Posted in Uncategorized

All I Want For Christmas Is You #5

Sepulang Nana dari rumah sakit, ia singgah disebuah toko yang menjual pernak-pernik Natal. Membeli beberapa hiasan pohon natal dan gantungan-gantungan yang berbentuk kaos kaki.

Walaupun Nana sudah berusia 20 tahun, tapi Nana masih percaya kalau akan ada Santa Clause yang datang keapartemennya dan memberikannya hadiah. Entah itu meletakannya pada kaki pohon Natal atau mungkin satu diantara gantungan kaos kaki ini pun berisi hadiah.

            Setelah berbelanja banyak keperluan Natal. Nana pun pulang keapartemennya yang tak begitu jauh dari toserba itu. Ketika hendak masuk kedalam lobi apartemennya terdengar suara klason mobil yang sepertinya menegur Nana.

 

“Hei…” sapa sebuah suara dari belakang Nana.                                                                         

Seketika Nana berbalik dan mendapati sosok Joo Won. Dan tanpa harus banyak bicara lagi, Nana terus berjalan memasuki lobi apartemennya dan hendak menaiki lift hingga ada sebuah tangan yang sukses menahan langkah gadis itu.

 

“Mau apa lagi kau, hah?” bentak Nana kasar seraya berusaha melepaskan cengkraman tangan Joo Won yang begitu keras dan kasar. “Sakit Joo Won!! Lepaskan aku!! Atau aku akan berteriak.” Ancam Nana.

 

“Baiklah. Tapi kau harus menjawab pertanyaanku.” Kata Joo Won dengan tatapan marah.

 

“Apa lagi, hah?” bentak Nana lagi makin kesal.

 

“Siapa pria yang bersamamu waktu itu? apa dia benar pacarmu?” tanya Joo Won dan sepertinya Nana mengerti maksud pertanyaan pria itu.

 

“Iya dia itu pacarku. Memangnya kenapa? Apa salah aku mencari penggantimu? Lagi pula kau juga sudah tidak ada hak untuk bertanya seperti itu padaku. Ingat! Sememohon apapun kau untuk kembali padaku, aku tak akan menerimamu lagi. Pria jahat dan tak tau diri sepertimu, tidak pantas dicintai gadis baik-baik!” umpat Nana begitu kesalnya dan ketika ada satu lift yang terbuka, Nana langsung menyerobot masuk tanpa memperdulikan Joo Won yang masih membantu disana.

Ya, dia pantas mendapat kata-kata seperti itu. Nappeun namja! (Pria jahat!)

            Sesampainya Nana dalam ruang apartemennya, Nana langsung membuang diri diatas sofa empuk depan televisi. Mengingat kejadian dibawah tadi dan bahasa yang sudah ia keluarkan untuk Joo Won.

 

“Aku benar kok! Tidak ada yang salah…lagi pula, Hye Raa benar. Untuk apa aku masih mengharapkan pria tega seperti Joo Won itu. Di Seoul ini juga masih banyak pria tampan yang baik hati, kok!” hibur Nana pada dirinya sendiri.

 

Tengah sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba ponsel Nana berdering dan membuyarkan semua lamunannya.

 

“Siapa sih?” tanya Nana sedikit kesal. “Halo..” sapa Nana pada seseorang yang diseberang sana.

 

“Halo, Kim Nana…” balas suara itu dan sepertinya Nana kenal dengan suara ini.

 

“Marc?? Mau apa kau?” tanya Nana ketus.

 

“Apa meneleponmu saja tidak boleh?” tanya Marc dengan suara setengah bercanda.

 

“Boleh-boleh saja, sih…tapi, kau tau nomerku dari siapa?” tanya Nana mulai melembut.

 

“Mekanikku!” jawab Marc singkat.

 

“Mekanik? Oohh..pria yang mengenalkanku padamu itu?” tanya Nana memastikan kalau tebakannya benar.

 

“Tepat sekali!” jawab Marc, “Eh Nana…temani aku jalan-jalan, ya? Aku mau mencari kado Natal untuk Chiquita. Tapi, aku tak tau harus beli apa.” Mohon Marc.

 

“Kenapa tidak belikan dia boneka? Lagi pula anak perempuan pasti suka dengan boneka.” Usul Nana.

 

“Itu dia…aku kan orang baru dikota ini, jadi aku tak tau tempat bagus yang menjual boneka-boneka itu dimana. Kalau aku kesasar, bagaimana?” tanya Marc memanja.

 

“Itu urusanmu! Hhh…ya sudah! Kita ketemuan dimana?” tanya Nana.

 

“Aku sudah didepan apartemenmu. Kau tinggal keluar dari kamarmu, turun kebawah, dan keluar dari lobi. Aku didepan lobi.” Jelas Marc dan sontak membuat gadis itu kaget.

 

“Apa? Jadi…kau membuntutiku, ya?” tanya Nana penuh rasa curiga.

 

“Siapa? Aku baru saja sampai kok!” jawab Marc membantah.

 

“Baiklah. Kalau begitu, tunggu 15 menit ya, aku masih siap-siap dulu.” Kata Nana kemudian tanpa harus menunggu jawaban Marc, langsung saja ponselnya dimatikan. Dan dengan langkah lunglay Nana berjalan kearah kamar mandi.

Sebenarnya, Nana masih sangat lelah. Tapi entah mengapa, rasa lelah itu berkurang ketika telepon dari Marc masuk keponselnya. Padahal mereka belum terlalu saling mengenal. Dan yang Nana tau, Marc adalah pria angkuh dan sombong juga terkadang sangat kasar dan dingin. Pria aneh dimata Nana. Tapi mampu membuat Nana kembali bersemangat seperti ini. Nana tidak sedang jatuh cinta pada pria itu, kan?

 

            “Kau lama sekali!” seru Marc ketika sosok Nana baru saja keluar dari lobi.

 

“Maklum saja, kan. Harusnya kau mengerti, aku juga baru pulang! Jadi..tadi aku istirahat sedikit dulu. Dan kupikir kau sudah pulang…kalau sudah pulang kan bagus juga..” jawab Nana sinis.

 

“Begitu, ya? Hmm..jadi, mau kemana kita sekarang?” tanya Marc sembari menyalakan mesin mobilnya.

 

“Pilih…toserba atau mall?” tanya Nana balik memastikan kalau Nana tak akan salah membawa pria ini.

 

“Hmm…aku bingung.” Jawab Marc dengan tampang bertanya.

 

“Toserba itu barang-barangnya sama bagus dengan yang ada dimall dan harganya juga terjangkau. Sedang kalau dimall, itu harganya sedikit lebih mahal ketimbang ditoserba.” Jelas Nana kemudian.

 

“Yah sudah…dimall saja deh!” ujar Marc kemudian pelan-pelan membawa mereka keluar dari area apartemen itu.

 

Nana pun menunjukan arah kemana mereka harus pergi. Dan tibalah mereka pada sebuah mall yang tak begitu jauh dari apartemen Nana itu.

Saat hendak masuk, tangan Marc seketika menggenggam lembut tangan Nana. Dan anehnya, Nana tak bisa melawan dengan apa yang Marc lakukan itu. Padahal biasanya, Nana akan langsung mengelak atau mungkin cubitan keras sudah mencapit tangan Marc. Sebaliknya, ada perasaan yang tak biasa yang Nana rasakan dari genggaman lembut Marc itu. Mengalir begitu saja dari tangan Marc itu sampai keseluruh tubuhnya. Perasaan hangat yang tak bisa Nana jelaskan.

Pria itu pun berbalik dan tersenyum hangat pada Nana yang segera tersipu setelahnya.

Ini aneh, seru Nana dalam hatinya. Bagaimana bisa seorang Kim Nana tersipu pada pria seperti ini?

 

“Bantu aku pilihkan, ya?” tanya Marc ketika mereka sudah sampai pada outlet yang menjual berbagai jenis boneka.

 

“Hmm..” jawab Nana singkat kemudian melepas pelan genggaman tangan Marc yang entah sudah berapa lama melekat ditangannya. “Memangnya, kartun kesukaan Chiquita apa?” tanya Nana pada Marc yang hanya bisa mengekor dari belakang Nana.

 

“Eumm…kalau menurut ibunya, dia sangat ingin punya boneka Stitch yang besar. Hanya saja, aku tak tau boneka itu bentuknya seperti apa.” Jawab Marc dan langsung mendapat tatapan prihatin dari Nana.

 

“Kalau begitu yang ini, kan?” tunjuk Nana pada sebuah boneka Stitch yang berukuran jumbo dan seketika itu dijawab angguka polos Marc.

Sontak Nana menganga heran, apa lagi saat Nana tau harga boneka jumbo itu.

 

“Dan bagaimana dengan ini juga?” tunjuk Marc pada sebuah boneka couple teddy bear berpakaian hanbok ukuran sedang.

 

“Untuk siapa?” tanya Nana penasaran.

 

“Seseorang yang sangat spesial untukku.” Jawab Marc dengan tatapan menerawang.

 

Entah kenapa, saat kalimat itu terucap dari bibir Marc. Hati Nana seperti sangat sakit. Apa dia memang hanya menganggap Nana pacar bohongannya? Batin Nana lirih.

Seperti tersadar akan sesuatu Nana menepuk-nepuk pipinya sendiri.

Kenapa harus sakit hati, Kim Nana? Harusnya kau bersyukur kalau pria aneh ini punya seorang wanita spesial. Setidaknya kau bisa melepaskannya tanpa ada sedikit salah paham, kan? Batin Nana.

 

“Ayo kita kekasir. Langsung dibungkus, ya?” pinta Marc.

 

“Iya..iya..Bawel!!” jawab Nana yang akhirnya tersadar dari lamunannya.

Meskupun Nana terus mengelak akan rasa sakit dihatinya. Toh, jantungnya terus berkedut kesakitan. Entah apa yang membuatnya sesakit ini sampai-sampai napas Nana juga terasa begitu sesak. Dan anehnya, baru kali ini Nana merasa sakit hati yang seperti ini. Bahkan saat berpisah dengan Joo Won, tak sesakit ini. Nana merasa dirinya dikhianati. Padahal, Nana sadar betul kalau hubungannya dengan Marc hanyalah hubungan yang pura-pura. Dan setelah pesta pertunangan Joo Won selesai, hubungan mereka pun berakhir juga.

Tapi Nana juga tidak bisa mengacuhkan rasa nyaman yang ia rasa saat bersama pria ini. Rasa nyaman yang aneh. Bahkan tak pernah ia dapat dari Kang Joo Won.

 

“Nana…kita makan diapartemenmu saja ya? Dirumah kakak iparku sedang ramai, boleh ya?” tanya Marc membuyarkan lamunan Nana.

 

“Hah?? Apa? Memangnya dirumah kakakmu tidak cukup makanan sampai mau makan diapartemenku segala? Merepotkan!” comel Nana.

 

“Ayolah, jangan jahat begitu…aku yang memasak juga tak apa.” Bujuk Marc.

 

“Memangnya kau bisa memasak?” tanya Nana sedikit tak begitu yakin.

“Jadi?? Kau ragu begitu? Makanya, ijinkan dulu aku makan diapartemenmu, baru aku buktikan.” Bujuk Marc lagi dan kali ini Nana tak bisa mengelak lagi.

 

“Baiklah. Tapi awas saja kalau sampai aku sakit perut karena masakanmu. Aku jamin, aku akan membunuhmu!” Jawab Nana kemudian sedikit mengancam.

 

“Baik bos!” seru Marc mengiyakan ancaman itu.

 

            Setiba mereka diruang aparetemen Nana, Marc langsung saja berjalan menuju dapur. Melihat-lihat isi kulkas Nana yang lumayan lengkap dan penuh.

 

“Waahh..ternyata kau suka pasta juga, ya?” tanya Marc ketika melihat beberapa bungkus macaroni didalam kulkas Nana.

 

“Begitulah…” jawab Nana yang sudah duduk manis dimeja makan itu.

 

“Baiklah…akan kumasakan pasta spesial untukmu.” Ujar Marc seraya tersenyum lebar pada Nana. Membuat sekujur tubuh Nana membatu dan hatinya makin menggebu.

Apa yang terjadi padamu Kim Nana? Ini benar-benar perasaan yang aneh…masa aku jatuh cinta pada pria seperti ini? Padahal kami tak begitu lama saling mengenal. Tapi, kenapa bisa begini? Apa aku benar-benar jatuh cinta pada Marc?

 

Nana begitu sibuk bertanya dalam hati. Entah apa yang terjadi dengannya saat ini, Nana juga bingung. Memang, sering kali orang banyak berkata. Cinta yang sebenarnya itu datang tiba-tiba. Tapi, masa secepat ini? Dan bahkan, Nana belum siap menerima kenyataan kalau ia telah berhasil ditaklukkan pria ini.

Dalam hidup Nana, Nana paling tidak senang dikalahkan. Apalagi, oleh pria sombong dan angkuh seperti Marc. Tapi nyatanya, sekarang…Nana benar-benar kalah telak. Dan mau tak mau, Nana kalah taruhan dari pria ini. Dan harus mencabut kembali ucapannya pada pria ini seminggu yang lalu, saat mereka bertengkar hebat di Café.

 

“Silahkan.” Seru Marc seraya meletakan sepiring besar pasta itu dihadapan Nana.

 

“Kok hanya satu?” tanya Nana, “Banyak pula..”

 

“Kita berdua sepiring saja, ya? Aku takut merepotkanmu nantinya kalau banyak barang kotor yang harus kau cuci.” Jawab Marc sedikit sungkan.

 

“A-apa? Se-sepiring berdua? Apa ini salah satu modusmu?” tanya Nana datar. Apa maksud pria ini?

 

“Selamat makan!!” seru Marc seraya menyantap hasil karyanya itu dan tak memperdulikan lagi pertanyaan Nana. “Ayo Nana, dicoba…ini enak lho!” jamin Marc kemudian Nana menyendok sedikit pasta itu kedalam mulutnya sembari terus berdoa dalam hati semoga sehabis memakan pasta ini perutnya tak sakit.

 

“Mmm…iya, enak sekali. Kau hebat, Marc.” Seru Nana nampak sangat senang dengan hasil kerja Marc ini.

Berdua, mereka melahap habis pasta itu sampai kekenyangan.

 

“Astaga…aku kenyang sekali!!” ujar Nana sambil memgang perutnya yang sedikit membesar itu.

 

“Baru begitu saja kau sudah kekenyangan…payah!” cibir Marc.

 

“Apa kau bilang?” tanya Nana dan seketika itu, mata mereka bersitemu. Tatapan itu cukup lama, hingga Marc mulai bangkit dari duduknya, dengan terus menatap mata Nana dengan tajam, membuat Nana berdebar kencang, berdesir hebat. Perlahan Marc mencondongkan wajahnya mendekat kearah Nana hingga sekarang, Nana bisa merasakan nafas Marc diwajahnya. Dan Nana tau, ini saatnya ia memjamkan mata. Namun, hingga beberapa detik kemudian tak terjadi apa-apa, hanya sentuhan ibu jari Marc saja yang Nana rasakan dipinggir bibirnya. Nana pun kembali membuka matanya dengan canggung.

“Kau makan belepotan sekali.” Sindir Marc kemudian tertawa kecil.

 

“Ya sudah! Se-sekarang..kau..pulanglah! pasti mereka mencarimu!” comel Nana canggung.

 

“Baiklah. Terima kasih ya sudah mau menemaniku mencari kado dan makan malam.” Kata Marc sembari tersenyum hangat pada Nana. Seketika wajah gadis itu memerah. Jantungnya berdetak 2 kali lipat dibanding detak jatung normal yang seiring dengan detik jam. Nana mengantar Marc sampai depan pintu apartemennya. Lorong depan pintu itu sedikit sempit, jadi saat Nana hendak membuka kunci pintu apartemen itu bahu mereka saling bersentuhan dan entah mengapa saat Nana menoleh, kembali tatapan itu membius Nana lagi.

Kini Nana sudah bersandar depan pintu itu, dengan kedua tangan Marc yang menyandar dipintu itu mengunci Nana sampai tak mampu mengelak lagi. Perlahan, Marc kembali mencondongkan wajahnya kearah Nana. Mata Nana kembali terpejam. Saat itu, Nana bisa merasakan sesuatu yang lembut dan basah menyentuh bibirnya. Ciuman pertamanya. Yang bahkan dari Joo Won pun –kalau saja didapatnya waktu masih pacaran- Nana jamin pasti tak akan selembut ini.

Marc pun kembali menarik diri. Dan megecup kening gadis itu sembari tersenyum hangat pada Nana.

Saat ini, Nana bisa merasakan degup jantungnya berdentum keras.

 

“Aku permisi.” Ujar Marc kemudian keluar dari apartemen Nana.

Sedang gadis itu masih membatu dibalik pintu depan ruang apartemennya.

Ini mimpikah? Atau….

 

 

To Be Continued…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s