Tell Your Mom, I Love Her! #9

photocat_tellyourmomilovehercover2

Happy Reading ya, guys ☺️

*************************

Part 9 :

Mata pria itu memerah dan wajahnya pun tak bersahabat sama sekali. Tampak ada amarah yang tertahan disana. Dan tanpa harus menyimpan lama lagi amarah itu, diambilnya jacket beserta kunci mobil dan bergegas keluar dari apartemen mewah miliknya. Pikirnya, seseorang harus bertanggung jawab atas amarahnya ini. Dan seseorang itulah yang mungkin saja akan menjadi pelampiasan amarahnya ini.
Tak memakan waktu lama, Ferrari putih itu sudah terparkir diarea parkir rumah sakit De Deu. Dan segera, si pengemudi turun dan berjalan cepat masuk kedalam rumah sakit.
Semakin dekat dengan tempat yang akan dia tuju, semakin menggebu pula amarah itu didalam hatinya. Kau benar-benar harus bertanggung jawab brengsek! batin pria itu.
Dan tepat sesampai pria itu didepan sebuah poli, ia menemukan sosok yang ia cari. Sosok yang menurutnya patut menjadi pelampiasan amarahnya itu.
“Ikut aku sebentar.” Bisiknya dengan suara rendah pada sosok didepannya sedang orang itu hanya mematuh dan mengikuti arah langkah Scott.
“Kau mau apa?” Tanya sosok itu tak kalah sengit sesampai mereka didepan sebuah koridor sepi, “..jangan bilang kau kemari mau mencari Ji Eun lagi? Itu tidak akan kubiarkan.”
“Dengarkan aku Marc Marquez Alenta, dengar! Aku tidak akan sungkan lagi padamu jika kau terus menerus menghalangiku bertemu Ji Eun maupun Hanna. Aku bahkan akan sengaja melupakan kerjasama antar rumah sakit kita untuk membuatmu tak lagi menjadi pengganggu. Jadi, sebaiknya kau mundur perlahan dan menjauh dari urusanku.”
“Segala sesuatu yang berhubungan dengan Ji Eun dan Hanna juga menjadi urusanku, Scott Redding. Dan kau pikir aku akan takut pada ancamanmu itu? Aku pun mungkin akan melakukan hal yang lebih dari itu untuk membuatmu makin menjauh dari Ji Eun dan Hanna, Scott.”
Scott mengepal kesal kedua tangannya. Sorot matanya makin bengis, “..kau tau..aku akan merebut Ji Eun dan Hanna bagaimana pun caranya. Entah itu dengan cara bersih atau kotor sekali pun!” Desisnya bengis dengan suara rendah.
Tak mau kalah, Marc pun menatap sengit tepat kedalam mata Scott, “..kalau begitu sama denganku. Aku pun akan mempertahankan Ji Eun dan Hanna dengan cara apa pun.”
Ujar Marc kemudian berlalu pergi meninggalkan Scott.
Kita lihat saja, dr. Marquez..kita lihat saja.

“Kau dari mana saja, hah?!” Semprot seorang wanita dengan kesalnya saat Marc baru saja masuk kedalam ruang poli, “..ini memang rumah sakit milikmu..tapi, yang memberikan nilai disini adalah aku. Dan kira-kira apa yang terjadi jika aku memberimu nilai C- Marc?”
“Kau boleh anggap aku gila atau apa..tapi, sungguh. Aku suka melihatmu marah-marah padaku seperti itu. Kau makin manis.” Goda Marc sembari tersenyum jahil kearah Ji Eun. Dan tentu saja, tanpa menunggu sedetik lagi, map berisi dokumen itu menghantam pucuk kepala Marc dengan keras.
“Lain kali bukan dengan map lagi, tuan Marquez. Tapi dengan benda yang jauh lebih keras dan yang pasti membuatmu segera sadar.”
Ji Eun berlalu dari hadapan Marc dan hilang dibalik pintu ruangannya. Entah mengapa hantaman tadi tak terasa sakit dikepala Marc, Aah! Itulah cinta..bahkan kotoran burung pun akan terasa seperti coklat, mungkin? pikir Marc geli.
“Lagi dan lagi..kau itu tidak bosan ya Marc dimarahi begitu terus?”
Seketika suara Tito membuat Marc segera sadar dari lamunannya, “..entahlah, mungkin aku lebih suka dia seperti itu.”
“Mungkin pukulan tadi kurang keras, ya? Atau terlampau keras sampai membuatmu makin gila?”
Tito menggaruk-garuk tengkuknya yang tak terasa gatal dengan perasaan bingung, “..aku bahkan tak percaya kalau kalian berdua sudah menjadi sepasang kekasih. Menurutku itu terlalu cepat, Marc. Apa kau tidak curiga?”
“Curiga? Maksudmu?”
“Yaah..mungkin saja ada sesuatu yang membuatnya terpaksa menerimamu, mungkin?” Tebak Tito asal dan hanya dijawab Marc dengan gelengan kepala.
“Kau terlalu banyak menonton film Detective Conan, Tito..sudahlah. Sekarang kembali bekerja sebelum dia keluar lagi dan menghantam kepala kita dengan vas bunga.”

*************************

          Pandangan Marc tak lepas dari dua bocah yang sibuk berkejar-kejaran disana. Sedang seorang wanita terus memperhatikan Marc dengan tatapan lembut, “..anak lelaki itu bernama Leo. Dia teman Hanna dan kau tau, ibunya dan ibuku bahkan sudah menjodohkan mereka berdua.” Tutur wanita itu geli.
“Mungkin itu keputusan yang tepat.” Balas Marc sembari terkikik pelan, “..karena kulihat Hanna tampak begitu nyaman bersama Leo sampai lupa pada keberadaan kita disini.”
Ji Eun tak berujar lagi selain mengangguk kemudian kembali membereskan kotak-kotak bekal yang sudah kosong itu masuk kedalam keranjang. Merasa diabaikan, segera pria itu menarik pinggang Ji Eun dan merangkul wanita itu dari belakang, “..bahkan kau juga mengabaikanku. Aku kesepian, tau!” Rajuk Marc manja. Pria itu membenamkan wajahnya dibahu mungil Ji Eun dan membiarkan aroma parfum gadis itu masuk kedalam hidungnya.
“Aku mencintaimu.” Bisik Marc lembut dibahu Ji Eun.
“Aku juga.” Balas Ji Eun sembari mendekap lengan Marc yang melingkar dipinggangnya.
Tanpa mereka sadari. Dibalik kaca mobil Ferarri putih sana, seseorang teus memperhatikan mereka dengan geram. Tangannya makin mencengkram kuat stir mobil. Aku sudah memperingatkan kalian. Dan aku tidak akan mengulanginya dua kali.
“Halo..ini aku Scott. Aku punya pekerjaan untukmu, dan tentunya kali ini tidak akan murah.”

Hanna tentu belum lupa dengan tatapan bengis Scott waktu itu. Tapi, entah mengapa gadis kecil itu begitu merindukan sosok Scott. Ia benar-benar ingin bertemu dengan pria yang pernah membuatnya ketakutan setengah mati itu.
Dan tentu saja, bahkan seperti hayalan. Sosok Scott muncul didepan Hanna dengan senyum hangat melengkung sempurna dibibirnya.
“Hei, tuan putri..sedang apa?” Tanya Scott lembut. Pria itu tak mau gadis kecilnya ketakutan lagi padanya seperti waktu itu, “..dimana kakakmu? Dan tadi kulihat kau bersama seorang teman.”
“Le-Leo..Leo sudah..pulang.” Jawab Hanna dengan suara bergetar. Meskipun meindukan pria didepannya ini, Hanna pun tak bisa menghilangkan rasa takutnya pada pria itu.
“Begitu, ya? Kalau begitu..ini untukmu.” Ujar Scott sembari memberikan sebuah paper bag pink pada Hanna.
Penasaran, segera gadis kecil itu membuka paper bag pink tadi dan menemukan sebuah gaun biru cantik, “..ku harap kau suka. Jujur, aku tidak terlalu pandai dalam memilih gaun.”
Senyum lebar seketika mengembang diwajah Hanna. Pria ini tak sejahat waktu itu lagi, pikir gadis kecil itu.
“Aku suka. Terima kasih.”
Scott mulai terbawa suasana. Pria itu langsung saja memeluk tubuh mungil itu erat. Seperti tak ada lagi hari esok baginya untuk memeluk tubuh mungil itu. Daddy merindukanmu, princess. Sangat merindukanmu.
Mungkin inilah yang dirasakan semua ayah didunia ini ketika melihat putri kecil mereka bahagia. Rasa bahagia yang bahkan tak mampu digambarkan dengan kata-kata. Ataupun diukir dengan tinta terindah apapun. Daddy akan membuat keluarga kita utuh lagi, sayang. Daddy akan rebut ibumu dari pria jahat itu. Daddy janji.

*************************

          Ji Eun meremas kuat gaun biru itu dengan geram. Entah rencana apa lagi yang dibuat pria itu. Namun, Ji Eun tak mendapat firasat baik saat ini.
Segera wanita itu mengambil ponselnya dari meja tidur dan menekan beberapa nomer yang sudah ia hafali luar kepala.
Tak berselang lama, seseorang menjawab panggilan Ji Eun dari ujung sambungan telepon sana.
[Halo, Ji Eun..ada apa? Tumben kau menelepon duluan?]
“Marc..bagaimana ini?”
Sejenak pria diseberang sana terdiam seperti sedang mencerna situasi, [..ada apa?] nada bicaranya pun terdengar serius sekarang.
“Aku baru saja menemukan gaun biru milik Hanna. Dan aku yakin, ini pemberian dari Scott. Aku takut jangan sampai Scott sedang merencanakan sesuatu yang jahat untuk Hanna.”
Keluh Ji Eun. Waniat itu bahkan tak bisa menahan tangan juga suaranya yang teus bergetar.
[Ji Eun..dengar. Aku berjanji padamu kalau Hanna tidak akan kenapa-kenapa. Scott pun tidak akan gila menyakiti putrinya sendiri dan kalau pun itu sampai terjadi. Aku yang akan memberinya sedikit pelajaran.]
Perkataan Marc tak lantas membuat Ji Eun tenang. Wanita itu tau benar sifat Scott. Apapun yang menjadi kehendak pria itu, kalau belum terwujud, dia tak akan berhenti. Dan meski dihalangi dengan cara apapun, Scott tidak akan menyerah, [..Ji Eun..kau dengar aku kan?]
“Iya, Marc. Tapi..bagaimana kalau dia juga menyakitimu? Aku tidak mau kalau sampai kau juga menjadi sasaran Scott.”
[Apapun akan aku hadapi untuk melindungi kalian berdua, Ji Eun. Aku janji. Dan dimana Hanna sekarang?]
“Disekolah.”
[Kalau begitu, biar aku yang menjemputnya sepulang sekolah nanti.]
“Baiklah. Teima kasih, Marc. Maaf kalau aku terusmerepotkanmu.”
[Hei..itu bukan merepotkan namanya. Kalian berdua sudah menjadi bagian dari tanggung jawabku, hm?]
Ji Eun tersenyum meski wanita itu tau, Marc tidak mungkin melihatnya tersenyum sekarang.
“Terima kasih Marc..sungguh..terima kasih.” Ucap Ji Run tulus.
Entahlah Marc..entah aku harus merasa tenang sekarang atau terusmerasa khawatir. 

Marc sudah tiba didepan sekolah Hanna, 5 menit sebelum lonceng pulang berbunyi. Dan tak berselang lama, sebuah mobil Ferrari putih pun ikut terparkir dibelakang mobil Marc. Tentu bisa ditebak, siapa lagi pemilik Ferarri putih ini kalau bukan Scott Redding.
“Mau apa kau kesini?” Tanya Marc dingin.
“Harusnya aku yang tanya Marc..sedang apa kau disini?”
Keduanya saling berpandang sengit, “..tentu saja aku datang untuk menjemput Hanna. Aku tidak mau kalau dia sampai bersamamu.”
Scott mengepal kedua tangannya kesal, “..kau tidak berhak memisahkanku dari putriku Marc..kau sama sekali tidak berhak.”
“Aku berhak Scott..sama berhaknya dengan ibumu yang dulu sudah memisahkanmu dari Hanna sewaktu Ji Eun mengandungnya.” Sambar Marc datar namun mampu menusuk hati Scott.
Pria itu sejenak terdiam. Marc sudah terlalu banyak tau, tapi..itu tak akan menjadi halangan untuk seorang Scott Redding bukan?
“Diam kau bajingan! Hanna itu putriku, dan tak ada seorang pun termaksud kau yang bisa memisahkanku dari putriku sendiri!”
“Daddy?”
Suara kecil itu sontak membuat kedua pria tadi membeku ditempat. Dan serempak memutar tubuh mereka kebelakang.
“Ha-Hanna..”

To Be Continued…

Cuplikan Part 10 :

“Eonni..ayo katakan padaku kalau dr. Scott penipu!” Desak gadis kecil itu sembari terisak. Sedang ketiga orang dewasa didepannya hanya mampu terdiam dan tak memberi jawaban apapun pada gadis kecil itu.

Will Posting Soon.. 😊

Sorry ya guys kalo masih rada-rada jelek gimanaaaa gitu 😔 authornya lagi error banget akhir-akhir ini 😭 by the way, author tetap menunggu kritik dan saran kalian kok dalam kolom komentar juga jempol kalian ☺️ Terima kasih sudah membaca 😉 jangan jadi SILENT READER, ya?! 😘

Tell Your Mom, I Love Her! #8

photocat_tellyourmomilovehercover2

 

 

Happy Reading guys ☺️

**********************

Part 8 :

Tatapan tajam penuh tuntutan itu seperti menghujam dan mengintimidasi gadis yang ditatapnya. Sedang gadis itu, ia terus mempertahankan posisi kepalanya yang terus menunduk tanpa memberi kesempatan sedikit pun pada pria didepannya untuk sedikit menatap matanya.
“Sekarang..coba jelaskan padaku.”
Suara pria itu melunak. Begitu pula sorot matanya. Kedua tangan pria itu merengkuh lembut wajah gadis didepannya, mengarahkan wajah itu menghadap ke wajahnya, “..kau bisa jelaskan perlahan semuanya padaku.”
“Jangan jatuh cinta padaku, Marc.” Ujar gadis itu lirih, “..cobalah untuk lupa pada perasaanmu itu. Anggap saja perasaan itu tidak pernah ada.”
“Bagaimana bisa begitu. Seperti halnya aku yang tak bisa memaksamu segera menerimaku, begitu pula kau tak bisa memaksaku untuk tidak mencintaimu.”
“Tapi kau akan menyesal nantinya Marc! Dan kedua orang tuamu pasti akan sangat kecewa padamu.”
Kening Marc berkerut. Setahunya, kedua orang tuanya memaksa pria itu untuk segera memiliki kekasih karena umurnya yang sudah dirasa pantas. Lalu, alasan apa mereka akan kecewa dengan pilihan Marc. Pria itu makin bingung.
“Sebenarnya apa maksudmu?”
“Aku sudah memiliki anak Marc. Aku pernah melahirkan seorang anak, Marc!” Tegas gadis itu, sedang air matanya terus bergulir turun.
Sesaat Marc terdiam. Rasa kaget sudah tentu Marc rasakan. Pria itu bahkan tak pernahberpikir sampai kesitu.
“Siapa pria yang..”
“Scott Redding. Dan anak yang kulahirkan itu…Ha..Hanna.”
Sekali lagi, seperti ada palu yang menghantam dalam hatinya. Kakinya tak dirasa menapaki tanah lagi. Bahkan seperti ada yang menyedot semua energinya, pria itu merasa lemas luar biasa dan bisa jatuh kapan saja ia mau.
Marc kemudian menghela napas panjang. Kembali tangan pria itu merengkuh lembut wajah Ji Eun. Ditatapnya lembut kedalam manik mata gadis itu, “..hanya karena itu kau tidak mengijinkanku untuk tidak jatuh cinta padamu?”, “..dengar..aku tidak perduli kalau kau sudah punya anak atau belum. Lagi pula, aku juga sangat sayang pada Hanna dan aku sanggup menerima kalian berdua.”
“Lalu..bagaimana dengan kedua orang tuamu? Apa mereka akan menerimaku seperti kau menerimaku juga?”
“Mereka harus menerimamu. Bagaimana pun juga, mereka harus menerimamu…karena aku tak bisa menghentikan perasaan ini lagi. Perasaan ini sudah sampai puncaknya.”
Lagi-lagi, suara lembut Marc sanggup membiusnya. Seperti halnya morfin, tatapan, suara juga senyuman pria itu, sanggup mengurangi rasa sakit yang tadi mnghujam hatinya, “..lalu? Bagaimana denganmu?”
“Entahlah..tapi kurasa aku juga punya perasaan yang sama denganmu.” Balas Ji Eun sembari tersenyum.
Perlahan, Marc mencondongkan wajahnya ke wajah Ji Eun. Belum sempat bibir Marc menyentuh bibir Ji Eun Hanna sudah muncul diantara mereka dan terkikik pelan.
“Kita jadi pulang kan? Kalian ini…bagaimana bisa membuatku menunggu dimobil sendirian?” Rajuknya sembari mengembungkan pipinya.
“Ooh…baiklah.”

Malam itu Marc melenggang masuk kedalam kamarnya dengan hati berbunga-bunga. Segera setlah masuk kekamarnya, pria itu membuang dirinya diatas kasur.
“Entahlah..anggap saja aku gila.” Gumam Marc kemudian memejamkan matanya.
“Kulihat kakak senang sekali. Ada apa?” Tanya Kanya yang tiba-tiba saja sudah berdiri didepan pintu kamar Marc.
“Kau tidak ada tangan untuk mengetuk pintu kamarku dulu atau sekedar bilang permisi.”
Kanya hanya mengebas telapaknya kemudian berjalan masuk kedalam kamar Marc.
“Kakak tidak mau cerita padaku?”
Marc sudah duduk diatas kasurnya dan bepikir sejenak, “..bagaimana kalau kau dulu saja yang tau?”
“Aku bisa jamin itu.”
Marc menghela napanya panjang kemudian mulai bercerita, “..aku sudah punya kekasih tapi…”
“Bagus kan kak? Bagaiman bisa berita baik begini kau simpan sendiri. Siapa wanita itu?” Tanya Kanya penuh semangat.
“Tapi ada satu hal, Kanya…kau yakin bisa menjaga rahasia?”
Kanya mengernyit bingung namun mengangguk, mengiyakan tawaran Marc.
“Dia sudah punya seorang putri.”
Napas Kanya tercekat. Matanya membelalak kaget,”..maksudmu..janda?” Bisik gadis itu.
“Bukan. Dia belum menikah.”
Kanya mengangguk paham. Toh, hal itu banyak terjadi akhir-akhir ini kan?
“Lalu..kakak yakin akan bersamanya? Kakak bahagia bersamanya?” Tanya gadis itu penuh perhatian.
“Sama halnya saat aku berakhir pekan bersama kalian..sama halnya aku sangat menyayangimu kalian semua. Begitu pula perasaanku padanya juga putri kecilnya.”
Kanya tersenyum puas mendengar jawaban kakak laki-lakinya itu. Ada rasa bangga yang menggebu dihatinya. Bangga karena dia memiliki kakak yang baik dan bijak seperti Marc. Meski terkadang pria itu sangat menjengkelkan tapi, disaat lain Marc mampu menjadi seorang kakak yang baik dan lembut juga menyenangkan.
“Kalau begitu. Aku akan mendukungmu 100%. Kalau kakak bahagia..kenapa tidak, kan?”
“Terima kasih.”
Setidaknya Marc sedikit lega, karena adiknya yang satu ini sudah mampu menerima Ji Eun dan Hanna.
“Kakak mau kan perkenalkan aku pada kekasih kakak itu juga anaknya?”
Marc mengangguk mengiyakan permintaan Kanya itu. Sedang Kanya hanya tersenyum lebar kemudian berjalan keluar dari kamar Marc.
Malam yang menyenangkan dan indah bukan?

*********************

“Kau yakin adikmu tidak..”
“Kau tenang saja. Aku sudah cerita semuanya pada Kanya dan dia menerimamu dengan baik. Pertemuan ini pun, dia yang menginginkannya.”
Jelas Marc kemudian mempersilahkan Ji Eun masuk kedalam Rolls Royce milik Marc.
Perasaan takut dan gugup bercampur aduk dalam hati Ji Eun. Gadis itu takut kalau-kalau adik Marc akan menolaknya.
“Kita antar pulang Hanna dulu, ya”
“Bagaimana bisa? Dia juga harus ikut dengan kita. Lagi pula aku juga ingin bermain sebentar dengannya.” Rajuk Marc sembari terus berkonsentrasi menyetir.
“Apa tidak apa-apa?”
Marc hanya tersenyum menjawab pertanyaan Ji Eun. Menandakan kalau semuanya akan baik-baik saja.
Tak lama kemudian mobil Marc sudah berhenti dihalaman sekolah Hanna dan sosok mungil itu sudah berlari-lari kecil dari arah sekolahan.
“Kakak Marc juga kemari? Memangnya kita mau jalan-jalan kemana lagi?” Tebak gadis kecil itu polos.
“Nanti juga kau akan tau, sayang. Ayo!” Ajak Ji Eun kemudian membuka kan pintu mobil untuk Hanna.
Setelah memastikan keduanya sudah siap. Segera Marc memacu mobilnya menjauh dari halaman sekolah Hanna.

Jantung Ji Eun tak berhenti berdegup cepat. Bahkan tidak untuk sekedar memelankan deru degupannya. Namun, perasaan lain dirasakan Kanya. Gadis itu sekarang sibuk bermain bersama Hanna. Yang entah sejak kapan keduanya sudah seakrab itu.
“Sudah kubilang kan? Tidak akan ada hal buruk yang terjadi.”
Ji Eun menatap Marc sembari melempar senyum hangat pada pria itu, “..aku senang adikku mau menerima kalian. Setidaknya akan ada yang bisa mendukungku nanti.”
“Maksudmu?”
“Yaah..jujur, aku belum membicarakan ini dengan kedua orang tuaku. Kalau mau bilang, tentu saja aku juga takut. Tapi, akan kucoba nanti ketika kita berdua sudah benar-benar siap.”
Kedua tangan Marc merengkuh wajah Ji Eun dengan lembut. Wajah pria itu pun perlahan dicondongkan mendekat ke wajah Ji Eun. Dan selang beberapa menit kemudian, bibir Marc sudah melumat lembut bibir Ji Eun.
Mungkin ini bukan ciuman pertama untuk Marc. Tapi, bagi pria itu. Ciuman ini adalah ciuman paling mendebarkan.

*******************

“Pria tadi yang mengantar kalian itu..”
“Dia pacar eonni, mom.”
Sahut Hanna sembari terkikik pelan. Gadis kecil itu menatap jahil kearah Ji Eun, “..benar kan eonni?”
Wajah Ji Eun memerah. Wanita itu bahkan tak lagi fokus dengan laporan-laporan pasien yang bertumpuk didepannya.
“Oh ayolah Ji Eun. Kenapa tidak perkenalkana pada appa dan eomma?” Seru pria paruh baya itu setengah mendesak.
“Appa..kalau sudah waktunya, akan kukenalkan pada appa dan eomma.”
Pria paruh baya itu pun mengalah. Ia kembali bersandar dengan santai disofa, “..anggap saja ini janjiku pada appa dan eomma.” Tambah Ji Eun kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya.
“Kak Marc itu baik sekali, daddy. Aku yakin, eonni akan baik-baik saja.”
“Benarkah? Kalau begitu eonni mu harus segera memperkenalkannya pada daddy, bukan?”
Ji Eun kembali melepas lembaran laporan itu dan menatap Hanna juga ayahnya bergantian.
“Hanna..kau harus pergi tidur sekarang. Besok kau harus sekolah kan? Dan appa…aku janji, kalau kami sudah siap aku pasti akan kenalkan dia pada appa.”
Wanita itu tersenyum sembari berjalan kearah Hanna, “..ayo Hanna.”
Ajak Ji Eun kemudian menggendong gadis kecil itu dan membawanya naik kekamarnya.
“Aku harap eonni bisa menikah dengan kak Marc. Dia baik.” Bisik gadis kecil itu digendongan Ji Eun.
Eomma juga berharap seperti itu, sayang. Dan kau…kau bisa memiliki ayah yang pantas untukmu.

To Be Continued..

Cuplikan Part 9 :

“Kau tau..aku akan merebut Ji Eun dan Hanna bagaimana pun caranya. Entah itu dengan cara bersih atau kotor sekali pun!”
“Kalau begitu sama denganku. Aku pun akan mempertahankan Ji Eun dan Hanna dengan cara apa pun.”

Will Posting Soon..

 

Sorry lama gk nge-post 😂 dan sekali nge-post gk jelas + jelek 😭 by the way…tetap tunggu comment dan like dari kalian semua ya, guys ☺️ Don’t be silent reader!!!! 😊

Tell Your Mom, I Love Her! #7

photocat_tellyourmomilovehercover2

Happy Reading guys ☺️ si author gak mau banyak ngomong lagi 😊 Enjoy 😀

********************

Part 7 :

2 bulan sejak hari itu Scott tak lagi bisa bertemu dengan Hanna. Segala usaha sudah Scott lakukan, mulai dari menengok gadis kecil itu sembunyi-sembunyi disekolahnya, menyuruh beberapa orang suruhannya untuk mencari tau keberadaan Hanna, sampai membuntuti Ji Eun, yang menurut Scott, sebagai biang perpisahannya dengan putri kecilnya. Namun tetap saja, segala usaha itu tidak membuahkan setitik hasil untuk Scott. Alih-alih bertemu dengan Hanna, pria itu makin kehilangan jejak Hanna.
Dalam kebimbangannya, ponsel Scott berdering dan dengan cepat pria itu mengangkat tanpa harus melihat terlebih dahulu. Seakan dia sudah tau pasti siapa yang meneleponnya itu.
“Halo..”, “…aku segera kesana.”
Dengan cepat Scott mengambil kunci mobilnya dari atas meja dan bergegas keluar dari apertemen mewah miliknya. Pria itu sudah terlalu berani. batin Scott geram.

Hanna tertawa nyaring ketika sesekali Marc menggelitik perutnya. Gadis kecil itu bahkan tampak sangat nyaman berada terus dalam gendongan Marc. Sama halnya dengan Hanna, Marc juga enggan melepaskan gadis itu dari gendongannya. Entah mengapa, Marc sangat menyayangi bocah perempuan itu.
“Hanna..seharusnya kau ajarkan kakakmu bagaimana caranya tertawa.” Ledek Marc sembari sedikit mengintip Ji Eun yang sedaritadi terus diam dan tak berbicara apapun.
“Mungkin eonni lapar. Bagaimana kalau kita pulang dan makan?” Usul Hanna sembari mengikuti arah tatapan Marc.
-Pulang?! Yang benar saja?- protes Marc dalam hati. Bukan tidak, sudah dengan susah payah Marc merancang ini semua dengan matang. Kemudian, dengan susah payah pula, Marc mengajak wanita itu keluar bersamanya juga Hanna. Dan dengan semudah itu mereka akan pulang? Marc rasa tidak. Maka dengan cepat pria itu mencari cara agar usulan Hanna tadi tidak serta merta langsung ditelan bulat-bulat oleh Ji Eun.
“Bagaimana kalau aku mentraktir kalian makan, huh?” Tawar Marc sembari menatap Hanna dengan tatapan membujuk.
“Kau yakin tidak akanmerepotkanmu?” Tanya Ji Eun yang akhirnya membuka suaranya juga.
“Tentu saja tidak. Ayo, sebelum cacing-cacing dalam perut kalian protes.” Bujuk Marc yang sudah lebih dulu membawa Hanna masuk dalam mobil Rolls Royce miliknya.
Dan akhirnya, meski dengan langkah gontai, Ji Eun mengekor Marc dan ikut masuk kedalam mobil pria itu. Toh, sekali-sekali begini tidak apa-apa kan?

Mobil Marc sudah terparkir rapi disebuah restoran Korea, “..setelah lama tinggal di London, aku yakin kau pasti merindukan masakan-masakan dinegara asalmu.”
Mereka bertiga kemudian masuk kedalam restoran itu. Berbagai macam bau-bau makanan mulai menggoda perut Ji Eun. Yang Marc katakan tidak salah. Ia memang merindukan masakan-masakan ini.
Setlah memesan, mereka menunggu dengan sesekali saling bersenda gurau. Suasana ceria yang jarang sekali Marc maupun Ji Eun dapatkan.
Tak berselang lama, makanan yang menjadi pesanan mereka datang. Dan satu persatu, makanan-makanan itu habis mereka santap.
“Uugh! Aku kenyang sekali.” Keluh Hanna sembari mengusap-usap perutnya yang sedikit membesar itu, “..bagaimana kalau kita pulang? Aku sudah mengantuk.”
Marc dan Ji Eun hanya tertawa renyah melihat tingkah gadis kecil itu. Kemudian, Marc yang akhirnya lebih dahulu bangkit untuk membayar makanan-makanan itu.
“Kulihat kau senang sekali, Ji Eun..sejak kapan kau mulai berkencan dengan Marc, huh?”
Suaraitu seketika membuat Ji Eun membatu ditempat. Wanita itu segera menarik Hanna mendekat kearahnya, “..mau apa kau?” Tanya Ji Eun dingin.
“Sudah jelas kan…aku mau menengok Hanna.” Balas Scott santai. Sedang Hanna mulai menatap ngeri kearah Scott, “..nah, sekarang biarkan aku jalan-jalan sebentar dengan Hanna.”
Ji Eun makin menarik Hanna mendekat kearahnya sedang Scott masih menyodorkan tangannya, “..Ji Eun! Jangan membuatku harus mengambil Hanna dengan paksa..”
“Coba saja kalau kau berani.” Sambung Marc tajam. Pria itu kemudian menggendong Hanna, mengamankan gadis kecil itu dari kebringasan Scott. Sedang Scott, pria itu menatap sengit kearah Marc.
“Berika dia padaku Marc. Kau tidak tau masalah yang sebenarnya!” Desis Scott geram sedang Hanna semakin menyembunyikan wajahnya didada Marc.
“Kalau begitu, kau tanya saja sendiri pada Hanna. Apa dia mau ikut denganmu atau tidak.”
Scott kemudian menatap Hanna yang mulai gemetar dalam gendongan Marc.
“Sayang..Ayo kita jalan-jalan sebentar. Kau mau kan? Kau tau, akhir-akhir iniaku sangat merindukanmu.” Bujuk Scott namun gadis kecil itu tetap menolak menatap mata Scott dana terus bersembunyi didada Marc.
“Kau lihat sendiri kan? Sekarang pergi..” Desis Marc dingin kemudian membawa Hanna dan Ji Eun keluar dari restoran itu tanpa memperdulikan Scott yang masih membatu ditempatnya itu.

“Kemarikan Hanna.” Ujar Ji Eun sembari mengambil Hanna dari gendongan Marc, “..terima kasih untuk hari ini, kami akan pulang sendiri saja.” Ujar Ji Eun kemudian berbalik dan berniat meninggalkan Marc sampai akhirnya Marc memgang pergelangan tangan Ji Eun.
“Bagaimana bisa begitu? Bagaimana kalau Scott…”
“Tidak..kami tidak akan kenapa-kenapa. Kau tenang saja. “
“Cukup!” Bentak Ji Eun sembari menyentak tangan Marc. Sedang air mata gadis itu mulai bergulir turun! “..jangan ikut campur urusanku dan jangan pernah berpura-pura baik padaku!” Bentak Ji Eun disela-sela isakkannya.
“Siapa bilang aku pura-pura baik padamu!” Seru Marc kemudian kembali menggenggam tangan Ji Eun, “..aku tidak pura-pura baik padamu. Aku begini karena aku mencintaimu! Apa aku salah?!”
“Salah Marc! Sangat salah!” Ji Eun kembali terisak. Sedang pandangannya terlempar kearah Hanna yang berdiri disampingnya itu, “..aku yang sebenarnya tidak seperti yang kau pikirkan. Aku mungkin juga bukan wanita yang kau harapkan!”
“Apa maksudmu?”
“Kau akan tau nanti..”
“Tidak. Kau harus jelaskan padaku sekarang.”

To be continued…

Cuplikan Part 8 :

“..aku tidak perduli Ji Eun. Aku pun menyayangi Hanna. Aku bisa menerima kalian berdua dalam hidupku. Percayalah padaku.” Mohon Marc. Sirat kesungguhan terlihat jelas diwajah pria itu.
“..tapi..bagaimana dengan orang tuamu?”
“Aku akan jelaskan juga pada mereka.”

Will Posting Soon 😊…

Tinggalkan komentar ya 😊 terima kasih ☺️

Tell Your Mom, I Love Her! #6

photocat_tellyourmomilovehercover2Happy reading guys :D

* * * * * * * * * *

Part 6 :

Entah ide gila ini datang dari mana tapi, hanya ini sajalah yang mampu terpikir oleh Scott. Entahlah..pria itu begitu yakin kalau gadis kecil yang selalu memanggil Ji Eun ‘eonni’ itu adalah putri kecilnya.
Setidaknya ikatan batin itu tidak bisa berbohong kan?
Scott melaju Ferarri merah miliknya menuju sebuah bangunan sekolah dasar. Pria itu kemudian turun dari mobilnya dan masuk untuk bertanya pada seorang satpam dipos jaga sana. Tak berselang lama kemudian, Scott keluar dari pos jaga dan segera berjalan masuk kedalam sebuah kelas dengan begitu banyak tempelan-tempelan hasil karya murid-murid disekolah itu.
“Miss..aku mencari seorang anak yang bernama Hanna..boleh aku bertemu dengannya sebentar?”
“Baiklah.”
Wanita muda itu kemudian memanggil sosok Hanna yang sedari tadi menunduk dan sibuk dengan buku tulis miliknya.
“Ada apa miss?” Tanya Hanna bingung, mungkin saja tadi dia berbuat nakal, pikir bocah 4 tahun itu.
“Ada seorang kakak yang mencarimu. Setelah selesai, segeralah kembari kemari, hm?”
Gadis kecil itu mengangguk patuh kemudian berjalan keluar dari dalam kelas.
“Kau..dr. Redding yang waktu itu kan? Kau mau apa?” Tanya gadis itu sembari tersenyum manis kepada Scott. Dan ya, Scott kenal betul senyum itu. Itu senyum milik Ji Eun.
“Tidak. Entah kenapa..aku sangat merindukanmu akhir-akhir ini.” Ujar Scott sembari mengusa-usap pelan rambut panjang bergelombang milik gadis kecil itu. Dan tak perlu waktu lama, apa yang diinginkan pria itu segera ia dapat. Ya, sehelai rambut Hanna yang rontok begitu saja.
“Tapi, aku masih belum boleh pulang. Lagi pula, pulang pun aku akan dijemput eonni.”
“Begitu, ya? Baiklah..bagaimana kalau lain kali saja?” Tawar Scott dan dengan cepat gadis itu mengangguk bersemangat, “..kalau begitu aku harus kembali kekelas. Kau tidak ada perlu apapun lagi, kan?”
Scott mengangguk pelan sembari tersenyum. Pria itu lantas bangkit berdiri dan meninggalkan gadis kecil itu. Dan begitu pula dengan Hanna yang langsung berbalik masuk kedalam kelasnya.
Kita akan buktikan Ji Eun. Selama ini kau bohong atau tidak padaku.

* * * * * * * * * *

        Karena kebiasaan baru Marc itu, Marc jadi sering perhatian pada Ji Eun. Dan hari ini, pria itu baru saja membopong Ji Eun yang jatuh pingsan akibat anemia.
“Makanya, kalau kerja itu ingat batasan tenagamu juga. Kau ini bukan mesin.” Omel Marc sembari menyodorkan segelas air juga sebuah tablet tambah darah.
“Kenapa kau yang mengomeliku?” Omel Ji Eun balik. Gadis itu seakan tidak terima dengan nada tinggi Marc.
“Cih! Kau itu..hei! Aku hanya memperingatimu, bukan mengomelimu. Kau tidak malu pingsan didepan pasien seperti tadi? Apa pikir mereka setelah melihatmu seperti tadi, hah?!”
Kali ini pria itu bahkan lebih cerewet ketimbang ibu Ji Eun sendiri.
“Masa bodo!”
Sesaat keduanya terdiam sampai akhirnya Marc yang angkat bicara.
“Pulang lah. Tidak baik kau terus memaksa bekerja dalam keadaan seperti ini.”
Dari nada bicara Marc, tersisip kepedulian didalamnya. Itu tergambar jelas dari ekspresi pria itu yang berubah lembut sama lembutnya dengan suaranya.
Seketika, jantung Ji Eun memompa 2x lebih cepat dari normalnya. Gadis itu sendiri bingung dengan perlakuan pria didepannya ini. Kadang, pria itu akan sangat menjengkelkan sampai-sampai hampir selalu membuat Ji Eun naik pitam. Dan kadang pula, pria itu akan sangat lembut dan mampu membuat Ji Eun kehilangan konsentrasi juga berdebar-debar tak karuan.
“Tidak. Aku masih harus menjemput Hanna.” Jawab gadis itu buru-buru sebelum Marc curiga dengan sikapnya itu.
“Sudahlah. Biar aku yang menjemputnya. Kau tenang saja.”
Sejenak Ji Eun ragu namun, akhirnya gadis itu mengangguk, “..jangan apa-apakan adikku, mengerti!”
Marc hanya memutar bola matanya kesal kemudian berjalan keluar dari ruangan Ji Eun.
Astaga, Ji Eun! Apa yang terjadi padamu? Apa kau mulai mengikuti saran Hanna sekarang, hah?!

* * * * * * * * * *

          Akhir pekan adalah waktu yang paling menyenangkan untuk Hanna. Selain gadis itu sedikit terbebas dari sekolah, hari ini Hanna diajak Ji Eun bermain ditaman.
“Hanna..kau tunggu disini sebentar ya, sayang. Eonni ke mini market sebentar.”
Gadis itu mengangguk patuh dan kemudian kembali sibuk dengan permainan masak-masak juga boneka barbie-nya.
Tanpa Ji Eun dan Hanna sadari. Sedari tadi, ada seseorang yang terus memperhatikan mereka dari jauh. Kini pria itu mulai perlahan mendekati Hanna.
“Kau sibuk sekali. Sedang apa?” Tanya pria itu yang lantas membuat Hanna sedikit melonjak kaget.
“dr. Scott..kau membuatku kaget. Waah..itu semua untukku?”
Mata gadis itu berbinar-binar ketika melihat beberapa paper bag berwarna pink, biru dan ungu muda yang ditenteng Scott.
“Memangnya untuk siapa lagi. Ini.”
“Terima kasih.”
Gadis kecil itu nampak begitu senang. Senyum lebar terus mengembang dan bahkan lebih lebar lagi ketika satu persatu mainan-mainan juga boneka-boneka barbie  ia keluarkan dari paper bag-paper bag itu.
“Scott.”
Suara itu serempak membuat Hanna dan Scott berbalik. Dengan riang, Hanna bangkit berdiri dan menunjukan hadiah-hadiah yang baru saja ia dapat dari Scott pada Ji Eun.
“Eonni. Lihatlah..dr. Scott membelikan ini semua untukku.”
“I-iya, sayang. Scott..ikut denganku!”
Ji Eun melangkah duluan sedang Scott mengekor Ji Eun dari belakang.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Ji Eun dengan sinis.
“Sudah jelaskan, Ji Eun. Aku kesini untuk menengok Hanna. Apa salah?”
“Salah! Sangat salah! Sudah kubilang padamu jangan pernah dekati Hanna, apalagi merecokinya dengan hal-hal menjijikan dan tidak masuk akal itu!”
“Aku punya hak Ji Eun..dan ini yang membuktikan bahwa aku punya hak juga atas Hanna!”
Tidak Mungkin..
Ji Eun menatap tidak percaya kearah selembar kertas yang ditunjuk Scott tadi. Itu lembar tes DNA. Dan angka 99,9% tertera dipojok bawah surat itu. Ka-kapan pria ini..Tubuh gadis itu bergetar hebat, kaki Ji Eun rasanya tak menapak ditanah lagi.
“Apa lagi? Kau mau mengelak lagi? Mau bilang kalau Hanna itu bukan anakku? Lalu? Ini apa Ji Eun? Coba jelaskan.”
Jelaskan apa lagi? Ji Eun bahkan tak mampu berbicara apapun lagi, “..jangan halangi aku mendekati anakku Ji Eun. Jangan pernah.”
‘PLAK!’ Tanpa sadar tangan Ji Eun bergerak dan menampar keras pipi Scott.
“Tidak akan kubiarkan! Pergi kau dari kehidupanku dan putriku..kau tidak punya hak apapun atas Hanna. Dia bukan putrimu.” Desis Ji Eun dingin.
“Apa maksudmu?”
“Kau mengerti maksudku Scott…bukannya kau dan ibumu dulu yang menyuruhku menggugurkan Hanna, hah? Jadi..jangan pernah panggil Hanna anakmu lagi..dia bukan anakmu! Aku pergi dan terima kasih untuk hadiahmu. Lain kali..jangan berikan barang-barang apapun lagi padanya.”
Gadis itu melangkah pergi meninggalkan Scott yang masih membatu ditempatnya.
Dalam hatinya, ia merasa apa yang Ji Eun lakukan padanya saat ini sangat pantas. Scott memang pantang ditampar bahkan dijauhkan dari Hanna. Inilah upah yang harus dibayarnya karena dosanya yang telah membuang kedua harta berharga miliknya itu.
Apa tak ada lagi setitik kesempatan untukku?

* * * * * * * * * *

          Ji Eun masih menangis sesenggukan diruangannya. Kejadian kemarin benar-benar membuatnya takut. Ia takut kalau-kalau Scott datang lagi dan memberitahukan yang sebenarnya pada Hanna. Ji Eun takut Hanna akan membencinya dan meninggalkannya.
Tangis Ji Eun makin pecah ketika asumsi-asumsi itu mulai memenuhi tiap sudut otaknya. Bahkan rasa takut itu tak mau terusir pergi.
“Ji Eun? Kau kenapa?”
Entah sejak kapan pria itu mengetuk pintu, tiba-tiba saja ia sudah membuka pintu ruangan Ji Eun dan masuk dengan wajah cemas.
Segera Ji Eun menghapus air matanya. Namun, bulir-bulir bening itu tak lantas berhenti mengalir turun dari matanya.
“Kau kenapa?” Tanya Marc lagi. Wajah pria itu makin cemas. Segera pria itu mendekat dan mendekap Ji Eun dalam pelukannya, “..tenanglah..kau bisa cerita semuanya padaku kalau kau mau.”
Ji Eun masih menolak untuk bercerita dan terus terisak didada bidang Marc. Tidak mungkin juga Ji Eun bercerita pada Marc kalau Hanna itu putrinya dari Scott dan sekarang dia ketakutan setengah mati kalau-kalau gadis kecil itu tau yang sebenarnya.
“Ya sudah kalau kau tidak mau cerita. Tapi tenang lah..kalau kau mau, aku akan mengantarmu pulang. Tidak baik bekerja dalam keadaan tertekan begini.”
Suara Marc lembut. Sangat lembut sampai-sampai membuat Ji Eun lebih tenang dibanding sebelumnya. Tapi, entah mengapa mata Ji Eun kabur dan lama kelamaan menjadi gelap dan..
“Ji Eun..! Ji Eun!”
Segera Marc mengangkat tubuh Ji Eun dan membawanya keluar.
Ada apa denganmu, hah?! Dan kenapa aku yang menjadi begini takut dan cemas?

“Eonni kenapa?” Tanya Hanna dengan nada cemas. Telapak tangan mungil gadis kecil itu mulai meraba-raba kening Ji Eun, “..eonni sakit ya?”
“Kakak mu tidak apa-apa sayang, hanya saja mungkin dia terlalu lelah bekerja.” Jelas Marc.
“Eonni jadi sangat lain sejak kemarin. Dia sering melamun, bahkan semalam eonni menangis diam-diam dikamar. Aku sangat khawatir.”
Marc mengangkat tubuh gadis kecil itu dan mendudukkannya dipangkuan Marc, “..memangnya kemarin kalian kemana?” Tanya Marc mulai menyelidik. Toh, anak kecil tak mungkin berbohong kan?
“Kemarin kami ke taman. Dan disana kami bertemu dr. Redding. Sempat eonni berbicara dengannya. Entahlah apa yang mereka bicarakan, aku tidak tau. Nah, sekembali kami dari taman itulah eonni jadi semurung ini.”
Jelas Hanna singkat sedang Marc hanya mengangguk paham.
Kenapa setiap kejadian menyangkut Ji Eun pasti selalu ada dr. Redding. Ada apa ini?

To Be Continued…

Cuplikan Part 7 :

“..jangan ikut campur urusanku! Dan jangan berpura-pura baik padaku!” Bentak Ji Eun disela-sela isakkannya.
“Aku tidak pura-pura baik padamu. Aku begini karena aku mencintaimu! Apa aku salah?!”

Will Posting Soon :D

Maaf ya, kalau masih pendek juga *tear* tapi kalo udah lumayan panjang, yaaa syukurlah :D dan buat kalian semua..jadilah pembaca yang budiman dan hargai tulisan author dengan meninggalkan ‘LIKE’ atau ‘COMMENT’ kalian. Karena disini, tidak menerima ‘SILENT READER!’ :) terima kasih :D Gumawo :D Muchas Gracias :D

Tell Your Mom, I Love Her! #5

photocat_tellyourmomilovehercover2iHola, todos! :D Annyeong chingu deul! :D

Happy Reading :D

* * * * * * * * * *

Part 5 :

Entah sejak kapan Marc memiliki kebiasaan baru. Dan kebiasaan barunya itu jelas sangat bertentangan dengan otaknya. Tapi, jelas..sangat diterima dengan baik oleh hati juga matanya.
Entah sejak kapan, Marc tak pernah membiarkan sosok Ji Eun lewat begitu saja dari pantauan matanya. Seperti ada magnet, wajah gadis itu menarik mata Marc untuk terus menatapnya dan tak membiarkan sosoknya diabaikan barang sedetikpun.
“Ini mengerikan!” Gumam Marc tiba-tiba yang membuatnya langsung ditatap aneh oleh Tito.
“Kau kenapa? Habis mimpi buruk?” Tanya Tito sembari menyengir aneh.
Marc hanya memutar bola matanya kesal melihat tingkah konyol sahabatnya itu, “..aah! Jangan-jangan..kau sedang memikirkan dr. Lee, ya?”
‘JLEB!’ Tepat. Entah mungkin Tito yang bisa membaca pikirannya, atau hanya sebuah keberuntungan dalam menebak.
“Ti-tidak! Memangnya aku kurang sibuk sampai harus memikirkannya?”
“Memangnya sekarang kau sibuk?”
Wajah Marc mulai sedikit memerah. Pria itu lantas bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Tito, masih dengan banyak pertanyaan dikepala pria itu.
“Entah aku yang gila atau Tito yang gila. Cih! Mana mungkin aku memikirkan gadis galak itu! Dia pikir aku sesinting itu!” Omel Marc tanpa sadar, beberapa pasang mata terus memandangnya dengan aneh.
“Seharusnya kau magang dipoli jiwa, bukan poli anak.” Ujar ketus Ji Eun sembari tersenyum sinis kearah Marc.
“Cih! Bukan urusanmu. Lagi pula, 2 bulan lagi aku akan keluar dari sini!” Sahut Marc ketus pula sembari mendelik kesal kearah Ji Eun.
“Yaah..yahh..kita lihat saja.” Balas Ji Eun masa bodo kemudian pergi meninggalkan Marc yang masih sedikit kesal. Ya, setidaknya rasa kesal itu hanya terpikir oleh otaknya, tidak untuk hati dan matanya yang terus mengamati Ji Eun sampai gadis itu menghilang dibalik pintu poli.
Cih! Apa yang aku lakukan, hah?!

* * * * * * * * * *

          Ji Eun masih sering gemetar ketika ingatannya terlempar pada kejadian kemarin.

Flashback :

“Ji Eun, tunggu!” Cegat Scott yang sudah berjalan cepat dari arah pintu lift. Sedang Ji Eun, gadis itu terus berjalan cepat dan mengacuhkan seruan-seruan Scott.
Langkah kaki gadis itu tak secepat langkah-langkah panjang Scott, sehingga tak berselang lama, pria itu sudah berhasil menggapai lengan Ji Eun, “..tunggu!” Serunya sembari memutar kasar tubuh Ji Eun.
Tangan besar Scott yang awalnya hanya mencengkram lengan Ji Eun, kini berpindah mencengkram erat kedua bahu mungil Ji Eun.
“Lepaskan! Kau mau apa lagi?!” Bentak Ji Eun sembari meronta melepaskan diri. Kepalan kedua tangan mungilnya memukul-mukul kasar dada Scott namun, tenaga pria itu, yang telah diperkuat dengan emosi yang menggebu, makin mencengkram erat bahu Ji Eun sampai gadis itu sedikit meringis kesakitan.
“Jelaskan padaku dengan jujur. Siapa Hanna?!” Bentak pria itu. Wajahnya memerah, matanya pun begitu. Ada sorot kekejaman dimanik mata pria itu, membuat sekujur tubuh Ji Eun bergetar hebat.
“Je-jelaskan apa lagi, hah?! Hanna bukan anakmu!”
“Bohong!” Bentak pria itu membuat Ji Eun sedikit tersentak kaget, “..jelaskan yang sebenarnya, Ji Eun!”
“Lepaskan aku..lepas!” Jerit Ji Eun yang mulai merasa bahunya nyeri karena terlalu kuat dicengkram Scott.
“Hei..hei!” Seru seorang pria yang mulai berjalan mendekat kearah Ji Eun dan Scott, “.. “..kau mengerti tidak kalau seorang wanita bilang ia tidak suka diperlakukan begitu? dr. Redding..” Marc menatap tajam kearah Scott dan tangan besarnya itu bergantian. Tangan besar itu sudah terlampau kuat mencengkram bahu Ji Eun, “..dan lagi, ini rumah sakit. Dan sebagai putra pemilik rumah sakit ini, aku tidak suka kalau ada salah satu staff rumah sakit yang diperlakukan kasar. Sekarang lepaskan dia.” Paksa Marc sembari menggenggam tangan Ji Eun. Perlahan, Scott melonggarkan genggamannya dan melepaskan Ji Eun, “..baik. Kalau begitu kami permisi.”
Marc menarik Ji Eun menjauh dari Scott dan menghilang dibalik pintu lift.

Flashback End :

Tangan Ji Eun seketika bergetar hebat, sampai-sampai pena yang ia pegang terlepas begitu saja dari tangannya.
Ini tidak bisa aku biarkan! Aku pasti akan melindungi Hanna, bagaimana pun caranya.

* * * * * * * * * *

          Hanna melempar pandangannya kesekitar loby. Tangan mungilnya tak mampu menggapai tombol lift, sehingga ia membutuhkan seorang dewasa untuk membantunya.
“Kau butuh bantuan, manis?” Tegur seorang pria dari belakang Hanna. Segera gadis itu berbalik dan mendapati sosok Marc berdiri dibelakangnya dengan senyum menawan nan hangat.
“Iya. Aku tidak bisa menggapai tombol itu.” Tunjuk gadis itu pada tombol lift yang berada 50cm diatas tubuhnya.
“Baiklah. Memangnya kau mau kemana?” Tanya Marc ramah.
“Aku mau keruangan eonni. Kau bisa antarkan aku?”
“Tentu saja, princess. Ayo.”
Marc menggendong gadis kecil itu dan naik bersamanya diatas lift. Berada sedekat ini dengan Hanna, entah mengapa membuat Marc begitu senang. Gadis ini lumayan cerewet. Namun, ia mampu membius Marc dengan ocehan-ocehan polosnya juga senyum manis dan lucu yang mengembang dibibir mungilnya.
“Kita sudah sampai.” Ujar Marc sembari menurunkan Hanna dari gendongannya.
“Kau harus kembali bekerja?”
Ada nada kecewa dibalik ucapan polos gadis kecil itu.
“Tentu saja, sayang. Kalau aku sedang ada waktu senggang. Kita akan berbincang-bincang lagi, hm?”
Gadis kecil itu mengangguk, “..kalau begitu..semangat!” Ujar Hanna sembari tersenyum lebar kearah Marc.
‘Deg!’ Tuhan..entahlah, tapi aku tidak ingin berpisah dengan gadis kecil ini.

* * * * * * * * * *

          Malam itu, entah mengapa Hanna terus tersenyum ketika melihat Ji Eun. Mungkin terlihat biasa-biasa saja untuk ayah dan ibu mereka, namun tidak untuk Ji Eun.
“Hanna? Kau kenapa?” Tanya Ji Eun penuh curiga.
“Tidak. Hanya saja…aku rasa kau sangat cocok dengan seseorang.” Balasnya sembari tersipu.
“Oh ya? Siapa?”
“Kakak dokter yang bernama Marc itu. Kalian cocok sekali. Eonni..kenapa kau tidak pacaran saja dengan kakak dokter itu? Dia baik.”
Ji Eun menyembur keluar air putih yang baru saja berhasil masuk kedalam rongga mulutnya. Kata-kata Hanna terlampau polos, sampai-sampai Ji Eun merasa geli mendengarnya.
Tidak Mungkin!, “..eonni tidak apa-apa kan?”
“Ti-tidak sayang..tidak apa-apa.” Ji Eun kembali meneguk air putihnya yang masih tersisa setengah digelas, “..sebaiknya kau habiskan makan malammu dulu, baru kita bicarakan ini lagi, eo?”
Gadis kecil itu mengangguk patuh kemudian melanjutkan makan malamnya.
Jangan bercanda? Pria sombong itu? Tidak!

To Be Continued…

Cuplikan Part 6 :

“…sudah kubilang kau jangan pernah dekati Hanna, apalagi sampai merecokinya dengan hal-hal menjijikan dan tidak masuk akal itu!”
“Aku punya hak Ji Eun..dan ini yang membuktikan bahwa aku punya hak juga atas Hanna!”
Tidak mungkin..

Will Posting Soon :D

Maaf ya semua, kalo misalnya cerita si author ini masih pendek *sobing* soalnya emang author sengaja bikin ceritanya pendek-pendek, soalnya kan..si author udah nambahin cuplikan next part nya..maaf ya, guys *tear* Jangan lupa leave ‘LIKE’ or ‘COMMENT’ bellow ya? Jadilah pembaca yang budiman dengan tidak menjadi ‘SILENT READER’ :D

Tell Your Mom, I Love Her! #4

photocat_tellyourmomilovehercover2iHola, todos! :D Annyeong, chingu deul! :D akhirnya author kembali lagi setelah sedikit shock karena sebuah berita burung alias hoax..dan tanpa harus banyak ngomong lagi, langsung aja ya? :D Happy reading ;-)

* * * * * * * * * *

Part 4 :

Tak biasanya Hanna serewel ini. Gadis itu terus mendesak dan merengek ingin tidur bersama Ji Eun dan menolak untuk tidur dikamarnya sendiri. Maka, mau tak mau, Ji Eun akhirnya sekamar dengan gadis kecilnya itu.
“Eonni..dongengkan aku sesuatu.” Pintanya kemudian menguap lebar. Matanya mulai sayu.
“Baiklah. Kau mau dongeng apa?” Tanya Ji Eun lembut sembari mengusap-usap pelan pucuk kepala Hanna.
“Terserah eonni saja.” Balasnya dengan suara serak.
“Baiklah..bagaimana kalau cerita tentang Jack dan Raksasa?”
Gadis kecil itu hanya mengangguk lemah, “..baiklah..pada suatu hari hiduplah seorang pemuda yang bernama Jack..ia tinggal bersama pamannya dan suatu ketika, pamannya meminta Jack untuk menjual kuda mereka. Dan sesampai Jack dipasar..ia..” Cerita Ji Eun terhenti ketika matanya menatap wajah tedu Hanna yang terlelap. Gadis kecil itu..entah mengapa begitu mirip dengan Scott. Pria yang paling ia benci dalah hidupnya, sekaligus pria yang adalah ayah kandung putri kecilnya ini.
“Sayang..eomma berjanji..kau tak akan pernah kenal pria itu, sehingga dia tak akan pernah bisa menyakiti perasaanmu.” Bisik Ji Eun kemudian mengecup lembut kening Hanna.
Wanita itu kemudian merebahkan dirinya disamping Hanna dan mulai terlelap bersama gadis kecil itu.

“Pergi kau dari sini! Dan jangan pernah ganggu putraku, dasar perempuan jalang!” Wanita itu memakin dan mengkasari Ji Eun. Telapak tangannya beberapa kali menampar keras pipi Ji Eun, juga menghantam keras tubuh gadis itu. Hingga akhirnya, dengan kasar wanita paruh baya itu menyeret paksa Ji Eun keluar dari rumahnya, “..jangan pernah kembali. Dan..gugurkan anak haram itu!”
“Tidak! Anakmu harus bertanggung jawab nyonya!”
“Pergi!”
Wanita itu membentak Ji Eun sembari mendorong-dorong tubuh Ji Eun sehingga gadis itu tersungkur beberapa kali, “..pergi dari sini!”

“Tidaak!!” Ji Eun melonjak dari kasurnya sambil menjerit ketakutan. Keringat halus mengucur deras dan membasahi kening juga sekujur tubuhnya. Mimpi itu. Mimpi itu seperti sebuah rekaman yang diputar kembali, untuk mengingatkan Ji Eun. Betapa pantasnya Ji Eun sangat membenci pria bernama Scott Redding itu. Pria yang sudah dengan tega membuang buah cintanya dan sekarang dengan seenaknya datang untuk mengambil anaknya yang dulu ia buang.
Tidak! Tentu tidak akan aku biarkan! Aku bersumpah dia tak akan mengambil Hanna dariku!

* * * * * * * * * *

          Marc masih sibuk melamun. Rasa kantuk berkali-kali menyerangnya namun matanya masih menolak untuk terpejam.
“Entahlah. Mungkin aku sudah mulai gila.” Gumamnya sembari memijat-mijat keningnya yang tak terasa pening, “..sejak kapan aku suka memikirkan gadis galak itu? Cih! Ada-ada saja kau, Marc!” Tambahnya kemudian mencoba untuk memejamkan mata. Namun, saat matanya mulai terpejam. Bayangan Ji Eun berkelabat diotaknya yang terpaksa membuat Marc harus kembali terjaga.
“Sial! Ada apa denganku?! Hei, casanova! Masih banyak gadis lembut dan cantik diluar sana! Jangan terpaku pada satu orang gadis dengan kepribadian buruk seperti itu!” Omel Marc pada dirinya sendiri dan kembali memejamkan matanya karena, rasa kantuk itu sudah benar-benar menyerang dengan kekuatan penuh.
Kuharap aku bangun pagi dalam keadaan normal.

Pagi itu, Marc baru saja tiba dirumah sakit dengan waktu yang masih menunjuk pukul 06.45. Pria itu sengaja datang pagi. Alasan yang lumayan klasik, pria itu terlalu malas untuk mendengar omelan-omelan dokter pembimbingnya yang cantik tapi galak itu.
Dan seperti melihat sebuah drama dipagi hari. Mata Marc tak sengaja menangkap adegan yang sebenarnya, tak layak dipertontonkan dirumah sakit.
“Hei..hei!” Seru Marc menghentikan laku kasar pria itu pada gadis didepannya, “..kau mengerti tidak kalau seorang wanita bilang ia tidak suka diperlakukan begitu? dr. Redding..” Marc menatap tajam kearah Scott yang dengan paksa mencengkram keras bahu Ji Eun, “..dan lagi, ini rumah sakit. Dan sebagai putra pemilik rumah sakit ini, aku tidak suka kalau ada salah satu staff rumah sakit yang diperlakukan kasar. Sekarang lepaskan dia.”
Perlahan Scott melepas bahu Ji Eun dan membiarkan Marc menarik pergi gadis itu, menjauh dari pandangannya.
“Maksudmu apa tadi, hah?! Jangan ikut campur urusanku, mengerti?!” Bentak Ji Eun pada Marc sembari melepas paksa genggaman tangan pria itu dari lengannya.
“Menyelamatkanmu. Lalu apa lagi?! Memangnya kau nyaman diperlakukan kasar begitu?! Dasar, tidak tau terima kasih!”
“Apa?!”
Baru saja Ji Eun akan melayangkan kepalan tangannya kepucuk kepala Marc. Dan terhenti ketika melihat tamu kecil mereka, Hanna, menatap dengan heran.
“Kalian kenapa?” Tanya gadis kecil itu sembari memiringkan kepalanya.
Marc sedikit kaget melihat kehadiran gadis kecil itu tapi, setidaknya Hanna sudah menjadi penyelamatnya pagi ini, kan?
“Hei, Hanna..sedang apa?” Tanya Marc buru-buru mengalihkan pertanyaan gadis kecil itu.
“Tidak. Hanya saja, daddy memintaku mengantarkan ini untuk eonni.” Ujar gadis kecil itu sembari menyodorkan sebuah map merah yang entah apa isinya.
“Astaga. Terima kasih, ya? Untung kau mengantarkan ini, kalau tidak. Eonni bisa kena marah.” Ucap Ji Eun sembari menjongkok didepan Hanna, “..lalu? Daddy dimana?” Tanya Ji Eun.
“Menunggu didepan. Oh ya? Kakak dokter dan eonni kenapa bertengkar tadi? Kalian ini..”
“Tidak. Tidak kenapa-kenapa. Kau taulah kalau eonni-mu itu..sangat galak.”
Gadis itu tertawa renyah ketika dibisiki Marc kalimat terakhir itu.
“Aku harus pulang. Daddy menungguku didepan. Sampai jumpa.” Pamit gadis kecil itu kemudian berlari-lari kecil menjauh dari pandangan mereka.
“Ehm..kuharap, kau sudah menyelesaikan laporanmu, Marc Marquez!” Ujar wanita itu sembari berlalu pergi masuk kedalam ruangannya.
Astaga! Mati! Aku belum menyelesaikan apapun!!

* * * * * * * * * *

          Scott baru saja akan keluar dari rumah sakit itu saat ia melihat Hanna yang sudah lebih dahulu melenggang keluar dari pintu loby rumah sakit.
“Hanna!” Serunya sembari berlari kecil kearah gadis kecil itu.
“dr. Scott, ya? Kau disini? Sedang apa?” Tanya gadis kecil itu sembari merekahkan senyum manis dibibir mungilnya.
“Ada sedikit keperluan disini. Oh ya..kau sedang apa?”
“Tadi..aku mengantarkan map eonni yang ketinggalan.” Jelas singkat gadis kecil itu kemudian melempar pandang kearah seorang pria paruh baya yang sudah menatapnya penuh curiga dari dalam Porsche Panamara putih miliknya, “..oh ya, aku harus pulang. Sampai jumpa lagi!” Pamit gadis kecil itu kemudian melambai dan mulai bergerak menjauh dari Scott.
Entah mengapa kehadiran Hanna, meski hanya sebentar, selalu bisa membuat Scott lebih tenang. Seperti obat penenang, gadis kecil itu mampu menenangkan kekesalan Scott, hanya dengan sebuah senyum manis yang melengkung dibibir mungil gadis kecil itu.
Aku masih yakin Hanna itu putri kecilku. Putri kecil yang telah aku campakan dulu. Putri kecil, yang sangat aku rindukan saat ini.

To Be Continued..

Cuplikan Part 5 :

“Eonni..kenapa kau tidak pacaran saja dengan kakak dokter itu? Dia baik.”
Ji Eun menyembur keluar air putih yang baru saja berhasil masuk kedalam rongga mulutnya. Kata-kata Hanna terlampau polos, sampai-sampai Ji Eun merasa geli mendengarnya.
Tidak mungkin!

Will Posting Soon :D

Ok..sekian untuk part ini dan jadilah pembaca yang budiman dengan meninggalkan ‘LIKE’ atau ‘COMMENT’ kalian. Hargai tulisan author dengan tidak menjadi ‘SILENT READER’

:D Terima kasih sudah membaca :D