Tell Your Mom, I Love Her! #5

photocat_tellyourmomilovehercover2iHola, todos! :D Annyeong chingu deul! :D

Happy Reading :D

* * * * * * * * * *

Part 5 :

Entah sejak kapan Marc memiliki kebiasaan baru. Dan kebiasaan barunya itu jelas sangat bertentangan dengan otaknya. Tapi, jelas..sangat diterima dengan baik oleh hati juga matanya.
Entah sejak kapan, Marc tak pernah membiarkan sosok Ji Eun lewat begitu saja dari pantauan matanya. Seperti ada magnet, wajah gadis itu menarik mata Marc untuk terus menatapnya dan tak membiarkan sosoknya diabaikan barang sedetikpun.
“Ini mengerikan!” Gumam Marc tiba-tiba yang membuatnya langsung ditatap aneh oleh Tito.
“Kau kenapa? Habis mimpi buruk?” Tanya Tito sembari menyengir aneh.
Marc hanya memutar bola matanya kesal melihat tingkah konyol sahabatnya itu, “..aah! Jangan-jangan..kau sedang memikirkan dr. Lee, ya?”
‘JLEB!’ Tepat. Entah mungkin Tito yang bisa membaca pikirannya, atau hanya sebuah keberuntungan dalam menebak.
“Ti-tidak! Memangnya aku kurang sibuk sampai harus memikirkannya?”
“Memangnya sekarang kau sibuk?”
Wajah Marc mulai sedikit memerah. Pria itu lantas bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Tito, masih dengan banyak pertanyaan dikepala pria itu.
“Entah aku yang gila atau Tito yang gila. Cih! Mana mungkin aku memikirkan gadis galak itu! Dia pikir aku sesinting itu!” Omel Marc tanpa sadar, beberapa pasang mata terus memandangnya dengan aneh.
“Seharusnya kau magang dipoli jiwa, bukan poli anak.” Ujar ketus Ji Eun sembari tersenyum sinis kearah Marc.
“Cih! Bukan urusanmu. Lagi pula, 2 bulan lagi aku akan keluar dari sini!” Sahut Marc ketus pula sembari mendelik kesal kearah Ji Eun.
“Yaah..yahh..kita lihat saja.” Balas Ji Eun masa bodo kemudian pergi meninggalkan Marc yang masih sedikit kesal. Ya, setidaknya rasa kesal itu hanya terpikir oleh otaknya, tidak untuk hati dan matanya yang terus mengamati Ji Eun sampai gadis itu menghilang dibalik pintu poli.
Cih! Apa yang aku lakukan, hah?!

* * * * * * * * * *

          Ji Eun masih sering gemetar ketika ingatannya terlempar pada kejadian kemarin.

Flashback :

“Ji Eun, tunggu!” Cegat Scott yang sudah berjalan cepat dari arah pintu lift. Sedang Ji Eun, gadis itu terus berjalan cepat dan mengacuhkan seruan-seruan Scott.
Langkah kaki gadis itu tak secepat langkah-langkah panjang Scott, sehingga tak berselang lama, pria itu sudah berhasil menggapai lengan Ji Eun, “..tunggu!” Serunya sembari memutar kasar tubuh Ji Eun.
Tangan besar Scott yang awalnya hanya mencengkram lengan Ji Eun, kini berpindah mencengkram erat kedua bahu mungil Ji Eun.
“Lepaskan! Kau mau apa lagi?!” Bentak Ji Eun sembari meronta melepaskan diri. Kepalan kedua tangan mungilnya memukul-mukul kasar dada Scott namun, tenaga pria itu, yang telah diperkuat dengan emosi yang menggebu, makin mencengkram erat bahu Ji Eun sampai gadis itu sedikit meringis kesakitan.
“Jelaskan padaku dengan jujur. Siapa Hanna?!” Bentak pria itu. Wajahnya memerah, matanya pun begitu. Ada sorot kekejaman dimanik mata pria itu, membuat sekujur tubuh Ji Eun bergetar hebat.
“Je-jelaskan apa lagi, hah?! Hanna bukan anakmu!”
“Bohong!” Bentak pria itu membuat Ji Eun sedikit tersentak kaget, “..jelaskan yang sebenarnya, Ji Eun!”
“Lepaskan aku..lepas!” Jerit Ji Eun yang mulai merasa bahunya nyeri karena terlalu kuat dicengkram Scott.
“Hei..hei!” Seru seorang pria yang mulai berjalan mendekat kearah Ji Eun dan Scott, “.. “..kau mengerti tidak kalau seorang wanita bilang ia tidak suka diperlakukan begitu? dr. Redding..” Marc menatap tajam kearah Scott dan tangan besarnya itu bergantian. Tangan besar itu sudah terlampau kuat mencengkram bahu Ji Eun, “..dan lagi, ini rumah sakit. Dan sebagai putra pemilik rumah sakit ini, aku tidak suka kalau ada salah satu staff rumah sakit yang diperlakukan kasar. Sekarang lepaskan dia.” Paksa Marc sembari menggenggam tangan Ji Eun. Perlahan, Scott melonggarkan genggamannya dan melepaskan Ji Eun, “..baik. Kalau begitu kami permisi.”
Marc menarik Ji Eun menjauh dari Scott dan menghilang dibalik pintu lift.

Flashback End :

Tangan Ji Eun seketika bergetar hebat, sampai-sampai pena yang ia pegang terlepas begitu saja dari tangannya.
Ini tidak bisa aku biarkan! Aku pasti akan melindungi Hanna, bagaimana pun caranya.

* * * * * * * * * *

          Hanna melempar pandangannya kesekitar loby. Tangan mungilnya tak mampu menggapai tombol lift, sehingga ia membutuhkan seorang dewasa untuk membantunya.
“Kau butuh bantuan, manis?” Tegur seorang pria dari belakang Hanna. Segera gadis itu berbalik dan mendapati sosok Marc berdiri dibelakangnya dengan senyum menawan nan hangat.
“Iya. Aku tidak bisa menggapai tombol itu.” Tunjuk gadis itu pada tombol lift yang berada 50cm diatas tubuhnya.
“Baiklah. Memangnya kau mau kemana?” Tanya Marc ramah.
“Aku mau keruangan eonni. Kau bisa antarkan aku?”
“Tentu saja, princess. Ayo.”
Marc menggendong gadis kecil itu dan naik bersamanya diatas lift. Berada sedekat ini dengan Hanna, entah mengapa membuat Marc begitu senang. Gadis ini lumayan cerewet. Namun, ia mampu membius Marc dengan ocehan-ocehan polosnya juga senyum manis dan lucu yang mengembang dibibir mungilnya.
“Kita sudah sampai.” Ujar Marc sembari menurunkan Hanna dari gendongannya.
“Kau harus kembali bekerja?”
Ada nada kecewa dibalik ucapan polos gadis kecil itu.
“Tentu saja, sayang. Kalau aku sedang ada waktu senggang. Kita akan berbincang-bincang lagi, hm?”
Gadis kecil itu mengangguk, “..kalau begitu..semangat!” Ujar Hanna sembari tersenyum lebar kearah Marc.
‘Deg!’ Tuhan..entahlah, tapi aku tidak ingin berpisah dengan gadis kecil ini.

* * * * * * * * * *

          Malam itu, entah mengapa Hanna terus tersenyum ketika melihat Ji Eun. Mungkin terlihat biasa-biasa saja untuk ayah dan ibu mereka, namun tidak untuk Ji Eun.
“Hanna? Kau kenapa?” Tanya Ji Eun penuh curiga.
“Tidak. Hanya saja…aku rasa kau sangat cocok dengan seseorang.” Balasnya sembari tersipu.
“Oh ya? Siapa?”
“Kakak dokter yang bernama Marc itu. Kalian cocok sekali. Eonni..kenapa kau tidak pacaran saja dengan kakak dokter itu? Dia baik.”
Ji Eun menyembur keluar air putih yang baru saja berhasil masuk kedalam rongga mulutnya. Kata-kata Hanna terlampau polos, sampai-sampai Ji Eun merasa geli mendengarnya.
Tidak Mungkin!, “..eonni tidak apa-apa kan?”
“Ti-tidak sayang..tidak apa-apa.” Ji Eun kembali meneguk air putihnya yang masih tersisa setengah digelas, “..sebaiknya kau habiskan makan malammu dulu, baru kita bicarakan ini lagi, eo?”
Gadis kecil itu mengangguk patuh kemudian melanjutkan makan malamnya.
Jangan bercanda? Pria sombong itu? Tidak!

To Be Continued…

Cuplikan Part 6 :

“…sudah kubilang kau jangan pernah dekati Hanna, apalagi sampai merecokinya dengan hal-hal menjijikan dan tidak masuk akal itu!”
“Aku punya hak Ji Eun..dan ini yang membuktikan bahwa aku punya hak juga atas Hanna!”
Tidak mungkin..

Will Posting Soon :D

Maaf ya semua, kalo misalnya cerita si author ini masih pendek *sobing* soalnya emang author sengaja bikin ceritanya pendek-pendek, soalnya kan..si author udah nambahin cuplikan next part nya..maaf ya, guys *tear* Jangan lupa leave ‘LIKE’ or ‘COMMENT’ bellow ya? Jadilah pembaca yang budiman dengan tidak menjadi ‘SILENT READER’ :D

Tell Your Mom, I Love Her! #4

photocat_tellyourmomilovehercover2iHola, todos! :D Annyeong, chingu deul! :D akhirnya author kembali lagi setelah sedikit shock karena sebuah berita burung alias hoax..dan tanpa harus banyak ngomong lagi, langsung aja ya? :D Happy reading ;-)

* * * * * * * * * *

Part 4 :

Tak biasanya Hanna serewel ini. Gadis itu terus mendesak dan merengek ingin tidur bersama Ji Eun dan menolak untuk tidur dikamarnya sendiri. Maka, mau tak mau, Ji Eun akhirnya sekamar dengan gadis kecilnya itu.
“Eonni..dongengkan aku sesuatu.” Pintanya kemudian menguap lebar. Matanya mulai sayu.
“Baiklah. Kau mau dongeng apa?” Tanya Ji Eun lembut sembari mengusap-usap pelan pucuk kepala Hanna.
“Terserah eonni saja.” Balasnya dengan suara serak.
“Baiklah..bagaimana kalau cerita tentang Jack dan Raksasa?”
Gadis kecil itu hanya mengangguk lemah, “..baiklah..pada suatu hari hiduplah seorang pemuda yang bernama Jack..ia tinggal bersama pamannya dan suatu ketika, pamannya meminta Jack untuk menjual kuda mereka. Dan sesampai Jack dipasar..ia..” Cerita Ji Eun terhenti ketika matanya menatap wajah tedu Hanna yang terlelap. Gadis kecil itu..entah mengapa begitu mirip dengan Scott. Pria yang paling ia benci dalah hidupnya, sekaligus pria yang adalah ayah kandung putri kecilnya ini.
“Sayang..eomma berjanji..kau tak akan pernah kenal pria itu, sehingga dia tak akan pernah bisa menyakiti perasaanmu.” Bisik Ji Eun kemudian mengecup lembut kening Hanna.
Wanita itu kemudian merebahkan dirinya disamping Hanna dan mulai terlelap bersama gadis kecil itu.

“Pergi kau dari sini! Dan jangan pernah ganggu putraku, dasar perempuan jalang!” Wanita itu memakin dan mengkasari Ji Eun. Telapak tangannya beberapa kali menampar keras pipi Ji Eun, juga menghantam keras tubuh gadis itu. Hingga akhirnya, dengan kasar wanita paruh baya itu menyeret paksa Ji Eun keluar dari rumahnya, “..jangan pernah kembali. Dan..gugurkan anak haram itu!”
“Tidak! Anakmu harus bertanggung jawab nyonya!”
“Pergi!”
Wanita itu membentak Ji Eun sembari mendorong-dorong tubuh Ji Eun sehingga gadis itu tersungkur beberapa kali, “..pergi dari sini!”

“Tidaak!!” Ji Eun melonjak dari kasurnya sambil menjerit ketakutan. Keringat halus mengucur deras dan membasahi kening juga sekujur tubuhnya. Mimpi itu. Mimpi itu seperti sebuah rekaman yang diputar kembali, untuk mengingatkan Ji Eun. Betapa pantasnya Ji Eun sangat membenci pria bernama Scott Redding itu. Pria yang sudah dengan tega membuang buah cintanya dan sekarang dengan seenaknya datang untuk mengambil anaknya yang dulu ia buang.
Tidak! Tentu tidak akan aku biarkan! Aku bersumpah dia tak akan mengambil Hanna dariku!

* * * * * * * * * *

          Marc masih sibuk melamun. Rasa kantuk berkali-kali menyerangnya namun matanya masih menolak untuk terpejam.
“Entahlah. Mungkin aku sudah mulai gila.” Gumamnya sembari memijat-mijat keningnya yang tak terasa pening, “..sejak kapan aku suka memikirkan gadis galak itu? Cih! Ada-ada saja kau, Marc!” Tambahnya kemudian mencoba untuk memejamkan mata. Namun, saat matanya mulai terpejam. Bayangan Ji Eun berkelabat diotaknya yang terpaksa membuat Marc harus kembali terjaga.
“Sial! Ada apa denganku?! Hei, casanova! Masih banyak gadis lembut dan cantik diluar sana! Jangan terpaku pada satu orang gadis dengan kepribadian buruk seperti itu!” Omel Marc pada dirinya sendiri dan kembali memejamkan matanya karena, rasa kantuk itu sudah benar-benar menyerang dengan kekuatan penuh.
Kuharap aku bangun pagi dalam keadaan normal.

Pagi itu, Marc baru saja tiba dirumah sakit dengan waktu yang masih menunjuk pukul 06.45. Pria itu sengaja datang pagi. Alasan yang lumayan klasik, pria itu terlalu malas untuk mendengar omelan-omelan dokter pembimbingnya yang cantik tapi galak itu.
Dan seperti melihat sebuah drama dipagi hari. Mata Marc tak sengaja menangkap adegan yang sebenarnya, tak layak dipertontonkan dirumah sakit.
“Hei..hei!” Seru Marc menghentikan laku kasar pria itu pada gadis didepannya, “..kau mengerti tidak kalau seorang wanita bilang ia tidak suka diperlakukan begitu? dr. Redding..” Marc menatap tajam kearah Scott yang dengan paksa mencengkram keras bahu Ji Eun, “..dan lagi, ini rumah sakit. Dan sebagai putra pemilik rumah sakit ini, aku tidak suka kalau ada salah satu staff rumah sakit yang diperlakukan kasar. Sekarang lepaskan dia.”
Perlahan Scott melepas bahu Ji Eun dan membiarkan Marc menarik pergi gadis itu, menjauh dari pandangannya.
“Maksudmu apa tadi, hah?! Jangan ikut campur urusanku, mengerti?!” Bentak Ji Eun pada Marc sembari melepas paksa genggaman tangan pria itu dari lengannya.
“Menyelamatkanmu. Lalu apa lagi?! Memangnya kau nyaman diperlakukan kasar begitu?! Dasar, tidak tau terima kasih!”
“Apa?!”
Baru saja Ji Eun akan melayangkan kepalan tangannya kepucuk kepala Marc. Dan terhenti ketika melihat tamu kecil mereka, Hanna, menatap dengan heran.
“Kalian kenapa?” Tanya gadis kecil itu sembari memiringkan kepalanya.
Marc sedikit kaget melihat kehadiran gadis kecil itu tapi, setidaknya Hanna sudah menjadi penyelamatnya pagi ini, kan?
“Hei, Hanna..sedang apa?” Tanya Marc buru-buru mengalihkan pertanyaan gadis kecil itu.
“Tidak. Hanya saja, daddy memintaku mengantarkan ini untuk eonni.” Ujar gadis kecil itu sembari menyodorkan sebuah map merah yang entah apa isinya.
“Astaga. Terima kasih, ya? Untung kau mengantarkan ini, kalau tidak. Eonni bisa kena marah.” Ucap Ji Eun sembari menjongkok didepan Hanna, “..lalu? Daddy dimana?” Tanya Ji Eun.
“Menunggu didepan. Oh ya? Kakak dokter dan eonni kenapa bertengkar tadi? Kalian ini..”
“Tidak. Tidak kenapa-kenapa. Kau taulah kalau eonni-mu itu..sangat galak.”
Gadis itu tertawa renyah ketika dibisiki Marc kalimat terakhir itu.
“Aku harus pulang. Daddy menungguku didepan. Sampai jumpa.” Pamit gadis kecil itu kemudian berlari-lari kecil menjauh dari pandangan mereka.
“Ehm..kuharap, kau sudah menyelesaikan laporanmu, Marc Marquez!” Ujar wanita itu sembari berlalu pergi masuk kedalam ruangannya.
Astaga! Mati! Aku belum menyelesaikan apapun!!

* * * * * * * * * *

          Scott baru saja akan keluar dari rumah sakit itu saat ia melihat Hanna yang sudah lebih dahulu melenggang keluar dari pintu loby rumah sakit.
“Hanna!” Serunya sembari berlari kecil kearah gadis kecil itu.
“dr. Scott, ya? Kau disini? Sedang apa?” Tanya gadis kecil itu sembari merekahkan senyum manis dibibir mungilnya.
“Ada sedikit keperluan disini. Oh ya..kau sedang apa?”
“Tadi..aku mengantarkan map eonni yang ketinggalan.” Jelas singkat gadis kecil itu kemudian melempar pandang kearah seorang pria paruh baya yang sudah menatapnya penuh curiga dari dalam Porsche Panamara putih miliknya, “..oh ya, aku harus pulang. Sampai jumpa lagi!” Pamit gadis kecil itu kemudian melambai dan mulai bergerak menjauh dari Scott.
Entah mengapa kehadiran Hanna, meski hanya sebentar, selalu bisa membuat Scott lebih tenang. Seperti obat penenang, gadis kecil itu mampu menenangkan kekesalan Scott, hanya dengan sebuah senyum manis yang melengkung dibibir mungil gadis kecil itu.
Aku masih yakin Hanna itu putri kecilku. Putri kecil yang telah aku campakan dulu. Putri kecil, yang sangat aku rindukan saat ini.

To Be Continued..

Cuplikan Part 5 :

“Eonni..kenapa kau tidak pacaran saja dengan kakak dokter itu? Dia baik.”
Ji Eun menyembur keluar air putih yang baru saja berhasil masuk kedalam rongga mulutnya. Kata-kata Hanna terlampau polos, sampai-sampai Ji Eun merasa geli mendengarnya.
Tidak mungkin!

Will Posting Soon :D

Ok..sekian untuk part ini dan jadilah pembaca yang budiman dengan meninggalkan ‘LIKE’ atau ‘COMMENT’ kalian. Hargai tulisan author dengan tidak menjadi ‘SILENT READER’

:D Terima kasih sudah membaca :D

To All Reader *with tear*

iHola, todos! :D Annyeong chingu deul! :D mungkin untuk beberapa saat ini, author bakal absen dari posting memosting FF *sobing* apalagi FF yang berhubungan dengan Marc Marquez *tear* karena…*tarik napas panjang* author dapat berita kalo si abang (Marc) udah punya ‘real’ pacar *lots tear* jadi, untuk sementara waktu ini, author minta maaf yang sebesar-besarnya kalau belum bisa posting memosting FF-nya Marc Marquez..author masih sedikit shock dan broken heart *lots tear*

Sekian pengumuman dari author..untuk pengertian reader-reader budiman semua..author ucapkan limpah terima kasih :D

-Love-

@LeaObiraga (Author)

Tell Your Mom, I Love Her! #3

photocat_tellyourmomilovehercover2Akhirnya *tear* setelah penuh dengan cucuran air mata dan keringat..wordpress saya jadi juga..

Ok! author gk mau banyak ngomong lagi..langsung aja, ya? Happy reading, guys :D

* * * * * * * * * * * *

Part 3  :

Marc mengerang kemudian menggeliat beberapa kali saat sinar mentari berhasil menyentuh wajahnya. Tangannya menggapai-gapai weker yang terus menerus mendesaknya untuk segera bangun.
Setelah berhasil membuat weker itu diam, Marc segera beranjak bangun dari ranjangnya dan berjalan dengan langkah gontai masuk kedalam kamar mandi.
Setengah jam kemudian, Marc sudah keluar dari kamarnya dengan kemeja abu-abu yang lengannya digulung setengah.
“Tumben sudah rapi?!” Goda Alex yang juga baru saja keluar dari kamarnya dengan keadaan yang rapi pula.
“Kau juga..ada angin apa?”
“Hari ini ada skill lab.”
“Skill lab sepagi ini?”
Alex hanya mengidikkan bahu untuk menjawab pertanyaan Marc kemudian dengan langkah malas turun kebawah untuk sarapan.
“Selamat pagi, mom!” Seru keduanya bersamaan.
“Waah..tumben kalian berdua sudah rapi sepagi ini? Dad kalian saja baru mandi. Apalagi Kanya..ini bukan jam bangunnya.”
Wanita paruh baya itu kemudian ikut duduk bersama kedua putranya dimeja makan sambil menunggu suami dan putri bungsunya bergabung.
Tak berselang lama, seorang pria paruh baya turun dari tangga rumah dengan diikuti seorang gadis remaja, masih dengan piyama dan rambut berantakannya.
“Wah..wah..kakak-kakakku yang tampan ini sudah rapi, ya?”
“Kau sendiri? Tidak sekolah?”
Ketus Alex sembari menyendok masuk macaroni itu kedalam mulutnya.
“Libur.”
“Libur? Libur apa?”
“Libur sekolah kak..masa kalian lupa hari ini penerimaan raport? Kan aku sudah bilang kemarin.”
Gadis itu menyahut dengan kesalnya. Sampai-sampai ia menyendok masuk macaroni miliknya kedalam mulut dengan kasar.
“Sudah. Nanti mom yang ambilkan raportmu. Alex..jam berapa kau pulang?”
“Jam 10 atau 11 tergantung kerja kami nanti.”
“Lalu? Jam berapa penerimanaan raportmu itu, Kanya?”
“Jam 11.30.”
Wanita paruh baya itu mengangguk. Kemudian melanjutkan sarapannya.

* * * * * * * * * * * *

          Hanna melirik beberapa kali kearah orang-orang yang lewat dikoridor rumah sakit itu. Ia sedang menunggu seseorang yang ia kenal untuk membawanya ketempat yang hendak gadis kecil itu kunjungi.
Sedang gadis itu duduk menunggu, seorang pria tampan menghampirinya dan menjongkok didepannya.
“Sedang apa?” Tanya pria itu ramah.
“Sedang menunggu seseorang, kau siapa?”
“Perkenalkan..aku dr. Redding..tapi, untuk gadis kecil dan manis sepertimu bisa memanggilku Scott.”
Gadis kecil itu mengangguk paham sembari menggaruk-garuk dagunya, “..kau dokter disini?”
“Bukan. Aku dari Royal Hospital, hanya saja aku sedang merujuk pasien kemari.”
“Begitu, ya?”
“Kau sedang menunggu siapa?” Tanya Scott lagi.
“Kakakku. Dia dokter anak disini, hanya saja aku tidak begitu tau dimana ruangannya.”
“Begitu, ya? Kalau begitu kita sedang mencari ruangan yang sama, aku juga mau ke poli anak. Mau memberikan ini pada salah seorang dokter anak disana.” Ujar Scott sembari menunjuk sebucket bunga mawar merah.
“Pacarmu?” Tanya Hanna polos.
“Tidak juga. Hanya seorang teman.” Balas Scott sembari tersenyum hangat, “..ayo.” Ajaknya kemudian.
Hanna pun beranjak dari bangku koridor itu dan mengikuti arah langkah Scott. Dan beberapa saat kemudian, mereka sudah masuk kedalam sebuah ruangan bertulis ‘Poli Anak’. “..apa gadis yang kau cari ada?” Tanya Hanna pada Scott yang sedari tadi melempar pandangannya kesekeliling poli itu.
“Lalu? Dimana kakakmu?”
Gadis kecil itu lalu melihat kesekeliling untuk mencari Ji Eun, “..nah! Itu kakakku!” Pekiknya girang sedang Scott mengikuti arah pandang gadis kecil itu dan..’Deg!’ Seketika pria itu menegang ditempatnya. Matanya bahkan tak lepas dari sosok diujung sana. Sosok yang 4 tahun belakangan ini sangat ia rindukan, “..Hanna.”
“Iya..”
“Bisa kau berikan ini untuk kakakmu.”
“Lalu bagaimana dengan gadis yang kau cari itu?”
“Dia tidak ada. Jadi kuberikan ini pada kakakmu.”
Gadis itu mengangguk penuh semangat kemudian berlari-lari kecil menghampiri Ji Eun diseberang sana.
“Eonni!!” Pekiknya girang kemudian memeluk Ji Eun yang sudah menjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Hanna.
“Hei, sayang. Kau kesini dengan siapa?”
“Sendiri. Tapi aku diantar oleh seseorang. Dan ini..Eonni..ada oppa tampan yang memberikan ini untukmu..dia masih diluar.”
“Siapa?”
“Itu..”
Ji Eun mengikuti arah tunjuk Hanna. ‘Deg!’
Kaki Ji Eun melemas. Hatinya seperti tercabik. Segera dirahnya bunga itu dari tangan Hanna, “..tunggu disini ya, sayang..eonni pergi sebentar.”
Gadis kecil itu mengangguk paham.
Sedang apa pria brengsek itu disini?!

* * * * * * * * * * * *

          “Kau mau apa kesini?!” Tanya Ji Eun dengan nada rendah, ada sinar kebencian terpancar dari manik matanya yang tersorot tajam kearah pria didepannya itu.
“4 tahun Ji Eun..4 tahun tanpa kabar. Apa salah setelah 4 tahun itu aku mencarimu? Dan anak kita tentunya.”
“Bicaramu menjijikan, Scott. Bukannya kau yang meninggalkanku 4 tahun lalu. Bukannya kau juga pria yang sama yang lari dari tanggung jawab, lalu sekarang kau bilang mencariku dan anakmu? Anak yang mana Scott? Anak itu..sudah mati.”, “..tentunya kau masih ingat sore itu kan? Dan bagaimana cara ibumu memperlakukanku..tentu kau ingat Scott..kau berdiri dan hanya memandang tanpa berbuat apapun. Sepulang dari rumahmu…aku tak membuang waktuku lagi untuk membunuh anak itu. Membunuh segala hal yang berkaitan denganmu. Dan anggap saja..kau dan anak itu sudah mati. Setidaknya seperti itulah yang kurasa sejak 4 tahun lalu.” Gadis itu mengambil jedah. Kemudian kembali membuka mulutnya untuk berbicara, “..pergilah..kita adalah orang asing sekarang. Aku tidak mengenalmu begitu pun kau.” Tambah Ji Eun kemudian berlalu pergi.
“Lalu siapa gadis kecil itu..Hanna, maksudku.”
Pertanyaan Scott itu membuat Ji Eun menghentikan langkahnya sebentar, “..jangan bohongi aku Ji Eun. Kau tidak pernah menggugurkan anak itu, bukan? Dan anak itu adalah Hanna, kan?”
“Hanna tidak ada hubungannya denganmu, Scott. Anakmu sudah mati..dia sudah mati 4 tahun yang lalu!” Tekan Ji Eun kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari Scott.
Ya, Scott. Kau anggap saja anakmu sudah mati.

Marc menatap gadis kecil dibangku poli itu dengan hangat kemudian menghampirinya, “..hai..kau sedang apa?” Tanya Marc sembari menjongkok didepan gadis kecil itu.
“Aku sedang menunggu kakakku. Tadi dia keluar sebentar.” Balas gadis kecil itu, “..kau dokter disini, ya?” Tanyanya sembari menunjuk jas putih yang Marc kenakan.
“Iya, sayang. Oh ya, siapa nama kakakmu itu? Biar aku panggilkan.” Tawar Marc kemudian berpindah kesamping Hanna.
“Namanya Lee Ji Eun, tapi..kau tidak usah memanggilnya. Dia juga bilang hanya pergi sebentar.”
Mendengar nama itu. Marc sedikit terkejut. Tapi pria itu berusah menyembunyikan perasaan terkejutnya itu dengan seulas enyum lembut, “..ooh..dokter Lee, ya? Dia itu dokter pembimbing kami.”
“Begitu, ya? Semacam guru kah?”
“Yaah..kau bisa bilang begitu.”
Hanna mengangguk paham kemudian melempar pandangannya kearah pintu masuk, “..nah! Itu eonni!” Tunjuknya pada sosok Ji Eun yang sedang berjalan mendekat.
“Kalau begitu aku juga harus kembali bekerja. Jangan sampai kakakmu yang manis itu memarahiku. Dia lumayan galak.” Ujar Marc kemudian berlalu pergi dari situ, sedang Hanna hanya mendengus geli mendengar kalimat terakhir Marc Lumayan galak, ya? batin Hanna.

To Be Continue..

Cuplikan Part 4 :

“Maksudmu apa tadi, hah?! Jangan ikut campur urusanku, mengerti?!” Bentak Ji Eun pada Marc sembari melepas paksa genggaman tangan pria itu dari lengannya.
“Menyelamatkanmu. Lalu apa lagi?! Memangnya kau nyaman diperlakukan kasar begitu?! Dasar, tidak tau terima kasih!”
“Apa?!”

Will Posting Soon :D ..

Sorry ya guys kalo rada gak bagus *tear* tapi tetep ditunggu kritik dan sarannya :D Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ‘LIKE’ atau ‘COMMENT’ dan jadilah pembaca yang budiman dengan tidak menjadi SILENT READER! :D

Tell Your Mom, I Love Her! #2

TellYourMomILoveHerCOVERiHola todos!! Annyeong chingu-deul!! :D *lambai-lambai kawaii* setelah author beberapa hari ini mengalami dilema ‘Lost Idea’ sekarang author balik lagi nih dengan Part 2 FF ini *nunjuk judul diatas* tanpa banyak monyong lagi *ngomong thor..ngomong..ta’ kepret nih! -_-* Happy reading guys :D jadilah pembaca yang budiman dengan meninggalkan ‘LIKE’ atau ‘COMMENT’ kalian setelah membaca :) !!No Silent Reader!! Enjoy :D

* * * * * * * * * * * *

Part 2 :

“Eonni..” Gadis kecil itu muncul dari balik pintu Ji Eun dengan ekspresi ketakutan.
“Ada apa, sayang? Mimpi buruk?” Tanya Ji Eun sembari menghampiri gadis kecil itu.
“Ne, eonni. Mimpi yang sangat menakutkan. Boleh, aku tidur dengan eonni malam ini?”
Ji Eun membalas pertanyaan gadis itu dengan senyum lembut sambil mengangguk, kemudian menggendong gadis kecil itu naik keatas ranjang miliknya.
“Memangnya kau mimpi apa?” Tanya Ji Eun lembut setelah membaringkan tubuh Hanna.
“Tadi aku mimpi. Ada seorang pria dia bilang, dia itu ayahku. Lalu, dia terus mendesakku untuk ikut dengannya, tapi aku tidak mau. Aku sendiri tidak kenal siapa dia. Aku takut eonni.” Cerita Hanna masih dengan ekspresi ketakutan, bahkan bulir-bulir keringat membasahi kening gadis kecil itu.
Sedang Ji Eun, wanita itu seketika merasa takut dan khawatir. Rasa cemas yang terlupakan 4 tahun lalu itu kembali menghantuinya. Rasa cemas, kalau-kalau Hanna tau yang sebenarnya dan terluka dengan kenyataan pahit itu.
“Eonni..itu hanya mimpi kan?” Tanya bocah perempuan itu polos dan penuh harap.
“Iya, sayang. Itu hanya mimpi. Mimpi yang harus segera kau lupakan.” Balas Ji Eun sembari mengelus pucuk kepala Hanna lembut, “..sekarang, tidurlah.” Pinta Ji Eun lembut sembari menarik selimut yang terdapat dibawah kaki mereka.
Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Dan mimpi itu…mimpi itu tak akan jadi kenyataan untukku dan Hanna.

* * * * * * * * * * * *

          “Oh ayolah, Ji Eun! Mau sampai kapan kau sembunyikan ini semua dari Hanna?” Wanita muda dengan jubah putih yang sama dengan milik Ji Eun itu mulai menatap Ji Eun penuh tuntutan.
“Entahlah, Anya..aku hanya masih belum siap memberitahukan ini pada Hanna. Lagi pula, aku tidak mau dia mengenal siapa ayahnya. Aku tidak mau dia mencari pria itu.” Balas Ji Eun sembari memijat-mijat kepalanya yang terasa pening.
“Lalu? Sampai kapan?” Tanya Anya masih dengan tatapan menuntut, “..sampai Hanna tau sendiri?”
“Sampai kapan aku bisa mendapat seorang ayah yang pantas untuknya.” Balas Ji Eun memotong pertanyaan Anya.
“Hmm..terserah kau sajalah. Yang menurutmu terbaik..aku hanya bisa mendukung” ucap Anya sambil tersenyum, “..oh ya, kalau ada dokter magang yang tampan..boleh lah kalau kau perkenalkan padaku.” Tawar Anya sembari mengedip sebelah matanya pada Ji Eun.
“Tchss..dipoli kandungan juga ada kan, Anya?”
“Tapi..bisa jadi tidak setampan dipoli anak. Oh ya, katanya putra sulung dr. Marquez magang dipoli anak, ya?”
“Katanya begitu. Tapi kurang tau juga.”
Anya mulai mengambil tempat lebih dekat dengan Ji Eun , “..bagaimana kalau kau dekati dia. Karena, menurut perawat-perawat dan dokter-dokter yang sudah pernah melihatnya, dia itu sangat tampan. Dan katanya lagi..ketampanannya itu melebihi batas normal.”
“Memangnya ada manusia setampan itu?”
Anya memutar bola matanya sebal, “..Ji Eun! Mungkin saja, kan?!”
“Yaah..yaah..lihat saja nanti.” Jawab Ji Eun yang mulai malas mendebat Anya, karena akan percuma saja menurutnya.
“Kalau begitu, aku kembali ke ruanganku dulu, ya? Semangat untuk hari ini, Ji Eun.”
Wanita itu kemudian keluar dari ruang Ji Eun sedang Ji Eun hanya mendengus geli melihat tingkah sahabat semasa SMA-nya itu.
Dia sepertinya tidak waras.

Pria itu berjalan dengan langkah mantap. Raut wajahnya nampak berseri-seri. Senyum manis mematikannya tak lupa ia kembangkan, membuat siapapun wanita normal dirumah sakit itu bisa saja jatuh pingsan.
Ya. Sebagai putra pemilik Dè Deù Hospital dan calon penerus rumah sakit ini, Marc sangat yakin kalau hari-harinya dirumah sakit ini akan mudah, semudah berjalan dijalan tol.
Toh, siapa juga yang akan berani dengan putra pemilik rumah sakit ini? Pikirnya.
“Kau terlambat 10 menit tuan Marc Marquez Alenta!” Seru dingin sebuah suara dari belakang Marc. Pria itu segera berbalik, mencari sumber suara yang kini sudah berdiri tepat dibelakangnya, “..aku tidak akan segan-segan mengurangi nilaimu jika sikapmu seenaknya seperti ini.” Lanjut wanita muda yang nampak seumuran dengan Marc itu.
“Kau..dokter magang juga?” Tanya Marc dengan tatapan datar, “..kalau sesama dokter magang, jangan sok menegurku!” Lanjut pria itu ketus kemudian kembali meneruskan langkahya menuju sebuah ruangan bertulis ‘Poli Anak’.
“Kau baru sampai, bro?” Tanya seorang pria ketika melihat Marc yang baru saja masuk kedalam ruangan itu.
“Hei, Tito. Kau disini juga?” Tanya Marc santai berusaha mengalihkan pertanyaan Tito, “..oh ya, mana dokter pembimbing kita?” Tanya Marc yang mulai meliuk-liukkan kepalanya, berusaha mencari siapa yang akan membimbing mereka.
“Itu. Dia baru datang.” Tunjuk Tito kearah pintu masuk.
Marc mengikuti arah tunjukkan Tito. Seketika, tubuh Marc menegang. Jantungnya memompa 2x lebih cepat dari normalnya. Astaga! Jadi dia! Mati!
“Baiklah. Kalau kalian semua sudah hadir, selamat pagi. Perkenalkan, saya dr. Lee Ji Eun SpA, mulai hari ini sampai selesai. Saya lah yang akan menjadi dokter pembimbing kalian. Yaah..aku tau kalian sedang menatap heran padaku, kenapa aku yang masih seumuran kalian ini sudah bergelar Spesialis Anak?”, “Tapi kurasa itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah…aku tidak akan mentolerir segala bentuk kesalahan yang kalian lakukan. Dan segala bentuk kedisiplinan yang aku terapkan itu adil, tidak memandang siapapun kalian dan…jabatan kalian tentunya. Baiklah, kurasa cukup itu..dan selamat bekerja.”
Ji Eun mulai membagi tugas kepada dokter-dokter magang itu, sedang Marc masih membatu tak percaya dengan apa yang terjadi pagi ini.
“Kenapa kau? Jangan bilang kau jatuh cinta pada dokter pembimbing kita? Iya sih, dia cantik, cerdas dan menarik. Tapi..menurut rumor, dia itu galak.”
Marc menatap Tito dengan tatapan ngeri, “..yang benar saja?”
“Yaah..itu yang kudengar dari perawat-perawat disini.”
Marc menelan ludahnya susah payah. Jantungnya makin memacu dengan cepat. Bulir-bulir keringat halus pun mulai mengucur turun dari keningnya. Hari-hariku akan 10x lebih sulit pastinya batin Marc.

* * * * * * * * * * * *

          Seorang perawat berlari dengan cepat dari arah koridor IGD sana. Wajahnya nampak panik, napasnya masih tersenggal namun, berusaha untuk menyampaikan sesuatu.
“dr. Lee..anda diminta ke IGD sekarang. Ada pasien anak yang gawat disana.”
Tanpa harus membalas lagi, Ji Eun juga dua orang dokter magang segera berlari mengikuti perawat tadi ke IGD.
Sesampainya disana, Ji Eun langsung mengampiri seorang ibu yang menangis sesenggukan disamping ranjang rawat putri kecilnya, “..apa yang terjadi pada anakmu?” Tanya Ji Eun lembut.
“Entahlah, dok. Tadi, aku meninggalkannya sebentar kekamar mandi. Dan setelah aku kembali, napasnya sesak dan sudah kejang-kejang seperti ini. Aku panik dan langsung membawanya kesini.” Jelas wanita paruh baya itu masih terisak.
“Apa sebelum sesak napas dan kejang-kejang seperti ini, dia sempat demam?” Tanya Ji Eun lagi kemudian memeriksa denyut nadi dipergelangan gadis kecil itu.
“Iya. Semalam dia demam tinggi. Dan kupikir, mungkin itu demam biasa. Jadi aku hanya memberinya obat demam.”
Ji Eun mengangguk paham kemudian menatap Marc juga seorang dokter magang lain yang ikut dengannya tadi, “..Marc tolong ambil sampel darah venanya dan kau pantau terus denyutnya. Aku akan segera kembali.”
Ji Eun berlari kearah sebuah ruangan yang adalah ruang penyimpanan obat-obatan.
“Sayang..ini akan seperti digigit semut, tahan sebentar, ya?” Bujuk Marc sebelum menusuk masuk jarum suntik itu. Gadis itu berusaha menahan sakit ketika jarum kecil itu menusuk masuk, “..nah, sudah selesai..maaf, ya kalau tadi sakit.” Bujuk Marc lembut kemudian berlari menuju laboratorium yang tak begitu jauh dari IGD.
“Bisa tolong periksa ini segera. Ada pasien gawat di IGD.” Pinta Marc setengah memohon kepada petugas lab tersebut.
“Baiklah. Setengah jam lagi mungkin akan selesai. Kau bisa tunggu disini.” Balas petugas lab tersebut kemudian kembali masuk kedalam. Sedang Marc menanti dengan cemas diluar.
Sesuai dengan janji petugas lab tadi, setengah jam kemudian hasil tersebut sudah berada ditangan Marc. Tak sempat pria itu membacanya, ia langsung membawa hasil tersebut kepada Ji Eun.
“Apa maksudmu?” Tanya Ji Eun datar, “..ini..apa maksudmu?” Tambahnya kemudian meremas kusut kertas ditangannya itu.
“Maksudnya apa..”
“Tadi apa yang aku suruh padamu, hah?! Kau ini bodoh atau tolol?” Bentak Ji Eun marah. Mata gadis itu menyala bak kilatan petir.
“Marc..kau tadi mengambil darah arteri. Lihat leher anak itu bengkak.” Bisik rekan Marc sesama dokter magang itu, dengan gugup.
Marc menatap leher bocah perempuan yang sudah memar dan bengkak itu. Pria itu membelalak terkejut, ini kesalahan yang sangat fatal. Bahkan gadis kecil itu makin meringis kesakitan.
“Kalau tidak bisa membandingkan darah dari vena dan arteri seperti ini, untuk apa kau jadi dokter, hah?!” Delik tajam Ji Eun kearah Marc yang hanya bisa menunduk dan terdiam, “..cepat ambil lagi darah vena anak ini dan bawa ke laboratorium sekarang!” Bentak marah Ji Eun sembari melempar kasar hasil lab keliru tadi ke wajah Marc, “..atau bilang pada ayahmu untuk mencari rumah sakit lain yang bisa menempatkan calon pembunuh sepertimu.” Tambahnya dengan suara rendah penuh ancaman.

* * * * * * * * * * * *

          Pria itu benar-benar merasa kacau sekarang. Dengan lelah, Marc melempar tubuhnya keatas ranjang.
“Sial! Apa yang kulakukan tadi?! Aku hampir saja membunuh seorang anak!” Keluh Marc pada dirinya sendiri.
“Kau sudah pulang, Marc?” Suara berat itu langsung membuat Marc melonjak bangun dari kasurnya.
“Dad?” Marc menatap pria paruh baya itu dengan tatapan penuh keluhan.
“Ada apa, hah? Oh ya, bagaimana hari pertamamu dirumah sakit? Menyenangkan atau sebaliknya?”
Marc menekuk wajahnya dan menatap datar ayahnya yang sudah mengambil tempat disebelahnya itu, “..buruk, dad! Sangat buruk!” Keluh Marc.
“Buruk? Memangnya apa yang terjadi?”
“Aku..aku salah mengambil sampel darah tadi.” Jujur Marc sembari menunduk menyesal.
“Hmm..lumayan fatal, nak. Tapi..jangan membuatmu sampai sekacau ini. Orang itu tidak sampai meninggal kan?”
Marc mengangguk lesu menjawab pertanyaan ayahnya itu, “..nah..jangan bersedih terus dan ambil pelajaran dari hal tadi. Jangan sampai buat kesalahan yang sama.”
Marc kembali mengangguk. Kini sedikit lengkung senyuman bisa mengembang dibibirnya.
“Lalu? Siapa yang membimbing kalian?”
“dr. Lee..dokter cantik tapi galak.” Tambah Marc setengah bercanda.
“dr. Lee, ya? Kau suka padanya?” Goda pria paruh baya itu sembari menyikut pelan lengan Marc.
“Si-siapa? Aku? Dad yang benar saja? Wanita segalak itu? Tidak!” Elak Marc.
“Begitu, ya? Ya sudah..kalau begitu, segeralah mandi dan turun untuk makan malam.” Pinta pria paruh baya itu kemudian beranjak keluar dari kamar Marc.

To Be Continued…

Cuplikan Part 3 :

“Eonni..ada oppa tampan yang memberikan ini untukmu..dia masih diluar.”
“Siapa?”
“Itu..”
Ji Eun mengikuti arah tunjuk Hanna. ‘Deg!’
…..

Will Posting Soon :D

Tell Your Mom, I Love Her!

TellYourMomILoveHerCOVERiHola, guys! :D Annyeong chingu-deul! :D Jumpa lagi kita :D setelah sekian lama author menghilang tanpa jejak *kemana loe?!* sekarang author nongol lagi dengan FF barunya :) Daaann..tanpa basa-basi yang begitu banyak lagi..author persembahkan FF barunya kepada semua reader yang budiman dan setiawan *Hendra Setiawan kali, thor! -_-* Jangan lupa, setelah membaca, tinggalkan ‘LIKE’ atau ‘COMMENT’ kalian dibawah !!NO SILENT READER!! Gracias! :D Gumawo! :D

* * * * * * * * * * * *

Cast :
Lee Ji Eun (IU) as Lee Ji Eun
Lauren Hanna Lunde as Lee Hanna
Marc Marquez Alenta as Him Self
Scott Redding as Him Self
Etc…

Genre :
Romance, Family

Author :
@LeaObiraga & @EchaObiraga

 

 

Part 1 :

Malam itu..aku masih ingat betul malam itu..dimana malam itu aku sudah siap menerima cacian dan pukulan dari ayahku..malam dimana aku sudah siap jika harus terusir dari rumahku sendiri..malam dimana aku memberitahukan aibku pada kedua orang tuaku..dan pria itu..pria brengsek yang sudah menitipkan benih ini dalam rahimku..dia tak mau bertanggung jawab dan lari, menghilang entah kemana..
“Siapa pria itu, Ji Eun..biar ayah bunuh dia!” mata pria paruh baya itu memerah. Ada selapis tipis air mata yang menggenang dikantung mata keriputnya. Bibir dan suaranya bergetar menyerukan kemarahannya, “..cepat katakan pada, ayah!” bentaknya lagi dan kini membuat kedua wanita didalam ruang itu tersentak dan menangis.
“Yeobo..keumanhe, eo? Ji Eun juga sudah minta maaf..” isak wanita paruh baya itu sembari berusaha menenangkan suaminya.
Aku memang pantas dikasari ayahku. Aku memang pantas mendapat benci darinya. Ini adalah kesalahan terbesar yang memang tak bisa dimaafkan. Terlebih untu pria itu.
Seumur hidup. Aku tak akan pernah mau mengenalnya lagi..begitu pula dengan anakku. Seumur hidupnya..dia tak akan mendapatkan gambaran sedikitpun tentang siapa ayah biologisnya.

4 years latter…

“Hanna..ayo bangun, sayang.” Sapa lembut seorang wanita sembari berjalan mendekat kearah ranjang bersprei Hello Kitty itu.
“Ini masih pagi sekali, mom.” Balas seorang gadis kecil dari atas kasurnya, “..lagi pula, hari ini libur.” Tambahnya yang makin menarik bed cover senada –dengan sprei- menutupi sekujur tubuhnya.
“Baiklah. Kalau begitu, mom dan eonni tak akan mengajakmu jalan-jalan.” Ancam wanita itu kemudian berjalan pelan kembali kearah pintu kamar gadis kecil itu.
(*Eonni = Kakak perempuan yang disebutkan oleh adik perempuan*)
“Memangnya kalian akan pergi kemana?” tanya gadis kecil itu setelah setengah berbalik menghadap wanita tadi, “..kebun binatang? Mall atau..”
“Kau akan tau kalau kau segera bangun dan mandi sekarang.” Pinta wanita itu yang langsung direspon dengan malas oleh gadis kecil tadi.
“Yaah..yaah..mom selalu berhasil membujukku.” Ucap bocah 4 tahun itu sebelum menghilang dibalik pintu kamar mandi.

Mobil Porsche Panamara putih itu melaju dengan kecepatan sedang dijalanan kota London. Dan akhirnya berhenti disebuah bangunan besar nan luas, yang didepannya, bertulis De Deu Hospital.
“Humph! Kupikir hari ini kita akan kekebun binatang atau mall. Kalau tau akan datang kemari untuk menjenguk Leo. Aku tidak akan mau ikut!” geurut gadis kecil itu dengan kesal.
“Oh ayolah sayang..jangan seperti itu. Tidak baik.” Nasehat lembut wanita paruh baya itu sebelum memutar kenop pintu kamar rawat Leo.
Bau obat mulai menguar dari dalam ruangan itu. Sedang diatas ranjang sana seorang bocah lelaki terbaring lemah, bahkan matanya tak ia buka. Terus terpejam seperti sedang tertidur dan menikmati mimpinya sendiri.
“Bagaimana keadaan Leo, Mag?” tanya wanita paruh baya itu kepada seorang wanita paruh baya lain yang tak lain adalah ibu Leo.
“Yaah..seperti yang kau lihat Ra Im. Dia masih seperti itu dan belum sadar.” Jawab Maggie lirih sembari menatap nanar putra kecilnya.
“Apa yang Ji Eun katakan?” tanya Ra Im sembari mengajak Maggie duduk dan menenangkan sahabatnya itu.
“Ji Eun bilang, ini hanya koma ringan karena benturan keras dikepalanya. Dan dia bilang, mungkin dalam beberapa hari ini Leo pasti sadar. Tapi..”
“Percayalah, Mag..percaya pasti Leo sembuh.”
Kedua wanita itu kemudian kembali menatap haru pemandangan didepan mereka. Dimana gadis kecil Ra Im sudah memanjat susah payah keatas ranjang temannya itu.
“Hei, Leo. Aku tau kau tidak mau diganggu saat tidur, tapi..aku mau minta maaf. Aku mau minta maaf kalau waktu itu aku sempat marah padamu dan bilang tak mau berteman lagi denganmu. Aku tau aku salah. Jadi..kau mau berteman denganku lagi, kan? Kalau kau mau..ayo bangun dan kita main lagi. Kau lihat..ibuku membelikanmu mainan. Kita bisa memainkannya bersama kalau kau mau.”
Air mata Maggie turun tanpa bisa ia kendalikan. Kedua wanita itu terharu dengan kepolosan Hanna. Entah gadis itu mengerti situasi atau tidak. Ia tetap memperlakukan Leo selayaknya bocah laki-laki itu hanya tertidur dan sedang asyik bermimpi.
Sesekali gadis kecil itu tertawa geli ketika ia menggelitik telapak kaki telanjang Leo dan mengelus-elus hidung bocah lelaki itu dengan bulu jacaketnya.
Sesaat kemudian seorang wanita muda dengan pakaian putih masuk kedalam bersama seorang perawat dan mereka tersenyum melihat adegan yang terjadi diatas ranjang rawat itu.
“Hanna, sayang..ayo turun. Eonni mau memeriksa keadaan Leo.”
Segera gadis kecil itu turun dari atas ranjang Leo meski tak beranjak sedikit pun dari sisi ranjang bocah lelaki itu.
Wanita muda itu mulai menempelkan steteskop yang ia bawa tadi didada bocah lelaki itu. Dirasa sudah cukup, tangan wanita itu mulai meraba-raba pergelangan mungil Leo sedang pandangannya diarahkan pada jam dinding yang tertempel didinding kamar itu.
“Ji Eun..bagaimana?” tanya Maggie setelah Ji Eun selesai memeriksa Leo dan melaporkan hasil periksaannya pada perawat yang bersamanya tadi.
“Sudah mulai membaik. Denyut nadi juga detak jantungnya sudah tidak selemah kemarin. Jadi, kita tinggal tunggu saja kapan Leo mau bangun dari mimpi indahnya.” Jawab Ji Eun sembari tersenyum lembut, “..dan lagi..tidak boleh ada yang naik keatas tempat tidur pasien, ya?” peringat Ji Eun sembari melirik kearah Hanna yang mulai kembali memanjat dengan susah payah keatas ranjang Leo.
“Oh, ayolah eonni. Lalu aku harus dimana?”
“Kau bisa duduk dikursi ini, Hanna.”
Ji Eun kemudian memindahkan Hanna keatas kursi yang terdapat disamping ranjang rawat Leo, “..eonni..kenapa Leo belum bangun juga? Padahal aku sudah menggelitiki kakinya juga hidungnya. Dia memang seperti babi tidur!”
Baru saja Hanna akan kembali menggelitik hidung Leo dengan bulu jacketnya, bocah lelaki itu perlahan membuka matanya, “..apa yang akan kau lakukan, hah?” tanya bocah lelaki itu dengan suara lemah.
“Leo!” pekik bahagia Maggie kemudian menghampiri putra kecilnya itu dan mengelus-elus pucuk kepala bocah lelaki itu.
“Mommy..apa yang si cerewet ini lakukan disini?”
“Kau masih marah padaku, Leo?” tanya Hanna lambat-lambat. Ada isyarat penyesalan dari pijar mata gadis kecil itu. Ji Eun yang melihat itu seakan kembali teringat sesuatu.
Hanna sangat mirip denganku, bukan? Dan kuharap..hanya aku..bukan pria itu..
“Cium aku dan aku akan memaafkanmu.” Canda Leo kemudian tertawa pelan.
“Tidak mau! Kau bau obat, Leo. Apa tidak ada cara lain?”
“Tidak ada. Ya sudah..kalau kau tidak mau.”
Tingkah kedua bocah 4 tahun itu sontak membuat Maggie, Ji Eun dan Ra Im menahan tawa mereka. Cara mereka bahkan sudah semirip drama-drama Korea yang sering Ji Eun nonton di TV.
“Ba-baiklah! Dipipi saja, ya?”
Lambat-lambat Hanna mencondongkan wajahnya mendekat kewajah Leo. Dan dengan cepat gadis kecil itu mengecup pipi Leo, “..sudah kan? Kau mau memaafkanku?”
Leo mengangguk pelan dan tersenyum. “Nah..kalau begitu. Biarkan Leo istirahat, ya? Besok baru kita datang lagi.” Tawar Ra Im kemudian berpamitan pada Maggie dan Leo.
“Eomma pulang duluan, ya?”
“Ne, eomma.”
“Eonni..kami pulang duluan, ya? Daa eonni!”
“Tunggu! Sepertinya kau lupa sesuatu..”
Ji Eun menatap menuntut kearah Hanna yang juga menatapnya dengan bingung, “..lupa apa eonni?” tanya gadis kecil itu.
“Kau hanya mencium Leo saja. Lalu, eonni?” rajuk manja Ji Eun kemudian mendekat kearah Hanna dan mendekap gadis kecil itu.
“Tentu saja aku juga akan mencium eonni-ku.”
Ji Eun menjongkok hingga tingginya sejajar dengan Hanna dan membiarkan bibir mungil nan lembut gadis kecil itu menempel dipipinya, “..aku sayang eonni..sayaaang sekali.”
“Eonni juga, sayang. Eonni sangaaat sayang padamu.”
Gadis kecil itu melambai kemudian berjalan mejauh dari koridor rumah sakit. Eomma sangat menyayangimu, nak…sangat sayang…

* * * * * * * * * * * *

          “dr. Lee..dokter kepala ruangan memanggil anda. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan soal Poli Anak.”
“Baiklah. Setelah ini saya akan segera kesana?”
Ji Eun segera membereskan arsip-arsip yang bertebaran dimejanya. Dan keluar dari ruangannya menuju ruangan dokter kepala.
“Apa anda mencari saya, dok?”
“Iya. Silahkan duduk. Begini, dr. Lee. Besok kita akan kedatangan 2 kelompok dokter magang, dan salah satu kelompok itu akan ditaruh pada poli anak. Kuharap, kau bisa membimbing mereka dengan baik. Karena salah satu dokter magang yang akan berada dipoli anak adalah putra pemilik rumah sakit ini.”
“Putra dr. Marquez maksudmu?”
“Putra sulung tepatnya.”
Ji Eun mengangguk paham. Tapi, dalam hati gadis itu membuat tekat lain dari perintah dokter kepala mereka ini.
“Tapi..dokter magang tetaplah dokter magang, dok. Siapapun ayahnya dan apapun jabatannya, mereka tetap harus dididik dengan baik. Dan jika salah, mereka harus ditegur dengan cara yang sama pula.”
“Maksudmu?”
“Kau tau maksudku, dok. Aku akan menerapkan disiplin yang merata untuk semua dokter magang dipoli anak nanti.”
Pria lanjut usia itu hanya tersenyum salut kepada keberanian wanita muda didepannya ini, “..baiklah kalau itu maumu..aku akan mendukung.” Balas pria lanjut itu kemudian mempersilahkan Ji Eun keluar dari ruangannya.
Enak saja..tidak ada yang boleh diistimewakan disini..siapapun itu!

To Be Continued..

Cuplikan Part 2 :

“Kalau tidak bisa membandingkan darah dari Vena dan Arteri seperti ini, untuk apa kau jadi dokter, hah?” delik tajam Ji Eun kearah Marc yang hanya bisa menunduk dan terdiam, “..cepat ambil lagi darah anak ini dan bawa ke laboratorium sekarang!” bentak marah wanita muda itu sembari melempar hasil lab keliru tadi kewajah Marc, “..atau bilang pada ayahmu untuk mencari rumah sakit lain yang bisa menempatkan calon pembunuh sepertimu.” Tambahnya dengan suara rendah.

Will Posting soon.. :D