As Long As You Love Me #8

image

Happy Reading.. :D

 

 

* * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

 

Part 8 :

 

“Aku harus pergi sekarang. Aku tidak mau menambah masalahmu dengan Emillio.” ucap Marc kemudian mengecup singkat kening Ji Eun dan segera keluar dari jendela kamar Ji Eun.

“Kau akan datang lagi kan?”

“Aku tidak janji setiap hari akan kesini, tapi aku pasti datang.” balas Marc sebelum turun melalui pohon Mapple depan jendela kamar Ji Eun.

Gadis itu mengangguk paham sembari tersenyum lembut. Ia benar-benar lupa kalau sedari tadi Emillio terus memanggilnya diluar sana. Mungkin sengaja, gadis itu bahkan tak mau perduli sama sekali dengan seruan Emillio yang akhirnya menyerah dan berlalu dari sana.

Tuhan..kuatkan aku untuk berbaikan dengan ayahku lagi. Au tau, itu bukan sepenuhnya salanya. Dia hanya terlalu percaya pada orang yang salah saja..

Ji Eun kembali membungkus tubuhnya dengan selimut dan membenamkan wajahnya dalam bantal. Meski sedikit gunda, tetap hati Ji Eun merasa hangat dan bahagia.

“Nona..tuan muda Ji Hyun memanggil anda kekamarnya.” Seru seorang pelayan rumah dari balik pintu kamar Ji Eun.

“Bilang padanya aku akan kesana sebentar lagi.” Balas Ji Eun yang akhirnya menyudahi agenda malas-malasannya diatas kasur empuk itu. Ia bangkit dan berjalan dengan langkah gontai.

Ji Eun mematut dirinya dicermin kamar mandi dan sesekali gadis  itu tersenyum sembari menyentuh bibirnya.

Lembut dan hangat bibir Marc masih terasa disana. Dan masih bisa membuat wajah Ji Eun bersemu merah. Segera gadis itu menggeleng dan membasuh wajahnya dengan air dari keran. Eomma..aku tau eomma sedang melihatku sekarang. Ji Eun mu ini sedang jatuh cinta, eomma..

Selesai berbenah diri, Ji Eun keluar dari kamarnya dan berjalan cepat menuju kamar Ji Hyun.

“Oppa..Ini aku! Buka pintunya!” seru  Ji Eun sembari mengetuk pintu kamar Ji Hyun.

Tak berapa lama, Ji Hyun membuka pintu kamarnya dan membiarkan Ji Eun masuk, “..ada apa?” tanya Ji Eun langsung saat Ji Hyun sudah menutup kembali pintu kamarnya.

“Oppa tau tadi Marc mengendap ke kamarmu.” Goda Ji Hyun sembari tersenyum.

Ji Eun mulai tersipu dan salah tingkah, “..dari mana oppa tau?”

“Oppa tadi sedang jalan-jalan sebentar ditaman belakang dan..”

“Oppa yang membantunya masuk ke kamarku?”

“Yaah..oppa tidak tega sebenarnya..” ujar Ji Hyun sembari melempar senyum pada adiknya itu. Pria itu senang melihat adiknya kembali ceria dan bersemangat, “..bagaimana bisa? Penjagaan seketat itu..”

“Hei! Jangan remehkan aku..hal seperti itu bukan hal yang sulit untuk oppa mu ini.”

Ji Eun tersenyum lebar. Gadis kemudian menghambur bahagia kedalam pelukan kakaknya, “..gumawo oppa..jeongmal gumawo..”

“Tidak masalah. Oppa senang kalau kau bahagia. Oh ya, bagaimana dengan ayah?”

“Entahlah, oppa. Aku masih tidak ingin membicarakannya.”

“Tapi kau juga tau, ini bukan sepenuhnya salah ayah.”

“Aku tau oppa..aku tau. Tapi..bagaimana dengan Jorge? Semenjak dia menempel pada ayah, ayah selalu mengambil keputusan bodoh.”

“Jadi bagaimana rencanamu?”

Ji Eun menimbang sebentar.mungkin rencana ini akan sulit, tapi dengan bantuan kakaknya mungkin saja akan lebih mudah, “..kita singkirkan Jorge dari sisi ayah.”

“Maksudmu?”

“Oppa tau dia salah satu dari orang kepercayaan Vale. Bisa saja sekarang ini dia sedang menjalankan perintah dari Vale yang kapan saja bisa membahayakan kita. Kita berikan bukti tentang itu kepada ayah.

Ji Hyun berpikir, ia tau ini sangat sulit. Karena ayahnya bisa saja tak akan percaya pada mereka, “..oppa yakin ini akan sulit. Dan kemungkinan kita bisa berhasil sangat tipis. Bukannya oppa pesimis, tapi oppa tau betul bagaimana Jorge itu.”

“Apa yang oppa tau tentang Jorge?”

“Yang oppa tau, dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang paling ia inginkan. Bahkan dia tak akan segan-segan menyingkirkkan siapa pun yang menghalangi niatnya itu.”

“Lalu kita harus bagaimana? Kita tidak bisa membiarkan ayah terus tenggelam dalam rasa percayanya yang salah pada Jorge.”

“Oppa akan pikirkan cara lain. Kau tenang saja. Selebihnya..kita ikuti dulu apa rencana Jorge.”

Ji Eun bahkan tak bisa tenang. Karena dia tau, Jorge memperdaya ayahnya untuk mendapatkannya. Dan Ji Eun tak mau membiarkan itu terjadi.

“Tuan muda, nona..tuan Emillio memanggil kalian kebawah.” Seru seorang pelayan rumah dari  luar kamar Ji Hyun.

“Bagaimana? Kau siap bertemu ayah?”

Ji Eun hanya mengangguk mantap. Dan keduanya keluar dari kamar. Entah apa yang akan ayah katakan nanti..

* * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Ji Eun duduk diam dan menatap tidak ssuka kearah dua pria didepannya itu. sedang Ji Hyun, ia terus melempar senyum tenang.

“Selamat pagi, princess. Bagaimana pagimu..”

“Jorge. Kupikir kau tidak akan senang mendengar makian adikku kan? Sebaiknya diam saja dulu, ya?” potong Ji Hyun masih memasang senyum termanisnya.

“Ayah akan mempercepat pertunanganmu dengan Jorge, Ji Eun.”

Emillio akhirnya membuka suaranya dan seketika membuat hati Ji Eun kembali terluka. Gadis itu hanya mampu menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya. Sedang Ji Hyun hanya bisa meremas tangan adiknya itu, berusaha meminta gadis itu tetap tenang dan tetap pada rencana mereka.

“Hanya itu?” tanya Ji Hyun singkat dan tanpa menunggu jawaban apapun dari Emillio, ia langsung menarik tangan Ji Eun dan pergi dari situ, “..oh ya, kurasa Ji Eun perlu mepertimbangkan iu dulu, ayah. Pertunangan bukanlah hal yang mudah. Tapi..aku punya firasat kurang baik soal itu. Karena aku takut jawabannya akan menjadi T-I-D-A-K.” Tambah Ji Hyum masih dengan senyum manisnya sebelum akhirnya berlalu dari situ.

“Kurasa paman harus sedikit lebih tegas.”

“Tidak Jorge. Entahlah, mungkin kau harus bisa menerima keputusan apa pun dari Ji Eun nanti.”

“Oh ayolah, paman. Anda itu ayahnya..tidak mungkin Ji Eun akan menolak pemikiran anda.”

“Tapi Ji Eun sudah terlanjur membenciku.”

“Paman terlalu pesimis. Cobalah optimis sesekali.”

Emillio coba menimbang. Meski mangangguk, namun tetap hatinya masih merasa ragu.

Kuharap  apa yang kulakukan ini semuanya benar, So Young…aku hanya ingin putri kita mendapat pria yang terbaik. Itu saja..

“Ayah sudah benar-benar terbuai pengaruh Jorge, oppa..apa yang harus aku lakukan sekarang?” Ji Eun terus mondar-mandir dengan tampang panik.

“Sesuai rencana kita tadi. Kita ikuti saja permainan Jorge. Sekalian, oppa mau liat sebesar apa Marc mencintaimu.”

“Maksud oppa?”

“Menguj. Kalau benar Marc begitu mencintaimu, dia tidak hanya nekat memanjat kekamarmu tapi juga akan nekat mempertahankanmu.”

Ji Eun makin tidak mengerti. Tapi mau tidak mau, Ji Eun akhirnya mengiyakan rencana kakaknya itu.

“Entahlah oppa..aku percaya saja pada oppa.”
“Tapi..kau yakin bisa melakukan ini?”

“Yaah..kita lihat saja oppa. Tapi kurasa ini akan sulit untukku.”
Ji Hyun menatap adiknya itu dengan senyum hangat, “..oppa tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu Ji Eun. Itulah yang bisa oppa janjikan padamu.”
“Terima kasih oppa.”
Gadis itu pun keluar dari kamar Ji Hyun dan kembali ke kamarnya. Eomma..apa ini akan berhasil?

* * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Marc tiba dirumahnya dengan hati yang berbunga-bunga. Bahkan Shanti pun sedikit ganjil melihat sikap pemuda itu.

“Anda dari mana tuan?”
“Mengambil jatah pagiku.” Balas Marc girang, “..oh ya, apa ada telepon dari Vale?” tanya Marc kembali bertampang serius.

“Tidak, tuan. Sudah lama tuan Vale tidak menghubungi anda.”

“Itulah yang aku takutkan, Shanti. Bisa saja Vale mengalihkan misi ini ketangan Jorge. Dan kalau benar sampai begitu, berarti Ji Eun dalam bahaya sekarang.”

“Saya bahkan lebih khawatir dengan Jorge sendiri. Dia tidak akan semudah itu mematuhi semua perintah Vale.”

“Maksudmu?”

“Jorge mungkin akan melakukan hal  yang lebih parah ketimbang dengan rencana Vale.”
“Benar juga. Untuk apa dia menghasut ayah Ji Eun sampai seperti itu kalau dia tidak sedang merencanakan apa pun.”
Otak Marc mulai berpikir keras. Mungkin ada maksud lain dibalik tindakan Jorge. Dan mungkin juga, bukan rencana Vale yang sedang ia jalankan.

Kalau rencananya sendiri yang dijalankan, kira-kira apa yang akan dia lakukan dengan Ji Eun.

“Menikah dengan nona Lee bukan hanya mewujudkan impiannya.  Tapi akanmembuatnya mendapatkan sedikit provit, tuan.” ujar Shanti tiba-tiba yang membuat Marc sedikit terkejut. Benar. Itulah sebabnya Jorge menghasut Emillio dan Vale agar dirinya dijauhkan dari Ji Eun. Otak Marc kembali berputar, bak kaset, otaknya memutarkan flashback kejadian menyangkut Jorge.

“Kalau anda benar-benar mencintai nona Ji Eun. Anda harus bertindak cepat.”

“Aku bingung Shanti. Emillio masih dalam pengaruh Jorge. Pastinya akan sulit.”

“Pikirkan dengan hati yang tenang, tuan. Saya yakin, jika anda benar-benar mencintai nona Ji Eun, anda tidak akan memikirkan sebesar apa resiko yang akan anda hadapi.”
Malam itu Marc akhirnya memberanikan dirinya datang kerumah Vale. Entah rencana apa yang sudah ia siapkan, namun yang jelas Marc tau Vale bisa membantunya. Mmarc sudah berdiri didepan pintu rumah Vale. Tangannya ragu-ragu terangkat untuk menekan bel rumah megah itu. Beberapa kali Marc menekan bel rumah itu, barulah pintu rumah terbuka.

“Marc? Ayahku sedang tidak dirumah.”
“Kira-kira dia kemana?”

“Entahlah, sudah beberapa hari ini dia tidak pulang. Dan aku juga tidak berani bertanya. Oh ya, masuk dulu..”

“Terima kasih.”

Marc melangkah masuk kedalam rumah itu, “..apa yang ingin kau bicarakan dengan ayahku? Masalah gadis itu?”

“Dan juga Jorge.”
“Maksudmu?”

“Laia..kau bisa membantuku?”

Gadis itu menatap Marc sebentar. Dari pijar mata pria  itu benar-benar menunjukan kalau dia mencintai gadis itu. Gadis yang seharusnya ia bunuh.

“Kau mencintai  gadis  itu?”

Marc mengangguk mantap dengan tatapan lurus yang meyakinkan, “..apa yang bisa ku lakukan untukmu?”

“Cukup kau bantu aku meyakinkan ayah Ji Eun akalu aku bukan pria jahat seperti yang selama ini ia pikirkan.”

“Bagaimana dengan Jorge? Apa aku juga harus membantumu menyingkirkannya?”

“Tidak perlu. Cukup kau yakinkan Emillio saja, dengan begitu Jorge akan tersingkir dengan sendirinya.”

Sekali lagi  Laia menatap kedalam manik mata coklat milik Marc. Meski sedikit perih dalah hati gadis itu, tapi ia tau kalau Marc bahagia dengan mencintai gadis itu.

“Aku akan berusaha semampuku, Marc. Aku janji.”

“Aku tau itu, Laia.”
Marc..andai kau bisa tau kalau aku sangat..sangat iri pada gadis itu. Aku mencintaimu..untuk itulah aku mau melakukan ini untukmu..asalkan kau bahagia..itu sudah cukup untukku..

* * * * * * * * * * * * * * * * *

[Bagaimana pertunanganmu?]

“Sesuai rencana, Vale. Kau tenang saja.”

[Bagus. Semakin cepat kau memiliki gadis itu, semakin mudah pula pekerjaanku nanti.]

“Sabar dulu,Vale. Masih banyak hal yang harus kita selesaikan.”

[Oh ya, jangan lupa singkirkan Marc. Dia sudah terlalu membuatku kecewa.]

“Tanpa kau minta pun akan aku lakukan.”

To Be Continued…

Sebelumnya author mau minta maaf..soalnya part 9 dan seterusnya akan author lanjutkan setelah UTS…dan terima kasih sudah mau membaca :D jangan lupa tinggalkan jejak kalian (COMMENT ata LIKE) dibawah ini atau bisa juga mention ke twitter author @LeaObiraga dan Facebook Page author (The Story Of Mine)..jangan jadi SILENT READER ya? Tolong tulisan author yang belum seberapa ini, dihargai.. Terima kasih sekali lagi :D


The Proposal To Love You (Preview)

BeFunky_TPTLY.jpg

Marc : “Tak akan ada yang tau cara cinta bekerja dalam hatimu..dan kepada siapa malaikat cinta melepas panahnya..masuk akal kah itu atau tidak..tidak ada yang tau..

Ji Eun : “Cinta? Hal semacam itu sama sekali belum ada dalam otakku. Kemajuan perusahaanku lah yang terpenting saat ini. Lupakan soal cinta. Toh, nantinya akan datang dengan sendirinya..”

Jorge : “Goal dalam kehidupanku adalah mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk gadis itu..siapa pun penghalangku..tak akan membuatku berhenti..”

“Sungguh kau akan melamar kerja diperusahaan itu, Marc? City’s Group? Kau pasti bercanda..”

“Lalu kau pikir? Aku hanya akan menjadi pengangguran tolol tak bergaji dinegeri orang ini? Mau makan apa kita nanti?”

“Yaah..kau benar. Tapi..kau yakin..City’s Group?”

“Kita lihat saja..”

* * * * * * * * * * * * * * * * * *

“Presdir Lee..ini data para pelamar..kami sudah seleksi semua dan menurut kami ini yang terbaik.”

“Oh ya, posisi Direktur Pemasaran masih kosong, bukan? Apa dari nama-nama ini ada yang bisa kau usulkan?”

“Ini dia..Presdir Lee..kurasa dia cocok dalam bagian pemasaran dan dari interview yang kami lakukan dengannya. Saya rasa dia cocok menempati posisi Direktur Pemasaran.”

“Apa kalian yakin?”

“Kami benar-benar yakin nona..”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

“Kenalkan, aku Jorge Lorenzo Direktur Engineering. Kalau aku tidak salah, kau Marc Marquez, kan? Direktur Pemasaran yang baru.”

“I-iya..senang berkenalan dengan anda.”

“Hmm..kau mendapat banyak pujian dari beberapa direktur bagian lainnya, dan kuharap kinerja kerjamu nanti sama dengan yang mereka ucapkan tentangmu.”

“Anda tidak perlu khawatir begitu. Kinerja kerjaku bisa saja melebihi kinerja kerjamu. Oh ya, kalau anda tidak keberatan aku harus pergi sekarang. Ini hari pertama kerjaku, jadi tidak boleh terlambat.”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 

“Kau tidak sedang bergurau kan, Marc? Iya. Presdir kita itu memang sangat luar biasa cantiknya, tapi tentu dia punya standar sendiri dalam memilih pria, kan? Lagi pula, yang mengincarnya bukan hanya kau saja..ada Direktur Jorge, Direktur Kim dan beberapa Presdir kolega yang masih muda dan tampan juga. Sainganmu benar-benar berat.”

“Apa diantara mereka sudah ada yang menjadi pacarnya? Belum kan? Kalau belum kenapa aku harus takut?”

“Terserah kau saja! Dasar kepala batu.”

Ditunggu ya, guys! Will post after ‘As Long As You Love Me’ and Mid Exam :D


As Long As You Love Me #7

image

Baru diangkat dari panci..selamat menikmati :D

 

 

* * * * * * * * * * * * * * * * *

 

 

Part 7 :

 

Marc masih menatap lama kearah dua orang pria yang baru saja memasuki rumahnya.

Kaget sudah jelas Marc rasakan, tapi rasa kagetnya tak lebih besar dari rasa kesalnya terhadap Jorge.

“Kembalikan putriku seka..”

“Kenapa ayah disini?”

Serempak Marc, Emillio dan Jorge berbalik kearah Ji Eun yang sudah berdiri tepat dibelakang Marc. Gadis itu menuruni anak tangga dan menghampiri ayahnya dengan tatapan dingin dan tak bersahabat.

“Bukannya aku sudah titip pesan pada oppa kalau aku tak akan mau pulang kerumah lagi?”

“Kau harusnya sadar dengan siapa kau tinggal sekarang ini, Ji Eun!”

“Aku tau dan toh, sampai detik ini aku masih baik-baik saja. Marc bahkan sudah berjanji akan menjagaku. Termasuk dari pria sialan yang mau ayah jodohkan denganku ini.”

Ji Eun mendelik tidak suka kearah Jorge. Namun entah pria itu mengerti arti tatapan Ji Eun atau tidak, ia tetap memasang senyum termanisnya untuk Ji Eun.

“Kau harus pulang nak..ayah mohon.”

“Tidak! Tidak kalau keputusan ayah masih sama untuk menjodohkanku dengan pria bajingan disamping ayah ini.”

“Aku punya nama sayang..”

“Bahkan untuk menyebut namamu perutku terasa mual.”

Mendengar desisan kesal Ji Eun membuat Jorge hening seketika. Ia sudah tau gadis itu tak akan pernah suka padanya. Tapi, baginya jika masih ada kesempatan tidak ada salahnya mencoba, bukan?

“Sebaiknya ayah pulang saja kalau keputusan ayah masih sama. Jangan harap aku mau memaafkan ayah karena sudah bertindak seenaknya padaku seperti ini. Dan tentang kematian eomma…aku sudah tau semuanya. Kenapa Vale mengincarku..dan apa cerita dibalik Vale menyewa Marc untuk membunuhku.”

Emillio tercekat mendengar tuturan Ji Eun. Kakinya tak terasa menapak tanah lagi. Jantungnya bertalu tak karuan. Satu pertanyaan dibenaknya, apa yang diketahui Ji Eun?

Jorge mencondongkan wajahnya mendekat ketelinga Emillio kemudian berbisik.

“Kita tidak akan bisa membawa Ji Eun pulang jika hanya dibujuk seperti ini. Butuh sedikit kekerasan ternyata.”  Hasut Jorge yang akhirnya membuat otak Emillio kembali bekerja.

“Javier..Hans…bawa Ji Eun masuk kedalam mobil sekarang.” Pinta Emillio  kepada kedua  pria berbadan kekar yang sedari tadi berdiri mengamat dari luar.

Dengan cepat Marc bertindak. Cara ini sudah salah pikirnya, dan segera pria itu menarik Ji Eun kebelakangnya, “..tuan, anda tidak bisa memaksa putri anda seperti ini. Kalau anda mau dimaafkan, harusnya anda berubah, bukannya mempertahankan kesalahan anda dan menganggapnya benar..”

“Jangan ikut campur kau, bajingan! Sudah cukup kau cuci otak putriku dengan semua omong kosongmu! Sekarang serahkan dia, atau aku akan mengambilnya sendiri dengan paksa.”

Marc masih kukuh mepertahankan Ji Eun dibalik tubuhnya. Bahkan tak segan Marc melwana kedua body guard yang tubuhnya jelas lebih besar dan lebih terlihat tangguh. Hingga akhirnya Marc lah yang tumbang dengan kondisi babak belur setelah menerima beberapa pukulan keras dari kedua body guard Emillio tadi.

Ji Eun terus berseru memanggil Marc. Gadis itu pun dengan segenap tenaganya berusaha melepaskan diri dari cengkraman dua orang body guard itu, namun apa daya, tenaga tubuh mungilnya tak lebih besar dari dua orang pria berotot itu.

“Kalau sampai terjadi sesuatu pada Marc. Seumur hidup, aku tidak akan memaafkan ayah!”

“Dia pantas mendapatkan itu! Pembunuh bayaran yang sudah dengan berani menculikmu dan mencuci otakmu..”

“Dan aku mencintainya ayah!”

Emillio tercekat mendengar seruan mantap dan lantang dari Ji Eun. Sorot tajam putrinya itu pun seakan ikut meneriaki perasaannya. Dan tentu saja, hal itu membuat Emillio makin geram.

“Buang jauh-jauh perasaanmu itu. Ayah sudah menjodohkanmu dengan Jorge. Dan ayah tidak mau kau berhubungan dengan pria macam pembunuh bayaran itu.”

“Ayah tidak punya hak menjodohkanku dengan pria busuk seperti Jorge. Dan lebih baik aku mati daripada harus dijodohkan dengan pria macam dia!”

“Ji Eun!” seru geram Emillio yang hampir saja melayangkan tamparan dipipi putrinya.

“Apa? Ayah mau menamparku? Tampar..ayo tampar..biar eomma tau bahwa dia sudah salah memilih pria dalam hidupnya!”

Ucapan Ji Eun membuat mata Emillio sedikit terbuka. Dan pikirannya terlempar pada kejadian malam itu, dimana dalam nafas-nafas terakhir mendiang istrinya, wanita itu menitip pesan pada Emillio..”..kumohon, jaga kedua anakku..sayangi mereka seperti yang kau lakukan padaku..meski mereka bukan anak kandungmu…kumohon sayangi mereka dan jangan biarkan mereka disakit…aku hanya minta itu darimu, Emillio..hanya itu..”

Perlahan Emillio menurunkan tangannya. Dan perjalanan mereka hanya diwarani suasana hening, sedang Ji Eun terus terisak.

Pikirannnya tak bisa lepas dari Marc, ‘apakah Marc baik-baik saja?’, ‘bagaimana mereka bisa bertemu lagi?’ dan masih banyak pertanyaan lain yang menggantung dihati Ji Eun.

Eomma..apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bahkan tak sempat bilang kalau aku juga mencintainya…apa yang akan terjadi padaku setelah ini, eomma…

* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Marc masih mencoba menahan rasa sakit ketika Shanti mulai menempel obat merah pada luka-luka diwajahnya. Pria itu meringis beberapa kali sampai akhirnya, yang terlihat diwajahnya ialah tekukan sedih dan putus asa.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Shanti? Apa semua ini sudah benar? Atau aku harus pergi dan mengambil Ji Eun kembali kemari?”

Shanti nampak menimbang sejenak. Sejujurnya semua hal yang terjadi tadi, bahkan tak sempat dipikirkan Shanti akan terjadi secepat ini.

Pria paruh baya itu hanya bisa menjawab pertanyaan Marc dengan senyuman sembari menepuk pelan pundak pemuda itu.

“Apa aku salah untuk menginginkannya terus tinggal disini? Apa dengan mencintainya, aku sudah melakukan dosa besar sehingga aku harus dihukum seperti ini?”

“Takdir kalian lah yang beda. Tapi..kalau anda tidak setuju dengan takdir yang seperti ini, buatlah takdir yang baru. Untuk saat ini, anda harus banyak berpikir dengan jernih terlebih dahulu sebelum bertindak. Masih ada satu hal yang anda lakukan sebelum mengarah pada nona Lee.”

“Maksudmu?”

“Jorge dann Vale. Selesaikan itu terlebih dahulu, baru kau tentukan, akan kemana takdir kalian.”

Shanti langsung bangkit dari ranjang Marc dan keluar dari kamar pria itu. Sedang Marc, pikirannya mulai perlahan mencerna maksud perkataan Shanti dan merenungkannya.

Apa bisa aku mengubah takdirku?

Malam sudah berganti dengan pagi. Namun seperti tak bertenaga, Marc merasa enggan menyambut mentari pagi ini.

Tubuhnya masih menggeliat diatas kasur, masih menolak untuk bangkit dari kasur empuk itu.

Bukan karen masih mengantuk atau sakit, namun Marc merasa paginya kurang sempurna tanpa gadis itu.

Ya. Gadis yang semalam dibawa pulang paksa oleh ayahnya dan Jorge.

“Tuan muda..sarapan anda sudah saya siapkan.” Seru Shanti dari balik pintu kamar Marc.

“Aku tidak lapar, Shanti. Nanti saja..”

Seakan mengerti dengan keadaan Marc. Shanti tak lagi mengganggu pemuda itu dan langsung turun kembali kedapur untuk membereskan meja makan.

Sama halnya yang terjadi dikediaman Ji Eun.

Gadis itu sama sekali tak mau keluar dari kamarnya. Pagi ini terasa asing baginya. Dan sinar mentari pagi terasa hangat lagi. Entah mungkin saja, karena hatinya mendingin. Tak ada lagi perasaan hangat yang biasa menggelitik hati Ji Eun.

Perasaan hangat yang menggelitik, ketika matanya bertemu dengan mata coklat milik Marc.

Serua pelayan rumah tangga dari balik pintu kamar Ji Eun tertupi dengan headphone yang menempel ditelinga Ji Eun. Alunan lagu yang mengalir lembut itu, mengiringi tiap tetes air matanya yang bergulir turun kepipinya.

 

Remember the first day when I saw your face
remember the first day when you smiled at me
you stepped to me and then you said to me
I was the woman you dreamed about

Ji Eun mulai teringat waktu pertama bertemu dengan Marc. Pria itu berbohong kalau dia saudara sepupu jauhnya yang bernama Daniel. Dimana saat itu, Marc tanpa sungkan mengajak Ji Eun masuk kerumahnya dan dengan berani menggoda Ji Eun.

Bahkan, senyum diwajah Marc tak pernah lelah menghias  wajah Marc.

Kenangan itu membuat Ji Eun sedikit tersenyum geli.

remember the first day when you called my house
remember the first day when you took me out
we had butterflies although we tried to hide it
and we both had a beautiful night
The way we held each others hand
the way we talked the way we laughed
it felt so good to find true love
I knew right then and there you were the one

 

Marc lah pria yang membuka matanya akan dunia ini. Menunjukan betapa indah dan menyenangkannya kebebasan. Marc jugalah yang memperkenalkannya pada perasaan hangat yang selalu menggelitik hatinya dikala mereka saling bersentuhan, atau saling menatap.

Cinta. Ya. Perasaan hangat dan selalu berhasil membuat Ji Eun terpukau itu bernama cinta.

Dan Marc lah yang memperkenalkan Ji Eun pada rasa cinta dan rasa percaya.

Remember the first day, the first day we kissed
remember the first day we had an argument
we apologized and then we compromised
and we haven’t argued since
remember the first day we stopped playing games
remember the first day you fell in love with me
it felt so good for you to say those words
cause I felt the same way too

Hangat bibir Marc masih belum hilang dari bibir Ji Eun. Mungkin karena ciuman yang Marc berikan semalam adalah ciuman tulus yang benar-benar berasal dari dalam hati pria itu. Perlahan ibu jari Ji Eun bergerak menyentuh bibirnya, dan air matanya kembali bergulir turun.

Pria itu. Ji Eun sangat merindukan pria itu, “..sedang apa kau sekarang, huh? Bagaimana keadaanmu? Kau sudah sarapan atau belum?”

“Aku mencintaimu, Ji Eun..”

I know that he loves me cause he told me so
I know that he loves me cause his feelings show
when he stares at me you see he cares for me
you see how he is so deep in love
I know that he loves me cause its obvious
I know that he loves me cause it’s me he trusts
and he’s missing me if he’s not kissing me
and when he looks at me his brown eyes tell his soul

Tangis Ji Eun kembali pecah pagi ini. Ia tak perduli akan seberap bengkak matanya nanti. Dan akan seberapa menyedihkan tampangnya nanti. Yang ia tau saat ini ialah, hatinya sakit. Dan ia butuh air mata ini untuk mengeluarkan segala rasa sakit yang sedari malam terus menghujam hatinya. Rasa sakit yang bahkan tak mengijinkannya untuk berisitirahat dimalam hari.

“Apa salahku, Tuhan? Tidak ada yang salah dengan perasaanku ini. Aku hanya mencintai seorang pria yang bisa mencintaiku dengan tulus. Tapi kenapa semuanya jadi seperti ini?”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Ji Hyun berjalan dengan langkah panjang penuh amarah ke ruang kerja ayahnya. Didalam sana, pria itu masih sibuk tertawa-tawa dengan Jorge. Membuat Ji Hyun makin geram dan kesal.

“Apa yang kau lakukan pada adikku, tuan Alzamora?”

Tawa kedua pria itu terhenti dan serempak keduanya berbalik menatap Ji Hyun.

“Kalian pikir, kalian bisa menyakiti adikku? Aku bersumpah, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Dan camkan ini, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyetujui keputusanmu, Emillio.”
Tanpa banyak berkata lagi, ataupun sekedar memberi kesempatan untuk Emillio membalas. Ji Hyun langsung berjalan meninggalkan ruangan itu masih dengan tampang kesal.

“Jangan pikirkan apa yang Ji Hyun katakan paman. Kau sudah melakukan hal yang baik. Mungkin Ji Eun dan Ji Hyun hanya butuh waktu untuk berpikir saja.”
“Kau pikir begitu?”

“Tentu saja.”

Hmph…aku sudah bilang Marc..jangan pernah main-main denganku…karena ku bukan Vale yang dengan mudahnya kau tipu..

Ji Eun masih menatap kosong kearah jendela kamarnya dengan lemas. Makanan yang tergeletak dimeja kamarnya sedikitpun tak disentuh.

Matanya sayu. Ia lemas. Belum ada asupan makanan atau pun minuman yang masuk ketubuhnya sejak pagi tadi.

Kabur. Ya, penglihatannya mulai kabur. Sampai-sampai ia mulai bisa berhalusinasi. Berhalusinasi tentang Marc yang muncul tiba-tiba didepan jendela kamarnya.

“Ji Eun..psst!” seru Marc setengah berbisik.

Halusinasi yang menyenangkan. Setidaknya itu tampak sangat nyata.

“Ji Eun..hei!” seru Marc lagi dan kali ini Ji Eun mulai sedikit tersadar. Matanya yang kabur sedikit ia kucak dan..

“Marc?” gadis itu hampir menjerit namun segera ia membungkam mulutnya sendiri dengan tangan, “..sedang apa kau?”

“Aku mau melihatmu. Aku merasa ganjil kalau tidak mengucapkan selamat pagi padamu.” Ujar Marc sembari mencoba masuk kedalam kamar Ji Eun, “..kau kenapa? Kau sakit?” tanya Marc sedikit panik. Namun, Ji Eun tak menjawab. Gadis itu masih mau memastikan kalau ini benar-benar bukan hanya halusinasinya saja.Perlahan tangan gadis itu menyusur pipi Marc, dan menariknya pelan.

“Selamat pagi..” bisiknya kemudian mengecup lembut bibir Marc.

Marc mulai membalas ciuman Ji Eun. Makin lama makin dalam dan hangat. Seperti  biasanya.

“Ji Eun..”

Suara itu otomatis melepas tautan antara bibir Marc dengan bibir Ji Eun

“Ayah?”

To Be Continued…

Sekian untuk part 7 :D dan terima kasih sudah membaca :D jangan lupa tinggalkan jejak (LIKE atau COMMENT) kalian dibawah ini atau diaccount Facebook author (Lea Ravensca Octavia Obiraga) dan account Twitter author (@LeaObiraga) jangan menjadi SILENT READER..

Thank you.. :D


As Long As You Love Me #6

image

Hai..hai semua *lambai-lambai anggun* setelah menimbang-nimbang..akhirnya author memutuskan untuk memosting FF ini meski pun si abang (Marc) tidak berhasil menyentuh garis finish alias jatuh L Tapi..sebenarnya author gk galau-galau amat sih, karena si abangnya sudah berhasil menjadi juara MotoGP 2014 *sorak*

Ok..tanpa banyak bicara lagi..langsung author persilahkan..Monggooo..Happy Reading :D

 

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

 

Part 6 :

Hari sudah gelap. Dan jalanan di Madrid sudah sepi. Tapi deru mesin sebuah mobil Ferrari masih memburu dijalanan. Yang akhirnya, mobil itu berlabu didepan sebuah rumah megah. Rumah itu nampak sangat gersang. Seperti tak ada tanda-tanda makhluk hidup disana. Pria pengendara mobil itu turun dari dalam Ferarri hitam miliknya kemudian tersenyum miris, “..sepertinya Vale membutuhkan pekerja untuk merenofasi rumahnya. Benar-benar memprihatinkan.” Gumamnya sebelum melangkah masuk kedalam rumah itu.

Perlahan tangan pria itu mendorong daun pintu berwarna putih itu dan sedikit mengintip kedalam.

“Tidak perlu mengendap-endap seperti pencuri begitu, Jorge.”

Jelas suara berat itu membuat Jorge sedikit tersentak kaget. Tubuhnya dengan refleks berbalik kearah pemilik suara itu.

“Hai, Vale. Maaf aku datang malam-malam begini. Kupikir kau sudah tidur tadi.”

“Kalau aku sudah tidur, kau mau apa?”

“Yaah..paling tidak aku bisa mengendap-endap lagi dan masuk kekamar putrimu, Laia.”
“Dan hanya jasadmu saja yang akan kubiarkan keluar dari rumah ini, Jorge. Tak usah basa basi lagi. Sebenarnya apa yang membuatmu datang kemari?”

Jorge tersenyum licik, “..bagaimana kita buat pertukaran, Vale? Pertukaran ini cukup adil menurutku.”

“Pertukaran? Pertukaran seperti apa?”

“Aku tau kau ingin putrimu bersanding dengan pria favoritmu itu. Dan aku juga tau, kau ingin melihat Emillio menderita seperti penderitaanmu sepeninggal Romano. Jadi..bagaimana kalau kita buat keduanya terwujud?”

“Maksudmu?”

“Biarkan Ji Eun aku yang urusi. Sedang Marc…buat dia menjadi milik putrimu. Aku yakin, apapun yang kau minta darinya pasti akan kau dapatkan. Termasuk hal seperti ini, Vale.”

Vale menimbang sejenak. Kembali ia pikirkan, yang Jorge katakan barusan memang benar. Tak pernah ada permintaan Vale yang ditolak Marc. Itulah sebabnya, Vale menjadikan Marc sebagai anak lelaki favoritnya. Mungkin pertukaran yang diajukan Jorge ini memang adil adanya.

“Baiklah. Akan kucoba. Tapi ini juga harus aku bicarakan dengan putriku, Laia.”

“Tanpa kau rundingkan dengan Laia pun, putri kesayanganmu itu pasti sangat setuju.”

“Dari mana kau tau?”

“Sesekali…lihatlah kedalam kamar putrimu. Atau..sedikit mengintip kedalam diary nya.”

Jorge berbalik dan meninggalkan rumah itu sembari tersenyum penuh kemenangan. Pikirnya rencanannya akan berjalan sangat lancar dan mulus.

Kali ini..kita lihat siapa yang akan memenangkan hati Ji Eun,  Marc…kau atau aku…

Pagi itu Vale memutuskan untuk bertandang kerumah Marc. Membuat Marc dan Ji Eun juga Shanti, sempat kelabakan dipagi itu.

Shanti dan Ji Eun sudah bersembunyi dibalik pintu rahasia dibalik conter minuman. Sedang Marc, pria itu sudah duduk dan mulai bercengkrama dengan Vale.

“Tumben kau datang sepagi ini kerumahku. Ada apa?” tanya Marc penasaran.

“Aku bukan orang yang suka basa basi Marc dan kau tau itu. Aku datang kemari untuk melakukan pertukaran yang adil denganmu.”

“Pertukaran yang adil? Maksudmu?”

Entah mengapa perasaan Marc terasa tidak enak. Hatinya jadi tidak tenang.

“Aku tidak akan menyuruhmu  membunuh gadis itu dengan satu syarat..”

“Syarat apa?”

“Nikahi putriku Laia. Dan gadis itu tidak akan ku apa-apakan.”

‘DEG!’ Meski ini kesempatan bagus. Tapi Marc juga tidak bisa mengabaikan perasaannya sendiri. Ia  mencintai Ji Eun dan bukan Laia. Laia sudah dianggap adik bagi Marc. Dan tak ada perasaan lebih yang Marc rasakan untuk Laia.

Lalu apa yang harus aku lakukan?

“Bagaimana Marc? Aku berjanji kau bisa memgang ucapanku.”

Marc kembali berpikir. Otak dan hatinya, benar-benar sepakat untuk tidak mengiyakan permintaan Vale itu.

“Maaf Vale. Aku tidak bisa.”
“Apa maksudmu tidak bisa, Marc? Kau mau gadis itu mati, hah?”

“Kenapa kau begitu ingin aku menerima pertukaranmu ini? Setidaknya kau punya alasan yang kuat untuk ini, bukan?”

“Tidak perlu alasan untuk itu Marc..”

“Apa karena Jorge?”

Ji Eun dalam persembunyiannya sedikit tersentak mendengar nama itu. Nama  pria yang paling dibencinya.

“Kenapa harus menuduh Jorge, Marc? Ini tidak..”

“Karena hanya Jorge yang bisa punya pemikiran selicik dan sekotor ini.”

“Jadi maksudmu permintaanku ini licik dan kotor, begitu?”

Marc tersenyum sinis, “..kau tau Vale..kenapa kau bertanya? Permintaanmu ini seperti  orang rendah yang tak memiliki harga diri, Vale. Kau mau tau apa yang akan dipikirkan Laia jika dia tau? Dia akan menangis dan malu mengakuimu. Jorge sengaja membuatmu memohon seperti ini. Dia ingin melihatmu seperti orang rendahan.”

Wajah Vale memerah. Ekspresinya kentara sedang menahan amarah. Entah siapa yang menjadi bahan amarahnya? Ucapan Marc kah? Atau Jorge?

Pria paruh baya itu berdiri dan langsun pergi begitu saja. Tak ada ucapan apapun. Entah siapa yang sedang menjadi bahan amarahnya, bahkan Marc sendiri pun tidak tau.

“Dia sudah pergi?”

Marc tak langsung menjawab pertanyaan Ji Eun. Pria itu masih menatap pintu rumahnya yang barus saja dilewati Vale dengan kesal.

Aku harus tetap berjaga-jaga. Dan Ji Eun…aku sudah berjanji untuk melindunginya. Jadi..apapun yang akan terjadi, aku akan tetap melindunginya..

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Jorge masih terngiang dengan setiap bahasa yang keluar dari mulut Vale malam itu. Tangannya masih sering terkepal kesal ketika mengingat siapa penyebab keluarnya kalimat-kalimat kasar dari mulut Vale semalam.

“Akan kupastikan kau mendapat balasannya, Marc. Dan tentu balasannya akan sangat setimpal dengan perlakukanmu padaku.”

Ponselnya berdering. Dan nama yang tertera dilayar datar ponsel itu membuat senyum licik mulai melengkung tipis dibibirnya.

“Halo, paman.”

[Apa sudah ada perkembangan?]

“Maafkan aku paman. Sejauh ini aku masih belum mendapatkan petunjuk apapun. Tapi..aku sudah tau, siapa yang bisa memberitahu aku petunjuk langsung itu.”

[Siapa?]

“Tentu putra sulung kesayangan paman itu.”

[Ji Hyun?]

“Siapa lagi orang yang bisa berkomunikasi dengan Ji Eun selain kakaknya?”

Beberapa saat tak terdengar suara dari seberang sana. Hingga akhirnya sambungan telepon pun terputus. Jorge mulai tersenyum puas. Setumpuk rencana jahat yang sempat lama terkubur akhirnya kembali memenuhi benaknya.

Tunggu pembalasanku, Marc…

Setelah Emillio mengakhiri percakapannya dengan Jorge. Segera pria paruh baya itu berjalan cepat menuju kamar Ji Hyun.

“Ji Hyun. Buka pintunya!” seru Emillio sembari mengetuk kasar pintu kamar Ji Hyun.

Berulang kali Emillio mengetuk dan berseru dari balik daun pintu kamar Ji Hyun, namun tak ada jawaban apapun dari si pemilik kamar. Sampai seorang pelayan rumah lewat dan melihat Emillio masih kukuh berdiri dan berseru didepan kamar Ji Hyun.

“Tuan..tuan muda sudah pergi dari semalam tadi. Dan sampai pagi ini pun dia belum pulang.”
“Pergi? Pergi kemana?”

“Saya tidak tau, tuan. Tuan muda juga tidak bilang apa-apa sebelum pergi.”

“Tolong bawakan untukku kunci cadangan kamar ini.”

Segera pelayan itu berlari kebawah dan mengambil kunci cadangan kamar Ji Hyun yang tersimpan dilaci penyimpanan kunci. Setelah mendapat yang diminta majikannya, pelayan itu kembali berlari keatas untuk menyerahkan kunci cadangan itu.

“Ini tuan..” ujar pelayan itu setibanya dihadapan Emillio.

Tanpa membuang waktu lagi, segera Emillio membuka pintu kamar putra sulungnya itu.

Kamar yang berantakan. Lemari yang kosong. Dan sepucuk surat tergeletak dimeja tidur, menunggu seseorang untuk membacanya.

Ayah…maaf…aku tidak pernah bermaksud  menjadi pembangkang…tapi, untuk keputusan ayah..aku tidak bisa menerimanya…aku hanya berusaha memenuhi janjiku pada eomma. Itu saja..maaf, aku pergi…

Emillio masih terpaku menatap surat ditangannya. Semakin lama, tangannya makin meremas kuat kertas itu sampai kusut bahkan sobek.

“Panggil beberapa penjaga. Dan kau..coba lihat apa mobil Ji Hyun ada digarasi atau tidak?”

“Baik tuan.”

Apa salah ayah, nak? Apa ayah terlalu ceroboh? Coba jelaskan salah ayah tanpa melarikan diri seperti ini?

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Ji Eun menatap kosong keluar jendela kamarnya. Pikirannya masih berputar soal kejadian beberapa hari yang lalu. Entah harus merasa sedih atau senang. Tapi, jauh didalam hatinya kecilnya sangat setuju dengan keputusan Marc waktu itu.

Meski nyawa Ji Eun makin terancam, tapi ia bahkan tak merasa takut sama sekali.

“Kau sedang apa?”

Suara Marc seketika memecah lamunan Ji Eun. Refleks gadis itu berbalik dan tersenyum kepada Marc, “..tidak. Hanya saja..kenapa kau menolak tawaran Vale waktu itu?”

Marc tau kalau akhirnya Ji Eun akan bertanya seperti ini. Dan tentu saja, Marc sudah mempersiapkan jawabannya.

Pria itu berjalan mendekat kearah Ji Eun dan berdiri tepat didepan gadis itu.

“Menurut tebakanmu..kira-kira apa yang kupikirkan saat itu?”

“Entahlah.  Aku tidak bisa menebak apapun.”
Marc tersenyum. Tatapannya lurus menatap dan mengunci gadis itu dalam matanya.

“Ada seorang gadis..menyebalkan. Tapi..tanpa gadis itu, aku merasa ada sesuatu yang kurang. Aku jatuh cinta padanya. Itulah sebabnya aku tidak bisa menerima tawaran Vale..”

“Siapa dia?”

Sura gadis itu bergetar ketika bertanya. Hatinya sedikit terluka. Namun, tetap mencoba mendengar cerita Marc. Bahkan Ji Eun sendiri tidak tau, kenapa dia begitu terluka..

“Gadis itu…menyebalkan. Menyebalkan dan…sangat cantik. Sangat cantik sampai-sampai aku tak bisa melepaskan pandanganku barang sedetikpun darinya sekarang ini.”

Atmosfir dalam kamar Ji Eun terasa hangat. Jantung gadis itu pun bertalu-talu tak karuan. Tatapan tajam Marc, benar-benar melumpuhkan otaknya. Tak ada yang mampu ia pikirkan, hanya Marc dan Marc. Ya, pria itu kini sudah memenuhi kepala Ji Eun.

Deru napas Marc, hangat menyapu wajah Ji Eun. Membuat Ji Eun dengan refleks memejamkan matanya. Dan perlahan, Marc mencondongkan wajahnya kearah wajah gadis itu. Ia berhenti sejenak dan tersenyum ketika jarak wajahnya dengan wajah Ji Eun hanya bersisa 5cm.

“Aku mencintaimu, Ji Eun.” Bisik Marc kemudian mengecup lembut bibir gadis itu.

Anehnya, Ji Eun tak memberontak atau pun marah. Bahkan gadis itu tak melayangkan tamparan dipipi Marc, seperti halnya dengan yang ia lakukan pada Jorge waktu semasa SMA dulu, ketika Jorge mencuri ciuman pertamanya.

Makin lama, ciuman Marc makin dalam dan Ji Eun yang awalnya belum berani membalas, akhirnya membuka mulutnya dan membalas setiap lumatan demi lumatan dari bibir Marc.

Pria itu melakukannya dengan sepenuh hati dan lembut. Membuat Ji Eun semakin nyaman dan tak berniat mengakhiri ini.

Suara ketukan pintu kamar Ji Eun lah yang akhirnya memisahkan mereka.

Sosok Shanti muncul dari balik pintu kamar gadis itu dengan wajah panik, “..nona..”

Tanpa menunggu kalimat lanjutan dari Shanti, segera Marc berlari kebawah dan melihat sebenarnya apa yang membuat Shanti sampai sepanik itu.

“Jorge?”

To Be Continued…

Kira-kira seperti itulah FF dari author..

Semoga berkesan..dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian (LIKE & COMMENT) dibawah atau bisa juga diaccount Facebook (Lea Ravensca Octavia Obiraga) dan Twitter (@LeaObiraga) milik author :D

Jangan menjadi SILENT READER, ya? Tolong hargai tulisan author yang masih kurang ini dengan kritik dan saran..

Terima kasih sudah membaca.. :D


Come and See, please!! ^^

My Fanfiction

Wajib Baca guys! :D


As Long As You Love Me #5

image

Maaf kalau author kelamaan posting Part 5 ini..jadi, tanpa basa-basi lagi..

Happy Reading, guys :D

 

* * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Part 5 :

“Bawa putriku pulang bagaimana pun caranya. Ingat! Jangan buat aku kecewa.”

“Bagaimana dengan pria itu?”

“Bunuh dia bila perlu jika dia menolak mengembalikan putriku.”
Hanya dengan mengangguk pria muda itu mengiyakan perintah yang diberikan Emillio padanya. Senyum licik melengkung tipis dibibirnya. Dan setelah merasa semuanya sudah selesai, ia keluar dengan langkah mantap dari ruang kerja Emillio.

Diluar sana, tepat diambang pintu ruangan itu, Ji Hyun berdiri sembari melipat tangannya didepan dada, “..jangan terlalu bermimpi banyak Jorge. Tentu kau masih ingat seberapa keras tamparan adikku waktu itu, kan?”

“Bagaimana kalau kita bertaruh, kakak ipar?”

“Tak perlu bertaruh pun kau sudah pasti kalah.”

“Kalau begitu kita lihat saja, Ji Hyun. Kita lihat saja.”
Jorge melanjutkan langkahnya, keluar dari  rumah megah itu. Dulu kau memang pernah menamparku, tapi tidak untuk kali ini, Ji Eun. Aku akan membuatmu bertekuk lutut dan menjadikanmu ratuku. Itu sudah pasti.

“Kenapa ayah percayakan misi ini pada orang sepicik Jorge?”

“Dialah yang akan ayah jodohkan dengan adikmu. Dan ayah tau apa yang ayah lakukan?”

“Jangan buat Ji Eun semakin membencimu, ayah. Kau sendiri tau sebenci apa Ji Eun pada Jorge. Dan kau juga tau kalau Ji Eun tidak akan pernah menerima perjodohan seperti itu.”

“Jangan membantah ayah, Ji Hyun. Ini yang terbaik untuk adikmu..”

“Untuk Ji Eun? Atau untuk ayah?”

Sejenak Ji Hyun menatap ayahnya dengan tatapan dingin kemudian berbalik dan berjalan keluar dengan langkah kesal dari ruangan pria paruh baya itu.

Ayah sudah keterlaluan! Benar-benar keterlaluan!

* * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Ji Hyun memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah alamat yang baru saja didapatnya dari seseorang. Apa benar yang mereka bilang? Kau masih baik-baik saja, kan?

Tak berapa lama, mobil Ji Hyun berhenti tepat didepan sebuah pagar rumah nan besar dan tinggi. Dengan hati-hati Ji Hyun melangkah masuk kedalam rumah itu. Ia nampak sangat berhati-hati, takut-takut sang pemilik rumah tau akan kedatangannya kemari.

Jantung Ji Hyun makin memompa tak karuan ketika dirinya sudah berdiri tepat didepan pintu rumah megah itu. Tangannya yang bergetar, terangkat dan menekan tombol bel rumah yang ada disamping pintu itu.

Pintu itu pun terbuka, sebuah suara ceria terdengar dari dalam sana yang bersamaan dengan terbukanya daun pintu itu.

“Oppa?!”

“Ji Eun..kau?”

“Oppa sedang apa disini? Dan dari mana oppa..”

“Ayo kita segera pergi dari  sini, Ji Eun. Pria yang bersamamu sekarang ini adalah seorang..”

“Pembunuh bayaran..aku tau itu, oppa. Tapi dia baik..dia tidak berniat menjahatiku. Dia malah berusaha melindungiku. Oppa tenang dan pulanglah. Dan bilang pada ayah, sampai kapan pun aku tidak akan mau pulang kerumah.”

“Kenapa? Dan darimana kau tau kalau dia tak akan menjahatimu?”

“Karena aku percaya padanya, oppa.”

Ji Hyun tersentak. Baru kali ini Ji Hyun mendengar adiknya berkata percaya pada seseorang yang bahkan belum begitu ia kenal. Ada yang mencurigakan disini. Bahkan Ji Eun dapat melihat semburat merah merona dipipi adiknya ketika gadis itu menyerukan rasa percaya pada pria yanng adalah pembunuh bayaran itu.

Ji Hyun tersenyum, “..kalau kau begitu percaya padanya dan kau yakin dia bisa melindungimu…oppa pun akan berusaha percaya padanya. Tapi..”

“Tapi apa?”

“Kalau dia menyakitimu, jangan harap oppa akan melepaskannya begitu saja sebelum membuatnya merasakan beberapa pukulan dari tangan oppa.”
Ji Eun mengernyit tak mengerti, “..suatu saat kau akan mengerti, Ji Eun.”
Senyum Ji Hyun berganti ekspresi datar ketika dilihatnya pesan yang baru saja masuk kedalam ponselnya.

“Ada apa?”

“Boleh oppa bicara dengan Marc?”

“Darimana oppa tau na..”

“Biarkan oppa bicara padanya. Ini penting..”
Dan tanpa harus bertanya lagi, Ji Eun mempersilahkan kakaknya masuk sedang gadis itu langsung berlari cepat kekamar Marc.

Tak berapa lama, Ji Eun sudah turun dari anak-anak tangga itu bersama seorang pria yang nampak sebaya dengan Ji Eun.

Belum sampai Marc pada anak tangga terakhir, suara datar bernada serius meluncur dari mulut Ji Hyun, “..bisa aku bicara sebentar dengamu. Kita bicara empat mata saja.”

Ji Eun mengerti dengan maksud kakaknya. Segera gadis itu berlari kecil keaarah dapur dimana Shanti sibuk membereskan meja makan.

“Apa yang mau kau bicarakan denganku?”

“Jorge. Pria itu akan datang kemari dan menyakiti adikku. Aku tau dia salah satu dari kalian, makanya aku mohon satu hal padamu. Lindungi adikku, bagaimana pun caranya.”

“Tanpa kau minta pun akan aku lakukan.”
Senyum puas tergambar jelas dibibir Ji Hyun. Merasa tak ada yang perlu ia khawatirkan lagi, segera Ji Hyun berpamitan dengan Marc dan pulang.

Eomma..mungkin ini terdengar gila, dan jika kau disini mungkin kau akan menghukumku..tapi, adikku..dia sudah berada ditangan yang tepat, yang sanggup menjaganya dan melindunginya..

* * * * * * * * * * * * * * * * *

 

“Kau punya kakak yang baik.”

Marc tersenyum sebentar kemudian mulai menyesap Mocca latte dari gelasnya, “..apa yang kau katakan padanya sampai-sampai dia jugaikut-ikutan percaya padaku begitu?”

“Entahlah. Menurutku kakakku itu punya pandangan sendiri tentangmu. Dia itu pria yang hebat, dia bisa melihat kedalam isi hatimu hanya dengan menatap sebentar kedalam matamu. Jadi, sepintar apapun seseorang itu berbohong, dia tak akan bisa lolos dari kakakku.”
“Sehebat itukah kakakmu? Berarti dia bisa tau isi hatiku saat itu, ya?” Pantas saja dia tersenyum begitu..batin Marc.

“Mungkin. Karena kata eomma, oppa itu spesial. Dia mewarisi kelebihan kakekku.”
“Kelebihan?”

“Iya. Kelebihan membaca pikiran orang. Bahkan dia juga bisa memanipulasi pikiran seseorang hanya dengan menatap kedalam mata orang itu.”

Ini gila! Berarti sedari tadi, kemungkinan besar di sudah tau apa yang aku rasakan untuk adiknya? Mana mungkin dia mempercayakan adiknya seperti itu jika dia tidak tau apa yang aku rasakan untuk adiknya? Payah kau Marc!

“Kenapa? Apa yang kau pikirkan? Melamun itu tidak baik!”

“Tidak. Hanya saja, aku takut kakakmu akan membocorkan rahasiaku.”
“Rahasia? Rahasia apa? Apa kakakku sehebat itu, ya?”

“Tadi kau bilang..”

“Haha..aku hanya bercanda. Kau itu serius sekali. Oh ya, memangnya apa saja yang kalian bicarakan tadi?”

Sejenak Marc terdiam. Ingin Marc menyembunyikan hal ini, tapi bagaimana pun gadis ini pasti akan mengetahuinya, “..Jorge..ayahmu memintanya untuk membawamu pulang. Tadi kakakmu memintaku untuk menjauhkanmu dari Jorge apapun yang terdjadi. Bahkan kakakmu sendiri sudah tau siapa itu Jorge.”
Ada raut kecewa bercampur takut tergambar jelas diwajah gadis itu. Manik coklat itu membulat seakan memelas perlindungan.

“Kau tenang saja. Dia tak akan sampai menyentuhmu. Aku pastikan itu. Aku berjanji..kau percaya padaku, kan?”

Ji Eun hanya mengangguk tanpa mampu menjawab. Gadis itu kembali tersenyum, namun Marc tau, itu bukan senyum lega atau bahagia. Gadis itu masih takut. Entah pengalaman apa yang pernah gadis itu alami bersama Jorge. Mungkin terlalu mengerikan sampai-sampai gadis itu kelihatan sangat takut, “..hei! jangan takut, hm? Aku pasti akan melindungimu. Apapun yang terjadi, aku pasti akan menjagamu. Percayalah padaku.”

Dengan lembut, Marc menarik Ji Eun dalam rangkulannya. Dan seperti terbius, Ji Eun bahkan tak menolak ketika tubuhnya mulai bersandar didada bidang Marc. Rasa hangat itu kembali menjalar kesekujur tubuh Ji Eun. Hatinya bergetar. Ada aliran asing dan menggelitik masuk kedalam hatinya. Jatuh cinta. Mungkinkah?

“Ehm!”

Suara deheman itu segera memisahkan posisi tubuh Marc dengan Ji Eun. Keduanya mulai nampak sedikit canggung didepan pria paruh baya berseragam pelayan itu.

“Makan malam sudah siap, tuan muda..nona..ayo kita makan.” Ajak Shanti yang kemudian masuk terlebih dahulu kedalam ruang makan.

Astaga, eomma! Entahlah…satu hal yang kurasa saat bersamanya..nyaman..ya, aku merasa nyaman dan hangat didekatnya..seakan tak ada hal yang perlu aku takuti didunia ini..dan aku bahagia memiliki perasaan seperti ini, eomma…

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

            ”Sepertinya kau sudah tau dimana adikmu berada, kakak ipar.”

Suara Jorge itu lantas membuat Ji Hyun sedikit tersentak kaget. Pria itu baru saja akan turun dari mobilnya.

“Bisa kau biarkan aku beristirahat sebentar dan..kalau kau tak keberatan, jangan panggil aku kakak ipar. Itu sedikit membuatku mual.”
“Baiklah. Kalau begitu aku tak akan basa-basi lagi. Dimana Ji Eun sekarang?”

“Untuk apa kau tau?”
“Tentu jelas bukan? Aku mau membawanya pulang, Ji Hyun. Apa lagi?’

“Membawa adikku pulang? Hmph..jangan memimpikan hal setinggi itu. Kalau gagal nanti kau sendiri yang akan gila.”

“Sudah kubilang, kita lihat saja nanti. Siapa yang akan gagal.”

Ji Hyun tersenyum mengejek, “..yaah..yaah..aku mau istirahat. Kalau kau mau pulang, pulanglah..atau kalau kau mau disini, kau bisa ajak *D untuk jadi teman bicaramu.”

*D = Anjing Shiberian Husky milik Ji Hyun

“Tentu dia akan senang mendengar ceritaku, kakak ipar.”

“Mungkin.”

Ji Hyun melangkah masuk meninggalkan Jorge. Marc..aku percayakan adikku padamu. Jangan kecewakan aku..

TO BE CONTINUED…

OK Guys..kurang lebih, begitulah isi cerita Part 5..selebihnya author menunggu ‘LIKE’ dan ‘COMMENT’ *boleh comment ditwitter dan facebook milik author kok :D * dari kalian semua :D dan author harap, kalian tidak menjadi pembaca yang jahat dan tidak bisa menghargai tulisan author. Author benci sama SILENT READER..so, jangan jadi SILENT READER, ya? :D

Akhir kata..MUCHAS GRACIAS..THANK YOU..GUMAWO..TERIMA KASIH.. :D


As Long As You Love Me #4

image

Hai..haii semuaaa..*sumringah* :D author back again dengan next Part nya :) author harap kalian tidak bosan ya sama ceritanya :D dan tanpa author harus basa basi kayak nasi basi *bau lo thor yang kayak nasi basi* mari langsung saja pada ceritanya..Happy Reading :)

 

Part 4 :

Ji Eun meletakan gagang telepon itu perlahan, sedang otaknya masih berpikir keras. Kira-kira orang gila siapa tadi yang menelepon? “Bisa-bisanya dia memfitnah orang sampai sebegitunya?”

“Siapa yang memfitnah siapa, Ji Eun?”

Gadis itu tersentak kaget mendengar suara Marc tepat dibelakangnya. “..Da-Daniel? Ka-kau sudah..”

“Siapa tadi yang menelepon?” nada tanya Marc lebih tajam ketimbang tadi. Nampak pria iu benar-benar penasaran dengan siapa si  penelepon tadi.

“Entahlah. Kupikir orang gila dengan berjuta-juta obsesi, mungkin?”

Marc mengernyitkan dahinya mendengar pernyataan Ji Eun. Ada yang aneh, pikir Marc. Gadis itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

“Memangnya apa yang dia katakan padamu sampai kau menganggapnya orang gila dengan berjuta-juta obsesi?”

“Pembunuh bayaran..Marc..dan semua itu dituduhkan padamu. Jelas itu gila, kan?”

Napas Marc sedikit tercekat, namun setidaknya ada sedikit rasa lega yang meringankan hati  juga pikiannya.

“Ya. Kau benar. Mungkin dia terobsesi menjadi seorang mata-mata atau semacamanya.”

“Aku lebih berpikir kalau dia terlalu terobsesi menjadi seorang aktor?”

“Haha..Ya. Kau boleh anggap begitu.”

Aku tau kau yang menelepon Julia. Aku tau itu kau..

* * * * * * * * * * * * * * *

“Lezat seperti biasanya.”

Shanti tersenyum lebar mendengar pujian Ji Eun pada sup Kimchi buatannya, “..beberapa hari ini aku belajar membuatnya. Dan kupikir sebagai pemula, rasanya mungkin tidak akan enak. Ternyata aku salah.”
“Makanya. Jangan ragukan kemampuanmu sebagai koki handal.”

Ji Eun kembali sibuk menyesap pelan sup kimchinya, sambil terus berdecak  kagum atas masakan lezat yang Shanti sajikan untuknya. Tak berselang lama, dering telepon diruang tengah kembali berbunyi dan dengan sigap Shanti berlarih kearahnya dan menerima panggilan itu. Wajah Shanti nampak tegang, segera pria itu menutup sambungan telepon dan berlari kearah Ji Eun yang menunggu dengan bingung dimeja makan.

“Ada ap..”

“Mari ikut saya, nona.”

Wajah Shanti nampak panik. Segera pria paruh baya itu menarik lengan Ji Eun dan membawanya turun keruang bawah tanah.

“Anda bersembunyilah disini. Jangan bersuara atau membuat suatu hal yang bisa mengundang perhatian.”

“Tapi sebenarnya ada apa?”

“Saya mohon nona. Ikuti saja apa yang saya katakan, nanti saya akan jelaskan semuanya.”

Segera Shanti berlari naik kembali keatas dan meninggalkan Ji Eun dalam ruangan itu. Ji Eun masih bingung. Namun belum berani untuk menerka apapun. Pertanyaan demi pertanyaan mulai menggelayuti hati Ji Eun. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku merasa sangat ketakutan?

Sebuah mobil Ford hitam baru saja terparkir didepan halaman rumah Marc. Seorang pria dengan berbalut busana serba hitam turun dari sana dengan wajah penuh senyuman.

Dilihatnya teliti setiap sudut rumah itu dengan kagum, “..bantuanku kau gunakan untuk rumah ini rupanya.” Gumam pria itu kemudian berjalan dengan langkah mantap kearah pintu rumah berwarna coklat muda itu.

Belum sempat jemarinya menyentuh tombol bel rumah, pintu rumah itu sudah terbuka. Seakan sang pemilik rumah sudah tau seseorang datang kerumah itu.

“Selamat datang, tuan Rossi. Kedatangan anda sudah ditunggu.” Sapa sopanseorang pelayan rumah sembari mempersilahkan Vale masuk kedalam rumah bergaya Eropa Klasik itu.

Nampak diruang tamu sana, sudah menunggu seoang pria muda dengan pakaian yang sedikit lebih santai dibanding dengan yang digunakan Vale.

“Aku tak mau banyak basa-basi Marc. Aku kesini untuk menanyakan hasil kerjamu. Bagaimana?”

“Kau terlalu terburu-buru Vale. Hal yang baik akan datang pada orang yang mau menunggu dengan sabar. Kupikir akan lebih baik kalau kau serahkan semuanya dan biarkan aku bekerja dengan caraku sendiri.”

“Bagaimana cara kerjamu itu, nak? Apa akan membuatku puas nantinya?”

“Tentu saja.”

“Hmph..bunuh gadis itu secepatnya. Aku tidak akan memberimu toleransi lagi kalau kau berani-berani mempermainkanku.”

Vale berbalik dan segera menghilang dibalik pintu rumah Marc. Dan mobil Ford yang tadi mengantarnya perlahan menjauh dari pandangan Marc.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tuhan..aku hanya ingin mlindunginya. Itu saja. Aku bahkan tak perduli jika Vale harus melampiaskan semuanya padaku…aku hanya ingin dia baik-baik saja..

“..mati kita cari bantuan dari ayahku.”

Suara Ji Eun membuat Marc tersentak kaget. Dengan refleks dan cepat, Marc berbalik kearah suara itu, “..apa yang..”

“Aku sudah tau semuanya..dari Shanti. Siapa kau dan apa yang akan kau lakukan padaku.”

Marc terdiam. Pria itu menatap Shanti tidak percaya. Tidak seharusnya Shanti membongkar identitas Marc seperti ini, “..sebenarnya kenapa kau membohongiku? Dan kenapa kau bukannya membunuhku, malah melindungiku?”

“A-aku..aku..”

“Jelaskan semuanya paadaku, tuan Marc Marquez Alenta.”

Marc menghela npas panjang dan menghembusnya pelan, “..maaf kalau aku membohongimu. Ya. Awalnya aku membawamu kemari untuk menyelesaikan apa yang sudah ditugaskan padaku. Tapi…ada satu dan dua hal yang membuatku akhirnya berubah pikiran. Kenapa aku tak membiarkanmu pulang..itu karena aku berpikir bahwa kau akan lebih aman disini. Karena bisa saja Vale bukan hanya membunuhmu, tapi semua orang yang ada dirumahmu.”

“Kenapa dia megincarku? Bukankah yang dia inginkan ayahku turun dari jabatannya? Tanpa dia harus membunuhku, dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Ayahku akan turun dari jabatannya. Setidaknya itulah yang kakakku beritahukan padaku.”

Marc terdiam sejenak. Matanya lurus menatap masuk kedalam manik mata Ji Eun, “..bukan hanya itu Ji Eun. Ada dendam yang Vale punya untuk ayahmu. Nyawa harus dibayar dengan nyawa, begitulah yang ia katakan padaku saat memberi misi ini.”

“Apa maksudmu.”

“Romano Fenati. Putra tunggal Vale yang meninggal ditangan ayahmu pada kecelakaan mobil tanggal 28 Agustus tahun lalu.”

“Kecelakaan? 28 Agustus?”

“Ya. Ayah dan ibumu dalam perjalanan kesuatu tempat. Dan ayahmu memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi sehingga kecelakaan itu tak bisa dihindari. Ibumu dan Romano meninggal ditempat.”

“Tapi ayahku bilang..eomma..meninggal karena sakit.”

Marc mengerutkan dahinya. Bagaimana gadis ini tidak tau cara ibu kandungnya meninggal? Batin Marc, “..kau..tidak tau?”

“Aku…aku di Amerika waktu itu. Aku hanya diberitahu kakakku kalau ibuku meninggal karena serangan jantung. Da-dari mana kau tau?”

“Aku saksi kecelakaan maut itu. Aku yang memanggil ambulans dan aku yang mengeluarkan jenazah ibumu dari dalam mobil.”

Sekujur tubuh Ji Eun bergetar. Kakinya tak lagi menapak ditanah. Tubuh gadis itu lunglay dan nyaris tersungkur kelantai kalau Shanti tidak segera menangkap cepat tubuh Ji Eun.

“Eo-eomma..kenapa?” gumam gadis itu sedang butir-butir bening mulai bergulir turun dari matanya dan membasahi pipinya, “..kenapa semuanya disembunyikan dariku?”

Marc bergerak mendekat kearah Ji Eun dan menarik gadis itu dalam pelukannya, “..aku yakin ayahmu punya alasan sendiri dengan menyembunyikan cara kematian ibumu. Yang pasti, dia tak mau kau membencinya karena menjadi penyebab kematian ibumu. Dan inilah sebabnya ia tak membiarkanmu tanpa pengawasan. Dia terlalu menyayangimu, Ji Eun dan dia tau kalau Vale akan mencarimu sebagai bahan balas dendam.”

“Tapi kenapa  dia tidak mencoba jujur saja? Apa salahku padanya?”

Gadis itu terisak hebat didada Marc. Tangisnya pecah menggema diseluruh penjuru rumah itu. Sedang Marc makin mempererat pelukannya. Membiarkan gadis itu menumpahkan rasa sesaknya didada Marc.

Dan ini yang terakhir aku melihatmu menangis seperti ini Ji Eun…aku tak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi…aku akan melindungimu…aku tak akan membiarkan Vale merenggutmu..tidak akan..

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

            Pandangan Marc tak lepas  dari wajah teduh Ji Eun yang terlelap itu. Gadis itu terlalu lelah menangis sampai-sampai terlelap didalam pelukan Marc tadi. Tangan Marc bergerak pelan menyusur tiap lekuk wajah gadis itu. Bagaimana aku bisa bilang aku tidak jatuh cinta padamu? Bagaimana mungkin hatiku menolak perasaan itu? Awalnya aku hanya ingin melindungimu…tapi lama-kelamaan perasaan itu bertumbuh lebih besar dari yang kubayangkan…bukan hanya ingin melindungi..tapi aku juga ingin memilikimu…yang Shanti bilang itu benar…aku benar-benar jatuh cinta padamu…

Perlahan, Marc bergerak turun dari atas kasur itu namun, belum sempat kaki Marc menyentuh lantai. Marc merasa lengannya ditahan. Dan benar, Ji Eun membuka matanya dan tangan mungilnya menggenggam tangan Marc erat, “..jangan tinggalkan aku. Aku takut sendirian.”

Marc hanya terdiam. Ia menatap tangannya yang digenggam Ji Eun dan wajah gadis itu bergantian. Ada perasaan hangat menjalar dari tangan gadis itu dan masuk dalam hatinya. Akhirnya Marc kembali naik keatas kasur dan mendekap Ji Eun hangat, “..aku tidak akan kemana-mana. Aku akan disini. Tidurlah.” Ujar Marc lembut.

Gadis itu pun kembali memejamkan matanya, dan lengannya ia lingkarkan dipinggang Marc. Eomma…apa aku sudah gila? Tapi kenapa aku merasa sangat nyaman dan tenang jika bersamanya? Bahkan aku tidak keberatan didekapnya seperti ini. Sebaliknya, eomma..aku bahagia..sangat hangat..

Tanpa keduanya sadari, seorang pria menatap mereka dari balik pintu kamar sana dengan rasa harus, “..tuan muda akhirnya tidak kesepian lagi..”

To Be Continued…

Maaf ya kalau semuanya terkesan cepat…soalnya, on the beggining..FF ini sebenarnya FF Twoshot…tapi entah mengapa, author akhirnya memutuskan agar FF ini berseri…dan maaf ya kalo masih ada typo nya :D jangan lupa tinggalkan LIKE dan COMMENT kalian..buat yang mau nge-SHARE juga dengan senang hati..asal NO PLAGIATISME! Dan NO SILENT READER…terima kasih sudah membaca :D ditunggu next part nya, ya?


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,129 other followers