudmu?”

Ji Hyun tersenyum, sedang pelayan tadi sudah datang membawa pesanan Ji Hyun, “..kau pikir adikku terlalu bodoh untuk langsung menerima Jorge?”

“Jadi yang tadi..”

“Itu semua hanya rencana yang aku dan Ji Eun buat. Rencana untuk menjebak Jorge dan menyelamatkan Ji Eun.”

“Rencana seperti apa?”

“Mengikuti rencana Jorge.”

Marc mengernyit bingung mendengar rencana Ji Hyun. Namun, pria didepannya itu tetap nampak tenang dan santai, seperti tak merasa aneh dengan rencananya sendiri.

“Jorge bukan pria yang cerdas Marc. Cukup mengiming-imingi dia dengan Ji Eun, semua akan berjalan sesuai rencana. Sebenarnya rencanaku yang sesungguhnya bukan itu. Tapi..ada bahasa yang bilang ‘Saf the best for the last’, bukan? Maka tunggu saja  diakhirnya seperti apa.”

“Apa kau berniat mengubah pemikiran Jorge? Kurasa pikiranmu terlalu pendek. Jorge tidak sebodoh yang kau pikirkan Ji Hyun. Dengan melakukan ini, sama saja kau memberinya banyak peluang. Kau sama saja menjual adikmu untuk hasil yang sia-sia.” Tatapan Marc lurus dan tajam terarah pada Ji Hyun, “..sebaiknya kau perbaiki rencanamu ini.”
“Hmm..aku yang berpikiran pendek atau kau yang terlalu cemburu dan tidak sabaran? Bukankah kau selalu bilang, hal yang baik akan datang pada orang yang mau menunggu? Maka perbuatlah demikian, Marc. Kontrol rasa cemburumu itu, dan jika memang kau mencintai adikku. Maka kau harusnya mau terlibat dalam rencana ini tanpa harus kutawar lagi, bukan?” ujar Ji Hyun santai kemudian menyeruput Mocca Latte miliknya yang sudah mulai sedikit mendingin.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Mudah. Kumpulkan sebanyak mungkin data tentang Jorge. Dan dari data-data itu, kita cari titik lemah Jorge. Aku ingin tau, selain Ji Eun, apa ada hal lain lagi yang membuat Jorge tidak bisa berkutik?”

“Baiklah. Tapi aku butuh waktu untuk..”

“Usahakan sebelum pertunangan Ji Eun dan Jorge.”

“Pertunangan?”

“Ya. Pertunangan. Ayahku sudah barang tentu akan percaya dengan sandiwara ini, dan dengan segera, mungkin dia akan memutuskan tanggal pertunangan Jorge dan Ji Eun. Jadi kuharap, sebelum hal itu terjadi, kau sudah harus menyelesaikan tugasmu.”
“Data Jorge tak akan mudah didapat, tapi akan kuusahakan.”

“Kau tidak akan berkerja sendiri, Marc. Aku akan membantumu dalam hal ini. Karena data Jorge tak akan bisa kau kumpulkan segera tanpa bantuan orang yang ahli dalam hal seperti ini.”

“Maksudmu..kau akan meminta tolong orang-orang ayahmu itu untuk membantu kita?”

“Orang-orang ku lebih tepatnya, Marc. Dan mereka lebih dari sekedar cerdas dalam hal itu.”
Marc menatap sebentar kearah Ji Hyun. Bahkan lebih dari ekpetasi Marc. Ji Hyun sudah memikirkan rencanannya ini dengan sangat matang. Bahkan, orang dalam pun dikerahkannya demi kelancaran rencananya ini.

“Baiklah. Aku akan coba cari data lain tentang Jorge dan sisanya kuserahkan padamu dan orang-orang mu itu.”

Ji Hyun hanya tersenyum tanpa membalas.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

“Bagaimana jalan-jalan kalian, menyenangkan?” tanya Emillio pada Ji  Eun yang baru saja masuk kedalam rumah.

[Jawab saja dengan baik dan manis, ok?] pintah Ji Hyun yang terdengar dari earphone kecil ditelinga Ji Eun.

“Iya, paman. Sangat menyenangkan. Ji Eun membeli banyak buku hari ini. Sampai-sampai dia kerepotan sendiri.”

“I-iya. Oh ya, kalau tidak keberatan, aku keatas sebentar untuk menyimpan buku-buku ini dulu.”

“Segeralah kembali kemari. Ada yang ingin ayah bicarakan dengan kalian. Ajak kakakmu juga turun kemari.”

[Aku punya firasat..mungkin ayah akan membicarakan soal pertunangan kalian..]

“Apa?!” pekik Ji Eun spontan lagi dan kali ini gadis itu langsung menutup mulutnya, “..eh..em..ma-maksudku..apa yang ayah bicarakan tadi? Aku kurang mendengarnya..” ralat Ji Eun terbata-bata. Dua kali, Ji Eun! Kau ini bodoh atau tak berotak, hah?!

“Ayah bilang, segeralah turun dan ajak kakakmu juga. Ada yang ingin ayah bicarakan.” Ulang Emillio tanpa  menaruh sedikit pun curiga pada Ji Eun.

“Ba-baik, ayah..” balas Ji Eun sembari tersenyum kemudian bergegas naik keatas.

Gadis itu langsung membanting tubuhnya keatas kasur  sesampainya dikamar. Ia mendesah keras, pertanda hari ini dia lumayan lelah. Ternyata sandiwara seperti ini bisa memakan banyak energi juga, pikir Ji Eun.

“Bagaimana?” tanya Ji Hyun yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamar Ji Eun dan membuat gadis  itu melonjak kaget dari kasurnya.

“Oppa! Kau mau membuatku mati, hah?! Dan kenapa selalu mengatakan hal-hal yang mengejutkan seperti  itu? nyaris tadi ketahuan!”
“Tapi kau bisa mengatasinya, kan? Oh ya, bagaimana tadi?”

“Oppa sudah beritahu Marc soal ini atau belum?”

“Jawab dulu..bagaimana tadi?”

“Ayah ingin bicara dengan kita. Mungkin oppa benar, ayah akan membicarakan soal  pertunanganku dengan Jorge karena sudah mulai percaya dengan sandiwara ini. Lalu, bagaimana dengan Marc?”

“Kau tenang saja soal Marc. Oppa sudah memberitahunya. Dan..apa lagi yang kita tunggu disini.”

“Aku tidak mau turun.”

Ji Hyun yang tadi sudah berdiri, akhirnya kembali duduk disamping Ji Eun ketika melihat gadis itu lesu dikasurnya.

“Oh ayolah Ji Eun..percaya saja pada oppa kalau kalian tidak akan sampai bertunangan.”

Ji Eun melirik lesu kearah Ji Hyun. Matanya memancarkan ragu pada kakaknya itu. Rasa takut akan kegagalan rencana mereka ini, lebih besar dari rasa percaya Ji Eun akan keberhasilan rencana mereka, “..percayalah pada oppa, hm?” ujar Ji Hyun meyakini Ji Eun sekali lagi. Dan gadis itu hanya mengangguk lesu kemudian perlahan turun dari atas kasurnya dan bersama Ji Hyun keluar dari kamarnya.

“Kemarilah. Ada hal penting yang ingin ayah bicarakan dengan kalian berdua. Terlebih denganmu, Ji Eun.” Panggil Emillo ketika Ji Hyun dan Ji Eun sudah menuruni anak-anak tangga rumah mereka.

“Bicara apa ayah? Sepertinya penting sekali dan kau…kau disini juga?”

“Begini. Ini soal pertunangan Ji Eun dan Jorge. Tadi ayah sudah sedikit berbicara dengan Jorge. Dan ayah ingin memajukan tanggal pertunangan kalian. Awalnya, ayah memilih tanggal 30 Desember nanti, tapi karena beberapaa hal, jadi ayah memajukannya ke tanggal 25  November ini.”

“Maksud ayah? 2 minggu depan?!” tanya Ji Eun dengan nada yang sedikit tinggi yang dengan sigap langsung mendapat cubitan kecil dari Ji Hyun.

“Baguslah kalau begitu, kan?” sahut Ji Hyun dengan senyum lebar mengembang sempurna diwajah tampannya, “..berarti kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, bukan?” usul Ji Hyun kemudian.

“Tapi..”

“Oh ya..sepertinya, aku harus menghubungi kenalanku yang memiliki aula megah yang pernah aku ceritakan pada ayah itu.” dengan cepat Ji Hyun langung menyambar memotong ucapan Ji Eun yang tentunya mungkin saja menggagalkan rencana yang sudah terpikir matang olehnya itu.

“Benar, Ji Hyun. Terima kasih. Oh ya, Ji Eun..tadi kau mau bilang apa, nak?”

Ji Hyun memberi aba-aba samar pada Ji Eun dengan gerakan alisnya, “..ti-tidak ada apa-apa ayah. Hanya saja aku sedikit terkejut. Apa tidak bisa dimudurkan sedikit? Aku masih mau melakukan banyak hal, perawatan mungkin? Itu butuh waktu yang tidak cepat, ayah.”

“Begitu, ya? Jorge..bagaimana menurutmu?”

“Yaah..bagaimana pun juga Ji Eun pastinya ingin terlihat cantik diacara sepenting itu kan, paman. Terlalu cepat juga tidak begitu baik.”

“Baiklah. Kalau begitu, kita kembali ke tanggal yang semula.” Putus Emillio kemudian tersenyum sembari mengusap sayang pipi Ji Eun yang duduk disampingnya.

Setidaknya semua berjalan sesuai rencanaku. Batin Ji Hyun.

to be continued..

Sorry guys kalo part ini jelek gk karuan *tears* author sadar butuh banyak saran dan masukan juga kritikan dari reader-reader budiman semua :D jadi, author harap jangan jadi SILENT READER ya semua :D soalnya, author betul-betul butuh masukan setelah dilumpuhkan soal UTS *lumpuhkan lah ingatanku..(Mulai deehh..mulai jadi Saipul Jamil)* Tinggalkan komentar kalian dibawah, kalo gk bisa di twitter dan facebook author..terima kasih semua :D Kalian luar biasa *ala Ariel ‘The Mermaid’ (author sarap!)*

The Proposal To Love You #1 (Introduction Part)

BeFunky_TPTLY.jpg

Sesuai janji author kemarin..ini dia Part perkenalan FF baru author..hehe :D plin plan, ya? Padahal minggu lalu author bilang mau fokus MID ya?? Sudahlah..lupakan!

Author tidak mau basa basi lagi dan…

Happy reading, guys :D

 

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

 

Part 1 :

 

Pria itu sudah berdiri dengan yakin dan mantap didepan sebuah gedung besar dan megah. Gedung besar dan megah, yang akan menentukan nasibnya dirantau orang ini.

“Yakin kau bisa melakukan ini, Marc! Jangan pikirkan apa pun..yakin saja kau bisa melakukannya.” Gumamnya sepanjang ia melangkah masuk kedalam gedung itu.

Dan tak memakan banyak waktu, langkah panjang Marc, sudah membawanya tepat didepan meja receptionis, “..permisi.” Sapa Marc pelan.

Wanita petugas receptionis itu masih belum merespon. Ia masih sibuk melamun, mengagumi paras tampan Marc. Membuat pria yang ditatap itu sedikit bingung, “..permisi.” Sapa ulang Marc dan kali ini wanita itu mulai merespon dengan senyum.

“Oh ya..ada perlu apa?” Jawab wanita itu manis.

“Begini. Saya dengar disini membuka lowongan pekerjaan untuk bagian Pemasaran. Dan saya, ingin memasukan berkas lamaran saya. Kira-kira dimana saya bisa mendaftrakan berkas lamaran saya ini?”

“Oh itu. Anda bisa naik ke lantai 3, tepatnya dibagian administrasi, anda bisa memasukan berkas-berkas lamaran anda disana.”

“Baiklah. Kalau begitu, terima kasih.”

Marc kembali memacuh langkahnya menjauh dari meja receptionis, sedang wanita-wanita petugas receptionis itu sudah mulai sibuk berbisik-bisik tentang Marc.

Pria itu berhenti didepan lift. Hatinya menggebu-gebu tak sabar untuk meletakan surat lamarannya ini.

Flashback :

“Sungguh kau akan melamar kerja diperusahaan itu, Marc? City’s Group? Kau pasti bercanda!” Seru Tito yang nyaris tersedak jus jeruk yang baru ditenggaknya itu.

“Lalu kau pikir? Aku hanya akan menjadi pengangguran tolol tak bergaji dinegeri orang ini? Mau makan apa kita nanti?” Sambar Marc kesal sambil terus mengusap kemeja biru langitnya dengan setrika.

Hari ini keputusan Marc sudah bulat untuk melamar kerja. Setelah lulus dengan gelar S2, Marc rasa ia harus bekerja sekarang. Atau, mati sia-sia tak ber-uang dinegeri rantau ini.

“Yaah..kau benar. Tapi..kau yakin..City’s Group?” Tanya Tito sekali lagi. Pria itu nampak masih belum yakin. Karena semenurut pengalaman, masuk ke perusahaan sebesar City’s Group itu bukan semudah membalikan telapak tangan. Apa lagi, presiden direktur City’s Group terkenal perfectionis dan selektif. Tidak mungkin semudah itu seseorang bisa masuk dan bekerja disana.

“Kita lihat saja..” Sahut Marc masa bodo dan terus melanjutkan kegiatannya yang kini mulai memasukan dokumen-dokumennya ke dalam map biru senada kemejanya.

Flashback End :

“Marc! Bagaimana?” Tanya Tito penasaran. Pria itu sudah duduk disamping Marc dengan sebungkus penuh snack ditangannya.

“Besok akan diadakan interview.”

“In-interview?? Kau lulus tahap pertama?”

“Tentu saja. Kan aku sudah bilang..coba dulu saja kan? Kalau gagal, ya sudah. Mau apa lagi.”

Tito hanya mengangguk paham sambil terus memasukan snack-snack itu kedalam mulutnya.

“Astaga! Kau ambil itu dari mana?” Tanya Marc yang akhirnya tersadar kalau sedari tadi temannya itu terus mencemili yang bukan miliknya.

“Kulkas. Memangnya kenapa?”

“Itu punya ku!! Cepat kemarikan!” Bentak Marc sambil berusaha merebut snack itu dari tangan Tito. Sedang Tito, pria itu terus mempertahankan snack tadi ditangannya. Sampai akhirnya, snack itu jatuh berhamburan dikarpet dan sofa.

“ESTEVE RABAAAATT!!! BERSIHKAN SEMUA INI!!!”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Pagi itu, Marc sudah sangat rapi. Meski wajahnya terlihat sedikit lelah, karena semalaman Marc mempersiapkan presentasinya, tapi ia berusaha menutupi semua itu dengan tetap mengumpulkan semangat dan tekat dihatinya.

Aku akan melakukannya. Aku akan dapatkan pekerjaan itu. Tekat Marc.

Pria itu berjalan keluar dari apartemen sederhananya dengan langkah mantap.

Segera tangannya mengayun lincah ketika dilihatnya sebuah taksi melintas.

“City’s Group.” Ucap Marc singkat yang langsung dipahami si supir taksi, “..eum, ahjussi..bisa anda lebih cepat sedikit? Saya ada interview pekerjaan penting disana.”

“Baik, tuan.”

Supir taksi itu mengiyakan dan langsung memacu laju mobilnya. Alhasil, tak sampai 10 menit, Marc sudah sampai didepan gedung besar itu kembali.

Tangannya sedikit gemetar. Tapi, tekatnya lebih besar dari rasa takutnya, yang akhirnya memantapkan langkah kaki Marc, memasuki gedung itu.

“Presdir Lee..apa anda akan ikut dalam presentasi nanti?”

“Tidak. Aku ada janji dengan presdir Yoon jadi, tolong wakili aku.”

“Baik, nona.”

Mata Marc langsung terlempar ke arah gadis manis yang berjalan cepat menujut pintu keluar. Pre-presdir?? Yakin? Semuda dan secantik itu?

“Hei, kau! Segeralah ke lantai 4. Presentasi akan segera dimulai.” Tegur salah seorang pria paruh baya yang adalah salah satu dari tim penilai.

“Ba-baik.”

Mari kita lakukan ini, Marc!

To Be Continued..

Next..

“Kau pikir disini tempat bermain? Presentasi seperti itu, apa yang bisa dijual?”

“Lalu bagaimana?”

“Entahlah..”

Dan maaf kalau terlalu pendek..seperti yang sudah author bilang..ini adalah Part pengenalan jadi, ceritanya pendek :D

Oh ya, author menunggu kritik dan saran kalian, ya? Dan tolong jangan jadi, SILENT READER

Thank you :D

As Long As You Love Me #8

image

Happy Reading.. :D

 

 

* * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

 

Part 8 :

 

“Aku harus pergi sekarang. Aku tidak mau menambah masalahmu dengan Emillio.” ucap Marc kemudian mengecup singkat kening Ji Eun dan segera keluar dari jendela kamar Ji Eun.

“Kau akan datang lagi kan?”

“Aku tidak janji setiap hari akan kesini, tapi aku pasti datang.” balas Marc sebelum turun melalui pohon Mapple depan jendela kamar Ji Eun.

Gadis itu mengangguk paham sembari tersenyum lembut. Ia benar-benar lupa kalau sedari tadi Emillio terus memanggilnya diluar sana. Mungkin sengaja, gadis itu bahkan tak mau perduli sama sekali dengan seruan Emillio yang akhirnya menyerah dan berlalu dari sana.

Tuhan..kuatkan aku untuk berbaikan dengan ayahku lagi. Au tau, itu bukan sepenuhnya salanya. Dia hanya terlalu percaya pada orang yang salah saja..

Ji Eun kembali membungkus tubuhnya dengan selimut dan membenamkan wajahnya dalam bantal. Meski sedikit gunda, tetap hati Ji Eun merasa hangat dan bahagia.

“Nona..tuan muda Ji Hyun memanggil anda kekamarnya.” Seru seorang pelayan rumah dari balik pintu kamar Ji Eun.

“Bilang padanya aku akan kesana sebentar lagi.” Balas Ji Eun yang akhirnya menyudahi agenda malas-malasannya diatas kasur empuk itu. Ia bangkit dan berjalan dengan langkah gontai.

Ji Eun mematut dirinya dicermin kamar mandi dan sesekali gadis  itu tersenyum sembari menyentuh bibirnya.

Lembut dan hangat bibir Marc masih terasa disana. Dan masih bisa membuat wajah Ji Eun bersemu merah. Segera gadis itu menggeleng dan membasuh wajahnya dengan air dari keran. Eomma..aku tau eomma sedang melihatku sekarang. Ji Eun mu ini sedang jatuh cinta, eomma..

Selesai berbenah diri, Ji Eun keluar dari kamarnya dan berjalan cepat menuju kamar Ji Hyun.

“Oppa..Ini aku! Buka pintunya!” seru  Ji Eun sembari mengetuk pintu kamar Ji Hyun.

Tak berapa lama, Ji Hyun membuka pintu kamarnya dan membiarkan Ji Eun masuk, “..ada apa?” tanya Ji Eun langsung saat Ji Hyun sudah menutup kembali pintu kamarnya.

“Oppa tau tadi Marc mengendap ke kamarmu.” Goda Ji Hyun sembari tersenyum.

Ji Eun mulai tersipu dan salah tingkah, “..dari mana oppa tau?”

“Oppa tadi sedang jalan-jalan sebentar ditaman belakang dan..”

“Oppa yang membantunya masuk ke kamarku?”

“Yaah..oppa tidak tega sebenarnya..” ujar Ji Hyun sembari melempar senyum pada adiknya itu. Pria itu senang melihat adiknya kembali ceria dan bersemangat, “..bagaimana bisa? Penjagaan seketat itu..”

“Hei! Jangan remehkan aku..hal seperti itu bukan hal yang sulit untuk oppa mu ini.”

Ji Eun tersenyum lebar. Gadis kemudian menghambur bahagia kedalam pelukan kakaknya, “..gumawo oppa..jeongmal gumawo..”

“Tidak masalah. Oppa senang kalau kau bahagia. Oh ya, bagaimana dengan ayah?”

“Entahlah, oppa. Aku masih tidak ingin membicarakannya.”

“Tapi kau juga tau, ini bukan sepenuhnya salah ayah.”

“Aku tau oppa..aku tau. Tapi..bagaimana dengan Jorge? Semenjak dia menempel pada ayah, ayah selalu mengambil keputusan bodoh.”

“Jadi bagaimana rencanamu?”

Ji Eun menimbang sebentar.mungkin rencana ini akan sulit, tapi dengan bantuan kakaknya mungkin saja akan lebih mudah, “..kita singkirkan Jorge dari sisi ayah.”

“Maksudmu?”

“Oppa tau dia salah satu dari orang kepercayaan Vale. Bisa saja sekarang ini dia sedang menjalankan perintah dari Vale yang kapan saja bisa membahayakan kita. Kita berikan bukti tentang itu kepada ayah.

Ji Hyun berpikir, ia tau ini sangat sulit. Karena ayahnya bisa saja tak akan percaya pada mereka, “..oppa yakin ini akan sulit. Dan kemungkinan kita bisa berhasil sangat tipis. Bukannya oppa pesimis, tapi oppa tau betul bagaimana Jorge itu.”

“Apa yang oppa tau tentang Jorge?”

“Yang oppa tau, dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang paling ia inginkan. Bahkan dia tak akan segan-segan menyingkirkkan siapa pun yang menghalangi niatnya itu.”

“Lalu kita harus bagaimana? Kita tidak bisa membiarkan ayah terus tenggelam dalam rasa percayanya yang salah pada Jorge.”

“Oppa akan pikirkan cara lain. Kau tenang saja. Selebihnya..kita ikuti dulu apa rencana Jorge.”

Ji Eun bahkan tak bisa tenang. Karena dia tau, Jorge memperdaya ayahnya untuk mendapatkannya. Dan Ji Eun tak mau membiarkan itu terjadi.

“Tuan muda, nona..tuan Emillio memanggil kalian kebawah.” Seru seorang pelayan rumah dari  luar kamar Ji Hyun.

“Bagaimana? Kau siap bertemu ayah?”

Ji Eun hanya mengangguk mantap. Dan keduanya keluar dari kamar. Entah apa yang akan ayah katakan nanti..

* * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Ji Eun duduk diam dan menatap tidak ssuka kearah dua pria didepannya itu. sedang Ji Hyun, ia terus melempar senyum tenang.

“Selamat pagi, princess. Bagaimana pagimu..”

“Jorge. Kupikir kau tidak akan senang mendengar makian adikku kan? Sebaiknya diam saja dulu, ya?” potong Ji Hyun masih memasang senyum termanisnya.

“Ayah akan mempercepat pertunanganmu dengan Jorge, Ji Eun.”

Emillio akhirnya membuka suaranya dan seketika membuat hati Ji Eun kembali terluka. Gadis itu hanya mampu menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya. Sedang Ji Hyun hanya bisa meremas tangan adiknya itu, berusaha meminta gadis itu tetap tenang dan tetap pada rencana mereka.

“Hanya itu?” tanya Ji Hyun singkat dan tanpa menunggu jawaban apapun dari Emillio, ia langsung menarik tangan Ji Eun dan pergi dari situ, “..oh ya, kurasa Ji Eun perlu mepertimbangkan iu dulu, ayah. Pertunangan bukanlah hal yang mudah. Tapi..aku punya firasat kurang baik soal itu. Karena aku takut jawabannya akan menjadi T-I-D-A-K.” Tambah Ji Hyum masih dengan senyum manisnya sebelum akhirnya berlalu dari situ.

“Kurasa paman harus sedikit lebih tegas.”

“Tidak Jorge. Entahlah, mungkin kau harus bisa menerima keputusan apa pun dari Ji Eun nanti.”

“Oh ayolah, paman. Anda itu ayahnya..tidak mungkin Ji Eun akan menolak pemikiran anda.”

“Tapi Ji Eun sudah terlanjur membenciku.”

“Paman terlalu pesimis. Cobalah optimis sesekali.”

Emillio coba menimbang. Meski mangangguk, namun tetap hatinya masih merasa ragu.

Kuharap  apa yang kulakukan ini semuanya benar, So Young…aku hanya ingin putri kita mendapat pria yang terbaik. Itu saja..

“Ayah sudah benar-benar terbuai pengaruh Jorge, oppa..apa yang harus aku lakukan sekarang?” Ji Eun terus mondar-mandir dengan tampang panik.

“Sesuai rencana kita tadi. Kita ikuti saja permainan Jorge. Sekalian, oppa mau liat sebesar apa Marc mencintaimu.”

“Maksud oppa?”

“Menguj. Kalau benar Marc begitu mencintaimu, dia tidak hanya nekat memanjat kekamarmu tapi juga akan nekat mempertahankanmu.”

Ji Eun makin tidak mengerti. Tapi mau tidak mau, Ji Eun akhirnya mengiyakan rencana kakaknya itu.

“Entahlah oppa..aku percaya saja pada oppa.”
“Tapi..kau yakin bisa melakukan ini?”

“Yaah..kita lihat saja oppa. Tapi kurasa ini akan sulit untukku.”
Ji Hyun menatap adiknya itu dengan senyum hangat, “..oppa tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu Ji Eun. Itulah yang bisa oppa janjikan padamu.”
“Terima kasih oppa.”
Gadis itu pun keluar dari kamar Ji Hyun dan kembali ke kamarnya. Eomma..apa ini akan berhasil?

* * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Marc tiba dirumahnya dengan hati yang berbunga-bunga. Bahkan Shanti pun sedikit ganjil melihat sikap pemuda itu.

“Anda dari mana tuan?”
“Mengambil jatah pagiku.” Balas Marc girang, “..oh ya, apa ada telepon dari Vale?” tanya Marc kembali bertampang serius.

“Tidak, tuan. Sudah lama tuan Vale tidak menghubungi anda.”

“Itulah yang aku takutkan, Shanti. Bisa saja Vale mengalihkan misi ini ketangan Jorge. Dan kalau benar sampai begitu, berarti Ji Eun dalam bahaya sekarang.”

“Saya bahkan lebih khawatir dengan Jorge sendiri. Dia tidak akan semudah itu mematuhi semua perintah Vale.”

“Maksudmu?”

“Jorge mungkin akan melakukan hal  yang lebih parah ketimbang dengan rencana Vale.”
“Benar juga. Untuk apa dia menghasut ayah Ji Eun sampai seperti itu kalau dia tidak sedang merencanakan apa pun.”
Otak Marc mulai berpikir keras. Mungkin ada maksud lain dibalik tindakan Jorge. Dan mungkin juga, bukan rencana Vale yang sedang ia jalankan.

Kalau rencananya sendiri yang dijalankan, kira-kira apa yang akan dia lakukan dengan Ji Eun.

“Menikah dengan nona Lee bukan hanya mewujudkan impiannya.  Tapi akanmembuatnya mendapatkan sedikit provit, tuan.” ujar Shanti tiba-tiba yang membuat Marc sedikit terkejut. Benar. Itulah sebabnya Jorge menghasut Emillio dan Vale agar dirinya dijauhkan dari Ji Eun. Otak Marc kembali berputar, bak kaset, otaknya memutarkan flashback kejadian menyangkut Jorge.

“Kalau anda benar-benar mencintai nona Ji Eun. Anda harus bertindak cepat.”

“Aku bingung Shanti. Emillio masih dalam pengaruh Jorge. Pastinya akan sulit.”

“Pikirkan dengan hati yang tenang, tuan. Saya yakin, jika anda benar-benar mencintai nona Ji Eun, anda tidak akan memikirkan sebesar apa resiko yang akan anda hadapi.”
Malam itu Marc akhirnya memberanikan dirinya datang kerumah Vale. Entah rencana apa yang sudah ia siapkan, namun yang jelas Marc tau Vale bisa membantunya. Mmarc sudah berdiri didepan pintu rumah Vale. Tangannya ragu-ragu terangkat untuk menekan bel rumah megah itu. Beberapa kali Marc menekan bel rumah itu, barulah pintu rumah terbuka.

“Marc? Ayahku sedang tidak dirumah.”
“Kira-kira dia kemana?”

“Entahlah, sudah beberapa hari ini dia tidak pulang. Dan aku juga tidak berani bertanya. Oh ya, masuk dulu..”

“Terima kasih.”

Marc melangkah masuk kedalam rumah itu, “..apa yang ingin kau bicarakan dengan ayahku? Masalah gadis itu?”

“Dan juga Jorge.”
“Maksudmu?”

“Laia..kau bisa membantuku?”

Gadis itu menatap Marc sebentar. Dari pijar mata pria  itu benar-benar menunjukan kalau dia mencintai gadis itu. Gadis yang seharusnya ia bunuh.

“Kau mencintai  gadis  itu?”

Marc mengangguk mantap dengan tatapan lurus yang meyakinkan, “..apa yang bisa ku lakukan untukmu?”

“Cukup kau bantu aku meyakinkan ayah Ji Eun akalu aku bukan pria jahat seperti yang selama ini ia pikirkan.”

“Bagaimana dengan Jorge? Apa aku juga harus membantumu menyingkirkannya?”

“Tidak perlu. Cukup kau yakinkan Emillio saja, dengan begitu Jorge akan tersingkir dengan sendirinya.”

Sekali lagi  Laia menatap kedalam manik mata coklat milik Marc. Meski sedikit perih dalah hati gadis itu, tapi ia tau kalau Marc bahagia dengan mencintai gadis itu.

“Aku akan berusaha semampuku, Marc. Aku janji.”

“Aku tau itu, Laia.”
Marc..andai kau bisa tau kalau aku sangat..sangat iri pada gadis itu. Aku mencintaimu..untuk itulah aku mau melakukan ini untukmu..asalkan kau bahagia..itu sudah cukup untukku..

* * * * * * * * * * * * * * * * *

[Bagaimana pertunanganmu?]

“Sesuai rencana, Vale. Kau tenang saja.”

[Bagus. Semakin cepat kau memiliki gadis itu, semakin mudah pula pekerjaanku nanti.]

“Sabar dulu,Vale. Masih banyak hal yang harus kita selesaikan.”

[Oh ya, jangan lupa singkirkan Marc. Dia sudah terlalu membuatku kecewa.]

“Tanpa kau minta pun akan aku lakukan.”

To Be Continued…

Sebelumnya author mau minta maaf..soalnya part 9 dan seterusnya akan author lanjutkan setelah UTS…dan terima kasih sudah mau membaca :D jangan lupa tinggalkan jejak kalian (COMMENT ata LIKE) dibawah ini atau bisa juga mention ke twitter author @LeaObiraga dan Facebook Page author (The Story Of Mine)..jangan jadi SILENT READER ya? Tolong tulisan author yang belum seberapa ini, dihargai.. Terima kasih sekali lagi :D

The Proposal To Love You (Preview)

BeFunky_TPTLY.jpg

Marc : “Tak akan ada yang tau cara cinta bekerja dalam hatimu..dan kepada siapa malaikat cinta melepas panahnya..masuk akal kah itu atau tidak..tidak ada yang tau..

Ji Eun : “Cinta? Hal semacam itu sama sekali belum ada dalam otakku. Kemajuan perusahaanku lah yang terpenting saat ini. Lupakan soal cinta. Toh, nantinya akan datang dengan sendirinya..”

Jorge : “Goal dalam kehidupanku adalah mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk gadis itu..siapa pun penghalangku..tak akan membuatku berhenti..”

“Sungguh kau akan melamar kerja diperusahaan itu, Marc? City’s Group? Kau pasti bercanda..”

“Lalu kau pikir? Aku hanya akan menjadi pengangguran tolol tak bergaji dinegeri orang ini? Mau makan apa kita nanti?”

“Yaah..kau benar. Tapi..kau yakin..City’s Group?”

“Kita lihat saja..”

* * * * * * * * * * * * * * * * * *

“Presdir Lee..ini data para pelamar..kami sudah seleksi semua dan menurut kami ini yang terbaik.”

“Oh ya, posisi Direktur Pemasaran masih kosong, bukan? Apa dari nama-nama ini ada yang bisa kau usulkan?”

“Ini dia..Presdir Lee..kurasa dia cocok dalam bagian pemasaran dan dari interview yang kami lakukan dengannya. Saya rasa dia cocok menempati posisi Direktur Pemasaran.”

“Apa kalian yakin?”

“Kami benar-benar yakin nona..”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

“Kenalkan, aku Jorge Lorenzo Direktur Engineering. Kalau aku tidak salah, kau Marc Marquez, kan? Direktur Pemasaran yang baru.”

“I-iya..senang berkenalan dengan anda.”

“Hmm..kau mendapat banyak pujian dari beberapa direktur bagian lainnya, dan kuharap kinerja kerjamu nanti sama dengan yang mereka ucapkan tentangmu.”

“Anda tidak perlu khawatir begitu. Kinerja kerjaku bisa saja melebihi kinerja kerjamu. Oh ya, kalau anda tidak keberatan aku harus pergi sekarang. Ini hari pertama kerjaku, jadi tidak boleh terlambat.”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 

“Kau tidak sedang bergurau kan, Marc? Iya. Presdir kita itu memang sangat luar biasa cantiknya, tapi tentu dia punya standar sendiri dalam memilih pria, kan? Lagi pula, yang mengincarnya bukan hanya kau saja..ada Direktur Jorge, Direktur Kim dan beberapa Presdir kolega yang masih muda dan tampan juga. Sainganmu benar-benar berat.”

“Apa diantara mereka sudah ada yang menjadi pacarnya? Belum kan? Kalau belum kenapa aku harus takut?”

“Terserah kau saja! Dasar kepala batu.”

Ditunggu ya, guys! Will post after ‘As Long As You Love Me’ and Mid Exam :D

As Long As You Love Me #7

image

Baru diangkat dari panci..selamat menikmati :D

 

 

* * * * * * * * * * * * * * * * *

 

 

Part 7 :

 

Marc masih menatap lama kearah dua orang pria yang baru saja memasuki rumahnya.

Kaget sudah jelas Marc rasakan, tapi rasa kagetnya tak lebih besar dari rasa kesalnya terhadap Jorge.

“Kembalikan putriku seka..”

“Kenapa ayah disini?”

Serempak Marc, Emillio dan Jorge berbalik kearah Ji Eun yang sudah berdiri tepat dibelakang Marc. Gadis itu menuruni anak tangga dan menghampiri ayahnya dengan tatapan dingin dan tak bersahabat.

“Bukannya aku sudah titip pesan pada oppa kalau aku tak akan mau pulang kerumah lagi?”

“Kau harusnya sadar dengan siapa kau tinggal sekarang ini, Ji Eun!”

“Aku tau dan toh, sampai detik ini aku masih baik-baik saja. Marc bahkan sudah berjanji akan menjagaku. Termasuk dari pria sialan yang mau ayah jodohkan denganku ini.”

Ji Eun mendelik tidak suka kearah Jorge. Namun entah pria itu mengerti arti tatapan Ji Eun atau tidak, ia tetap memasang senyum termanisnya untuk Ji Eun.

“Kau harus pulang nak..ayah mohon.”

“Tidak! Tidak kalau keputusan ayah masih sama untuk menjodohkanku dengan pria bajingan disamping ayah ini.”

“Aku punya nama sayang..”

“Bahkan untuk menyebut namamu perutku terasa mual.”

Mendengar desisan kesal Ji Eun membuat Jorge hening seketika. Ia sudah tau gadis itu tak akan pernah suka padanya. Tapi, baginya jika masih ada kesempatan tidak ada salahnya mencoba, bukan?

“Sebaiknya ayah pulang saja kalau keputusan ayah masih sama. Jangan harap aku mau memaafkan ayah karena sudah bertindak seenaknya padaku seperti ini. Dan tentang kematian eomma…aku sudah tau semuanya. Kenapa Vale mengincarku..dan apa cerita dibalik Vale menyewa Marc untuk membunuhku.”

Emillio tercekat mendengar tuturan Ji Eun. Kakinya tak terasa menapak tanah lagi. Jantungnya bertalu tak karuan. Satu pertanyaan dibenaknya, apa yang diketahui Ji Eun?

Jorge mencondongkan wajahnya mendekat ketelinga Emillio kemudian berbisik.

“Kita tidak akan bisa membawa Ji Eun pulang jika hanya dibujuk seperti ini. Butuh sedikit kekerasan ternyata.”  Hasut Jorge yang akhirnya membuat otak Emillio kembali bekerja.

“Javier..Hans…bawa Ji Eun masuk kedalam mobil sekarang.” Pinta Emillio  kepada kedua  pria berbadan kekar yang sedari tadi berdiri mengamat dari luar.

Dengan cepat Marc bertindak. Cara ini sudah salah pikirnya, dan segera pria itu menarik Ji Eun kebelakangnya, “..tuan, anda tidak bisa memaksa putri anda seperti ini. Kalau anda mau dimaafkan, harusnya anda berubah, bukannya mempertahankan kesalahan anda dan menganggapnya benar..”

“Jangan ikut campur kau, bajingan! Sudah cukup kau cuci otak putriku dengan semua omong kosongmu! Sekarang serahkan dia, atau aku akan mengambilnya sendiri dengan paksa.”

Marc masih kukuh mepertahankan Ji Eun dibalik tubuhnya. Bahkan tak segan Marc melwana kedua body guard yang tubuhnya jelas lebih besar dan lebih terlihat tangguh. Hingga akhirnya Marc lah yang tumbang dengan kondisi babak belur setelah menerima beberapa pukulan keras dari kedua body guard Emillio tadi.

Ji Eun terus berseru memanggil Marc. Gadis itu pun dengan segenap tenaganya berusaha melepaskan diri dari cengkraman dua orang body guard itu, namun apa daya, tenaga tubuh mungilnya tak lebih besar dari dua orang pria berotot itu.

“Kalau sampai terjadi sesuatu pada Marc. Seumur hidup, aku tidak akan memaafkan ayah!”

“Dia pantas mendapatkan itu! Pembunuh bayaran yang sudah dengan berani menculikmu dan mencuci otakmu..”

“Dan aku mencintainya ayah!”

Emillio tercekat mendengar seruan mantap dan lantang dari Ji Eun. Sorot tajam putrinya itu pun seakan ikut meneriaki perasaannya. Dan tentu saja, hal itu membuat Emillio makin geram.

“Buang jauh-jauh perasaanmu itu. Ayah sudah menjodohkanmu dengan Jorge. Dan ayah tidak mau kau berhubungan dengan pria macam pembunuh bayaran itu.”

“Ayah tidak punya hak menjodohkanku dengan pria busuk seperti Jorge. Dan lebih baik aku mati daripada harus dijodohkan dengan pria macam dia!”

“Ji Eun!” seru geram Emillio yang hampir saja melayangkan tamparan dipipi putrinya.

“Apa? Ayah mau menamparku? Tampar..ayo tampar..biar eomma tau bahwa dia sudah salah memilih pria dalam hidupnya!”

Ucapan Ji Eun membuat mata Emillio sedikit terbuka. Dan pikirannya terlempar pada kejadian malam itu, dimana dalam nafas-nafas terakhir mendiang istrinya, wanita itu menitip pesan pada Emillio..”..kumohon, jaga kedua anakku..sayangi mereka seperti yang kau lakukan padaku..meski mereka bukan anak kandungmu…kumohon sayangi mereka dan jangan biarkan mereka disakit…aku hanya minta itu darimu, Emillio..hanya itu..”

Perlahan Emillio menurunkan tangannya. Dan perjalanan mereka hanya diwarani suasana hening, sedang Ji Eun terus terisak.

Pikirannnya tak bisa lepas dari Marc, ‘apakah Marc baik-baik saja?’, ‘bagaimana mereka bisa bertemu lagi?’ dan masih banyak pertanyaan lain yang menggantung dihati Ji Eun.

Eomma..apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bahkan tak sempat bilang kalau aku juga mencintainya…apa yang akan terjadi padaku setelah ini, eomma…

* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Marc masih mencoba menahan rasa sakit ketika Shanti mulai menempel obat merah pada luka-luka diwajahnya. Pria itu meringis beberapa kali sampai akhirnya, yang terlihat diwajahnya ialah tekukan sedih dan putus asa.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Shanti? Apa semua ini sudah benar? Atau aku harus pergi dan mengambil Ji Eun kembali kemari?”

Shanti nampak menimbang sejenak. Sejujurnya semua hal yang terjadi tadi, bahkan tak sempat dipikirkan Shanti akan terjadi secepat ini.

Pria paruh baya itu hanya bisa menjawab pertanyaan Marc dengan senyuman sembari menepuk pelan pundak pemuda itu.

“Apa aku salah untuk menginginkannya terus tinggal disini? Apa dengan mencintainya, aku sudah melakukan dosa besar sehingga aku harus dihukum seperti ini?”

“Takdir kalian lah yang beda. Tapi..kalau anda tidak setuju dengan takdir yang seperti ini, buatlah takdir yang baru. Untuk saat ini, anda harus banyak berpikir dengan jernih terlebih dahulu sebelum bertindak. Masih ada satu hal yang anda lakukan sebelum mengarah pada nona Lee.”

“Maksudmu?”

“Jorge dann Vale. Selesaikan itu terlebih dahulu, baru kau tentukan, akan kemana takdir kalian.”

Shanti langsung bangkit dari ranjang Marc dan keluar dari kamar pria itu. Sedang Marc, pikirannya mulai perlahan mencerna maksud perkataan Shanti dan merenungkannya.

Apa bisa aku mengubah takdirku?

Malam sudah berganti dengan pagi. Namun seperti tak bertenaga, Marc merasa enggan menyambut mentari pagi ini.

Tubuhnya masih menggeliat diatas kasur, masih menolak untuk bangkit dari kasur empuk itu.

Bukan karen masih mengantuk atau sakit, namun Marc merasa paginya kurang sempurna tanpa gadis itu.

Ya. Gadis yang semalam dibawa pulang paksa oleh ayahnya dan Jorge.

“Tuan muda..sarapan anda sudah saya siapkan.” Seru Shanti dari balik pintu kamar Marc.

“Aku tidak lapar, Shanti. Nanti saja..”

Seakan mengerti dengan keadaan Marc. Shanti tak lagi mengganggu pemuda itu dan langsung turun kembali kedapur untuk membereskan meja makan.

Sama halnya yang terjadi dikediaman Ji Eun.

Gadis itu sama sekali tak mau keluar dari kamarnya. Pagi ini terasa asing baginya. Dan sinar mentari pagi terasa hangat lagi. Entah mungkin saja, karena hatinya mendingin. Tak ada lagi perasaan hangat yang biasa menggelitik hati Ji Eun.

Perasaan hangat yang menggelitik, ketika matanya bertemu dengan mata coklat milik Marc.

Serua pelayan rumah tangga dari balik pintu kamar Ji Eun tertupi dengan headphone yang menempel ditelinga Ji Eun. Alunan lagu yang mengalir lembut itu, mengiringi tiap tetes air matanya yang bergulir turun kepipinya.

 

Remember the first day when I saw your face
remember the first day when you smiled at me
you stepped to me and then you said to me
I was the woman you dreamed about

Ji Eun mulai teringat waktu pertama bertemu dengan Marc. Pria itu berbohong kalau dia saudara sepupu jauhnya yang bernama Daniel. Dimana saat itu, Marc tanpa sungkan mengajak Ji Eun masuk kerumahnya dan dengan berani menggoda Ji Eun.

Bahkan, senyum diwajah Marc tak pernah lelah menghias  wajah Marc.

Kenangan itu membuat Ji Eun sedikit tersenyum geli.

remember the first day when you called my house
remember the first day when you took me out
we had butterflies although we tried to hide it
and we both had a beautiful night
The way we held each others hand
the way we talked the way we laughed
it felt so good to find true love
I knew right then and there you were the one

 

Marc lah pria yang membuka matanya akan dunia ini. Menunjukan betapa indah dan menyenangkannya kebebasan. Marc jugalah yang memperkenalkannya pada perasaan hangat yang selalu menggelitik hatinya dikala mereka saling bersentuhan, atau saling menatap.

Cinta. Ya. Perasaan hangat dan selalu berhasil membuat Ji Eun terpukau itu bernama cinta.

Dan Marc lah yang memperkenalkan Ji Eun pada rasa cinta dan rasa percaya.

Remember the first day, the first day we kissed
remember the first day we had an argument
we apologized and then we compromised
and we haven’t argued since
remember the first day we stopped playing games
remember the first day you fell in love with me
it felt so good for you to say those words
cause I felt the same way too

Hangat bibir Marc masih belum hilang dari bibir Ji Eun. Mungkin karena ciuman yang Marc berikan semalam adalah ciuman tulus yang benar-benar berasal dari dalam hati pria itu. Perlahan ibu jari Ji Eun bergerak menyentuh bibirnya, dan air matanya kembali bergulir turun.

Pria itu. Ji Eun sangat merindukan pria itu, “..sedang apa kau sekarang, huh? Bagaimana keadaanmu? Kau sudah sarapan atau belum?”

“Aku mencintaimu, Ji Eun..”

I know that he loves me cause he told me so
I know that he loves me cause his feelings show
when he stares at me you see he cares for me
you see how he is so deep in love
I know that he loves me cause its obvious
I know that he loves me cause it’s me he trusts
and he’s missing me if he’s not kissing me
and when he looks at me his brown eyes tell his soul

Tangis Ji Eun kembali pecah pagi ini. Ia tak perduli akan seberap bengkak matanya nanti. Dan akan seberapa menyedihkan tampangnya nanti. Yang ia tau saat ini ialah, hatinya sakit. Dan ia butuh air mata ini untuk mengeluarkan segala rasa sakit yang sedari malam terus menghujam hatinya. Rasa sakit yang bahkan tak mengijinkannya untuk berisitirahat dimalam hari.

“Apa salahku, Tuhan? Tidak ada yang salah dengan perasaanku ini. Aku hanya mencintai seorang pria yang bisa mencintaiku dengan tulus. Tapi kenapa semuanya jadi seperti ini?”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Ji Hyun berjalan dengan langkah panjang penuh amarah ke ruang kerja ayahnya. Didalam sana, pria itu masih sibuk tertawa-tawa dengan Jorge. Membuat Ji Hyun makin geram dan kesal.

“Apa yang kau lakukan pada adikku, tuan Alzamora?”

Tawa kedua pria itu terhenti dan serempak keduanya berbalik menatap Ji Hyun.

“Kalian pikir, kalian bisa menyakiti adikku? Aku bersumpah, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Dan camkan ini, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyetujui keputusanmu, Emillio.”
Tanpa banyak berkata lagi, ataupun sekedar memberi kesempatan untuk Emillio membalas. Ji Hyun langsung berjalan meninggalkan ruangan itu masih dengan tampang kesal.

“Jangan pikirkan apa yang Ji Hyun katakan paman. Kau sudah melakukan hal yang baik. Mungkin Ji Eun dan Ji Hyun hanya butuh waktu untuk berpikir saja.”
“Kau pikir begitu?”

“Tentu saja.”

Hmph…aku sudah bilang Marc..jangan pernah main-main denganku…karena ku bukan Vale yang dengan mudahnya kau tipu..

Ji Eun masih menatap kosong kearah jendela kamarnya dengan lemas. Makanan yang tergeletak dimeja kamarnya sedikitpun tak disentuh.

Matanya sayu. Ia lemas. Belum ada asupan makanan atau pun minuman yang masuk ketubuhnya sejak pagi tadi.

Kabur. Ya, penglihatannya mulai kabur. Sampai-sampai ia mulai bisa berhalusinasi. Berhalusinasi tentang Marc yang muncul tiba-tiba didepan jendela kamarnya.

“Ji Eun..psst!” seru Marc setengah berbisik.

Halusinasi yang menyenangkan. Setidaknya itu tampak sangat nyata.

“Ji Eun..hei!” seru Marc lagi dan kali ini Ji Eun mulai sedikit tersadar. Matanya yang kabur sedikit ia kucak dan..

“Marc?” gadis itu hampir menjerit namun segera ia membungkam mulutnya sendiri dengan tangan, “..sedang apa kau?”

“Aku mau melihatmu. Aku merasa ganjil kalau tidak mengucapkan selamat pagi padamu.” Ujar Marc sembari mencoba masuk kedalam kamar Ji Eun, “..kau kenapa? Kau sakit?” tanya Marc sedikit panik. Namun, Ji Eun tak menjawab. Gadis itu masih mau memastikan kalau ini benar-benar bukan hanya halusinasinya saja.Perlahan tangan gadis itu menyusur pipi Marc, dan menariknya pelan.

“Selamat pagi..” bisiknya kemudian mengecup lembut bibir Marc.

Marc mulai membalas ciuman Ji Eun. Makin lama makin dalam dan hangat. Seperti  biasanya.

“Ji Eun..”

Suara itu otomatis melepas tautan antara bibir Marc dengan bibir Ji Eun

“Ayah?”

To Be Continued…

Sekian untuk part 7 :D dan terima kasih sudah membaca :D jangan lupa tinggalkan jejak (LIKE atau COMMENT) kalian dibawah ini atau diaccount Facebook author (Lea Ravensca Octavia Obiraga) dan account Twitter author (@LeaObiraga) jangan menjadi SILENT READER..

Thank you.. :D

As Long As You Love Me #6

image

Hai..hai semua *lambai-lambai anggun* setelah menimbang-nimbang..akhirnya author memutuskan untuk memosting FF ini meski pun si abang (Marc) tidak berhasil menyentuh garis finish alias jatuh L Tapi..sebenarnya author gk galau-galau amat sih, karena si abangnya sudah berhasil menjadi juara MotoGP 2014 *sorak*

Ok..tanpa banyak bicara lagi..langsung author persilahkan..Monggooo..Happy Reading :D

 

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

 

Part 6 :

Hari sudah gelap. Dan jalanan di Madrid sudah sepi. Tapi deru mesin sebuah mobil Ferrari masih memburu dijalanan. Yang akhirnya, mobil itu berlabu didepan sebuah rumah megah. Rumah itu nampak sangat gersang. Seperti tak ada tanda-tanda makhluk hidup disana. Pria pengendara mobil itu turun dari dalam Ferarri hitam miliknya kemudian tersenyum miris, “..sepertinya Vale membutuhkan pekerja untuk merenofasi rumahnya. Benar-benar memprihatinkan.” Gumamnya sebelum melangkah masuk kedalam rumah itu.

Perlahan tangan pria itu mendorong daun pintu berwarna putih itu dan sedikit mengintip kedalam.

“Tidak perlu mengendap-endap seperti pencuri begitu, Jorge.”

Jelas suara berat itu membuat Jorge sedikit tersentak kaget. Tubuhnya dengan refleks berbalik kearah pemilik suara itu.

“Hai, Vale. Maaf aku datang malam-malam begini. Kupikir kau sudah tidur tadi.”

“Kalau aku sudah tidur, kau mau apa?”

“Yaah..paling tidak aku bisa mengendap-endap lagi dan masuk kekamar putrimu, Laia.”
“Dan hanya jasadmu saja yang akan kubiarkan keluar dari rumah ini, Jorge. Tak usah basa basi lagi. Sebenarnya apa yang membuatmu datang kemari?”

Jorge tersenyum licik, “..bagaimana kita buat pertukaran, Vale? Pertukaran ini cukup adil menurutku.”

“Pertukaran? Pertukaran seperti apa?”

“Aku tau kau ingin putrimu bersanding dengan pria favoritmu itu. Dan aku juga tau, kau ingin melihat Emillio menderita seperti penderitaanmu sepeninggal Romano. Jadi..bagaimana kalau kita buat keduanya terwujud?”

“Maksudmu?”

“Biarkan Ji Eun aku yang urusi. Sedang Marc…buat dia menjadi milik putrimu. Aku yakin, apapun yang kau minta darinya pasti akan kau dapatkan. Termasuk hal seperti ini, Vale.”

Vale menimbang sejenak. Kembali ia pikirkan, yang Jorge katakan barusan memang benar. Tak pernah ada permintaan Vale yang ditolak Marc. Itulah sebabnya, Vale menjadikan Marc sebagai anak lelaki favoritnya. Mungkin pertukaran yang diajukan Jorge ini memang adil adanya.

“Baiklah. Akan kucoba. Tapi ini juga harus aku bicarakan dengan putriku, Laia.”

“Tanpa kau rundingkan dengan Laia pun, putri kesayanganmu itu pasti sangat setuju.”

“Dari mana kau tau?”

“Sesekali…lihatlah kedalam kamar putrimu. Atau..sedikit mengintip kedalam diary nya.”

Jorge berbalik dan meninggalkan rumah itu sembari tersenyum penuh kemenangan. Pikirnya rencanannya akan berjalan sangat lancar dan mulus.

Kali ini..kita lihat siapa yang akan memenangkan hati Ji Eun,  Marc…kau atau aku…

Pagi itu Vale memutuskan untuk bertandang kerumah Marc. Membuat Marc dan Ji Eun juga Shanti, sempat kelabakan dipagi itu.

Shanti dan Ji Eun sudah bersembunyi dibalik pintu rahasia dibalik conter minuman. Sedang Marc, pria itu sudah duduk dan mulai bercengkrama dengan Vale.

“Tumben kau datang sepagi ini kerumahku. Ada apa?” tanya Marc penasaran.

“Aku bukan orang yang suka basa basi Marc dan kau tau itu. Aku datang kemari untuk melakukan pertukaran yang adil denganmu.”

“Pertukaran yang adil? Maksudmu?”

Entah mengapa perasaan Marc terasa tidak enak. Hatinya jadi tidak tenang.

“Aku tidak akan menyuruhmu  membunuh gadis itu dengan satu syarat..”

“Syarat apa?”

“Nikahi putriku Laia. Dan gadis itu tidak akan ku apa-apakan.”

‘DEG!’ Meski ini kesempatan bagus. Tapi Marc juga tidak bisa mengabaikan perasaannya sendiri. Ia  mencintai Ji Eun dan bukan Laia. Laia sudah dianggap adik bagi Marc. Dan tak ada perasaan lebih yang Marc rasakan untuk Laia.

Lalu apa yang harus aku lakukan?

“Bagaimana Marc? Aku berjanji kau bisa memgang ucapanku.”

Marc kembali berpikir. Otak dan hatinya, benar-benar sepakat untuk tidak mengiyakan permintaan Vale itu.

“Maaf Vale. Aku tidak bisa.”
“Apa maksudmu tidak bisa, Marc? Kau mau gadis itu mati, hah?”

“Kenapa kau begitu ingin aku menerima pertukaranmu ini? Setidaknya kau punya alasan yang kuat untuk ini, bukan?”

“Tidak perlu alasan untuk itu Marc..”

“Apa karena Jorge?”

Ji Eun dalam persembunyiannya sedikit tersentak mendengar nama itu. Nama  pria yang paling dibencinya.

“Kenapa harus menuduh Jorge, Marc? Ini tidak..”

“Karena hanya Jorge yang bisa punya pemikiran selicik dan sekotor ini.”

“Jadi maksudmu permintaanku ini licik dan kotor, begitu?”

Marc tersenyum sinis, “..kau tau Vale..kenapa kau bertanya? Permintaanmu ini seperti  orang rendah yang tak memiliki harga diri, Vale. Kau mau tau apa yang akan dipikirkan Laia jika dia tau? Dia akan menangis dan malu mengakuimu. Jorge sengaja membuatmu memohon seperti ini. Dia ingin melihatmu seperti orang rendahan.”

Wajah Vale memerah. Ekspresinya kentara sedang menahan amarah. Entah siapa yang menjadi bahan amarahnya? Ucapan Marc kah? Atau Jorge?

Pria paruh baya itu berdiri dan langsun pergi begitu saja. Tak ada ucapan apapun. Entah siapa yang sedang menjadi bahan amarahnya, bahkan Marc sendiri pun tidak tau.

“Dia sudah pergi?”

Marc tak langsung menjawab pertanyaan Ji Eun. Pria itu masih menatap pintu rumahnya yang barus saja dilewati Vale dengan kesal.

Aku harus tetap berjaga-jaga. Dan Ji Eun…aku sudah berjanji untuk melindunginya. Jadi..apapun yang akan terjadi, aku akan tetap melindunginya..

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Jorge masih terngiang dengan setiap bahasa yang keluar dari mulut Vale malam itu. Tangannya masih sering terkepal kesal ketika mengingat siapa penyebab keluarnya kalimat-kalimat kasar dari mulut Vale semalam.

“Akan kupastikan kau mendapat balasannya, Marc. Dan tentu balasannya akan sangat setimpal dengan perlakukanmu padaku.”

Ponselnya berdering. Dan nama yang tertera dilayar datar ponsel itu membuat senyum licik mulai melengkung tipis dibibirnya.

“Halo, paman.”

[Apa sudah ada perkembangan?]

“Maafkan aku paman. Sejauh ini aku masih belum mendapatkan petunjuk apapun. Tapi..aku sudah tau, siapa yang bisa memberitahu aku petunjuk langsung itu.”

[Siapa?]

“Tentu putra sulung kesayangan paman itu.”

[Ji Hyun?]

“Siapa lagi orang yang bisa berkomunikasi dengan Ji Eun selain kakaknya?”

Beberapa saat tak terdengar suara dari seberang sana. Hingga akhirnya sambungan telepon pun terputus. Jorge mulai tersenyum puas. Setumpuk rencana jahat yang sempat lama terkubur akhirnya kembali memenuhi benaknya.

Tunggu pembalasanku, Marc…

Setelah Emillio mengakhiri percakapannya dengan Jorge. Segera pria paruh baya itu berjalan cepat menuju kamar Ji Hyun.

“Ji Hyun. Buka pintunya!” seru Emillio sembari mengetuk kasar pintu kamar Ji Hyun.

Berulang kali Emillio mengetuk dan berseru dari balik daun pintu kamar Ji Hyun, namun tak ada jawaban apapun dari si pemilik kamar. Sampai seorang pelayan rumah lewat dan melihat Emillio masih kukuh berdiri dan berseru didepan kamar Ji Hyun.

“Tuan..tuan muda sudah pergi dari semalam tadi. Dan sampai pagi ini pun dia belum pulang.”
“Pergi? Pergi kemana?”

“Saya tidak tau, tuan. Tuan muda juga tidak bilang apa-apa sebelum pergi.”

“Tolong bawakan untukku kunci cadangan kamar ini.”

Segera pelayan itu berlari kebawah dan mengambil kunci cadangan kamar Ji Hyun yang tersimpan dilaci penyimpanan kunci. Setelah mendapat yang diminta majikannya, pelayan itu kembali berlari keatas untuk menyerahkan kunci cadangan itu.

“Ini tuan..” ujar pelayan itu setibanya dihadapan Emillio.

Tanpa membuang waktu lagi, segera Emillio membuka pintu kamar putra sulungnya itu.

Kamar yang berantakan. Lemari yang kosong. Dan sepucuk surat tergeletak dimeja tidur, menunggu seseorang untuk membacanya.

Ayah…maaf…aku tidak pernah bermaksud  menjadi pembangkang…tapi, untuk keputusan ayah..aku tidak bisa menerimanya…aku hanya berusaha memenuhi janjiku pada eomma. Itu saja..maaf, aku pergi…

Emillio masih terpaku menatap surat ditangannya. Semakin lama, tangannya makin meremas kuat kertas itu sampai kusut bahkan sobek.

“Panggil beberapa penjaga. Dan kau..coba lihat apa mobil Ji Hyun ada digarasi atau tidak?”

“Baik tuan.”

Apa salah ayah, nak? Apa ayah terlalu ceroboh? Coba jelaskan salah ayah tanpa melarikan diri seperti ini?

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Ji Eun menatap kosong keluar jendela kamarnya. Pikirannya masih berputar soal kejadian beberapa hari yang lalu. Entah harus merasa sedih atau senang. Tapi, jauh didalam hatinya kecilnya sangat setuju dengan keputusan Marc waktu itu.

Meski nyawa Ji Eun makin terancam, tapi ia bahkan tak merasa takut sama sekali.

“Kau sedang apa?”

Suara Marc seketika memecah lamunan Ji Eun. Refleks gadis itu berbalik dan tersenyum kepada Marc, “..tidak. Hanya saja..kenapa kau menolak tawaran Vale waktu itu?”

Marc tau kalau akhirnya Ji Eun akan bertanya seperti ini. Dan tentu saja, Marc sudah mempersiapkan jawabannya.

Pria itu berjalan mendekat kearah Ji Eun dan berdiri tepat didepan gadis itu.

“Menurut tebakanmu..kira-kira apa yang kupikirkan saat itu?”

“Entahlah.  Aku tidak bisa menebak apapun.”
Marc tersenyum. Tatapannya lurus menatap dan mengunci gadis itu dalam matanya.

“Ada seorang gadis..menyebalkan. Tapi..tanpa gadis itu, aku merasa ada sesuatu yang kurang. Aku jatuh cinta padanya. Itulah sebabnya aku tidak bisa menerima tawaran Vale..”

“Siapa dia?”

Sura gadis itu bergetar ketika bertanya. Hatinya sedikit terluka. Namun, tetap mencoba mendengar cerita Marc. Bahkan Ji Eun sendiri tidak tau, kenapa dia begitu terluka..

“Gadis itu…menyebalkan. Menyebalkan dan…sangat cantik. Sangat cantik sampai-sampai aku tak bisa melepaskan pandanganku barang sedetikpun darinya sekarang ini.”

Atmosfir dalam kamar Ji Eun terasa hangat. Jantung gadis itu pun bertalu-talu tak karuan. Tatapan tajam Marc, benar-benar melumpuhkan otaknya. Tak ada yang mampu ia pikirkan, hanya Marc dan Marc. Ya, pria itu kini sudah memenuhi kepala Ji Eun.

Deru napas Marc, hangat menyapu wajah Ji Eun. Membuat Ji Eun dengan refleks memejamkan matanya. Dan perlahan, Marc mencondongkan wajahnya kearah wajah gadis itu. Ia berhenti sejenak dan tersenyum ketika jarak wajahnya dengan wajah Ji Eun hanya bersisa 5cm.

“Aku mencintaimu, Ji Eun.” Bisik Marc kemudian mengecup lembut bibir gadis itu.

Anehnya, Ji Eun tak memberontak atau pun marah. Bahkan gadis itu tak melayangkan tamparan dipipi Marc, seperti halnya dengan yang ia lakukan pada Jorge waktu semasa SMA dulu, ketika Jorge mencuri ciuman pertamanya.

Makin lama, ciuman Marc makin dalam dan Ji Eun yang awalnya belum berani membalas, akhirnya membuka mulutnya dan membalas setiap lumatan demi lumatan dari bibir Marc.

Pria itu melakukannya dengan sepenuh hati dan lembut. Membuat Ji Eun semakin nyaman dan tak berniat mengakhiri ini.

Suara ketukan pintu kamar Ji Eun lah yang akhirnya memisahkan mereka.

Sosok Shanti muncul dari balik pintu kamar gadis itu dengan wajah panik, “..nona..”

Tanpa menunggu kalimat lanjutan dari Shanti, segera Marc berlari kebawah dan melihat sebenarnya apa yang membuat Shanti sampai sepanik itu.

“Jorge?”

To Be Continued…

Kira-kira seperti itulah FF dari author..

Semoga berkesan..dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian (LIKE & COMMENT) dibawah atau bisa juga diaccount Facebook (Lea Ravensca Octavia Obiraga) dan Twitter (@LeaObiraga) milik author :D

Jangan menjadi SILENT READER, ya? Tolong hargai tulisan author yang masih kurang ini dengan kritik dan saran..

Terima kasih sudah membaca.. :D