As Long As You Love Me #7

image

Baru diangkat dari panci..selamat menikmati :D

 

 

* * * * * * * * * * * * * * * * *

 

 

Part 7 :

 

Marc masih menatap lama kearah dua orang pria yang baru saja memasuki rumahnya.

Kaget sudah jelas Marc rasakan, tapi rasa kagetnya tak lebih besar dari rasa kesalnya terhadap Jorge.

“Kembalikan putriku seka..”

“Kenapa ayah disini?”

Serempak Marc, Emillio dan Jorge berbalik kearah Ji Eun yang sudah berdiri tepat dibelakang Marc. Gadis itu menuruni anak tangga dan menghampiri ayahnya dengan tatapan dingin dan tak bersahabat.

“Bukannya aku sudah titip pesan pada oppa kalau aku tak akan mau pulang kerumah lagi?”

“Kau harusnya sadar dengan siapa kau tinggal sekarang ini, Ji Eun!”

“Aku tau dan toh, sampai detik ini aku masih baik-baik saja. Marc bahkan sudah berjanji akan menjagaku. Termasuk dari pria sialan yang mau ayah jodohkan denganku ini.”

Ji Eun mendelik tidak suka kearah Jorge. Namun entah pria itu mengerti arti tatapan Ji Eun atau tidak, ia tetap memasang senyum termanisnya untuk Ji Eun.

“Kau harus pulang nak..ayah mohon.”

“Tidak! Tidak kalau keputusan ayah masih sama untuk menjodohkanku dengan pria bajingan disamping ayah ini.”

“Aku punya nama sayang..”

“Bahkan untuk menyebut namamu perutku terasa mual.”

Mendengar desisan kesal Ji Eun membuat Jorge hening seketika. Ia sudah tau gadis itu tak akan pernah suka padanya. Tapi, baginya jika masih ada kesempatan tidak ada salahnya mencoba, bukan?

“Sebaiknya ayah pulang saja kalau keputusan ayah masih sama. Jangan harap aku mau memaafkan ayah karena sudah bertindak seenaknya padaku seperti ini. Dan tentang kematian eomma…aku sudah tau semuanya. Kenapa Vale mengincarku..dan apa cerita dibalik Vale menyewa Marc untuk membunuhku.”

Emillio tercekat mendengar tuturan Ji Eun. Kakinya tak terasa menapak tanah lagi. Jantungnya bertalu tak karuan. Satu pertanyaan dibenaknya, apa yang diketahui Ji Eun?

Jorge mencondongkan wajahnya mendekat ketelinga Emillio kemudian berbisik.

“Kita tidak akan bisa membawa Ji Eun pulang jika hanya dibujuk seperti ini. Butuh sedikit kekerasan ternyata.”  Hasut Jorge yang akhirnya membuat otak Emillio kembali bekerja.

“Javier..Hans…bawa Ji Eun masuk kedalam mobil sekarang.” Pinta Emillio  kepada kedua  pria berbadan kekar yang sedari tadi berdiri mengamat dari luar.

Dengan cepat Marc bertindak. Cara ini sudah salah pikirnya, dan segera pria itu menarik Ji Eun kebelakangnya, “..tuan, anda tidak bisa memaksa putri anda seperti ini. Kalau anda mau dimaafkan, harusnya anda berubah, bukannya mempertahankan kesalahan anda dan menganggapnya benar..”

“Jangan ikut campur kau, bajingan! Sudah cukup kau cuci otak putriku dengan semua omong kosongmu! Sekarang serahkan dia, atau aku akan mengambilnya sendiri dengan paksa.”

Marc masih kukuh mepertahankan Ji Eun dibalik tubuhnya. Bahkan tak segan Marc melwana kedua body guard yang tubuhnya jelas lebih besar dan lebih terlihat tangguh. Hingga akhirnya Marc lah yang tumbang dengan kondisi babak belur setelah menerima beberapa pukulan keras dari kedua body guard Emillio tadi.

Ji Eun terus berseru memanggil Marc. Gadis itu pun dengan segenap tenaganya berusaha melepaskan diri dari cengkraman dua orang body guard itu, namun apa daya, tenaga tubuh mungilnya tak lebih besar dari dua orang pria berotot itu.

“Kalau sampai terjadi sesuatu pada Marc. Seumur hidup, aku tidak akan memaafkan ayah!”

“Dia pantas mendapatkan itu! Pembunuh bayaran yang sudah dengan berani menculikmu dan mencuci otakmu..”

“Dan aku mencintainya ayah!”

Emillio tercekat mendengar seruan mantap dan lantang dari Ji Eun. Sorot tajam putrinya itu pun seakan ikut meneriaki perasaannya. Dan tentu saja, hal itu membuat Emillio makin geram.

“Buang jauh-jauh perasaanmu itu. Ayah sudah menjodohkanmu dengan Jorge. Dan ayah tidak mau kau berhubungan dengan pria macam pembunuh bayaran itu.”

“Ayah tidak punya hak menjodohkanku dengan pria busuk seperti Jorge. Dan lebih baik aku mati daripada harus dijodohkan dengan pria macam dia!”

“Ji Eun!” seru geram Emillio yang hampir saja melayangkan tamparan dipipi putrinya.

“Apa? Ayah mau menamparku? Tampar..ayo tampar..biar eomma tau bahwa dia sudah salah memilih pria dalam hidupnya!”

Ucapan Ji Eun membuat mata Emillio sedikit terbuka. Dan pikirannya terlempar pada kejadian malam itu, dimana dalam nafas-nafas terakhir mendiang istrinya, wanita itu menitip pesan pada Emillio..”..kumohon, jaga kedua anakku..sayangi mereka seperti yang kau lakukan padaku..meski mereka bukan anak kandungmu…kumohon sayangi mereka dan jangan biarkan mereka disakit…aku hanya minta itu darimu, Emillio..hanya itu..”

Perlahan Emillio menurunkan tangannya. Dan perjalanan mereka hanya diwarani suasana hening, sedang Ji Eun terus terisak.

Pikirannnya tak bisa lepas dari Marc, ‘apakah Marc baik-baik saja?’, ‘bagaimana mereka bisa bertemu lagi?’ dan masih banyak pertanyaan lain yang menggantung dihati Ji Eun.

Eomma..apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bahkan tak sempat bilang kalau aku juga mencintainya…apa yang akan terjadi padaku setelah ini, eomma…

* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Marc masih mencoba menahan rasa sakit ketika Shanti mulai menempel obat merah pada luka-luka diwajahnya. Pria itu meringis beberapa kali sampai akhirnya, yang terlihat diwajahnya ialah tekukan sedih dan putus asa.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Shanti? Apa semua ini sudah benar? Atau aku harus pergi dan mengambil Ji Eun kembali kemari?”

Shanti nampak menimbang sejenak. Sejujurnya semua hal yang terjadi tadi, bahkan tak sempat dipikirkan Shanti akan terjadi secepat ini.

Pria paruh baya itu hanya bisa menjawab pertanyaan Marc dengan senyuman sembari menepuk pelan pundak pemuda itu.

“Apa aku salah untuk menginginkannya terus tinggal disini? Apa dengan mencintainya, aku sudah melakukan dosa besar sehingga aku harus dihukum seperti ini?”

“Takdir kalian lah yang beda. Tapi..kalau anda tidak setuju dengan takdir yang seperti ini, buatlah takdir yang baru. Untuk saat ini, anda harus banyak berpikir dengan jernih terlebih dahulu sebelum bertindak. Masih ada satu hal yang anda lakukan sebelum mengarah pada nona Lee.”

“Maksudmu?”

“Jorge dann Vale. Selesaikan itu terlebih dahulu, baru kau tentukan, akan kemana takdir kalian.”

Shanti langsung bangkit dari ranjang Marc dan keluar dari kamar pria itu. Sedang Marc, pikirannya mulai perlahan mencerna maksud perkataan Shanti dan merenungkannya.

Apa bisa aku mengubah takdirku?

Malam sudah berganti dengan pagi. Namun seperti tak bertenaga, Marc merasa enggan menyambut mentari pagi ini.

Tubuhnya masih menggeliat diatas kasur, masih menolak untuk bangkit dari kasur empuk itu.

Bukan karen masih mengantuk atau sakit, namun Marc merasa paginya kurang sempurna tanpa gadis itu.

Ya. Gadis yang semalam dibawa pulang paksa oleh ayahnya dan Jorge.

“Tuan muda..sarapan anda sudah saya siapkan.” Seru Shanti dari balik pintu kamar Marc.

“Aku tidak lapar, Shanti. Nanti saja..”

Seakan mengerti dengan keadaan Marc. Shanti tak lagi mengganggu pemuda itu dan langsung turun kembali kedapur untuk membereskan meja makan.

Sama halnya yang terjadi dikediaman Ji Eun.

Gadis itu sama sekali tak mau keluar dari kamarnya. Pagi ini terasa asing baginya. Dan sinar mentari pagi terasa hangat lagi. Entah mungkin saja, karena hatinya mendingin. Tak ada lagi perasaan hangat yang biasa menggelitik hati Ji Eun.

Perasaan hangat yang menggelitik, ketika matanya bertemu dengan mata coklat milik Marc.

Serua pelayan rumah tangga dari balik pintu kamar Ji Eun tertupi dengan headphone yang menempel ditelinga Ji Eun. Alunan lagu yang mengalir lembut itu, mengiringi tiap tetes air matanya yang bergulir turun kepipinya.

 

Remember the first day when I saw your face
remember the first day when you smiled at me
you stepped to me and then you said to me
I was the woman you dreamed about

Ji Eun mulai teringat waktu pertama bertemu dengan Marc. Pria itu berbohong kalau dia saudara sepupu jauhnya yang bernama Daniel. Dimana saat itu, Marc tanpa sungkan mengajak Ji Eun masuk kerumahnya dan dengan berani menggoda Ji Eun.

Bahkan, senyum diwajah Marc tak pernah lelah menghias  wajah Marc.

Kenangan itu membuat Ji Eun sedikit tersenyum geli.

remember the first day when you called my house
remember the first day when you took me out
we had butterflies although we tried to hide it
and we both had a beautiful night
The way we held each others hand
the way we talked the way we laughed
it felt so good to find true love
I knew right then and there you were the one

 

Marc lah pria yang membuka matanya akan dunia ini. Menunjukan betapa indah dan menyenangkannya kebebasan. Marc jugalah yang memperkenalkannya pada perasaan hangat yang selalu menggelitik hatinya dikala mereka saling bersentuhan, atau saling menatap.

Cinta. Ya. Perasaan hangat dan selalu berhasil membuat Ji Eun terpukau itu bernama cinta.

Dan Marc lah yang memperkenalkan Ji Eun pada rasa cinta dan rasa percaya.

Remember the first day, the first day we kissed
remember the first day we had an argument
we apologized and then we compromised
and we haven’t argued since
remember the first day we stopped playing games
remember the first day you fell in love with me
it felt so good for you to say those words
cause I felt the same way too

Hangat bibir Marc masih belum hilang dari bibir Ji Eun. Mungkin karena ciuman yang Marc berikan semalam adalah ciuman tulus yang benar-benar berasal dari dalam hati pria itu. Perlahan ibu jari Ji Eun bergerak menyentuh bibirnya, dan air matanya kembali bergulir turun.

Pria itu. Ji Eun sangat merindukan pria itu, “..sedang apa kau sekarang, huh? Bagaimana keadaanmu? Kau sudah sarapan atau belum?”

“Aku mencintaimu, Ji Eun..”

I know that he loves me cause he told me so
I know that he loves me cause his feelings show
when he stares at me you see he cares for me
you see how he is so deep in love
I know that he loves me cause its obvious
I know that he loves me cause it’s me he trusts
and he’s missing me if he’s not kissing me
and when he looks at me his brown eyes tell his soul

Tangis Ji Eun kembali pecah pagi ini. Ia tak perduli akan seberap bengkak matanya nanti. Dan akan seberapa menyedihkan tampangnya nanti. Yang ia tau saat ini ialah, hatinya sakit. Dan ia butuh air mata ini untuk mengeluarkan segala rasa sakit yang sedari malam terus menghujam hatinya. Rasa sakit yang bahkan tak mengijinkannya untuk berisitirahat dimalam hari.

“Apa salahku, Tuhan? Tidak ada yang salah dengan perasaanku ini. Aku hanya mencintai seorang pria yang bisa mencintaiku dengan tulus. Tapi kenapa semuanya jadi seperti ini?”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Ji Hyun berjalan dengan langkah panjang penuh amarah ke ruang kerja ayahnya. Didalam sana, pria itu masih sibuk tertawa-tawa dengan Jorge. Membuat Ji Hyun makin geram dan kesal.

“Apa yang kau lakukan pada adikku, tuan Alzamora?”

Tawa kedua pria itu terhenti dan serempak keduanya berbalik menatap Ji Hyun.

“Kalian pikir, kalian bisa menyakiti adikku? Aku bersumpah, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Dan camkan ini, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyetujui keputusanmu, Emillio.”
Tanpa banyak berkata lagi, ataupun sekedar memberi kesempatan untuk Emillio membalas. Ji Hyun langsung berjalan meninggalkan ruangan itu masih dengan tampang kesal.

“Jangan pikirkan apa yang Ji Hyun katakan paman. Kau sudah melakukan hal yang baik. Mungkin Ji Eun dan Ji Hyun hanya butuh waktu untuk berpikir saja.”
“Kau pikir begitu?”

“Tentu saja.”

Hmph…aku sudah bilang Marc..jangan pernah main-main denganku…karena ku bukan Vale yang dengan mudahnya kau tipu..

Ji Eun masih menatap kosong kearah jendela kamarnya dengan lemas. Makanan yang tergeletak dimeja kamarnya sedikitpun tak disentuh.

Matanya sayu. Ia lemas. Belum ada asupan makanan atau pun minuman yang masuk ketubuhnya sejak pagi tadi.

Kabur. Ya, penglihatannya mulai kabur. Sampai-sampai ia mulai bisa berhalusinasi. Berhalusinasi tentang Marc yang muncul tiba-tiba didepan jendela kamarnya.

“Ji Eun..psst!” seru Marc setengah berbisik.

Halusinasi yang menyenangkan. Setidaknya itu tampak sangat nyata.

“Ji Eun..hei!” seru Marc lagi dan kali ini Ji Eun mulai sedikit tersadar. Matanya yang kabur sedikit ia kucak dan..

“Marc?” gadis itu hampir menjerit namun segera ia membungkam mulutnya sendiri dengan tangan, “..sedang apa kau?”

“Aku mau melihatmu. Aku merasa ganjil kalau tidak mengucapkan selamat pagi padamu.” Ujar Marc sembari mencoba masuk kedalam kamar Ji Eun, “..kau kenapa? Kau sakit?” tanya Marc sedikit panik. Namun, Ji Eun tak menjawab. Gadis itu masih mau memastikan kalau ini benar-benar bukan hanya halusinasinya saja.Perlahan tangan gadis itu menyusur pipi Marc, dan menariknya pelan.

“Selamat pagi..” bisiknya kemudian mengecup lembut bibir Marc.

Marc mulai membalas ciuman Ji Eun. Makin lama makin dalam dan hangat. Seperti  biasanya.

“Ji Eun..”

Suara itu otomatis melepas tautan antara bibir Marc dengan bibir Ji Eun

“Ayah?”

To Be Continued…

Sekian untuk part 7 :D dan terima kasih sudah membaca :D jangan lupa tinggalkan jejak (LIKE atau COMMENT) kalian dibawah ini atau diaccount Facebook author (Lea Ravensca Octavia Obiraga) dan account Twitter author (@LeaObiraga) jangan menjadi SILENT READER..

Thank you.. :D

As Long As You Love Me #6

image

Hai..hai semua *lambai-lambai anggun* setelah menimbang-nimbang..akhirnya author memutuskan untuk memosting FF ini meski pun si abang (Marc) tidak berhasil menyentuh garis finish alias jatuh L Tapi..sebenarnya author gk galau-galau amat sih, karena si abangnya sudah berhasil menjadi juara MotoGP 2014 *sorak*

Ok..tanpa banyak bicara lagi..langsung author persilahkan..Monggooo..Happy Reading :D

 

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

 

Part 6 :

Hari sudah gelap. Dan jalanan di Madrid sudah sepi. Tapi deru mesin sebuah mobil Ferrari masih memburu dijalanan. Yang akhirnya, mobil itu berlabu didepan sebuah rumah megah. Rumah itu nampak sangat gersang. Seperti tak ada tanda-tanda makhluk hidup disana. Pria pengendara mobil itu turun dari dalam Ferarri hitam miliknya kemudian tersenyum miris, “..sepertinya Vale membutuhkan pekerja untuk merenofasi rumahnya. Benar-benar memprihatinkan.” Gumamnya sebelum melangkah masuk kedalam rumah itu.

Perlahan tangan pria itu mendorong daun pintu berwarna putih itu dan sedikit mengintip kedalam.

“Tidak perlu mengendap-endap seperti pencuri begitu, Jorge.”

Jelas suara berat itu membuat Jorge sedikit tersentak kaget. Tubuhnya dengan refleks berbalik kearah pemilik suara itu.

“Hai, Vale. Maaf aku datang malam-malam begini. Kupikir kau sudah tidur tadi.”

“Kalau aku sudah tidur, kau mau apa?”

“Yaah..paling tidak aku bisa mengendap-endap lagi dan masuk kekamar putrimu, Laia.”
“Dan hanya jasadmu saja yang akan kubiarkan keluar dari rumah ini, Jorge. Tak usah basa basi lagi. Sebenarnya apa yang membuatmu datang kemari?”

Jorge tersenyum licik, “..bagaimana kita buat pertukaran, Vale? Pertukaran ini cukup adil menurutku.”

“Pertukaran? Pertukaran seperti apa?”

“Aku tau kau ingin putrimu bersanding dengan pria favoritmu itu. Dan aku juga tau, kau ingin melihat Emillio menderita seperti penderitaanmu sepeninggal Romano. Jadi..bagaimana kalau kita buat keduanya terwujud?”

“Maksudmu?”

“Biarkan Ji Eun aku yang urusi. Sedang Marc…buat dia menjadi milik putrimu. Aku yakin, apapun yang kau minta darinya pasti akan kau dapatkan. Termasuk hal seperti ini, Vale.”

Vale menimbang sejenak. Kembali ia pikirkan, yang Jorge katakan barusan memang benar. Tak pernah ada permintaan Vale yang ditolak Marc. Itulah sebabnya, Vale menjadikan Marc sebagai anak lelaki favoritnya. Mungkin pertukaran yang diajukan Jorge ini memang adil adanya.

“Baiklah. Akan kucoba. Tapi ini juga harus aku bicarakan dengan putriku, Laia.”

“Tanpa kau rundingkan dengan Laia pun, putri kesayanganmu itu pasti sangat setuju.”

“Dari mana kau tau?”

“Sesekali…lihatlah kedalam kamar putrimu. Atau..sedikit mengintip kedalam diary nya.”

Jorge berbalik dan meninggalkan rumah itu sembari tersenyum penuh kemenangan. Pikirnya rencanannya akan berjalan sangat lancar dan mulus.

Kali ini..kita lihat siapa yang akan memenangkan hati Ji Eun,  Marc…kau atau aku…

Pagi itu Vale memutuskan untuk bertandang kerumah Marc. Membuat Marc dan Ji Eun juga Shanti, sempat kelabakan dipagi itu.

Shanti dan Ji Eun sudah bersembunyi dibalik pintu rahasia dibalik conter minuman. Sedang Marc, pria itu sudah duduk dan mulai bercengkrama dengan Vale.

“Tumben kau datang sepagi ini kerumahku. Ada apa?” tanya Marc penasaran.

“Aku bukan orang yang suka basa basi Marc dan kau tau itu. Aku datang kemari untuk melakukan pertukaran yang adil denganmu.”

“Pertukaran yang adil? Maksudmu?”

Entah mengapa perasaan Marc terasa tidak enak. Hatinya jadi tidak tenang.

“Aku tidak akan menyuruhmu  membunuh gadis itu dengan satu syarat..”

“Syarat apa?”

“Nikahi putriku Laia. Dan gadis itu tidak akan ku apa-apakan.”

‘DEG!’ Meski ini kesempatan bagus. Tapi Marc juga tidak bisa mengabaikan perasaannya sendiri. Ia  mencintai Ji Eun dan bukan Laia. Laia sudah dianggap adik bagi Marc. Dan tak ada perasaan lebih yang Marc rasakan untuk Laia.

Lalu apa yang harus aku lakukan?

“Bagaimana Marc? Aku berjanji kau bisa memgang ucapanku.”

Marc kembali berpikir. Otak dan hatinya, benar-benar sepakat untuk tidak mengiyakan permintaan Vale itu.

“Maaf Vale. Aku tidak bisa.”
“Apa maksudmu tidak bisa, Marc? Kau mau gadis itu mati, hah?”

“Kenapa kau begitu ingin aku menerima pertukaranmu ini? Setidaknya kau punya alasan yang kuat untuk ini, bukan?”

“Tidak perlu alasan untuk itu Marc..”

“Apa karena Jorge?”

Ji Eun dalam persembunyiannya sedikit tersentak mendengar nama itu. Nama  pria yang paling dibencinya.

“Kenapa harus menuduh Jorge, Marc? Ini tidak..”

“Karena hanya Jorge yang bisa punya pemikiran selicik dan sekotor ini.”

“Jadi maksudmu permintaanku ini licik dan kotor, begitu?”

Marc tersenyum sinis, “..kau tau Vale..kenapa kau bertanya? Permintaanmu ini seperti  orang rendah yang tak memiliki harga diri, Vale. Kau mau tau apa yang akan dipikirkan Laia jika dia tau? Dia akan menangis dan malu mengakuimu. Jorge sengaja membuatmu memohon seperti ini. Dia ingin melihatmu seperti orang rendahan.”

Wajah Vale memerah. Ekspresinya kentara sedang menahan amarah. Entah siapa yang menjadi bahan amarahnya? Ucapan Marc kah? Atau Jorge?

Pria paruh baya itu berdiri dan langsun pergi begitu saja. Tak ada ucapan apapun. Entah siapa yang sedang menjadi bahan amarahnya, bahkan Marc sendiri pun tidak tau.

“Dia sudah pergi?”

Marc tak langsung menjawab pertanyaan Ji Eun. Pria itu masih menatap pintu rumahnya yang barus saja dilewati Vale dengan kesal.

Aku harus tetap berjaga-jaga. Dan Ji Eun…aku sudah berjanji untuk melindunginya. Jadi..apapun yang akan terjadi, aku akan tetap melindunginya..

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Jorge masih terngiang dengan setiap bahasa yang keluar dari mulut Vale malam itu. Tangannya masih sering terkepal kesal ketika mengingat siapa penyebab keluarnya kalimat-kalimat kasar dari mulut Vale semalam.

“Akan kupastikan kau mendapat balasannya, Marc. Dan tentu balasannya akan sangat setimpal dengan perlakukanmu padaku.”

Ponselnya berdering. Dan nama yang tertera dilayar datar ponsel itu membuat senyum licik mulai melengkung tipis dibibirnya.

“Halo, paman.”

[Apa sudah ada perkembangan?]

“Maafkan aku paman. Sejauh ini aku masih belum mendapatkan petunjuk apapun. Tapi..aku sudah tau, siapa yang bisa memberitahu aku petunjuk langsung itu.”

[Siapa?]

“Tentu putra sulung kesayangan paman itu.”

[Ji Hyun?]

“Siapa lagi orang yang bisa berkomunikasi dengan Ji Eun selain kakaknya?”

Beberapa saat tak terdengar suara dari seberang sana. Hingga akhirnya sambungan telepon pun terputus. Jorge mulai tersenyum puas. Setumpuk rencana jahat yang sempat lama terkubur akhirnya kembali memenuhi benaknya.

Tunggu pembalasanku, Marc…

Setelah Emillio mengakhiri percakapannya dengan Jorge. Segera pria paruh baya itu berjalan cepat menuju kamar Ji Hyun.

“Ji Hyun. Buka pintunya!” seru Emillio sembari mengetuk kasar pintu kamar Ji Hyun.

Berulang kali Emillio mengetuk dan berseru dari balik daun pintu kamar Ji Hyun, namun tak ada jawaban apapun dari si pemilik kamar. Sampai seorang pelayan rumah lewat dan melihat Emillio masih kukuh berdiri dan berseru didepan kamar Ji Hyun.

“Tuan..tuan muda sudah pergi dari semalam tadi. Dan sampai pagi ini pun dia belum pulang.”
“Pergi? Pergi kemana?”

“Saya tidak tau, tuan. Tuan muda juga tidak bilang apa-apa sebelum pergi.”

“Tolong bawakan untukku kunci cadangan kamar ini.”

Segera pelayan itu berlari kebawah dan mengambil kunci cadangan kamar Ji Hyun yang tersimpan dilaci penyimpanan kunci. Setelah mendapat yang diminta majikannya, pelayan itu kembali berlari keatas untuk menyerahkan kunci cadangan itu.

“Ini tuan..” ujar pelayan itu setibanya dihadapan Emillio.

Tanpa membuang waktu lagi, segera Emillio membuka pintu kamar putra sulungnya itu.

Kamar yang berantakan. Lemari yang kosong. Dan sepucuk surat tergeletak dimeja tidur, menunggu seseorang untuk membacanya.

Ayah…maaf…aku tidak pernah bermaksud  menjadi pembangkang…tapi, untuk keputusan ayah..aku tidak bisa menerimanya…aku hanya berusaha memenuhi janjiku pada eomma. Itu saja..maaf, aku pergi…

Emillio masih terpaku menatap surat ditangannya. Semakin lama, tangannya makin meremas kuat kertas itu sampai kusut bahkan sobek.

“Panggil beberapa penjaga. Dan kau..coba lihat apa mobil Ji Hyun ada digarasi atau tidak?”

“Baik tuan.”

Apa salah ayah, nak? Apa ayah terlalu ceroboh? Coba jelaskan salah ayah tanpa melarikan diri seperti ini?

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Ji Eun menatap kosong keluar jendela kamarnya. Pikirannya masih berputar soal kejadian beberapa hari yang lalu. Entah harus merasa sedih atau senang. Tapi, jauh didalam hatinya kecilnya sangat setuju dengan keputusan Marc waktu itu.

Meski nyawa Ji Eun makin terancam, tapi ia bahkan tak merasa takut sama sekali.

“Kau sedang apa?”

Suara Marc seketika memecah lamunan Ji Eun. Refleks gadis itu berbalik dan tersenyum kepada Marc, “..tidak. Hanya saja..kenapa kau menolak tawaran Vale waktu itu?”

Marc tau kalau akhirnya Ji Eun akan bertanya seperti ini. Dan tentu saja, Marc sudah mempersiapkan jawabannya.

Pria itu berjalan mendekat kearah Ji Eun dan berdiri tepat didepan gadis itu.

“Menurut tebakanmu..kira-kira apa yang kupikirkan saat itu?”

“Entahlah.  Aku tidak bisa menebak apapun.”
Marc tersenyum. Tatapannya lurus menatap dan mengunci gadis itu dalam matanya.

“Ada seorang gadis..menyebalkan. Tapi..tanpa gadis itu, aku merasa ada sesuatu yang kurang. Aku jatuh cinta padanya. Itulah sebabnya aku tidak bisa menerima tawaran Vale..”

“Siapa dia?”

Sura gadis itu bergetar ketika bertanya. Hatinya sedikit terluka. Namun, tetap mencoba mendengar cerita Marc. Bahkan Ji Eun sendiri tidak tau, kenapa dia begitu terluka..

“Gadis itu…menyebalkan. Menyebalkan dan…sangat cantik. Sangat cantik sampai-sampai aku tak bisa melepaskan pandanganku barang sedetikpun darinya sekarang ini.”

Atmosfir dalam kamar Ji Eun terasa hangat. Jantung gadis itu pun bertalu-talu tak karuan. Tatapan tajam Marc, benar-benar melumpuhkan otaknya. Tak ada yang mampu ia pikirkan, hanya Marc dan Marc. Ya, pria itu kini sudah memenuhi kepala Ji Eun.

Deru napas Marc, hangat menyapu wajah Ji Eun. Membuat Ji Eun dengan refleks memejamkan matanya. Dan perlahan, Marc mencondongkan wajahnya kearah wajah gadis itu. Ia berhenti sejenak dan tersenyum ketika jarak wajahnya dengan wajah Ji Eun hanya bersisa 5cm.

“Aku mencintaimu, Ji Eun.” Bisik Marc kemudian mengecup lembut bibir gadis itu.

Anehnya, Ji Eun tak memberontak atau pun marah. Bahkan gadis itu tak melayangkan tamparan dipipi Marc, seperti halnya dengan yang ia lakukan pada Jorge waktu semasa SMA dulu, ketika Jorge mencuri ciuman pertamanya.

Makin lama, ciuman Marc makin dalam dan Ji Eun yang awalnya belum berani membalas, akhirnya membuka mulutnya dan membalas setiap lumatan demi lumatan dari bibir Marc.

Pria itu melakukannya dengan sepenuh hati dan lembut. Membuat Ji Eun semakin nyaman dan tak berniat mengakhiri ini.

Suara ketukan pintu kamar Ji Eun lah yang akhirnya memisahkan mereka.

Sosok Shanti muncul dari balik pintu kamar gadis itu dengan wajah panik, “..nona..”

Tanpa menunggu kalimat lanjutan dari Shanti, segera Marc berlari kebawah dan melihat sebenarnya apa yang membuat Shanti sampai sepanik itu.

“Jorge?”

To Be Continued…

Kira-kira seperti itulah FF dari author..

Semoga berkesan..dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian (LIKE & COMMENT) dibawah atau bisa juga diaccount Facebook (Lea Ravensca Octavia Obiraga) dan Twitter (@LeaObiraga) milik author :D

Jangan menjadi SILENT READER, ya? Tolong hargai tulisan author yang masih kurang ini dengan kritik dan saran..

Terima kasih sudah membaca.. :D

As Long As You Love Me #5

image

Maaf kalau author kelamaan posting Part 5 ini..jadi, tanpa basa-basi lagi..

Happy Reading, guys :D

 

* * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Part 5 :

“Bawa putriku pulang bagaimana pun caranya. Ingat! Jangan buat aku kecewa.”

“Bagaimana dengan pria itu?”

“Bunuh dia bila perlu jika dia menolak mengembalikan putriku.”
Hanya dengan mengangguk pria muda itu mengiyakan perintah yang diberikan Emillio padanya. Senyum licik melengkung tipis dibibirnya. Dan setelah merasa semuanya sudah selesai, ia keluar dengan langkah mantap dari ruang kerja Emillio.

Diluar sana, tepat diambang pintu ruangan itu, Ji Hyun berdiri sembari melipat tangannya didepan dada, “..jangan terlalu bermimpi banyak Jorge. Tentu kau masih ingat seberapa keras tamparan adikku waktu itu, kan?”

“Bagaimana kalau kita bertaruh, kakak ipar?”

“Tak perlu bertaruh pun kau sudah pasti kalah.”

“Kalau begitu kita lihat saja, Ji Hyun. Kita lihat saja.”
Jorge melanjutkan langkahnya, keluar dari  rumah megah itu. Dulu kau memang pernah menamparku, tapi tidak untuk kali ini, Ji Eun. Aku akan membuatmu bertekuk lutut dan menjadikanmu ratuku. Itu sudah pasti.

“Kenapa ayah percayakan misi ini pada orang sepicik Jorge?”

“Dialah yang akan ayah jodohkan dengan adikmu. Dan ayah tau apa yang ayah lakukan?”

“Jangan buat Ji Eun semakin membencimu, ayah. Kau sendiri tau sebenci apa Ji Eun pada Jorge. Dan kau juga tau kalau Ji Eun tidak akan pernah menerima perjodohan seperti itu.”

“Jangan membantah ayah, Ji Hyun. Ini yang terbaik untuk adikmu..”

“Untuk Ji Eun? Atau untuk ayah?”

Sejenak Ji Hyun menatap ayahnya dengan tatapan dingin kemudian berbalik dan berjalan keluar dengan langkah kesal dari ruangan pria paruh baya itu.

Ayah sudah keterlaluan! Benar-benar keterlaluan!

* * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Ji Hyun memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah alamat yang baru saja didapatnya dari seseorang. Apa benar yang mereka bilang? Kau masih baik-baik saja, kan?

Tak berapa lama, mobil Ji Hyun berhenti tepat didepan sebuah pagar rumah nan besar dan tinggi. Dengan hati-hati Ji Hyun melangkah masuk kedalam rumah itu. Ia nampak sangat berhati-hati, takut-takut sang pemilik rumah tau akan kedatangannya kemari.

Jantung Ji Hyun makin memompa tak karuan ketika dirinya sudah berdiri tepat didepan pintu rumah megah itu. Tangannya yang bergetar, terangkat dan menekan tombol bel rumah yang ada disamping pintu itu.

Pintu itu pun terbuka, sebuah suara ceria terdengar dari dalam sana yang bersamaan dengan terbukanya daun pintu itu.

“Oppa?!”

“Ji Eun..kau?”

“Oppa sedang apa disini? Dan dari mana oppa..”

“Ayo kita segera pergi dari  sini, Ji Eun. Pria yang bersamamu sekarang ini adalah seorang..”

“Pembunuh bayaran..aku tau itu, oppa. Tapi dia baik..dia tidak berniat menjahatiku. Dia malah berusaha melindungiku. Oppa tenang dan pulanglah. Dan bilang pada ayah, sampai kapan pun aku tidak akan mau pulang kerumah.”

“Kenapa? Dan darimana kau tau kalau dia tak akan menjahatimu?”

“Karena aku percaya padanya, oppa.”

Ji Hyun tersentak. Baru kali ini Ji Hyun mendengar adiknya berkata percaya pada seseorang yang bahkan belum begitu ia kenal. Ada yang mencurigakan disini. Bahkan Ji Eun dapat melihat semburat merah merona dipipi adiknya ketika gadis itu menyerukan rasa percaya pada pria yanng adalah pembunuh bayaran itu.

Ji Hyun tersenyum, “..kalau kau begitu percaya padanya dan kau yakin dia bisa melindungimu…oppa pun akan berusaha percaya padanya. Tapi..”

“Tapi apa?”

“Kalau dia menyakitimu, jangan harap oppa akan melepaskannya begitu saja sebelum membuatnya merasakan beberapa pukulan dari tangan oppa.”
Ji Eun mengernyit tak mengerti, “..suatu saat kau akan mengerti, Ji Eun.”
Senyum Ji Hyun berganti ekspresi datar ketika dilihatnya pesan yang baru saja masuk kedalam ponselnya.

“Ada apa?”

“Boleh oppa bicara dengan Marc?”

“Darimana oppa tau na..”

“Biarkan oppa bicara padanya. Ini penting..”
Dan tanpa harus bertanya lagi, Ji Eun mempersilahkan kakaknya masuk sedang gadis itu langsung berlari cepat kekamar Marc.

Tak berapa lama, Ji Eun sudah turun dari anak-anak tangga itu bersama seorang pria yang nampak sebaya dengan Ji Eun.

Belum sampai Marc pada anak tangga terakhir, suara datar bernada serius meluncur dari mulut Ji Hyun, “..bisa aku bicara sebentar dengamu. Kita bicara empat mata saja.”

Ji Eun mengerti dengan maksud kakaknya. Segera gadis itu berlari kecil keaarah dapur dimana Shanti sibuk membereskan meja makan.

“Apa yang mau kau bicarakan denganku?”

“Jorge. Pria itu akan datang kemari dan menyakiti adikku. Aku tau dia salah satu dari kalian, makanya aku mohon satu hal padamu. Lindungi adikku, bagaimana pun caranya.”

“Tanpa kau minta pun akan aku lakukan.”
Senyum puas tergambar jelas dibibir Ji Hyun. Merasa tak ada yang perlu ia khawatirkan lagi, segera Ji Hyun berpamitan dengan Marc dan pulang.

Eomma..mungkin ini terdengar gila, dan jika kau disini mungkin kau akan menghukumku..tapi, adikku..dia sudah berada ditangan yang tepat, yang sanggup menjaganya dan melindunginya..

* * * * * * * * * * * * * * * * *

 

“Kau punya kakak yang baik.”

Marc tersenyum sebentar kemudian mulai menyesap Mocca latte dari gelasnya, “..apa yang kau katakan padanya sampai-sampai dia jugaikut-ikutan percaya padaku begitu?”

“Entahlah. Menurutku kakakku itu punya pandangan sendiri tentangmu. Dia itu pria yang hebat, dia bisa melihat kedalam isi hatimu hanya dengan menatap sebentar kedalam matamu. Jadi, sepintar apapun seseorang itu berbohong, dia tak akan bisa lolos dari kakakku.”
“Sehebat itukah kakakmu? Berarti dia bisa tau isi hatiku saat itu, ya?” Pantas saja dia tersenyum begitu..batin Marc.

“Mungkin. Karena kata eomma, oppa itu spesial. Dia mewarisi kelebihan kakekku.”
“Kelebihan?”

“Iya. Kelebihan membaca pikiran orang. Bahkan dia juga bisa memanipulasi pikiran seseorang hanya dengan menatap kedalam mata orang itu.”

Ini gila! Berarti sedari tadi, kemungkinan besar di sudah tau apa yang aku rasakan untuk adiknya? Mana mungkin dia mempercayakan adiknya seperti itu jika dia tidak tau apa yang aku rasakan untuk adiknya? Payah kau Marc!

“Kenapa? Apa yang kau pikirkan? Melamun itu tidak baik!”

“Tidak. Hanya saja, aku takut kakakmu akan membocorkan rahasiaku.”
“Rahasia? Rahasia apa? Apa kakakku sehebat itu, ya?”

“Tadi kau bilang..”

“Haha..aku hanya bercanda. Kau itu serius sekali. Oh ya, memangnya apa saja yang kalian bicarakan tadi?”

Sejenak Marc terdiam. Ingin Marc menyembunyikan hal ini, tapi bagaimana pun gadis ini pasti akan mengetahuinya, “..Jorge..ayahmu memintanya untuk membawamu pulang. Tadi kakakmu memintaku untuk menjauhkanmu dari Jorge apapun yang terdjadi. Bahkan kakakmu sendiri sudah tau siapa itu Jorge.”
Ada raut kecewa bercampur takut tergambar jelas diwajah gadis itu. Manik coklat itu membulat seakan memelas perlindungan.

“Kau tenang saja. Dia tak akan sampai menyentuhmu. Aku pastikan itu. Aku berjanji..kau percaya padaku, kan?”

Ji Eun hanya mengangguk tanpa mampu menjawab. Gadis itu kembali tersenyum, namun Marc tau, itu bukan senyum lega atau bahagia. Gadis itu masih takut. Entah pengalaman apa yang pernah gadis itu alami bersama Jorge. Mungkin terlalu mengerikan sampai-sampai gadis itu kelihatan sangat takut, “..hei! jangan takut, hm? Aku pasti akan melindungimu. Apapun yang terjadi, aku pasti akan menjagamu. Percayalah padaku.”

Dengan lembut, Marc menarik Ji Eun dalam rangkulannya. Dan seperti terbius, Ji Eun bahkan tak menolak ketika tubuhnya mulai bersandar didada bidang Marc. Rasa hangat itu kembali menjalar kesekujur tubuh Ji Eun. Hatinya bergetar. Ada aliran asing dan menggelitik masuk kedalam hatinya. Jatuh cinta. Mungkinkah?

“Ehm!”

Suara deheman itu segera memisahkan posisi tubuh Marc dengan Ji Eun. Keduanya mulai nampak sedikit canggung didepan pria paruh baya berseragam pelayan itu.

“Makan malam sudah siap, tuan muda..nona..ayo kita makan.” Ajak Shanti yang kemudian masuk terlebih dahulu kedalam ruang makan.

Astaga, eomma! Entahlah…satu hal yang kurasa saat bersamanya..nyaman..ya, aku merasa nyaman dan hangat didekatnya..seakan tak ada hal yang perlu aku takuti didunia ini..dan aku bahagia memiliki perasaan seperti ini, eomma…

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

            ”Sepertinya kau sudah tau dimana adikmu berada, kakak ipar.”

Suara Jorge itu lantas membuat Ji Hyun sedikit tersentak kaget. Pria itu baru saja akan turun dari mobilnya.

“Bisa kau biarkan aku beristirahat sebentar dan..kalau kau tak keberatan, jangan panggil aku kakak ipar. Itu sedikit membuatku mual.”
“Baiklah. Kalau begitu aku tak akan basa-basi lagi. Dimana Ji Eun sekarang?”

“Untuk apa kau tau?”
“Tentu jelas bukan? Aku mau membawanya pulang, Ji Hyun. Apa lagi?’

“Membawa adikku pulang? Hmph..jangan memimpikan hal setinggi itu. Kalau gagal nanti kau sendiri yang akan gila.”

“Sudah kubilang, kita lihat saja nanti. Siapa yang akan gagal.”

Ji Hyun tersenyum mengejek, “..yaah..yaah..aku mau istirahat. Kalau kau mau pulang, pulanglah..atau kalau kau mau disini, kau bisa ajak *D untuk jadi teman bicaramu.”

*D = Anjing Shiberian Husky milik Ji Hyun

“Tentu dia akan senang mendengar ceritaku, kakak ipar.”

“Mungkin.”

Ji Hyun melangkah masuk meninggalkan Jorge. Marc..aku percayakan adikku padamu. Jangan kecewakan aku..

TO BE CONTINUED…

OK Guys..kurang lebih, begitulah isi cerita Part 5..selebihnya author menunggu ‘LIKE’ dan ‘COMMENT’ *boleh comment ditwitter dan facebook milik author kok :D * dari kalian semua :D dan author harap, kalian tidak menjadi pembaca yang jahat dan tidak bisa menghargai tulisan author. Author benci sama SILENT READER..so, jangan jadi SILENT READER, ya? :D

Akhir kata..MUCHAS GRACIAS..THANK YOU..GUMAWO..TERIMA KASIH.. :D

As Long As You Love Me #4

image

Hai..haii semuaaa..*sumringah* :D author back again dengan next Part nya :) author harap kalian tidak bosan ya sama ceritanya :D dan tanpa author harus basa basi kayak nasi basi *bau lo thor yang kayak nasi basi* mari langsung saja pada ceritanya..Happy Reading :)

 

Part 4 :

Ji Eun meletakan gagang telepon itu perlahan, sedang otaknya masih berpikir keras. Kira-kira orang gila siapa tadi yang menelepon? “Bisa-bisanya dia memfitnah orang sampai sebegitunya?”

“Siapa yang memfitnah siapa, Ji Eun?”

Gadis itu tersentak kaget mendengar suara Marc tepat dibelakangnya. “..Da-Daniel? Ka-kau sudah..”

“Siapa tadi yang menelepon?” nada tanya Marc lebih tajam ketimbang tadi. Nampak pria iu benar-benar penasaran dengan siapa si  penelepon tadi.

“Entahlah. Kupikir orang gila dengan berjuta-juta obsesi, mungkin?”

Marc mengernyitkan dahinya mendengar pernyataan Ji Eun. Ada yang aneh, pikir Marc. Gadis itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

“Memangnya apa yang dia katakan padamu sampai kau menganggapnya orang gila dengan berjuta-juta obsesi?”

“Pembunuh bayaran..Marc..dan semua itu dituduhkan padamu. Jelas itu gila, kan?”

Napas Marc sedikit tercekat, namun setidaknya ada sedikit rasa lega yang meringankan hati  juga pikiannya.

“Ya. Kau benar. Mungkin dia terobsesi menjadi seorang mata-mata atau semacamanya.”

“Aku lebih berpikir kalau dia terlalu terobsesi menjadi seorang aktor?”

“Haha..Ya. Kau boleh anggap begitu.”

Aku tau kau yang menelepon Julia. Aku tau itu kau..

* * * * * * * * * * * * * * *

“Lezat seperti biasanya.”

Shanti tersenyum lebar mendengar pujian Ji Eun pada sup Kimchi buatannya, “..beberapa hari ini aku belajar membuatnya. Dan kupikir sebagai pemula, rasanya mungkin tidak akan enak. Ternyata aku salah.”
“Makanya. Jangan ragukan kemampuanmu sebagai koki handal.”

Ji Eun kembali sibuk menyesap pelan sup kimchinya, sambil terus berdecak  kagum atas masakan lezat yang Shanti sajikan untuknya. Tak berselang lama, dering telepon diruang tengah kembali berbunyi dan dengan sigap Shanti berlarih kearahnya dan menerima panggilan itu. Wajah Shanti nampak tegang, segera pria itu menutup sambungan telepon dan berlari kearah Ji Eun yang menunggu dengan bingung dimeja makan.

“Ada ap..”

“Mari ikut saya, nona.”

Wajah Shanti nampak panik. Segera pria paruh baya itu menarik lengan Ji Eun dan membawanya turun keruang bawah tanah.

“Anda bersembunyilah disini. Jangan bersuara atau membuat suatu hal yang bisa mengundang perhatian.”

“Tapi sebenarnya ada apa?”

“Saya mohon nona. Ikuti saja apa yang saya katakan, nanti saya akan jelaskan semuanya.”

Segera Shanti berlari naik kembali keatas dan meninggalkan Ji Eun dalam ruangan itu. Ji Eun masih bingung. Namun belum berani untuk menerka apapun. Pertanyaan demi pertanyaan mulai menggelayuti hati Ji Eun. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku merasa sangat ketakutan?

Sebuah mobil Ford hitam baru saja terparkir didepan halaman rumah Marc. Seorang pria dengan berbalut busana serba hitam turun dari sana dengan wajah penuh senyuman.

Dilihatnya teliti setiap sudut rumah itu dengan kagum, “..bantuanku kau gunakan untuk rumah ini rupanya.” Gumam pria itu kemudian berjalan dengan langkah mantap kearah pintu rumah berwarna coklat muda itu.

Belum sempat jemarinya menyentuh tombol bel rumah, pintu rumah itu sudah terbuka. Seakan sang pemilik rumah sudah tau seseorang datang kerumah itu.

“Selamat datang, tuan Rossi. Kedatangan anda sudah ditunggu.” Sapa sopanseorang pelayan rumah sembari mempersilahkan Vale masuk kedalam rumah bergaya Eropa Klasik itu.

Nampak diruang tamu sana, sudah menunggu seoang pria muda dengan pakaian yang sedikit lebih santai dibanding dengan yang digunakan Vale.

“Aku tak mau banyak basa-basi Marc. Aku kesini untuk menanyakan hasil kerjamu. Bagaimana?”

“Kau terlalu terburu-buru Vale. Hal yang baik akan datang pada orang yang mau menunggu dengan sabar. Kupikir akan lebih baik kalau kau serahkan semuanya dan biarkan aku bekerja dengan caraku sendiri.”

“Bagaimana cara kerjamu itu, nak? Apa akan membuatku puas nantinya?”

“Tentu saja.”

“Hmph..bunuh gadis itu secepatnya. Aku tidak akan memberimu toleransi lagi kalau kau berani-berani mempermainkanku.”

Vale berbalik dan segera menghilang dibalik pintu rumah Marc. Dan mobil Ford yang tadi mengantarnya perlahan menjauh dari pandangan Marc.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tuhan..aku hanya ingin mlindunginya. Itu saja. Aku bahkan tak perduli jika Vale harus melampiaskan semuanya padaku…aku hanya ingin dia baik-baik saja..

“..mati kita cari bantuan dari ayahku.”

Suara Ji Eun membuat Marc tersentak kaget. Dengan refleks dan cepat, Marc berbalik kearah suara itu, “..apa yang..”

“Aku sudah tau semuanya..dari Shanti. Siapa kau dan apa yang akan kau lakukan padaku.”

Marc terdiam. Pria itu menatap Shanti tidak percaya. Tidak seharusnya Shanti membongkar identitas Marc seperti ini, “..sebenarnya kenapa kau membohongiku? Dan kenapa kau bukannya membunuhku, malah melindungiku?”

“A-aku..aku..”

“Jelaskan semuanya paadaku, tuan Marc Marquez Alenta.”

Marc menghela npas panjang dan menghembusnya pelan, “..maaf kalau aku membohongimu. Ya. Awalnya aku membawamu kemari untuk menyelesaikan apa yang sudah ditugaskan padaku. Tapi…ada satu dan dua hal yang membuatku akhirnya berubah pikiran. Kenapa aku tak membiarkanmu pulang..itu karena aku berpikir bahwa kau akan lebih aman disini. Karena bisa saja Vale bukan hanya membunuhmu, tapi semua orang yang ada dirumahmu.”

“Kenapa dia megincarku? Bukankah yang dia inginkan ayahku turun dari jabatannya? Tanpa dia harus membunuhku, dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Ayahku akan turun dari jabatannya. Setidaknya itulah yang kakakku beritahukan padaku.”

Marc terdiam sejenak. Matanya lurus menatap masuk kedalam manik mata Ji Eun, “..bukan hanya itu Ji Eun. Ada dendam yang Vale punya untuk ayahmu. Nyawa harus dibayar dengan nyawa, begitulah yang ia katakan padaku saat memberi misi ini.”

“Apa maksudmu.”

“Romano Fenati. Putra tunggal Vale yang meninggal ditangan ayahmu pada kecelakaan mobil tanggal 28 Agustus tahun lalu.”

“Kecelakaan? 28 Agustus?”

“Ya. Ayah dan ibumu dalam perjalanan kesuatu tempat. Dan ayahmu memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi sehingga kecelakaan itu tak bisa dihindari. Ibumu dan Romano meninggal ditempat.”

“Tapi ayahku bilang..eomma..meninggal karena sakit.”

Marc mengerutkan dahinya. Bagaimana gadis ini tidak tau cara ibu kandungnya meninggal? Batin Marc, “..kau..tidak tau?”

“Aku…aku di Amerika waktu itu. Aku hanya diberitahu kakakku kalau ibuku meninggal karena serangan jantung. Da-dari mana kau tau?”

“Aku saksi kecelakaan maut itu. Aku yang memanggil ambulans dan aku yang mengeluarkan jenazah ibumu dari dalam mobil.”

Sekujur tubuh Ji Eun bergetar. Kakinya tak lagi menapak ditanah. Tubuh gadis itu lunglay dan nyaris tersungkur kelantai kalau Shanti tidak segera menangkap cepat tubuh Ji Eun.

“Eo-eomma..kenapa?” gumam gadis itu sedang butir-butir bening mulai bergulir turun dari matanya dan membasahi pipinya, “..kenapa semuanya disembunyikan dariku?”

Marc bergerak mendekat kearah Ji Eun dan menarik gadis itu dalam pelukannya, “..aku yakin ayahmu punya alasan sendiri dengan menyembunyikan cara kematian ibumu. Yang pasti, dia tak mau kau membencinya karena menjadi penyebab kematian ibumu. Dan inilah sebabnya ia tak membiarkanmu tanpa pengawasan. Dia terlalu menyayangimu, Ji Eun dan dia tau kalau Vale akan mencarimu sebagai bahan balas dendam.”

“Tapi kenapa  dia tidak mencoba jujur saja? Apa salahku padanya?”

Gadis itu terisak hebat didada Marc. Tangisnya pecah menggema diseluruh penjuru rumah itu. Sedang Marc makin mempererat pelukannya. Membiarkan gadis itu menumpahkan rasa sesaknya didada Marc.

Dan ini yang terakhir aku melihatmu menangis seperti ini Ji Eun…aku tak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi…aku akan melindungimu…aku tak akan membiarkan Vale merenggutmu..tidak akan..

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

            Pandangan Marc tak lepas  dari wajah teduh Ji Eun yang terlelap itu. Gadis itu terlalu lelah menangis sampai-sampai terlelap didalam pelukan Marc tadi. Tangan Marc bergerak pelan menyusur tiap lekuk wajah gadis itu. Bagaimana aku bisa bilang aku tidak jatuh cinta padamu? Bagaimana mungkin hatiku menolak perasaan itu? Awalnya aku hanya ingin melindungimu…tapi lama-kelamaan perasaan itu bertumbuh lebih besar dari yang kubayangkan…bukan hanya ingin melindungi..tapi aku juga ingin memilikimu…yang Shanti bilang itu benar…aku benar-benar jatuh cinta padamu…

Perlahan, Marc bergerak turun dari atas kasur itu namun, belum sempat kaki Marc menyentuh lantai. Marc merasa lengannya ditahan. Dan benar, Ji Eun membuka matanya dan tangan mungilnya menggenggam tangan Marc erat, “..jangan tinggalkan aku. Aku takut sendirian.”

Marc hanya terdiam. Ia menatap tangannya yang digenggam Ji Eun dan wajah gadis itu bergantian. Ada perasaan hangat menjalar dari tangan gadis itu dan masuk dalam hatinya. Akhirnya Marc kembali naik keatas kasur dan mendekap Ji Eun hangat, “..aku tidak akan kemana-mana. Aku akan disini. Tidurlah.” Ujar Marc lembut.

Gadis itu pun kembali memejamkan matanya, dan lengannya ia lingkarkan dipinggang Marc. Eomma…apa aku sudah gila? Tapi kenapa aku merasa sangat nyaman dan tenang jika bersamanya? Bahkan aku tidak keberatan didekapnya seperti ini. Sebaliknya, eomma..aku bahagia..sangat hangat..

Tanpa keduanya sadari, seorang pria menatap mereka dari balik pintu kamar sana dengan rasa harus, “..tuan muda akhirnya tidak kesepian lagi..”

To Be Continued…

Maaf ya kalau semuanya terkesan cepat…soalnya, on the beggining..FF ini sebenarnya FF Twoshot…tapi entah mengapa, author akhirnya memutuskan agar FF ini berseri…dan maaf ya kalo masih ada typo nya :D jangan lupa tinggalkan LIKE dan COMMENT kalian..buat yang mau nge-SHARE juga dengan senang hati..asal NO PLAGIATISME! Dan NO SILENT READER…terima kasih sudah membaca :D ditunggu next part nya, ya?

As Long As You Love Me #3

image

iHola! Hi! Annyeong! Hallo! Author kembali lagi dengan Part baru nih! Udah pada penasaran kan sama kelanjutannya? Hehe *emang iya, thor? Perasaan elu aja kali (-__-“)* Nah! Si author gk mau banyak kinclong lagi, ya? *Cingcong, thor..cingcong! ditabok nih!* Langsung aja saudara-saudari…Happy Reading :D

 

* * * * * * * * * * * * * * * *

 

Part 3 :

 

Ji Eun POV :

 

Aku tidak mengerti kenapa ayahku bisa sampai menemukanku disini. Tapi untung saja aku sedang keluar makan malam bersama Daniel saat dia datang. Bukannya aku tidak mau pulang, hanya saja ini bukan saat yang tepat untuk aku pulang kerumah. Aku masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku juga masih sedikit terluka karena sikap ayahku. Mungkin benar, beberapa hari ini aku berharap dia mencariku. Supaya aku tau seberapa khawatir dia padaku. Tapi, entah mengapa ketika dia mulai memperlihatkan rasa khawatirnya dengan mencariku, aku malah menolaknya dengan menghindar seperti pengecut.

Bukan! Bukan pengecut…hanya saja aku belum siap bertemu dengannya. Tentu saja itu tidak dihitung sebagai sikap yang pengecut, bukan?

Aku berjalan dengan langkah lesu menuju kolam berenang yang terdapat ditaman belakang. Dan sebuah tangan menyentuh pundakku pelan, membuatku sedikit tersentak kaget, “..kau baik-baik saja?” Tanya Daniel kemudian mengambil tempat disampingku.

“Entahlah. Menurutmu, aku ini pengecut, ya?”

Aku dapat melihat kerutan bingung itu didahinya, pertanda dia tidak mengerti dengan apa yang aku tanyakan padanya, “..lupakanlah..anggap saja aku tidak bertanya apapun padamu.”
“Entahlah. Aku juga tidak tau. Bagaimana denganmu sendiri? Apa kau merasa seperti seorang pengecut?”

Sejenak aku terdiam. Kalau mau dipikir kembali, apa yang membuatku menjadi seorang pengecut? Aku hanya berusaha menenangkan diriku. Bersembunyi dan mencoba menyembuhkan lukaku. Apa itu salah? Apa itu disebut tindakan seorang pengecut? Aku bukannya sengaja menghindar..aku hanya perlu waktu untuk sendiri. Perlu waktu untuk melupakan semua kekangan yang selalu kudapat dirumah karena aku putri dari seorang perdana mentri.

“Bagaimana?”

“Yang kurasa saat ini..aku hanya ingin menenangkan diri saja. Aku hanya ingin sebentar melarikan diri dari kehidupanku yang sempit dan terbatas. Aku ingin merasakan kembali masa-masa bebas dimana sebelum aku menjadi putri seorang perdana mentri. Itu saja. Apa itu sikap seorang pengecut?”

Kulihat Daniel menggeleng. Senyum manis terbentuk indah dibibirnya. Senyum tulus yang bahkan bisa menggetarkan hatiku, “..kalau seperti itu, berarti kau bukan pengecut. Tapi, sangat salah juga kalau kau menganggap ayahmu membatasimu. Dia mengekangmu karena dia sangat sayang padamu. Itu karena dia tau, pekerjaannya saat ini begitu beresiko dan bisa berdampak buruk untukmu dan kakakmu. Mungkin kedengaran klasik tapi, semua ayah didunia ini dengan jabatan tinggi tentunya, akan mengekang anak-anak mereka, membatasi mereka. Supaya mereka tetap aman dan selamat. Kau beruntung memiliki ayah seperti paman Emillio. Dia pria dan ayah yang sangat baik. Tidak seperti ayahku yang…” kalimatnya terpotong. Dahiku berkerut. Aku penasaran apa kelanjutkan kalimatnya itu. Karena setauku, Daniel punya kedua orang tua yang baik dan keluar mereka sangat harmonis, “..maksudku, tidak seperti ayah temanku, Marc. Pembunuh kejam yang dengan tega membunuh istri juga putra bungsunya sendiri dengan kejam. Menelantarkan Marc menjalani hidupnya sendirian. Dia memiliki kehidupan yang sulit.”

“Lalu? Bagaimana keadaan temanmu itu sekarang?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku. Dan terdengar sangat bersimpati.

“Dia sudah memiliki kehidupan yang baik. Namun tetap saja, dia sebatang kara. Dan hanya tinggal bersama seorang pria paruh baya yang sudah ia anggap ayah baginya.”

“Apa kau masih berhubungan dengan Marc?”

“Ya. Dia teman baikku. Sangat baik. Kami akrab sedari SMA.”

Aku mengangguk paham. Toh, ternyata didunia ini aku bukan satu-satunya manusia paling malang. Diluar sana, ada seorang anak lelaki kurang beruntung dengan keluarga yang terpecah belah. Aku masih beruntung punya ayah dan kakak yang sangat menyayangiku. Tapi Marc..sendirian..sebatang kara.

“Terima kasih, Daniel. Setidaknya kau membuka pemikiranku selama ini yang menganggap akulah manusia paling malang didunia ini.”
“Aku senang bisa membuat perasaanmu membaik.”

Entahlah..apa karena ucapanmu atau senyumanmu lah yang membuat hatiku tenang…

Ji Eun POV End :

 

Marc hanya bisa duduk mematung diatas kasurnya sembari kembali memikirkan ceritanya tadi pada Ji Eun. Terbayang kembali wajah Ji Eun yang penuh simpati dan rasa ibah. Sejujurnya Marc malu, hanya saja mau tak mau Marc harus mengungkapkan semuanya. Marc harus segera mengamankan gadis itu. Ya. Gadis itu harus pulang. Dirumahnya lah satu-satunya tempat yang paling aman.

“Tuan muda, boleh saya masuk?” seru Shanti daru luar kamar Marc.

“Masuk saja, Shanti. Pintunya juga tidak kukunci.”

Perlahan pintu kamar Marc terbuka dan sosok Shanti mulai nampak disana. Pria paruh baya itu kemudian berjalan mendekati Marc dan mengambil tempat disamping pria itu.

“Ada apa, Shanti? Apa ayahku atau Vale menelepon lagi?”

“Tidak tuan muda. Bukan itu, hanya..tadi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan anda dengan nona Lee. Dan saya rasa, anda lumayan berani dengan menceritakan semua hal tentang anda padanya.”

“Aku harap dia tidak segera mencium penyamaranku ini. Entahlah, aku hanya ingin dia sedikit lebih lama disini. Mungkin karena aku kesepian, tapi aku ingin dia disini lebih lama lagi.”

“Anda mencintainya, tuan muda?”
Marc sedikit tersentak dengan pertanyaan Shanti. Sejenak Marc terdiam, hingga beberapa saat kemudian dengan ragu-ragu Marc mulai menjawab, “..mungkin. Aku juga bingung dengan perasaan seperti apa yang kumiliki untuknya saat ini.”
“Cepat atau lambat, anda akan segera menemukan jawabannya, tuan muda. Dan aku bareharap, saat anda sudah tau jawabannya, semuanya belum terlambat. Selamat malam.”

Segera pria paruh baya itu berjalan keluar dari kamar Marc. Meninggalkan pria itu dengan banyak pertanyaan menggantung diotaknya. Apa benar yang Shanti katakan kalau aku jatuh cinta pada Ji Eun? Tapi mana mungkin secepat ini? Aku baru saja mengenalnya? Mungkin saja ini hanya rasa simpati…ya, mungkin saja begitu…

* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Marc tau bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Ji Eun. Meski waktu diarloji nya sudah menunjuk pukul 11.30 malam, Marc tetap memacu BMW Cope miliknya menuju markas Vale yang jaraknya bisa dibilang lumayan jauh dari rumah Marc.

Mesin mobil Marc yang tidak begitu berisik, menguntungkannya untuk sedikit mengendap-endap datang ke markas Vale.

“Mau apa lagi kau kemari? Apa kau punya berita bagus?”

Pria paruh baya itu tak langsung menghadap Marc. Sambil membelakangi Marc, pria itu berujar, “..aku harap kau tidak mengecewakanku Marc. Ingat! Kau sudah banyak berhutang budi padaku.”

Marc masih terdiam. Belum berani menjawab rentetan pertanyaan Vale. Apa lagi mengingat kedatangannya kemari untuk membatalkan misi tersebut, “..Vale..aku..”

“Jangan main-main denganku, Marc. Aku bisa saja menghabisi kalian berdua sekaligus kalau aku mau. Jadi sebaiknya, kau tetap pada rencana. Apapun yang terjadi.”

“Baiklah.”

“Bagus. Kalau begitu pulanglah. Aku tidak mau melihatmu disini sebelum kau membawa bukti nyata bahwa misi mu sudah benar-benar kau selesaikan. Ingat! Jagan sekali-kali menipuku. Aku punya banyak mata, Marc.”

Tanpa mau membalas lagi, Marc berbalik dan berjalan keluar dari rumah itu. Ia keluar dengan perasaan campur aduk. Antara marah dan sedih. Yang seharusnya dipanggil pengecut itu aku, Ji Eun..aku bahkan tidak tau bagaimana caranya untuk melindungimu dari Vale..

Marc mengintip kedalam kamar Ji Eun dan ternyata gadis itu belum tidur juga. Pandangan gadis itu terarah kosong keluar jendela. Mungkin masalah kemarin, pikir Marc. Dengan memberanikan diri Marc masuk kedalam dan duduk disamping Ji Eun.

“Kau belum tidur?”

“Hah?! Sedang apa disini?”

Gadis itu nampak terkejut. Bukan apa-apa, hanya kaget saja seorang pria tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.

“Tidak. Tadi pintumu tidak tertutup rapat jadi aku tidak sengaja melihatmu belum tidur.”

“Perasaan tadi aku menutup pintuku rapat.”

“Sudahlah..kenapa belum tidur?”

Gadis itu menunduk lesu, “..enthalah Daniel..kurasa dalam beberapa waktu ini aku harus pulang. Bukan apa-apa..hanya saja aku juga merasa bersalah karena menghukum ayahku seperti ini. Setelah mendengar ceritamu tentang temanmu Marc, aku jadi sadar. Bahwa setidaknya aku punya ayah yang sayang padaku. Dan aku saja yang terlalu egois.”

“Kau yakin?” Tanya Marc sedikit tak percaya. Ada nada tak rela disana.

“Yaah..kupikir itu keputusan yang paling baik yang sudah kupikirkan dengan matang.”

Pulang? Secepat itu? Apa aku harus senang atau sedih? Tapi kenapa hatiku tidak rela? Rasanya sakit saat dia bilang akan pergi…entahlah, apapun keputusannya..kuharap dia bisa aman dan jauh dari jangkauan Vale..

“Kapan?”

“Mungkin lusa atau hari sabtu nanti.”
“Baiklah. Bagaimana kalau kau buat sisa-sisa harimu disini menyenangkan?”

“Kita akan bertemu lagi nanti, Daniel. Kau saudara sepupuku..kita pasti akan bertemu lagi.”

Ya…kalau saja aku benar-benar Daniel, saudara sepupumu…kita mungkin akan bertemu lagi…

* * * * * * * * * * * * * * * *

Pagi baru saja memijak dibumi namun suara dering telepon sudah menggema diseluruh penjuru ruang tamu kediaman Marc. Terus berdering sampai akhirnya derap langkah cepat terdengar dari tiap undukan anak tangga rumah itu.

Dengan cepat, tangan mungil itu meraih gagang telepon dan menyahut si penelepon.

“Halo..”

[Kumohon ijinkan aku bicara dengan Marc. Bisa kau panggilkan dia?]

“Marc? Tuan..mungkin anda salah sambung. Disini kediaman Daniel Alzamora bukan..”

[Daniel Alzamora? Tunggu! Siapa kau?]

“Aku Jane Alzamora, saudara sepupu Daniel. Lalu..anda siapa?”

[Segera keluar dari rumah itu kalau kau masih mau bertemu dengan ayahmu nona Alzamora. Pria yang mengaku sebagai sepupumu itu adalah seorang pembunuh bayaran. Dan aku berkata hal jujur sekarang.]

“Ap-apa maksud anda? Pembunuh bayaran? Siapa? Dia sepupuku! Sebenarnya kau ini siapa?”

[Aku sudah mencoba memperingatkanmu nona. Larilah selagi masih bisa.]

“Ha..”

Sambungan telepon itu terputus. Sekarang banyak pertanyaan menggelayuti kepala Ji Eun. Seperti teka teki. Siapa pria itu? Dan kenapa dia begitu yakin kalau Daniel menipuku?

To Be Continued…

Ok, guys! Setelah membaca..diharap meninggalkan ‘LIKE’ atau ‘COMMENT’ kalian, pertanda kalian itu reader yang baik dan budiman :D jangan jadi SILENT READER yang tak bertanggung jawab, ya? :D Next Part will posting as soon as author can, ya? :) Terima kasih :) Muchas Gracias :) Thank You :) Gumawo :)

As Long As You Love Me #2

image

Sorry long time no posting :)

Tanpa banyak bicara..langsung aja ya? ;-) Happy reading :D

* * * * * * * * * * * * * * * * * *

Part 2  :

Lagi-lagi Ji Eun bangun dengan mata sembab. Tangisnya pun masih dengan alasan yang sama. Ya, seminggu sudah Ji Eun kabur dari rumahnya. Namun, tak ada respon apapun dari ayahnya. Pria paruh baya itu bahkan tak menampakan usahanya untuk mencari putrinya. Putri kesayangannya yang selalu ia manjakan. Setidaknya begitulah yang terpikir oleh Ji Eun seminggu ini.

“Kenapa lagi? Kau sakit?” Tanya Marc sambil terus memantau bengkak dimata Ji Eun yang sudah beberapa hari ini tak kunjung turun.

“Mungkin kau bisa bilang seperti itu.” Jawab Ji Eun lesu. Gadis itu meneguk susu digelasnya dengan lemas. Sandwich lezat didepannya sekali pun tak menggugah selera makannya.

“Kau tak mau makan itu?” Tanya Marc dengan heran. Padahal, biasanya makanan seenak ini tak akan dilewatkan Ji Eun begitu saja.

“Aku tidak sedang ingin makan sekarang. Aku mau jalan-jalan sebentar.”

“Kau mau kutemani? Yaah..kebetulan hari ini aku tidak sedang sibuk.”

Ji Eun menatap tak yakin kearah Marc. Lama sekali sampai akhirnya gadis itu berbalik dan mengangguk, “..kalau begitu aku mau mandi dulu.”

Masih dengan langkah lesu gadis itu naik kembali kekamarnya. Sedang Marc, pria itu hanya bisa menatap heran kearah Ji Eun.

“Dari kemarin dia sering menangis. Entahlah..tapi aku rasa ini semua karena dia merindukan ayahnya.”

Ucapan Shanti seketika mengingatkannya pada Vale yang sudah beberapa hari ini terus mewanti-wanti Marc untuk segera menyelesaikan misinya. Misi yang akhirnya tak begitu Marc setujui.

“Bagaimana caranya aku membawa gadis ini menghilang dari hadapan Vale?” Tanya Marc tiba-tiba. Namun, hanya gidikan bahu pertanda tak tau yang ia dapat dari Shanti.

“Tidak bisa, ya?”

“Aku yakin tuan muda terlalu cerdas untuk masalah seperti ini.” Sahut Shanti kemudian membereskan meja makan dan berlalu dari situ.

Ji Eun’s POV :

Aku hanya menatap kosong keluar jendela mobil Daniel tanpa sedikit mengeluarkan kata-kata. Entahlah, aku sedang tidak ingin membicarakan apa-apa saat ini.

Tapi, beberapa saat kemudian aku merasa ada yang janggal dengan tempat dimana Daniel membawaku ini. Tempat ini indah, tapi terlalu sepi dan tak ada siapapun disana.

“Dimana ini?” Tanya ku setelah turun dari BMW Cope miliknya.

“Ini belum seberapa. Ayo..”

Kini Daniel membawaku lebih dalam lagi masuk kehutan itu. Dan seperti yang dikatakannya. Pemandangan ditempat kami memarkir mobil tadi tak seberapa dengan yang ada disini.

“Ini tempat rahasiaku. Kalau aku sedang merasa tidak baik, aku akan kesini dan menenangkan hatiku. Aku sering berteriak keras-keras disini untuk membuang kesalku. Mungkin kau bisa mencobanya.”
Aku menatap Daniel sesaat dan akhirnya berpikir, Manusia bertampang konyol sepertinya bisa sedih juga ternyata, “..baiklah. Tak salah juga kalau mencoba.”
Beberapa saat aku mengambil ancang-ancang didepan sebuah danau dan menghela napas panjang. Setelah merasa yakin aku mulai berseru, “..AKU BENCI AYAH!! AKU BENCI MENJADI PUTRI SEORANG PERDANA MENTRI!! AKU JUGA BENCI DENGAN KEHIDUPANKU!! KALAU BISA AKU INGIN TERLAHIR KEMBALI MENJADI GADIS BIASA SAJAA!!”

Setelah merasa cukup aku kembali berjalan kearah Daniel. Pria itu terlihat menahan tawanya. Namun, entah mengapa perasaanku sudah tak seberat tadi. Sedikit lebih enteng dan lega.

“Bagaimana nona Alzamora?” Tanya Daniel masih sambil menahan tawanya yang hampir pecah.

“Jangan panggil aku dengan nama belakang itu. Namaku Lee Ji Eun dan aku lebih suka menggunakan nama itu dari pada Jane Alzamora.”
“Baiklah..baiklah. Kalau begitu, bagaimana perasaanmu sekarang nona Lee?”

Aku hanya tersenyum dan mengangguk mantap.

“Baguslah kalau begitu. Oh ya, mau makan? Kau belum sarapan, kan?”

“Tentu saja. Dan sepertinya aku mulai menyesal menyia-nyiakan sandwich lezat buatan Shanti.”

Entahlah..tapi aku mulai merasa hal-hal yang selama ini ingin kulakukan akhirnya dapat terwujud karena pria satu ini..

Ji Eun’s POV End :

* * * * * * * * * * * * * * * * *

“Bagaimana? Kalian sudah temukan putriku?” Tanya Emilio dengan cemas. Pria itu nampak sangat frustasi. Sudah seminggu ini ia belum berhasil melacak keberadaan putri bungsunya itu.

“Bagaimana kalau daddy buat pengumuman di Koran atau televisi saja. Mungkin lapor polisi juga bisa. Kalau hanya mengandalkan anak buah daddy saja, itu tak akan berhasil.” Usul Ji Hyun juga sama cemasnya dengan ayahnya.

“Tapi bagaimana kalau timbul skandal. Bagaimana kalau public menanyakan masalah yang terjadi? Daddy tidak mau nama baik keluarga kita dipertaruhkan hanya karena hal ini.”

“Hal ini? Hal ini, daddy bilang? Yang daddy lindungi itu nama baik keluarga atau nama baik daddy sendiri? Entah apa yang akan eomma katakana kalau beliau masih hidup.”

Dengan kesal Ji Hyun meninggalkan Emillio. Ada rasa kecewa yang memuncak dalam hatinya. Yang hilang dari rumah mereka bukanlah harta benda, namun adik perempuan miliknya yang paling ia sayangi. Adik perempuan yang sudah dititipkan oleh ibunya untuk dilindungi dan disayangi.

Ji Hyun sangat kecewa dengan ayahnya yang adalah seorang Perdana Menteri. Perdana Menteri yang bahkan tak bisa mengingat perannya sebagai seorang ayah.

Dalam kesalnya, ponsel Ji Hyun berbunyi. Dahinya berkerut ketika nomer yang tidak ia kenal tertera disana. Mungkin salah satu mantanku..pikir Ji Hyun geli. Buru-buru pria itu menekan layar datar ponsel itu untuk menerima panggilan tersebut, “..hallo..”

[Oppa..Nae ya..]

“Ji Eun-aah! Ji Eun-aah? Kau dimana? Kami sangat cemas mencarimu..ayo pulanglah, eo?!”

Ji Hyun merentet si penelepon dengan pertanyaan ketika ia tau bahwa penelepon itu adalah adiknya, Ji Eun.

[Aku..untuk beberapa hari atau minggu ini mungkin belum bisa pulang. Tapi, aku hanya mau bilang kalau aku baik-baik saja. Hanya, aku sekarang butuh waktu untuk sendirian dan menenangkan diri. Katakan pada daddy kalau aku baik-baik saja.]

“Tapi kau dimana? Biar oppa pergi melihat keadaanmu, ya?”

[Tidak perlu, oppa. Aku baik-baik saja. Dan aku butuh waktu untuk sendiri sekarang. Oh ya, bilang pada daddy jangan terlalu cemas. Aku pasti akan pulang kalau merasa baik. Jadi jangan buang-buang tenaga hanya untuk mencariku.]

“Tapi kau yakin kau baik-baik saja, kan?”

[Oppa bisa percaya padaku.]

“Baiklah. Jaga dirimu dan sering-seringlah kabari oppa keadaanmu, hm?”

[Baik oppa. Oh ya, aku harus pergi. Sampai jumpa.]

Sambungan telepon itu terputus. Tapi setidaknya, Ji Hyun bisa bernapas sedikit lega karena adiknya dalam keadaan baik saat ini.

“Kau bicara dengan siapa?”

Suara itu lantas membuat Ji Hyun berbalik cepat, “..daddy tidak perlu tau. Dan kurasa daddy tak akan mau tau.” Sahut Ji Hyun dingin saat tau bahwa ayahnya lah pemilik suara itu.

“Apa maksudmu? Jangan bilang itu dari adikmu?”

“Kalau iya, memangnya apa yang akan daddy  lakukan?”

“Membawa dia pulang. Sekarang berikan nomer yang tadi meneleponmu biar daddy menyuruh orang daddy untuk melacak pemilik nomer itu.”

“Tidak! Dia bilang dia sedang berada ditempat yang aman. Dan kalau pikirannya sudah tenang baru dia akan pulang. Jadi aku harap daddy tidak mengganggunya untuk saat ini.”

“Ji Hyun! Berikan nomer itu padaku, sekarang!”

Bentakan bernada tinggi itu lantas membuat Ji Hyun sedikit tersentak kaget. Baru pertama kalinya ia melihat seorang Emillio yang begitu marah dan khawatir. Entah harus merasa senang atau takut. Tapi dengan pasrha, Ji Hyun memberikan nomer tadi pada ayahnya.

“Bagus. Dan jangan sekali-sekali kau menganggap daddy tidak perduli pada kalian. Karena daddy perduli makanya sering daddy mengekang kalian.”

Pria paruh baya itu kemudian berjalan naik kembali keruangannya. Di hati terdalamnya ada sedikit rasa menyesal karena sudah membentak putra sulungnya tadi. Tiada maksud sebenarnya Emillio membentak putranya itu. Ia hanya sedang merasa kalut dan khawatir sekarang.

Daddy akan membawamu pulang. Dan akan memperbaiki apa yang salah, sayang..meski daddy harus melepas singgahsana ini..

* * * * * * * * * * * * * * * *

Kepala Emillio berputar, jantungnya memompa 2x lebih cepat. Pria paruh baya itu masih kesulitan mencerna perkataan pegawai pelacak tadi. Rasa cemas yang seharusnya bisa berkurang kini makin menggunung dan mengganggunya.

Flashback :

“Bagaimana hasilnya? Kau sudah dapat identitas pemilik nomer?” Tanya Emillio pelan.

“Sudah tuan. Tapi awalnya kami kesulitan. Nampaknya si pemilik nomer ini bukan orang biasa, tuan. Dia bahkan mampu membuat kami sedikit keliru tentang identitasnya. Nama pemilik nomer itu adalah Marc Marquez Alenta, salah satu pembunuh bayaran professional yang bekerja untuk seorang mafia kelas atas, Valentino Rossi. Dan untuk saat ini, tuan Marquez ini sudah masuk kedalam daftar pencarian orang dikepolisian Spanyol.” Jelas si pelacak dengan akurat tanpa kekurangan satu data pun.

Seketika mata Emillio menjadi kabur. Kakinya bergetar hebat sampai-sampai tak mampu menopang berat tubuhnya lagi. Ia terhuyung dan hampir jatuh tersungkur, kalau saja tidak ada orang yang segera menahannya.

“Jadi..putriku..”

“Kemungkinan besar dia menjadi salah satu target dari Valentino Rossi.”
Emillio berusaha mencerna itu semua. Dan akhirnya satu hal yang mampu ia putuskan, “..berikan alamatnya. Aku akan menjemput putriku mala mini juga. Dan tak akan aku biarkan dia menyentuh putriku barang sedikit saja.”

“Baik tuan.”

Segera para pelacak itu kembali membuka file mereka dan meng-copy alamat si pembunuh bayaran itu untuk Emillio.

Flashback End :

“Sebenarnya tidak perlu makan malam seperti ini Marc.”

“Kurasa kau pantas mendapat makan malam istimewa seperti ini. Anggap saja kita sedang berkencan.”

Ji Eun mengernyitkan dahinya. Dan beberapa saat kemudian, gadis itu terkekeh pelan, “..kita ini saudara, Daniel..jangan bercanda.”

“Memangnya saudara tidak bisa kencan?”

“Terserah kau saja. Oh ya..bukankah restoran ini terlalu mahal?”

“Aku tidak akan merasa rugi. Karena yang kuajak kemari adalah seorang wanita yang sangat cantik.”
“Kau bercanda.”

“Aku tidak pernah bohong masalah itu. Memangnya kau sendiri tidak sadar kalau kau secantik ini?”
Sejenak Ji Eun tertegun. Selama ini memang banyak orang yang mengatainya cantik. Bahkan ayahnya menganggapnya titisan malaikat. Tapi Ji Eun tak pernah melihat itu. Wajahnya memang sempurna, tapi kurang akan satu hal.

Ya. Senyuman..dan semburat merah dipipinya pertanda jatuh cinta.

“Kau tidak akan setersipu itu hanya karena aku memujimu, kan?”

Ji Eun tersedak. Apa yang ia katakan? Tersipu? Kapan?

“Wajahmu memerah begitu.”

Segera Ji Eun meraba-raba wajahnya yang memang tanpa ia sadari mulai terasa panas. Padahal, pujian yang Marc lontarkan, kira-kira hampir sama bahkan sedikit lebih sederhana ketimbang pujian-pujian yang ia dapat selama ini.

Dengan tergesah-gesah, Ji Eun memasukan steak miliknya secara rakus masuk kedalam mulutnya. Mungkin akan lebih baik kalau sekali-kali ia terlihat jelek dan memuakkan.

“Haha..tidak perlu seperti itu. Mau kau apakan mukamu juga akan tetap terlihat cantik.”
Sekarang Ji Eun mulai kesusahan menelan steak yang penuh mendesak dalam rongga mulutnya itu.

Aku tidak merasa jijik..tapi sebaliknya..jantungku bahkan sangat mengganggu sekarang..entahlah, tapi aku bahagia hanya karena pujian seperti ini…

* * * * * * * * * * * * * * *

“Tuan Muda..tadi tuan Perdana Mentri datang kemari.”

“Lalu apa katanya?”

“Dia datang mencari putrinya, tuan. Dan..”

“Dan apa?”

Shanti sedikit ragu mengatakan ini pada Marc. Namun pria itu akhirnya mulai lambat-lambat mengucapkan kata demi kata itu, “..dia sudah tau siapa tuan muda sebenarnya..”

Marc sedikit tercekat. Wajahnya memucat seketika, “..ini akan sangat bahaya. Benar-benar sangat bahaya.”

To Be Continued…

OK guys..sekian dari author..dan jangan menjadi SILENT READER ya? :D Thank You :)

As Long As You Love Me #1

image

Hi hi semuaaa!! *lambai-lambai ala miss universe* author akhirnya kembali dengan FF baru dan tetap memilih terus bekarya meski dalam derita 😞 by the way..author harap kalian harus banyak bersabar juga ya? Soalnya, kali ini author bakal sedikit jarang mengepost FF..soalnya author juga harus memanage waktu antara FFdan kuliah 😊 soooo..dimohon pengertian para reader semua yang budiman ☺️ Ok! Langsung aja kita ke TeeKaaPee!!! *emang ini acara OVJ thor? 😒* Happy reading guys 😚😘

# # # # # # # # # # # # # # #

Cast :

Marc Marquez Alenta
Lee Ji Eun (Jane Alzamora)
Emilio Alzamora
Shanti Hernandez
Valentino Rossi
Etc…

Genre :

Action, Romance, Family

Author :

@LeaObiraga

$ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $

Epilog :

Marc sudah berdiri cukup lama sampai akhirnya pria paruh baya didepannya mulai membuka suaranya, “..kuharap kau tidak mengecewakanku, anak baru.”
“Kau bisa mengandalkanku, Vale. Ini hal yang mudah.” Balas Marc santai sembari tersenyum tipis kearah pria paruh baya didepannya itu. Setelah semua urusan mereka selesai, Marc berjalan keluar dari ruang remang itu dengan langkah mantap.
“Putri perdana menteri, hm?” Gumam Marc kemudian menatap sekilas map yang ada ditangannya itu, “..tentunya butuh sedikit kerja keras, bukan?”
Penasaran, Marc pun sedikit mengintip isi map yang menjadi misi pertamanya itu.
“Memiliki darah Korea dari sang ibu dan Spanyol dari sang ayah..hm? Menarik..dan wajahnya, yaahh..mungkin dia dominan pada ibunya. Lalu? Harus kupanggil apa? Jane atau Ji Eun?” Gumam Marc pelan hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri, “..apa tidak sayang membunuh gadis secantik dan semani ini? Ah! Sudahlah..masa bodo. Yang penting misi ini harus kujalankan.” Tambahnya lagi kemudian masuk kedalam BMW Cope miliknya yang sedari tadi setia menunggu tuannya.

$ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $

Part 1 :

“Bibi Emma! Bibi Emma!” Hari masih pagi sekali namun suara Ji Eun sudah menggema diseluruh penjuru rumah itu.
“Ada apa nona?”
“Kau melihat kunci mobilku?” Tanya gadis itu sambil masih terus mencari keberadaan kunci mobilnya.
“Mobil anda sudah siap, nona. Kata ayah anda, anda tidak boleh berangkat sendiri. Makanya, beliau sudah menyiapkan seorang supir dan seorang body guard untuk anda.”
Semangat Ji Eun yang tadi menggebu-gebu kini menguap hilang. Rasa kesal mulai meletup-letup didalam dadanya. Sepertinya daddy terlalu pikun untuk mengingat janjinya sendiri. geram gadis itu dalam hati.
Dengan langkah kesal, Ji Eun kembali naik keatas untuk menemui seseorang yang pantas bertanggung jawab untuk segala kesialannya ini.
“Oppa! oppa bukan pintunya!” Seru gadis itu kencang sambil terus mengetuk kasar pintu kamar kakak lelakiknya, “..YA! Bukan pintunya CEPAT!” Seru kesal gadis itu akhirnya karena merasa diabaikan.
“YA! Lee Ji Eun-aah! Micheosseo?! Mwo ya?!” Bentak geram Ji Hyun dengan mata yang masih memerah karena kantuk.
“YA! Nae saekki oppa! Apa yang oppa katakan pada daddy sampai aku harus kembali dikawal seperti ini, eo?!”
Sejenak Ji Hyun berpikir kemudian dan senyum jahil mulai melengkung dibibirnya, “..oh itu, yeodongsaeng ku tersayang..oppa hanya memberitahu kejadian yang sebenarnya dan sejujurnya pada daddy kalau kau..”
“Keumanhae! Aku benci oppa!”
Gadis itu berbalik dan kembali berjalan kearah sebuah kamar yang terletak dipojok lorong ini, “..daddy! Bukan pintunya!” Seru gadis itu kencang dan mengetuk pintu itu dengan kasar dan kesal, “..daddy!!!”
Dan tak berapa lama seorang pria paruh baya nampak dari balik pintu kamar itu.
“Ada apa, sayang? Tumben kau bangun pagi sekali..”
“Kenapa harus dikawal lagi? Daddy sudah berjanji bukan? Aku rela mengikuti banyak kursus bela diri supaya tidak dikawal lagi, daddy!” Protes Ji Eun tanpa mau mendengar perkataan ayahnya lebih lanjut lagi.
“Sayang..situasi sekarang beda dari kemarin-kemarin. Daddy hanya mau benar-benar menjamin keamananmu. Dan daddy tidak menerima protes apapun lagi darimu. Sebaiknya kau segera bersiap. Pesawatmu akan segera berangkat.”
Emilio kembali masuk kedalam kamarnya, sedang Ji Eun hanya bisa menatap punggung ayahnya dengan rasa tidak percaya.
“Aku benci daddy! Daddy tidak pernah menepati janji! Aku sangat benci padamu!” Seru gadis itu geram kemudian berjalan kembali kekamarnya. Matanya mulai memanas. Butir-butir bening itu mulai tertahan disana.
“Apa yang kurang? Taekwondo..Aikido..kursus menembak..aku sudah berusaha!” Gumamnya kesal sembari menepis lampu tidurnya sampai terjatuh. Bukan hanya lampu tidurnya saja, namun beberapa benda diatas meja riasnya pun ditepis jatuh berantakan.
“Bagaimana kalau perjalanan ku ini tak ada yang boleh tau?” Gumam Ji Eun lagi kemudian mulai memasukan beberapa pakaiannya kedalam sebuah ransel biru miliknya.
Dan dengan mengendap-endap gadis itu keluar dari rumah besar itu.
Bebas! Aku hanya mau itu sebentar saja…kalau tidak ayah berikan, akan kudapatkan kebebasan itu sendiri dan tentunya dengan caraku!

Ji Eun berjalan dengan perut yang terus berbunyi. Gadis itu sadar, sejak pagi tadi ia belum mengisi perutnya dengan makanan.
“Astaga! Bodohnya..kenapa harus lupa dompet?! Benar-benar sial!” Gerutu gadis itu pada dirinya sendiri.
“Hei!”
Suara teguran itu sontak membuat Ji Eun sedikit melonjak kaget. Segera gadis itu berbalik dan mendapati sosok pria tampan sedang berjalan kearahnya, “..Lee Ji Eun, kan?”
Dahi Ji Eun mengernyit, Dari mana dia tau namaku? Kenal dengannya pun aku tidak., “..kau siapa?”
“Mungkin ayahmu belum bercerita, ya? Kalau aku ini saudara sepupu jauhmu..”
“Pembohong! Banyak orang yang sering bilang begitu padaku kalau bertemu. Tapi semuanya bohong!” Ketus Ji Eun. Gadis itu berniat berjalan meninggalkan Marc sampai akhirnya pria itu menangkap tangannya.
“Aku Daniel..Daniel Javier.”
Beberapa saat kemudian Ji Eun melongi terkejut. Setaunya Daniel itu kurus dan berkawat gigi tapi kenapa…
“Orang kurus bisa memiliki tubuh bagus kalau berusaha kan? Dan lagi, kita sudah 7 tahun tidak bertemu.”
Marc mulai tersenyum ketika gadis didepannya ini percaya akan sandiwaranya.
“Entahlah..tapi..kau tidak bohong kan?”
Marc segera menggeleng menjawab perkataan Ji Eun, “..kalau begitu, aku mau tinggal dirumahmu saja. Aku sedang kabur dari rumah. Tentu kalau kau Daniel, kau akan dengan senang hati mengijinkanku tinggal kan?”
“Kenapa tidak? Ayo!”
Marc menggiring Ji Eun masuk kedalam BMW Cope miliknya. Dan setelah keduanya berada dalam mobil, Marc segera menyetir menjauh dari tempat itu. Keberhasilan itu akan datang pada orang yang mau menunggu dengan sabar, bukan?
Tak berselang lama, mobil Marc sudah diparkirnya didepan sebuah rumah mewah, “..ini rumahmu?” Tanya Ji Eun.
“Yaah..begitulah. Sangat tidak enak jika ditinggali sendiri.”
Ji Eun melongo kaget, Rumah sebesar ini, hanya ditinggalinya sendiri? Berarti..kalau denganku? Hanya kami berdua?
“Tidak apa-apa. Didalam ada asisten rumah tanggaku. Namanya Shanti. Jadi dalam rumah ini hanya kita bertiga.”
“Dan hanya aku saja yang perempuan?”
“Tidak masalah kan?”
Ji Eun segera menggeleng ketika perutnya kembali bereaksi, “..aku juga belum sarapan. Ayo!” Ajak Marc dan mereka masuk bersama dalam rumah itu.
Beberapa saat Ji Eun sedikit takjub dengan rumah pria ini. Interior mewah yang tertata rapi tepat pada tempatnya. Pemilihan warna untuk cat rumah ini yang sesuai dengan interiornya.
“Ku harap kau nyaman disini.”
“Kuharap juga begitu.”
Tidak buruk juga. Toh, hari ini tidak sial-sial amat.

$ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $

[Bagaimana?] tanya sebuah suara berat diujung sambungan telepon sana.
“Semuanya mulai berjalan sesuai rencanaku. Kau tenang saja. Aku akan segera membereskan tugas ini.” Balas Marc yakin sembari membubuhkan senyum tipis dibibirnya.
[Bagus. Dan kuharap, kau tidak main-main denganku. Aku punya banyak mata yang bisa memantau mu dimana pun kau berada.]
“Kau tenang saja. Percayakan tugas ini padaku.”
Dan sambungan telepon itu pun terputus. Marc kemudian berjalan keluar dari kamarnya dan diam-diam mengintip masuk kedalam sebuah kamar yang pintunya membuka sedikit cela.
“Lihat-lihat apa?” Seru gadis itu yang entah dari mana, tau kalau Marc sedang mengamatinya, “..tolong tutup pintunya. Aku mau tidur!” Pinta gadis itu.
Astaga. Kalau aku mau, aku sudah membunuhmu sekarang!
Meskipun sedikit kesal, Marc akhirnya menutup pintu kamar gadis itu.
“Tuan muda, ada telepon untuk anda.”
“Siapa?”
“Ayah anda.”
Raut muka Marc berubah. Datar dan dingin. Entah mengapa, rasa benci yang Marc rasakan pada pria paruh baya itu tak kunjung hilang sampai saat ini.
“Bilang saja aku tidak mau bicara dengannya lagi.” Pinta Marc dingin dan datar kemudian berjalan turun dan memghilang dibalik pintu rumah.
Marc mau mencari sedikit hiburan. Entah dimana, yang penting Marc bisa sedikit melupakan tentang pria yang adalah ayahnya itu.

Flashback :

“Mommy!!!” Jerit Alex dan Marc kecil bersamaan ketika wanita paruh baya yang sangat mereka sayangi itu sudah tebaring tak bernyawa dengan bersimbah darah.
Mata Marc kecil menangkap sebuah pistol yang tergenggam erat ditangan ayahnya yang berrdiri tepat didepan mayat ibunya, “..apa yang daddy lakukan?” Tanya Marc lambat-lambat. Air matanya mulai bergulir deras, dan membasahi pipinya. Sedang tangannya terus mendekap adik kecilnya Alex.
Tanpa menjawab, pria paruh baya itu malah berlari pergi dari rumah. Dan menghilang entah kemana.
Bertahun-tahun, Marc dan Alex hidup sendirian. Susah payah, Marc menjaga adiknya sendirian, membiayai sekolah keduanya sendirian. Hingga suatu ketika, pria paruh itu kembali lagi sudah dalam keadaan mapan.
“Ayo ikut dengan daddy.” Bujuk Julia pada putra sulungnya yang mulai beranjak remaja itu.
“Pergi kau! Kau bukan daddy ku dan aku juga Alex, tidak membutuhkan mu lagi. Dasar pembunuh!” Maki Marc kemudian meninggalkan pria paruh baya itu, masih mematung ditempatnya.
Semakin dekat dengan rumahnya, perasaannya makin tak karuan. Dan benar, setibanya dirumah..”ALEEEXX!!” Jerit Marc pilu. Ia bahkan tak pernah menyangka kalau adiknya akan bernasib sama dengan ibunya. Namun kerja siapa ini? Siapa yang sudah membunuh adiknya seperti ini. Merenggut keluarga Marc satu-satunya.
Hingga akhirnya terpikir oleh Marc seorang pria. Julia. Ya, pria itu pastilah pelakunya.
Rasa benci Marc makin menggunung. Tak ada lagi yang perlu diperbaiki. Ayahku sudah mati! Ayahku sudah mati! tekat Marc dalam hatinya.

Flashback End :

“Tidak baik kalau duduk sendirian begitu!”
Suara Ji Eun seketika membuat Marc sadar dari lamunannya. Pria itu berbalik dan mendapati gadis itu sudah duduk disampingnya, “..oh ya, terima kasih sudah mengijinkanku tinggal dirumahmu ini.”
“Tidak masalah.”
“Oh ya, bagaimana kedua orang tuamu?”
Sejenak Marc terdiam. Kau terjebak dalam sandiwara ini, Marc. Jawablah sekenannya.
“Mereka baik-baik saja.” Jawab Marc akhirnya.
“Hmm..kenapa mereka membiarkan mu tinggal disini sendirian?”
“Entahlah. Tapi aku hanya ingin hidup mandiri.”
Gadis ini. Kalau dilihat sedekat, jauh lebih cantik ketimbang dalam fotonya.
“Kau melamun apa dari tadi?”
“Tidak. Aku hanya sedang berpikir saja, kenapa aku harus jadi saudara mu, ya? Padahal, kalau kita bukan saudara..mungkin aku sudah menjadikanmu pacarku.” Canda Marc.
“Ha-ha-ha..lucu..lucu sekali.”
“Sungguh. Aku tidak bercanda.”
“Terserah kau saja.”
“Kalau begitu, kau mau tidak jadi pacarku!”
“Tidak Mau.”
Tawa Marc pecah. Gadis yang unik. Sangat unik. Kurasa aku mulai menyukai gadis ini.

To Be Continued…

Naahh…bagaimana? 😀 kalian suka? 😊 kalau suka, jangan lupa ‘LIKE’ atau tinggalkan ‘COMMENT’ 😉 author tunggu, ya? 😉

Tell Your Mom, I Love Her! #12 (Last Part)

photocat_tellyourmomilovehercover2

Happy Reading ya, guys 😘

*************************

Part 12 :

[Lupakan rencanamu, Scott. Ibu tetap tidak mau menerima wanita itu juga anaknya.]
“Itu terserah ibu. Aku tetap akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”
[Scott! Dengarkan ibu! Kau akan menikah dengan Stella dan harus segera kembali ke Manchester. Titik! Ibu tak mau dengar alasan apapun lagi dari mu dan..]
“Aku yang tidak akan menerima nasehat ibu lagi. Dan lupakan pernikahan itu. Aku tidak mencintai Stella. Katakan maaf ku padanya.”
Scott langsung menutup pembicaraan ditelepon itu dan mengambil kunci mobil juga jacket kulit hitam miliknya kemudian keluar dari apartemen mewahnya. Tak peduli dengan seberapa berantakan keadaannya saat ini, pria itu terus berjalan dengan mantap dan mengacuhkan setiap mata yang terus memandanginya dengan ngeri.
“Masa peringatan kalian habis, Marc..Ji Eun. Inilah batas kesabaranku.” Gumam pria itu kemudian melaju cepat Ferarri putih miliknya keluar dari area gedung parkir itu.
Caranya menyetir bak orang kesetanan. Tak peduli beberapa mobil juga pejalan kaki yang hampir menjadi korban keganasannya menyetir. Kecepatan maupun caranya menyetir tidak berubah sedikit pun sampai beberapa saat kemudian, mobil ferarri itu sudah terparkir diarea parkir Olympic Park.
Dengan langkah mantap pria itu berjalan menyusuri tiap area wahana permainan di Olympic Park. Hingga akhirnya mata pria itu menangkap sosok yang amat sangat dia rindukan beberapa minggu ini. Dan sesuai rencana, gadis kecil itu sedang menunggu sendirian disebuah bangku panjang.
Dengan langkah hati-hati, Scott berjalan mendekat kearah Hanna, “..hei, manis. Sedang apa?” Tanya Scott lembut. Pria itu tidak mau membuat gadis kecil itu ketakutan melihatnya.
“Kenapa kau disini?” Tanya Hanna dengan suara yang sedikit bergetar. Namun, ada rasa lega yang Hanna rasakan, seperti rasa rindunya telah terbayar.
Tanpa sadar, air mata Scott menetes. Hanna dapat melihat betapa terlukanya pria itu. Penampilannya sudah cukup menjelaskan penyesalannya, “..kumohon, kau mau jalan-jalan denganku sebentar. Setelah itu, aku tidak akan muncul dihadapanmu lagi, hm?” Bujuk Scott masih terus disela isakannya.
Sejenak Hanna mempertimbangkan yang akhirnya, gadis kecil itu mengangguk dan mengikuti Scott dengan patuh.
Sesampai mereka diarea parkir, Hanna mulai merasa ada sesuatu yang janggal. Pria ini nampak sangat depresi dan tidak seharusnya Hanna mempercayainya begitu saja.
“Kita mau kemana?” Tanya Hanna dengan suara gemetar ketika Scott memasukannya kedalam mobil.
Scott tak menjawab, pria itu kemudian menyalakan mesin dan menyetir menjauh dari taman bermain itu. Sedang Hanna, gadis kecil itu mulai menangis ketakutan.
Sambil menyetir Scott mengetik sebuah pesan diponselnya dan nampak senyum licik tersungging dibibirnya.
“Kita mau kemana?” Tanya Hanna sembari terus menangis ketakutan. Gadis kecil itu terus mendesak untuk turun. Tapi seperti tuli dan tak perduli, Scott mengacuhkan tangisan dan ketakutan Hanna itu. Yang dipikirannya saat ini adalah, menghabiskan waktunya bersama Hanna, malaikat kecilnya.

*************************

“Aku tadi hanya pergi membeli es krim sebentar. Sekarang bagaimana Marc?” Tanya Ji Eun disela-sela isakkannya. Sekujur tubuh wanita itu mulai bergetar hebat.
“Kita cari lagi, ya? Kalau tidak ketemu juga, kita lapor saja kepolisi.” Usul Marc dan Ji Eun hanya mengangguk patuh. Keduanya pun mulai berpencar untuk mencari Hanna. Namun, setelah lama berkeliling gadis kecil itu tak kunjung ketemu juga.
Panik, khawatir juga takut mulai menggelayuti hati Ji Eun. Wanita itu bahkan tak perduli dengan perutnya yang terus protes minta diisi. Nafsu makannya hilang sudah sekarang.
“Kita harus bagaimana sekarang?” Tanya Ji Eun dengan suara bergetar. Sedang Marc hanya terdiam tak tau harus menjawab apa lagi. Toh, pria itu juga mulai merasa khawatir dan takut sekarang.
Dalam kekalutan mereka itu, ponsel Marc bergetar pertanda sebuah pesan masuk. Dan betapa terkejutnya Marc ketika membaca pesan itu, “Kalau aku tidak bisa miliki Hanna. Begitu pun dengan kalian.”
“Scott..” Desis Marc geram.
“Apa?”
“Scott..Hanna sekarang bersama dengan Scott. Pria itu..”
Marc mulai mengepal tangannya dengan geram. Amarah mulai meletup-letup dihatinya. Segera pria itu berjalan dengan langkah cepat menuju area parkir, sedang Ji Eun mengikuti Marc dengan setengah berlari.
“Kita mau apa?” Tanya Ji Eun sedikit bingung.
“Mengejar mereka. Mungkin saja mereka belum begitu jauh.”
“Tapi kemana, Marc?”
Pria itu hanya menggeleng. Dan masuk kedalam mobil, “..cepat hubungi 999..setidaknya kita juga harus punya bala bantuan.” Pinta Marc kemudian mulai menyetir mobilnya menjauh dari Olympic Park.

Hanna tak lagi banyak bertanya. Tangisannya pun sudah meredah. Pandangan gadis itu terus melihat keluar, ketempat demi tempat yang Scott lewati bersamanya. Seketika tersembul sedikit memori pada tempat-tempat ini.
Taman bermain tempat Scott memberinya gaun biru cantik, rumah sakit De Deu tempat pertama Hanna bertemu dengan Scott dan sekolahnya tempat dimana Hanna sangat ketakutan melihat amarah Scott waktu itu.
Batin gadis kecil itu mulai bertanya-tanya, apa maksud pria ini membawa Hanna melewati tempat-tempat kenangan mereka.
Hingga tibalah mereka pada sebuah bangunan sekolah, yang setau Hanna ini adalah sebuah SMA. Sejenak Scott memberhentikan mobilnya dan menatap lama kedalam sekolah bangunan sekolah yang lengang karena liburan itu.
“Disinilah pertama kali aku bertemu dengan ibumu, Ji Eun. Aku benar-benar jatuh cinta padanya saat itu, bahkan aku rela melakukan apapun untuk mendapatkannya. Kami sangat mencintai dan berhasil memelihara hubungan kami sampai kuliah.”
Kembali Scott menyetir menjauh dari gedung itu dan berhenti lagi didepan sebuah bangunan kampus, “..disini..disinilah semuanya berakhir. Ketika aku terlalu bodoh dan egois, menyakiti Ji Eun dan melepas kalian berdua. Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan sangat merindukan kalian berdua. Aku juga bahkan tidak pernah sadar kalau selama ini aku selalu mencintai kalian berdua.”
Hanna mengernyit bingung. Apa yang Scott bicarakan? Gadis itu masih terlalu kecil untuk mencerna dengan baik maksud perkataan Scott, “..oh ya, ini..” Scott merogoh sakunya dan mengambil sebuah foto kecil dari dalam dompetnya, “..ini adalah foto USG pertama mu. Malam itu Ji Eun membawa ini padaku. Dan hampir saja aku buang karena frustasi tapi…entah mengapa, aku mengurungkan niatku itu dan terus menyimpannya sampai saat ini.”
Mata Hanna menerawang menatap foto USG itu, “..aku tau kau mungkin tidak begitu mengerti apa yang dari tadi kuceritakan tapi..kebenaran yang sesungguhnya adalah kau..kau putri kandungku. Putri yang dulu dengan bodohnya ku sia-siakan. Terserah kau mau percaya atau tidak..tapi setidaknya aku sedikit bisa merasa lega karena bisa menghabiskan sedikit waktuku bersamamu.”
Scott kembali menyetir menjauh dari bangunan kampus itu. Dan arah perjalanannya mulai membuat Hanna sedikit lega, “..ku pikir kau akan menculikku.” Celetuk polos gadis kecil itu.
“Mana mungkin, sayang.” Balas Scott singkat kemudian berhenti tepat didepan rumah Ji Eun, “..turunlah..aku harus segera pergi. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan.” Pinta Scott kemudian, “..oh ya, boleh kau memanggilku daddy sekali ini saja?”
Hanna nampak berpikir sesaat sampai akhirnya bibir mungil gadis kecil itu mulai bergerak, “..daddy..” Ucap gadis kecil itu ragu. Namun, tak berapa lama, seperti ada sebuah keyakinan dalam hatinya. Tangan mungilnya mulai menyusur dan menyentuh lembut pipi Scott yang mulai dibasahi air mata, “..maafkan aku daddy..aku tidak mau membencimu lagi. Aku menyayangimu.”
Air mata Scott yang awalnya hanya beberapa tetes saja, kini mulai turun dengan deras. Pria itu tak bisa menahan lagi rasa rindunya terhadap gadis kecil ini. Dengan spontan, pria itu memeluk erat tubuh mungil Hanna. Menghabiskan sisa-sisa menit kebersamaannya dengan gadis kecilnya itu.
“Daddy juga sayang padamu, Hanna. Sangat sayang.” Ungkap Scott seakan tak ada lagi kata maupun kalimat yang sanggup mengungkapkan perasaannya terhadap gadis kecil it saat ini. Ini akan jadi yang pertama dan terakhir, Hanna. Tapi ingatlah..bahwa daddy akan selalu sayang padamu.

Perasaan Scott lega. Seluruh beban dan pikiran yang mengganggunya beberapa minggu ini menguap sudah. Hatinya jauh lebih enteng sekarang. Pria itu terus menyetir dengan santai, senyum pun tak lepas dari wajah pria itu. Hingga sampai beberapa mobil polisi mengejar mobilnya dari belakang. Scott tau, seharusnya ia tidak lagi boleh menghindar, namun kakinya yang menginjak pedal gas, seakan tak berkoordinasi dengan baik dengan otaknya sehingga, mobil pria itu kembali melaju membabi buta dijalanan.
Scott terus berusaha meyakinkan hatinya juga mengkoordinasi tubuhnya, agar mau menurut dan tidak lagi melarikn diri seperti pengecut. Namun seperti semuanya terlambat ketika tanpa sadar, Scott sudah berada diluar jalur.
Pria itu tepat berada dijalur yang berbeda arah dengannya. Dan kalau pun aku mati hari ini. Setidaknya aku mati dengan perasaan bahagia. Dan tak ada lagi beban yang menggantung dihatiku.
Tabrakan keras antara sebuah truk gandeng dengan mobil Ferarri putih Scott tak terelakan. Membuat beberapa mobil polisi yang sedari tadi memburu Scott segera turun dan berlari menghampiri kedua mobil tersebut.
“Cepat panggil ambulans!” Seru salah seorang polisi yang masih terdengar samar ditelinga Scott. Dan lama kelamaan, pendengarannya melemah, matanya mengabur dan gelap, napasnya berhenti menderu dan jantungnya tak lagi berpacu. Kau akan menjadi ayah yang baik untuk Hanna kan, Marc?

*************************

Flashback :

“Eomma..”
Sejenak Ji Eun tertegun dengan panggilan baru untuknya dari Hanna itu. Jantung Ji Eun hampir melonjak keluar, antara karena senang atau terkejut. Gadis kecil itu kemudian berjalan mendekati Ji Eun dan memeluk wanita itu dengan penuh sayang.
“Kau eomma kandung ku kan?” Tanya Hanna membuat hati Ji Eun menjadi pilu, “..terima kasih, eomma. Selama ini mau jadi eonni yang baik dan sayang padaku. Selama ini sudah mau memberikanku kedua orang tua yang lengkap. Tapi, sebenarnya aku tidak apa-apa kalau hanya dengan eomma saja. Aku juga tidak akan perduli dengan apa yang akan teman-temanku katakan padaku. Aku sayang eomma juga daddy. Aku tidak berharap kalian bersatu lagi karena eomma sendiri sudah punya Marc. Tapi aku mau, kalian tetap mengurusiku bersama dan bergantian menjemputku dari sekolah. Boleh kan kalau setiap seminggu sekali aku menginap dirumah daddy?”
Ji Eun masih terdiam. Masih berusaha mencerna tiap perkataan polos gadis kecilnya itu. Ji Eun bahkan menganggap dirinya terlalu bodoh selama ini yang menganggap Hanna sebagai anak kecil yang rapuh. Ia salah kalau menganggap Hanna tak akan mau menerima situasi ini. Bahkan kalau mau dibilang, bocah 4 tahun ini memiliki sikap yang lebih dewasa ketimbangnya yang sudah berusia 21 tahun.
Ji Eun memeluk erat tubuh Hanna. Mendekapnya hangat dan mengecup pucuk kepalanya.
“Maafkan eomma. Sungguh maafkan eomma, sayang. Eomma hanya tidak ingin kau tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Eomma juga tidak ingin melukaimu dengan menceritakan bahwa ayahmu sudah menolakmu dulu. Sekarang eomma sangat menyesal, sayang. Maafkan eomma.” Isak Ji Eun sambil terus mendekap Hanna erat.
“Tidak eomma. Tidak apa-apa. Tadi..daddy menceritakan semuanya padaku. Bagaimana kalian saling jatuh cinta, bagaimana kalian memelihara cinta kalian itu, sampai dimana kalian terpisahkan karena egoisme. Aku tidak mau menyalahkan eomma atau daddy. Aku hanya mau berterima kasih pada eomma yang terus memperjuangkan dan mempertahankan aku, meski eomma sendiri tau kalau daddy tak akan mau bertanggung jawab.”
Ji Eun terus terisak. Air matanya kian membanjiri wajahnya. Dan dibelakangnya sana, Marc hanya bisa menatap haru pemandangan didepannya itu.
Hanna adalah gadis kecil yang tangguh. Setangguh Ji Eun. Dia bahkan tak berespon berlebihan atau bahkan membenci Ji Eun, “..Hanna.” Sapa Marc pelan.
“..maafkan aku juga yang berusaha menjauhkanmu dari ayahmu. Tapi, kalau kau ingin daddy dan eomma mu kembali. Aku tidak apa-apa.”
Gadis kecil itu melepas diri dari dekapam Ji Eun dan beralih pada Marc. Gadis kecil itu merengkuh wajah Marc dengan kedua tangan mungilnya, “..tidak. Aku juga sayang padamu. Aku ingin kau jadi daddy ku juga.”
“Terima ka..”
Belum Marc menyelesaikan kalimatnya, ponsel pria itu berdering. Segera, Marc menerima panggilan itu dan beberapa saat kemudian raut wajahnya berubah tegang.
Ponsel digenggamannya itu diturunkan perlahan.
“Ada apa Marc?” Tanya Ji Eun penasaran.
“Ji Eun..Hanna..Scott meninggal. Tadi saat polisi melakukan pengejaran, mobil Scott mengalami tabrakan mengerikan dengan truk gandeng. Dan dia…langsung meninggal ditempat.”
Perkataan Marc sudah cukup jelas untuk keduanya. Hanna mulai menangis histeris. Hari ini, gadis itu baru mengetahui ayahnya yang sebenarnya, namun hari ini juga, Tuhan mengambil kembali ayahnya. Sedang Ji Eun, wanita itu masih membatu. Tak ada setetes air mata pun yang turun atau sepatah kata pun darinya.
Rasa sesal. Ya, itulah yang Ji Eun rasakan kini.

Flashback End :

Ji Eun masih terdiam dikamarnya. Entah sudah berapa jam wanita itu terus duduk didepan jendela sembari menatap keluar dengan pandangan kosong.
Saat peti jenazah Scott dimasukan kedalam liang lahat pun, tak setetes atau sepatah kata yang keluar. Hanya pandangan kosong juga hati yang terus menjeritkan penyesalan Ji Eun.
Toh, sekeras apapun aku menjerit atau menangis sekarang, Scott tak akan bangkit lagi. Ia sudah pergi. Dia tak akan mendengar permintaan maafku lagi.
Perlahan, Marc masuk kedalam kamar Ji Eun dan duduk disamping gadis itu.
“Sampai kapan kau mau begini terus?”
“Sampi rasa bersalahku hilang, Marc.”
“Kapan? Ji Eun..dengan begini, rasa penyesalanmu tidak akan hilang. Kau tau, cara satu-satunya menebus kesalahan kita pada Scott adalah menjaga Hanna. Menyayangi Hanna. Dan membesarkan Hanna dengan baik tanpa sedikit pun membiarkannya melupakan sosok ayah kandungnya. Kalau kau hanya sibuk menghukum diri seperti ini, kau tak akan ada waktu untuk menebus kesalahanmu itu.”
Ji Eun akhirnya berbalik. Dan air mata yang sedari kemarin terus disimpannya, akhirnya menetes juga. Makin lama makin deras. Segera Ji Eun menghambur kedalam pelukan Marc dan menangis sesenggukan didalam dekapan hangat pria itu.
“Aku takut tidak bisa membesarkan Hanna sesuai harapan Scott. Aku takut, suatu saat nanti Hanna akan membenciku karena membuatnya kehilangan ayahnya. Aku takut Marc.”
“Hanna tidak pernah membencimu Ji Eun. Dia tidak akan pernah bisa membencimu. Dia malah membutuhkanmu sekarang. Dan aku..aku bersumpah akan menjadi ayah yang baik untuknya. Kita akan membesarkannya dengan kasih sayang. Kau mau kan?”
Terharu. Ya, Ji Eun sangat terharu dengan tekat Marc. Entah apa jadinya Ji Eun kalau dalam hidupnya, ia tidak pernah bertemu dengan Marc. Mungkin saat ini, ia masih sibuk untuk terus menghukum dirinya sendiri.
“Terima kasih sayang..terima kasih.” Ucap Ji Eun tulus.

Persiapan pernikahan Marc dan Ji Eun sudah matang. Segala duka sudah mereka tinggalkan dibelakang. Dan Hanna, gadis kecil itu bahkan lebih bersemangat ketimbang Ji Eun dan Marc.
“..aku akan punya adik dan kami bisa bermain bersama. Menyenangkan sekali kan, grandma..grandpa!” Ujar Hanna penuh semangat. Sedang Ra Im dan Joo Won hanya tertawa renyah menanggapi celotehan demi celotehan polos Hanna.
“Memangnya kau mau punya adik berapa banyak?” Tanya Marc setengah becanda.
“2 atau 1 mungkin.” Jawab gadis kecil itu dengan tampang serius. Membuat Marc tak bisa menahan tawa gemasnya terhadap Hanna.
“Bagaimana Ji Eun?”
Mendengar pertanyaan Marc yang terkesan sedikit menyindirnya itu membuat Marc langsung mendapat tatapan bengis.
Semuanya kembali ceria Scott. Aku tau kau terus memperhatikan Hanna dari atas sana. Dia sekarang bahagia, dan aku berjanji. Dia tak akan melupakanmu lagi.

*************************

Prosesi lempar bunga adalah satu hal yang paling ditunggu-tunggu oleh kerabat pengantin, terkhususnya wanita.
Anya sudah berdiri mantap dibelakang sana, sedang Ji Eun memunggungi mereka dan bersiap-siap untuk melempar bunga.
“1..2..3..!!” Pada hitungan ketiga, Ji Eun melempar sebuket kecil bunga mawar merah itu kebelakang. Dan bisa ditebak, Anya lah yang berhasil menggapai bunga itu. Selain karena postur tubuhnya yang tinggi semampai. Tapi juga, karena niat wanita itu ingin segera menikah diusia mudanya.
Acara resepsi pernikahan Marc dan Ji Eun dihelat disebuah taman luas yang letaknya tak begitu jauh dari gereja.
“Sekarang, aku bisa memanggilmu daddy, kan?” Tanya Hanna polos sembari naik kepangkuan Marc.
“Tentu saja, sayang. Oh ya, kau mau melakukan satu hak untuk daddy?”
“Apa?”
Segera Marc berbisik ditelinga Hanna, “..kau bisa?”
Hanna hanya menjawab dengan mencungkan jempolnya kearah Marc. Dan gadis kecil itu kemudian berlari kecil kearah Ji Eun, “..eomma, menunduk sebentar aku mau bisikan sesuatu!” Pinta gadis kecil itu yang membuat Ji Eun mau tak mau mematuh. Wanita itu perlahana sedikit menunduk dan membiarkan gadis kecil itu mengucapakn kalimat..
“Daddy Marc bilang : Katakan pada ibumu, kalau aku mencintainya. Sangat mencintainya!”
Ji Eun tersenyum dan kembali membisikan sesuatu pada Hanna, “..pergilah.”.
“Eommau bilang apa?” Tanya Marc setibanya Hanna kembali padanya.
Gadis kecil itu kemudian membisikan hal yang tadi juga diungkapkan Ji Eun, “Eomma bilang : Dia juga sangat mencintaimu!”
“Lalu bagaimana dengamu? Aku mencintaimu, Hanna! Dan kau?”
“Aku sangat..sangat..sangat menyayangimu, daddy.” Ungkap gadis kecil itu sambil tersenyum lebar.

The End..

Guys..maaf ya, kalo terkesan terburu-buru dan jelek sekali 😔 author sekarang lagi mengejar waktu karena, sekarang udah mulai kuliah jadi author gk punya banyak waktu untuk buat FF..tapi, author tetap menunggu kritik dan saran dari kalian semua..☺️ Terima kasih sudah membaca FF ini (Tell Your Mom, I Love Her!) dari Part 1-12..terima kasih juga buat setiap masukan yang sudah kalian berikan..akan author simpan untuk FF- FF selanjutnya..😊 sampai jumpa lagi di FF yang lain ☺️

Tell Your Mom, I Love Her! #11

photocat_tellyourmomilovehercover2

Happy Reading ya, guys 😘

*************************

Part 11 :

Marc masih belum mau beranjak dari ranjang Alex. Masih banyak pertanyaan pula yang menggelayuti hatinya seperti, ‘Siapa orang-orang itu?’, ‘Apa maksud mereka melakukan ini?’, ‘Mengapa Alex?’ dan masih banyak pertanyaan lain yang terus mengganggunya. Dan kalau pun benar seperti yang dikatakan Anya bahwa orang-orang itu mafia, pasti ada dalang dibalik tindakan mafia-mafia itu, bukan?
Marc makin bingung. Pria itu bahkan hampir tak pernah mendengar kalau Alex punya masalah dengan seseorang. Selain karena sikapnya yang dingin. Adik lelakinya itu pun selalu menyibukkan dirinya dengan belajar. Mana mungkin, kan?
Tengah sibuk berpikir, Marc dikejutkan dengan gerakkan tangan Alex yang kemudian diikuti dengan sadarnya Alex.
“Alex..” Ujar Marc hampir seperti berbisik. Segera, Marc keluar dari kamar rawat Alex dan memanggil seorang dokter untuk memastikan lagi keadaan adiknya itu.
“Bagaimana dok?” Tanya Marc dengan senyum lega yang mulai melengkung dibibirnya.
“Dia sudah baik-baik saja. Namun, saya harap Alex bisa istirahat yang cukup untuk seminggu kedepan.” Jawab dokter itu kemudian melangkah keluar dari kamar rawat Alex.
Sejenak, Marc menangkap ada yang aneh dengan tatapan Alex. Namun Marc lebih memilih untuk mengabaikkan, mengingat pesan dokter tadi kalau Alex harus banyak beristirahat.
“Marc..” Seru Alex dengan suara serak yang seketika menghentikan langkah Marc untuk keluar dari kamar itu, “..bisa kita bicara sebentar? Ini soal kejadian kemarin malam.”
Seketika Marc membalikkan badannya dan kembali berjalan mendekati ranjang rawat Alex.

Kedua pria beda generasi itu masih saling diam dan belum ada yang berniat untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Marc tau, seharusnya dia yang memulai duluan karena dialah orang yang meminta ayahnya itu untuk bicara saat ini.
“Sebenarnya..” Marc akhirnya mengeluarkan suaranya dan mulai bicara, “..ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu.”
“Aku tau. Makanya aku kemari, nak. Ada apa?”
Sejenak Marc kembali terdiam. Setelah merasa siap, pria itu mulai membuka mulutnya lagi, “..aku akan menikahi seorang gadis dad..aku mencintainya.”
Pria paruh baya itu tersentak mendengar ucapan mantap putra sulungnya. Kaget sudah pasti, tapi rasa bahagia tak dapat pria paruh baya itu sembunyikan dari wajahnya.
“Kau sudah memiliki kekasih dan tidak memperkenalkannya pada kami?”
“Sebenarnya sudah kuperkenalkan, dad. Dia gadis yang kemarin malam datang waktu Alex masuk rumah sakit.”
Sejenak Julia tertegun. Pria paruh baya itu berusaha mengorek memorinya dan akhirnya menemukan, “..dr. Lee?? dr. Lee Ji Eun? Kau..dan dr. Lee?”
Marc hanya mengangguk menjawab pertanyaan ayahnya itu. Namun, tatapannya tetap lurus dan nampak serius, “..tentu saja daddy setuju, Marc. Siapa pun pasti ingin punya menantu seperti dr. Lee itu. Sudah cantik, pintar dan berbakat. Daddy penasaran, bagaimana reaksi mommy mu kalau mendengar ini.”
“Tapi dad…ada hal mengenai Ji Eun yang belum dad ketahui dan aku ingin memberitahukan itu padamu.” Marc menghela napas panjang dan menghembuskannya. Pria itu sudah siap. Siap dengan resiko apapun. Meski ia harus dimaki ayahnya sekali pun, yang dia inginkan hanyalah menikah dengan gadis yang dia cintai itu, “..Ji Eun..dia punya seorang putri. Putri yang dikandungnya sewaktu ia masih menempuh perkuliahan. Putri yang didapatnya dari seorang pria bajingan yang tak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tapi dad…aku mencintai mereka.”
Marc tau ekspresi ayahnya berubah. Yang tadinya tersenyum bahagia, kini beubah dingin dan datar, “..aku akan tetap menikahi Ji Eun, dad. Tak perduli seperti apa masa lalunya. Aku sangat mencintainya, begitu juga dengan putrinya.” Pria itu menatap mantap dan lurus tepat didalam manik mata pria paruh baya didepannya itu. Sedang pria paruh baya itu, bahkan masih menolak untuk memberi jawaban, “..dad, kumohon..”
Masih terdiam. Dan kemudian pria paruh baya itu memperbaiki posisi duduknya dan mulai membuka mulutnya, “..nak, daddy tidak membenci keputusanmu. Daddy diam bukan karena marah, tapi takjub dengan sikapmu. Bahkan, kalau itu dihadapkan pada daddy sendiri, mungkin daddy tak akan sanggup dan lari. Tapi kau bukan daddy. Kau Marc…putra sulung yang sangat daddy banggakan. Toh, kalau dia pilihanmu, daddy hanya bisa memberikan restu, bukan?”
Senyum kebar mengembang diwajah Marc. Pria itu tak menyangka kalau ayahnya tidak marah padanya. Padahal sejak tadi, Marc sudah siap jika ayahnya akan memakinya atau mengusirnya. Tapi dia salah, bukan makian, tapi pujian.
Setidaknya, sekarang perasaan Marc sudah sedikit lega, “..daddy akan coba jelaskan pada mommy mu..dia pasti mengerti.”
“Terima kasih, dad.”

*************************

“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Kita bisa bicara ditempat yang lebih leluasa kan?”
Ji Eun mengedarkan pandangannya kesekeliling restoran mewah itu dan kembali memandang dirinya sendiri dengan busananya malam ini, “..apa tidak sebaiknya kita pulang dan ganti baju dulu?”
“Oh ayolah…kau akan tetap terlihat cantik dengan mengenakan apapun dan dalam keadaan apapun.” Sergah Marc sambari tersenyum lembut kearah Ji Eun. Tangan besar pria itu kemudian menggenggam erat kedua tangan Ji Eun yang sedari tadi diletakkan diatas meja. Mata coklatnya memandang lurus kedalam manik mata Ji Eun dan mengunci gadis itu didalam matanya, “..aku ingin kita akhiri ini.” Ujar Marc yang lantas membuat Ji Eun melongo tidak mengerti. Sakit. Jelas sangat sakit ketika kau sudah sangat mencintai seseorang dan ia mengatakan untuk mengakhiri semuanya. Jelas tidak akan bisa diterima dengan akal sehat sekali pun. Marc tersenyum pria itu tau, mungkin sekarang Ji Eun sedang salah paham dengan maksud ucapannya, “..kita akhiri hubungan kita sebagai sepasang kekasih dan menjalin hubungan yang lebih lagi dari itu.”
Sejenak Ji Eun tertegun, berusah mencerna perkataan Marc sampai akhirnya, Marc merogoh saku celananya dan kemudian menyodorkan sebuah kotak berbalut kain beludru merah dan membukanya, “..will you marry me?” Ucap Marc lancar dan tanpa ada ragu sedikit pun. Ji Eun masih membatu. Belum mampu merespon dan mencerna ini semua. Namun, hatinya seperti sudah lebih dahulu mencerna maksud Marc dan tanpa wanita itu sadari, air matanya mulai bergulir turun. Bukan karena sedih. Tapi karena terlalu bahagia dan tak percaya. Meski belum mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya, Ji Eun mengangguk. Ia mengiyakan lamaran Marc itu dengan bahagia.
“Kalau begitu, besok…apa kau punya waktu?”
“Untuk apa?” Tanya Ji Eun penasaran.
“Sudah saatnya aku memperkenalkanmu pada orang tuaku, bukan?”
Jantung Ji Eun memompa. Ingin sekali wanita itu menjawab, ‘Mungkin aku terlalu sibuk besok.’ Tapi yang ia jawan adalah, “..te-tentu saja.”
“Baguslah.” Jawab Marc singkat.
Ya. Ini terlalu cepat. Tapi…aku bahagia. Itu saja.

Ji Eun mulai membongkar isi lemarinya. Wanita itu mulai berpikir, apa yang akan dia kenakan besok untuk menemui orang tua Marc. Tentunya Ji Eun harus berbusana rapih, agar memiliki kesan sopan dimata kedua orang tua Marc.
“Sayang..kau sedang apa?” Tanya Ra Im yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu kamar Ji Eun. Dengan wajah sedikit memelas, Ji Eun menatap baju-baju yang berhamburan diatas kasurnya itu, “..besok aku akan bertemu dengan orang tua Marc. Apa yang harus aku lakukan?”
Ra Im tertawa renyah mendengar ucapan putrinya itu. Wanita paruh baya itu kemudian mendekat keatas kasur Ji Eun dan mulai melihat-lihat semua pakaian yang bertebaran itu.
“Sayang. Saran eomma, tampilah natural. Dan jangan bersikap berlebihan didepan mereka, hm? Setiap orang tua, pasti menginginkan menantu yang baik dan manis untuk putra mereka. Dan ibu berpikir, mungkin seperti itu juga kedua orang tua Marc. Dulu pun, waktu appa mu mau membawa eomma bertemu dengan keluarganya, eomma tidak terlalu ambil pusing soal penampilan. Yang penting eomma tampil apa adanya dan menunjukan sikap natural eomma. Dan eomma harap, kau juga akan seperti itu, sayang.”
Tampil natural, ya? Sedikit demi sedikit, Ji Eun paham dengan apa yang dikatakan ibunya. Setelah memberi sedikit wejangan kepada Ji Eun, wanita paruh baya itu berlalu pergi, “..eomma benar. Aku hanya perlu tampil senatural mungkin.”

*************************

“Eonni mau kemana?” Tanya Hanna sembari mengernyitkan keningnya dan memiringkan sedikit kepalanya.
“Rahasia.” Balas Ji Eun singkat kemudian terkikik pelan. Sedikit kesal, Hanna mengembungkan pipinya dan mulai merajuk.
“Eonni mau bertemu dengan Marc, ya? Kenapa aku tidak diajak?”
Ji Eun tertawa mendengar pertanyaan polos Hanna. Toh, salah Marc, kenapa setiap mengajaknya kencan selalu membawa Hanna.
“Sayang, kali ini situasinya beda. Lebih pribadi, eo? Eonni janji akan membawakanmu oleh-oleh nanti.” Bujuk Ji Eun agar gadis kecil itu tak lagi banyak bertanya.
“Baiklah..jangan lupa sampaikan salamku untuk Marc, ya? Oh ya..tanyakan padanya, kapan aku akan bertemu dengan Kanya lagi?”
Ji Eun hanya mengangguk kemudian mengecup pucuk kepala Hanna dan berpamitan ketika mobil Marc sudah terpakir didepan pekarangan rumah Ji Eun.
“Kau sudah siap?” Tanya Marc ketika Ji Eun sudah duduk didalam mobil.
“Entahlah. Aku gugup sekali.”
Dengan lembut Marc menggenggam erat tangan Ji Eun yang terasa sedingin es itu, “..kau sangat cantik malam ini.” Puji Marc setengah berbisik. Membuat rasa gugup Ji Eun bergani menjadi debaran yang menghangatkan.
“Aku tidak memakai dandanan. Hanya bedak dan lipstik saja.”
“Tetap saja sangat cantik.”
Seketika wajah Ji Eun bersemu merah. Oh ayolah..kau bukan gadis remaja lagi yang harus terus tersipu jika dipuji seperti ini. omel Ji Eun pada kekonyolannya sendiri.

Semakin dekat dengan rumah Marc jantung Ji Eun memompa makin cepat dan menyiksa, “..siapa yang menjaga Alex dirumah sakit?” Tanya Ji Eun tiba-tiba ketika Marc sudah memarkirkan mobilnya tepat didepan teras rumahnya.
“Kanya. Dia bilang dia akan menunggu kejutan dari kita.” Jawab Marc sembari tersenyum kemudian keluar dari mobil. Pria itu lantas membukakan pintu mobil untuk Ji Eun dan menuntun gadis itu keluar dari dalam mobil.
“Kau siap?” Tanya Marc kemudian membiarkan Ji Eun mengamit lengannya.
Terasa dilengan Marc kalau Ji Eun gemetaran, “..percaya padaku, semuanya akan baik-baik saja.” Ujar Marc mantap kemudian berjalan bersama Ji Eun masuk kedalam rumahnya.
Dan benar saja. Ji Eun tak melihat bahwa ada pemikirannya sedari tadi yang benar. Semuanya berlawanan dengan khayalannya. Tak ada ekpresi datar mengintimidasi. Apalagi kalimat dingin dan datar. Ji Eun benar-benar disambut seperti sudah menjadi bagian dalam keluarga ini. Roser, ibu Marc, bahkan tak sungkan lagi berpelukan akrab dengan Ji Eun dan langsung mempersilahkannya untuk duduk makan malam bersama mereka. Wanita paruh baya itu bahkan duduk disamping Ji Eun, dan banyak berbagi cerita dengannya. Suasana yang hangat dan akrab. Bahkan, yang lebih membuat Ji Eun takjub, ketika wanita paruh baya itu memuji Ji Eun yang mampu mempertahankan Hanna dalam kandungannya, meski ayah kandung putri kecilnya itu menolak keberadaan merek berdua.
Semakin lama dirumah Marc, Ji Eun makin betah. Wanita itu juga makin mengerti, dan tidak heran lagi, kenapa Marc memiliki sifat yang hangat dan sangat baik kepadanya. Pria itu memiliki keluarga yang sempurna untuk disebuat sebagai keluarga ideal.
Sebenarnya, Ji Eun ingin bermalam. Namun, karena pertimbangan akan Hanna. Mau tak mau Ji Eun harus pulang. Dan sebelum mereka pulang, Marc dan Ji Eun menyempatkan diri untuk singgah disebuah toko boneka. Yaahh..seperti janji Ji Eun pada Hanna sebelum pergi bersama Marc tadi, bahwa dia akan membawakan oleh-oleh untuk gadis kecil itu.
“Hanna suka dengan Stitch, kan?” Tanya Marc dengan senyum lebar diwajahnya.
“Dari mana kau tau?”
Marc melirik kearah Ji Eun dengan senyum hangat, “..aku calon ayahnya. Tega sekali kalau aku tidak tau apa yang putriku sukai, bukan?”
Ji Eun hanya mengangguk sambil membalas senyuman Marc.
“Kalau begitu, kita belikan untuknya yang ini saja.” Tunjuk Marc pada boneka Stitch berukuran besar yang mungkin tingginya sama dengan tinggi Hanna.
Ji Eun sedikit membelalak ketika melihat harga boneka itu, “..kau yakin? Aku tadi tidak membawa uang banyak dan lupa kartu kreditku dirumah.”
“Ji Eun. Aku yang menunjuk boneka itu, berarti aku yang akan belikan itu untuk Hanna.”
“Jangan terlalu memanjakannya?”
“Sebenarnya tidak salah juga kalau aku memanjakannya. Aku sangat sayang padanya.”
Ji Eun terlalu malas berdebat sekarang dan akhirnya mematuh. Marc sudah menganbil boneka besar itu dari etalase dan berjalan menuju kasir.
Setelah membayar, keduanya bergegas pulang karena takut gadis kecil itu sudah tidur dan tak melihat hadiah besar untuknya itu.

*************************

Marc turun dari mobilnya dengan penuh semangat. Ia menggendong boneka besar itu dengan girangnya dan berjalan bersama Ji Eun masuk kedalam rumah wanita itu.
Pekikkan suara gadis kecil itu membuat Marc makin bahagia dengan senyum lebar, Marc menyambut Hanna dalam pelukannya.
“Ini untukku?” Tanya Hanna penuh semangat. Nampak raut bahagia tergambar jelas diwajahnya.
“Tentu saja, sayang.” Balas Marc penuh cinta kemudian mengecup pucuk kepala Hanna.
“Lalu eonni? Apa eonni tidak membelikanku sesuatu?”
Ji Eun terdiam. Dan seperti mendapat idel wanita itu ikut menjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan Hanna, “..karena besok hari libur, bagaimana kalau kita pergi ketaman bermain?”
“Dengan Marc juga? Kalau tidak ada Marc aku tidak ikut.” Ucap polos gadis kecil itu. Ji Eun bahkan bingung, entah sejak kapan Hanna sangat lengket dengan Marc.
“Tentu saja aku ikut. Kita akan bermain sepuasnya sampai bosan.” Seru Marc kemudian diikuti Hanna dengan antusias, Astaga, entah mengapa mereka berdua begitu mirip. pikir Ji Eu. Sembari mendengus geli.
“Kalau begitu, sekarang kau harus segera tidur. Kita akan berangkat pagi-pagi besok, hm?” Ajak Marc kemudian menggendong gadis kecil itu menuju kamar tidurnya dilantai atas. Sedang Ji Eun mengekor keduanya sambil menenteng boneka Stitch milik Hanna.
Segera setelah masuk kekamar Hanna, Marc membaringkan gadis kecil itu diatas kasurnya, “..kau mau kudongengi?” Tanya Marc lembut sembari berjalan menuju rak buku-buku dongeng yang terletak disamping meja belajar Hanna, “..bagaimana dengan ini?” Tunjuk Marc pada sebuah buku cerita dengan sampul yang bertulis ‘The Frog Prince’.
Setelah mendapat anggukan setuju Hanna, Marc seger mendekat kembali kesisi ranjang gadis kecil itu, “..baiklah, ehm..”, “..suatu hari, hiduplah seorang pangeran yang sangat tampan dan pangeran itu sangat dimanja, sehingga ia menjadi sangat sombong dan angkuh juga malas. Suatu ketika, seorang wanita tua datang dan memohon pada si pangeran untuk membiarkannya berteduh sementara waktu didalam istana. Namun, dengan angkuhnya si pangeran menghina wanita tua itu dan mengusirnya dengan kasar. Tidak terima, wanita itu akhirnya mengutuk si pangeran dan merubahnya menjadi seekor katak.”
“Kenapa? Apa dia terlalu jahat?” Potong Hanna dengan wajah sedikit ngeri.
“Tentu saja. Dia jahat dan sombong. Lalu, penyihir itu bilang pada si pangeran ‘Kalau kau mau berubah kewujudmu yang semula, kau harus menemuka seorang putri cantik yang mau mencintaimu dengan tulus sebelum bulan penuh diminggu kedua bulan ini.’. Setelah berkata demikian, wanita tua itu menghilang.”
“Apa wanita tua tadi penyihir?” Tanya Hanna lagi dan nampaknya gadis itu masih enggan untuk mengantuk.
“Tentu saja. Dan kau tau, pangeran itu akhirnya menjadi sangat putus asa. Dia berpikir, mana mungkin ada seorang putri cantik yang mau mencintainya yang dalam wujud katak menjijikan ini.”
“Kasihan dia.”
Marc mengangguk sembari tersenyum, “..dan dua minggu terlewati sudah, namun tak ada seoran putri cantik pun yang ia temui. Rata-rata, semuanya melarikan diri dengan mengumpat ketika melihatnya. Hingga si pangeran menjadi makin dan makin putus asa sampai ia berkata ‘Kalau memang ini hukuman dari Tuhan untukku karena kesombonganku selama ini. Akan kuterima dengan lapang’. Dan ditengah keputus asaannya itu, ia bertemu dengan seoran putri cantik jelita yang tersesat dihutan, putri itu menangis tersedu-sedu dan membuat si pangeran katak itu ibah dan mendekatinya. Katanya, ‘Kau kenapa? Kenapa menangis?’ Tanya si katak pada putri cantik itu. Sesaat putri cantik itu sedikit terkejut, namun ia mulai membiasakan dirinya, ‘Aku tersesat. Dan aku ingin pulang, tapi tidak tau caranya keluar dari tempat ini.’ Jawab putri cantik itu masih tersedu. ‘Kalau begitu, kau mau kuantar?’ Tawar katak itu dan mulai berjalan bersama putri cantik itu. Sepanjang perjalanan, mereka bertukar lelucon dan akhirnya menjadi akrab. Pendek cerita..si putri nan cantik jelita tadi jatuh hati pada katak baik itu, ‘Meski kau tidak mau menerima imbalan, biarlah aku memberimu sedikit kenang-kenangan.’ Ujar putri itu kemudian membungkuk dan mencium katak tadi. Dan kau tau apa yang terjadi..Wussshh! Katak menjijikan tadi berubah menjadi seoran pangeran yang sangat tampan. Akhirnya, mereka menikah dan hidup bahagia selamanya. The End.”
Marc menutup buku itu dan hendak menanyakan pendapat Hanna, namun gadis kecil itu sudah terlelap. Perlahan Marc membungkuk sedikit dan mengecup kening Hanna.
“Kau juga harus pulang untuk istirahat, Marc.” Ujar Ji Eun yang sedari tadi berdiri didepan pintu kamar Hanna.
“Kau tidak mau kudongengi juga?” Canda Marc yang sudah berjalan mendekat kearah Ji Eun.
“Tidak perlu.” Ketus Ji Eun yang hendak berbalik. Belum sempat wanita itu melangkah, Marc menangkap tangannya dan menariknya dalam pelukan Marc.
“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.” Bisik Marc sembari membenamkan wajahnya dibahu mungil Ji Eun.
“Aku juga Marc. Aku juga sangat mencintaimu.” Balas Ji Eun lembut.
Perlahan Marc mengangkat wajahnya dari bahu Ji Eun dan menatap lekat-lekat kedalam manik mata wanita itu, wajahnya dicondongkan perlahan mendekati wajah Ji Eun. Hingga akhirnya bibir Marc yang lembut melumat bibir mungil Ji Eun dengan penuh cinta.
Mungkin aku bukan pria yang sempurna, tapi aku akan berusaha menjadi suami dan ayah terbaik untukmu dan Hanna.

To Be Continued..

Sorry guys..mulai dari part 11 sampai selesai Cuplikan Next Part nya udah gak aku buat lagi…biar bikin penasaran gitu #plak 😒 hehe..tetap author tunggu komentar dan like kalian 😊☺️