New Fanfiction!!!

BeFunky_MyMiss.jpg

 

Sinopsis :

Cho Ryu Wu, seorang mata-mata muda utusan Lee Yun Seong (City Hunter) harus menjalani sebuah misi penting yang lumayan merepotkan. Menjaga seorang nona muda bukanlah keahliannya, apalagi nona muda ini adalah putri sematawayang dari sang City Hunter sendiri, Lee Yoona. Gadis manja dan keras kepala ini bahkan tak tau kalau ayahnya adalah seorang City Hunter yang di benci para pejabat korup dan mafia-mafia berbahaya.

Hingga suatu hari, nona muda manja dan keras kepala ini jatuh cinta. Tapi, siapa sangka dia akan jatuh cinta pada putra salah seorang musuh ayahnya?

 

~Sorry guys..ada sedikit perubahan cerita, maka sinopsis juga ikut berubah **ditabok pembaca** ceritanya sendiri, bakal di post setelah ujian SBMPTN :D …see you soon :D ~

To Make You Thw One and Only (Ch. 15, The End)

This is the end of this Fanfiction “To Make You The One and Only” dan sekian panjang chapter telah di ketik bahkan sudah dengan sudi kalian semua membacanya..Semoga ending chapter ini berkesan..

Oh ya..dalam chapter ini juga sudah di set dengan soundtrack..hope you like the soundtrack dan the story.. :D

 

Happy Reading, guys :D

 

 

            Marc sudah disini. Kini ia sudah berhadapan dengan pria itu. Cukup lama mereka saling pandang sampai akhirnya Marc mulai membuka mulutnya untuk mulai berbicara.

 

“Ijinkan aku tuan..” pamit Marc dengan sopan, “..namaku Marc Marquez, dan…tuan, aku agak gerogi berada disini hari ini, masih tak yakin apa yang akan kuucapkan, maka tolong bersabarlah jika nanti aku menghabiskan banyak waktu anda..” mulai Marc dan pria itu mulai menatapnya dengan serius pula, menantikan setiap kata yang akan disampaikan Marc, “..lihat dikotak ini ada sebuah cincin untuk putri bungsu anda. Dia segalanya bagiku dan yang ku tau aku akan sangat lega jika tau bahwa kami punya pandangan yang sama..”, “..sebentar lagi, aku berharap aku bisa menikahi putri anda, dan jadikan dia istriku. Kuingin dia menjadi satu-satunya gadis yang kucintai selama sisa hidupku dan memberinya yang terbaik dari hingga aku mati..”, “..aku ingin menikahi putri kecil anda, dan menjadikannya ratuku, dia akan menjadi pengantin paling cantik yang pernah kulihat. Aku tak sabar untuk tersenyum, saat dia menysuri lorong dan menggandeng ayahnya, dihari aku menikahi putri anda..”, “..tuan..sejak hari kami bertemu, aku takut sekali berpikir apa yang akan terjadi jika dia pergi. Maka jangan khawatir ku akan tak baik memperlakukannya. Aku bersumpah pada anda dengan sepenuh hatiku..”, “..pertama kulihat dia, aku bersumpah aku tau bahwa aku telah bersedia menerimanya..”, “..aku sangat mencintai putri anda dan aku tak akan sanggup membayangkan hidupku tanpanya, tuan..” ujar Marc panjang lebar. Namun pria itu tetap tak bergeming. Ia menatap lagi kearah Marc dan sesekali berdehem. Tak jelas apa yang akan ia sampaikan. Kotak cincin yang kini sudah tergeletak indah diatas meja itu juga tak ditatap sama sekali oleh pria paruh baya itu.

 

“Appa..” tegur lirih sebuah suara dari belakang Marc sana.

Suara itu jelas adalah suara Nana. Ternyata gadis itu sudah mendengar semuanya. Mendengar kesungguhan Marc memintanya dari ayahnya. Saat dia berucap demikian, saat itu Nana menangkap sesuatu yang beda dari Marc yang biasanya.

Ia nampak serius sekarang. Tatapannya lurus menatap ayahnya. Ia juga berucap tanpa ragu, membuat sekujur tubuh Nana lemas rasa-rasanya. Air mata sudah berlinang membasahi pipinya yang bersemu merah itu. Ditatapnya ayahnya dengan tatapan memohon.

Ia memohon pada ayahnya untuk menerima pria itu. Pria yang paling dicintainya.

            Dengan langkah gontai Nana turun dari tangga dan menghampiri ayahnya. Gadis itu berlutut dihadapan ayahnya, terus menangis dan memohon pada ayahnya. Marc menatap haru perlakuan gadis itu. Marc tak pernah menyangka akan seperti ini.

Kini mereka mengahadapi sebuah masalah bersama. Dalam hati, Marc makin memantapkan keyakinannya.  

Akhirnya pria paruh baya itu mengehela napas panjang kemudian berdehem. Ia membuka mulutnya dan mulai berbicara.

 

“..aku tak bisa..” ucap pria itu singkat dan sontak membuat Marc membatu di tempat, Nana pun hanya bisa menatap ayahnya tak percaya sementara air matanya terus membanjiri pipinya. Apa pria ini baru saja menolak Marc?

“..aku tidak bisa melihat putriku menangis..aku paling tidak suka dia disakiti. Jadi, kuharap kau tak memperlakukannya dengan buruk setelah dia menjadi milikmu. Aku sudah menjaganya dari kecil sampai detik ini..sudah saatnya aku menyerahkan tanggung jawab ini padamu. Jadi, jangan sedikitpun mengecewakanku. Karena sedikit saja kau kecewakan kepercayaanku..aku tak akan segan-segan menghancurkan hidupmu dan mengambil kembali putriku.” Jawab pria itu akhirnya. Senyum lebar nampak menghiasi wajah Marc. Nana pun sudah menghambur kepelukan ayahnya.

 

“Terima kasih, tuan. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu.” Jawab Marc masih tersenyum gembira. Marc pikir ia akan di tolak. Mengingat yang di lakukannya ini cukup mendadak. Bahkan Marc sempat menyusun rencana untuk menculik Nana kalau sampai saat ini dia di tolak ayah Nana.

 

Kini Nana itu menghampiri Marc dan memeluk pria itu.

Perlahan Marc melepas pelukannya, dan dengan disaksikan semua anggota dalam istana kepresidenan itu. Marc menjongkok, membuka kotak cincin itu dan..

 

“Kim Nana..will you marry me?” ucap Marc sembari menatap dalam mata gadis itu. Mata yang berkaca-kaca itu.

 

“Yes..i will..” jawab Nana sembari tersenyum hangat pada pria itu. Marc pun kembali bangkit berdiri dan merentangkan tangannya. Segera, Nana menghambur kedalamnya dan menumpahkan air mata kebahagiannya itu.

Semua orang dalam ruangan itu bertepuk tangan, termasuk ayah dan ibu Nana, juga kakak dan kakak ipar Nana dan beberapa pelayan disana. Mereka juga larut dalam suka cita yang baru saja terjadi.

 

..i will always love you till the death do us apart..

 

& & & & & & & &

 

            Akhirnya hari itu tiba. 3 minggu sudah setelah lamaran itu. Kini Marc sudah berdiri disini. Berdiri dialtar suci ini. Dan sebentar lagi, dia akan mengucapkan janji setianya dihadapan Tuhan.  Sebentar lagi.

Sedang diruanga ganti. Nampak gadis itu sudah mondar-mandir dengan gugupnya. Ia mermas-remas tangannya sendiri.

            Gadis itu nampak sangat cantik dengan balutan gaun putih dan rambut coklatnya itu dijepit setengah lalu sisanya dibiarkan terurai.

 

“..sayang..kau sudah siap?” tanya pria paruh baya yang adalah ayanhya itu.

 

“Iya appa..” jawabnya mantap. Gadis itu tersenyum lembut pada ayahnya kini, “..appa kenapa?” tanyanya lembut ketika melihat kemurungan diwajah ayahnya.

 

“Ini seperti mimpi bagi appa..padahal seperti baru kemarin appa menggendongmu, mengajarimu naik sepeda, memangkumu sampai kau tertidur..appa tidak percaya kau akan menjadi milik orang lain sekarang..putri kecil appa..” pria itu tertunduk, air mata mulai perlahan turun dari pelupuk matanya, memasahi tiap kerutan diwajah tua itu. Dengan lembut Nana mengusap air mata itu. Gadis itu sebenarnya ingin menangis ketika melihat ayahnya seperti itu, tapi ia tak boleh menangis. Ini saat bahagianya.

 

“Appa…aku tetap putri kecil appa. Dan tidak ada yang bisa mengubah kenyataan itu. Wanita ini memang akan menjadi milik laki-laki lain…tapi..” Nana membawa telapak tangan keriput ayahnya itu menempel dipipinya, “..gadis kecil ini selamanya tetap milik appa..tak ada yang berhak atas gadis kecil ini selain appa…aku sangat mencintai appa…appa akan selalu menjadi pria terbaik dalam hidupku..appalah rajaku..” ujar Nana kemudian menghambur kepelukan ayahnya. Setetes air mata jatuh dipipinya. Ia tak tahan lagi.

 

“..nah..ayo kita pergi..” ujar pria itu sembari mengusap lembut pipi putrinya yang sedikit basah karena air mata kemudian mengaitkan lengan putrinya dilengannya. Nana menggandeng erat lengan pria itu. Seakan ia masih gadis kecil yang baru belajar berjalan.

Tibalah mereka dilorong menuju altar. Didepan sana sudah ada Jeannet yang menjadi pendamping wanita untuk Nana. Ditatapnya Marc yang sudah berdiri menunggu disana. Ya, disanalah akhirnya Nana akan berdiri, berdampingan dengan Marc mengucap janji suci setia dihadapan Tuhan dan jemaatNya.

Sebenatar Lagi..

 

“..kueberikan tanggung jawabku ini padamu, dan aku harap kau tak melukai kepercayaanku..” ujar ayah Nana kemudian menyerahkan putrinya itu pada Marc.

 

“Aku berjanji dengan segenap hatiku tuan..” jawab Marc dan hanya dibalas anggukan juga senyum hangat pria itu. Sekarang pria paruh baya itu sudah berdiri mendampingan dengan istrinya lagi dan kedua orang tua Marc, “..kau sudah siap?” tanya Marc setengah berbisik pada Nana.

Gadis itu mengangguk  mantap.

Pendetapun memulai acara pemberkatan ini.

“Saudara Marc Marquez Alenta  sekarang ucapkan janji nikah saudara dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan.”

 

“Aku Marc Marquez Alenta mengambil anda Kim Nana sebagai Istri saya yang sah dan berjanji dihadapan Allah dan jemaatNya, bahwa saya tidak akan meninggalkan anda, bahwa saya akan tetap setia kepada anda dan mengasihi anda, baik pada waktu senang, maupun pada waktu susah, bahwa saya akan memelihara anda dengan setia sebagaimana yang wajib dibuat oleh seorang Suami sampai maut memisahkan..”

 

“Saudari Kim Nana sekarang ucapkan janji nikah saudari dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan.”

 

“Aku Kim Nana mengambil anda Marc Marquez Alenta sebagai Suami saya yang sah dan berjanji dihadapan Allah dan jemaatNya, bahwa saya tidak akan meninggalkan anda, bahwa saya akan tetap setia kepada anda dan mengasihi anda, baik pada waktu senang, maupun pada waktu susah, bahwa saya akan memelihara anda dengan setia sebagaimana yang wajib dibuat oleh seorang Istri sampai maut memisahkan..”

 

Pemasangan cincin. Pendamping kedua mempelai yaitu Jeannet dan Alex menyerahkan cincin itu kepada Nana dan Marc. Dan pendeta kembali berucap.

 

“Cincin ini menggambarkan kasih antara seorang suami dan isteri. Cincin yang melingkar tidak mempunyai ujung dan pangkal, melambangkan kasih yang tidak akan berhenti. Cincin ini terbuat dari emas murni tidak akan berkarat, melambangkan kasih yang tidak akan luntur dan rusak. Demikian kiranya kasih antara kedua saudara ini, Marc Marquez Alenta & Kim Nana tidak akan berakhir selama keduanya hidup, bertambah hari bertambah suci, bertambah hari bertambah matang dan bertambah hari bertambah tulus.”, “..Saudara Marc  masukkan cincin ini pada jari manis tangan kanan Saudari Nana sebagai tanda kasih saudara kepadanya yang tidak akan berakhir dan tidak akan luntur…”,”..Saudari Nana , masukkan cincin ini pada jari manis tangan kanan Saudara Marc  sebagai tanda kasih saudari padanya yang tidak akan berakhir dan tidak akan luntur..”

 

Setelah pemasangan cincin, dan seteah dipersilahkan. Marc menarik pinggang Nana mendekatinya, menatap gadis itu dalam, “..I love you..”

 

“..i love you..” balas Nana dan langsung disambut dengan ciuman lembut Marc dibibirnya. Riuh tepuk tangan seakan merestui cinta yang barus saja terikat sacral itu.

Maka sekarang, resmilah mereka menjadi sepasang suami-istri.

 

            Inilah akhirnya. Akhir dari perjuangan Marc. Perjuangan sulit yang ia hadapi untuk mendapatkan gadis itu. Setelah sekian banyak luka yang harus ia rasakan, juga rintangan ia lewati, inilah hasil akhirnya.

Tuhan menjawab doanya. Tuhan memberikan hadiah pada kerja kerasnya.

Gadis itu kini bukan lagi Kim Nana yang ia kejar dulu.

Gadis itu kini telah menjadi istirnya, teman hidupnya selamanya.

Dan Marc berjanji untuk selamanya hanya mencintai gadis itu. Dan hanya gadis itulah sampai kapan maut memisahkan mereka.

 

..forever..

The End..

 

 

 

Thank’s for always read this Fanfiction ‘till the ending…will always waiting for your comment or may be just like my Fanfiction..tell me what Chapter do you like. :D and always wait for my new fanfiction.. Gumawo..Gracias..Thank You..Arigatou..Terima Kasih

To Make You The One and Only (Ch. 14)

Pagi itu matahari mulai meninggi. Sinar-sinarnya perlahan menusuk masuk ke dalam sebuah kamar.  Dan setitik sinar itu akhirnya berhasil menyentuh lembut wajah pria yang masih berbungkus dengan selimut itu.

Pria itu akhirnya bergeming. Merespon sentuhan lembut sinar sang mentari pagi. Dibukanya perlahan matanya. Menarik badanya yang terasa pegal dan menegang.

Kembali teringat olehnya malam itu. Malam dimana perasaan rindu dan cinta yang menggebu itu akhirnya membuat mereka saling memiliki seutuhnya.

 

Gadis itu? bagaimana kabarnya, ya? Batin Marc. Pria itu langsung meninggalkan kamar Nana ketika melihat gadisnya itu sudah terlelap karena kelelahan.

Marc sempat bersumpah dalam dirinya bahwa ia akan bertanggung jawab kalau Nana sampai mengandung anaknnya nanti.

Tanpa sadar pria itu tersenyum. Ia teringat akan wajah manis Nana malam itu. Ternyata gadis itu akan makin cantik jika dilihat dari dekat. Matanya, bibirnya, wajahnya yang bersemu merah…selalu bisa membuat Marc berdebar tak karuan.

Bahkan kejadian malam itu bagai mimpi untuk Marc. Berulang kali pria itu mencubiti keras pipinya, namun tetap terasa sakit.

Ini bukan mimpi. Ini nyata. Dan Marc bisa menebak, beberapa saat lagi akan ada gadis dengan tampang kesal mendatangi kamarnya dengan comelan-comelannya.

 

& & & & & & & &

 

“Eotteokhe??” seru Nana panik dalam kamarnya. Gadis itu terlampau panik dan kelabakan ketika melihat dirinya yang tak berbungkus sehelai benang pun diatas tempat tidur. Dan lebih sialnya lagi. Pria yang sudah merenggut kegadisannya itu malah sekarang menghilang entah kemana.

 

Saekki namja!!!! (Pria Brengsek!!) Awas saja dia!! Aku akan membunuhnya!!! Katanya mencintaiku..sekarang dia malah lari..dasar pengecut!!

 

Bel pintu kamar membuyarkan kekesalan juga kepanikannya. Nana mulai turun dengan panik dari tempat tidurnya dan mulai memakai cepat pakaiannya yang berhamburan dilantai.

 

“Kim Nana-aa..na ya!! (Kim Nana..ini aku!)” kini terdengar seruan kencang Hyun Ki dari luar sana. Ketika gadis itu hendak berlari mencapai pintu, ia merasakan sakit yang luar biasa didaerah kewanitaannya.

 

“Apa ini?? Sakit sekali..” erang Nana. Gadis itu kemudian terduduk diatas kasur dan sulit untuk berdiri. Kedutan itu makin menjadi-jadi saja, “..oppa..aku masih dikamar mandi, nanti aku susul oppa kekamar oppa..” seru Nana dari dalam kamarnya. Gadis itu tak mau kakaknya melihatnya dalam keadaan begini. Apalagi kalau sampai kakaknya tau apa yang sudah ia lakukan semalam.

Nana tak akan bisa membayangkan kalau headline berita esok pagi yang memuat tentang hamilnya putri presiden Korea diluar nikah. Bagaimana perasaan ayahnya nanti kalau itu menjadi kenyataan.

Mungkin Nana akan ditendang keluar dari rumah.

 

Berbagai pikiran muluk sudah memenuhi setiap sudut otak Nana. Gadis itu masih terduduk membatu diatas tempat tidur, meski rasa sakit itu sudah menghilang.

Yang Nana butuhkan saat ini adalah Marc. Pria itu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan pada Nana.

Dia harus segera bertanggung jawab.

 

& & & & & & & & &

 

Jadi..ini kamarnya, ya? Pantas saja dia menghilang begitu cepat…ternyata kamarnya tak begitu jauh dari kamarku..dasar!

Dengan kasar Nana memencet bel pintu kamar itu. Kini terdengar suara dari dalam, meminta Nana untuk bersabar.

 

“Selamat pagi, yeobo (sayang)..” sapa Marc ketika membuka pintu kamarnya dan melihat siapa yang ada didepan pintu kamarnya itu.

 

“Yeobo?? (Sayang??) Kau bisa berbahasa Korea? Oh ya…jangan seenaknya memanggilku, yeobo!” sentak Nana kemudian gadis itu menerobos masuk kedalam kamar Marc.

 

“Kenapa? Kau kan sudah menjadi pacarku? Memangnya salah kalau aku memanggilmu ‘yeobo’? tanya Marc dengan bingung. Apakah benar semua kejadian yang terjadi semalam hanya mimpi?

 

“Pacar?? Enak saja! kau yang sudah memaksa masuk kedalam kamarku, menciumku seenaknya dan melakukan hal itu padaku…”

 

“Tapi kenapa kemarin kau tak menolak waktu aku melakukan itu padamu?”

Tanya Marc memotong ucapan Nana yang penuh kekesalan itu.

Seketika gadis itu membatu. Teringat kalau malam itu ia tidak sedang mabuk. Bahkan ia tak keberatan sama sekali dengan yang dilakukan Marc padanya. Ia juga tidak membenci cara Marc menyentuhnya..cara Marc memeperlakukannya malam itu.

Nana tertegun dan ia teringat juga kalau ia bahagia saat itu, “..bagaimana Kim Nana? Apa benar kau tak menginginkan kejadian semalam. Kalau memang tidak..aku akan bertanggung jawab hanya sampai kalau anak yang nanti kau kandung lahir. Setelah itu aku akan pergi bersamanya dan tak akan menampakan wajah kami lagi dihadapanmu.” Ujar Marc dingin. Pria itu seperti menuntut kejelasan Nana.

Nana tak mau lari lagi. Tak ada gunanya juga Nana berlari. Toh, ujung-ujungnya Marc akan kembali menangkapnya. Dan hati Nana pun tak bisa memungkiri lagi kalau dia sekarang benar-benar mencintai pria itu.

 

“..a-aku..ma-maaf Marc..maaf kalau selama ini aku terus menghindar darimu. Bukannya aku tidak menginginkan kejadian semalam…hanya saja, aku takut…aku takut dengan akibat yang akan terjadi…aku..aku juga mencintaimu Marc…aku tidak ingin lari lagi darimu..aku sudah lelah terus menghindar darimu…maafkan aku..” jelas gadis itu lesu. Kepalanya menunduk, bukti kalau dia menyesal sudah menyusahkan pria itu selama ini.

Tapi, Nana juga takut akan mempermalukan ayahnya nanti. Apalagi ia memikul gelar sebagai putri presiden. Ini akan menjadi aib besar keluarganya.

 

“Aku mengerti. Dan aku akan bertanggung jawab penuh atas itu. Aku yang sudah membuatmu begini…kau tidak salah..” ujar Marc lembut sembari membawa gadis itu kedalam pelukannya, “..sepulang kita dari sini, aku berjanji akan langsung menemui ayahmu. Aku akan memintamu darinya…dan semoga saja dia bisa merelakan putri bungsunya ini untukku..” tutur Marc sembari tesenyum. Pria itu kemudian mengecup lembut pucuk kepala Nana dan makin mendekap hangat tubuh mungil gadisnya itu.

Sekarang, Nana lebih tenang dari sebelumnya. Ia senang dengan tekat Marc. Tapi..bagaimana dengan ayahnya? Apa yang akan pria itu katakan nanti? Apa pria itu akan menerima Marc dengan mudah?

 

& & & & & & & &

 

“Kenapa kau baru bilang pada oppa?” tanya Hyun Ki dingin. Pria itu menatap adiknya yang kini menunduk didepannya itu dengan tajam. Pria itu jelas nampak marah dengn pengakuan adiknya. Ia kecewa kenapa adiknya tidak memberitahukan itu lebih awal padanya.

 

“Mianhe, oppa..jeongmal mianhe..(Maaf kak, aku benar-benar minta maaf..)..tapi aku mencintainya kak…bantu aku bicarakan ini dengan ayah. Aku sangat mencintainya kak, dan kakak lihat sendiri betapa rapuhnya aku ketika aku jauh darinya kak…ketika aku tersakiti oleh kebodohanku sendiri. Sekarang..sekarang ia datang lagi dan membawa cinta yang hangat itu lagi padaku..aku tak mau lari lagi kak..ku mohon bantu aku…” sesal Nana. Kini mata gadis itu kembali berair. Genangan itu kembali menetesi tangan Nana yang terkepal dipangkuannya.

Sebenarnya Hyun Ki sangat marah pada sikap adiknya yang tak memeberitahukan kalau ada pria itu dihotel ini. Dan malah menyembunyikan hubungan mereka. Tapi, ketika melihat betapa rapuhnya adiknya itu saat ini, hati Hyun Ki luluh. Ia dulu juga pernah seperti ini ketika memperjuangkan Na Young saat itu.

Na Young hanyalah gadis penjual bunga yang ia temui ketika hendak membeli bunga untuk ibunya yang berulang tahun.

Ia tau betapa sakitnya ketika sang ayah mati-matian hendak menjodohkannya dengan gadis pilihan ayahnya dan menyuruhnya menjauhi Na Young.

Itu tak lantas Hyun Kin lakukan. Ia terus-menerus menemui Na Young, dengan mendapat bantuan dari adiknya juga ibunya. Hyun Kin terus meyakinkan Na Young untuk bersabar melewati ini semua bersamanya.

 

“..baiklah..oppa akan membantumu..maksud oppa..kami akan membantumu..oppa yakin kalau ini diceritakan pada eomma..dia akan mengerti dan menyetujui hubungan kalian berdua..” ujar Hyun Ki lembut. Pria itu kini sudah tersenyum hangat pada adiknya, “..sudahlah..jangan sedih begitu..apa yang akan appa katakan kalau melihat matamu bengkak? Dia pasti akan memarahiku..” ujar Hyun Ki setengah bercanda. Pria itu kemudian merangkul lembut adiknya dan mengusap kepalanya dengan lembut.

Na Yaoung menatap kagum pada suaminya itu. Tidak sering Hyun Ki bersikap begini. Biasanya ia lebih sering bertingkah konyol. Dan membuat adiknya selalu kesal padanya.

Tapi kini, yang Na Young lihat. Hyun Ki adalah sosok kakaknya yang lembut dan hangat. Itulah sebabnya Na Young selalu percaya pada pria itu.

& & & & & & & &

 

“Eommo..putriku?? apa benar yang oppamu bilang ini?” tanya wanita itu terkejut. Memang, ini sangat medadak. Tapi harus Nana sampaikan. Mengingat, Marc tidak pernah main-main dengan ucapannya. Ia selalu nekat untuk mewujudkan apa yang sudah dia ucapkan, “..sayang..eomma sangat senang mendengarnya..tapi, kau tau sendiri..yang kepala keluarga adalah appamu..eomma tak bisa berbuat banyak selain mendoakan kalian..eomma percaya padamu kalau menurutmu pria itu baik..karena kau tak pernah mengecewakan eomma..tapi ini kembali lagi pada appamu, sayang..” tuturnya lembut, kemudian membawa putrinya itu dalam pelukannya, “..eomma sangat senang akhirnya kau bisa membuka hatimu untuk seorang pria..eomma sangat bahagia ketika kau bisa merasakan perasaan seperti itu..dan eomma mau kau jangan menyerah dalam memperjuangkannya. Sekeras apapun appamu nanti, tetaplah bertahan seperti apa yang oppamu pernah lakukan dahulu. Kau tentu masih ingat kan, seberapa tegarnya oppa mu menghadapi tentangan appamu. Tapi ia tak pernah melarikan diri dari Na Young. Ia tetap memegang Na Young sampai ayahmu luluh sendiri. Kau juga harus seperti itu. Apalagi, appamu sangat mempercayaimu..dia pasti juga akan percaya dengan pilihanmu..” tuturnya lagi sembari terus mengusap lembut kepala putrinya itu.

Nana merasanya nyaman sekarang. Ia bahkan mendapat seluruh keberaniannya kini. Hanya dengan berada dalam pelukan wanita inilah. Nana bisa menumpahkan semuanya. Tangis, tawa, juga amarahnya yang terkadang meledak-ledak itu.

 

“Gumawo eomma..gumawo..(Terima kasih ibu..terima kasih..)” ujarnya lirih. Nana membenamkan wajahnya didalam pelukan ibunya. Membenamkan air matanya dan juga ketakutannya. Dekapan hangat itu. Dekapan yang tak akan bisa tergantikan oleh siapapun.

 

& & & & & & & &

 

Disinilah Marc akhirnya. Pria itu berdiri dengan mantap didepan istana kepresidenan Seoul. Ia telah memantapkan hatinya untuk meminang putri kepala Negara ini.

Sebelum datang kesini, ia sudah menelepon ayah dan ibunya dan meminta restu mereka. Meski awalnya mereka sedikit terkejut ketika mendengar siapa yang akan Marc lamar. Namun, pada akhirnya mereka menyetujuinya dan menyerahkan semua itu kembali pada Marc. mereka hanya bisa mendoakan si sulung itu dari jauh.

Pria itu kini menarik napas panjangnya dan mulai melangkah masuk kedalam sana.

Didepan pintu itu sudah ada dua orang penjaga berjas hitam lengkap. Mereka menanyakan keperluan Marc, dan kemudian mempersilahkan pria itu masuk ketika sang ibu Negara sendiri yang memberi perintah.

 

“Aku sudah dengar banyak tentangmu dari putriku. Bagaimana putriku sangat mencintaimu dan aku mempercayai apa yang ia pilih. Aku harap, kau tak akan mengecewakanku. Tapi, satu hal..aku memang sudah menyetujui kalian. Tapi, tetap yang berhak atas semua keputusan menyangkut putrinya itu adalah suamiku sendiri..”, “..betapapun aku menyetujui kalian tapi aku tak tau apa yang akan diputuskan suamiku..jadi aku harap kalau kau benar-benar mencintai putriku. Perjuangkan dia. Sesulit apapun itu, kau harus tetap bersamanya. Karena…dia akan sangat rapuh tanpamu..”jelas wanita paruh baya itu panjang lebar. Marc berdehem dan tersenyum hangat pada wanita didepannya itu.

 

“Tanpa anda memintanya pun akan ku lakukan, nyonya..alasanku berada disini adalah putrimu. Jadi, aku tak akan kembali ke Barcelona sebelum mendapat lampu hijau dari suami anda.” Tegas Marc. Pria itu nampak tenang. Ia begitu yakin dengan keputusannya.

Ini sebuah angin segar untuk Marc. Ia sudah mendapat restu dari ibu Nana. Sekarang, tinggal pria paruh baya yang adalah tuan presiden itu.

Seperti yang ibu Nana katakan. Kalau Marc benar-benar mencintai Nana, Marc harus memperjuangkan gadis itu. Sesulit apapun, Marc harus berjuang. Toh…bukannya cinta itu butuh pengorbanan dan perjuangan?

“Terima kasih, Marc…jangan kecewakan aku kalau begitu.” Ujar wanita itu sembari membalas senyum hangat Marc.

To Be Continued..

To Make You The One and Only (Ch. 12)

Seperti yang sudah Tito janjikan. Marc kini sudah berada dibandara. Waktu menunjukan pukul 9 lebih 30 menit. Marc segera masuk untuk cek ini. Pria itu seperti tak sabar lagi untuk segera sampai di Pulau Jeju dan bertemu gadis itu.

 

“Kata Tito, sesampaiku disana aku harus menyewa mobil. Lalu menuju hotel ini. Tapi..aku kan belum tau jalanan disana? Bagaimana kalau aku kesasar? Yang benar saja?” gumam Marc pelan. Pria itu kini sudah berada diruang tunggu keberangkatan Bandar udara Incheon, “..benar juga! Ada Google Map, ya?” tambahnya kemudian mulai menyengir lebar.

 

Nana..tunggu aku…

 

& & & & & & &

 

“Aish..Jaebal. Mereka sekarang jalan-jalan dengan kapal pesiar malam-malam begini dan meninggalkan aku disini? Bagus!” comel Nana. Gadis itu kesal setengah mati setelah membaca pesan dari Hyun Ki kakaknya. Hampir saja Nana membanting handphonenya itu kelantai kalau saja seorang pelayan tidak mengetuk pintu dan membawakan makan malam untuk Nana dikamarnya, “..gumampseumnida..(terima kasih banyak..)” ujar Nana pada pelayan itu kemudian si pelayan keluar dari kamar gadis itu, “..lihat saja mereka besok..aku akan membuat perhitungan dengan mereka..” ancam Nana kemudian duduk dengan manis dimeja makan. Tangan gadis itu mulai mengangkat penutup makanan itu.

“..siksa hasipsiyo (selamat makan!)..”

Baru saja Nana akan melahap steak dipiringnya, bel pintu kamarnya berbunyi. Dengan kesal gadis itu menlangkah dan siap mengomeli orang yang sudah dengan beraninya mengganggu acara makan malamnya, “..si..”

Ucapan gadis itu terhenti ketika melihat sosok yang sudah menatapnya tajam didepannya itu, “..M-Marc..” gumam gadis itu. Hendak Nana menutup pintu itu namun, tangan kekar Marc segera menahan daun pintu itu dan menerobos masuk kedalam.

 

“Mau apa? Mau menghindar lagi?” desis Marc. Tatapan pria itu makin tajam saja.

 

“Mau apa kau kesini? Cepat keluar atau aku akan berteriak..” ancam Nana. Namun, Marc sama sekali tak bergeming, bahkan tak gentar dengan ancaman Nana. Pria itu terus berdiri dengan nyaman ditempat ia berdiri sekarang, “..baiklah..kau benar-benar mengira aku main-main ya..To..” belum sempat Nana berteriak, tangan Marc dengan cepat membungkam mulut Nana dan segera menutup pintu kamar gadis itu.

Ini tak bisa dibiarkan. Gadis itu tak akan mengaku kalau tidak dipaksa.

 

“..LEPASKAN!” jerit gadis itu sembari mengela napas pendek-pendek, “..kau gila, ya? cepat keluar sekarang, Marc..kumohon..” pinta Nana sedikit memohon. Wajah gadis itu nampak panic dan sedikit terkejut.

Bahkan ia tak percaya kalau Marc sampai menemukannya disini.

 

“Kenapa? Masih belum mau mengaku juga? Baiklah..ku katakan lagi, aku mencintaimu Kim Nana, benar-benar mencintaimu!” seru Marc membuat sekujur tubuh Nana menjadi kaku. Gadis itu hanya bisa membatu mendengar pengakuan pria itu. Entah ini sudah yang keberapa kalinya. Nana bingung. Apa yang harus ia katakan. Ia malu..malu mengakui perasaannya itu, “..lalu..bagaimana denganmu?” tanya Marc dingin.

 

“..aku..a-aku..tidak..” belum selesai Nana meghabiskan kalimatnya, Marc segera menarik tengkuk gadis itu dan melumat rakus bibir mungil Nana.

Gadis itu mencoba melawan, tapi apa daya tenaga Marc lebih besar darinya. Ia juga tidak bisa membohongi perasaannya, kalau ia sangat menginginkan Marc. Ia juga sangat mencintai pria itu.

Bahkan, Nana sangat senang bisa melihat pria itu lagi disini.

 

Tuhan…kalau bisa..hentikanlah waktu disaat seperti ini…kumohon… batin Nana lirih.

Gadis itu benar-benar tak mau melarikan diri lagi. Cukup sudah sekian lama ia menjadi pengecut. Inilah saatnya Nana mengahadapinya…menyelesaikan masalah hatinya yang beberapa bulan ini menderu hatinya..

 

To Be Continued…

To Make You The One and Only (Ch. 11)

        From  : Jeannet Greyson

       To    : Kim Nana

Nana..aku tidak bisa tidur..disanakan sudah pagi, kau mau kan temani aku..kita berkirim e-mail..ya?

 

To    : Jeannet Greyson

From  : Kim Nana

Apa yang membuatmu tidak bisa tidur..hmm..baiklah..Oh ya, Jeannet..aku seakarang, sedang berlibur ke Pulau Jeju bersama kakakku. Pemandangan disini indah sekali.

 

       From  :Jeannet Greyson

       To    : Kim Nana

Benarkah? Waah..aku tau pulau itu. Aku pernah melihatnya di Internet. Aku ingin sekali kesana.. L

 

       To    : Jeannet Greyson

       From  : Kim Nana

Yaah..semoga saja. Tapi..aku harap kau disini, pemandangannya benar-benar indah. Apalagi disini sedang musim panas. Kau benar-benar harus melihat pemandangan indah disini. Apalagi lautnya. Benar-benar indah.

 

Beberapa menit menunggu. Tak ada lagi balasan dari Jeannet, “Huh! Anak itu pasti sudah tidur..dasar..” gumam Nana sembari memasukan lagi ponselnya kedalam tas ransel miliknya.

 

“Kau kenapa?” tanya Hyun Kin sembari terus menyetir.

Kini mereka sudah sampai dipulai Jeju dan sedang dalam perjalanan menuju penginapan yang sudah kakaknya pesan itu.

 

“Tidak. Sedang mengrim e-mail pada sahabatku di Barcelona. Tapi, sudah tidak dibalas lagi. Mungkin sudah tidur.” Jawab Nana seadanya.

 

“Tidur? Jam berapa sekarang sampai ia masih bisa tidur?” tanya Hyun Kin dan bagi Nana, itu adalah pertanyaan paling bodoh yang pernah Nana dengar.

 

“Oppa..kau ini bodoh, ya? Di sana masih jam 01.00 pagi. Pertanyaanmu ada-ada saja..” semprot Nana dari bangku belakang. Na Young hanya bisa tertawa melihat pertengakaran kedua kakak beradik itu.

 

“Sudah..sudah..kalian ini. Seperti anak kecil saja..” lerai Na Young akhirnya. Keduanya pun menghentikan pertengkaran mereka. Padahal kalau mau dibilang itu hanya masalah kecil, “..oh ya, berhubung ini masih jam 8, bagaimana kalau kita singgah ke pantai?”tawar Na Young. Wajahnya kini sudah nampak berseri-seri.

 

“Bagus. Baiklah kalau begitu..” jawab Hyun Ki bersemangat, menerima tawaran istrinya itu.

Sudah 2 tahun lebih mereka menikah, dan mereka belum juga bisa memberikan Nana keponakan. Sebenarnya akan sangat menyenangkan kalau liburan ini ditemani sosok mungil yang mungkin akan secerewet kakaknya. Bahkan kalau sosok itu mengoceh, Nana mungkin tak akan keberatan sama sekali. Karena akan lebih menyenangkan mendengarkan ocehan anak kecil ketimbang ocehan kakaknya yang kadang terdengar berlebihan dan konyol.

 

“..Nana..dari tadi Eonni perhatikan, kau diam saja.. kau tidak apa-apa kan?” tanya Na Young lembut. Wanita itu sedikit mengkhawatirkan sikap diam Nana itu.

 

“Aniyo, eonni (Tidak, kak). Gwaenchaneo (Aku tidak apa-apa). Usul eonni sepertinya bagus. Tidak ada gunanya kita ke sini kalau tidak ke pantai, kan?” jawab Nana kembali pada pembicaraan awal mereka. Sebenarnya, kalau berbicara ocehan dan kekonyolan. Nana kembali teringat akan Marc yang sering melakukan itu pada Nana.

Ocehan yang terkadang memuakan itu akhirnya Nana rindukan juga.

 

& & & & & & & &

 

Sore itu Jeannet meminta bertemu dengan Marc di Café. Alasan gadis itu ingin memberitahu Marc hal penting mengenai Nana.

Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Marc bertanya-tanya. Hal apa itu?

Setiba Marc di Café itu, Marc langsung masuk  kedalam dan mendapati Jeannet juga Tito duduk dimeja kedua dari depan sebelah kiri.

Segera, pria itu melangkahkan kakinya mengampiri Jeannet dan Tito.

 

“Kau sudah sampai Marc..” ujar Jeannet ketika melihat sosok Marc sudah mengambil tempat didepannya.

 

“Ada apa?” tanya Marc langsung dan tanpa meminta basa-basi lagi. Tatapan pria itu tajam ia nampak sangat serius sekarang.

 

“Begini. Ini tentang Nana, dan perasaan gadis itu padamu. Yaah..meski sudah terlambat, tapi…dia benar-benar mencintaimu sekarang. Dan…kalau kau mau, dia sekarang ada di Pulau Jeju. Pergilah, kalau kau memang masih mencintainya. Juga…tinggalkan gadis-gadis itu. Aku tau kau tak benar-benar mencintai mereka.” Ujar Jeannet serius. Baru pertama Marc melihat Jeannet yang seperti itu. Dia terlihat begitu yakin. Yakin bahwa Marc masih mencintai Nana. Ya, pria itu masih sangat mencintai gadis dingin dan datar yang selalu menolaknya itu. Dan lagi-lagi, Jeannet benar. Memacari gadis-gadis yang sekarang ini, hanyalah sebagai pelampiasannya untuk sekedar melupakan Nana. Namun tetap saja. Wajah gadis itu tak pernah lepas dari ingatannya.

 

“Mereka menginap di Seas Hotel and Resort…aku sudah memesan sebuah kamar untukmu disana. Tapi..itu kembali padamu saja, Marc. Kami tak akan memaksamu.” Lanjut Tito sembari menyodorkan sebuah kertas bukti pembayaran.

 

“Terima kasih, Tito, Jeannet. Sepertinya aku harus mendapatkan kembali apa yang harus menjadi milikku, kan?” ujar Marc sembari tersenyum tipis pada kedua sahabatnya itu.

 

“Jadi? Kau akan pergi?” tanya Jeannet mulai bersemangat.

 

“Tentu.” Jawab Marc singkat, “..bolehkan kalau aku menculik putri presiden itu?” gumam Marc sembari tertawa geli.

 

“Kau akan mati kalau kau berani menculiknya.” Ancam Jeannet sambil mengacungkan kepalan tangannya didepan wajah Marc.

Gadis itu tau kalau Marc hanya bercanda. Mana mungkin ia berani berbuat begitu.

 

Kalau memang ini kesempatan yang kuminta…tolong bantu aku, Tuhan..

 

& & & & & & & &

 

            Pagi itu baru menunjukan pukul 03.00. Marc berangkat ke Seoul dengan penerbangan pertama. Dalam benaknya, pria itu terus memikirkan Nana.  Apa yang akan Nana katakan ketika melihatnya disana? Apa Nana akan menerimanya atau tidak? Semuanya pertanyaan itu kini sudah berputar-putar dikepala Marc.

Terkadang pria itu ragu akan keputusannya ini. Tapi, gadis itu juga mencintainya. Begitu juga Marc. Marc juga ingin meminta maaf pada gadis itu atas apa yang sudah ia laukan padanya.

12 jam sudah Marc menempuh perjalanan  dari Barcelona menuju Seoul.

Sekarang sudah pukul 3 sore waktu Seoul. Marc langsung menuju ke hotel untuk sedikit beristirahat. Karena besok, ia harus melanjutkan perjalanannya lagi ke pulau Jeju.

       From  : Tito Rabat

       To    : Marc Marquez

Dude..kau sudah sampai? Bagaimana Seoul? Oh ya, besok jadwal berangkatmu ke Jeju pukul 10 pagi. Jadi kau sudah harus ada dibandara setengah 10 untuk cek in. Pokoknya kau tenang saja, aku sudah mengurusi semuanya.

 

       To    : Tito Rabat

       From  : Marc Marquez

Seoul panas. Lebih panas dari Barcelona.Oh ya, by the way..thank’s , dude..

 

Perlahan pria itu menyandarkan tubuh lelahnya disandaran sofa. Memejamkan matanya, mencoba untuk membayangkan wajah gadis itu. Gadis yang sudah beberapa bulan ini tak dilihatnya. Bagaimana dia sekarang?

 

To Be Continued…

To Make You The One and Only (Ch. 10)

“Nana-aaa!! Nae ddal…!! (Nanaaa!! Anak perempuankuu..!!) kamu sudah kembali..!!” seru seorang wanita paruh baya ketika Nana turun dari kamarnya.

 

“Eomma..jaebal jom!(Ibu..please deh!) Aku ini bukan baru pulang Wamil (Wajib Militer). Berlebihan sekali..!!” ketus Nana datar ketika ibunya mulai berlari-lari kecil dan memeluknya erat.

 

“Oo, Sesangil (Oh Tuhan..)…putriku tambah cantik saja, eomma sampai pangling melihatnya.” Ujar wanita itu kemudian tertawa kecil.

 

“Nana..” sapa seorang pria paruh baya dari sofa sana.

 

“Appa..” balas Nana kemudian berjalan mendekati pria yang adalah ayahnya itu.

Dengan lembut pria itu membawa putri bungsunya itu dalam pelukannya.

 

“Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja, kan? Oh ya, maafkan appa kalau waktu kau wisudah tak bisa datang dan menemanimu. Ada banyak kunjungan yang tak bisa appa batalkan waktu itu.” Ujar pria itu kemudian melepaskan pelukannya dari putrinya.

 

“Aniyo, appa. Gwaenchaneyo..(Tidak, papa. Tidak apa-apa..)” balas Nana lembut.

 

“Oh ya, Hyun Ki dan Na Young akan datang. Mereka sangat merindukanmu.” Jelas ayahnya kemudian mengajak putrinya itu duduk, “..oh ya..mm..lama di Barcelona, apa kau sudah memilki pacar?” tanya ayahnya tiba-tiba. Sekarang, otak Nana kembali teringat akan Marc.

 

Marc?? Nae namja-chingu?? Hah?? Utkijima! (Marc?? pacarku?? Jangan melucu!) menyadari perasaanku saja terlambat, bagaimana bisa dia menjadi pacarku?

“Tidak, ayah. Aku belum berpikir sampai kesitu.” Elak Nana datar. Ia berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

Gadis itu terlambat mencintai seorang pria. Itulah kenyataanya. Kenyataan pahit yang harus ia terima. Bahkan sebelum ia pulang ke Seoul pun, gadis itu seperti diingatkan bahwa ia tak akan mungkin mendapatkan pria itu lagi. Pria yang sudah memilih kembali pada kehidupannya yang lama.

 

“Ooh..”.  Pria itu kini hanya menjawab Nana dengan ‘ooh’. Dan Nana tau, pria itu masih kurang yakin dengan jawaban Nana, “..bagaimana kalau kau ceritakan pada ayah yang sebenarnya?” tanya pria itu lagi. Kini, Nana benar-benar kehabisan akal untuk mengelak. Toh, tidak ada salahnya ia menceritakannya pada ayahnya. Selama ini juga, kalau ada apa-apa, pasti Nana akan dengan senang hati menceritakannya pada ayahnya.

Tapi..itu masalah lain. Bukan masalah perasaannya. Lalu, haruskan Nana bercerita?

 

“Aku..”

 

“Kim Nanaaa…oppa-mu dataaang!!”

 

Mungkin ini bisa dibilang bala bantuan. Ucapan Nana seketika terpotong oleh seruan konyol kakaknya yang baru saja tiba bersama istrinya, Na Young.

Nana dan ayahnya kemudian bangkit berdiri untuk menyambut mereka.

 

“Kim Nana-a..kau tambah cantik, ya? Bahkan kau terlihat seperti gadis Spanyol sekarang.” Puji Na Young sembari mengelus rambut coklat berombak Nana itu.

 

“Ya..Na Young-aa…adikku ini memang pada dasarnya cantik. Kau tidak lihat aku tampan begini?” kini giliran Hyun Ki yang memuji dirinya sendiri.

 

“Oppa..??(Kakak..??*kakak laki-laki dipanggil oleh adik perempuan*)…utkijima..(jangan melucu..)” balas Nana datar.

 

“Nana-aa..bisa tidak kau bela oppa-mu ini sedikit. Dari dulu saja selalu begitu.” Ujar Hyun Ki yang mulai cemberut.

Sifat kakanya memang sama persis dengan ibunya yang menurut Nana sangat aktif dan bahkan bisa menjadi konyol. Sedang Nana, benar-benar menuruni sifat ayahnya. Dingin, datar, dan tidak terlalu pusing dengan hal-hal yang menurut mereka tidak begitu penting.

 

“Oh ya, Nana. Kami berencana berlibur ke pulau Jeju. Kau mau ikut?” tawar Hyun Ki yang kini kembali pada ekspresi awalnya.

 

“Pulau Jeju? Untuk apa? Kurang puas kalian berdua bulan madu setahun lalu? mau bulan madu lagi?” ketus Nana dingin.

 

“Bukan begitu…kami hanya mau berlibur kok. Sekalian..merencanakan program bikin anak.” Jelas Hyun Ki dan mengecilkan sedikit suaranya pada kalimat terakhir.

 

“Ya! (Hei!)  Lalu kalian mau menjadikanku obat nyamuk begitu?” sentak Nana kesal. Dan sontak membuat ayah, kakak juga kakak iparnya itu tertawa, “..wae irae? (kenapa, sih?)” tanya Nana sembari menatap kesal pada kakaknya yang tertawa paling keras itu.

 

“Kau itu lucu sekali. Tentu saja tidak, Nana. Apa salah, aku mengajakmu liburan setelah terpisah 2 tahun setengah darimu?” tanya kakaknya masih terkekeh kecil melihat wajah adiknya yang masih cemberut karena kesal.

 

“Boleh. Tapi, appa dan eomma harus ikut!” pinta Nana seenaknya. Dan langsung dijawab gelengan kepala oleh ayahnya.

 

“Appa sibuk, sayang..appa tidak bisa kemana-mana beberapa bulan ini. Eomma juga harus menamani appa..kalian pergilah bersenang-senang, ya?” jawab ayahnya lembut.

 

“Hmm..jadi..kapan kita pergi?” tanya Nana akhirnya. Sebenarnya dengan terpaksa juga gadis itu ikut. Selain karena ini liburan ke pulau yang paling ia sukai. Juga ini demi merefreshing otaknya yang sudah semakin penat karena terus teringat akan Marc.

 

Ya..lagi-lagi ia memikirkan pria itu. Otak dan hati Nana terlalu sensitive sekarang kalau mendengar atau megingat nama itu.

Seketika juga, bayangan pria itulah yang akan muncul dan berputar-putar dikepala Nana.

Dan Nana tidak suka itu.

 

“..Nana..kau dengar tidak..” tegur Hyun Ki sembari mengguncang pelan tubuh adiknya yang sibuk dengan hayalannya sendiri itu.

 

“Dengar apa?” tanya Nana balik dengan bingung. Akhirnya gadis itu sadar dari lamunan muluknya itu.

 

“Kita berangkat besok, jadi siapkan barang-barangmu sekarang, arraseo? (mengerti?)”pinta Hyun Ki kemudian. Tapi, hati pria itu merasa sedikit janggal dengan adiknya. Jadi, ia memutuskan untuk mengikuti Nana sampai kekamar gadis itu.

 

“Nana-a..boleh oppa masuk..” ujar Hyun Kin dari luar kamar Nana yang tertutup.

 

“Masuklah..” balas Nana dari dalam kamarnya. Perlahan pintu kamar Nana terbuka, dan sosok Hyun Ki segera masuk dan menutup kembali pintu kamar itu.

Terlihat kini, adiknya sedang sibuk memasukan pakaiannya kedalam koper.

 

“Mwo ya? (ada apa?)” tanya Nana datar sembari terus melakukan kegiatannya.

 

“Ngg..apa kau benar tidak apa-apa sekarang? Yaah..kalau kau ada masalah, kau bisa ceritakan pada oppa..oppa tidak janji bisa membantu, tapi oppa janji akan menjadi pendengar yang baik.” Ujar Hyun Ki lembut. Tapi sorot mata itu, seperti menuntut Nana untuk segera jujur padanya.

Ya, selain ayahnya. Yang paling tak bisa ia bohongi adalah kakaknya. Hyun Ki seakan tau dan bisa merasakan apa yang Nana rasakan saat ini. Bahkan, kalau menyangkut soal ini. Kakaknya lah yang paling sering ia ceritakan terlebih dahulu.

 

“..aku..akhir-akhir ini merindukan seseorang. Dan bisa dibilang, aku mungkin saja sudah jatuh cinta padanya…” mulai Nana. Kini tatapan gadis itu mulai menerawang. Gadis itu perlahan duduk diatas kasurnya dan Hyun Ki pun mengambil tempat di sampingnya.

 

“Siapa dia?” tanya Hyun Ki lembut. Ia tau tatapan itu. Tatapan murung dan sedih itu. Adiknya sedang terluka.

 

“..dia..dia..pria yang kutemui di Barcelona saat aku kuliah. Awalnya dia begitu berisik dan menggangguku, tapi..lama kemalamaan aku terbiasa dengan semua ocehan dan senyuman konyolnya itu, sifatnya persis seperti oppa.Tapi…setelah kejadian itu…ocehan dan senyuman konyol itu tak lagi nampak untuk beberapa lama, sampai pada akhirnya…” ucapan gadis itu terpotong isakkannya. Setelah menarik napas panjang dan berat, Nana kembali melanjutkan, “..aku sadar kalau aku terlambat…aku terlambat menyadari perasaanku. Dan ketika itu, dia sudah bukan lagi yang biasa kukenal. Dia berubah..dan aku tak bisa lagi menggapainya. Dia sudah terlalu jauh..” butiran bening itu jatuh dan mengalir deras kini. Luka hatinya kembali terbuka. Rasa sakit itu datang lagi.

Perlahan Hyun Ki mendekat dan membawa adiknya itu kedalam pelukannya.

 

“Yaah..terkadang cinta itu memang datang tiba-tiba dan tanpa kita sadari. Bahkan, kita sering mengacuhkan cinta itu. Dan beginilah akhirnya ketika kita terlambat menyadari akan cinta itu…” Hyun Ki perlahan melepaskan pelukannya, “Nah..sekarang. Kau tak perlu mengingat itu lagi, buanglah kenangan menyakitkan itu. Toh, kalau memang kalian berjodoh ia pasti akan datang padamu dengan sendirinya, bukan?” hibur Hyun Ki yang sudah menampakkan senyum lembut pada Nana.

 

“Gumawo oppa…(terima kasih, kakak..)” ujar Nana sembari mengusap air matanya.

 

Oppa benar..toh kalau memang kami berjodoh. Marc tak akan kemana. Tapi, kalau tidak..perasaan ini pun nanti akan hilang dengan sendirinya..

 

To Be Continued…