Posted in Uncategorized

Falling In Love With You

Image

Story Cast  :

Marc Marquez

Kim Nana

Austin Mahone

Dakota Faning

Alex Marquez

Kim Myeong Ji

Sinopsis :

Spanyol ? Apa itu tidak terlalu jauh?? 

2 Tahun Nana harus terpisah dengan jarak sejauh itu dari Austin. Meskipun Austin berjanji akan sering mengunjunginya, hati Nana tetap tidak enak dan takut. Long Distance Relationship..?? apa Nana mampu?? 

Day 1

Diluar sana, sinar mentari pagi sudah menyinari bumi Amerika dengan hangat. Burung-burung pun bergantian meperdengarkan suara merdu mereka dengan girang. Banyak orang yang sudah bergegas melaksanakan kegiatan mereka masing-masing.

Lain dengan yang terjadi disebuah kamar, yang seluruh jendelanya seperti enggan memberikan cela untuk sinar matahari masuk kedalamnya. Sedang, pemilik kamar itu masih berbungkus selimut dengan bunyi bising alarm yang tak sedikitpun digubrisnya.

“Ngg~ 5 menit lagi…” erang gadis itu seraya meraba-raba keatas meja, berusaha menggapai alarm yang sedari tadi berbunyi itu.

Dengan mata yang masih terlalu berat, gadis itu berusaha melihat angka yang ditunjukan alarm tersebut.

“Ommo! Ommo!! Eotheokae??” seru gadis itu panik dan mulai kocar-kacir beranjak dari tempat tidurnya. Terang saja, waktu sudah menunjukan pukul 7 tepat.

Sepertinya..hari ini akan menjadi hari buruk baginya.

*******

“Kim Nana ! sudah berapa kali kau terlambat pada kelasku ini, hah?” bentak seorang dosen tua dengan berkacak pinggang. Matanya melotot, sampai-sampai Nana tak sanggup menatap mata dosen tua killer itu.

“Maaf, dok. Saya janji, tak akan terlambat lagi..”

“Apa?? Sudah berapa kali kau berjanji untuk tidak terlambat lagi? Tapi kau masih saja terlambat sampai jam begini. Entah bagaimana jadinya kalau ada seorang dokter yang hobi terlambat seperti kau ini.”

“Dokter Jack…kumohon, beri aku satu kesempatan lagi. Kali ini aku benar-benar berjanji tidak akan terlmbat lagi.”

Kali ini Nana benar-benar memelas, wajahnya pun dibentuk sedemikian rupa agar mendapat pengasihan dari dosen tua nan killer ini.

“Baiklah. Lain kali aku tidak mau mendapat alasan apapun darimu, kalau sampai kau terlambat lagi. Aku tidak akan segan-segan memotong nilai praktekmu sampai kau tak akan bisa diwisudah dan koas! Mengerti!” ancam pria tua itu dengan tegas. Nana hanya bisa menggangguk paham dan kembali ketempat duduknya.

Sulit juga menjadi seorang mahasiswa kedokteran. Belum lagi, harus dihadapkan dengan dosen-dosen yang super duper killer. Contohnya dokter penyakit dalam tua itu, mengerikan!

Apa semua Universitas di Amerika memiliki dosen seperti dia? Batin Nana.

Study pun dimulai, dengan lesu Nana mengeluarkan semua buku-buku tebal yang sedari tadi bersarang didalam tasnya.

“Nana…kau molor lagi kan?” bisik seorang gadis dengan wajah prihatinnya.

“Entahlah. Mungkin, besok aku akan meletakan kedua alarm itu tepat dilubang telingaku.” Balas Nana dengn lesu, dan kembali memusatkan perhatiannya pada dosen tua itu.

Tinggal sebulan lagi, kalau tak ada halangan, Nana bersama beberapa mahasiswa kedokteran yang lainnya akan diwisudah dengan embel-emble dokter muda. Setelah itu, mereka akan dilepas praktek selama 2 tahun ditempat yang tak akan mereka ketahui. Mungkin saja, tidak dinegara ini juga.

“Iya bu…doakan saja, supaya bulan depan aku bisa diwisudah…ye..ye..saranghae..”

Nana pun mengakhiri pembicaraannya ditelpon dan menghambur sembarang ponselnya itu kemeja. Belum semenit, ponsel itu kembali bordering, namun kali ini bukan nada panggilan melainkan nada pertanda pesan masuk.

“Siapa?” gumam Nana sembari membuka pesan yang tertera pada layar datar ponsel itu.

“Kim Nana..kau masih ingat padaku, kan? Austin Mahone..”

 

“Austin? Dia masih ingat padaku? Tumben..” gumam Nana lagi pada dirinya sendiri dan kembali mengutak-atik ponselnya itu.

“Iya…aku masih ingat. Kabarmu bagaimana?”

“Aku baik. Bagaimana dengamu? Kau masih tinggal diapartemenmu yang itu kan?”

 

“Aku juga baik. Iya, aku masih diapartemenku…memangnya kenapa?”

 

Tak lama setelah Nana mengirim pesan itu, bel pintu apartemen Nana berbunyi. Dengan bergegas Nana membuka pintu itu dan segera terpaku melihat sosok Austin yang sudah berdiri dengan sebuket bunga mawar merah ditangannya dan sekotak kue.

“Austin…silahkan masuk.”

“Hehe..iya. Kupikir kau sudah pindah dari apartemenmu ini.”

“Mana mungkin. Apartemen inilah yng paling dekat dengan kampusku. Silahkan duduk.”

“Oh ya, bagaimana? Kudengar-dengar, bulan depan mahasiswa angkatan kalian akan diwisudah, ya?”

“Begitulah. Tapi doakan saja, ya? Karena, akhir-akhir ini aku sedang ada masalah dengan beberapa dosen.”

“Tapi kau kan pintar. Nilaimu juga rata-rata cemerlang. Tak heran kau ini mahasiswa kedokteran termuda.”

“Aaahh…itu tak akan menjadi hal yang brpengaruh bagi dosen-dosen killer itu.”

“Yang benar saja?”

“Lalu…kau pikir mereka akan membaik karena aku ini cerdas?”

“Tapi aku yakin, kau pasti bisa.”

Sejenak pemebicaraan itu terhenti. Suasana menjadi sedikit lebih diam dan tenang.

“Kau mau minum apa? Biar kubuatkan.”

“Tidak. Tidak usah…aku juga hanya mau melihatmu sebentar dan mengantarkan ini. Bunga mawar kesukaanmu dan kue Red Velvet. Katanya kue ini enak, jadi kubelikan untukmu.”

“Kau baik. Terima kasih, ya?”

“Sama-sama..”

“Oh ya, bagiaman promo albummu? Berjalan lancar atau tidak?”

“Yaahh…begitulah. Kau tau, menjadi artis itu ternyata tidak seindah yang terbayangkan. Sangat merepotan. Harus pandai main kucing-kucingan dengan Fans, menghindari paparazzi…cukup melelahkan..”

“Tapi setidaknya cita-citamu tercapai, kan?”

“Yaah..begitulah. Oh ya, kalau begitu aku permisi dulu, ya. Aku ada janji dengan managerku.”

“Iya…terima kasih, ya sudah datang dan membawakan semua ini untukku.”

“Iya…aku pergi dulu.”

“Iya…sampai jumpa..”

Austin pun melenggang pergi dan menghilang dibalik pintu itu.

Mawar Merah dan Red Velvet…sepertinya Nana pernah mendengar mitos tentang ini. Katanya, kalau seorang pria memberikan Mawar Merah dan Kue Red Velvet pada seorang gadis, itu tandanya dia sedang mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.

Apa Austin sengaja? Atau…dia sama sekali tidak tau tentang semua ini?

Ponsel Nana kembali berdering, kali ini nada panggilan. Dengan segera, dan tanpa memperhatikan layar ponsel itu Nana langsung mengangkatnya.

“Halo..”

“Halo Nana…kuharap kau mempertimbangkannya…”

“A-Austin…maksudmu mempertimbangkan? Apa?”

“Hehe…kau pasti sudah pernah dengar mitos tentang Mawar Merah dan Red Velvet kan? Kalau belum, biar ku beritahu…tapi dengan versiku…Aku Mencintaimu…kau mau kan menjadi pacarku?”

Nafas Nana seperti tercekat. Bibirnya tiba-tiba terkancing, tak mampu bersuara sedikitpun. Pernyataan cinta ini terlalu mendadak. Memang mereka sudah berteman lama. Tapi Nana rasa ini semua terlalu cepat.

“Nana…kau masih disitu, kan?”

Nana juga tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Kalau ia juga menyukai pria ini. Sangat menyukai pria ini.

“A-Austin…kuharap, kau bisa memberiku waktu untuk berpikir. I-ini terlalu mendadak…a-aku…”

“Iya…aku mengerti. Aku akan memberimu waktu untuk berpikir. Aku juga tidak akan memaksamu menerimaku…sampai kapan kau mau menjawab…aku tidak akan mengganggumu…bagaimana?”

“A-Austin…ba-baiklah…terima kasih…a-aku harus mengerjakan tugas…selamat malam.”

Nana pun menutup teleponnya dan terduduk lesu. Nana tak percaya kalau malam ini akan seperti ini. Pria yang paling disukainya, mengutarakan perasaannya pada Nana.

Seperti tak percaya, Nana mencubit kedua pipinya dengan keras. Dan segera mengerang kesakitan. Ini bukan mimpi…ini nyata…apa yang harus Nana lakukan? Dan kenapa harus disaat-saat begini?

*********

            Pikiran Nana kini tak bisa lepas dari pernyataan cinta Austin semalam. Terlalu terngiang diotak Nana, sampai-sampai hal yang lain mampu ditolak otaknya hanya karena sudah penuh dengan berbagai khayalan.

Nana menopang dagunya dengan lesu dimeja kelas. Entah hari ini apa yang akan dia lakukan dikampus, Nana sudah tidak tau lagi.

“Nana…kau tidak lapar? Sudah jam istirahat, lho. Mumpung kantin sedang kosong…” sapa Carly yang sudah memegang roti isi jelly ditangannya dan sekotak susu.

“Aku sedang tidak selera makan hari ini.” Balas Nana dengan malas. Tenaganya sudah habis hanya untuk memikirkan semua kejadian semalam. Sampai-sampai, perutnya yang sudah berdemo tak dihiraukannya lagi.

Kruuukk~~

“Perutmu bunyi Nana…kau tidak takut sakit? Hei! Ingat, ini bulan-bulan penentuan.” Ujar Carly dengan ekpresi memperingatkan.

Benar juga. Jangan hanya karena hal seperti ini membuat Nana harus menunda wisudahnya. Dengan berat, Nana bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kekantin.

Tapi kalau diingat-ingat lagi, bukannya Austin juga diuniversitas ini? Hanya saja untungnya dia di Jurusan Seni dan Sains. Gedungnya terpisah.

“Dia juga bilang tidak akan menggangguku selama aku belum bisa memberinya jawaban, kan?” gumam Nana pelan lebih pada dirinya sendiri. “Berarti aku aman-aman saja, kan untuk sementara waktu ini.” Lanjut Nana lagi seraya berjalan dengan semangat kekantin. Untung saja apa yang dikatakan Carly tadi benar, kantin kampus terlalu lengang. Entah dimana semua manusia-manusia kelaparan yang biasanya menyerbu kantin ini.

Dengan segera Nana membeli beberapa roti jelly dan sekotak susu, kemudian bergegas kembali kekelas sebelum lonceng berbunyi. Nana tak mau lagi mencari masalah dengan dosen-dosen tua nan sensitive itu. Cukup sudah dia diancam batal wisudah tahun depan.

Dengan napas yang terengah-engah karena baru habis berlari, Nana kembali masuk kelas dan duduk seraya meletakan roti jellynya itu diatas meja.

“Kau habis lari, ya?” tanya Carly polos.

“Iya. Aku takut terlambat lagi. Bisa-bisa aku mati kalau terlambat lagi kali ini.” Balas Nana masih setengah terengah. Cukup capek juga berlarian dikoridor kampus, yahh..hitung-hitung membayar jogging yang tak pernah dilakukannya lagi dipagi hari.

Bel pun berbunyi, dosen killer itu rupanya sudah stand by diluar, bersiap masuk dengan segala aura-aura kekejaman disekitar tubuhnya. Nana seperti bisa mencium bau kematian dari tubuh pria tua itu.

“Kim Nana. Tumben kau tak terlambat lagi masuk kekelasku. Baguslah kalau begitu.” Ujar Dosen itu seraya meletakan sebuah map brsegel diatas meja. “Hari ini adalah ujian praktek terakhir kita, sekaligus pertemuan terakhir kita. Namun sebelum itu, aku ingin kalian menyerahkan semua tugas yang sudah kuberikan minggu lalu.”

Berbondong-bondong para mahasiswa itu mengumpulkan kaset-kaset yang bersi tugas presentasi kedepan, termasuk Nana. Dalam hati, Nana terus berdoa semoga tugasnya ini diterima baik oleh dosen ini.

“Baiklah, kalau semua sudah sadar untuk mengumpulkan tugas kalian. Sekarang kita akan kerumah sakit…persiapkan diri kalian.”

Setelah berkata demikian, dosen itu keluar terlabih dahulu dan diikuti semua mahasiswa dikelas itu. Dengan lesu, Nana berjalan keluar dari kelas dengan menenteng tas juga jas putihnya itu.

“Nana…kenapa kau? Lapar? Dari tadi kau lesu sekali.” Tanya Carly prihatin saat melihat wajah pucat Nana.

“Iya. Aku bahkan belum sempat memakan rotiku.” Jawab Nana seraya mengelus-elus perutnya yang sudah keroncongan itu.

“Sudah. Masih ada waktu kok, kan kau masih bisa memakannya diatas bis nanti.” Usul Carly seraya tersenyum manis pada sahabatnya itu.

“Iya juga, ya.”

Kali ini Nana benar-benar akan mengenyampingkan masalah Austin dulu. Gara-gara terlalu kepikiran lelaki itu, Nana bahkan hampir mati lesu karena lapar siang ini. Padahal ada ujian praktek penting siang ini.

Sesampai diatas bis, Nana segera mengambil tempat duduk paling belakang dan membuka tasnya untuk mengambil roti yang sedari tadi menunggu untuk dimakan.

Perjalanan kerumah sakit pendidikan Universitas Harvard tidak begitu jauh dari kampus kedokteran Harvard, jadi Nana harus buru-buru menghabiskan rotinya itu sebelum mereka sampai kerumah sakit.

“Baiklah. Kita sudah sampai, sekarang semuanya turun dengan rapi, tunjukan wibawah kalian sebagai mahasiswa kedokteran yang baik.” Ujar dosen itu memperingatkan.

Dengan rapi, semua mahasiswa itu turun dari bus. Dan berduyun berjalan mengikuti dosen itu ketempat dimana mereka akan melakukan praktek mereka.

Hari ini adalah ujian tersulit dalam hidup Nana. Mereka harus berhadapan dengan orang-orang yang kesehatan jiwanya terganggu, alias orang gila. Dan tentu saja itu akan sangat merepotkan.

“Carly…kita akan baik-baik saja, kan?” tanya Nana dengan suara bergetar. Sungguh, Nana tak mampu menyembunyikan perasaan takutnya pada orang-orang gila ini.

“Entahlah, Nana…” jawab Carly pun dengan suara yang bergetar pula. Tangan Carly dingin dan berkeringat. Nana tak menyangka gadis ini juga akan ketakutan sampai sebegininya.

“Kim Nana…sekarang giliranmu. Ini kasusmu…dan selamat berjuang.” Nampak wajah tegang yang sama menguar dari wajah dosen tua itu. Perasaan Nana kini benar-benar tidak enak. Perlahan Nana membuka pintu ruangan itu, dan sudah nampak seorang wanita dengan baju pasien duduk dengan tenang dikursi pasien itu.

“Selamat pagi..” sapa Nana dengan ramah. Sedikit memaksakan sekilas sunggingan senyum dibibirnya. “Nyonya…Donovan, ya? Baiklah, nyonya Donovan…apa kaluhan anda?” tanya Nana lembut setelah duduk berhadapan dengan wanita yang seumuran dengan ibunya itu.

Sontak wanita itu menangis histeris tanpa berucap apapun pada Nana. Ekspresi bingung ditambah takut dan panic sudah menghias wajah cantik Nana.

“Nyonya Donovan…” tegur Nana pelan seraya menggapai tangan wanita yang tertunduk dalam isakannya itu. Seketikan wanita itu menggenggam erat sekali tangan Nana. Sakit, sih..tapi harus ditahan. “Maaf, nyonya. Coba, nyonya bicarakan keluhan anda. Siapa tau saya bisa membantu anda.” Nana kembali melirik kertas kasus yang sedari tadi dipegangnya. Dan ternyata wanita didepannya ini depresi karena kasus pelecehan yang pernah dialaminya.

Kembali Nana memperhatikan wanita didepannya ini dengan penuh prihatin.

“Nyonya. Saya tau ini berat buat nyonya menceritakan keluhan nyonya. Tapi…kalau terus nyonya simpan sendiri, tak akan baik kan?” ujar Nana perlahan dengan lembut. Genggaman keras wanita itupun melunak. Perlahan dilepasnya tangan Nana. Dan kembali menatap Nana dengan lirih.

“Pria itu…pria itu sangat jahat! Mengerikan!” jerit wanta itu seraya memelototkan matanya. Nampak rasa benci yang mendalam masih terpancar dimata wanita itu. Nana mengerti, dan membalas menatap wanita itu dengan lembut.

“Apa yang dilakukan pria jahat itu pada nyonya?” tanya lembut pada wanita yang sudah mulai kembali terisak itu.

“Dia melecehkan aku dan pergi meninggalkanku, dokter…dia jahat sekali padaku.” Jawabnya sambil terus menangis dan kali ini makin menjadi-jadi.

“Iya. Dia jahat sekali. Karena itu, polisi sudah menghukumnya. Mungkin, dia juga sudah disiksa polisi karena berlaku tidak baik padamu. Oh ya, lagi pula nyonya ini cantik sekali…tidak baik kalau seorang wanita cantik itu menangis terus. Nanti cantiknya hilang, lho!” ujar Nana lembut seraya menggegam lembut tangan wanita itu.

Wanita itu seketika terperanjat dalam diam. Menatap Nana dengan tatapan bersahabat, dan itu tentunya sangat menguntungkan bagi Nana.

“Terima kasih, nona Dokter. Kau juga cantik sekali. Semoga kau tak mengalami, apa yang aku alami.” Ujar wanita itu dan seketikan memeluk Nana dengan erat. Nana tak mau mengelak, karena Nana merasa ini juga adalah sebuah doa. Meski dari seorang yang tak waras.

“Terima kasih, nyonya.” Ujar Nana seray perlahan melepaskan pelukannya dari wanita itu.

“Kalau begitu, ayo kita kembali kekamar anda. Saya antarkan…” bujuk Nana lembut dan hanya dijawab dengan anggukan patuh wanita itu. Merekapun keluar dari ruangan itu dan menuju kekamar wanita itu. Untung sepanjang jalan koridor ini tak ada orang gila yang masih berkeliaran. Jadi Nana bisa mengantar wanita itu dengan nyaman dan aman kekamarnya.

Setelah mengantarkan wanita itu kekamarnya, Nana segera pamit dan kembali bergabung dengan teman-temannya. Sambil menghela napas panjang, Nana menyerahkan laporannya pada dosen tua itu. Dan nampak sebuah senyuman puas terpancar diwajah dosen itu.

Syukurlah…batin Nana.

“Kau sudah selesai, kan? Sekarang kau boleh pulang…” ujar dosen tua itu dengan senyum diwajahnya. Baru kali ini Nana melihat dosen tua ini bisa tersenyum begitu padanya. Padahal biasanya wajahnya keram terus pada Nana. Yaahh…hitung-hitung ini adalah kemujuran untuk Nana kan?

“Baik. Terima kasih, dok. Kalau begitu saya permisi.” Pamit Nana yang kemudian melambai pada Carly yang masih menunggu gilirannya.

Carly pun membalas lambaian itu dengan wajah sedikit lesu yang memaksakan segaris senyum.

Dengan girang Nana keluar dari rumah sakit itu, berjalan terus sampai ke halte bis yang ada didekat rumah sakit itu.

“Praktek hari ini selesai. Ujiannya tinggal 1 ujian praktek besok, dan 2 ujian tulis hari kamis dan sabtu. Selebihnya libur sampai bulan depan.” Gumam Nana seperti puas dengan apa yang sudah ia jalani hari ini dan beberapa hari kedepan.

Mata Nana kini sudah melihat-lihat kearah jalan, memastikan apakah ada bis yang lewat. Merasa kakinya terlalu lelah, Nana duduk dibangku halte itu sambil terus melihat kearah jalan.

Tiba-tiba saja terdengar suara klakson mobil yang sepertinya Nana kenal. Dari mobil itu terlihat sosok Austin yang sudah melambai kearah Nana.

Yang benar saja? batin Nana.

Mobil itu perlahan mendekat dan nampak Austin yang sudah tersenyum lebar kepada Nana.

“Kau mau pulang, kan? Ayo kuantar.” Ajak Austin.

“A-apa tidak merepotkan?” tanya Nana ragu-ragu.

“Aah! Tidak kok. Ayo…sekalian aku mau mengajakmu kesuatu tempat.”

“Kemana?”

“Ada saja. Ini namanya surprise.”

Nana pun bangkit dari duduknya dan masuk kedalam mobil Austin yang sudah menunggunya itu. Dan merekapun beranjak dari situ.

Sepanjang jalan, Nana terus bertanya-tanya kemana mereka akan pergi. Dan satu lagi yang kali ini sudah mulai memenuhi kepala Nana…ya, pernyataan cinta Austin semalam.

Tapi, Austin nampak baik-baik saja dari tadi. Tak nampak sedikitpun kegugupan diwajahnya. Tidak seperti Nana yang mungkin sudah memerah saat ini karena saking gugupnya.

“Kau sudah makan belum?” tanya Ausin yang membuat Nana terperanjak dari lamunannya.

“E-eh..ha? belum…” jawab Nana gugup.

“Kalau begitu kita mampir direstoran, ya? Aku yang traktir deh..”

“Tidak apa-apa nih?”

“Iya…”

Austin pun memutar strinya dan membawa mereka kesebuah restoran Korea.

“Ayo..” ajak Austin seraya melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Nana masih tidak percaya kalau Austin akan membawanya kemari. Saat membuka pintu mobil, Nana sudah bisa mencium bau kuah RamYun. Rindunya…batin Nana.

“Kau mau pesan apa?” tanya Austin pada Nana ketika mereka sudah duduk disebuah meja dekat jendela.

“Aku RamYun saja. Terima kasih, ya sudah membawaku kesini. Aku pernah dengar tentang restoran ini, tapi tidak tau tempatnya.”

“Sama-sama…aku tau kau pasti rindu degan makanan-makanan yang ada direstoran ini. Makanya aku mengajakmu kesini.”

Perkataan Austin itu seperti mengerti perasaan Nana ini. Kali ini hatinya makin mantap untuk berkata “iya” pada lelaki yang duduk didepannya itu.

“Oh ya Nana…apa orang tuamu akan datang diacara wisudahmu?”

“Iya. Setelah itu aku akan pulang sekitar seminggu ke Seoul.”

“Benarkah? Waahh..sepinya.”

“Kenapa?”

“Haa? Yaahh.. sepi saja.”

Jantung Nana kembali berdegup hebat. Lelaki didepannya ini, selalu saja bisa menggetarkan hatinya sebegini rupanya hanya dengan kata-kata manisnya. Yang tentunya bukan suatu kemunafikan.

Nana mengenal baik pria ini. Dia tidak akan mungkin sejahat itu.

Tak lama kemudian, seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka. Dengan senyum sumringah Nana segera mengambil sumpit yang ada disamping mangkok itu.

“Selamat makan..” ujar Nana seraya menyumpit mie itu dari dalam mangkok, meniupnya dan memasukannya kedalam mulut.

“Kau benar-benar merindukan Seoul-mu itu ya? Sampai-sampai kau terlalu girang saat kuajak kesini.”

“Tentu saja…kau tau, aku bahkan tidak sabar lagi ingin segera pulang. Suasana disini sepertinya kurang cocok untukku.”

Nana terus tersenyum sambil menyantap RamYun dengan ukuran mangkok jumbo itu. Entah mengapa, semua rasa gugup Nana tiba-tiba saja hilang saat menyantap makanan khas Negeri Gingseng ini.

Saking girangnya sampai-sampai Nana tak sadar kalau isi dimangkuknya itu sudah habis. Sayang, Nana tak mungkin meminta Austin untuk menambah semangkok lagi. Lagi pula perutnya juga sudah cukup kenyang.

“Bagaimana? Sudah kenyang? Atau kau masih mau tambah lagi?” tanya Austin setengah bercanda karena melihat semangat gadis ini yang begitu luar biasa.

“Tidak. Aku sudah sangat kenyang, kok. Memangnya hari ini kau tidak kuliah?”

“Hari ini tidak ada kuliah. Lagi pula, aku juga sudah menyelesaikan beberapa mata kuliah terlebih dahulu sebelum aku pergi tour.”

“Waahh…hebat kau. Lalu, sekarang kita mau kemana?”

“Hmm..memangnya kau mau kemana?”

“Kalau aku sih, tidak ingin kemana-mana. Aku mau langsung pulang.”

“Sayang juga, ya? Kalau begitu mau tidak kuajak ke mall?”

“Boleh. Kalau tidak begitu merepotkanmu.”

“Tentu saja tidak. Kan aku yang mengajakmu.”

“Baiklah..”

Setelah membayar semua pesanan itu, Austin menarik tangan Nana dan keluar dari restoran itu. Sontak Nana kaget dengan sikap spontan Austin itu. Kini sudah banyak pikiran yang menyerang otak Nana. Bagimana kalau sampai ada paparazzi yang melihat, atau mungkin kalau ada fans yang salah paham? Nanti pasti akan merepotkan Austin.

Tapi melawan pun percuma. Genggaman tangan Austin tak mampu dilepasnya, meski sekarang mereka sudah sampai dikeramaian Mall.

Rasa gugup, deg-degan, dan gembira bercampur aduk jadi satu. Padahal pemandangan-pemandangan seperti ini awalnya hanya bisa dirasakan Nana lewat mimpi. Atau mungkin hanya mampu melihatnya didrama-drama Korea yang sering ditontonnya.

Apa ini mimpi? Batin Nana. Curi-curi Nana tersenyum gembira dibelakang Austin. Terlampau girang sampai-sampai semua pemikiran muluk tadi dapat terhempas jauh-jauh dari otaknya.

“Kita kesana, yuk.” Ajak Austin sambil terus menggenggam tangan Nana. Entah sadar atau tidak, Austin sudah berhasil membuat Nana berdebar hebat.

Kini mereka sudah berada didalam sebuah toko pakaian khusus wanita. Nana sampai bingung pada Austin. Kenapa dia datang kemari? Apa dia akan membelikan baju untuk seseorang atau?

“Pilihlah baju mana yang kau sukai. Biar aku yang bayar?” ujar Austin sontak membuat Nana menganga parah. Apa ini sungguhan? Nana sudah mendapati tatapan penuh makna seorang pramuniaga pada Nana. Terang saja, seorang Austin Mahone datang ketoko pakian semahal ini bersama seorang gadis beruntung. Pemandangan yang jarang.

“Kenapa? Kok bengong…ayo. Atau mau kubantu memilihkan?” ujar Austin yang sudah mulai memilah-milah beberapa dress cantik.

“Nah! Bagaimana kalau ini?” tanya Austin pada Nana seraya menunjukan sebuah dress putih polos selutut yang sangat cantik. Entah berapa harganya dress cantik itu Nana sudah tidak tau lagi.

“Cantik sekali. Tapi…” perlahan Nana mendeati Austin. “Aku tidak punya uang sebanyak itu sekarang.” Bisik Nana pada Austin. Membuat Austin terkikik pelan.

“Hahaha…kan aku sudah bilang. Biar aku yang bayar. Nona…tolong buatkan nota untuk dress ini, ya.” Seorang pramuniaga dengan wajah full smilenya datang dan mengambil dress putih cantik itu dari tangan Austin dan mempersilahkan Austin untuk menunggu.

“Kau yakin?” tanya Nana seperti kurang enak.

“Yaahh…hitung-hitung ini hadiah untukmu. Ulang tahunmu 9 september kan? Sudah lewat dan aku belum membelikan apa-apa untukmu. Jadi…selamat ulang tahun.” Austin pun berjalan meunuju arah kasir dan membayar dress putih tadi.

Ternyata Austin masih ingat ulang tahun Nana. Padahal sudah lewat 5 hari yang lalu.

“Oh ya Nana. Kau duluan kemobil, ya? Ada sesuatu yang kulupakan.” Ujar Austin seraya memberikan kunci mobil pada Nana. Kemudian berlari kembali masuk kedalam Mall.

Terpaksa Nana harus ke area parkir sendiri. Untung saja, Nana masih hafal nomor plat mobil Austin. Kalau tidak bisa salah masuk mobil dia.

Selang beberapa saat kemudian, Austin sudah kembali dengan boneka Stitch besar dan sebuket bunga mawar merah muda.

“Apa-apaan anak itu?” gumam Nana lebih pada dirinya sendiri.

Austin dengan senyum sumnringahnya membuka pintu mobil dan…

“Sangeilchukae hamnida Nana-aah…!!” seru Austin dengan masih beraksen amerika. Lucu juga mendengar seorang bule seperti Austin ini berucap dalam bahasa korea.

“Ne..jeongmal gumawo..” balas Nana dengan senyum lebar pula. Dia tak pernah menyangka akan mendapat hadiah sebanyak ini dari Austin.

“Mau ditaruh dimana boneka sebesar ini?” tanya Nana bingung.

“Tunggu sebentar..”

Austin pun membuka bagasi belakang dan mengambil boneka itu dari Nana.

“Nah…ditaruh disini…”

Austin pun kembali masuk kedalam mobil. “Bagaimana? Kau suka? Aku sempat bingung harus membeli boneka apa untukmu. Makanya kutanya Carly, dan katanya kau suka sekali dengan karakter Stitch makanya kubelikan boneka Stitch itu untukmu.”

“Benarkah? Terima kasih, ya? sebenarnya tidak perlu juga sampai membelikanku semua ini. Cukup kau masih ingat ulang tahunku saja, aku sudah senang kok. Tapi aku tetap akan menerima semua ini, aku akan menjadikannya harta karunku.”

Senyum polos Nana itu sontak membuat Austin terdiam sejenak. Menatap wajah indah bak bidadari itu tengah tersenyum padanya. Mata yang sedikit sipit, hidung yang kecil dan tak terlalu mancung, wajah nan putih dengan semu merah dipipi…terlalu sempurna untuk dikatakan sebagai seorang manusia.

Perlahan Austin mencondongkan wajahnya kearah Nana. Dengan reflex Nana sudah memejamkan matanya. Tapi, sampai beberapa detik kemudian Nana belum merasakan apa-apa. Nana kembali membuka matanya dan melihat Austin yang sudah memerah, bersandar gugup dikursinya.

Nana hanya bisa tersenyum lucu melihat tampang Austin yang seperti itu.

“Saranghae..”

Tanpa sadar, bibir Nana berucap enteng sebuah kata yang bahkan Nana tak menduganya keluar.

“Apa?” tanya Austin seperti tak kurang mendengar apa yang Nana katakan.

Terpaksa, karena sudah terlanjur keceplosan. Nana harus memngungkapkan semuanya.

“Sarangahae, Austin-shii..” ungkap Nana kali ini lebih mantap dari yang tadi. Seketika Austin memeluk Nana dengan erat dan kemudian mengecup kening gadis itu.

“Aku juga… jadi sekarang kita pacaran, kan?”

Nana hanya bisa menjawab dengan anggukan kecil. Dengan cepat, Austin menarik wajah Nana dan mengecup bibir mungil gadis itu dengan lembut.

Sungguh..Nana sangat kaget, dan tak tau harus berkata atau berbuat apa. Semua terlalu mendadak. Hampir saja Nana pingsan dibuatnya.

Kejadian ini akan Nana ingat sampai kapanpun. Cinta ini pun…

Cinta yang sangat berharga…Nana akan berusaha sekuat tenaga melindungi hubungan ini…sejauh apapun mereka terpisah…

Mampukah??

 

To Be Continue…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s