Posted in Uncategorized

All I Want For Christmas Is You #3

Degup jantung Nana berdentum keras. Terlalu keras sampai-sampai, napas Nana juga ikut tercekat. Rasa gugup terlampau menguasai dirinya saat ini.

Ini adalah kencan buta pertama Nana. Seumur hidupnya, dia tak pernah mengalami hal ini. Rata-rata orang yang dikencaninya selama ini adalah orang yang dia kenal. Jadi, Nana tak begitu merasa canggung dan gugup.

 

“Bagaimana? Kau sudah siap?” tanya Hye Raa saat memarkirkan mobilnya didepan sebuah Café. Tempat dimana pria itu tentukan untuk bertemu.

 

“Aku gugup, Hye Raa..bagaimana ini?” ujar Nana dengan suara bergetar. Keringat ditangannya pun tak kunjung mengering.

 

“Sudah. Santai saja. Aku akan memantau kalian dari jauh. ok?” ujar Hye Raa berusaha menenangkan Nana. Hye Raa menyodorkan selembar tissue untuk mengeringkan keringat dikedua telapak tangan Nana. Kemudian menggandeng sahabatnya itu masuk kedalam Café. “Nomor mejanya 15. Ayo, hwiting!” ujar Hye Raa memberi semangat pada sahabatnya itu.

Dengan langkah gontai dan jantung yang terus berdegup. Nana mendekati meja yang dimaksud. Dan benar saja, disana sudah duduk seorang pria membelakangi Nana.

Takut-takut, Nana perlahan mendekat.

 

“Pe-permisi.” Sapa Nana kemudian.

Pria itu pun merespon panggilan Nana dan membalikan badannya. Sontak Nana kehilangan debarannya, dan amarah kembali menguar dihatinya.

“Kau!!” bentak Nana. “Kenapa harus bertemu denganmu lagi! Kalau tau kau yang mengajakku kencan aku tak akan datang!” comel Nana pada pria itu. Tepatnya pria yang sudah dengan angkuhnya menabraknya dirumah sakit kemarin malam.

“Kencan? Ooh…jadi kau gadis yang akan diperkenalkan mekanikku? Kalau tau begitu aku juga tidak mau. Dasar dokter bawel!” sindir balik pria itu pada Nana dan akhirnya membuat Nana benar-benar emosi. Untung Nana masih bisa sedikit mengontrol, kalau tidak mungkin high heels ini sudah mendarat mulus dikepala pria sombong itu.

 

“Berani sekali kau! Kau pikir siapa dirimu, hah? Manusia sombong dan angkuh sepertimu sebenarnya tak pantas dikencai siapapun! Siapa juga yang mau punya pacar angkuh sepertimu!” umpat Nana akhirnya meluapkan semua kesesakan didalam hatinya yang sudah disimpannya dari kemarin malam.

Perkataan Nana seketika membuat pria itu terdiam. Tatapannya pun berubah dingin. Apa dia marah atau mungkin tersinggung? Tanya Nana dalam hati.

Tanpa menjawab umpatan Nana tadi, pria itu langsung berlalu pergi.

“Apa bicaraku keterlaluan, ya?” gumam Nana, “Aaahh!!! Masa bodo! Biar tau rasa dia!” ujar Nana kembali acuh pada sikap pria itu.

 

“Nana..ada apa? Ku lihat kalian seperti saling mengenal?” tanya Hye Raa yang tiba-tiba saja datang dari belakang Nana.

 

“Dia itu pria yang kuceritakan padamu. Aku masih kesal padanya. Padahal kemarin aku berharap tak akan bertemu dengan dia lagi, huh!” comel Nana.

 

“Tapi kulihat, tadi dia keluar dengan wajah yang mengerikan, lho! Apa yang sudah kau lakukan padanya?” tanya Hye Raa dengan ekpresi khawatir.

 

“Hanya sedikit memberinya pelajaran. Supaya dia bisa menghilangkan sikap angkuhnya itu!” jawab Nana santai tanpa merasa bersalah sedikitpun. Menurutnya, apa yang dikatakannya itu ada benarnya juga. Masa ada wanita yang mau punya pacar super angkuh seperti itu. Wanita gila saja yang tertarik pada pria seperti itu.

“Sudah! Ayo kita pulang. Anggap saja malam ini tak pernah terjadi apa-apa.” Ujar Nana kemudian menarik Hye Raa keluar dari Café itu dan pulang.

*********

Hari ini rumah sakit ramai sekali. Semua dokter nampak sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Begitu pula dengan Nana yang sejak pagi tadi sampai sore belum sempat kembali keruangannya untuk menulis laporan pasien.

 

“Dok, aku takut disuntik.” Ujar seorang gadis kecil dengan ekpresi takut dan khawatir.

Nana tersenyum pada gadis itu dan menyimpan kembali jarum suntik itu.

 

“Tidak apa-apa. Aku akan melakukannya pelan-pelan. Tidak akan terasa sakitnya, hanya seperti digigit semut saja, kok. Mmm…atau kalau kau masih takut juga, pejamkan matamu dan pikirkan apa yang akan kau lakukan kalau kau sudah sembuh nanti, mungkin makan es krim atau pergi jalan-jalan bersama orang tuamu.” Ujar Nana berusaha menenangkan gadis kecil itu. “Oh ya, siapa namamu?” tanya Nana lagi.

 

“Chiquita Marquez…dokter. Aku ingin saat besar nanti, bisa seperti dokter. Menjadi dokter yang baik dan cantik.” Ujar anak itu dengan wajah polosnya. Nana hanya membalasnya dengan tawa kecil.

 

“Iya. Makanya, kalau mau jadi dokter kau harus sehat, ya? Kalau cantik, kau sudah sangat cantik, kok!” ujar Nana seraya membelai kepala gadis itu. “Baiklah, kita mulai ya?” Nana kembali mengambil jarum suntik itu, dan membuka penutupnya. “Disuntik, ya? Tangannya jangan ditarik, lho!” ujar Nana dan perlahan memasukan jarum itu kelengan gadis mungil itu. “Jangan pikirkan rasa sakitmu. Ingat saja apa yang menyenangkan.” Ujar Nana seraya terus memompa cairan obat itu masuk kedalam tubuh gadis itu.

“Nah..sudah, kan?” ujar Nana seraya menempel plester pada bekas suntikan tadi.

 

“Dok, rasanya tidak sakit. Terima kasih.” Ujar gadis kecil itu seraya tersenyum lebar pada Nana.

 

“Waah..berarti kau hebat, dong! Hehe..” puji Nana seraya tertawa kecil.

 

“Oh ya, dok. Sebentar lagi pamanku akan datang. Dia tampan sekali kurasa kalian sangat cocok.” Tutur gadis itu dengan wajah polos. Sontak, Nana terkejut dengan celotehan gadis itu.

 

“Ha?? Ehehe..” Nana benar-benar kehilangan kata-kata.

Tengah mencari kata-kata, pintu geser itu terbuka dan sepertinya seseorang baru saja masuk kekamar itu.

 

“Nah, itu pamanku! Paman Marc!” seru gadis itu girang. Wajahnya nampak berseri-seri. Seketika, Nana membalikan badannya melihat pria yang sangat dibanggakan keponakan manisnya ini.

Seketika itu juga, Nana segera membatu ditempat dengan sejuta perasaan.

 

“Kau?” ujar pria yang bernama Marc itu pada Nana seraya memasang wajah yang tak senang.

 

“A-aku permisi!” pamit Nana seraya buru-buru berjalan keluar dari kamar itu.

Entah mimpi apa Nana semalam sampai-sampai sore ini bisa kembali bertemu dengan pria menyebalkan itu lagi.

 

“Hei! Tunggu!” seru Marc dari belakang sana. Dan seruan itu malah tambah mempercepat langkah kaki Nana. Entah karena takut atau memang tak mau berurusan lagi dengan pria itu, Nana tak sedikitpun memperdulikan seruan keras pria itu.

Sampai akhirnya, sebelum Nana masuk keruangannya. Ada sebuah tangan yang mencengkram lengannya dengan kuat.

 

“Lepaskan!” seru Nana kencang sampai-sampai menjadi pusat perhatian semua mata yang melintas disitu. “Lepaskan aku atau aku berteriak!” ancam Nana yang terus mengayun lengannya yang dicengkram.

 

“Kau sudah berteriak tadi. Hhh..baiklah. Tapi, ada satu hal yang ingin kubicrakan denganmu!” ujar Marc dengan tatapan serius.

 

“Apa lagi? Kurasa tak ada yang perlu kita bicarakan. Semua sudah selesai semalam, jadi kau tak perlu berusaha minta maaf padaku. Aku tak suka berurusan dengan pria angkuh sepertimu!” comel Nana yang masih terus berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman Marc.

 

“Tidak juga. Ini menyangkut apa yang kau katakan semalam. Kupikir, kau akan menyesal mengatakan itu padaku.” Tutur pria itu dengan nada sedikit menantang. Sorot matanya nampak sangat sinis, seperti hendak merencanakan sesuatu yang jahat.

 

“Maksudmu?” tanya Nana mulai merasa aura-aura bahaya dari perkataan dan tatapan pria itu.

 

“Yaah..ku rasa kau mengerti maksudku. Dan kau tau…aku akan berusaha membuatmu menarik kembali ucapanmu itu.” ancam Marc masih dengan senyum sinisnya kemudian melepaskan cengkaramannya dari lengan Nana.

 

“Kau gila? Kau pikir akan semudah itu? Tidak! Aku tidak akan menarik kembali ucapanku itu! benar-benar tidak akan!” seru Nana kemudian membuka pintu ruangannya dan segara menjeblak masuk kedalam. Terus terpikir ucapan mengerikan pria itu, Nana masih bersandar dipintu ruangannya.

Tiba-tiba ada rasa khawatir menyelimuti Nana. Perkataan pria itu seperti kutukan ditelinganya. Seperti, apa yang dia katakan tadi benar-benar akan terjadi nanti. Lalu, kalau itu sampai terjadi, apa yang harus Nana lakukan?

 

To Be Continue…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s