Posted in Uncategorized

Falling In Love With You (Day 3)

Day 3

 

            Sinar hangat matahari pagi sudah menusuk masuk kedalam kamar Nana melalu celah-celah yang ada. Cicitan burung pun sudah menggema dimana-mana, bertukar-tukaran memperdengarkan nyanyian mereka. Kali ini yang kurang, hanyalah alarm yang tak lagi berbunyi. Membuat Nana makin nyaman berada dibalik selimutnya.

“KIM NANAAAAA!!!!!! BANGUUUUUNNN SEKARAAAANNNNGGG!!!!,” seruan panik Myeong Ji beserta gedoran pintu yang cukup keras itu, akhirnya memaksa Nana beregerak dari tempat tidurnya. Matanya masih terlalu berat untuk membuka secara normal.

Dengan malas, Nana pun membuka pintu kamarnya itu dan mendapati adiknya dalam keadaan tegang seperti telah terjadi sesuatu.

            “Mwo ya??!!” seru Nana dengan nada emosi pada adiknya. Tapi seperti tak digubris, malah Myeong Ji menariknya tanpa berkata apa-apa. Membawanya keruang televisi.

            “Myeong Ji-a!! Jamkkanman!!,” seru Nana yang sudah mulai merasakan sakit dipergelangan tangannya. Genggaman anak ini terlalu kuat.

            “Lihat itu!,” tunjuk Myeong Ji pada layar datar televisi. Arah tatapan mata Nana pun mengikuti telunjuk Myeong Ji itu.  “Eonni…bukannya itu kau?,”

Mata Nana sudah membelalak kaget melihat dirinya yang bersama Austin dibandara.

            “Yang benar saja?,” tanya Nana tak percaya pada apa yang dilihatnya. Dan Nana tau, ini adalah awalah buruk baginya.

            “Dan…ini lagi…” Myeong Ji menyodorkan iPad miliknya yang sudah berjejer beberapa kata makian dari fans fanatic Austin.

            “Myeong Ji-a…eotteokhae?,” Tanya Nana dengan suara bergetar dan sedikit memelas. Wajah Nana sudah dirundung panic yang sama dengan Myeong Ji tadi.

Seharusnya Nana sudah bisa menyangka, kalau kebersamaan mereka yang terlalu terang-terangan itu bisa membawa akibat buruk bagi mereka berdua. Terlebih, untuk dirinya sendiri.

            “Eonni…habislah kau! Kau tau tidak…fans fanatic kak Austin itu tersebar dimana-mana. Mungkin saja, di kota sebesar Seoul ini juga ada. Hati-hati saja..” perkataan Myeong Ji kali ini sepertinya tak member jalan keluar. Malahan, membuat Nana makin berandai-andai, apa yang akan terjadi padanya kalau ia bertemu dengan fans-fans gila itu.

            Tak lama setelah itu, ponsel Nana berdering. Panggilan dari Austin rupanya. Dengan segera Nana menjawab telepon itu,

            “Austiiiinnn!!! Bagaimana ini???” seru Nana begitu paniknya.

            “Sudahlah. Kau tenang saja…biar aku yang jelaskan semuanya pada media.” Austin nampak santai sekali dengan masalah ini. Berkebalikan dengan Nana yang hampir mati karena takut.

            “Tenang sih tenang! Tapi bagaimana dengan fans-fans mu yang sudah mencaciku di jejaring social? Mereka mungkin adalah salah satu warga Korea. Dan kau tau, mungkin saja mereka akan mebantaiku habis-habisan disini..!!” ujar Nana dengan pemikiran-pemikirannya yang terkesan muluk itu.

            “Hahaha…awas saja kalau mereka mengapa-apakan kau. Aku akan membuat perhitungan dengan mereka.” Ujar Austin bahkan dengan nada yang terlalu santai. Tertawa pula. Nana tak habis pikir dengan anak itu. Sedang sekarang, Nana terlalu paranoid untuk bepergian kemana-mana.

            “Austiiiinnn!!! Bisa-bisanya, ya kau begitu! Jahat!” comel Nana kemudian mematikan ponselnya. Nana terlampau kesal dengan sikap santai Austin yang tak memikirkan dirinya. Sekarang bagaimana dengan Nana? Dia tak mungkin terkurung didalam rumahnya ini untuk 2 minggi kedepan, kan? Dia juga perlu refreshing atau mungkin sekedar mencari perlengkapannya nanti.

            “Eonni..kau tenang saja, ya? Kau masih punya aku! Biar aku yang melindungimu,” ujar Myeong Ji berusaha menghibur kakanya itu. Membuat Nana merasa begitu terharu mendengarnya.

            “Myeong Ji-a…jeongmal-eo?” Tanya Nana dengan suara manis dibuat-buat.

            “Keurom!” Myeong Ji menjawab mantap pertanyaan kakanya itu. Dan kemudian tertawa geli, setelah melihat ekspresi kakaknya berubah dari yang tadi dilihatnya. “Tapi…kalau mereka mengeroyok…aku pasti akan lari meninggalkanmu,”

Mata Nana membelalak tak percaya dengan pernyataan adiknya ini. “Myeong Ji-a!!!!!!!!” seru Nana penuh emosi. Kemudian mengejr adiknya yang sudah berlari menyelamatkan diri dari amukan itu.

 

&&&

 

            Dengan penyamaran yang maksimal, Nana memutuskan untuk keluar rumah. Sedikit refreshing. Tapi untuk berjaga-jaga, Myeong Ji juga turut serta menemani kakaknya itu. kalau tak dipaksa, Myeong Ji sebenarnya tidak mau ikut. Tapi, kalau melawan pasti kepalanya benjol lagi.

            “Kita mau kemana?” Tanya Myeong Ji dengan super bete’

            “Sudah naik saja, nanti juga kau akan tau!” comel Nana dan menarik adiknya itu masuk kedalam mobil.

            “Sungguh, kau yang menyetir? Bukannya sudah lama kau tak menyetir?” Tanya Myeong Ji khawatir. Mengingat, kalau sudah 3 tahun terakhir ini kakanya tak pernah menyetir mobil lagi. Terakhir seingatnya, kakanya menyetir waktu pulang liburan Natal.

            “Kau takut? Haha..tenang saja. Aku masih ahlinya, kok!” Nana kemudian menyalakan mesin mobil itu dan bergerak dari situ. Sejauh ini memang masih aman, tapi untuk selanjutnya Myeong Ji tidak tau lagi.

            Sudah lama, Myeong Ji tak jalan-jalan berdua kakaknya lagi. Makanya, hari ini Myeong Ji mau memanfaatkan saat-saat ini sebaik mungkin.

            “Eonni…sungguh. Ini kita mau kemana? Kau ini baru mendapat masalah. Eomma dan Appa saja belum tau kalau kau ini sedang dalam skandal.” Ujar Myeong Ji berusaha menasehati kakanya. Bukannya dia tak mau jalan-jalan dengan kakaknya saat ini. Tapi, sepertinya waktunya yang kurang tepat.

            “Sudah. Jangan khawatir. Lagi pula, wajahku di televisi tadi tak jelas-jelas amat.” Bals Nana santai. Seperti yakin bahwa untuk kedepannya mungkin saja tak akan ada masalah.

            “Semoga saja,” jawab Myeong Ji datar. Sebenarnya Myeong Ji juga takut. Dia takut kalau orang-orang gila yang mengancam kakaknya itu satu persatu muncul dan mengeroyok mereka. Ini namanya perjalanan yang penuh resiko.

            Nana sudah memarkirkan mobil mereka diarea parkir sebuah mall. Nampak aneh dengan dandanannya, Nana memutuskan membuka semua penyamarannya itu. Pikir Nana, buat apa dia harus takut pada orang-orang itu. Toh! Mereka itu hanya sekumpulan orang-orang iri yang tak tau malu.

            “Eonni..kau yakin tak mau memakai itu?” Tanya Myeong Ji makin khawatir saat melihat kakaknya sudah melepas perlengkapan menyamarnya tadi. Makin ngeri lagi, saat sudah ada beberapa pasang mata beberapa gadis yang mengamat-amati mereka dengan tatapan tidak suka. “Eonni…kita pulang saja, ya? Atau…kalau kau mau jalan-jalan, kita ke Café ibu saja, ya?,” bujuk Myeong Ji setengah memohon. Ekspresi kalut sudah nampak jelas diwajah manis Myeong Ji. Berkebalikan dengan Nana yang terlihat santai saja. Tapi siapa yang tau. Itu mungkin hanya ekspresinya saja, yang dibuat setegar mungkin.

            “Eonni…kau santai sekali. Tak takut kau, kalau-kalau fans-fans fanatic kak Austin menyerbumu disini?” Tanya Myeong Ji berusaha mengumpan perasaan Nana yang sebenarnya.

            “Mana berani mereka ditempat seramai ini? Buat apa juga aku takut…toh, aku pacaran dengan Austin juga bukan karena apa-apa. Karena memang aku mencintai Austin. Mereka saja yang sirik.” Cibir Nana kini. Nampak wajah penuh keyakinan terpancar. Nana sudah tau dari awal, kalau inilah resiko yang akan dia terima kalau dia berani berpacaran dengan artis top layaknya Austin. Nana sudah paham betul dengan posisinya sekarang. Tapi, yang dia tau kini, dia sangat mencintai Austin. Jadi, apapun resikonya, seberat apapun itu, harus Nana jalani.

            Mereka sudah masuk dimall itu sekitar sejam. Namun, reaksi-reaksi yang ditakutkan Myeong Ji sepertinya tidak tejadi.

Rasa was-was juga masih meliputi Myeong Ji.

            “Eonni. Kau mau kemana lagi? Belanjaanmu sudah banyak, tuh! Pulang, yuk!” ajak Myeong Ji lagi, kali ini benar-benar memohon. Entah apa maksudnya sampai memohon seperti itu. Apa benar dia mengkhawatirkan kakaknya, atau sekedar mencari aman sendiri.

            “Kau kenapa sih?” comel Nana pelan seraya melepaskan diri dari Myeong Ji yang sudah bergelayut ketakutan dilengan Nana.

            “Eonni…kita pulang. Kau juga tak membelikan apa-apa untukku. Rugi sekali aku ikut denganmu!” comel Myeong Ji balik pada kakaknya itu saat melihat tangannya yang kosong tak memegang apapun.

            “Oh iya…lalu, kau mau aku belikan apa, adikku yang cantik?,” Tanya Nana dengan suara manis yang dibuat-buat, ekspresi memuakkannya itu juga sukses membuat Myeong Ji melongo parah.

            ”Jeongmal-ya? (Yang benar saja?),” cibir Myeong Ji heran dengan sikap kakaknya ini. “Dasar genit!” bisik Myeong Ji lebih pada dirinya sendiri.

            “Myeong Ji. Itu ada toko pakaian. Masuk, yuk!” ajak Nana yang sudah menarik tangan Myeong Ji masuk. “Pilihlah yang kau suka, biar aku yang membayar.”

            “Kau mau menyogokku, ya?” Tanya Myeong Ji sinis dengan mata yang disipitkan.

            “Siapa? Tidak. Aku kan mau berbuat baik untuk adikku.” Ujar Nana lagi dengan suara manis yang makin dibuat-buatnya.

            “Kau mengerikan.” Cibir Myeong Ji yang kemudian mulai memilah beberapa pakaian dari rak-rak itu.

Inilah saat yang tepat untuk Myeong Ji mengerjai kakaknya. Paling tidak, ini adalah balasan untuk apa yang sudah kakaknya itu lakukan padanya.

            “Eonni…ini, ya?,” Tanya Myeong Ji yang sudah memegang beberapa pakaian manis ditangannya.

            “Kau mau membuatku bangkrut, ya?,” Tanya Nana setengah berbisik pada adiknya itu.

            “Kan, tadi eonni yang bilang, pilih saja. Nanti eonni yang bayarkan.” Balas Myeong Ji kali ini dengan manja dan matanya juga sudah dibuat semanis mungkin.

            “Kim Myeong Ji…” gumam Nana geram pada gadis yang baru saja berjalan kearah kasir itu.

Terpaksa Nana membayar beberapa pakaian yang lumayan mahal itu. Sampai-sampai Nana tak sanggup lagi melihat saldo dalam kartu kreditnya itu.

            “Kau benar-benar sudah memerasku!” comel Nana yang sudah berada didalam mobil bersama Myeong Ji. Tanpa menjawab apapun, Myeong Ji hanya tertawa geli melihat ekspresi kakaknya yang sudah seperti orang kalah judi. “Kau sengaja, ya?,”

            “Tidak. Aku kan hanya mengikuti apa yang sudah ditawarkan. Kata eomma, kalau ada tawaran baik jangan ditolak, tidak baik,” tutur Myeong Ji dengan manis, nampak seperti sedang menasehati.

            “Kau ini…” ancam Nana sudah dengan tatpan membunuh.

            “Apa? Tidak salah kan?,” balas Myeong Ji  santai kemudian berbalik kelain arah tak peduli lagi seperti apa tatapan kakaknya saat ini.

            Seperti tak ingin melanjutkan perdebatan bodoh itu, Nana kemudian menyalakan mesin mobil dan pergi dari situ. Kalau tau dia akan diperas seperti ini, tak akan dia ajak gadis menyebalkan ini bersamanya. Toh, tak ada ancaman yang berarti selama mereka di Mall tadi. Sampai dirumah pun, mereka sampai dengan selamat. Tak ada yang melempari mereka atau membuntuti mereka. Memang, penyesalan itu selalu datang belakangan.

 

&&&

 

            “Eomma…hari ini Eonni baik sekali padaku. Dia membelikanku pakaian, lho!” ujar Myeong Ji dengan suara manja menyebalkannya itu. Tak pikir kalau Nana sudah menatapnya seperti ingin menelan anak itu bulat-bulat.

            “Jeongmal-ya? Waahh…tumben.” Cibir nyonya Kim yang memang pada dasarnya tau sifat asli kedua putrinya itu.

Nana tak akan sembarang membelikan sesuatu untuk adiknya kalau tidak ada maunya. Jadi, jangan heran kalau sekarang wajah Nana begitu masam melihat adiknya yang sudah mulai berbangga diri.

            “Dia sengaja memerasku, eomma,” comel Nana seraya melempar pandangan membunuh pada Myeong Ji. “Kartu kreditku hampir kering dibuatnya,” tambah Nana dan kali ini benar-benar hampir menangis.

            “Kau yang mengajakku ke Mall. Kau juga yang mengajakku ketoko itu. Bahkan, kau juga yang suruh aku memilih sendiri pakaianku. Masa aku lagi yang salah? Lagi pula, tidak baik mengeluh kalau sudah memberi. Itu tandanya tidak ikhlas!” Myeong Ji melipat tangannya, membela dirinya yang memang pada dasarnya tak bersalah.

Ini semua karena skandal itu. Coba kalau tak ada berita menghebohkan itu di televisi, mungkin tadi dia tak akan mengajak anak ini kemanapun.

            “Diam kau! Atau aku benar-benar akan menghajarmu!” Nana sudah bangkit dan mengambil ancang-ancang untuk benar-benar menghajar Myeong Ji. Myeong Ji sendiri, sudah berlindung dibalik kursi ibunya.

            “Sudah..sudah…kalian berdua ini, akurnya sebentar saja. Kau juga Myeong Ji. Bukan berarti kau harus menguras kakakmu seperti itu, kan? Itu namanya memanfaatkan.” Nyonya Kim berusaha adil pada kedua putrinya. Dan kini saatnya nyonya mengutarakan rasa penasarannya.

            “Nana..jawab ibu dengan jujur. Sebenarnya apa yang terjadi? Tak biasanya kau sebegini baik pada Myeong Ji.” Pertanya itu seperti setrum diotak Nana yang sontak membuat Nana tersentak.

            “Haa?? Ahaha…ti-tidak ada apa-apa..memangnya, tidak boleh baik pada anak itu?,” Nana berusaha mengelak dari kenyataan sebenarnya. Nana masih belum ingin ibunya tau tentang apa yang hari ini dilihatnya ditelevisi. Namun, niatnya itu seperti bertolak dengan Myeong Ji yang sudah memberi isyarat untuk segera jujur. Sebenarnya, tidak baik juga membohongi ibunya. Tapi..apa ibunya tak akan marah kalau ia beritahu.

            “Nana..jangan bohong pada ibu. Ibu akan sangat marah kalau kedua putri ibu membohongi ibu, dan kalian tau itu, bukan?,” kini nyonya Kim seperti memberi penekana pada kata-katanya itu. Terdengar serius dan sedikit memaksa.

            “Kalau eonni tak mau cerita, biar aku saja..”

            “Sudah! Biar aku saja…” Nana sudah menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Begini eomma…eomma tau kan, dengan siapa aku berhubungan sekarang. Ibu juga tau, dia itu siapa…orang yang seperti apa. Dan tentunya, orang-orang seperti dia itu, banyak dikejar wartawan, paparazzi, juga fans-fans yang mengagguminya..”

            “Lalu?”

            “Lalu…karena giatnya paparazzi itu…maka…hubungan kami diketahui publik. Dan ini yang menjadi masalahnya…fans-fansnya itu, lho eomma…mereka yang menentang mati-matian…”

            “Ooohh…jadi itu. Lalu, kenapa tidak menceritakan kepada ibu lebih awal?,”

            “Maaf eomma…aku takut, jangan-jangan ibu akan marah padaku.”

            “Siapa bilang? Malahan pemikiran kalian itulah yang muluk. Masalah segitu saja dianggap skandal. Itu normal, kok. Terjadi pada siapa saja. Sekarang, tinggal bagaimana kalian berdua menyikapinya. Ibu rasa, kau sudah cukup dewasa untuk menyikapi hal-hal seperti itu,”

            “Baik eomma…”

            Kini perasaan Nana sudah lebih tenang. Kalau dipikir-pikir lagi, memang benar apa yang dikatakan ibunya tadi. Nana terlampau khawatir dengan apa yang terjadi, sampai-sampai ia memarahi Austin sebegitunya.

Pantas saja, Austin begitu santai menanggapi kekhawatirannya tadi pagi.

            Nana sudah mengutak-atik ponselnya, mencoba mengirim pesan pada Austin. Dalam hati, Nana juaa merasa was-was. Takut kalau-kalau Austin marah padanya dan menganggapnya terlalu kekanak-kanakkan.

“Hei ! Kau marah padaku, ya? L aku minta maaf, karena sudah marah-marah tak jelas padamu tadi pagi…mungkin kau merasa kalau sikapku terlalu muluk dan kekanak-kanakkan..makanya, aku menyesal sudah berbuat begitu padamu…maafkan aku, ya? L

 

Dengan jari yang gemetaran, Nana memeberanikan menekan tombol ‘Send’. Berharap Austin bisa segera membaca dan membalas pesannya itu.

Nana rasa sudah cukup satu cobaan saja. Jangan lagi ada cobaan lain dalam hubungan mereka. Jarak mereka sudah cukup jauh untuk mendapat banyak masalah.

Ponsel Nana berbunyi. Pesannya untuk Austin sudah dibalas. Dengan cekatan, Nana membuka pesan itu. Memasang lekat-lekat matanya pada layar datar ponsel itu.

 

“Hehe..😀 dasar pendek😛 mana mungkin aku marah padamu karena hal sepele begitu? Lagi pula, aku juga mengerti. Kau pasti sangat khawatir, kan? Makanya, aku sudah menjelaskan semuanya pada media. Bahwa, sekarang ini…aku mendapatkan gadis yang terbaik. Yang tak akan mengecewakan aku. Aku mencintaimu, pendek :p :*..”

 

Bukan main legahnya hati Nana saat membaca pesan itu. Ternyata, pemikiran Austin lebih dewasa dari pemikirannya. Itulah yang membuat Nana berpikir lagi. Betapa beruntungnya ia memiliki Austin. Pria yang baik, dan mampu mencintainya sebagaimanapun dirinya.

 

“Bodoh! Aku juga mencintaimu :’) terima kasih, ya? Sudah mencintaiku J

 

Nana membalas pesan itu dengan perasaan lega. Nana tau semakin kesana, hubungan mereka akan semakin diuji. Maka, saling percaya dan mencintailah yang harus mereka kokohkan mulai sekarang. Karena perjalanan cinta mereka ini, masih terlalu panjang.

Dan mungkin saja…akan ada banyak halangan dan rintangan.

 

To Be Continue…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s