Posted in Uncategorized

Love At The First Sight #2

Image

 

 

Pagi ini, Hannah bangun lebih pagi dari biasanya. Bukan karena rajin, tapi karena Hannah tidak bisa tidur dari semalam.
Berjalan kearah taman belakang, dimana lapangan memanah miliknya berada. Pikirnya, mungkin dengan memanah dipagi hari, bisa mengurangi rasa penat yang ada dalam hatinya.
Bukannya itu yang bisa ia lakukan di Jakarta?
Bunyi suara lesatan anak panah sudah terdengar beriiringan. Woo Bin pun mengintip putrinya itu dari balik jendela didekat pintu belakang itu.
Nampak dengan ekspresi tenang, Hannah melesatkan satu persatu anak panah itu kesasarannya dengan tepat.
Entah dari mana putrinya itu belajar memanah sampai semahir itu.
“Kau pasti bingung kan, kenapa sampai Hannah memiliki hobi seperti itu?” ujar Livia yang tiba-tiba saja sudah berada dibelakang Woo Bin.
“Tidak juga. Aku malah kagum padanya,” jawab Woo Bin singkat, dan kembali berjalan kearah dapur. Membuatkan satu lagi segelas kopi untuk Livia. “Saat kau memeberitahuku hobi Hannah itu, aku begitu bersemangat mengubah taman belakangku mejandi lapangan memanah untuknya. Dan berharap, dia senang dengan hadiah kecil yang kuberikan untuknya itu. Meskipun, itu belum seberapa.”
“Mungkin. Tapi, aku yakin. Perlahan, kita bisa memperbaiki semua kesalahan kita pada Hannah, “ dengan lembut Livia meyakinkan mantan suaminya itu. Memang, mungkin untuk saat ini Hannah sulit menerima semua ini, karena masih terngiang yang sudah ia lalui 20 tahun ini. 20 tahun tersulit dalam kehidupannya. Harus hidup tanpa seorang ayah, mendapat celaan dari teman-temannya karena disangka anak haram. Namun, Hannah melewati itu dengan tegar. Tak sedikitpun keluhan yang dilontarkannya pada ibu egois yang sudah tega memisahkannya dari ayahnya. Tangis pun tak ditunjukannya. Hannah benar-benar berusaha tegar.
Itulah yang ingin diperbaiki Livia dan Woo Bin. Yang sudah tega memberikan kehidupan keras pada putri semata wayang mereka itu. Membuatnya menderita dalam kurung waktu yang cukup lama. 20 tahun.
“Kau sudah selesai memanah, Hannah?” Tanya Livia lembut pada Hannah seraya menyodorkan segelas jus jeruk yang baru saja dibuatnya.
“Hmm,” jawab Hannah datar tanpa ekspresi. Kemudian mengambil gelas itu dari tangan ibunya dan duduk dimeja makan. “Aku lapar,” ujarnya masih dengan nada dan ekspresi datar. Livia mengerti, karena itulah putrinya.
“Kau mau ibu buatkan apa?” Tanya Livia lagi dengan lembut.
“Nasi goreng,” balas Hannah masih dengan nada datar,
“Arraseo! Jamkkanman. (Baiklah! Tunggu sebentar.),” dengan senyum sumringah Livia membuatkan pesanan putrinya itu. Entah mengapa sikap ibunya itu terasa menggelitik perutnya. Tak biasanya ia dibuatkan sarapan oleh ibunya. Biasanya, sewaktu ia bangun pagi, ibunya sudah tak ada dirumah. Hanya meninggalkan pesan untuknya agar dapat membuat sarapan sendiri karena beliau tak sempat membuat sarapan. Aneh.
“Oh ya, Hannah. Pagi ini kau bisa ikut ayah sebentar? Kita akan kekampus barumu,” tawar Woo Bin pada Hannah yang hanya menatapnya dengan datar.
“Baiklah,” jawab Hannah datar lagi.
Sebenarnya, hari ini Hannah tidak sedang ingin kemana-mana, karena rasa kantuk yang baru ia rasa sekarang. Tapi, apa boleh buat. Demi masa depannya juga, kan?
“Kau sudah siap, Hannah?” seru Woo Bin dari teras bawah.
“Sebentar lagi,” balas Nana dari kamarnya.
Merepotkan. Benar-benar merepotkan. Batin Hannah kini sudah berperang mati-matian dengan otaknya. Otaknya kini sudah tak sabaran melihat kampus barunya itu, tapi sayang, batinnya kali ini kehilangan mood untuk hanya sekedar melihat kampus baru.
Sejak kemarin, Hannah tak pernah memanggil Woo Bin dengan sebutan ‘ayah’. Tidak sekali pun. Karena, dari dia kecil sampai sedewasa ini, yang ia tau kalau ayahnya sudah mencampakannya. Ayahnya sudah tak perduli padanya. Maka anggap saja, dia tak lagi memiliki ayah.
Hannah sudah turun kebawah. Dan disana pun Woo Bin sudah membukakan pintu mobil untuknya. Dengan tanpa ekspresi berterima kasih, Hannah masuk kedalam mobil, mengenakan sabuk pengaman dan duduk dalam diam. Baginya, berbasa-bsai tak berguna untuk saat ini. Moodnya sedang kurang baik.
“Oh ya, Hannah. Di kampus lamamu, ayah dengar kau mengikuti kelas memanah. Apa itu benar?” Tanya Woo Bin berusaha menghilangkan kekakuannya dan memulai pembicaraan layaknya seorang ayah pada umumnya.
“Iya,” jawab Hannah singkat. Karena sepertinya tak ada yang perlu dijelaskan, bukan? Lagi pula, Hannah juga sedang ‘bad mood’.
“Menurut informasi yang ayah dapatkan dari teman ayah, dikampus barumu ini juga ada kelas memanahnya. Apa kau tertarik?”
“Entahlah. Kita lihat saja nanti,” balas Hannah datar dan dingin hampir menyamai robot-robot rumah tangga buatan Jepang.
Woo Bin mengerti mengapa sikap putrinya itu sampai begitu padanya. Ini semua juga salahnya. Salahnya yang terlalu mementingkan pekerjaannya dibandingkan istri dan anaknya sendiri. Rela meninggalkan keluarga yang dia cintai hanya untuk pekerjaan bodoh, yang dilakoninya sampai menderita kesepian di Seoul.
“Kau masih marah pada ayah?,” Tanya Woo Bin langsung tanpa berbasa-basi lagi. Woo Bin ingin tau seberapa bencikah Hannah padanya.
“Untuk apa kau bertanya kalau kau sudah tau jawabannya?,” balas Hannah tanpa sedikitpun memandangi wajah ayahnya itu. Hannah pikir, sepertinya pria ini harus tau bahwa ia masih sangat membencinya. Setelah apa yang sudah ia lalui bersama ibunya selama 20 tahu yang kelam itu. Dengan terlampau keras, anak sekecil Hannah harus menanggung hinaan dan celaan dari banyak orang. Bahkan kehadirannya seperti tak dianggap orang-orang disekitar mereka. Tapi, yang dilakukan pria ini, hanya menelepon tanpa sekali saja menampakan batang hidungnya pada orang-orang yang sudah mencelanya dan ibunya. Pria ini seperti memilih bersembunyi dari semua kesalahannya, ketimbang berusaha memperbaikinya.
Kalau saja pria ini mau memperbaiki kesalahannya lebih awal lagi, Hannah mungkin tak akan sebenci ini pada ayahnya. Dia mungkin juga tak akan menjadi sedingin dan sedater ini pada orang-orang.
Tapi semua sudah terjadi. Percuma Hannah sesali atau ingat-ingat lagi. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Sekarang, Hannah ingin lihat. Sampai seberapa keraskah ayah dan ibunya memperbaiki kesalahan mereka.
“Kita suda sampai,” ujar Woo Bin seraya turun dari mobil yang sudah ia parkirkan itu.
Kembali Hannah menatap keluar jendela mobil dan perlahan turun dari atas mobil itu. Kampus yang besar, beda dengan kampusnya di Jakarta. Kampus ini nampak lebih seperti kampus sungguhan deibanding kampusnya di Jakarta.
“Ayo kita ke Rektoratnya,” ajak Woo Bin pada putrinya itu kemudian berjalan terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan masuk kedalam area kampus, tak henti-hentinya Hannah menganga tak karuan. Kampus ini lumayan besar. Juga setiap gedung-gedungnya pun tertata rapih. Jarak demi jarak diatur sedemikian rupa sampai terlihat begitu modis dan indah.
Kantor ‘Rektorat’ yang berada ditengah kampus menjadikannya sentral dari area Universitas Kangnam ini.
Kini mereka sudah memasuka lobi utama kantor Rektorat. Entah kenapa Hannah merasa gugup, seperti anak kecil yang baru akan dimasukan keseoklah oleh ayahnya.
Padahal tidak biasanya Hannah begini. Sejak lulus SD, Hannah bisa mendaftarkan sendiri dirinya untuk masuk SMP. Begitu juga saat mau masuk SMA dan kuliah. Semua dia lalukan sendiri. Tak ada yang membantunya mendaftar.
Untung saja, Hannah memiliki otak yang lumayan cerdas. Jadi tak sulit-sulit juga untuk mendaftar kemana saja ia mau. Termasuk saat ia memilih masuk Universitas Indonesia jurusan Kedokteran.
&&&
Dalam ruang Rektorat itu, Hannah hanya duduk terdiam. Sesekali ia juga menjawab seperlunya. Pembicaraan pun berakhir. Hannah diterima disana, sesuai dengan fakultas yang sudah dia tinggalkan di Jakarta.
“Ayah harap kau senang berada disini,” ujar Woo Bin seraya tersenyum simpul pada putrinya. Senyuman yang jarang dilihatnya dari wajah kaku ayahnya itu.
“Hmm,” balas Hannah singkat seraya berjalan keluar lobi bersama ayahnya.
Seperti waktu mereka kemari. Waktu perjalanan pulang pun tak ada pembicaraan yang dilakukan. Hannah terlalu malas untuk memulai pembicaraan apapun dengan ayahnya. Sikap ayahnya yang kaku itu juga nampaknya seperti enggan membiarkan mulutnya itu terbuka dan mengeluarkan sedikit suara. Sudahlah. Memang sudah seharusnya begini kan?
Minggu depan, Hannah sudah mulai berkuliah dikampus barunya itu. akan seperti apa teman-teman barunya nanti. Andai saja ada seorang teman saja yang bisa berbahasa Indonesia. Pasalnya, Hannah lebih suka berbahasa Indonesia ketimbang bahasa Korea. Bahasa yang dibencinya itu.

&&&

“Hannah-a, bagaimana kampus barumu? Kau suka?,” Tanya Livia pada putrinya yang baru saja kembali itu.
“Lumayan,” jawab Hannah singkat seraya mengambil segelas air putih yang ada dimeja makan itu.
“Oh ya, siang ini kau mau ibu masakan apa?, masakan Korea atau Indonesia?,” kini Livia sudah mengangkat kedua lengan bajunya seperti sudah bersiap untuk melakukan sesuatu.
“Apa saja. Tapi aku lebih suka masakan Indonesia,” jawab Hannah yang seraya berjalan naik kekamarnya.
Sepertinya cukup basa-basi hari ini. Hannah ingin sedikit beristirahat. Hari ini dia terlalu lelah.
Hannah bahkan masih tidak percaya, kalau sekarang dia sudah berada disini. Di Seoul, bersama ayahnya. Padahal sempat tadi pagi saat Hannah bangun, Hannah masih berharap kalau semua yang dia alami kemarin hanya mimpi. Dan dia masih terbangun kasur kapuknya itu. Kembali Hannah memejamkan matanya yang lelah, berusaha terlelap. Membiarkan mimpinya membawanya, kemana saja. Yang penting jangan disini lagi.
Perut Hannah yang keroncongan memaksa matanya untuk terbuka. Dengan langkah gontay dan mata yang masih berat, Hannah berjalan turun kebawah. Melihat apa yang usdah dibuatkan ibunya untuknya.
“Sayang, ayo makan! Ibu sudah buatkan Tahu Balado kesukaanmu,” seru Livia dengan senyum diwajahnya. Hannah mulai melihat ada perubahan dari ibunya. Dan perubahan itu nampak tulus. Sebenarnya Hannah cukup bahagia melihat perubahan ibunya itu. Tapi, cukup hatinya saja yang tau.
“Gumawo Eomma. (Terima kasih, ibu.),” balas Hannah dalam bahasa Korea. Kini Livia bisa mendengar bahasa itu lagi dari bibir anak perempuannya. Meski masih terdengar datar, tapi Livia cukup senang.
“Ye, cheonmaneo. (Iya, sama-sama.),” balas Livia dalam bahasa Korea pula. Dengan masih tersenyum simpul, Livia kembali mengelap piring-piring basah yang baru saja ia cuci.
Sedang Hannah, sudah sibuk dengan makan siangnya diatas meja. Baru dua hari di Seoul, Hannah sudah sangat merindukan makanan-makanan Indonesia.
“Woo Bin mana? Kenapa dia tak ikut makan siang?” Tanya Hannah bingung melihat hanya ia dan ibunya saja yang ada dimeja makan.
“Mmm…ayahmu, sedang ada urusan dikantor jadi..”
“Ooh, begitu,”
Belum selesai Livia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Hannah sudah keburu memotong dengan pemahamannya sendiri. Seharusnya, dari awal Hannah sudah harus tau. Bahwa kedatangan mereka kesini hanya akan menjadi pelengkap saja. Pelengkap untuk rumah besarnya ini. Seorang workaholic seperti ayahnya itu, sulit untuk berubah. Apalagi mengubah kesalahannya. Seharusnya Hannah tau itu, dan menolak untuk datang kemari.
“Sayang…ibu mohon. Beri ayahmu kesempatan,” ujar Livia setengah memohon.
“Aku mau mandi,” kini Hannah bangkit dari duduknya. Selera makannya yang tadi menggebu-gebu hilang sudah. Lebih baik, mereka masih tetap berada di Jakarta sekarang. Karena, kalau dilihat keadaan sekarang ataupun keadaan mereka di Jakarta, semuanya sama saja. Hanya bedanya, di Jakarta mereka tidak tinggal dirumah semewah ini.
Bukannya mandi, Hannah malah melemparkan tubuhnya keatas kasur empuk itu. matanya terasa panas, hatinya berusaha menahan segala bentuk rasa sakit yang kini sudah bergulat dihatinya. Biasanya, Hannah adalah yang paling kuat. Tak mau menunjukan kelemahannya kepada siapapun. Apalagi menangis. Tapi, keadaan ini sungguh ironis untuk Hannah. Sampai-sampai, air matanya yang biasanya bisa ditahan, keluar begitu saja. Mengalir, dan sulit untuk berhenti.
Tak sadar, isakkan sudah keluar dari mulut Hannah. Air matanya pun sudah membasahi kasur itu, juga kedua pipinya. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, menyiksa batinnya. Menyesakkan nafasnya. Hannah merasa tak sanggup lagi. Ini sudah keterlaluan. Keterlaluan sakitnya.

&&&

Hannah sudah mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk. Dilihatnya langit jingga Seoul yang begitu indah dari balik jendela kamarnya. Hannah melongo kebawah, coba-coba megecek kalau-kalau saja mobil ayahnya sudah berada dibawah.
Dan ternyata sudah.
Masih dengan handuk yang menggantung dilehernya, Hannah turun kebawah dan mendapati ibunya tengah terduduk lesu dimeja makan.
Perlahan Hannah mendekati wanita itu, dan kini sudah mendegar isakkan dari keluar dari mulutnya.
“Ibu…kau kenapa?” Tanya Hannah pelan. Dan seketika, ibunya mengangkat kepalanya, merespon penggilan Hannah tadi.
“Hah? Ti-tidak…tidak ada apa-apa. Kau mau apa, biar ibu buatkan.” Wanita itu kini seperti sedang berpura-pura dimata Hannah. Dengan secepat mungkin, tanpa sedikitpun melihat wajah Hannah, Livia mengusap kedua matanya yang basah karena air mata itu.
Livia seperti tak ingin putrinya berpikir yang macam-macam lagi tentangnya dan mantan suaminya itu.
“Kau menangis karena pria itu lagi, kan?” Tanya Hannah datar. Ekspresinya pun dingin. Seperti tersirat kebencian dikedua mata bulatnya itu. “Kita pulang saja ke Jakarta, ya?”
“Apa yang kau katakan? Tidak! Ibu tidak mau melakukan kesalahan yang sama dua kali. Sudah…jangan berpikiran yang macam-macam. Ibu tidak apa-apa.” Elak Livia mencoba tetap mempertahankan keputusannya itu.
Pria yang mereka baru saja bicarakan itu akhirnya datang. Dengan ekspresi heran, ia menatap bergantian Hannah dan Livia. Sayang, tatapan hangat Livia tak terpancar sedikitpun dimata Hannah. Malah sebaliknya, sepasang mata bulat Hannah itu lebih memancarkan kebencian melalu tatapan dinginnya itu.
“Ibu, aku ingin segelas susu. Tolong antarkan kekamarku, aku mau belajar,” pinta Hannah seraya berjalan naik kekamarnya, meninggalakan Woo Bin dan Livia didapur.
Hannah tak mau memulai pembicaraan apapun dengan pria itu. Hannah terlampau kesal dengan pria itu sekarang ini.
Hannah duduk dengan lesu didepan meja belajarnya. Menopang kepalanya dengan sebelah tangannya, kemudian menyibak rambutnya yang masih sedikit basah itu kebelakang. Hannah tak habis pikir, kalau batinnya masih bisa tersiksa meski kini ia sudah bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya.
Berusaha untuk melupakan semua, Hannah mengambil sebuah buku modul yang baru saja tadi didapatnya dari kampus barunya. Berharap dengan belajar, Hannah bisa melupakan semua kekesalannya pada ayahnya itu.
Sudah sejam, Hannah hanya menatap kosong buku yang tergeletak begitu saja diatas meja belajar itu. Tanpa sedikitpun bisa membaca ataupun memahami isi modul itu. Kekesalannya dan rasa sakit yang menggulat dihatinya sudah menutupi otaknya sampai-sampai otaknya ini tak diijinkan untuk berpikir apa-apa lagi.
Dari luar sudah terdengar bunyi ketukan pintu. “Hannah..ibu boleh masuk, kan?” Tanya Livia dari balik pintu yang masih tertutup itu.
“Masuk saja, tidak dikunci,” seru Hannah dari dalam kamarnya, yang akhirnya membuat Livia membuka pintu kamar itu perlahan.
“Ibu mau mengantar susu ini. Dan…bisa kita bicara sebentar.” Livia sudah duduk dengan wajah serius diatas kasur Hannah. Hannah pun bangkit membalikan bangkunya itu menghadap ibunya.
“Sayang..ibu tau, kau masih sulit untuk menerima keadaan ini. Tapi…ibu mohon. Kau bisa memahami posisi kami berdua. Kau sudah cukup dewasa untuk mengerti ini semua, bukan? Ibu kembali kesini dan rujuk dengan ayahmu lagi, itu semua untukmu. Karena kami ingin, kau mendapatkan kembali apa yang sudah terenggut darimu 20 tahun lalu.”
“Tapi…sekarang, apa yang kita alami? Ku rasa dia tak berubah sama sekali. Dia malah masih sama dengan dia yang sering kau ceritakan padaku. Dia masih memilih pekerjaanya meski kita sudah berada disini. Dia juga masih sekaku yang kau ceritakan. Aku tak mengerti, kenapa kau masih mau rujuk dengannya setelah apa yang ia lakukan pada kita.”
“Itu semua karena, bukan hanya ayahmu saja yang salah. Tapi ibu juga salah. Kami berdua sama salahnya padamu. Jadi…sekarang ibu harap, kau bisa megerti keadaan kita yang sekarang.”
“Akan kuusuhakan,”
Hannah masih belum mengerti dengan keputusan yang dibuat ibunya sebulan lalu. Mau saja ia kembali untuk disakiti seperti ini. Meskipun kesalahan 20 tahun lalu itu juga termasuk salahnya. Tapi, ini sudah benar-benar keterlaluan. Pria itu datang dan memohon untuk kembali dan memperbaiki kesalahan, tapi nyatanya seperti tak ada yang berubah disini.
Livia masih mengamati wajah putrinya yang nampaknya masih belum terima dengan semua ini. Livia mengerti kenapa sampai Hannah begitu. Sikap Woo Bin yang sepertinya sulit berubah, mungkin akan membuat Hannah akan sulit juga menerimanya lagi. Tapi, apapun itu. Livia akan berusaha sebaik mungkin untuk mengubah keduanya. Meski itu akan memerlukan waktu yang cukup lama.

To Be Continue…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s