Posted in Uncategorized

Love At The First Sight #1

Image

 

 

CAST  :

KIM HANNAH

MARC MARQUEZ

 

GENRE  :

ROMANCE, FAMILY, ETC

 

            Sepasang mata bulat seorang gadis menatap kesekeliling Bandara Internasional Incheon, mengagumi keindahannya dalam hati. Berkebalikan dengan isi hatinya, ekspresi wajah cantik itu masam, seolah bandara itu mengeluarkan bau busuk, bukannya harum semilir kopi.

            Gadis itu menghela napas, lalu duduk diatas koper jingga besar miliknya yang digantungi kartu pengenal bertuliskan ‘HANNAH KIM, INDONESIA’. Ia lantas beralih menatap sebuah koper lain, berukuran dua kali lipat yang sedang ia duduki, yang ada didepannya.

            “Hannah-a!”

            Hannah, gadis itu, reflex menoleh. Seorang wanita cantik semampai berusia pertengahan tiga puluhan menghampirinya sambil melambai. Hannah kembali menghela napas.

            “Mian (Maaf), toiletnya penuh,” katanya dengan suara manis dibuat-buat.

            “Kenapa tiba-tiba bahasa Korea?” Tanya Hannah, dalam bahasa Indonesia “Apa karena kita sedang di Korea?”

            “Keurom! (Tentu saja!),” wanita itu tersenyum manis, sengaja menyibak rambutnya saat beberapa pria lewat dan mengaggumi postrunya, membuat Hannah sukses menganga.

            “Eomma, jebal jom! (Ibu, please deh!),” Hannah menyahut, tak sadar dirinya pun sudah menggunakan bahasa itu. Bahasa yang tak pernah digunakannya lagi setelah 5 tahun lalu.

            Livia tersenyum simpul melihat anak gadisnya yang sekarang menutup mulut dan terlihat salah tingkah. Hannah memang tak pernah suka menggunakan bahasa Korea. Tidak semenjak lima tahun lalu, saat dia tahu kenyataan pahit yang sebenarnya.

            Senyum Livia berangsur lenyap. Saat ia mengubah kehidupanputri semata wayangnya itu, secara drastic.

            20 tahun lalu, Livia begitu egois saat memutuskan untuk bercerai dengn Woo Bin. Begitu egois utnuk memisahkan Hannah dengan pasangan sehidup sematinya, membohongi putrinya, memutar balikkan fakta yang sebenarnya. Mengubah gadis periang itu menjadi gadis yang dingin.

            Namun, Livia yakin, setengah atau lebih dari segala kejadian ini adalah kesalahan Woo Bin. Mantan suaminya yang kaku dan workaholic itu memilih untuk menerima panggilan tugas di Seoul daripada tetap tinggal bersamanya dengan Hannah di Jakarta daripada tetap tinggal bersamanya dengan Hannah di Jakarta.

            Masih jelas diingatan Livia saat ia memberi Woo Bin pilihan : mengambil pekerjaan itu atau bercerai, dan Woo Bin memilih bercerai. Masih jelas pula rasa sakit hati Livia sehingga ia ikut menyanggupi keputusan suaminya itu. Mantan suaminya.

            Livia tadinya hanya ingin menguji Woo Bin. Namun, Livia tak menduga bahwa Woo Bin lebih memilih pekerjaannya ketimbang dirinya dan Hannah. Livia pun tak ingin kalah, ia ingin meperlihatkan kalau tanpa Woo Bin pun ia bisa hidup baik bersama Hannah di Jakarta.

            Menikah diusian yang masih sangat muda, 18 tahun, membuat emosi Woo Bin dan Livia masih begitu labil, sehingga mengorbankan seorang bayiyang tak berdosa, kehilangan kasih sayang seorang ayah. Hati Livia sebenarnya sakit kala memikirkan hal itu, namun sekarng dia sudah disini. Untuk memperbaiki apa yang sudah dilakukannya 20 tahun lalu.

            Sebulan yang lalu, tanpa Livia duga, Woo Bin datang ke Jakarta dan meminta rujuk padanya, juga mengajaknya beserta Hannah untuk tinggal di Seoul. Livia tak pernah menyangka Woo Bin yang kaku itu mampu melakukan hal seperti itu. Walaupun itu memakan waktu 20 tahun, Woo Bin akhirnya kembali untuknya dan Hannah. Berusaha memperbaiki kesalahan 20 tahun silam, dan sekarang gilirannya.

 

&&&

 

            Hannah menatap ibunya yang sekarang sibuk melirik jam tangannya dan sesekali menghela napas. Hannah mengerti apa yang membuat ibunya begitu. Sebulan lalu, seperti sulap, Hannah mendapati seorang pria yang mengakui dirinya adalah ayah Hannah, berdiri didepan pintu flat bobroknya.

Semenjak Hannah lahir, sampai dengan waktu itu Hannah tidak pernah mengetahui bagaimana sosok ayahnya itu.

Hannah hanya berhubungan dengan ayahnya itu melalui telepon. Ia tidak memiliki keinginan unyuk chatting, webcam atau apapun. Telepon pun hanya datang saat dia berulang tahun, atau untuk menanyakan kabar.

            Melihat ayahnya ada didepan flat, ia merasa bingung, melihat ayahnya membujuk ibunya untuk ikut dengannya ke Seoul dan bersatu kembali sebagai keluarga, ia semakin bingung. Seperti semua yang terjadi tidak nyata. Ia merasa seperti seperti sedang bermimpi.

            Namun, ia tidak bermimpi. Sekarang ia disini, di Bandara Incheon, menunggu ayahnya untuk menjemputnya.

Tidak! Hannah tidak senang. Ia tidak senang meninggalkan Jakarta. Meninggalkan teman-temannya, meninggalkan kehidupannya. Hannah paling tidak suka ditinggalkan, maka dia tidak ingin meninggalkan. Itu yang ia pahami setelah 20 tahun yang lalu. Namun, pada akhirnya ia harus meninggalkan semuanya, demu seorang pria yang dengan tega meninggalkannya menderita 20 tahun lalu. Ironi.

            Hannah melirik ibunya yang sekarang sudah mengeluarkan cermin dan sibuk merapikan rambut. Seharusnya, Hannah bisa menyalahkannya. Menyalahkan ibu egois yang memilih untuk tetap tinggal di Jakarta mengejar karirnya dan pada akhirnya gagal, dari pada ikut suaminya demi keharmonisan rumah tangga. Menyalahkan ibu labil yang mengajukan cerai secara iseng-iseng, lalu disanggupi dengan serius dan egois pula oleh suami kakunya itu.

            Namun, jika demikian, Hannah berlaku tidak adil. Ayahnya juga bersalah. Seperti ibunya, ayahnya sama-sama egois dan tidak memikirkan nasib putri semata wayangnya. Ayah tega yang meninggalkannya tanpa memberinya sedikit kasih sayang selama 20 tahun.

            “Hannah-a.”

            Hannah mengingat suara berat itu. Hannah mendongkak, lalu menatap sosok tinggi tegap berwajah tirus yang pernah dilihatnya sebulan lalu didepan pintu flatnya.

Livia ikut mendongkak. “Oh, wasseo? (Sudah datang?),”

            Hannahmelirik ibunya yang Nampak sangat berbeda dengan beberapa detik lalu. Nada suaranya menjadi dingin dan terkendali, begitu pula ekspresinya. Rupanya ia benar-benar menjaga image.

            “Eo (Ya),” jawab Woo Bin, lalu menatap Hannah. “Bawaan kalian hanya itu?”

            Hannah hampir mendengus. Tidak ada ‘apa kabar?’, apalagi pelukan hangat. Ayahnya terlalu kaku, seperti yang ibunya sering ceritakan padanya.

            “Yang lain akan dikirim ekspedisi,” jawab Hannah datar, nyaris seperti robot.

            Hannah termangu sementara ayahnya menarik koper dan bergerak menuju pintu keluar.

Pulang.

 

&&&

 

            Hannah menatap keluar jendela mobil. Selama dua jam perjalanan, tak seorang pun berbicara. Perjalanan dari Incheon menuju Kangnam benar-benar teras seperti dari Sabang ke Merauke. Hannah bahkan bertaruh, ia akan lebih merasa nyaman jika mengendarai taksi sendirian.

            Ayahnya terlalu serius untuk memulai pembicaraan apa pun. Ibunya terlalu gengsi. Ia sendiri terlalu malas. Sungguh perjalanan yang terlalu membosankan.

Mobil tiba-tiba berhenti, membuat Hannah kembali menatap keluar. Ternyata mereka sudah berada didalam garasi sebuah rumah. Yang benar saja ini rumah?

Gedung besar ini terlalu besar untuk disebuta sebagai sebuah rumah.

            Hannah belum berhenti menganga saat ayahnya membuka pintu mobil dan bergerak turun. Hannah segera mengatup mulutnya, lalu ikut melangkah keluar. Walaupun ingin, ia tetap tidak bisa mengagumi rumah besar bak istana itu. Disampingnya, ternyata ibunya sedang melakukan hal yang sama.

            “Ige…ni jibiya? (Ini rumahmu?),” katanya, tak percaya bahwa mantan suaminya hidup semewah ini sedang ia dan Hannah terlunta-lunta di Jakarta.

Woo Bin melirik dari bagasi yang terbuka untuk melihat mantan istri dan anak perempuannya. “Kau bilang, kau juga hidup mewah di Jakarta.”

            Livia segera berdeham sambil mengendalikan ekspresinya. Memang benar. Demi gengsi, Livia mengatakan itu. Namun, ia sama sekali tak menyangka Woo Bin sesukses ini dengan jabatan barunya.

            Woo Bin menarik kedua koper milik Livia dan Hannah, lalu melangkah ke teras rumah. Lampu teras segera menyala begitu begitu Woo Bin menginjaknya. Dibelakang pagar rumah tertutup secara otomatis.

Woo Bin pun membuka pintu rumah itu. Dan membawa masu serta barang-barang itu.

“Oh ya, Hannah. Ada yang ingin ayah tunjukan padamu. Bisa ikut ayah sebentar?”

Kini ekspresi Woo Bin sedikit berubah dari yang tadi. Ia sudah mampu tersenyum meskipun hanya sedikit. Tapi itu adalah pemandangan aneh bagi Hannah.

            “Kita mau kemana?,” Tanya Hannah datar. Seraya terus mengikuti langkah kaki ayahnya itu.

            “Ayah dengar, kau sangat suka memanah. Makanya…ayah membuatkan lapangan memanah ini untukmu.” Saat Woo Bin membuka pintu belakang rumah itu, bukan main terkejutnya Hannah dan kembali menganga.

Lapangan memanah pribadinya. Tepat disebuah taman besar belakang rumah. Bukan hanya lapangan luas itu saja. Tapi lengkap dengan peralatan memanahnya juga. Sungguh, pria ini benar-benar ingin memperbaiki kesalahannya, ya? Kalau begitu, ini adalah awalan yang baik juga. Sedikit. Karena belum setimpal dengan apa yang sudah dilakukan ayahnya ini, 20 tahun silam.

            “Kau suka?” Tanya Woo Bin ada putri semata wayangnya itu.

            “Lumayan,” jawab Hannah datar. Sebenarnya ia sangat menyukai hadiah yang ayahnya berikan ini. Tapi, Hannah tak ingin menunjukan semua itu. Bukan karena gengsi atau apa, dia hanya masih belum bisa menerima permohonan maaf ayahnya ini.

            “Baiklah. Kalau begitu, ayo kita kekamarmu. Kau pasti lelah,” Woo Bin pun kembali berjalan keruang depan dan mengambil koper Hannah tadi, kemudian mengantarnya kekamar dilantai atas. Hannah mengikuti langkah kaki itu sambil terus menatap sekeliling rumah itu. Sangat besar dan rapi, juga terlampau mewah untuk disebut sebuah rumah. Ayahnya sangat sukses disini.

            “Ini dia kamarmu. Ayah harap kau menyukainya,” ujar Woo Bin lembut pada putrinya itu. Mendengar suara lembut itu, perut Hannah seperti tergelitik. Sikap kaku yang ditunjukan ayahnya sedari tadi, sungguh tak cocok dengan suara lembut yang baru saja dia dengar.

            “Terima kasih. Kalau begitu, bisa ayah keluar? Aku ingin beristirahat.” Hannah masih berucap datar pada ayahnya. Sebenarnya, beginilah sikap Hannah setelah apa yang sudah dialaminya 20 tahun ini. Woo Bin pun berusaha mengerti akan sikap putri tunggalnya itu, dan keluar tanpa berucap apa-apa lagi.

Dalam hati, Woo Bin menetapkan tekat bahwa dia akan berusah menjadi ayah yang baik bagi Hannah, serta memberikan kasih sayang yang tak pernah Hannah dapat 20 tahun silam.

            Hannah tak pernah menyangka bahwa dia akan tinggal dirumah yang seperti ini, apalagi dikamar yang sebesar ini. Berbeda dengan kamarnya di Jakarta dulu. Sumpek, kecil, dan panas. Semua ini nampak seperti mimpi untuk Hannah. Mimpi yang menjadi kenyataan. Tapi, apa ini benar-benar yang Hannah inginkan?

Apa ini sudah cukup untuk Hannah?

            Hannah menghempaskan tubuhnya pada kasur pegas. Kasur yang empuk,sangat berbeda dengan kasur kapuknya di Jakarta. Namun, entah mengapa, kasur itu terasa dingin.

            Hannah memejamkan mata, berusaha menahan air mata yang hendak keluar. Selama 20 tahun ini, ia selalu berusaha untuk menerima nasibnya dan tidak menangis. Ia gadis yang kuat, yang tidak membutuhkan siapa pun. Ya, tidak membutuhkan pengasihan siapapun.

 

To Be Continue…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s