Let Me Love You #1

LetMeLoveYou

iHola!! Lama author hiatus akhirnya nongol lagi dengan ff baru :D pasti banyak yang bakalan nanya ‘Thor..mana FF Marc-IU yang The Proposal To Love You?’ Naahh…sementara ini author masih dalam proses pembuatan part 2 nya..masih banyak hal geje dan typo yang perlu author perbaiki lagi sooo…untuk menunggu, mari kita membaca ff baru author yang bertema anime ini :D 

Hope you all like guys..dan jangan lupa, selesai membaca tolong di Comment atau sekedar Like :D

Baiklah, author gk mau banyak monyong lagi…nih, langsung aja yooo…Happy reading :D

******************************************

Cast    :

Uzumaki Naruto as Him Self

Hyuuga Hinata as Yoon Hinata

Inuzuka Kiba as Im Kiba

Shion as Cho Shion

Etc..

 

Genre :

Romance, Family

 

Author :

@LeaObiraga

 

 

Part 1  :

 

Matahari siang ini terlampau terik. Bahkan, siapapun yang merasakan hawa panasnya serasa akan meleleh dibuatnya. “Aigoo..” keluh seorang gadis dengan rambut indigonya yang dikuncir ekor kuda. Poninya ia jepit keatas hingga menunjukkan dahinya yang penuh dengan butir-butir peluh. “Omo..apa aku harus telanjang saja? Kenapa dunia ini panas sekali?!” omel gadis itu lagi sembari tangannya mengayun kencang kipas tangan berukuran jumbo.

“YOON HINATA-AAH! Dangsin-eun deo na-eun naelyeo gaseo ije, sangjeom-eseo dangsin-ui abeoji leul doul geos!” (*Yoon Hinata! Sebaiknya kau turun dan bantu ayahmu di kedai, sekarang!*)

Seruan itu seperti perintah yang harus Hinata laksanakan. Dengan segera gadis itu bangkit dari malasnya dan berjalan cepat kebawah. Dan benar saja, Kedai sangat ramai siang itu.

Kedai es keluarga Yoon memang selalu ramai pelanggan. Bukan hanya sewaktu musim panas saja, bahkan –entah manusia-manusia  itu gila atau apa- dimusim dingin pun pelanggan-pelanggan itu akan tetap berantri ria untuk memesan es kesukaan mereka.

Segera Hinata berlari dan menggapai celemek juga dulang yang tergeletak diatas meja kasir dan bergerak secepatnya kekursi pelanggan untuk menanyai pesanan mereka.

Sejujurnya, Hinata sedikit risih jika harus melayani pelanggan pria, entah kenapa mata mereka bahkan tak sedikitpun memperhatikan daftar menu dihadapan mereka dan malah memperhatikan Hinata layaknya, didahi gadis itu sudah tertulis daftar menu.

“Tidak ada lagi? Baik saya ulang lagi pesanannya ya? Satu Mocca ice dan satu Melon Smoothie. Silahkan menunggu sebentar.”

Hinata berlari kembali ke meja tempat ayah dan ibunya membuat es-es itu kemudian memberitahukan pesanan pelanggan tadi.

Cukup melelahkan memang. Apalagi hanya mereka bertiga yang bekerja dikedai itu sejak kakaknya Neiji menikah dan adiknya Hanabi mendapat beasiswa sekolah di Jepang.

Tengah duduk bersantai sebentar, tiba-tiba seorang ahjumma masuk dengan wajah panik kedalam kedai milik mereka. Wajahnya yang panik dan tingkah lakunya yang tak kalah panik, membuat ahjumma itu menjadi pusat perhatian para pelanggan di kedai keluarga Yoon.

“Ahjumma kenapa?” tanya Hinata sembari menghampiri wanita pertengahan 40 tahun itu.

“Hiashi…Hana…mereka datang lagi.”

Berita yang dibawa ahjumma itu jelas membuat Hiashi dan istrinya membelalak kaget, dan Hinata menjadi bingung. Jelas, Hinata belum diberitahu apa-apa sola sengketa tanah yang terjadi antara para pemilik kedai didaerah ini dan si penguasa tanah.

“Mereka? Siapa, appa?”

“Tuan tanah.”

“Tuan tanah?”

Belum Hiashi menjelaskan pada putrinya itu, orang yang sedang mereka bicarakan masuk ke kedai Hiashi. Usianya bahkan sebaya dengan Hinata. Dia? Tuan tanah? Yang benar saja?

“Tuan Yoon, dari semua kedai yang ada disini tinggal kedai mu yang belum menandatangani surat penggusuran ini.”

“Sudah kubilang tuan muda. Selama kau belum menang dalam persidangan, aku tidak akan menandatangani surat itu.”

Naruto tersenyum licik dan tangannya tetap saja menyodorkan berkas itu kehadapan Hiashi. Memaksa pria paruh baya itu menuruti keinginannya, “..tanda tangan atau..”

Baru Naruto akan membuka mulutnya lagi dan menyelesaikan kalimatnya, seember es balok setengah cair mengguyur tubuhnya hingga basah kuyub.

“Kau pikir kau sehebat itu jadi semua orang harus menuruti perkataanmu? Kau boleh melakukan itu pada pemilik kedai yang lain, tapi kedai keluargaku akan tetap berdiri disini!” seru Hinata masih memegang ember kecil yang tadi berisikan es balok.

Naruto mengusap wajahnya yang basah dan mulai kembali melengkungkan senyum licik dibibirnya, “..putrimu berani juga, tuan Yoon. Baiklah, kita akan lihat sekuat apa kau mempertahankan kedai milik keluargamu ini dimeja persidangan nanti.” Ucap Naruto kemudian berbalik dan pergi dari kedai itu.

“Hinata..kau tidak seharusnya melakukan itu!”

“Memangnya kenapa? Aku tidak suka cara dia memperlakukan appa! Apalagi appa lebih tua darinya, harusnya dia memiliki sedikit rasa hormat. Meskipun dia tuan tanah, aku tak akan menyerah untuk mempertahankan kedai kita!”

Hinata menatap mantap kearah ayahnya dan kembali kebelakang untuk meletakan kembali ember kecil tadi.

********************

 

            Surat panggilan dari pengadilan akhirnya sampai ke tangan Hiashi. Pria itu dipercaya oleh para pemilik kedai yang lainnya untuk mewakili mereka dipersidangan. Seorang pengacara hebat bahkan sudah siap membantu mereka.

Pengacara muda yang sebenarnya adalah putra dari salah satu pemilik kedai masakan Jepang dikomplek dagang itu.

Im Kiba, siapa yang tidak kenal pemuda tampan yang menjadi lulusan terbaik Fakultas Hukum Universitas Sungkyunkwan itu. Ia menjadi selebritis kompleks dagang tersebut setelah predikat kelulusannya tersebar.

Bahkan anak-anak gadis mana yang tak mau berdampingan dengannya atau bahkan sekedar menjadi temannya.

Dan Hinata, gadis itu cukup beruntung karena ia tak perlu berusaha cukup keras untuk mendapat perhatian khusus dari Kiba. Sejak dulu, bahkan sebelum Kiba menjadi ‘selebriti’ kompleks dagang, pria itu selalu memperhatikan Hinata dengan cara yang berbeda. Bisa dibilang, ia menyukai gadis itu. Kegigihannya, caranya berperilaku, semuanya benar-benar Hinata dan tak ada yang pura-pura.

Mungkin itu juga salah satu alasan Kiba, mau menjadi pembela yang bertarung dimeja persidangan bersama Hiashi, ayah Hinata.

“Apa kau yakin bisa memenangkan kompleks ini?” tanya Hinata sedikit ragu pada Kiba.

“Percaya padaku. Aku akan melakukan yang terbaik untuk mempertahankan rumah kita ini.”
Kiba meremas pelan kedua bahu mungil Hinata dan memaksa gadis itu menatap kedua matanya, “..kau percaya padaku kan?” tanya Kiba sembari tersenyum lembut pada Hinata.

“Semua orang disini percaya padamu. Mana mungkin aku tidak.” Balas gadis itu kemudian tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapih.

Suntikan semangat yang lebih dari cukup untuknya, pikir Kiba. Setelah berpamitan dengan Hiashi, Kiba segera pulang kerumahnya untuk menyusun beberapa dokumen juga rencana untuk memenangkan persidangan besok.

“Sepertinya Kiba menyukaimu, Hinata.” Goda ibunya sembari menyikut pelan lengan Hinata.

“Benarkah? Tapi aku tidak punya perasaan seperti itu ya? Aku hanya menganggapnya sama seperti Neiji dan tidak lebih dari itu.”

“Sayang sekali kalau begitu. Padahal  kau akan menjadi gadis paling beruntung dikompleks, lho!”

Wanita paruh baya itu kemudian berjalan naik keatas. Meninggalkan Hinata yang masih berpikir keras soal perkataan ibunya. Namun, semakin ia pikirkan, malah semakin tak menemukan jawabannya. Bahkan Hinata berusaha untuk memiliki perasaan itu untuk Kiba, dan tetap saja, rasa sayang yang ia miliki untuk Kiba, sama persis dengan rasa sayangnya pada Neiji, kakaknya.

Berarti aku tidak sedang jatuh cinta padanya. Aku hanya menganggapnya seperti Neiji, dan tak lebih. Bagaimana tidak, setelah Neiji menikah dan hidup mandiri bersama Tenten eonni, Kiba yang selalu melindungiku. Tentu saja aku menganggapnya sebagai kakakku bukan? Batin Hinata mantap kemudian mengikuti ibunya naik keatas.

***********************

 

“Naruto..aku tau kau akan menuruti perkataan nenek. Dan satu lagi, mengenai Shion..”

“Aku sudah selesai, permisi.”

Naruto bangkit dari meja makan dan berjalan dengan langkah cepat kekamarnya.

“Aku sudah mengatur pertemuan dengan kedua orang tuanya. Dan kuharap kau akan ada disana.” Lanjut Tsunade yang membuat langkah Naruto terhenti. Amarah mulai menjalar dari hatinya sampai kesekujur tubuhnya, hingga tanpa sadar, kedua tangannya mulai terkepal keras. “Kau tentu tidak bisa menolak perjodohan ini..”

“Perduli setan dengan perjodohan konyol itu! Aku bahkan tidak mencintai Shion sama sekali. Dan kalau sampai pernikahan itu terjadi, aku bersumpah akan membuat hidup gadis itu bagai dineraka yang paling jahanam.” Sahut Naruto penuh amarah yang memotong ucapan Tsunade. Jawaban kasar Naruto itu bahkan berhasil membuat Tsunade tersentak kaget dan hanya dapat menatap punggung Naruto tanpa berani melanjutkan perkataannya lagi sampai pria itu menghilang dibalik lekukan tangga rumah.

Waktu menunjukan pukul 01.00 dini hari. Namun mata Naruto sama sekali belum mau terpejam atau bahkan sekedar terasa berat. Pikirannya kembali berputar pada hari dimana ia bertemu gadis nekat itu. Bukan hanya menyiram Naruto dengan seember balok es yang sudah sedikit mencair saja, namun gadis itu sudah berani mendebat Naruto didepan umum. Tanpa sadar sudut bibir Naruto terangkat membentuk lengkung senyum, gadis yang menarik. Sangat berbeda dengan kebanyakan gadis yang kutemui.

Naruto benar-benar tak bisa tidur. Ia bangun dan duduk diatas kasurnya sedang tangan kanannya menggapai ponsel yang sedari tadi tergeletak diatas meja lampu samping kasurnya. Setelah menemukan nomer yang akan ia hubungi, ibu jari tangannya tanpa ragu menyentuh gambar telepon berwarna hijau pada layar iPhone 6 miliknya.

“Aku mau kau melakukan sesuatu untukku. Dan aku tau kau bisa melakukannya.” Ujar Naruto ketika panggilannya tersambung, “..carikan aku infromasi tentang gadis dikedai tuan Yoon. Aku ingin tau banyak tentang gadis itu.”

Naruto mengakhir sambungan tersebut dan kembali meletakkan ponselnya keatas meja lampu. Tubuhnya kembali ia baringkan keatas kasur, dan seperti telah mendapat alasan untuk tertidur, mata pria itu terpejam dan ia mulai tenggelam dalam alam mimpinya.

***************************

Beberapa jam lagi persidangan akan dimulai. Hiashi sudah duduk dikursi yang disediakan untuknya sedang Hinata juga ibunya dan beberapa warga kompleks dagang juga ikut menghadiri persidangan itu.

Tak lama kemudian, Tsunade bersama Naruto dan seorang pria yang adalah pelayan keluarga itu, masuk kedalam ruang sidang yang otomatis langsung mendapat tatapan bengis dari para pemilik kedai dikompleks dagang.

Banyak cibiran yang harus diterima Naruto juga Tsunade. Namun bukan Tsunade namanya kalau tidak bisa mengatasi cibiran itu. Baginya perkataan yang tidak baik itu tidak boleh didengar dan harus segera dikeluarkan dari telinga.

Wanita pertengahan 50-an yang masih nampak sangat cantik itu duduk dibangku dekat pengacaranya. Disampingnya, Naruto hanya bisa terduduk diam dengan ekspresi datar sebagaimana biasa.

Persidangan pun dimulai. Perdebatan demi perdebatan dimulai, makin kesini makin memanas. Bahkan sorak-sorai dari para pemilik kedai juga ikut memanaskan suasana. Sampai-sampai beberapa kali, hakim persidangan harus mengetuk palu untuk menenangkan ruangan sidang yang sedikit ricuh.

Waktu menunjuk pukul 13.30, dan persidangan diberhentikan sebentar. Para pengacara dan klien mereka diberi kesempatan untuk berdiskusi.

“Ahjushi, kita tidak punya banyak bukti untuk menepis tuntutan mereka. Lagi pula memang benar, surat perjanjian itu melewati batas waktu perjanjiannya. Dan kita memang tidak diberi kesempatan untuk memperpanjangnya lagi setelah ahli waris berpindah tangan.”

“Lalu apa kita akan kalah?”

“Mungkin akan seperti itu.”

Kiba sedikit menunduk. Bahkan ia tak sanggup lagi hanya untuk menatap Hinata. Ia malu pada gadis itu. Padahal ia sudah berjanji akan mengembalikan kompleks dagang seperti semula. Namun, apa daya, mereka tak punya cukup bukti untuk membela atau bahkan mempertahankan kompleks dagang itu dalam persidangan ini.

Di lain pihak, Tsunade merasa berada diatas angin sekarang. Mereka memang memiliki banyak bukti yang menunjukkan bahwa tanah itu adalah kepunyaan mereka. Dan hak mereka untuk menggusur kedai-kedai yang ada dikomplek dagang tersebut.

“Baa-san, kurasa..”

“Kau tidak perlu ikut campur soal ini Naruto. Pikirkan saja apa yang akan kau bicarakan dengan kedua orang tua Shion malam nanti.”

“Malam nanti? Apa maksudmu?”

“Aku sudah mengatur pertemuan dengan kedua orang tua Shion malam nanti. Dan kuharap kau jangan bersikap bodoh.”

Percakapan itu lagi. Dan lagi-lagi percakapan itu berhasil membuat mendidih darah Naruto. Tanpa membalas, pria itu bangkit berdiri dan berjalan keluar dari  ruang persidangan. Ia bahkan tak perduli beberapa pasang mata yang menatapnya heran.

Kita lihat saja baa-san. Apa yang akan terjadi pada pertemuan nanti. Dan aku tidak akan menyesal telah berbuat demikian.

Persidangan kembali dilanjutkan, hakim mulai menanyakan pembelaan dari pihak kompleks gadang. Dan otomatis jawaban Kiba adalah, “..tidak ada yang mulia.” Ujarnya lesu kemudian menatap kearah meja penuntut. Nampak senyum puas tergembar jelas dibibir Tsunade dan pengacaranya.

“Sudah kubilang. Jangan pernah mencoba melawan kalau kalian tak mampu…”

“Aku akan mengembalikan komplek dagang seperti semula!”

Dan sontak seruan itu membuat Tsunade terperanjak kaget. “Aku, Uzumaki Naruto sebagai ahli waris sah tanah itu, mengembalikan kompleks dagang seperti semula. Tapi..ada satu syarat..”

Sorak gembira tiba-tiba berganti menjadi tatapan penuh tanya dari para warga kompleks dagang ketika kalimat Naruto tak hanya berhenti sampai ‘mengembalikan kompleks dagang seperti semula’.

“Syarat? Syarat apa?” tanya Hiashi. Pria paruh baya itu seperti memiliki firasat kurang baik soal syarat yang akan diajukan tuan muda Uzumaki itu.

“Yoon Hinata. Aku menginginkan putrimu yang bernama Yoon Hinata.”

Permintaan Naruto tersebut jelas menjawab firasat buruk Hiashi. Pria paruh baya itu kemudian berdiri seraya menatap tajam kearah Naruto, “..tidak akan kubiarkan kau melakukan itu.”

“Tidak tuan Yoon. Aku tidak mengharapkan jawaban darimu. Tentu pemikiranmu tak akan sama dengan pemikiran putrimu. Apalagi kalau ia mendengar alasan selanjutnya.”

“Apa alasanmu?”

Naruto tersenyum ketika suara gadis itu bertanya lantang dan berani padanya. Gadis itu juga ikut berdiri dan menatap tajam kearah Naruto.

“Bekerjalah padaku selama 6 bulan ini dan aku akan melupakan soal penggusuran kedai-kedai dikompleks dagang. Tapi, kalau kau tidak mau yaahh…dengan sangat menyesal ku tarik kembali apa yang sudah kuucapkan tadi dan mengembalikan semua keputusan pada hakim.”

Hinata berpikir sejenak. Tawaran yang seimbang. Namun bagaimana dengan ayahnya? Pria itu pasti akan menentang mati-matian keputusannya nanti.

“Hinata..appa tak akan mengijinkanmu melakukan itu.” bisik Hiashi sementara Hinata masih mematung memikirkan keputusan apa yang sebaiknya ia ambil.

Setelah merasa mendapat keputusan yang tepat, gadis itu mendongka menatap lurus kedalam mata sapphire Naruto, “..baiklah, akan aku lakukan. Tapi..aku bisa memegang ucapanmu kan?”

Jawaban Hinata itu jelas membuat Hiashi kecewa. “Hinata apa yang kau lakukan?”

“Appa..kumohon. Ijinkan aku melakukan yang hatiku inginkan. Sekali ini saja.”

“Tapi bagaimana dengan..”

“Itu masih tahun depan eomma. Aku akan berusaha menyelesaikannya sebelum tahun depan.”

Naruto tersenyum singkat, perlahan langkahnya membawa pria itu mendekat pada Hinata, “..kau tidak akan terlambat mengikuti koas. Karena setauku, koas untuk semester depan akan dimulai 2 bulan setelah kau selesai bekerja padaku.”

Hinata tersentak kaget ketika mendengar Naruto menjelaskan masalah koas. Dalam hati gadis  itu bertanya, apa yang diketahui pria ini tentangku?

Seakan mampu membaca pikiran Hinata, Naruto tersenyum dan menjawab pertanyaan dibenak gadis itu, “..Yoon Hinata S.Ked, lulusan S1 Kedokteran Seoul National University. Cuti setahun untuk membantu ayahnya dikedai sampai adiknya lulus dari SMA Putri di Tokyo. Benar kan?”

Hiashi, Hinata juga Hana tersentak kaget. Mereka tak percaya kalau Naruto bisa tau informasi seprivat itu. Entah dari siapa tapi memang semuanya itu benar.

“Tidak susah mencari tau informasi seperti itu Hinata-shii. Jadi..bagaimana dengan tawaranku tadi?” Naruto tak mau banyak berdebat lagi. Ia langsung kembali pada topik penawaran awal. Dan itu membuat Hinata kembali berpikir.

“Oh ayolah…kau bisa memegang ucapanku, Hinata-shii.”

“Apa akibatnya kalau kau melanggar perkataanmu sendiri?”

“Apa akibatnya, ya? Tentu saja aku akan mengembalikan kedaimu seperti semula dan kau tidak usah lagi bekerja padaku. Jadi intinya kuanggap semuanya lunas.”

“Baiklah. Itu cukup adil. Dan tentu saja sebagai perjanjian, harus disahkan bukan? Aku tidak suka hanya berjanji tanpa ada kesepakatan tertulis.” Debat Hinata. Dan tak Naruto sangka, gadis itu terlalu pintar untuk dikelabui.

“Baiklah. Dan untungnya aku sudah menyiapkannya semalam.” Naruto mengeluarkan sebuah map hijau tua dari dalam jasnya dan mengeluarkan pena dari saku jasnya, “..kau bisa tanda tangani surat itu. Aku sudah menandatanganinya. Nasib baik kita sedang dipengadilan sekarang.”

Hinata meraih map itu juga pena dari tangan Naruto. Meski sedikit ragu, namun akhirnya gadis itu membubuhkan tanda tangannya diatas kertas bermaterai itu.

“Yang mulia, hakim agung. Disini kami sudah membuat perjanjiannya. Jadi..kurasa persidangan ini sudah selesai, bukan?”

“Uzumaki Naruto, Kau..”

“Kakashi-san..bisa kau bawa baa-san kedalam mobilnya. Aku takut terjadi sesuatu pada baa-san disini. Apalagi udara disini makin menipis.”  Pintah Naruto yang langsung disetujui Kakashi. Pria pertengahan 30 tahun itu pun membopong Tsunade keluar. Wanita paruh baya itu nampak kesulitan menapaki tanah. Tubuhnya terhuyung kalau tak ditopang.

Setelah melihat Tsunade bersama Kakashi keluar, Hakim Agung langsung mengetuk palu pertanda sidang ditutup dan dibubarkan.

Berduyun-duyun mereka keluar dari ruang sidang itu. Dan merasa tanpa harus meminta ijin lagi, Naruto langsung menarik tangan Hinata dan membawa gadis itu bersamanya.

“Kau mau bawa aku kemana? Setidaknya minta ijin dulu pada appa dan eomma ku. Apa kau tidak diajari sopan santun oleh orang tua mu, hah?” omel Hinata sembari meronta berusaha melepaskan genggaman tangan Naruto dari lengannya.

“Kurasa tanpa meminta ijin pun mereka sudah tau.” Singkat dan sukses membuat darah Hinata mendidih. Kesal. Memang, tapi apa  boleh buat. Semuanya sudah terjadi.

“Ayo masuk.” Pinta Naruto ketika pintu mobil Lykan Hypersport berwarna biru Navy miliknya terbuka. Dan dengan terpaksa Hinata masuk kedalam mobil itu tanpa banyak mendebat lagi. Gadis itu hanya bisa melihat isi mobil Naruto sembari tercengang. Mobil ini –setau Hinata- baru pertama dilihatnya waktu menonton film Furious 7. Dan ketika, dicarinya di Internet, mobil ini menjadi barang langka karena, baru beberapa unit yang dipasarkan dan itu baru hanya akan dipasarkan di Amerika juga Eropa.

Saat Naruto masuk, gadis itu kembali bertanya dan berusaha membuang rasa kagumnya terhadap mobil Lykan Hypersport milik Naruto ini.

“Kita mau kemana?”

“Kau akan tau nanti.”

Awas saja kalau dia berani macam-macam denganku. Aku akan beritahu dia rasanya dineraka bahkan sebelum dia mati.

***************************

 

Waktu menunjukan pukul 18.00. Dan Naruto belum juga menampakkan batang hidungnya. Sesekali Tsunade melirik ke arah jam tangan bertali mutiara ditangan kanannya itu. Dan sesekali, ia melirik keluar jendela, berharap kalau sosok pria berambut pirang itu segera memunculkan wujudnya diluar sana.

Waktu terus berjalan, hingga tanpa sadar 30 menit sudah berlalu. Kegelisahan tergambar jelas diwajah kedua orang tua Shion juga Shion sendiri.

Gadis bermata ungu muda itu bahkan sangat nampak cemas menunggu kedatangan calon tunangannya itu.

“Apa mungkin, Naruto sedang sibuk dikantor sekarang?” tanya pria paruh baya yang duduk tepat dihadapan Tsunade itu.

“Tidak, tuan Cho. Aku sudah memberitahunya untuk datang tadi. Mungkin sedang terjebak macet saja.” Ujar Tsunade berusaha meyakinkan ayah Shion itu.

“Tsunade haleomani..mungkin appa benar, Naruto-shii mungkin sedang sibuk. Aku jadi tidak enak padanya.”

“Sayang…dia pasti datang. Tadi dia sendiri yang berjanji akan datang kemari.”

Dan tak lama kemudian, sosok yang sedari tadi ditunggu-tunggu pun datang. Namun, dari dalam mobil Lykan Hypersport itu bukan hanya Naruto saja. Keluar seorang gadis manis dengan balutan mini dress brokat lengan panjang berwarna putih, kaki putih nan jenjangnya dibalut dengan stocking celana transparant berwarna hitam juga dipadukan dengan wedges heels berwana silver. Rambut indigo sepinggul berombak miliknya digerai begitu saja tanpa ada ornamen tambahan. Sangat cantik dan nampak elegan.

Dengan mesra, gadis itu mengamit lengan kekar Naruto dan berjalan beriringan masuk kedalam restoran itu.

“Selamat malam semua. Maaf membuat kalian menunggu lama.”

“Na-Naruto-shii..” ucap Shion terbata. Gadis itu masih terpukul melihat pemandangan didepannya sedang pria yang didepannya itu hanya tersenyum santai seakan tak sedang melakukan kesalahan apapun.

“Naruto apa yang..”

“Oh ya, maaf…biar kuperkenalkan dia. Namanya Yoon Hinata, dia adalah kekasihku.”

Apa?!! Kekasih??!!! Sejak kapan??!!

..to be continued…

Last Part of Ketchup Rice For You

iHola! Author balik lagi niihh..dan ini adalah Last Part nya..semoga kalian suka :D

***************************

Hinata bangun sembari mengucak matanya pelan. Dilihatnya disamping Naruto sudah tidak ada. Segera gadis itu bangun dan berjalan menuju dapur, berharap melihat senyum hangat pria itu disana. Dan nihil. Tak ada bunyi panci dan spatula yang beradu, atau aroma Ketchup Rice tercium dari arah dapur.

Hinata masuk ke kamar Naruto, dan pria itu juga tak ada disana. Bahkan disekeliling rumah itu, tak ada tanda-tanda kehadiran Naruto.

Perasaan Hinata mulai cemas. Ada apa ini? Ragu-ragu, gadis itu kembali ke kamar Naruto dan membuka lemari pakaian pria itu. Sesuai dengan kecemasannya, pakaian pria itu tak lagi bersisa. Kosong. Ya, dia pergi.

Hinata merosot jatuh kelantai. Kakinya gemetar. Saking gemetarnya sampai tak bisa lagi menahan berat tubuhnya.

Rasanya menyesal itu merasuk dan menusuk dalam hati Hinata. Gadis itu menangis. Untuk pertama kalinya, untuk Naruto gadis itu menangis. Menangis sejadi-jadinya, seakan sedang meneriaki rasa sakit yang timbul dihatinya akibat keegoisannya sendiri.

Apa yang harus aku lakukan untuk membawamu kembali? Apa kau sebegitu terlukanya sampai tak bisa lagi bertahan denganku? Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau bisa bersama denganku lagi?

Gadis itu berjalan gontai ke arah dapur. Dan air matanya kembali mengalir deras, ketika ditatapnya sepiring Ketchup Rice yang sudah mendingin. Dibawah piring Ketchup Rice itu pun ada sebuah surat, yang sudah pasti ditulis oleh si pembuat Ketchup Rice ini.

“..maaf sebelumnya, nona..aku tidak langsung pamit padamu. Aku sadar, sangat sadar betul kalau selama ini aku belum bisa membuatmu bahagia. Sebaliknya, aku selalu membuatmu tertekan dan menderita. Jujur, aku sangat mencintaimu dan ingin lebih lama berada disisimu. Tapi itu semua tidak mungkin, bukan? Makanya aku pergi..aku pergi karena ingin kau bahagia. Kau tidak perlu lagi tersiksa..kau sudah bebas..tak ada lagi benalu yang selalu membebanimu. Aku harap, kau selalu bahagia dalam hidupmu. Terima kasih untuk selama ini. Meski tak berjalan baik, tapi semalam merupakan kenangan paling berharga dalam hidupku. Oh ya, aku membuat Ketchup Rice ini untukmu. Semoga rasanya tidak asin lagi. Aku mencintaimu.

 

Naruto..”

Tetes demi tetes air mata jatuh membasahi kertas surat itu. Membuat tulisan disurat itu sediki luntur. Hati Hinata seakan ditusuk berkali-kali oleh sebuah belatih. Sakit bukan main yang ia rasakan. Rasa-rasanya dunia ini berhenti berotasi.

“Kenapa Kau lakukan ini padaku, Tuhan?! Kalau aku salah Kau boleh menghukumku dengan cara lain! Bukan dengan merebutnya dari sisiku saat aku belajar untuk mencintainya dan memperlakukannya dengan baik! Aku hanya ingin membuktikan padanya kalau dia sangat berharga untukku.” Jerit Hinata sedang tangannya meremas surat itu sampai hancur.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang?”

Gadis itu merosot ke lantai. Tangisnya pecah. Ia tak percaya kalau hari ini akan datang. Hari dimana Naruto benar-benar menyerah dan pergi meninggalkannya. Tapi menangis dan menyesal seperti ini juga bukan jalan keluar yang baik. Hinata sadar itu, tapi untuk sekarang Hinata lebih memilih menangis untuk mengeluarkan semua rasa sakit yang menggerogoti hatinya. Mungkin setelah itu, ia akan memikirkan cara untuk membawa Naruto kembali ke sisinya seperti hari-hari kemarin.

*************************

Naruto menatap nanar keluar jendela kamarnya. Akhirnya dia disini, kembali ke rumah mungilnya. Sudah sebulan dia disini, kembali bersama kedua orang tuanya.

Pandangan Naruto tiba-tiba terpaku pada seorang anak lelaki dengan seragam SMA yang sangat Naruto kenal. Ya, itu seragam dari SMA Konoha, sekolah dimana pertama kali Naruto bertemu Hinata. Tempat dimana Naruto pertama kali jatuh cinta pada gadis itu.

Kenangan Naruto pun terlempar pada kejadian 8 tahun lalu. Dimana Naruto pertama bertemu gadis itu saat penerimaan murid baru di SMA Konoha. Gadis itu sangat cantik dan terlihat baik juga ramah. Tapi Naruto tidak pernah bisa memberanikan diri untuk sekedar berkenalan dengannya. Naruto selalu mengamati gadis itu dalam diam, sampai akhirnya gadis itu memiliki seorang pacar. Kiba, kapten tim basket SMA Konoha. Dengan hadirnya Kiba, tembok pemisah antar Naruto dan Hinata makin tebal. Bahkan tak ada harapan yang terlihat lagi. Naruto terus menatap Hinata dari jauh, menjadi bayangan gadis itu tanpa berani untuk hanya sekedar menyapa atau tersenyum pada gadis itu.

3 tahun masa SMA terlewati dan setelah itu Naruto tak pernah melihat gadis itu lagi. Naruto hanya mendengar kabar kalau gadis itu sudah tidak lagi berpacaran dengan Kiba, dan melanjutkan sekolah kokinya di Paris.

Hingga, hari itu datang. Hari dimana sebuah surat datang dan Naruto harus membuat keputusan atas surat kontrak itu.

Tentu saja, tanpa dipirkikan pun Naruto langsung menjawab ‘iya’. Pria itu sangat merindukan Hinata, gadis yang hanya bisa dilihatnya dari jauh itu. Gadis yang akhirnya akan membangun hubungan rumah tangga dengannya.

Naruto membayangkan hal yang indah tentang semua itu. Namun, yang ia dapat malah kebalikan dari mimpinya.

Meski sakit, Naruto terus mencoba bertahan dan terus mencintai gadis itu, karena Naruto yakin, suatu saat gadis itu akan sadar dan membalas perasaannya.

Makin kesini, harapan itu makin tipis bahkan tak ada. Hingga akhirnya Naruto menyerah. Sudah cukup perjuangannya selama ini. Gadis itu tak akan pernah tau, dia tak akan pernah sadar. Karena yang gadis itu tau, Naruto hanyalah bayangan. Bukan siapa-siapa dan sebuah kesalahan yang dibuat oleh orang tuanya.

Air mata pria itu menetes. Kali ini terlalu deras sampai-sampai penglihatan pria itu mengabur. Isakkan pun tak tertahankan lagi. Sakit dihati pria itu belum sembuh betul. Ditambah lagi dengan kenangan itu. Kenangan yang tak seharusnya diingat Naruto lagi. Kenangan yang seharusnya Naruto buang jauh-jauh sekarang.

“Nona sudah bahagia sekarang. Aku juga harus bahagia, bukan?”

********************

“Kau yakin akan pergi sendiri?”

“Ini kesalahanku kak, aku harus menebus semuanya. Aku akan baik-baik saja.”

Hinata menaikkan kopernya kedalam bagasi mobil sebelum menutupnya. Gadis itu tersenyum singkat kearah Neiji sebelum masuk kedalam mobil.

“Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, hm?”

“Iya, kak. Tapi kau jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Aku akan membawanya kembali.”
Neiji mengangguk dan kaca mobil pun dinaikkan. Mobil Porsche biru muda itu pun melaju pelan keluar dari halaman rumah megah itu.

Aku akan membawamu pulang, Naruto. Aku tidak perduli kau akan mengusirku nanti, aku hanya ingin kau tau, kalau aku mencintaimu dan ingin selalu bersamamu.

Hinata melirik lagi kearah kertas yang kemarin ia dapat dari orang suruhan Neiji. Gadis itu tersenyum sambil memantapkan tekadnya dalam hati.

Kalau aku bisa membawamu pulang, aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi. Kita akan jalani hari-hari indah.

Sengaja Hinata memarkirkan mobilnya didepan sebuah sekolah. Sekolah itu kosong, mungkin karena akhir pekan. Hanya beberapa anak saja yang terlihat disana. Kemungkinan mereka adalah anak-anak yang ikut salah satu ekskul sekolah ini.

Hinata tersenyum sesaat sampai akhirnya mata gadis itu tertahan pada sebuah pohon sakura. Senyum gadis itu melembut ketika ingatannya tersapu pada sebuah momen.

Kau selalu memperhatikanku diam-diam dari sana. Aku senang saat kau tersenyum malu saat memperhatikanku. Aku ingin kau datang mendekatiku dan menyapaku, berkenalan denganku. Tapi kau menjauh. Kau seperti ketakutan padaku. Membuatku benci padamu dan sikapmu.

Lamuna Hinata terhenti ketika dering ponsel bergetar didalam tasnya.

“Halo, kak?”

[Kau sudah dimana?]

“Sebentar lagi aku sampai. Aku hanya sedang beristirahat sebentar.”

[Baiklah. Aku menanti kabar.]

“Iya, kak.”

Setelah sambungan itu terputus segera Hinata masuk kembali kedalam mobilnya dan melanjutkan perjalanannya.

Hingga tak berapa lama, gadis itu sudah tiba disebuah rumah megah bergaya Eropa.

“Ibu,,ayah,,aku pulang.” Seru gadis itu ketika masuk kedalam rumah itu.

Seruan gadis itu membuat sang tuan rumah segera berlari dan menghambur memeluk gadis itu.

“Kau kemari, sayang? Mana suami mu?”

Hinata terdiam, ia tak langsung menjawab pertanyaan ibunya itu, “..itu alasannya aku kesini, ibu.”

“Maksudmu?”

“Aku ingin membawa Naruto pulang.”

Wanita paruh baya itu masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan putrinya. Dahinya berkerut tapi sebelum wanita paruh baya itu kembali bertanya, sebuah suara berat menyapa tepat dibelakangnya.

“Kau hanya memeluk ibumu dan tidak memeluk ayah?”

Hinata tersenyum. Gadis itu melepas pelukannya dari sang ibu dan berjalan kerarah ayahnya kemudian memeluk pria paruh baya itu.

“Apa yang membuatmu kemari, hm?”

“Ada masalah ayah. Ada masalah yang harus segera aku selesaikan.”

“Masalah apa?”

“Aku tidak bisa cerita. Tapi, ayah masih hafal kan Restoran milik paman Minato yang sering ayah ceritakan dulu itu?”

Pria paruh baya itu mengangguk tapi, hatinya masih penuh dengan pertanyaan.

“Boleh ayah berikan alamat restorannya?”

“Tapi untuk apa, nak?”

“Ini masalahku. Aku hanya ingin menyelesaikannya sendiri, ayah.”

Hiashi tersenyum melihat putrinya. Diambilnya secarik kertas dari dalam buku yang terletak tak jauh dari jangkauannya dan diberikannya kertas itu pada Hinata.

“Entahlah, ini sudah lama. Tapi, semoga saja masih disini.”

“Terima kasih, ayah.  Sekarang aku mau istirahat dulu. Aku capek menyetir dari Tokyo tadi.”

Sebentar lagi…sebentar lagi kita akan bertemu lagi Naruto. Kita akan bertemu…

**********************

 

Pagi itu Naruto turun dari kamarnya. Akan lebih baik dia membantu ayah dan ibunya direstoran, dari pada dia harus terus murung dalam kamar. Mungkin akan membuatnya melupakan semuanya.

“Kau sudah mendingan, nak?” tanya Minato sedikit khawatir.

“Iya, ayah. Aku sudah lebih baik. Boleh kan aku membantu ayah dan ibu disini?”

Minato hanya tersenyum sembari mengangguk, mengiyakan niat putranya itu.

Naruto mulai dengan membereskan meja restoran sebelum membalik tulisan ‘CLOSE’ menjadi ‘OPEN’ yang tertempel didepan pintu masuk restoran.

Setelah membalik tulisan itu, Naruto segera berlari kearah dapur. Ia tau tempatnyadan sangat merindukan dapur ini. Dulu sebelum menikah, ia membantu ayah dan ibunya direstoran ini. Dan disinilah tempatnya bekerja. Dapur.

“Satu Ketchup Rice untuk meja nomer 5!” seru seorang pelayan yang langsung dikerjakan Naruto tanpa menunggu lagi. Membuat pelanggan menunggu itu tidak baik, pikir Naruto.

Pria itu mulai memasak. Aroma Ketchup Rice itu tanpa sadar membuat air mata Naruto kembali menggenang dipelupuk matanya.

“Biasanya pagi ini, aku membuatkan sarapan untuk nona Hinata. Apa dia sudah makan pagi atau belum?”

“Nak?”

Suara lembut itu lantas membuat Naruto segera mengusap air matanya dan kembali melakukan kegiatan memasaknya.

“Sedikit lagi selesai, bu.”

“Kau tidak apa-apa kan?”

“Iya. A-aku baik-baik saja.” Kilah Naruto sembari terus mengaduk Ketchup Rice diatas panci itu. Setelah dirasanya sudah selesai, Naruto segera menatanya dipiring. Setelah sedikit dihias, Naruto meletakkan piring itu pada sebuah lubang yang menghubungkan dapur dengan ruang restoran.

Salah seorang pelayan laki-laki mengambil piring itu dan segera membawanya pada si pelanggan.

Baru pelayan itu akan beranjak, sampai akhirnya si pelanggan melayangkan protesnya dan hendak bertemu dengan kokinya.

Dengan panik, pelayan itu berlari kedapur dan menyampaikan protesan si pelanggan.

Baru kali ini ada pelanggan yang protes dengan masakannya. Tapi, bukan koki yang baik kalau tidak mau menerima protesan.

Bersama pelayan itu, Naruto menemui pelanggan yang memprotes masakannya tadi.

Ternyata seorang gadis. Topi snapbacknya terlalu menghalangi wajahnya sampai Naruto tidak bisa melihat jelas siapa gadis ini.

“Ma-maaf nona, apa ada yang salah dengan masakanku?”

“Masih asin. Kenapa Ketchup Rice mu selalu asin seperti ini?”

Kalimat itu membuat Naruto membatu ditempat. Pikirannya masih belum berani menerkan siapa ini. Matanya tak lepas dari gadis itu. Sampai akhirnya, gadis itu mengangkat wajahnya. Menatap Naruto tepat dalam matanya.

“Kalau masakanmu asin begini terus, pelanggan akan lari dan tak mau datang kemari.”

Air mata Naruto kembali menggenang. Ia belum berani berbicara apa-apa. Ia masih belum mau mempercayai penglihatannya. Hatinya masih belum berani menerka.

“Setidaknya sebelum kau pergi, dengarkan dulu apa yang akan aku katakan padamu.” Ujar Hinata sembari mendekat kearah Naruto dan memeluk pria itu, “..aku mencintaimu. Aku kesulitan tanpamu akhir-akhir ini. Aku bahkan hampir gila karena terlalu merindukanmu. Tanpa senyuman hangatmu dipagi hari, aku seperti tidak bisa menjalani hariku itu. Terlalu hampa dan menyakitkan. Pulanglah. Aku tidak bisa sendirian tanpamu.”

Butir air mata Naruto menetes tanpa bisa ditahan. Apa ini mimpi? Kalau ini mimpi, Naruto berharap tak ada yang membangunkannya. Karena kalau bisa selamanya ia ingin tinggal dalam mimpi ini, “..kau mau kan, kembali bersamaku lagi? Berikan aku satu kesempatan lagi untuk menebus semua kesalahanku padamu?”

“I-iya. Tapi aku tidak mimpi kan?”

Pertanya Naruto itu membuat Hinata kembali menjauhkan tubuhnya sedikit dari Naruto, menatap dalam mata pria itu dan mengecup lembut bibirnya.

Semuanya terasa nyata. Ini bukan sekedar mimpi. Hinata memang disini. Gadis itu disini dan memintanya kembali. Apa lagi yang Naruto harapkan. Tak ada harapan lain lagi, semuanya terasa sempurna. Seperti tak ada lagi hal lain yang ingin diminta Naruto pada Tuhan. Hanya gadis ini dan semuanya menjadi sempurna.

“Ayo kita kembali.”

“..cinta butuh pengorbanan dan banyak kesabaran..hanya dengan itu kau bisa memenangkan pertempuran sulit dalam memperjuangkan cintamu..memang tak selalu menempuh jalan indah..tapi percayalah, akan selalu berakhir indah kalau kau terus bersabar dan bertahan..kisah cinta ini masih panjang..masih banyak lembar yang harus kami tulis..dan tentunya, kali ini hanya kisah indah yang akan kami tulis dalamnya..selama aku mencintaimu…tak ada hal  lain yang kuinginkan lagi..hanya kau, dan semuanya menjadi sempurna..Sesempurna rasa Ketchup Rice yang dibuat dengan penuh cinta..Ketchup Rice yang hanya dibuat untukmu seorang..”

 

 

The End..

Bagaimana dengan FF anime perdana author ini? Kasi komentar kalian yaa?? supaya author tau suka atau gk :D makasih sudah membaca :D dan tunggu karya-karya author selanjutnya :D

Two Shot Anime Fanfiction : Ketchup Rice for You

Hai..hai..author is back again! Hehe..kali ini author mencoba keluar dari zona aman *Tidak membuat FF tentang kang Mas Marc dan Mbake IU* Dan author mencoba memberi warna baru pada blog author ini…Ini adalah FF anime pertama author..mind to read it? Hope you enjoy!

Maaph kalo tidak dikasi tau cast nya siapa aja…

*****************************

“..menikah dengannya, adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Dia hanya benalu untukku. Setidaknya, begitulah yang kupikirkan diawalnya. Memperlakukannya seakan dia tidak pernah ada disisiku. Melupakannya. Menyakitinya agar dia sadar dan segera pergi. Tapi, yang kulakukan makin membuatku sadar, bahwa semakin banyak aku melukainya, semakin ia mencintaiku dan terus bertahan disisiku. Sampai..hari itu datang..dimana ia mulai menyerah untuk bertahan..”

 

Bunyi tacu yang beradu dengan spatula terdengar seperti nada indah dari dapur. Bau khas masakan itu mulai tercium sampai ke hidung gadis itu, membuatnya segera terjaga dari tidurnya. Kakinya pun melangkah kearah dapur, matanya membelalak ketika seorang pria tersenyum manis kearahnya sembari meletakan sepiring Ketchup Rice diatas meja makan.

“Se-selamat  pagi, nona Hinata.” Sapanya hangat dengan senyum lembut melengkung diwajahnya, “..ma-maaf, kalau pagi ini Ketchup Rice lagi.”

Tanpa menjawab apapun, gadis itu duduk didepan meja makan dan langsung menyantap Ketchup Rice itu dalam diam. Tak ada sapaan balik. Tak ada senyum maupun ucapan terima kasih.

Setidaknya, itulah yang terjadi setiap paginya. Dan bagi Naruto, semua hal itu sudah menjadi hal biasa baginya. Namun, entah kenapa, akhir-akhir ini terasa lebih menyakitkan dari biasanya.

“A-aku akan pergi belanja bahan-bahan makanan. Nona mau pesan apa?”

“….”

“Ba-bagaimana kalau aku membuatkanmu Kari siang ini?”

“…..”

“No-nona pulang jam be..”

“Masih asin. Siang ini aku makan diluar, dan mungkin akan pulang larut. Jangan tunggu aku.”

Hinata berdiri dan langsung melengos kekamar mandi tanpa mau mendengar sepatah kata lagi dari Naruto. Sedang pria itu mendunduk sembari tersenyum pahit. Matanya mengabur, butir-butir bening itu kembali menggumpal dipelupuk matanya.

“Kalau begitu lain kali saja..ya, lain kali..” gumamnya lebih pada dirinya sendiri.

Siang itu, Naruto baru saja keluar dari swalayan dan tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu. Sesuatu yang tak seharusnya dilihat seorang suami dilakukan oleh istrinya.

Itu Hinata. Naruto yakin betul itu. Tapi siapa pria itu? Kenapa mereka begitu mesrah? Mereka terlihat seperti saling mencintai satu sama lain.

Ya. Naruto lupa. Kalau dia hanyalah kesalahan untuk gadis itu. Dia hanyalah benalu untuk gadis itu. Dia hanyalah bayangan yang tak terlihat oleh gadis itu. Bukan siapa-siapa.

Dengan langkah lesu, ia meninggalkan halaman swalayan itu dengan Bus. Hatinya sakit. Ya, sangat sakit. Dia begitu mencintai gadis itu dan terus berusaha bertahan dengan harapan, gadis itu akan sadar dan membalas cintanya.

Namun, semakin hari. Harapan itu makin terasa mustahil untuk jadi kenyataan. Apa harus menyerah? Ya. Mungkin lebih baik begitu. Toh, cinta tak harus memiliki. Lagi pula, akan sangat menyakitkan memaksakan seseorang yang tidak mencintai kita, untuk terus hidup bersama. Begitulah pikiran Naruto sepanjang perjalanannya pulang.

Setidaknya..harus ada perpisahan manis sebagai ucapan terima kasih atas hari-hari yang sudah terlewati bersama…meski tidak indah, tapi tetap berkesan untukku…

Naruto kembali mengingat akan hari dimana sebuah surat datang dirumah mungilnya. Entah harus senang atau sedih, tapi Naruto meng-iyakan surat kontrak itu. Surat kontrak pernikahan sebagai jaminan pelunasan hutang kedua orang tua Naruto pada ayah Hinata.

Ya. Hinata..gadis manis yang sudah dari lama dicintai Naruto, bahkan sebelum surat itu datang.

Dan pernikahan itu diadakan. Hidup rumah tangga mereka jalani. Semuanya terasa menyakitkan, tapi Naruto terus bertahan. Bukan karena kedua orang tuanya, tapi karena cintanya pada Hinata. Bahkan sampai hutang kedua orang tua Naruto lunas, pria itu tetap kukuh bertahan disamping gadis itu meski tak pernah dianggap ada oleh gadis itu.

Tanpa sadar, kenangan itu membuat bibir Naruto mengeluarkan isakkan tangis. Butir bening itu mengalir deras dari pelupuk matanya.

“Mungkin akan sangat menyakitkan untukku. Karena aku tidak bisa jauh darimu. Aku sangat mencintaimu, bahkan lebih dari apapun. Tapi aku juga tidak bisa menyiksamu dengan hidup lebih lama denganku.”, “..aku hanya ingin kau bahagia..hanya itu permintaanku.”

“Ketchup Rice adalah masakan pertama yang kumasakkan untukmu setelah kita menikah. Dan akan menjadi masakkan terakhir yang kumasakkan untukmu. Kuharap kau tidak melupakan rasa Ketchup Rice, yang sering kau komentari ‘asin’ itu. Rasa Ketchup Rice yang kubuat dengan cinta untukmu.”

*************************

“Bagaimana dengan suami mu?”

“Entahlah kak..aku ingin memaki diriku sendiri. Entah kenapa aku terus bersikap dingin padanya. Padahal aku..”

“Sudah mulai mencintainya?”

Hinata mengagguk menanggapi pernyataan Neiji. Kepalanya tertunduk, wajahnya merona. Ya. Entah sejak kapan, gadis itu mencintai Naruto. Entah sejak kapan, Hinata selalu berdebar dan tak berdaya ketika Naruto menyapanya dengan senyum lembut tiap pagi. Bahkan, Hinata sendiri bingung dengan sikapnya yang sering memperhatikan wajah teduh Naruto saat tertidur dimalam hari.

“Kau hanya perlu membuang sikap egoismu. Tunjukkan padanya dengan sikapmu, kalau kau malu mengatakannya.”

“Bagaimana aku harus bersikap?”

“Mulai lah dengan tidak melarikan diri seperti ini, hm?”

Hinata tersenyum. Gadis itu kemudian menghambur kedalam pelukan kakaknya, “..terima kasih, kak. Aku selalu merasa lebih baik setelah berbicara denganmu.”

“Itulah gunanya seorang kakak untuk adiknya. Sekarang pulang lah, mungkin dia sudah siapkan makan siang untukmu.”

“Tidak kak. Tadi aku sudah bilang padanya kalau aku akan pulang larut. Jadi kemungkinan dia tidak memasakkan makan siang.”

“Lalu? Sampai kapan kau akan memperlakukannya seperti ini sedang tadi kau bilang akan berubah?”

Hinata terdiam. Gadis itu berpikir sejenak. Dan beberapa saat kemudian, senyum manis melengkung dibibirnya.

“Baiklah, aku akan pulang sekarang. Tapi, kau tau tidak restoran enak disekitar sini? Aku mau membeli makanan dan dibawa pulang.”

“Akan aku antarkan kalau kau mau.”

“Boleh.”

Hinata pulang dalam diam. Bibirnya terasa kaku hanya untuk mengucapkan salam. Hingga dilihatnya Naruto yang baru saja keluar dari kamar dan menyapanya lebih dahulu sembari tersenyum lembut seperti biasanya.

“No-noa sudah pulang? Kupikir akan pulang larut. Maaf tidak memasakkan makanan.”

“Sudahlah, jangan dipikirkan. Ini aku belikan makan siang, dan…a-ayo kita makan bersama.” Ucap Hinata akhirnya.

Naruto sedikit terkejut dengan sikap Hinata hari ini, tapi bayangan kejadian tadi kembali berkelabat dikepalanya, membuat segala ekspetasinya hilang menguap begitu saja.

Toh, mereka  tetap makan dalam diam. Bahkan sehabis makan, Hinata langsung bangkit begitu saja dan meninggalkan Naruto sendiri dimeja makan.

“Bodoh kau Hinata! Kenapa bersikap begitu lagi!” maki Hinata pelan pada dirinya sendiri, ketika berada dalam kamar mandi. Gadis itu tak henti-hentinya merutuki sikapnya tadi yang masih saja dingin pada Naruto.

“Ini tidak boleh terus-terusan seperti ini. Aku harus bisa membuang egoku..Ya, harus bisa.”

Gadis itu keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya. Dilihatnya Naruto yang sibuk memotong Lobak dan berniat untuk membantu pria itu kali ini memasak didapur. Toh, sesekali, sebagai kepala chef sebuah restoran terkenal, Hinata harus memasakkan sesuatu untuk Naruto.

“Aduh!” keluh Naruto sembari memegang jemarinya yang tak sengaja teriris pisau ketika memotong lobak tadi.

Dengan cepat Hinata meraih tangan Naruto dan mencuci luka pria itu sebelum ia mengambil kotak obat dan mengobati luka Naruto.

Pria itu hanya memperhatikan dalam diam, hatinya teriris. Kenapa sikap gadis ini berubah. Makin membuat Naruto tidak yakin dengan keputusannya.

Tanpa sadar, air matanya kembali menetes dan segera mengundang perhatian Hinata yang sedari tadi sibuk membaluk jemari Naruto.

“Kenapa menangis? Apa sebegitu sakitnya?”

“I-iya.” Kilah Naruto sembari mengusap cepat kedua matanya.

“Sudah. Kau duduk saja, biar aku yang memasakkan makan malam, hm?” ujar Hinata dengan lembut sembari mendekatkan jemari Naruto yang terluka tadi ke bibirnya dan mengecupnya lembut, “..semoga cepat sembuh.” Bisik Hinata sembari tersenyum.

Melihat perlakukan Hinata membuat Naruto makin tidak yakin dengan keputusannya. Tapi, semuanya sudah Naruto putuskan. Dia tidak bisa melihat Hinata terus berakting seperti ini. Meski pun sikapnya berubah, tapi Naruto yakin, gadis itu tersiksa.

Naruo kembali menangis dalam diam. Ditahannya isakkan dari mulutnya agar tak diketahui gadis itu.

Setidaknya ada hal manis yang bisa ku kenang setelah ini…

*************************

Pagi itu, Naruto sengaja bangun lebih awal. Ditatapnya wajah Hinata, yang tumben semalam memintanya tidur bersama seranjang, dengan lembut. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.

“Kau tidak akan tersiksa lagi, Hinata. Kau bebas sekarang..” bisik Naruto pelan,sedang butir-butir air mata kembali menggenang dipelupuk matanya.

Pria itu bangkit dari atas kasur. Langkah kakinya mantap menuju dapur. Ini Ketchup Rice terakhir…maaf tidak bisa memberikannya langsung padamu…karena, aku tidak yakin bisa pergi setelah melihat wajahmu..

Dengan hati-hati Naruto memasakkan Ketchup Rice itu, sedang hatinya terus berdoa, semoga gadis itu tidak terjaga dan menemuinya didapur.

Dan doanya terjawab. Sampai Naruto selesai berkemas pun gadis itu masih terlelap.

Perlahan Naruto mendekati ranjang gadis itu dan mengecup keningnya.

“Aku akan sangat merindukanmu, Hinata. Aku mencintaimu.” Bisik Naruto kemudian beranjak pergi dari situ.

Kau pasti bahagia setelah ini..

 

..to be continued..

As Long As You Love Me #11 (Part 2)

image

This is it! Happy Reading :D

 

***************************

 

 

Part 11 (Final) : Bagian Kedua

 

Besok acara pertunangan antara Ji Eun dan Jorge akan dilaksanakan. Gaun yang akan dikenakan Ji Eun besok pun sudah dipersiapkan.

Bahkan, gaun biru muda lembut itu, sudah menggantung rapi dirak pakaian milik Ji Eun. Sangat cantik jika dipadu padankan dengan kulit putih milik Ji Eun.

Namun entah mengapa, semuanya terasa menakutkan bagi Ji Eun. Bahkan, gadis itu tak berani sedikit pun membayangkan apa yang akan terjadi, jika besok rencana kakaknya juga Marc itu gagal. Mungkin akan lebih baik dia mati dari pada harus bertunangan dan menikah dengan pria seperti Jorge. Pria licik dan menjijikan.

Malam sudah semakin larut dan jarum jam pun sudah menunjuk pukul 12 malam. Namun, mata gadis itu tak kunjung terasa berat sedikit pun. Rasa khawatir dan takut memaksa matanya untuk terus terjaga.

Gadis itu menatap layar ponselnya. Marc. Ya, pria itu bahkan tak menghubunginya. Disaat-saat seperti ini, gadis itu membutuhkan dukungan. Terlebih dukungan dari pria itu.

Kau kemana, hah? Apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tidak bisa tenang..

Gadis itu akhirnya berbaring. Namun matanya tak ia pejam. Ditatapnya langit-langit kamarnya dengan tatapan cemas. Air mata bahkan sudah menggenang dipelupuk matanya. Dan mungkin, dalam hitungan detik saja, air mata itu sudah akan jatuh membasahi pipinya.

Eomma..aku harus bagaimana sekarang? Bagaimana aku bisa menenagkan diriku sendiri..bagaimana? aku butuh eomma disini..

Gadis itu memutar sedikit tubuhnya kearah jendela. Menatap sayu kearah jendela itu, berharap seseorang berdiri dijendela itu dan memberinya kekuatan. Pandangan gadis itu kabur, air mata yang menggenang mulai menutup pandangannya. Sampai sebuah visualisasi khayalan akhirnya muncul didepan jendela kamarnya. Dan perlahan membuka jendela itu kemudian masuk kedalam.

Ji Eun kembali terduduk diatas kasurnya dan menatap lekat pada visualisasi khayalannya itu. Sangat sempurna, sesuai dengan khayalannya.

Perlahan, sosok yang sudah tersenyum lembut itu, merengkuh wajah Ji Eun dan mengusap kedua pipi gadis itu yang sudah basah karena air mata.

“Hei..aku dengar kau memanggilku. Aku sudah disini.” Bisik lembut khayalan Ji Eun itu.

Khayalan yang terasa dan terdengar nyata buat Ji Eun. Bahkan Ji Eun bisa merasakan tangan besar nan hangat itu mengusap lembut pipinya.

Ji Eun masih terdiam. Masih menganggap kalau khayalannya yang tervisualisasikan ini terlalu sempurna dan terkesan nyata. Gadis itu mengangkat tangannya, membalas merengkuh wajah pria dihadapannya itu dengan kedua tangan mungilnya.

Senyum lembut itu. Tatapan hangat penuh sayang itu. Ji Eun merindukan itu. Bahkan hanya dengan tatapan juga senyum lembut itu, rasa gunda dan ragu yang sedari tadi menghantuinya serasa hilang terbang entah kemana. Ada kekuatan baru yang ia rasakan.

Sampai akhirnya, sosok khayalan itu menyerang Ji Eun dengan lumatan lembut dibibir mungil gadis itu. Terasa hangat dan nyata. Sampai akhirnya Ji Eun berani mengambil kesimpulan, kalau ini semua bukan khayalan. Ini nyata. Marc ada disini. Sekarang sedang menciumnya lembut.

Ciuman itu makin dalam dan manis. Membuat keduanya enggan melepas tautan itu. Yang kemudian membuat Ji Eun kembali terbaring diatas kasurnya, dengan masih belum melepaskan tautan bibirnya dengan Marc.

Ciuman itu makin panas, hingga desahan-desahan kecil mulai terdengar dibibir mungil Ji Eun. Bibir Marc yang tadinya hanya melumat rakus bibir Ji Eun, kini mulai menjelajah ke leher gadis itu.

Ji Eun sadar ini sudah terlalu jauh, hingga akhirnya gadis itu mendorong pelan dada Marc, “..Marc..jangan..” bisik gadis itu setengah memohon.

Pria itu tersenyum, kemudian mengecup lembut kening Ji Eun, “..aku terlalu merindukanmu. Bahkan aku sampai berkhayal kalau kau memanggilku.”

Ji Eun bangkit dari kasur, kemudian menatap dalam kemata Marc dan kembali merengkuh lembut wajah pria itu, “..aku memang memanggilmu. Aku membutuhkanmu. Aku takut dan ragu tadi..tapi, karena kau sudah ada disini, semuanya hilang. Terima kasih, Marc.”

Lengan kekar itu menggiring tubuh mungil Ji Eun untuk bersandar dalam dekapannya, “..aku tak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu, Ji Eun. Aku bisa pastikan itu.”

“Aku tau, Marc..aku tau..dan kumohon, kau jangan pergi sampai aku tidur. Aku tidak bisa tidur..”

“Baiklah.”

Marc kembali membaringkan tubuh Ji Eun diatas kasur, dan mengusap lembut kening gadis itu hingga terlelap. Wajah manis yang diterpa sinar bulan itu tampak sangat sempurna. Bahkan Marc berharap kalau ia bisa melihat wajah cantik ini setiap harinya.

Kita akan bersama-sama..tidak akan terpisahkan..

********************

 

Ji Eun baru saja selesai dirias. Ia benar-benar nampak sangat cantik hari ini. Bahkan, saat mematut dirinya sendiri dicermin, Ji Eun sedikit pangling pada dirinya sendiri.

“Ku pikir kau akan melarikan diri, hm?”

Ji Eun tak berbalik. Dari patulan bayangan dicermin itu saja, Ji Eun sudah dapat dengan jelas menatap wajah kakaknya.

“Aku hanya tidak mau mengacau rencana ini.”

“Kau tidak takut kalau-kalau rencana ini gagal?”

“Aku percaya padamu dan Marc. Tidakkah itu cukup?”

Ji Hyun terdiam. Tidak biasanya Ji Eun setenang ini, “..ada apa denganmu?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa. Memangnya kenapa?” sahut Ji Eun cepat dengan senyum manis mengembang diwajahnya.

“Bagus lah kalau begitu. Persiapkan dirimu, pertunjukannya akan segera dimulai.”

“Ku harap pertunjukkan hari ini menghibur.”

Ji Hyun hanya mengangguk sembari tersenyum menanggapi ucapan Ji Eun, “..baiklah, sebaiknya aku segera keluar dan mempersiapkan segala sesuatunya, hm?”

Ji Hyun keluar tanpa menunggu balasan dari Ji Eun lagi. Setidaknya, melihat gadis itu lebih tenang saja sudah membuat Ji Hyun lega.

Aku percaya pada oppa dan Marc. Dan itu cukup. Ya, bahkan lebih dari cukup.

Ji Eun menatap mantap bayangannya dicermin sebelum akhirnya bangkit dari situ dan berjalan keluar. Langkahnya tak gemetar, hatinya mantap dan berani. Ia tau Marc dan kakaknya tak akan asal berjanji padanya. Mereka akan menepati janji mereka. Terlebih Marc. Tak akan ada pria mana pun yang bisa mengambilnya dari Marc. Itu sudah cukup. Dan Ji Eun yakin itu.

“Kau cantik hari ini.”

Suara itu seketika menghentikan langkah kaki Ji Eun. Ingin gadis itu menatap dingin ke arah sang pemilik suara, namun entah mengapa dengan senyum manis juga tatapan yakin, gadis itu berbalik menatap sang pemilik suara, “..kau juga sama tampannya hari ini. Mungkin hari ini akan menjadi hari yang berharga dan tak akan terlupakan olehku.”

“Begitu kah? Apa lagi aku. Ayo..”

Ji Eun menyambut uluran tangan Jorge dengan lembut. Senyum penuh kemenangan terus menghiasi wajah manisnya. Ya, hari ini akan menjadi hari yang tak akan terlupakan…sampai kapan pun..

*********************

 

            Semua tamu sudah berdiri, dengan tepuk tangan meriah mereka menyambut Ji Eun dan Jorge yang berjalan beriiringan. Dengan senyum merekah yang benar-benar Ji Eun rekayasa sedemikian rupa, gadis itu berjalan dengan anggun disamping Jorge seraya merangkul lengan pria itu.

Dalam hatinya gadis itu terus berharap kalau ini semua segera berakhir. Ia sudah cukup lelah terus menerus mengumbar sandiwara seperti ini. Menurtnya terlalu memuakkan.

Sesampainya diatas panggung, gadis itu mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan itu, dan benar saja sosok Vale ada diantara tamu-tamu undangan dalam aula itu. Gadis  itu sedikit tersentak kaget, lagi matanya mencari sosok kakaknya dan Marc, namun kedua orang itu tak ditemukannya. Seketika rasa cemas mulai merasuk hatinya, Kemana mereka berdua?

Ketika seorang wanita masuk membawa cincin pertunangan, sosok Vale juga mulai maju kedepan, seakan dia ingin melihat lebih dekat lagi prosesi pertukaran cincin itu dengan mata kepalanya sendiri. Lebih seperti ingin memastikan sesuatu.

Kepanikan terjadi ketika Jorge sudah mengambil salah satu dari dua cincin itu. Wajah Ji Eun yang sedari tadi setenang air, kita berubah panik dan cemas.

“Jangan berharap kalau Marc akan menyelamatkanmu. Untuk masuk kesini pun dia tidak berhak.” Bisik Jorge dan seketika membuat mata Ji Eun terbelalak marah, “..kau tau, dan kau lihat Vale disini kan? Bayangkan saja apa yang akan terjadi pada pria kesayangnmu itu kalau dia berani ada disini.” Tambah Jorge sembari menggapai tangan kanan Ji Eun. Dan dengan sigap, gadis itu menghempas tangan Jorge. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Peduli setan dengan rencana kakaknya. Ini semua sudah terlalu lama dan makin memuakkan.

“Kalau begitu, kau juga jangan terlalu berharap bisa memasangkan cincin itu ke jariku!”

Seruan lantang Ji Eun itu sontak membuat para tamu terheran-heran. Banyak yang sudah saling berbisik satu sama lain. Mempertanyakan apa yang terjadi diatas sana. Bukankah ini adalah hari bahagia kedua anak itu?

Belum sempat gadis itu berlari turun, seorang pria yang tak lagi asing, maju dan menghadang Ji Eun.

“Va-Vale?”

“Kau harus melannjutkann pertunangan ini kalau kau menyayangi ayahmu, gadis manis.”

Ji Eun mengernyitkan dahinya. Dan akhirnya gadis itu teringat. Dari dai masuk kemari sampai sekarang, ayahnya tak nampak dimana pun. Dimana pria paruh baya itu? Apa Vale sedang menyembunyikannya sebagai tawanan?

“Naik kembali keatas dan lanjutkan pertunanganmu. Atau…kau lihat tombol merah ini. Entah apa yang akan terjadi pada ayahmu kalau tombol merah ini ku tekan.”

Ji Eun tak bisa menjawab apa-apa. Dan dengan patuh, juga sedikit takut, gadis itu kembali naik  ke atas panggung itu dan pasrah ketika Jorge kembali meraih tangan kanannya.

Oppa…Marc…selamatkan aku…apa yang harus aku lakukan sekarang?

“Pemaksaan seperti itu bukanlah cinta, Jorge. Apa kau sanggup hidup dengan seseorang yang bahkan sedikitpun tidak pernah mencintaimu?”

Suara itu seketika membuat pandangan para tamu tertuju kearahnya. Pemilik suara itu berjalan mendekat ke arah panggung, dimana Jorge dan Ji Eun berdiri, sedang Vale terus mengamat dari sudut panggung itu.

“Oppa..” bisik Ji Eun hampir menangis.

“Lagi pula, semuanya sudah berakhir Jorge. Dan Vale..jangan bersembunyi disitu. Kau seperti vampir yang takut matahari membakarmu.”

Disinggung membuat Vale akhirnya keluar dari persembunyiannya. Munculnya Vale membuat semua tamu tercekat terkejut. Seorang mafia dengan kejahatan terkenal, entah sejak kapan berada diantara mereka. Dan herannya, ia bisa setenang itu dalam waktu yang cukup lama dan tak melakukan apapun.

“Kolonel Lee Ji Hyun. Ku pikir hanya jabatan mu saja yang tinggi. Padahal otakmu juga lumayan cerdas. Tapi tidak secerdas itu, anak muda.” Ujar Vale sembari menunjukan sebuah remot kontrol bom waktu.

“Oh ya..soal itu. Tekan saja tombolnya. Kurasa ada yang rusak.” Balas Ji Hyun santai tanpa memperdulikan longoan Ji Eun.

“Owh..kau menantangku. Baiklah, seperti permintaanmu..kolonel.”

Ibu jari Vale menekan tombol merah bulat itu dengan yakin. Namun, hal yang ia rancang itu bahkan tak terjadi. Tak ada ledakan atau apapun yang terjadi.

“Sudah kubilang kan? Mungkin ada yang rusak. Oh ya, lain kali kalau kau punya rencana serapih itu, jangan sampai ketahuan oleh orang lain.”

“Apa..apa maksudmu?!” seru Vale panik dan sedikit geram.

“Iya, daddy…semuanya sudah cukup.”

Suara itu lantas membuat hati Vale makin membuncah marah, “..Laia..kau..”

“Dendam ini sudah keterlaluan, daddy. Aku bahkan tidak mengenalmu lagi.”

Vale tak membalas. Diliriknya Jorge yang  berada dekat dengan Ji Eun dan dengan sedikit aba-aba. Jorge langsung menodongkan pistol tepat dikepala gadis itu.

“Kalau aku tidak bisa memiliki Ji Eun. Berarti tak seorang pun bisa memilikinya. Akan lebih baik dia tidak ada.”

Ji Hyun terlihat panik. Tak ada perkiraan seperti ini dalam rencananya. Karena menurutnya, Ji Eun akan sedikit gesti saat dia datang tadi dan segera berlari kearahnya.

Baru saja jemari Jorge akan menarik pelatuk itu, sebuah tembakan peluru bius menancap tepat ditangan Jorge yang memegang pistol itu. Membuat Jorge sedikit lemah dan melepaskan cengkramannya pada Ji Eun. Dan baru saja Ji Eun akan melarikan diri, kembali lengan mungilnya ditarik paksa oleh Vale yang memang ada disitu.

“Siapa yang menembakan peluru itu, hah?!” tanya Vale geram.

“Aku.”

Sosok yang menjawab itu keluar dari  kerumunan orang. Dengan seragam FBI lengkap, Marc berjalan tanpa mengalihkan pandangannya dari Ji Eun dan Vale, “…kembalikan dia. Atau kali ini yang kutembakkan bukan hanya peluru bius.”

“Coba saja. Akan kupatahkan tangan dan leher gadis ini kalau kau berani melakukannya.”

Mendengar seperti diremehkan seperti itu oleh Vale, membuat telinga Ji Eun sedikit panas. Wajah gadis itu tampak geram dan segera terbaca oleh Ji Hyun yang mulai tersenyum geli.

“Oops..sepertinya kau meremehkan orang yang salah, Vale.” Gumam Ji Hyun.

“Sepertinya kau tidak membaca dataku dengan baik, tuan Valentino Rossi.”

Dengan segera dan tanpa diperkirakan Vale, gadis itu melawan balik, mengeluarkan semua kemampuan yang ia dapat dari kelas Taekwondo yang ia ikuti sampai mendapatkan sabuk hitam itu.

Tentu saja, Vale langsung terkapar tak berdaya dan membuat gerombolan pria berseragam FBI lengkap dengan mudah menangkap Vale, yang memang tak bisa melawan lagi.

Tanpa menunggu lagi, Ji Eun berlari menuju Marc dan memeluk pria itu. Seberani apapun gadis itu tadi, tetap saja ada sedikit rasa takut yang merasuk hatinya jika Marc dan kakaknya tidak datang tadi.

“Kau kemana saja? Aku hampir menangis tadi. Kau kan tau aku tidak bisa menangis didepan banyak orang.” Ujar gadis itu sembari terisak didada bidang Marc, “..dan lagi, kenapa kau tidak pernah cerita kalau kau itu FBI?”

“Misi rahasia, nona Lee.”

“Lihat, kau sekarang seformal itu padaku, dasar bodoh!”

Marc mempererat pelukannya, seakan tak membiarkan pelukannya itu terlepas lagi.

“Kali ini, kita tidak akan terpisahkan lagi. Aku menepati janjiku, kan?” gumam Marc dikepala Ji Eun yang hanya dibalas anggukkan gadis itu.

*******************************

 

Bibir gadis itu mengerucut, pipinya kembung membuatnya sangat menggemaskan. Hidungnya memerah karena dinginnya cuaca dimusim salju ini. Tangannya terlipat kesal sembari seorang pria dihadapannya terus berusaha meminta maaf.

“Maaf, tadi ada sedikit masalah. Kau tau..kakakmu sangat merepotkan sebagai atasan.”

“Tidak ada alasan! Kenapa kau tidak memberitahuku dan membiarkanku menunggu disini sampai hampir membeku.” Ujar gadis itu sembari merajuk.

“Maafkan aku. Lain kali tidak akan begini lagi. Aku janji.” Mohon Marc dengan tatapan berbinar, senjata andalan yang selalu dia gunakan untuk meminta maaf.

“Jangan menatapku begitu. Aku masih kesal. Kau tidak lihat hidungku sampai merah begini. Dan aku sangat kedinginan disini.”
“Maafkan aku, ya? Kalau begitu, sebagai permintaan maafku, aku akan membelikanmu novel apapun yang kau mau.”

Senyum licik mengembang diwajah Ji Eun. Mata gadis itu membulat menatap Marc penuh harap, “..apapun?”

“Iya. Apapun.”

“Sebanyak apapun?”

“Iya. Sebanyak apapun.”

Gadis itu tersenyum lebar kemudian mengamit lengan Marc dan menarik pria itu tanpa aba-aba, “..kemarin aku lihat ditoko buku kalau ada novel bagus. Kisahnya sangat menarik..”

“Sebuah? Atau beberapa?”

Marc seakan ingin kembali menarik janjinya tadi. Jika bersama Ji Eun, dan berbicara soal membeli novel, gadis itu bisa menghabiskan semua isi dompet Marc hanya dalam satu kali masuk toko buku saja.

“Jadi..kau tidak mau?” bibir gadis itu kembali mengerucut, pipinya kembali ia kembungkan.

“Baiklah..baiklah. Terserah kau saja.”

“Bagus. Karena ada beberapa buku yang harus aku beli.”

Marc hanya menghela napas panjang kemudian mencubit gemas hidung Ji Eun yang memerah itu, “..hidungmu seperti hidung badut. Merah.”

“Makanya jangan dicubit lagi.” Omel gadis itu memanja.

 

Ya…selama kau mencintaiku…selama kau percya padaku…kita akan terus bersama…setiap hari akan selalu indah…karena kau mencintaiku..dan aku juga mencintaimu…

 

THE END

 

 

Finally…setelah lama hiatus akhirnya author bisa menyelesaikan FF ini juga…maaf karena telah lama menunggu author…penyelesaian FF ini juga butuh perjuangan juga loh saudara-saudara sekalian..hehe :D Akhirnya, author mau mengucapkan terima kasih karena sudah mengikuti ‘As Long As You Love Me’ ini dari awal sampai akhir…terima kasih juga untuk kritik dan saran yang selalu membangun author untuk  menulis lebih baik lagi.

Akhir kata *thor..lu kayak pidato aja daah!* Author ucapkan limpah terima kasih :D dan ditunggu, karya-karya author selanjutnya :D

Oh ya, buat lu orang yang penasaran sama mukanya Lee Ji Hyun (kakanya si Ji Eun) ini author kasi liat..jangan jatuh cinta, ya?? *kagak thor, tenang aja*

131-600x347

As Long As You Love Me #11 (Part 1)

image

Happy reading guys!

(*segala bentuk penjelasan akan dijelaskan setelah kalian selesai membaca*)

 

*********************

 

 

Part 11 (Final) : -Bagian Pertama-

 

Undangan pertunangan sudah disebar. Dan  seminggu lagi, acara pertunangan itu dihelat disebuah aula megah yang Ji Hyun sewakan dari sahabatnya. Sedang Ji Eun. Jangan ditanya lagi, gadis itu bahkan tak lagi punya semangat hidup. Apa lagi, sudah 3 minggu lebih Marc tidak pernah menampakkan batang hidungnya didepan Ji Eun lagi. Apa pria itu benar-benar menyerah begitu saja? Batin Ji Eun.

Semuanya terkesan santai. Bahkan Ji Hyun beberapa hari ini pun hanya bermalas-malasan dirumah seperti dia yang biasanya. Seakan tak akan ada yang terjadi jika pertunangan Ji Eun dan Jorge benar-benar terjadi. Membuat Ji Eun sedikit gemas dengan sikap masa bodo kakaknya itu.

Sore itu, Ji Eun hanya mengetuk-ngetuk cemas jarinya diatas meja riasnya. Tak ada yang ia lakukan. Hanya duduk dan berpikir keras.

Kalau kau benar-benar mencintaiku..ayo datang dan selamatkan aku, Marc..aku mohon..

Ji Eun menenggelamkan wajahnya dilengannya. Menutup mata sejenak. Bermimpi sejenak. Bermimpi kalau pangeran berkuda putihnya itu akan datang dan membawanya pergi dari kehidupan tragis yang ia jalani sekarang.

“Merindukanku?”

Suara itu..suara berat yang lantas membuat kepala Ji Eun terangkat dan dengan refleks berbalik kearah suara tadi berasal.

“Marc?” gumamnya lebih pada dirinya sendiri.

Tidak! Ini khayalanku..hanya khayalan yang tervisualisasikan karena aku terlalu memikirkannya saat ini..ya, dia hanya khayalan…tapi kenapa terlihat nyata?

Perlahan gadis itu berdiri dari meja riasnya. Mendekati sosok yang menurutnya, hanya khayalannya itu. Rasa rindu yang tervisualisasikan dengan sempurna oleh khayalannya.

Tangan gadis itu terulur, berusaha menggapai wajah dengan garis tegas itu. Menyentuh pria yang tengah tersenyum lembut padanya itu.

Nyata! Ini nyata..aku bisa menyentuhnya…hangat…dia bukan khayalan, kan?

Sosok yang dikira khayalan itu pun menyerang Ji Eun dengan lumatan lembut dibibir mungil gadis itu dan menarik tubuh gadis itu kedalam rangkulannya. Dia nyata..senyata rasa ciumannya yang lembut…dia Marc..ya, Marc-ku…

Ji Eun akhirnya membuka mulutnya dan membalas ciuman hangat Marc.

Tautan bibir mereka pun terlepas, namun lingkaran lengan Ji Eun dileher Marc tidak dilepasnya. Gadis itu malah makin memperdalam pelukannya, seakan tak membiarkan Marc pergi lagi kali ini barang seinchi pun.

“Kenapa baru datang sekarang?” tanya gadis itu.

“Banyak yang harus aku kerjakan. Dan..aku juga mencari waktu yang tepat untuk bertemu denganmu.”

Marc membenamkan wajahnya dibahu mungil milik Ji Eun, menghirup aroma collogne bayi yang masih sering Ji Eun gunakan itu. Bau yang sangat khas, yang selalu bisa membuat Marc nyaman saat membenamkan wajahnya seperti ini, “..aku merindukanmu, Ji Eun. Aku bahkan hampir gila karena terlalu merindukanmu.”

“Aku juga Marc, bahkan aku sampai berpikir kalau kau menyerah begitu saja dan pergi meninggalkan aku.”

Marc membuat sedikit jarak diantara mereka dan menatap wajah Ji Eun yang terlihat cemas itu, “..bagaimana mana mungkin aku melakukan itu? Sedangkan alasanku berjuang dan bertahan sampai detik ini adalah kau.”

Suara lembut Marc, yang dipadukan dengan ucapan menyentuh pria itu, membuat hati Ji Eun menghangat. Seperti ada sesuatu yang mengalir didalam hatinya. Sangat hangat dan nyaman.

“Aku mencintaimu, Ji Eun. Dan aku tidak pernah memiliki niat untuk meninggalkanmu.  Itu sama saja dengan aku bunuh diri jika  harus hidup tanpamu.”

“Aku juga Marc. Tapi sekarang bagaimana? Pertunanganku seminggu lagi, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau bertunangan dengan pria seperti Jorge, Marc..aku juga tidak mencintai dia.”

Marc tersenyum sembari menangkup lembut wajah Ji Eun, “..aku bersumpah itu tidak akan terjadi. Kau hanya akan bertunangan, dan menikah denganku. Bukan dengan pria lain.”

Ji Eun kembali memeluk Marc. Gadis itu benar-benar salah jika beberapa hari ini meragukan Marc. Seharusnya dia bisa lebih percaya pada pria itu. Pria yang ia cintai. Dan kembali terngiang apa yang pernah Ji Hyun katakan padanya, “..oppa percaya pada Marc. Dia sangat mencintaimu. Makanya oppa yakin, dia tak akan membiarkan orang seperti Jorge sampai merebutmu darinya, hm?” Oppa saja bisa begitu percaya pada Marc, kenapa aku tidak bisa? Mulai sekarang, aku harus bisa percaya pada Marc. Karena aku tau, dia mencintaiku dan aku hanya akan menikah dengannya, bukan dengan Jorge atau pria mana pun.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

“Kau tentu tau kalau kakak gadis itu tak akan tinggal diam, bukan?”

“Untuk itulah aku datang kemari, Vale. Itulah yang akan aku bicarakan denganmu.”

Pria paruh baya itu menatap lurus tanpa berkedip kearah Jorge yang tersenyum tipis kearahnya, “..apa rencanamu?”

“Tidak susah. Siapkan saja orang-orang terbaikmu untuk acara pertunanganku nanti. Akan kuberitahu tugas mereka saat tiba harinya.”

Jorge tersenyum licik, begitu pula dengan Vale, “..aku selalu menyukai cara berpikirmu, Jorge. Bagus.”

Sedang disudut sana, sepasang mata terus mengamati mereka dengan senyum puas.

[Terima kasih, Laia] ujar seseorang diujung sambungan telepon itu dengan nada puas.

“Tidak masalah.”

Percakapan singkat itu berakhir. Dan gadis bernama Laia itu segera bangkit dari duduknya dan naik ke kamarnya.

Semoga berhasil, Marc. Kalau kau butuh bantuanku, apapun itu..akan aku lakukan untukmu…

Tatapannya terlempar pada pemandangan langit jingga disore itu. Sedang, ingatannya terlempar pada 10 tahun silam.

“Kau harusnya tidak melawan seperti tadi. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Gadis itu terus memebersihkan luka pukulan diwajah anak lelaki itu tanpa perduli ringisan demi ringisan yang keluar dari mulut anak lelaki itu.

“Bagaimana mungkin aku hanya diam saja saat seorang perempuan diperlakukan seperti itu, hah? Aku tidak mau disebut banci.”

“Tapi kau babak belur juga kan?”

“Setidaknya aku melakukan sesuatu dan tidak diam saja. Buktinya kau juga tidak kenapa-kenapa kan?”

Laia menatap lembut kearah Marc, direngkuhnya wajah penuh luka pria itu dan menatap mata coklat milik anak lelaki berusia 11 tahun itu dalam, “..terima kasih, kalau begitu.” Ucapnya sebelum akhirnya mengecup pelan luka yang ada didahi Marc.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Marc dengan wajah mulai merona merah.

“Tidak. Hanya mengikuti saran kakakku. Katanya, luka kalau dicium pasti sembuh.”

“Dia membohongimu!”

Gadis itu tertawa renyah melihat tingkah kesal Marc. Sangat mirip dengan bocah berusia 5 tahun. Sangat lucu dan manis.

Tanpa sadar, air mata Laia jatuh dan membasahi pipinya. Kenangan yang terlampau indah. Kenangan yang mungkin hanya dimiliki olehnya sendiri.

Sakit. Ya, jelas hati gadis itu terasa sakit. Sudah sering kali gadis itu melayangkan protes pada Tuhan. Kenapa bukan dia yang beruntung dan bisa mendapatkan Marc? Bukankah dia yang lebih dahulu bertemu dengan Marc? Bukankah dia yang selama ini selalu ada bersama-sama Marc saat pria itu dalam kesusahan? Gadis itu baru saja masuk dalam kehidupan Marc, tapi kenapa dia yang mendapatkan apa yang paling Laia inginkan? Yaitu hati Marc.

Tapi, apa boleh buat. Diprotes sebagai manapun tetap dia telah kalah. Toh, cinta tak harus memiliki bukan? Alasan satu-satunya yang dapat Laian terima hingga saat detik ini. Kalau Marc memang bahagia dengan gadis itu…kenapa aku harus sedih? Aku juga harus bahagia bukan?

Tanpa sadar, langit jingga tadi sudah berubah gelap. Matahari yang tadi masih bersinar, sudah diganti dengan cahaya bulan dan bintang.

Aku penasaran, apakah gadis itu sudah tau kau yang sesungguhnya Marc? Bagaimana rekasinya nanti kalau dia sudah tau?

..will be continued on last part..

Guys..kalian pasti bingung kan kenapa di Part akhir ini musti ada bagian satunya? (*kayak Hunger Games : Monkingjay Pt 1 aja -_-*) Nah, berikut penjelasannya..Kenapa harus ada dua bagian? Itu karena, kalo author tulis semuanya jadianya KEPANJANGAN! Untuk itulah, author membaginya jadi 2 bagian :D sedikit lebay, ya reader? -_- Tapi itulah…dan, jangan lupa di LIKE atau di COMMENT ya? Saran dan kritik kalian sangat author butuhkan demi perbaikan FF author kedepan…

Terima kasih karena sudah membaca.. :D

As Long As You Love Me #10

image

Setelah UTS..inilah lanjutan As Long As You Love Me yang sempat lama tertunda..

Happy reading guys :D

 

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Part 10 :

            “Sudah kau kerjakan apa yang aku minta?”

“Sudah saya kerjakan, kolonel. Saya juga sudah mengirimkan semua data itu ke file  milik anda.”

“Bagus. Terima kasih kalau begitu. Oh ya, satu hal, kau yakin tidak ada yang curiga, bukan?”

“Saya yakin, kolonel.”

“Baiklah. Kalau ada data tambahan langsung hubungi aku.”

Pria itu kemudian berbalik dan berjalan keluar dari ruang remang yang penuh dengan komputer canggih itu. Senyum tipis pertanda puas mengembang dibibirnya.

Kali ini..dengan cara apa kau akan membela diri lagi Jorge, batinnya. Pria itu lantas menarik ponsel dari saku jasnya dan mulai menekan-nekan layar datar benda pipih itu dengan lincah. Sampai akhirnya, ponsel apple dengan case perak itu ditempel ditelinganya.

“Halo..”, “..semuanya berjalan dengan baik. Tinggal kita tunggu saja hari baiknya.”, “..baiklah. Aku tunggu.”

Sambungan terputus. Dan langkah kaki pria itu membawanya kearah mobil porsche silver miliknya. Dan tak memakan waktu lama, mobilnya sudah menjauh dari area parkir gedung besar –yang didominasi kaca- itu.

“Baiklah. Mari kita mulai permainannya.” Gumam pria itu sembari terus memutar-mutar stir mobilnya dengan teratur.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Ji Eun mengetuk-ngetuk gelisah meja riasnya. Entah sudah berapa lama gadis itu duduk disana tanpa melakukan apapun. Pikirannya penuh dengan perkataan ayahnya pagi.

“Ayah pikir tidak baik kita menunda-nunda pertunanganmu ini. Dan ayah rasa, kau tak memerlukan perawatan seperti itu. Kau sudah sangat cantik tanpa melakukan perawatan apapun, sayang.”

“Tapi, ayah  aku..”

“Lalu kapan? Aku juga setuju saja kalau ayah mau memajukan tanggal pertunangan Ji Eun dan Jorge..tidak baik juga menunda-nunda hari baik Ji Eun.”

Ji Eun hanya bisa memelototi Ji Hyun tak percaya. Entah skenario apa lagi yang sudah disusun kakaknya itu.

“Baiklah. Nanti akan ayah bicarakan lagi dengan Jorge.”

Jenius, Ji Hyun..Jenius..kau bahkan memperparah keadaanku sekarang. Lalu apa yang harus aku lakukan? Berita dari orang-orang Ji Hyun saja belum ada..apalagi Marc..

Suara deru mobil Porsche milik Ji Hyun akhirnya membangunkan Ji Eun dari lamunan dan kecemasannya. Segera gadis itu berlari keluar dari  kamarnya dan segera turun untuk menemui kakaknya.

Pria itu tersenyum lebar ketika melihat adiknya terburu-buru turun dengan wajah panik miliknya, sangat lucu, dengus geli batin Ji Hyun.

“Apa yang mereka katakan?”

Tanpa basa-basi lagi, Ji Eun langsung mencecar kakaknya itu dengan pertanyaan yang sedari tadi berkelabat diotaknya.

“Jangan disini. Ayo ikut aku.”

Ji Hyun berjalan naik kekamarnya sedang Ji Eun terus mengekor dengan cemas dari belakang kakaknya. Jantungnya memompa 2x lebih cepat dari normalnya.

“Apa yang mereka katakan?” tanya Ji Eun lagi, mengulang apa yang ia tanyakan diruang tengah tadi.

“Separuh data Jorge sudah kudapat, sisanya ada pada Marc. Dan dia sama sekali belum menghubungiku. Akan sangat bahaya kalau dia sampai terlambat mendapatkan sisa data Jorge itu.”

“Memangnya kenapa harus menunggu Marc? Toh, cukup data yang oppa dapat saja, kan?”

“Tidak, Ji Eun. Data-data yang oppa dapat ini belum cukup untuk menjebak atau pun menjerumuskan Jorge dalam pernjara bersama Vale. Untuk  itu, oppa butuh Marc juga datanya.”

Ji Eun menatap cemas kearah kakaknya itu. Ada pancaran rasa takut dari tatapan mata gadis itu. Membuat Ji Hyun, dengan refleks, membuka tangannya dan merangkul adik perempuannya itu, “..jangan khawatir..kau percaya pada Marc kan? Teruslah percaya padanya, dia tak akan membiarkanmu jatuh ketangan pria lain.”

“Tapi bagaimana kalau dia terlambat? Bagaimana kalau aku benar-benar harus menikah dengan Jorge? Aku tidak akan bahagia oppa. Aku tidak mencintai Jorge.”

“Kau tau..eomma pernah bilang padaku. Kalau kau mencintai seseorang, dan kau yakini hatimu padamu, maka percayalah padanya. Dia tak akan mengecewakanmu kalau kau yakin dia cinta sejatimu.”

Ji Eun mendongkak sedikit. Mata bulat berwarna coklat milik gadis itu menatap lurus kedalam mata Ji Hyun. Masih ada rasa takut disana. Tapi Ji Hyun berusaha mengerti, “..oppa percaya pada Marc. Dia sangat mencintaimu. Makanya oppa yakin, dia tak akan membiarkan orang seperti Jorge sampai merebutmu darinya, hm?”

Akhirnya gadis itu tersenyum. Meski masih sedikit merasa takut, tapi apa yang diucapkan Ji Hyun ada benarnya. Marc mencintainya. Apa yang perlu ia ragukan dari Marc? Tidak! Ji Hyun benar, kalau Ji Eun sendiri tidak percaya pada Marc, bagaimana mungkin semua ini bisa berjalan dengan lancar?

Gadis itu tersenyum. Senyumnya lebar. Manis. Ji Hyun sedikit terpanah. Senyum itu. Senyum yang paling ia rindukan. Senyuman yang mirip dengan senyuman ibu mereka. Senyuman paling manis yang pernah Ji Hyun lihat seumur hidupnya.

Pantas saja banyak pria yang menyukaimu..kau sama cantiknya dengan ibu…puji batin Ji Hyun. Eomma..terima kasih sudah memberikanku seorang adik yang sangat cantik. Dan maaf aku baru bisa berterima kasih sekarang.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Marc berjalan mantap keluar dari kamarnya. Tak lupa benda pipih yang sedari tadi berdiam disakunya ia keluarkan. Dengan cepat, ia menekan beberapa digit nomer sampai akhirnya ponsel itu ia tempelkan ketelinga. Menunggu jawaban dari seberang sana.

“Temui aku di cafe Daydream. Aku sudah mendapatkan apa yang kau minta.”

[Bagus. Aku segera kesana.]

Percakapan pendek itu pun berakhir. Segera Marc turun kebawah dan keluar dari rumahnya. Dibawah sana, Shanti sudah mempersiapkan mobil Marc seakan ia tau kalau tuan mudanya itu akan keluar dengan BMW Cope kesayangannya itu.

Setelah menyapa dan sedikit mengobrol dengan Shanti, Marc pun tancap gas. Ia tak mau terlambat. Ya, benda kecil yang sangat penting ini harus segera sampai ketangan Ji Hyun. Ketangan si empunya rencana.

Sepertinya aku sudah mulai sedikit paham dengan rencanamu Ji Hyun..tapi, aku bisa jamin, rencana ini tak akan semulus yang kau perkirakan..

Tak memakan waktu lama, BMW  Cope milik Marc sudah terparkir rapih didepan cafe Daydream yang siang itu jarang pengunjung.

Harum semilir kopi serta wangi teh menyambut Marc saat ia masuk. Segera pria itu berjalan kearah lambayan seorang pria berwajah oriental dimeja pojok dekat jendela itu.

“Kau sudah lama disini?”

“Belum. Kupikir kau akan terlambat.”

“Aku tidak akan setega itu membiarkan calon kakak iparku menuggu lama, bukan?”

“Cih! Omonganmu sudah sama menjijikannya dengan omongan Jorge.”

Marc terkikik pelan sembari merogoh saku kemejanya dan kemudian mengeluarkan sebuah benda pipih kecil berukuran micro.

“Hmm..sudah semuanya?”

“Sudah. Itu yang paling lengkap. Sampai pada akarnya.”

“Bagus. Oh ya, pertungangan Ji Eun dan Jorge akan dipercepat. Tapi, kau jangan khawatir. Setidaknya kita sudah punya kartu AS milik Jorge.”

“Kau yakin?”

Marc bertanya seakan tak yakin dengan rencana Ji Hyun ini, “..kau yakin, semuanya akan berjalan semulus itu?”

“Maksudmu?”

“Hmph..kau tau maksudku, Ji Hyun. Jorge atau pun Vale bukanlah pria-pria bodoh yang dengan mudah itu dijatuhkan. Kalau kita punya kartu AS mereka, mungkin saja mereka memiliki kartu joker. Kartu joker yang bahkan tidak kau prediksikan dalam rencanamu ini.”

“Jadi..bagaimana menurutmu?”

“Aku punya rencana cadangan. Dan mungkin bisa dibilang rencana final.”

Dahi Ji Hyun berkerut, ia tak begitu paham dengan rencana Marc. Namun, seketika, senyum puas akhirnya mengembang diwajahnya.

“Aku suka cara berpikirmu, Marc. Yaah..bisa kupikirkan.”

“Anggap saja itu doubble joker milik kita, hm? Doubble joker yang akan segera menghentikan permainan ini.”

“Baiklah. Aku akan mengaturnya. Tapi..jangan beritahu rencana cadangan ini pada Ji Eun. Aku ingin membuat sedikit kejutan padanya.”

Sudah kubilang, tak ada yang perlu dicemaskan dari pria ini, Ji Eun..dia sanggup melindungimu…

to be continued…

Yaahh..kira-kira beginilah ceritanya..tanpa banyak bicara lagi, author tunggu komentar dan like kalian dibawah atau twitter dan facebook author :D jangan jadi SILENT READER atau lebih parahnya lagi PLAGIATOR :D

Terima kasih.. :D

As Long As You Love Me #9

image

Author memang rada soek ya? Katanya mau hiatus sebentar buat UTS..eh! malah dia nongol (emang author semprul! (-__-“)) sudahlah..dari pada melihat ke  semprulan author..mari langsung saja ke TeKaPe!!! :D

Happy reading :D

 

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Part 9 :

Pagi itu Jorge sudah menunggu sembari bersandar pada Ferarri hitam kesayangannya. Dan ketika orang yang ditunggunya muncul, senyum lebar dan manis mulai mengembang diwajahnya.

Beda dengan senyuman yang ditunjukkan Jorge pada orang itu yang hanya menatap Jorge dengan wajah masam tanpa ada sedikit pun senyum diwajahnya. Dan bak khayalan atau semacamnya, tiba-tiba saja orang yang sedari tadi berwajah masam itu berubah manis dengan senyum indah mengembang diwajahnya.

“Kau sudah siap sayang?”

“Su-sudah..”

Jorge kemudian membukakan pintu penumpang, samping kemudi, dan mempersilahkan gadis itu naik. Barulah setelah itu, Jorge masuk kedalam mobilnya dengan perasaan membucah senang. Gadis itu tak membutuhkan waktu lama untuk melupakan Marc, pikirnya.

Flashback :

“Pakai ini.” Pinta Ji Hyun sembari menyodorkan sebuah earphone kecil kepada Ji Eun.

“Oppa yakin ini akan berhasil?”

“Kita tidak akan tau kalau belum mencobanya, bersiap-siaplah sebentar lagi Jorge datang.”
“Maksud oppa aku ini sejenis kelinci percobaan?”

“Oh ayolah Lee Ji Eun! Ingat, ini hanya sandiwara. Kecuali kau benar-benar menyukai pria maniak itu.”

Ji Eun akhirnya berhenti membantah. Toh, Ji Hyun benar, ini hanya sandiwara. Dan sandiwara ini pun demi melepaskan dirinya dari belenggu pria tolol yang paling dibencinya itu.

Dengan patuh, Ji Eun pun masuk kedalam kamarnya dan mulai bersiap-siap. Tak lupa, Ji Eun memasang earphone itu ditelinganya dan menutupinya dengan geraian rambut coklat gelapnya.

Tuhan..semoga hari ini cepat berlalu…

Dan benar saja, ketika gadis itu keluar dari dalam rumahnya, Jorge sudah menunggu sembari bersandar pada mobil Ferrari hitamnya. Dengan refleks, wajah masam dan tak berekspresi Ji Eun tunjukkan pada pria itu. Dengan langkah kesal, Ji Eun berjalan kearah Jorge yang sudah tersenyum manis padanya.

[Oh ayolah, Lee Ji Eun-ku sayang..kau tak akan memasang wajah semasam itu, kan?] suara aba-aba Ji Hyun mulai terdengar diearphone kecil itu dan segera membuat Ji Eun mengubah ekspresinya tadi menjadi ekspresi paling manis yang pernah ia buat.

Mungkin Jorge akan berpikir kalau gadis ini punya sedikit ganguan mental pagi ini.

“Kau sudah siap sayang?” tanya Jorge manis sembari membukakan pintu mobil untuk Ji Eun.

“Su-sudah.” Balas Ji Eun singkat masih dengan senyum manis dibuat-buatnya, kemudian masuk kedalam mobil Jorge. Astaga! Aku ingin muntah! Ini terlalu menjijikan! Tuhan..semoga saja kami tidak berpapasan dengan Marc dijalan nanti..aku tidak mau dia salah sangka dengan sikapku ini..

Flashback End :

 

Mereka sudah tiba disebuah cafe. Dan entah mengapa, ingin rasanya Ji Eun tak turun dari dalam mobil Jorge. Firasatnya benar-benar tidak enak jika seandainya dia keluar dari dalam mobil Ferrari hitam itu.

“Ayo..” ajak Jorge. Pria itu sudah membukakan pintu mobil untuk Ji Eun, bahkan tangannya sudh terulur untuk digapai gadis itu.

“Eum..ti-tidak. Aku ingin berkeliling saja. Lagi pula, untuk apa ke cafe. Aku sudah sarapan tadi dari rumah.” Kilah Ji Eun yang kembali memasang senyum paksaannya.

“Oh ayolah..aku yakin kau akan suka suasana cafe ini.” Bujuk Jorge.

[Ikut saja, Ji Eun. Dia akan curiga kalau kau menolak. Jangan khawatir soal Marc..oppa akan jelaskan padanya nanti..]

“NANTI?!” pekik Ji Eun spontan membuat Jorge sedikit melonjak kaget dan bingung, “..ehm..ma-maksudku. Nanti saja kita kesini..jalan-jalan saja dulu. Mungkin sore nanti, suasananya akan lebih bagus.”kilah Ji Eun lagi. Bodoh kau Ji Eun! Dasar bodoh!

“Baiklah. Kalau begitu, kau mau jalan-jalan kemana, hm?”

“Bagaimana kalau toko buku. Ada novel baru yang ingin aku beli.”

“Baiklah. Kemana pun kau inginkan, princess.”

Jorge tersenyum dan kembali menutup pintu mobil penumpang itu. [Akting yang bagus, adikku] pekik girang Ji Hyun diseberang sana.

“Aku akan membunuhmu sepulangku nanti, Ji Hyun..” desis Ji Eun setengah berbisik.

Saat Jorge masuk, Ji Eun kembali memasang senyum munafiknya dengan manis, berlaku seperti tidak ada apa-apa yang ia sembunyikan. Dan perlahan, mobil Jorge menjauh dari areaa parkir cafe itu.

Kapan hari ini akan berakhir, Tuhan…

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Entah apa yang membuat Marc datang ke toko buku ini. Pria itu menyusur setiap rak buku, namun tak berniat membeli apa pun. Pikirannya pun tak tertuju pada buku-buku ini, tapi pada seseorang yang sangat suka dengan buku-buku ini.

“Kalau ku ajak dia kemari, mungkin uang ku akan habis hanya untuk membeli beberapa tumpuk novel.” Gumam Marc kemudian terkikik geli.

Ponsel Marc bergetar disakunya dan segera ia mengangkat panggilan itu ketika melihat nama siapa yang tertera disana, “..halo..”

[Kau dimana? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.]

“Bicara apa?”

[Datang saja ke cafe Daydream. Kalau bisa sekarang.]

“Baiklah.”

Marc langsung menutup pembicaraan ditelepon itu dan langsung bergegas keluar dari toko buku. Namun, tepat setelah Marc keluar dari toko buku itu, matanya menangkap sebuah mobil Ferrari hita yang baru saja terparkir disana. Hatinya sedikit tergetlitik untuk melihat siapa gerangan pemilik mobil itu. Dan benar saja, Jorge keluar dari dalam mobil itu dengan wajah sumringah. Ia tidak sendirian, buktinya Jorge masih sempat membukakan pintu mobil untuk seseorang yang duduk dibangku penumpang.

Hati Marc serasa tertikam ketika malihat siapa yang baru saja turun dari kursi penumpang itu, “..Ji Eun?” gumam Marc lirih.

Segera Marc masuk kedalam BMW Cope miliknya, dan memilih memantau dari dalam sana sampai sosok Ji Eun dan Jorge menghilang dibalik pintu toko buku itu.

Sakit dihati Marc makin menjadi-jadi. Rasa curiga mulai menghantui pikirannya. Benarkah ini semua? Apa Ji Eun sudah merelakan diri kepada keputusan ayahnya?

Tidak! Ji Hyun harus jelaskan semua ini padaku..

Segera Marc memacu BMW Cope miliknya ketempat dimana Ji Hyun janjikan padanya tadi.

Tak butuh waktu lama, Marc sudah sampai di Daydream Cafe, dimana mobil Porsche Silver Ji Hyun sudah terparkir. Dengan langkah panjang terburu-buru, Marc masuk ke dalam cafe itu dan langsung menemukan Ji Hyun.

“Kupikir kau akan lama.”

“Jelaskan semuanya padaku.”

Tuntut Marc langsung yang menolak basa-basi Ji Hyun, “..tenang dulu, Marc. Kau tak mau pesan apa-apa dulu?”

“Kumohon jelaskan saja apa yang terjadi pada Ji Eun dan Jorge.”

Bukan langsung menjawab, Ji Hyun malah mengangkat tangan dan melambai kearah seorang pelayan cafe untuk memesan sesuatu untuk Marc, “..sudah kuduga kau akan salah paham. Kupikir kau cerdas dalam hal-hal begini.”

“Maksudmu?”

Ji Hyun tersenyum, sedang pelayan tadi sudah datang membawa pesanan Ji Hyun, “..kau pikir adikku terlalu bodoh untuk langsung menerima Jorge?”

“Jadi yang tadi..”

“Itu semua hanya rencana yang aku dan Ji Eun buat. Rencana untuk menjebak Jorge dan menyelamatkan Ji Eun.”

“Rencana seperti apa?”

“Mengikuti rencana Jorge.”

Marc mengernyit bingung mendengar rencana Ji Hyun. Namun, pria didepannya itu tetap nampak tenang dan santai, seperti tak merasa aneh dengan rencananya sendiri.

“Jorge bukan pria yang cerdas Marc. Cukup mengiming-imingi dia dengan Ji Eun, semua akan berjalan sesuai rencana. Sebenarnya rencanaku yang sesungguhnya bukan itu. Tapi..ada bahasa yang bilang ‘Saf the best for the last’, bukan? Maka tunggu saja  diakhirnya seperti apa.”

“Apa kau berniat mengubah pemikiran Jorge? Kurasa pikiranmu terlalu pendek. Jorge tidak sebodoh yang kau pikirkan Ji Hyun. Dengan melakukan ini, sama saja kau memberinya banyak peluang. Kau sama saja menjual adikmu untuk hasil yang sia-sia.” Tatapan Marc lurus dan tajam terarah pada Ji Hyun, “..sebaiknya kau perbaiki rencanamu ini.”
“Hmm..aku yang berpikiran pendek atau kau yang terlalu cemburu dan tidak sabaran? Bukankah kau selalu bilang, hal yang baik akan datang pada orang yang mau menunggu? Maka perbuatlah demikian, Marc. Kontrol rasa cemburumu itu, dan jika memang kau mencintai adikku. Maka kau harusnya mau terlibat dalam rencana ini tanpa harus kutawar lagi, bukan?” ujar Ji Hyun santai kemudian menyeruput Mocca Latte miliknya yang sudah mulai sedikit mendingin.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Mudah. Kumpulkan sebanyak mungkin data tentang Jorge. Dan dari data-data itu, kita cari titik lemah Jorge. Aku ingin tau, selain Ji Eun, apa ada hal lain lagi yang membuat Jorge tidak bisa berkutik?”

“Baiklah. Tapi aku butuh waktu untuk..”

“Usahakan sebelum pertunangan Ji Eun dan Jorge.”

“Pertunangan?”

“Ya. Pertunangan. Ayahku sudah barang tentu akan percaya dengan sandiwara ini, dan dengan segera, mungkin dia akan memutuskan tanggal pertunangan Jorge dan Ji Eun. Jadi kuharap, sebelum hal itu terjadi, kau sudah harus menyelesaikan tugasmu.”
“Data Jorge tak akan mudah didapat, tapi akan kuusahakan.”

“Kau tidak akan berkerja sendiri, Marc. Aku akan membantumu dalam hal ini. Karena data Jorge tak akan bisa kau kumpulkan segera tanpa bantuan orang yang ahli dalam hal seperti ini.”

“Maksudmu..kau akan meminta tolong orang-orang ayahmu itu untuk membantu kita?”

“Orang-orang ku lebih tepatnya, Marc. Dan mereka lebih dari sekedar cerdas dalam hal itu.”
Marc menatap sebentar kearah Ji Hyun. Bahkan lebih dari ekpetasi Marc. Ji Hyun sudah memikirkan rencanannya ini dengan sangat matang. Bahkan, orang dalam pun dikerahkannya demi kelancaran rencananya ini.

“Baiklah. Aku akan coba cari data lain tentang Jorge dan sisanya kuserahkan padamu dan orang-orang mu itu.”

Ji Hyun hanya tersenyum tanpa membalas.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

“Bagaimana jalan-jalan kalian, menyenangkan?” tanya Emillio pada Ji  Eun yang baru saja masuk kedalam rumah.

[Jawab saja dengan baik dan manis, ok?] pintah Ji Hyun yang terdengar dari earphone kecil ditelinga Ji Eun.

“Iya, paman. Sangat menyenangkan. Ji Eun membeli banyak buku hari ini. Sampai-sampai dia kerepotan sendiri.”

“I-iya. Oh ya, kalau tidak keberatan, aku keatas sebentar untuk menyimpan buku-buku ini dulu.”

“Segeralah kembali kemari. Ada yang ingin ayah bicarakan dengan kalian. Ajak kakakmu juga turun kemari.”

[Aku punya firasat..mungkin ayah akan membicarakan soal pertunangan kalian..]

“Apa?!” pekik Ji Eun spontan lagi dan kali ini gadis itu langsung menutup mulutnya, “..eh..em..ma-maksudku..apa yang ayah bicarakan tadi? Aku kurang mendengarnya..” ralat Ji Eun terbata-bata. Dua kali, Ji Eun! Kau ini bodoh atau tak berotak, hah?!

“Ayah bilang, segeralah turun dan ajak kakakmu juga. Ada yang ingin ayah bicarakan.” Ulang Emillio tanpa  menaruh sedikit pun curiga pada Ji Eun.

“Ba-baik, ayah..” balas Ji Eun sembari tersenyum kemudian bergegas naik keatas.

Gadis itu langsung membanting tubuhnya keatas kasur  sesampainya dikamar. Ia mendesah keras, pertanda hari ini dia lumayan lelah. Ternyata sandiwara seperti ini bisa memakan banyak energi juga, pikir Ji Eun.

“Bagaimana?” tanya Ji Hyun yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamar Ji Eun dan membuat gadis  itu melonjak kaget dari kasurnya.

“Oppa! Kau mau membuatku mati, hah?! Dan kenapa selalu mengatakan hal-hal yang mengejutkan seperti  itu? nyaris tadi ketahuan!”
“Tapi kau bisa mengatasinya, kan? Oh ya, bagaimana tadi?”

“Oppa sudah beritahu Marc soal ini atau belum?”

“Jawab dulu..bagaimana tadi?”

“Ayah ingin bicara dengan kita. Mungkin oppa benar, ayah akan membicarakan soal  pertunanganku dengan Jorge karena sudah mulai percaya dengan sandiwara ini. Lalu, bagaimana dengan Marc?”

“Kau tenang saja soal Marc. Oppa sudah memberitahunya. Dan..apa lagi yang kita tunggu disini.”

“Aku tidak mau turun.”

Ji Hyun yang tadi sudah berdiri, akhirnya kembali duduk disamping Ji Eun ketika melihat gadis itu lesu dikasurnya.

“Oh ayolah Ji Eun..percaya saja pada oppa kalau kalian tidak akan sampai bertunangan.”

Ji Eun melirik lesu kearah Ji Hyun. Matanya memancarkan ragu pada kakaknya itu. Rasa takut akan kegagalan rencana mereka ini, lebih besar dari rasa percaya Ji Eun akan keberhasilan rencana mereka, “..percayalah pada oppa, hm?” ujar Ji Hyun meyakini Ji Eun sekali lagi. Dan gadis itu hanya mengangguk lesu kemudian perlahan turun dari atas kasurnya dan bersama Ji Hyun keluar dari kamarnya.

“Kemarilah. Ada hal penting yang ingin ayah bicarakan dengan kalian berdua. Terlebih denganmu, Ji Eun.” Panggil Emillo ketika Ji Hyun dan Ji Eun sudah menuruni anak-anak tangga rumah mereka.

“Bicara apa ayah? Sepertinya penting sekali dan kau…kau disini juga?”

“Begini. Ini soal pertunangan Ji Eun dan Jorge. Tadi ayah sudah sedikit berbicara dengan Jorge. Dan ayah ingin memajukan tanggal pertunangan kalian. Awalnya, ayah memilih tanggal 30 Desember nanti, tapi karena beberapaa hal, jadi ayah memajukannya ke tanggal 25  November ini.”

“Maksud ayah? 2 minggu depan?!” tanya Ji Eun dengan nada yang sedikit tinggi yang dengan sigap langsung mendapat cubitan kecil dari Ji Hyun.

“Baguslah kalau begitu, kan?” sahut Ji Hyun dengan senyum lebar mengembang sempurna diwajah tampannya, “..berarti kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, bukan?” usul Ji Hyun kemudian.

“Tapi..”

“Oh ya..sepertinya, aku harus menghubungi kenalanku yang memiliki aula megah yang pernah aku ceritakan pada ayah itu.” dengan cepat Ji Hyun langung menyambar memotong ucapan Ji Eun yang tentunya mungkin saja menggagalkan rencana yang sudah terpikir matang olehnya itu.

“Benar, Ji Hyun. Terima kasih. Oh ya, Ji Eun..tadi kau mau bilang apa, nak?”

Ji Hyun memberi aba-aba samar pada Ji Eun dengan gerakan alisnya, “..ti-tidak ada apa-apa ayah. Hanya saja aku sedikit terkejut. Apa tidak bisa dimudurkan sedikit? Aku masih mau melakukan banyak hal, perawatan mungkin? Itu butuh waktu yang tidak cepat, ayah.”

“Begitu, ya? Jorge..bagaimana menurutmu?”

“Yaah..bagaimana pun juga Ji Eun pastinya ingin terlihat cantik diacara sepenting itu kan, paman. Terlalu cepat juga tidak begitu baik.”

“Baiklah. Kalau begitu, kita kembali ke tanggal yang semula.” Putus Emillio kemudian tersenyum sembari mengusap sayang pipi Ji Eun yang duduk disampingnya.

Setidaknya semua berjalan sesuai rencanaku. Batin Ji Hyun.

to be continued..

Sorry guys kalo part ini jelek gk karuan *tears* author sadar butuh banyak saran dan masukan juga kritikan dari reader-reader budiman semua :D jadi, author harap jangan jadi SILENT READER ya semua :D soalnya, author betul-betul butuh masukan setelah dilumpuhkan soal UTS *lumpuhkan lah ingatanku..(Mulai deehh..mulai jadi Saipul Jamil)* Tinggalkan komentar kalian dibawah, kalo gk bisa di twitter dan facebook author..terima kasih semua :D Kalian luar biasa *ala Ariel ‘The Mermaid’ (author sarap!)*

The Proposal To Love You #1 (Introduction Part)

BeFunky_TPTLY.jpg

Sesuai janji author kemarin..ini dia Part perkenalan FF baru author..hehe :D plin plan, ya? Padahal minggu lalu author bilang mau fokus MID ya?? Sudahlah..lupakan!

Author tidak mau basa basi lagi dan…

Happy reading, guys :D

 

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

 

Part 1 :

 

Pria itu sudah berdiri dengan yakin dan mantap didepan sebuah gedung besar dan megah. Gedung besar dan megah, yang akan menentukan nasibnya dirantau orang ini.

“Yakin kau bisa melakukan ini, Marc! Jangan pikirkan apa pun..yakin saja kau bisa melakukannya.” Gumamnya sepanjang ia melangkah masuk kedalam gedung itu.

Dan tak memakan banyak waktu, langkah panjang Marc, sudah membawanya tepat didepan meja receptionis, “..permisi.” Sapa Marc pelan.

Wanita petugas receptionis itu masih belum merespon. Ia masih sibuk melamun, mengagumi paras tampan Marc. Membuat pria yang ditatap itu sedikit bingung, “..permisi.” Sapa ulang Marc dan kali ini wanita itu mulai merespon dengan senyum.

“Oh ya..ada perlu apa?” Jawab wanita itu manis.

“Begini. Saya dengar disini membuka lowongan pekerjaan untuk bagian Pemasaran. Dan saya, ingin memasukan berkas lamaran saya. Kira-kira dimana saya bisa mendaftrakan berkas lamaran saya ini?”

“Oh itu. Anda bisa naik ke lantai 3, tepatnya dibagian administrasi, anda bisa memasukan berkas-berkas lamaran anda disana.”

“Baiklah. Kalau begitu, terima kasih.”

Marc kembali memacuh langkahnya menjauh dari meja receptionis, sedang wanita-wanita petugas receptionis itu sudah mulai sibuk berbisik-bisik tentang Marc.

Pria itu berhenti didepan lift. Hatinya menggebu-gebu tak sabar untuk meletakan surat lamarannya ini.

Flashback :

“Sungguh kau akan melamar kerja diperusahaan itu, Marc? City’s Group? Kau pasti bercanda!” Seru Tito yang nyaris tersedak jus jeruk yang baru ditenggaknya itu.

“Lalu kau pikir? Aku hanya akan menjadi pengangguran tolol tak bergaji dinegeri orang ini? Mau makan apa kita nanti?” Sambar Marc kesal sambil terus mengusap kemeja biru langitnya dengan setrika.

Hari ini keputusan Marc sudah bulat untuk melamar kerja. Setelah lulus dengan gelar S2, Marc rasa ia harus bekerja sekarang. Atau, mati sia-sia tak ber-uang dinegeri rantau ini.

“Yaah..kau benar. Tapi..kau yakin..City’s Group?” Tanya Tito sekali lagi. Pria itu nampak masih belum yakin. Karena semenurut pengalaman, masuk ke perusahaan sebesar City’s Group itu bukan semudah membalikan telapak tangan. Apa lagi, presiden direktur City’s Group terkenal perfectionis dan selektif. Tidak mungkin semudah itu seseorang bisa masuk dan bekerja disana.

“Kita lihat saja..” Sahut Marc masa bodo dan terus melanjutkan kegiatannya yang kini mulai memasukan dokumen-dokumennya ke dalam map biru senada kemejanya.

Flashback End :

“Marc! Bagaimana?” Tanya Tito penasaran. Pria itu sudah duduk disamping Marc dengan sebungkus penuh snack ditangannya.

“Besok akan diadakan interview.”

“In-interview?? Kau lulus tahap pertama?”

“Tentu saja. Kan aku sudah bilang..coba dulu saja kan? Kalau gagal, ya sudah. Mau apa lagi.”

Tito hanya mengangguk paham sambil terus memasukan snack-snack itu kedalam mulutnya.

“Astaga! Kau ambil itu dari mana?” Tanya Marc yang akhirnya tersadar kalau sedari tadi temannya itu terus mencemili yang bukan miliknya.

“Kulkas. Memangnya kenapa?”

“Itu punya ku!! Cepat kemarikan!” Bentak Marc sambil berusaha merebut snack itu dari tangan Tito. Sedang Tito, pria itu terus mempertahankan snack tadi ditangannya. Sampai akhirnya, snack itu jatuh berhamburan dikarpet dan sofa.

“ESTEVE RABAAAATT!!! BERSIHKAN SEMUA INI!!!”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Pagi itu, Marc sudah sangat rapi. Meski wajahnya terlihat sedikit lelah, karena semalaman Marc mempersiapkan presentasinya, tapi ia berusaha menutupi semua itu dengan tetap mengumpulkan semangat dan tekat dihatinya.

Aku akan melakukannya. Aku akan dapatkan pekerjaan itu. Tekat Marc.

Pria itu berjalan keluar dari apartemen sederhananya dengan langkah mantap.

Segera tangannya mengayun lincah ketika dilihatnya sebuah taksi melintas.

“City’s Group.” Ucap Marc singkat yang langsung dipahami si supir taksi, “..eum, ahjussi..bisa anda lebih cepat sedikit? Saya ada interview pekerjaan penting disana.”

“Baik, tuan.”

Supir taksi itu mengiyakan dan langsung memacu laju mobilnya. Alhasil, tak sampai 10 menit, Marc sudah sampai didepan gedung besar itu kembali.

Tangannya sedikit gemetar. Tapi, tekatnya lebih besar dari rasa takutnya, yang akhirnya memantapkan langkah kaki Marc, memasuki gedung itu.

“Presdir Lee..apa anda akan ikut dalam presentasi nanti?”

“Tidak. Aku ada janji dengan presdir Yoon jadi, tolong wakili aku.”

“Baik, nona.”

Mata Marc langsung terlempar ke arah gadis manis yang berjalan cepat menujut pintu keluar. Pre-presdir?? Yakin? Semuda dan secantik itu?

“Hei, kau! Segeralah ke lantai 4. Presentasi akan segera dimulai.” Tegur salah seorang pria paruh baya yang adalah salah satu dari tim penilai.

“Ba-baik.”

Mari kita lakukan ini, Marc!

To Be Continued..

Next..

“Kau pikir disini tempat bermain? Presentasi seperti itu, apa yang bisa dijual?”

“Lalu bagaimana?”

“Entahlah..”

Dan maaf kalau terlalu pendek..seperti yang sudah author bilang..ini adalah Part pengenalan jadi, ceritanya pendek :D

Oh ya, author menunggu kritik dan saran kalian, ya? Dan tolong jangan jadi, SILENT READER

Thank you :D

As Long As You Love Me #8

image

Happy Reading.. :D

 

 

* * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

 

Part 8 :

 

“Aku harus pergi sekarang. Aku tidak mau menambah masalahmu dengan Emillio.” ucap Marc kemudian mengecup singkat kening Ji Eun dan segera keluar dari jendela kamar Ji Eun.

“Kau akan datang lagi kan?”

“Aku tidak janji setiap hari akan kesini, tapi aku pasti datang.” balas Marc sebelum turun melalui pohon Mapple depan jendela kamar Ji Eun.

Gadis itu mengangguk paham sembari tersenyum lembut. Ia benar-benar lupa kalau sedari tadi Emillio terus memanggilnya diluar sana. Mungkin sengaja, gadis itu bahkan tak mau perduli sama sekali dengan seruan Emillio yang akhirnya menyerah dan berlalu dari sana.

Tuhan..kuatkan aku untuk berbaikan dengan ayahku lagi. Au tau, itu bukan sepenuhnya salanya. Dia hanya terlalu percaya pada orang yang salah saja..

Ji Eun kembali membungkus tubuhnya dengan selimut dan membenamkan wajahnya dalam bantal. Meski sedikit gunda, tetap hati Ji Eun merasa hangat dan bahagia.

“Nona..tuan muda Ji Hyun memanggil anda kekamarnya.” Seru seorang pelayan rumah dari balik pintu kamar Ji Eun.

“Bilang padanya aku akan kesana sebentar lagi.” Balas Ji Eun yang akhirnya menyudahi agenda malas-malasannya diatas kasur empuk itu. Ia bangkit dan berjalan dengan langkah gontai.

Ji Eun mematut dirinya dicermin kamar mandi dan sesekali gadis  itu tersenyum sembari menyentuh bibirnya.

Lembut dan hangat bibir Marc masih terasa disana. Dan masih bisa membuat wajah Ji Eun bersemu merah. Segera gadis itu menggeleng dan membasuh wajahnya dengan air dari keran. Eomma..aku tau eomma sedang melihatku sekarang. Ji Eun mu ini sedang jatuh cinta, eomma..

Selesai berbenah diri, Ji Eun keluar dari kamarnya dan berjalan cepat menuju kamar Ji Hyun.

“Oppa..Ini aku! Buka pintunya!” seru  Ji Eun sembari mengetuk pintu kamar Ji Hyun.

Tak berapa lama, Ji Hyun membuka pintu kamarnya dan membiarkan Ji Eun masuk, “..ada apa?” tanya Ji Eun langsung saat Ji Hyun sudah menutup kembali pintu kamarnya.

“Oppa tau tadi Marc mengendap ke kamarmu.” Goda Ji Hyun sembari tersenyum.

Ji Eun mulai tersipu dan salah tingkah, “..dari mana oppa tau?”

“Oppa tadi sedang jalan-jalan sebentar ditaman belakang dan..”

“Oppa yang membantunya masuk ke kamarku?”

“Yaah..oppa tidak tega sebenarnya..” ujar Ji Hyun sembari melempar senyum pada adiknya itu. Pria itu senang melihat adiknya kembali ceria dan bersemangat, “..bagaimana bisa? Penjagaan seketat itu..”

“Hei! Jangan remehkan aku..hal seperti itu bukan hal yang sulit untuk oppa mu ini.”

Ji Eun tersenyum lebar. Gadis kemudian menghambur bahagia kedalam pelukan kakaknya, “..gumawo oppa..jeongmal gumawo..”

“Tidak masalah. Oppa senang kalau kau bahagia. Oh ya, bagaimana dengan ayah?”

“Entahlah, oppa. Aku masih tidak ingin membicarakannya.”

“Tapi kau juga tau, ini bukan sepenuhnya salah ayah.”

“Aku tau oppa..aku tau. Tapi..bagaimana dengan Jorge? Semenjak dia menempel pada ayah, ayah selalu mengambil keputusan bodoh.”

“Jadi bagaimana rencanamu?”

Ji Eun menimbang sebentar.mungkin rencana ini akan sulit, tapi dengan bantuan kakaknya mungkin saja akan lebih mudah, “..kita singkirkan Jorge dari sisi ayah.”

“Maksudmu?”

“Oppa tau dia salah satu dari orang kepercayaan Vale. Bisa saja sekarang ini dia sedang menjalankan perintah dari Vale yang kapan saja bisa membahayakan kita. Kita berikan bukti tentang itu kepada ayah.

Ji Hyun berpikir, ia tau ini sangat sulit. Karena ayahnya bisa saja tak akan percaya pada mereka, “..oppa yakin ini akan sulit. Dan kemungkinan kita bisa berhasil sangat tipis. Bukannya oppa pesimis, tapi oppa tau betul bagaimana Jorge itu.”

“Apa yang oppa tau tentang Jorge?”

“Yang oppa tau, dia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang paling ia inginkan. Bahkan dia tak akan segan-segan menyingkirkkan siapa pun yang menghalangi niatnya itu.”

“Lalu kita harus bagaimana? Kita tidak bisa membiarkan ayah terus tenggelam dalam rasa percayanya yang salah pada Jorge.”

“Oppa akan pikirkan cara lain. Kau tenang saja. Selebihnya..kita ikuti dulu apa rencana Jorge.”

Ji Eun bahkan tak bisa tenang. Karena dia tau, Jorge memperdaya ayahnya untuk mendapatkannya. Dan Ji Eun tak mau membiarkan itu terjadi.

“Tuan muda, nona..tuan Emillio memanggil kalian kebawah.” Seru seorang pelayan rumah dari  luar kamar Ji Hyun.

“Bagaimana? Kau siap bertemu ayah?”

Ji Eun hanya mengangguk mantap. Dan keduanya keluar dari kamar. Entah apa yang akan ayah katakan nanti..

* * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Ji Eun duduk diam dan menatap tidak ssuka kearah dua pria didepannya itu. sedang Ji Hyun, ia terus melempar senyum tenang.

“Selamat pagi, princess. Bagaimana pagimu..”

“Jorge. Kupikir kau tidak akan senang mendengar makian adikku kan? Sebaiknya diam saja dulu, ya?” potong Ji Hyun masih memasang senyum termanisnya.

“Ayah akan mempercepat pertunanganmu dengan Jorge, Ji Eun.”

Emillio akhirnya membuka suaranya dan seketika membuat hati Ji Eun kembali terluka. Gadis itu hanya mampu menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya. Sedang Ji Hyun hanya bisa meremas tangan adiknya itu, berusaha meminta gadis itu tetap tenang dan tetap pada rencana mereka.

“Hanya itu?” tanya Ji Hyun singkat dan tanpa menunggu jawaban apapun dari Emillio, ia langsung menarik tangan Ji Eun dan pergi dari situ, “..oh ya, kurasa Ji Eun perlu mepertimbangkan iu dulu, ayah. Pertunangan bukanlah hal yang mudah. Tapi..aku punya firasat kurang baik soal itu. Karena aku takut jawabannya akan menjadi T-I-D-A-K.” Tambah Ji Hyum masih dengan senyum manisnya sebelum akhirnya berlalu dari situ.

“Kurasa paman harus sedikit lebih tegas.”

“Tidak Jorge. Entahlah, mungkin kau harus bisa menerima keputusan apa pun dari Ji Eun nanti.”

“Oh ayolah, paman. Anda itu ayahnya..tidak mungkin Ji Eun akan menolak pemikiran anda.”

“Tapi Ji Eun sudah terlanjur membenciku.”

“Paman terlalu pesimis. Cobalah optimis sesekali.”

Emillio coba menimbang. Meski mangangguk, namun tetap hatinya masih merasa ragu.

Kuharap  apa yang kulakukan ini semuanya benar, So Young…aku hanya ingin putri kita mendapat pria yang terbaik. Itu saja..

“Ayah sudah benar-benar terbuai pengaruh Jorge, oppa..apa yang harus aku lakukan sekarang?” Ji Eun terus mondar-mandir dengan tampang panik.

“Sesuai rencana kita tadi. Kita ikuti saja permainan Jorge. Sekalian, oppa mau liat sebesar apa Marc mencintaimu.”

“Maksud oppa?”

“Menguj. Kalau benar Marc begitu mencintaimu, dia tidak hanya nekat memanjat kekamarmu tapi juga akan nekat mempertahankanmu.”

Ji Eun makin tidak mengerti. Tapi mau tidak mau, Ji Eun akhirnya mengiyakan rencana kakaknya itu.

“Entahlah oppa..aku percaya saja pada oppa.”
“Tapi..kau yakin bisa melakukan ini?”

“Yaah..kita lihat saja oppa. Tapi kurasa ini akan sulit untukku.”
Ji Hyun menatap adiknya itu dengan senyum hangat, “..oppa tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu Ji Eun. Itulah yang bisa oppa janjikan padamu.”
“Terima kasih oppa.”
Gadis itu pun keluar dari kamar Ji Hyun dan kembali ke kamarnya. Eomma..apa ini akan berhasil?

* * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Marc tiba dirumahnya dengan hati yang berbunga-bunga. Bahkan Shanti pun sedikit ganjil melihat sikap pemuda itu.

“Anda dari mana tuan?”
“Mengambil jatah pagiku.” Balas Marc girang, “..oh ya, apa ada telepon dari Vale?” tanya Marc kembali bertampang serius.

“Tidak, tuan. Sudah lama tuan Vale tidak menghubungi anda.”

“Itulah yang aku takutkan, Shanti. Bisa saja Vale mengalihkan misi ini ketangan Jorge. Dan kalau benar sampai begitu, berarti Ji Eun dalam bahaya sekarang.”

“Saya bahkan lebih khawatir dengan Jorge sendiri. Dia tidak akan semudah itu mematuhi semua perintah Vale.”

“Maksudmu?”

“Jorge mungkin akan melakukan hal  yang lebih parah ketimbang dengan rencana Vale.”
“Benar juga. Untuk apa dia menghasut ayah Ji Eun sampai seperti itu kalau dia tidak sedang merencanakan apa pun.”
Otak Marc mulai berpikir keras. Mungkin ada maksud lain dibalik tindakan Jorge. Dan mungkin juga, bukan rencana Vale yang sedang ia jalankan.

Kalau rencananya sendiri yang dijalankan, kira-kira apa yang akan dia lakukan dengan Ji Eun.

“Menikah dengan nona Lee bukan hanya mewujudkan impiannya.  Tapi akanmembuatnya mendapatkan sedikit provit, tuan.” ujar Shanti tiba-tiba yang membuat Marc sedikit terkejut. Benar. Itulah sebabnya Jorge menghasut Emillio dan Vale agar dirinya dijauhkan dari Ji Eun. Otak Marc kembali berputar, bak kaset, otaknya memutarkan flashback kejadian menyangkut Jorge.

“Kalau anda benar-benar mencintai nona Ji Eun. Anda harus bertindak cepat.”

“Aku bingung Shanti. Emillio masih dalam pengaruh Jorge. Pastinya akan sulit.”

“Pikirkan dengan hati yang tenang, tuan. Saya yakin, jika anda benar-benar mencintai nona Ji Eun, anda tidak akan memikirkan sebesar apa resiko yang akan anda hadapi.”
Malam itu Marc akhirnya memberanikan dirinya datang kerumah Vale. Entah rencana apa yang sudah ia siapkan, namun yang jelas Marc tau Vale bisa membantunya. Mmarc sudah berdiri didepan pintu rumah Vale. Tangannya ragu-ragu terangkat untuk menekan bel rumah megah itu. Beberapa kali Marc menekan bel rumah itu, barulah pintu rumah terbuka.

“Marc? Ayahku sedang tidak dirumah.”
“Kira-kira dia kemana?”

“Entahlah, sudah beberapa hari ini dia tidak pulang. Dan aku juga tidak berani bertanya. Oh ya, masuk dulu..”

“Terima kasih.”

Marc melangkah masuk kedalam rumah itu, “..apa yang ingin kau bicarakan dengan ayahku? Masalah gadis itu?”

“Dan juga Jorge.”
“Maksudmu?”

“Laia..kau bisa membantuku?”

Gadis itu menatap Marc sebentar. Dari pijar mata pria  itu benar-benar menunjukan kalau dia mencintai gadis itu. Gadis yang seharusnya ia bunuh.

“Kau mencintai  gadis  itu?”

Marc mengangguk mantap dengan tatapan lurus yang meyakinkan, “..apa yang bisa ku lakukan untukmu?”

“Cukup kau bantu aku meyakinkan ayah Ji Eun akalu aku bukan pria jahat seperti yang selama ini ia pikirkan.”

“Bagaimana dengan Jorge? Apa aku juga harus membantumu menyingkirkannya?”

“Tidak perlu. Cukup kau yakinkan Emillio saja, dengan begitu Jorge akan tersingkir dengan sendirinya.”

Sekali lagi  Laia menatap kedalam manik mata coklat milik Marc. Meski sedikit perih dalah hati gadis itu, tapi ia tau kalau Marc bahagia dengan mencintai gadis itu.

“Aku akan berusaha semampuku, Marc. Aku janji.”

“Aku tau itu, Laia.”
Marc..andai kau bisa tau kalau aku sangat..sangat iri pada gadis itu. Aku mencintaimu..untuk itulah aku mau melakukan ini untukmu..asalkan kau bahagia..itu sudah cukup untukku..

* * * * * * * * * * * * * * * * *

[Bagaimana pertunanganmu?]

“Sesuai rencana, Vale. Kau tenang saja.”

[Bagus. Semakin cepat kau memiliki gadis itu, semakin mudah pula pekerjaanku nanti.]

“Sabar dulu,Vale. Masih banyak hal yang harus kita selesaikan.”

[Oh ya, jangan lupa singkirkan Marc. Dia sudah terlalu membuatku kecewa.]

“Tanpa kau minta pun akan aku lakukan.”

To Be Continued…

Sebelumnya author mau minta maaf..soalnya part 9 dan seterusnya akan author lanjutkan setelah UTS…dan terima kasih sudah mau membaca :D jangan lupa tinggalkan jejak kalian (COMMENT ata LIKE) dibawah ini atau bisa juga mention ke twitter author @LeaObiraga dan Facebook Page author (The Story Of Mine)..jangan jadi SILENT READER ya? Tolong tulisan author yang belum seberapa ini, dihargai.. Terima kasih sekali lagi :D

The Proposal To Love You (Preview)

BeFunky_TPTLY.jpg

Marc : “Tak akan ada yang tau cara cinta bekerja dalam hatimu..dan kepada siapa malaikat cinta melepas panahnya..masuk akal kah itu atau tidak..tidak ada yang tau..

Ji Eun : “Cinta? Hal semacam itu sama sekali belum ada dalam otakku. Kemajuan perusahaanku lah yang terpenting saat ini. Lupakan soal cinta. Toh, nantinya akan datang dengan sendirinya..”

Jorge : “Goal dalam kehidupanku adalah mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk gadis itu..siapa pun penghalangku..tak akan membuatku berhenti..”

“Sungguh kau akan melamar kerja diperusahaan itu, Marc? City’s Group? Kau pasti bercanda..”

“Lalu kau pikir? Aku hanya akan menjadi pengangguran tolol tak bergaji dinegeri orang ini? Mau makan apa kita nanti?”

“Yaah..kau benar. Tapi..kau yakin..City’s Group?”

“Kita lihat saja..”

* * * * * * * * * * * * * * * * * *

“Presdir Lee..ini data para pelamar..kami sudah seleksi semua dan menurut kami ini yang terbaik.”

“Oh ya, posisi Direktur Pemasaran masih kosong, bukan? Apa dari nama-nama ini ada yang bisa kau usulkan?”

“Ini dia..Presdir Lee..kurasa dia cocok dalam bagian pemasaran dan dari interview yang kami lakukan dengannya. Saya rasa dia cocok menempati posisi Direktur Pemasaran.”

“Apa kalian yakin?”

“Kami benar-benar yakin nona..”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

“Kenalkan, aku Jorge Lorenzo Direktur Engineering. Kalau aku tidak salah, kau Marc Marquez, kan? Direktur Pemasaran yang baru.”

“I-iya..senang berkenalan dengan anda.”

“Hmm..kau mendapat banyak pujian dari beberapa direktur bagian lainnya, dan kuharap kinerja kerjamu nanti sama dengan yang mereka ucapkan tentangmu.”

“Anda tidak perlu khawatir begitu. Kinerja kerjaku bisa saja melebihi kinerja kerjamu. Oh ya, kalau anda tidak keberatan aku harus pergi sekarang. Ini hari pertama kerjaku, jadi tidak boleh terlambat.”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 

“Kau tidak sedang bergurau kan, Marc? Iya. Presdir kita itu memang sangat luar biasa cantiknya, tapi tentu dia punya standar sendiri dalam memilih pria, kan? Lagi pula, yang mengincarnya bukan hanya kau saja..ada Direktur Jorge, Direktur Kim dan beberapa Presdir kolega yang masih muda dan tampan juga. Sainganmu benar-benar berat.”

“Apa diantara mereka sudah ada yang menjadi pacarnya? Belum kan? Kalau belum kenapa aku harus takut?”

“Terserah kau saja! Dasar kepala batu.”

Ditunggu ya, guys! Will post after ‘As Long As You Love Me’ and Mid Exam :D