Posted in Uncategorized

Falling In Love With You (Day 2)

Day 2

 

            Sekali saja melirik kecermin tak akan membuat Nana puas. Berulang kali Nana memperhatikan bayangannya dicermin, merasa tidak percaya kalau hari ini tiba saatnya dia akan diwisudah dengan gelar dokter muda. Dan dia nampak begitu cantik dengan toga yang dikenakannya.

Dengan senyum sumringah diwajahnya, Nana melangkah mantap keluar dari boutique bibinya.

Sedang diluar, ibu dan juga ayahnya sudah menunggu dimobil.

“Bibi akan menyusul.” Seru seorang wanita yang adalah bibi Nana itu dari dalam boutique

“Ye, arraseo ahjuma!” balas Nana.

Hari ini adalah hari bersejarah untuk Nana. Hari yang Nana tunggu-tunggu. Hari dimana ia sudah berhasil mengakhiri 4 tahun masa belajarnya di Fakultas Kedokteran Universitas Harvard. 4 tahun yang penuh warna dan cerita. 4 tahun yang breharga untuk Nana.

Nana tau, setelah ini aka nada tugas yang lebih berat lagi yang harus ia hadapi. Dan waktunya pun terlalau panjang. Kurang lebih dua tahun mereka harus koas. Entah dimana mereka ditempatkan nanti, Nana tak tau lagi. Yang penting, Nana tak akan menyerah dan akan berjuang untuk menyelesaikan semua ini.

Jantung Nana kini sudah berdebar 10 kali lipat dibanding tadi. Rasa gugup ini seperti terasa menyenangkan untuk Nana. Pasalnya, gugup ini menggambarkan kegembiraan Nana saat ini.

Perlahan Nana memasuki aula kampus dan duduk ditempat yang sudah disediakan. Sudah banyak orang yang datang, para orang tua, wisudawan, mahasiswa junior, juga…Austin.

Entah mengapa, sosok Austin tak bisa disembunyikan dari pandangan mata Nana. Apa ini yang namanya jodoh atau semacamnya?. Setidaknya, mereka sudah saling memiliki. Nana mencintai Austin, begitupun Austin. Tak ada yang perlu Nana takutkan lagi. Hanya sekarang, Nana harus bisa berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga hubungan mereka itu disaat Nana jauh dari Austin nanti. Menjaga hati Nana, bahwa hanya aka nada Austin saja. Ya..hanya Austin saja.

            Acara wisudah berjalan dengan hikmat dan megah. Dan kini, Nana sudah resmi menjadi seorang dokter muda.

“Hai dokterku yang cantik…” sapa Austin dari belakang Nana yang sontak membuat Nana terkejut dan segera berbalik.

“Austin…” segera Nana menghambur kedalam pelukan Austin yang sudah menggenggam sebuket bunga mawar itu.

“Selamat ya…” ungkap Ausin seraya mmeberika bunga itu pada Nana.

“Terima kasih. Oh ya, Austin..perkenalkan, ini ayah dan ibuku. Ayah, ibu…ini Austin yang aku ceritakan pada kalian itu.”

Dengan ramah ayah dan ibu Nana bergantian menyalami Austin. Pikir Nana, ini sudah seperti memperkenalkan calon suaminya pada ayah dan ibunya. Dan untungnya, ayah dan ibunya bisa menerima Austin dengan baik.

Sekarang, mereka sudah nampak berbincang akrab sedang Nana dan Carly menatap pemandangan itu dengan penuh senyum bermakna.

“Nana..kau tau. Kau itu beruntung sekali bisa mendapatkan Austin. Kalian juga serasi sekali, lho.” Nilai Carly dengan tatapan bahagianya. Terang saja, sudah lama Carly memperkenalkan Nana dan Austin, sahabat semasa kecilnya itu. Dengan harapan bahwa hari ini akan terjadi.

“Seharusnya aku berterima kasih padamu, Carly. Terima kasih, ya…waktu itu sudah memperkenalkanku pada Austin.” Ujar Nana dengan tatapan penuh rasa terima kasih pada sahabatnya itu.

“Sebenarnya, dari awal Austin memang sudah menyukaimu. Makanya, ku perkenalkan saja kalian berdua.” Cerita Carly lagi, menginta masa-masa lucu sewaktu memperkenalkan Austin pada Nana. “Oh ya..katanya surat tugas sudah keluar, ya?” lanjut Carly kali ini mencoba pembicaraan yang lain.

“Mungkin. Aku juga kurang tau. Kita tunggu saja kapan dipanggil kekampus untuk menerima surat tugas itu.”

“Hmm..kita akan ditaruh dimana, ya? Katanya banyak dari kita yang akan dilempar keluar negeri.”

“Benarkah? Kenapa tidak disini saja?”

“Entahlah. Tapi, mau bagaimana lagi…sudah seperti itu. Protespun percuma saja.”

Luar negeri? Dimana? Yang pastinya jauh. Jauh dari Amerika, dan jauh juga dari Austin.

Berarti…Nana dan Austin harus menempuh yang namanya Long Distance Relationship.

Apa Nana sanggup harus terpisah jauh dalam jangka waktu yang lama dari Austin? Nana takut dia akan berpaling dari Austin. Menghianati Austin.

Itu bisa saja terjadi kan? Atau mungkin…

Tidak…tidak,,,Nana harus membuang jauh semua pemikirannya itu. Nana harus yakin kalau mereka berdua sanggup melewati ini dengan baik.

Harus bisa! Tekat Nana dalam hati.

 

**********

 

“Spanyol?? Dok…apa tidak salah?” seru Nana terkejut bukan main saat melihat surat tugasnya yang melemparnya begitu jauh sampai dinegeri Matador itu.

“Bukan hanya kau saja yang dilempar jauh. Banyak mahasiswa juga yang ditempatka diluar negeri. Ada yang sampai ke Ethiopia, lho! Syukur-syukur kau tak dilempar kesana.” Jawab seorang dokter cantik yang adalah dosen dikampus itu.

“Tapi…”

“Sudah…kan enak, kau ada Carly disana. Dan kalian juga bukan ditempatkan didesa. Kalian akan ditempatkan dirumah sakit Sant Joan de Déu.”

“Yang benar, dok?”

“Iya…tapi jangan bilang siapa-siapa, ya kalau aku yang memberitahumu. Karena sebenarnya ini rahasia.”

“Baiklah. Kalau begitu, terima kasih ya dokter Caroline. Aku permisi dulu. Selamat pagi..”

Dengan langkah gontay, Nana masih belumpercaya dengan tulisan yang tertera pada kertas itu. Kertas yang sudah memntapkan kekhawatirannya saat ini.

Spanyol?? Itu jauh sekali, kan?

            “Bagaimana Nana? Kau ditempatkan dimana?” tanya Carly seraya menyeruput Ice Chocolate yang digenggamnya.

“Spanyol. Rumah sakit Sant Joan de Déu.” Balas Nana singkat dengan lemas.

“Sama dong! Waahh…senangnya!” seru Carly girang.

“Iya…sama sih sama. Tapi..apa itu tidak terlalu jauh?” ungkap Nana lesu kemudian menopang dagunya dengan kedua tangannya.

“Kau khawatir soal Austin, ya?”

Nana hanya bisa mengangguk dengan wajah yang seperti hampir menangis.

“Sudahlah…Austi itu anak yang baik, kok. Dia tak akan mungkin menghianatimu. Yaahh…asal kalian sering-sering berkomunikasi saja.”

“Tapi..kami akanjarang bertemu, kan Carly?”

“Yaaah..mau bagaimana lagi. Kita tidak bisa memprotes yang sudah tertera.”

Benar juga. Sia-sia saja kalau Nana mau menyesalinya sekarang. Semua sudah terjadi. Nana hanya bisa memathui dan menjalani yang ada ini. Meski berat, Nana yakin mereka pasti bisa melewatinya bersama.

 

********

 

“Apa?? Spanyol?? Jauh sekali…” seru Austin terkejut saat membaca selebaran yang ada ditangannya itu.

“Mau bagaimana lagi. Tidak bisa diprotes.” Balas Nana dengan pipi yang membengkak. Wajahnya sudah terlalu cemberut.

“Hmm…jadi, kau akan jauh dariku untuk 2 tahun kedepan?” tanya Austin seperti tidak percaya dengan apa yang akan mereka hadapi ini.

Nana hanya bisa mengangguk lesu dengan wajah yang masih cemberut. Sedih juga…tapi mau bagaimana lagi. Bulan depan Nana sudah harus berangkat ketempat tugasnya. Jadi mereka tinggal memiliki waktu 2 minggu. Belum lagi, besok Nana harus ikut kedua orang tuanya pulang ke Seoul selama seminggu. Jadi, kalau mau dihitung-hitung, waktu mereka untuk bersama hanya sekitar seminggu saja.

Seperti enggan berpisah dari Austn, kini tangan mungil Nana sudah melingkar dipinggang Austin. “Aku pasti akan sangat merindukanmu.” Ujar Nana seraya membenamkan wajahnya didada Austin.

“Tentu saja aku juga akan sangat merindukanmu, pendek.” Jawab Austin seraya membalas pelukan gadis itu kemudian tersenyum penuh arti. Dan sesekali, Austin mengecup kepala gadis itu dengan lembut.

Sungguh momen-momen yang akan membekas dan paling Nana rindukan. Yaitu, berada dalam pelukan pria ini. Terlalu nyaman, sampai-sampai Nana berharap waktu untuk berhenti disaat ini juga. Supaya dia bisa berada lebih lama lagi dalam pelukan pria yang paling dia cintai ini.

“Aku mencintaimu, Kim Nana. Sangat…” bisik Austin seraya mendekap gadis ini lebih dalam lagi.

“Aku juga..”

Tega! Austin tega berkata selembut itu. Seperti ingin menahan Nana supaya tidak pergi. Membuat Nana makin enggan berpisah dengannya. Mau menangis pun percuma.

Tuhan…lindungi kami berdua..batin Nana.

 

**********

 

            Pagi-pagi sekali Nana sudah keluar dari apartemennya, dengan menenteng koper besar. Ya…pagi ini ada penerbangan pertama ke Seoul.

Dengan lesu, Nana berjalan gontay turun dari apartemennya.

Dibawah sana, Austin sudah menunggu untuk mengantarkan gadis itu kebandara.

“Kopermu besar sekali. Kan kau hanya seminggu disana.” Ujar Austin seraya memasukan koper itu kedalam bagasi mobilnya.

“Kupikir juga begitu. Tapi, semalam ibukku memintaku untuk sekalian saja disana sampai aku berangkat ke Spanyol. Jadi…mau bagaimana lagi? Apa kau tak bisa ikut denganku?”

Mendengar ujaran manja gadisnya itu, Austin terkekeh pelan.

“Hehe…mana bisa. Aku kan kuliah…hmm..bagaimana kalau minggu depan? Aku janji akan datang menengokmu, meski hanya beberapa hari saja, ya?” ujar Austin seraya mengusap kepala Nana.

“Janji, ya?”

“Iya..janji.”

Merekapun naik kemobil dan segera beranjak dari situ. Dalam hati, Nana berharap kalau-kalau saja penerbangan hari ini dibatalkan, supaya dia masih ada waktu bersama Austin.

Tapi ternyata takdir berkata lain…sesampainya disana, pesawat yang akan membawa Nana ke Seoul sudah tiba lebih cepat dari perkiraan, maka Nana harus segera cek ini dan masuk keruang tunggu.

“Pesawat sialan!!” umpat Nana dalam hati.

Kini Nana sudah memeluk Austin erat. Pelukan terakhir yang manis. Rasanya tidak ingin dilepaskan. Dan sebagai sentuhan terakhir, Austin pun membungkuk dan mengecup bibir gadis itu lembut.

Sumpah, kalau ini bukan tempat ramai Nana mungkin sudah menangis sejadi-jadinya.

Tapi air mata itu, hanya bisa Nana telan sendiri.

“Nana..kau harus masuk sekarang. Kau tentunya tak mau ketinggalan pesawat kan?” ujar Austin memperingatkan Nana.

Sebenarnya Nana berharap seperti itu. Tapi, ia juga tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya yang mungkin sudah menunggu-nunggu kedatangannya disana.

“Baiklah. Aku masuk dulu, ya? Oh ya..ingat! kau harus mengunjungiku kalau tak ada kuliah.”

“Iya…”

Nana pun berjalan gontay masuk kedalam ruang cek ini. Sebenarnya, Nana masih ingin bersama Austin lebih lama lagi. Tapi apa mau dikata, pesawat yang akan dia tumpangi berangkat sebentar lagi. Jadi, mau tak mau Nana harus rela berisah tanpa mengucapkan lebih banyak pesan lagi untuk Austin.

Tapi…Nana bisa yakin, kalau Austin tidak akan menghianatinya. Mereka saling mencintai, dan Nana bisa merasakan itu waktu Austin memeluk dan menciumnya tadi.

Semoga saja…hubungan ini akan berjalan dengan baik, meski terhalang jarak yang jauh.

 

***********

 

Bandara International Incheon, Seoul.

Rupaya Nana sudah tiba di Seoul. Berbagai perasaan sudah terasa sekarang. Senang, sedih..semua bercampur jadi satu.           

“Eonni!!!” seru seorang gadis manis berambut pendek dari pembatas pintu kedatangan. Kini gadis itu sudah melambai-lambai dengan girangnnya saat melihat sosok Nana keluar dari ruang kedatangan.

“Myeong Ji…kau sendiri.” Sapa Nana setelah menghampiri adiknya itu.

“Iya…ayah sedang rapat dikantor, ibu juga sudah sibuk di Café…jadi aku sedniri yang menjemputmu.” Jelas gadis itu seraya mengambil koper yang ada ditangan Nana.

“Hmm…begitu, ya?”

“Oh ya, Eonni…aku dengar dari ibu dan ayah, kau sudah punya pacar, ya?”

Entah mengapa pertanyaan adiknya yang terdengar spontan itu seperti petir dihati Nana.

Nana jadi teringat pada Austin yang sudah dia tinggalkan disana. Ingin menangis, tapi…sudahlah.

“Memangnya kenapa?” tanya Nana ketus.

“Tidak…kan aku hanya bertanya saja. Dasar…” balas Myeong Ji itu seraya menjulurkan sedikit lidahnya kearah Nana. “Pak Jang…tolong bantu aku.” Seru gadis Myeong Ji pada seorang pria yang sudah membuka bagasi mobil dan mengangkat koper itu.

“Selamat datang Nona…” sapa pria paruh baya itu dengan ramah.

“Terima kasih pak Jang…anda baik-baik saja, kan?”

“Tentu saja…bagaimana dengan anda?”

“Saya bahkan tak tau baik atau tidak…oh ya, kita singgah ke Café ibu ya, pak Jang.”

“Baik Nona…”

Merekapun bergegas masuk kedalam mobil dan beranjak dari area parkir bandara itu. Sepanjang jalan, Nana hanya berharap kalau kali ini dia sedang bermimpi. Dan saat dia bangun nanti, dia masih berada dalam pelukan Austin.

“Eonni…siapa pacarmu itu?” tanya Myeong Ji tiba-tiba. Sebenarnya Nana tidak mau bicara soal Austin dulu karena rasa rindu ini, tapi…Nana kenal betul sifat adiknya itu. Kalau tak diberi jawaban maka ia akan terus meneror sampai ia mendapat apa yang dia inginkan.

“Austin…namanya Austin Mahone. Aku yakin kau tau dia kan? Jadi aku tak perlu menjelaskan padamu seperti apa dia.” Jawab Nana singkat tanpa harus menjelaskan panjang lebar tentang pangerannya itu. Toh! Austin adalah seorang artis terkenal. Hanya gadis bodoh yang tak tau siapa Austin Mahone.

“Kau pasti bercanda!” seru Myeong Ji tak percaya.

“Ya sudah. Yang penting aku sudah memberitahumu yang sebenarnya. Mau percaya atau tidak terserah kau saja.”

Nana seperti tak punya tenaga utuk memulai pertengkaran dengan gadis cerewet disebelahnya ini. Akan sangat merepotlan dan membuatnya makin lelah.

Tatapan penuh selidik masih diarahkan Myeong Ji pada kakaknya itu.

“Mwo?” tanya Nana heran pada tatapan penuh curiga Myeong Ji itu. Seketika gadis itu hanya menggeleng seperti tak ada yang harus dia curigai.

Perjalanan terasa agak sedikit berwarna. Meskipun aneh, tapi tingkah adiknya itu bisa sedikit menghiburnya yang sedang dirundung rindu yang mendalam itu.

Sesekali, Nana mengintip ponselnya berharap ada pesan yang masuk. Tapi belum ada juga.

Austin sedang apa sekarang? Sampai-sampai tak bisa membalas pesannya. Nana jadi takut. Padahal baru beberapa jam saja Nana meninggalkannya.

Apa mungkin Austin sudah melupakannya?

“Eonni…kita sudah sampai…kenapa kau?” Tanya Myeong Ji saat melihat kakanya yang sedari tadi bengong sampai-sampai tak sadar kalau mereka sudah sampai di tempat tujuan.

“Hah? Oh iya…tidak..aku tidak kenapa-kenapa.” Elak Nana seraya turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam Café.

Café ini masih ramai seperti terakhir kali Nana datang. Bahkan lebih ramai dari yang waktu itu. Pantas saja, ibunya sangat sibuk sekarang.

“Eommani…” sapa Nana saat memasuki ruang kerja ibunya.

“Hei…kalian disini…” balas wanita itu seraya berdiri dan menyambut putrinya dengan pelukan.

“Iya…aku rindu pada ibu makanya langsung mampir kesini. Ibu apa kabar?” Tanya Nana seraya melepas pelukannya.

“Yaah..seperti yang kau lihat. Ibu makin sibuk dengan café ini. Sudah terlalu ramai…rasa-rasanya ibu ingin membuka satu cabang lagi.” Ujar wanita itu dengan wajah yang sedikit lesu. Wanita itu sudah berusia 45 tahun, tapi masih memiliki wajah muda yang sebaya dengan wanita berusia 20-an tahun. Tak heran kalau wanita ini memiliki kedua putri yang cantik jelita.

“Eommani…jeongmal bogoshipeo..” seru Nana manja dan kembali memeluk ibunya itu.

“Iya…ibu juga. Oh ya…kalian mau apa? Biar ibu buatkan.” Tanya wanita itu pada kedua putrinya itu.

“Kalau aku apa saja, bu. Tidak tau kalau kakak…” ujar Myeong Ji seraya mencibir kearah kakaknya.

“Aku juga apa saja, bu.” Balas Nana tak perduli cibiran gadis bawel disebelahnya itu.

“Baiklah…tunggu disini sebentar, ya?”

Wanita itupun keluar dengan segera. Sedang, Nana dan Myeong Ji sudah duduk manis menunggu kedatangan ibu mereka kembali dengan entah apa nantinya.

“Eonni..kau kan pacaran dengan artis seperti Austin itu. Kau tak takut dikejar-kejar paparazzi atau mungkin diteror freak fan-nya mungkin…” kali ini ucapan gadis bawel itu patut dipertimbangkan. Sudah 2 bulan mereka pacaran, tapi Nana tidak sedikitpun berpikir tentang hal itu. Tapi untung saja, selama 2 bulan itu tak ada gangguan apa-apa seperti yang dikatakan Myeong Ji.

“Yaahh…entahlah. Aku tak mau memikirkannya.” Jawab Nana singkat, sepertinya tak perlu terlalu bertele-tele dengan gadis bawel ini. Akan capek sendiri kalau mengajaknya bertele-tele.

“Oh ya…terus, kau kan akan praktek di Spanyol. Kau tak takut kalau dia…selingkuh..yaahh..mengingat, dia kan tampan, terkenal pula…pasti disekelilingnya banyak gadis yang bahkan lebih cantik dan seksi darimu.”. Nana mulai merasa, cerocosan gadis ini sudah mulai keterlaluan. Untung saja Nana masih merasa ‘jet lag’ kalau tidak sudah dari tadi Nana menjitak kepala gadis ini karena terlalu sering berpikir yang macam-macam.

“Tutup mulutmu sekarang atau aku yang menutup mulutmu dengan tanganku.” Ancam Nana dengan datar tapi kedengaran begitu mengerikan sampai-sampai Myeong Ji tak berani berbicara apa-apa lagi. Sudah cukup kepala Nana pusing karena lama perjalanan yang ditempuh dari New York ke Seoul. Jangan lagi ditambah dengan pemikiran-pemikiran Myeong Ji yang meracuni otaknya.

“Ibu kembali..” sapa Ny. Kim sudah dengan dua gelas hot chocolate ditangannya.

“Gumawo eommani.” Seru Myeong Ji dengan senyum sumringahnya seraya mengambil salah satu gelas hot chocolate dari tangan ibunya.

“Gumawo Eomma..” ujar Nana lesu. Sepertinya Nana sudah benar-benar termakan pertanyaan Myeong Ji tadi.

Kalau mau dipikir-pikir, benar juga yang dikatakan adiknya tadi. Austin itu artis terkenal, tampan, banyak pemggemarnya…dan semua kebanyakan kaum hawa. Disekelilingnya pun banyak gadis-gadis yang lebih cantik dari Nana. Apa jadinya kalau semua yang dikatakan Myeong Ji benar? Apa yang harus Nana lakukan?

“Nana…kau tak apa-apa? Wajahmu pucat. Kalau kau lelah, pulanglah duluan…ibu masih terlalu sibuk disini, ya?” tegur Ny. Kim lembut.

“Mungkindia kepikiran pacarnya itu, bu..” sambung Myeong Ji dengan cerocosan tak bergunanya lagi. Ingin sekali Nana menyiram wajah gadis itu dengan hot chocolate ditangannya itu. Tapi, rasa pusing ini tak mendukung niat jahatnya itu.

“Sudah! Jangan ganggu kakakmu. Kalian pulanglah…dan istirahat, ya?” ujar Ny. Kim seraya mengusap kepala Nana.

“Ne…arraseo eomma.” Jawab Myeong Ji setengah merajuk. “Ayo! Mau ku bopong atau gendong?” Tanya Myeong Ji pada Nana setengah bercanda.

“Tidaj usah!” balas Nana cetus seraya bangkit dari duduknya.

Merekapun berpamitan pada ibu mereka dan pergi dari berjalan keluar dari Café itu. Sedang pak Jang sudah membuka pintu mobil.

“Kita pulang, pak Jang.” Pinta Myeong Ji seraya mengenakan sabuk pengaman.

“Baik, Nona.”

Mesin mobil dinyalakan, pak Jang sudah mulai memutar-mutar stir dan mobil itupun bergerka dari situ.

Sepanjang jalan, Nana tak berhenti memikirkan perkataan adiknya tadi.

Belum sehari di Seoul saja, Nana sudah mengkhawatirkan Austin setengah mati. Apa lagi kalau Nana sudah berada di Spanyol selama dua tahun? Mungkin Nana akan mati cemas disana.

Pak Jang sudah memarkir mobil itu didepan rumah. Rumah besar yang sangat Nana rindukan selama ini. Tapi, entah mengapa kalau mengingat Austin, rasa rindunya pada rumah ini musnah begitu saja.

“Biar saya bawakan koper, anda.” Ujar pak Jang seraya mengangkat koper itu menuju kamar Nana.

“Selamat datang Nona.” Sapa seorang wanita paruh baya, yang adalah kepala pelayan rumah itu.

“Nyonya Han…” seru Nana seraya berjalan kearah wanita itu kemudian memeluknya dengan akrab.

“Apa kabar, nona? Apa nona baik-baik saja…??” tanya Ny. Han sambil memeggang pundak Nana.

“Tentu saja baik. Bagaimana dengan Nyonya Han sendiri? Aku merindukan masakanmu, lho!” ujar Nana dengan senyum ramah nan lembut pada wanita itu.

“Hahaha…aku sangat baik nona. Benarkah? Kalau begitu, malam ini nona mau makan apa? Biar saya masakkan.”

“Kimbab, dan jajangmyeon…sudah lama tidak makan-makanan Korea.” Ujar Nana semangat. Seperti sedikit melupakan sesuatu yang sedari tadi memenuhi pikirannya.

“Baiklah. Kalau begitu, nona mandi dulu. Biar saya masak dulu, ya?”

“Iya…”

Nana pun segera bergegas kekamarnya. Saat membuka pintu, atmosfir seketika berubah. Yang biasanya Nana melihat kamar apartemennya yang sangat berantakan, kini sudah tidak. Kamar pribadinya yang sudah tertata rapi dengan sprai ungu nan cantik.

Segera Nana melemparkan tubuhnya keatas ranjang empuk itu.

“Kangennya..” gumam Nana seraya berguling-guling diatas kasur itu. Tengah asyik menikmati kasurnya, Nana dikejutkan dering ponselnya.

Secepat kilat Nana menyambar tasnya dan mencari ponselnya yang berdering itu. Dengan harapan, kalau e-mail yang masuk itu dari Austin.

Dan ternyata benar..

 

“Pendek…aku merindukanmu.. #kisshug#..”

 

Pesan yang sangat Nana tunggu-tunggu…hampir saja Nana berteriak girang. Untungnya derik tulangnya menghentikan semua kegilaan yang hendak dia lakukan.

Nana pun terduduk dengan senyum sumringah sambil mengutak-atik ponselnya itu, membalas e-mail dari Austin.

 

“Aku juga merindukanmu, bawel!”

 

E-mail yang pendek. Tapi sangat berharga untuk Nana. Apalagi, pesan itu datang dari sosok yang paling dia rindukan saat ini.

 

“Kau sedang apa? Maaf baru mengirimimu pesan. Aku baru selesai kuliah. Bagaimana perjalananmu? Menyenangkan? Sampaikan salamku untuk orang tua dan adikmu ya…”

 

“Aku baru saja sampai. Tidak apa-apa, kau pasti capek, kan? Iya…nanti akan kusampaikan pesanmu untuk keluargaku.”

 

“Oh ya Nana, aku harus kerumah temanku dulu. Ada tugas yang harus kami kerjakan. I Love You..”

 

Hanya dengan pesan ini saja Nana sudah puas. Tak perlu ada yang harus dikhawatirkan lagi. Dan yang terpenting, rasa rindu Nana yang sedari tadi menghujam perasaannya terobati sudah. Tapi…kenapa seperti berperasaan tidak enak, ya?

Teman…siapa? Laki-laki atau perempuan? Atau…

Segala pemikiran yang baru saja hilang itu kini kembali muncul dan membuat Nana lebih panik dari sebelumnya.

Kembali Nana mengambil ponselnya dan mengetik pesan.

 

“Emm..teman siapa?”

 

Nana masih terus menggenggam ponselnya dengan cemas. Tangannya kini sudah berkeringat. Wajahnya Nampak terlihat begitu cemas. Susah juga Long Distance Relationship itu.

Tak lama berselang, Austin membalas pesan Nana itu.

 

“Di apartemen temanku Qiara…jangan cemas…aku tak hanya mengerjakan tugas, kok. J aku mencintaimu… :*”

 

“Dia tau ya, kalau aku cemas…” gumam Nana pelan pada dirinya sendiri.

 

“Maaf, ya…iya…aku juga mencintaimu…selamat belajar.. :*”

 

“Sebenarnya tidak baik juga kalau terlalu curigaan seperti ini. Dasar bodoh kau Nana!” gumam Nana lagi, dan kali ini mulai mengumpati dirinya sendiri.

Nana seharusnya percaya pada Austin tanpa harus mendengar perkataan siapapun. Toh..mereka berdua sudah saling mencintai kok. Dan Austin sendiri sudah berjanji kalau minggu depan dia akan mengunjungi Nana disini.

“Nana…Eonni..!!! kau sudah habis mandi? Aku masuk, ya?” seru Myeong Ji dari balik pintu kamar Nana. Gadis itu lagi…apa lagi yang akan dia tanyakan? Batin Nana.

“Aku belum habis mandi. Nanti saja, kalau aku sudah habis mandi baru kau masuk. Aku juga ada oleh-oleh untukmu..” seru Nana balik dari atas tempat tidur.

Segera Nana bangkit dari duduknya dan bergegas masuk kekamar mandi. Semoga saja, habis mandi Nana sudah lebih merasa baik.

“Omooooooo!!!!!!!!!!”

Kini dari sebelah sana, sudah terdengar jeritan menggila dari adiknya itu. Entah apa yang sudah membuat gadis itu menjerit mengerikan seperti itu.

“Aleexx!!! Awas jatuuhh!!!”

Kini anak itu kembali menjerit, kali ini menyebut nama seorang lelaki. Ada apa ini? Siapa Alex itu? tanya Nana dalam hati.

Nana sudah mematikan shower dan melilit tubuhnya dengan handuk. Segera Nana berganti pakaian dan berjalan menuju kamr adiknya. Semakin dekat dengan pintu kamar gadis itu, Nana mendengar bunyi bising motor balap. Dan mulai membuka pintu kamar Myeong Ji perlahan.

“Eonni…kau harus melihat ini. Rider motoGP ada yang tampan sekali, lho! Usianya juga tak jauh-jauh amat darimu.”

Seru Myeong Ji pada Nana yang hanya bias berdiri melongo dari pintu kamar Myeong Ji.

Gadis ini benar-benar sudah berubah dari waktu dia masih kecil. Sudah semakin genit. Apa ini yang namanya masa-masa puber?

“Ayo, Eonni! Kau tak akan menyesal menontonnya.” Bujuk Myeong Ji semakin menjadi-jadi. Kali ini mukanya mulai memelas. Sebelum terjadi sesuatu yang lebih parah lagi, sebaiknya Nana segera mematuhi apa yang anak ini katakan.

Dengan wajah ogah-ogahan Nana duduk disebelah adinya yang kini sudah kembali serius menatap layar televise didepannya itu.

Nana mengikuti arah tatapan adiknya itu dan mulai penasaran dengan pria yang adiknya maksud tadi.

“HAAAHH!!! Itu dia!!!” seru Myeong Ji tiba-tiba membuat Nana terkejut bukan kepalang.

“YA!! Myeon Ji-aah!!! Biasa-biasa saja kan? Tidak perlu berteriak begitu!” comel Nana pada adiknya yang menurutnya sudah keterlaluan itu.

Mata Nana kembali mengamati layar televisi itu, melihat sosok yang tadi ditunjukan adiknya dengan heboh.

“Dia itu Marc Marquez. Rider muda di MotoGP. Usianya baru 20 tahun, lho! Tidak beda jauh denganmu kan? Kau kan 19 tahun sekrang, bukan?”

Apa yang dibicarakan anak ini, Nana sudah tak mengerti lagi. Memangnya kenapa juga kalau usia kami tidak beda jauh? Batin Nana.

“Lihaatt!! Dia akan membuka helmnya!” seru Myeong Ji menunggu-nunggu. Tatapan matanya makin melekat pada televise itu. Dan saat pria itu membuka helmnya, Myeong Ji melongo membuka mulutnya lebar-lebar. Menganga bak orang bodoh yang baru pertama kali melihat pria tampan.

“Ya..ya…dia lumayan tampan juga. Tapi aku tidak tertarik sama sekali, jadi aku mohon permisi untuk menyantap Kimbab dan Jajangmyeon-ku..terima kasih.”

Dengan langkah yang mengendap pelan, Nana berjalan keluar dari kamar itu. Sungguh, adiknya masih melongo televisi itu lekat-lekat. Nana yang melihat semua itu, hanya bias menggeleng kepalanya heran. Ternyata Myeong Ji adiknya yang lugu itu sudah berubah 360 derajat. Inilah yang dinamakan kekuatan pubertas remaja. Mengerikan!

Nana pun segera melangkah kemeja makan. Perutnya kini sudah mulai bergetar memberi tanda untuk harus segera diisi.

“Ahjuma! Aku sudah selesai mandi.” Seru Nana yang melihat tak ada siapapun didapur.

“Sebentar lagi, nona. Saya masih memasakan jajangmyeong pesanan anda.” Seru Nyonya Han balik.

“Baiklah.” Gumam Nana pelan. Nana sudah mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.

Menatap ponsel itu berharap aka nada e-mail baru yang masuk keponselnya itu. Namun, sampai nyonya Han datang dan membawa makannya pun, tak ada sebuah e-mail pun yang masuk. Nana tetap mau berpikir positif, mungkin saja Austin masih mengerjakan tugas. Di sana masih siang, kok! Pikir Nana dalam hati seraya menyumpit masuk kimbab itu kedalam mulutnya.

“Euumm..enak. Gumawo, ahjumma!” seru Nana dengan kimbab yang masih memenuhi mulutnya. Kimbab ini rasanya beda dengan yang dibuat direstoran-restoran Korea manapun. Rasanya kimbab buatan nyonya Han lebih cocok dilidahnya. Yang terpenting, kimbab itu akhirnya kini bisa membuatnya melupakan rasa resahnya yang mendalam itu.

“Nona, makan banyak ya sekarang? Mau menambah berat badan, ya?” Tanya Nyonya Han setengah bercanda karena melihat semangat makan Nana.

“Tidak, kok! Berat badanku sudah lumayan baik, hanya saja aku sudah jarang makan-makanan begini di Amerika. Jadinya kangen.” Jelas Nana dengan serius sambil terus menyumpit makanan-makanan itu kedalam mulutnya. Terlalu nikmat sampai suapan terakhirpun tak boleh terlewatkan.

Kini perut Nana sudah cukup kenyang, seperti mendukung matanya yang lelah itu untuk segera beristirahat.

“Ternyata kalau habis makan banyak itu bisa langsung ngatuk, ya?” Tanya Nana seraya mengucak matanya yang mulai perih karena lelah dan ingin segera tidur.

“Yaahh..mungkin saja begitu, nona. Kalau anda sudah merasa begitu, kenapa tidak langsung istirahat saja? Nona juga kan baru sampai, pasti kelelahan. Oh ya, tolong sekalian panggilkan nona Myeong Ji untuk turun dan makan malam, ya?” ujar nyonya Han seraya membereskan meja makan.

“Baiklah. Tapi, seperti Myeong Ji sedang sangat serius dengan tontonannya. Aku tidak yakin dapat membujuknya.” Ujar Nana seperti sudah menyerah sebelum mencoba. Apalagi setelah apa yang sudah Nana lihat tadi, sepertinya tak akan ada seorang pun yang menyadarkan anak itu.

“Haha..pasti sedang menonton MotoGP, kan? Hmm…anak itu.” ujar nyonya Han seperti hal ini adalah suatu kebiasaan.

“Maksudnya?”

“Yaahh..begitulah, nona. Semenjak nona Myeong Ji menyaksikan motoGP pertama kalinya bersama pak Jang. Sejak itulah setiap minggu, nona Myeong Ji tidak pernah absen untuk menyaksikan balapan itu.”

“Hah? Yang benar saja anak itu? dia bahkan lebih mengerikan disbanding siapapun. Aku sampai ngeri melihatnya.”

“Sudah. Sekarang nona Nana istirahatlah, biar saya yang panggilkan nona Myeong Ji.”

“Baiklah.”

Dengan langkah gontay, Nana berjalan kekamarnya. Kakinya cukup lelah, tubuhnya juga sudah lemas, apalagi matanya. Sudah terlalu lelah untuk menatap. Segera setelah sampai dikamarnya, Nana menghempaskan tubuh lelahnya keatas tempat tidur, kemudian terlelap begitu saja. Melupakan sesuatu yang sedari tadi ditunggu-tunggunya. Ya..e-mail Austin yang sepertinya tak akan kunjung masuk diponselnya sampai besok pagi.

Apa kini Austin sudah benar-benar sibuk…dan sudah lupa padanya?

Perasaan Nana jadi tidak enak…

 To be continue…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s