Posted in Uncategorized

All I Want For Christmas Is You #4

“SIAL!!!” seru Nana kesal saat seusai membaca pesan diponselnya. “Berani-beraninya wanita itu…mau cari mati dia, ya?” ujar Nana kesal sambil kembali menatap layar ponsel itu dengan geram.

 

“Ada apa lagi Kim Nana?” tanya Hye Raa menatap sahabatnya itu ngeri. Tak biasanya Nana sekesal itu. Wajahnya pun tak kalah seperti setan yang merajai neraka.

 

“Lihat ini, Hye Raa…LIHAT! Perempuan itu mau menantangku! Dia pikir siapa dia? Dasar perempuan murahan!” umpat Nana kesal. Amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun itu kini meluap sudah.

 

“Memangnya apa yang dia katakan, hah?” tanya Hye Raa panic bercampur ngeri.

 

“Dia sudah tau tentang rencana kita Hye Raa…lalu dia menantangku untuk membawa pacarku kepesta pertunangannya dengan Joo Won nanti. Bagaimana ini?” tanya Nana berubah kebingungan.

 

“Kau juga sih! Cari jodoh pake mengumbar di Sosial Media segala! Bodoh itu namanya!” comel Hye Raa ikut-ikutan khawatir.

 

“Lalu sekarang aku harus bagaimana?” tanya Nana kelabakan. Otaknya yang biasanya selalu memberinya ide cemerlang, seakan kini tertutup dan kosong melompong.

 

“Aku juga tidak tau, Nana. Kalau mendadak begini siapa juga yang bisa berpikir jernih. Memangnya pestanya itu kapan?” tanya Hye Raa.

“2 minggu lagi.” Jawab Nana pelan.

“APA?? Dalam 2 minggu, bagaimana bisa mencari seorang kekasih? Itu namanya gila!” seru Hye Raa terlampau panik.

 

“Jadi aku harus bagaimana? Aku sungguh tidak sudi dipanggil payah oleh perempuan murahan itu!” keluh Nana.

 

“Sudah…nanti baru kita pikirkan lagi. Sekarang, lebih baik kita berangkat kerja, sebelum ada masalah baru lagi.” Usul Hye Raa mengingatkan.

Dan merekapun bergegas berangkat kerumah sakit yang jaraknya tak begitu jauh dari apartemen mereka.

5 menit saja, waktu yang diperlukan keduanya untuk tiba kerumah sakit ibu dan anak itu.

 

“Aku keruanganku dulu, ya? Pokoknya, kau jangan terlalu pikirkan masalah ini dulu. Focus dulu pada pekerjaanmu. Ok?” peringat Hye Raa sebelum masuk keruangannya.

 

“Baiklah.” Patuh Nana kemudian melangkah gontai keruangannya. Baru beberap langkah Nana dari depan ruangan Hye Raa, malapetaka yang lain datang dihadapan Nana. “Ya Tuhan…kenapa dia lagi?” gumam Nana pelan kemudian berusaha mencari jalan lain agar tidak bertemu dengan pria menyebalkan itu. Namun, belum selangkah Nana mengambil jalan lain. Tangan Nana kembali ditahan oleh seseorang.

 

“Mau kemana kau, hah?” tanya Marc dari belakang Nana. “Ruanganmu kan disebelah sana? Buat apa kau lewat situ?” tanya Marc penasaran.

 

“Bukan urusanmu! Mau lewat kuburan juga, itu bukan urusanmu!” comel Nana berusaha melepaskan genggaman Marc dari tangannya.

 

“Begitu ya? Kau seperti sedang menghindariku?” tanya Marc penuh curiga, kini senyum sinis kembali melengkung dibibirnya.

“Apa? Menghindarimu? Untuk apa? Memangnya aku takut padamu? Aku hanya tak mau mencari masalah saja pagi-pagi begini.” Ungkap Nana masih dengan penuh amarah.

 

“Begitu, ya?” ujar Marc yang tidak begitu percaya dengan jawaban Nana.

 

Tengah sibuk bertengkar dengan Marc, sampai Nana tak sadar kalau masalah yang sesungguhnya sudah berada dibelakang keduanya.

 

“Hei..Kim Nana.” Sapa seorang wanita cantik sambil menggandeng pria yang adalah Kang Joo Won, mantan pacar Nana.

 

“Nana?” tegur pria itu setengah bertanya.

 

Sontak Nana menoleh kearah suara itu dan membatu ditempat.

 

“Mae Rii..Joo Won? Ka-kalian?” amarah Nana yang tadinya hanya untuk Marc, kini terlupakan dan seperti ada api neraka yang memercik dikepalanya sampai-sampai ubun-ubunnya terasa panas. “Mau apa kalian kesini?” tanya Nana pelan tapi terdengar begitu geram dan Marc sendiri bisa merasakan kegeraman itu dari genggaman tangannya.

 

“Tidak. Oppa dan aku hanya mau melihat keadaanmu. Dan kami, mau mengundangmu secara resmi keacara pertunangan kami. Acaranya 2 minggu lagi, kok jadi kau bisa mempersiapkan dirimu dengan baik. Bagaimana?” tanya gadis itu seenaknya. Tatapannya pun seperti sedang meremehkan Nana. Dan untung saja Marc masih menggenggam tangan kanannya kalau tidak sudah diayunkan kepalan tangannya itu kewajah wanita murahan dihadapannya itu.

Marc menatap sinis wanita itu dan kembali menatap prihatin Nana. Batin Marc seperti mengatakan kalau pria yang disebelah wanita menor itu adalah mantan Nana. Kalau bukan, untuk apa Nana sekesal ini.

Dan tanpa menunggu persetujuan Nana. Setelah melepas genggam tangannya, Marc langsung merangkul bahu Nana.

“Baiklah, kami akan datang. Lagi pula, itu juga kalau pacarku yang cantik ini tak sibuk. Kau taulah, diakan seorang dokter.” Sela Marc dengan santai. Sontak Nana kebingungan untuk mengimbangi. Disisi lain, Nana ingin sekali menghajar pria ini. Tapi, disatu sisi Nana ingin berterima kasih pada pria ini karena sudah menyelamatkan harga dirinya.

Kini nampak wajah JooWon tak senang melihat Marc. Tatapan mematikan diarahkannya pada Marc. Dan tatapan itu hanya dibalas senyum sinis Marc.

 

“Wah..ternyata kau sudah punya pacar, ya? Tampan pula..” ujar Mae Rii nampak puas melihat Nana yang sudah dirangkul seorang pria asing itu.

 

“Ya, begitulah. Dan kuharap kau tak merebut yang ini dariku.” Potong Nana dengan sinis pula. Seperti sudah menemukan kembali kekuatannya. “Oh ya, aku harus bekerja. Lagipula…aku juga tak punya banyak waktu untuk bertemu sapa sekarang. Kalian hanya datang mengundang, kan? Baiklah. Kalau sudah tidak ada urusan, aku permisi.” Pamit Nana seraya berjalan kearah ruangannya.

 

“Aku juga. Permisi.” Pamit Marc kemudian menyusul Nana.

 

*******

 

“Sepertinya aku gila? Bagaimana bisa aku pergi dengan pria itu? bodoh!” umpat Nana pelan dalam ruangannya.

Nana benar-benar stress dengan keputusan bodohnya. “Aku harus bertemu dengannya, menjelaskan semuanya. Dia tidak boleh salah sangka dengan apa yang aku katakan tadi.” Gumam Nana seraya bangkit berdiri kemdian bergegas keluar dari ruangannya.

Dan nampaknya, tak perlu Nana bersusah payah mencari pria yang ternyata baru saja selesai menjenguk keponakannya.

“Hei, kau!” tegur Nana. “ Ada yang mau ku bicarakan padamu.” Ungkap Nana dengan wajah tak bersahabat yang dibuat-buat.

 

“Apa yang mau kau bicarakan denganku.” Balas Marc dingin.

 

“Ikut aku, tidak enak kita bicara masalah ini disini.” Ujar Nana kemudian mengajak Marc ketaman rumah sakit. “Kau tau, aku tidak bermaksud membawamu kedalam masalahku. Jadi, kalau kau tak datang kepesta wanita itu bersamaku, aku tak akan memarahimu. Karena memang, kau tak ada urusannya dengan masalah ini.” Ujar Nana yang memang berusaha merubah pola pirkir Marc. Tapi sepertinya tidak begitu dengan Marc.

 

“Apa yang sudah aku katakan, akan aku lakukan. Bukan laki-laki namanya kalau lari dari apa yang sudah diucapkan. Dan bukankah pria itu sudah menyakitimu? Aku akan membantumu membalasnya kalau kau mengijinkanku.” Tawar Marc kemudian yang seketika membuat Nana terdiam sejenak.

 

“Dari mana kau tau..?” tanya Nana sedikit terkejut. Apa yang pria ini ketahui tentangnya dan Joo Won? Apa dia seorang mata-mata? Pikir Nana muluk.

 

“Dari matamu. Caramu menatap mereka tadi…semuanya cukup menjelaskan permasalahan yang terjadi antara kalian. Dan kalimat terkhirmu “dan ku harap kau tak merebut yang ini dariku..” sepertinya wanita itu merebut pria itu darimu.” Jelas Marc tepat seperti apa yang terjadi. Mungkin saja pria ini peramal atau apa. Tapi, yang jelas sekarang Nana memerlukannya. Memerlukannya untuk balas dendam. Tapi…apa pantas?

“Kau tak perlu khawatir. Aku benar-benar akan membantumu, bahkan mungkin saja kita bisa mengubah kembali pola pikir pria itu?” tawar Marc lagi dan kali ini Nana kembali tertegun. Bukankah, rencana awalnya untuk mencari pacar pura-pura adalah ini? Mendapatkan kembali Joo Won? Sedang, sekarang…ada seorang pria yang dengan suka rela menawarkan diri membantunya, menjadi pacar pura-puranya. “Yaahh..itupun kalau kau setuju dan tak berpikir macam-macam tentangku.”

 

“Bagaimana aku tak berpikir macam-macam tentangmu? Pria bertampang sepertimu, tak bisa ditebak.” Gumam Nana setengah berbisik.

 

“Apa kau bilang?” tanya Marc tak mendengar gumaman Nana tadi.

 

“Tidak! Memangnya aku bilang apa?” tanya Nana balik, berusaha menutupi apa yang sudah dia katakan tadi.

 

“Jadi..?? bagaimana?” tanya Marc kemudian setelah merasa comelan gadis itu sudah usai.

 

“Baiklah. Tapi awas saja ya, kalau kau macam-macam. Aku tak akan segan-segan menghajarmu!” ancam Nana seraya mengacungkan kepalan tangannya pada Marc.

 

“Siapa juga yang mau macam-macam padamu? Kau itu tidak menarik, tau!” cibir Marc.

 

“Apa? Kau ini…benar-benar, ya?”

Belum sempat tangan Nana  mencapai kepala Marc, ponsel Marc tiba-tiba berbunyi dan nampak mengganggu sekali.

 

“Hallo…iya…iya…baiklah, aku segera kesana…iya..” Marc kemudian menutup percakapan itu dan segera pergi tanpa berpamitan. Sepertinya ada hal penting yang harus dia selesaikan sampai-sampai sosok Nana tak lagi ditegurnya sebelum pergi.

Wajahynya pun serius sekali. Apa masalah itu gawat, ya? Tanya Nana dalam hati.

 

To Be Continue…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s