Posted in Uncategorized

All I Want For Christmas Is You #6

Pagi itu masih berputar-putar dikepala Nana, kejadian yang membuat jantungnya hampir berhenti berdetak. Saat menatap kearah cermin meja riasnya, Nana menyentuh bibirnya dan kejadian itu kembali terlintas dipikiran Nana. Seketika itu juga, Nana merasa kalau wajahnya sangat panas. Dan terlihat merah padam bak kepiting rebus.

 

“Kau gila, Kim Nana!!! Kau gila!! Bagaimana bisa dia mengambil ciuman pertamamu?” umpat Nana pada dirinya sendiri dan kembali bercermin. “Apa boleh..aku jatuh cinta padanya?” tanya Nana pada bayangannya dicermin.

 

            Suasana pagi itu terlihat begitu kacau. Nana sampai tak bertenaga untuk shift pagi dirumah sakit. Sampai-sampai Hye Raa heran melihat tingkah sahabatnya yang pagi ini lebih banyak bertingkah ceroboh dari biasanya.

 

“Nana! Kau ini kenapa sih? Kalau sakit kan kau bisa ijin pulang.” Kata Hye Raa sangat mengkhawatirkan keadaan kacau sahabatnya itu.

 

“Tidak kok. Aku tidak apa-apa. Hanya saja, hari ini aku kurang fokus.” Jawab Nana menutupi hal yang sebenarnya terjadi.

 

“Benar? Kau tidak sedang bohong padaku kan?” tanya Hye Raa mulai curiga dengan cara Nana menjawab pertanyaanya. Mata gadis itu bisa melihat kebohongan yang tersirat dimata Nana yang sebenarnya jarang berbohong.

 

“Ya-yaahh…masa aku mampu membohongimu..”

 

“Kim Nana…???” seru Hye Raa mendesak.

 

“Baik..baik…iya sebenarnya aku dalam keadaan yang kurang fokus dan baik hari ini!” jawab Nana akhirnya.

 

“Iya…apa yang membuatmu seperti ini, hah?” tanya Hye Raa menyelidik.

 

Nana pun mendekatkan wajahnya ketelinga Hye Raa dan membisikan kejadian yang dialaminya bersama Marc tadi malam.

 

“MWOOOO?????!!!!! (APAAAAA????!!!)” Seru Hye Raa saking terkejutnya.

 

“Hye Raa-ssi…eotteokhae?? (Hye Raa-ssi..apa yang harus aku lakukan??)” tanya Nana dengan tampang kebingungan.

 

“Itu..itu bagus sekali Nana..!!!” seru Hye Raa nampak begitu senang sekarang.

 

“Haahh?? Bagus??” tanya Nana lagi merasa makin heran dengan jawaban Hye Raa yang bahkan tak Nana duga sebelumnya. Padahal Nana pikir, Hye Raa akan menjambak rambutnya saat dia memberitahu gadis itu soal apa yang terjadi antara Nana dan Marc semalam.

 

“Iya. Akhirnya kau bisa menemukan pengganti Joo Won juga. Kupikir kau hanya akan mempergunakan pria itu untuk mendapatkan Joo Won kembali. Padahal kalian saling menyukai, ya? Baguslah…jadi aku tak perlu repot-repot berbuat jahat bersamamu.” Jelas gadis itu makin girang saja.

Memang kenyataannya aku hendak mempergunakan Marc untuk menarik Joo Won kembali. Tapi…ucapan Hye Raa ada benarnya juga. Berbicara soal Joo Won tak lagi membuatku berdebar. Apa aku benar-benar sudah melupakan Joo Won? Dan mungkin lebih baik begitu!

“Selamat ya, Kim Nana. Akhirnya kau menemukan sosok yang bahkan lebih baik dari pria brengsek itu!” kata Hye Raa kemudian memberi selamat pada Nana.

Selamat? Selamat apanya? Jadian saja belum. Percuma juga kan kalau hanya aku saja yang berdebar tak karuan dan menyukainya sedang dianya sendiri santai saja dan tak memiliki perasaan apa-apa.

“Tunggu..tunggu!! jadi, kau pikir aku dan Marc sudah jadian?” tanya Nana hendak memperjelas kesalahpahaman ini.

 

“Begitulah. Mana mungkin ia menciummu begitu saja tanpa ada perasaan sama sekali. Apalagi, kalau dia melakukannya dengan lembut dan berhati-hati, itu sama dengan bohong namanya kalau tak memiliki perasaan apa-apa.” Jelas Hye Raa begitu bersemangat sampai-sampai ngangaan Nana tak diperdulikannya.

 

“Kami belum jadian, kok.” Kata Nana dengan wajah yang nampak sedikit bingung.

Kalau mau dipikir-pikir lagi, apa yang Hye Raa katakan ini benar sekali. Mana mungkin dia mencium Nana dengan sangat lembut kalau tak punya perasaan apa-apa.

Dan kalau memang benar begitu…sejak kapan Marc mulai menyukai Nana?

 

***********

 

            Sore itu, butir-butir salju mulai turun di Kota Seoul. Hawa dingin mulai menusuk sampai ketulang. Ditambah lagi dengan mendung yang gelap, mungkin saja hujan akan turun di Kota itu sambil butir-butir salju terus turun.

 

“Ngg…dingiiinn…” keluh Nana sembari merapalkan jas putihnya.

 

“Hei!!” seru Marc dari belakang sampai membuat Nana melonjak kaget.

 

“Kau mau aku mati ya??!! Bikin kaget saja.” Comel Nana kemudian kembali mengatur detak jantungnya yang masih tak beraturan itu.

 

“Maaf..maaf…oh ya, kutraktir secangkir kopi di kantin, yuk?” ajak Marc kemudian menarik tangan gadis itu tanpa harus mendapat jawaban apa-apa dari Nana yang nampak kebingungan itu. Dan anehnya, Nana tak melawan sama sekali. Sama persis dengan yang terjadi waktu dimall semalam.

Ini seperti dejavu bagi Nana.

 

“Kau mabuk, ya? Tumben-tumbennya kau mentraktirku begini.” Ujar Nana kemudian tersenyum penuh curiga.

 

“Memangnya tidak boleh? Kalau tidak mau, kenapa tadi tidak bilang. Ditarik mau saja…biasanya kan kau akan mengamuk kalau aku pegang begitu.” Cibir Marc pelan.

 

Nana tak bisa membantah apa-apa. Memang benar, bahkan ia sampai merasa aneh pada dirinya sendiri.

Entah mengapa, sejak kejadian kemarin, disentuh oleh Marc makin membuatnya berdebar. Ia juga seperti tak keberatan digenggam Marc seenaknya begitu.

 

“Su-sudahlah…itu kopimu sudah datang. Aku akan segera meminumnya dan kembali. Aku cukup sibuk hari ini.” Elak Nana, mengalihkan pembicaraan.

 

“Ya sudah. Dasar galak!” sindir Marc.

 

“Apa? Coba katakana sekali lagi?” kata Nana geram.

 

“Tidak..tidak…” jawab Marc kemudian menguk kopi itu sampai setengah.

 

“Oh ya..mmm..maaf kalau aku bertanya begini, tapi…sebenarnya kau ini tidak bekerja, ya?” tanya Nana takut-takut. Nana ingin mencoba sedikit saran dari Hye Raa tadi. Yaitu mencoba mengenal pria ini.

“Oh..tidak apa-apa. Kalau kau mau tau, aku ini seorang pembalap MotoGP. Yaahh..kebetulah, baru menyelesaikan race ditahun ini dan sekarang waktunya untuk berlibur.” Jelas Marc.

 

“Begitu, ya?”

 

“Masa kau tidak tau? Padahal aku lumayan terkenal, lho!” puji Marc pada dirinya sendiri.

 

“Terkenal apanya? Kalau saja kau terkenal…pasti sudah ada beberapa orang fansmu yang histeris kalau melihatmu. Masa, beberapa hari ini kau berjalan ditempat umum tak ada yang meneriaki namamu…payah!” cibir Nana.

 

“Entahlah. Mungkin dikota ini tidak ada orang yang pernah menonton balapan motor seperti itu.” ujar Marc seperti membenarkan perkataan gadis itu.

 

“Hmm…aku juga tak tau sih. Mungkin saja ada, tapi jarang..” hibur Nana.

 

“Mungkin begitu.” Jawab Marc membenarkan.

 

“Oh ya, kau dari tim apa?” tanya Nana.

 

“Honda Racing Club, memangnya kenapa?” tanya Marc balik.

 

“Ooh..” jawab Nana singkat.

 

“Sekarang, giliranku lagi yang bertanya padamu. Boleh kan?”

“Mau bertanya apa?” tanya Nana mempersilahkan Marc bertanya tentangnya. Sepertinya itu cukup adil. Setelah Nana tau siapa Marc, sekarang giliran Marc yang harus tau siapa Nana sebenarnya.

 

“Kau ini, tinggal sendirian diapartemen. Memangnya keluargamu dimana?” tanya Marc memulai.

 

“Semua keluargaku di Busan. Aku disini karena panggilan tugas. Jadi mau tak mau harus tinggal sendiri.” Jawab Nana santai dan sejujur-jujurnya.

 

“Lalu, kenapa kau memilih jadi dokter anak. Karena setahuku, pendidikan dokter itu selain mahal, juga sangat sulit…bahkan kau disini seorang dokter spesialis yang paling muda.” Tanya Marc lagi dan kali ini mata Nana mulai menerawang sembari tersenyum hangat ketika mengenang masa-masanya mengejar cita-citanya.

 

“Apa yang kau katakan itu tidak salah. Semuanya benar, tapi…untung aku terlahir dengan memiliki kedua orang tua yang mampu…sangat mampu malah. Dan kenapa aku memilih menjadi dokter…karena, aku ingin menolong sesama…membantu mereka…dan berusaha semampuku untuk menyelamatkan mereka…” tiba-tiba mata Nana merah dan berair. Pipi dan hidungnya memerah, bukan karena kedinginan. Tapi, karena ia ingin menangis. “Dan satu lagi…alasan mengapa aku menjadi dokter anak adalah…karena aku pernah kehilangan adikku…saat itu aku belum menjadi apa-apa…lulus SMA pun belum. Padahal, aku sangat menyayangi adikku. Jadi…itulah alasanku menjadi seorang dokter. Aku tidak ingin ada orang yang mengalami apa yang aku alami waktu itu.” Cerita Nana.

 

“Begitu, ya? Pantas saja kau begitu menyayangi anak-anak itu.” kata Marc sembari tersenyum pada gadis itu. “Bodoh, ya? Pria yang mengkhianatimu itu. Kalau aku…pasti aku tak akan menyianyiakanmu seperti itu. Jarang lho, mendapatkan gadis sepertimu. Pemberani, baik…meski terkadang sangat sangar dan bawel.” Ujar Marc mencoba menghibur gadis itu.

Tapi…perkataan itu seperti pengakuan ditelinga Nana. Kembali detak jantung Nana memompa keras. Nana menatap pria itu tak percaya dengan perkataannya.

Apa perkataanmu itu benar-benar dari hatimu dan apa itu pengakuanmu?

 

“Oh ya…besok..kujemput, ya?” tanya Marc

 

“Iya. Terima kasih.” Balas Nana singkat. Entah mengapa, dia tak bisa menanggapi tiap perkataan Marc dengan santai lagi. Ini bukan Nana…ini sama sekali bukan Nana. Tapi…apa mampu, Nana terus mengelak dari perasaan yang kian hari makin bertumbuh itu?

 

To Be Continued..

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s