Posted in Uncategorized

All I Want For Christmas Is You #7

Berkali-kali Nana memperhatikan bayangan dirinya dicermin. Dengan dandanan dan mini dress hitam yang baru dibelinya tadi bersama Hye Raa.

 

“Apa ini begini sudah bagus?” tanya Nana pada bayangannya dicermin.

Ya!! Kim Nana-aah!! Kenapa kau terlalu serius dalam penampilan begini, sih? Biasanya juga tidak akan seperti ini…tapi kenapa setiap memikirkan Marc…aku selalu berusaha tampil cantik? Bodoh!

 

Bel pintu apartemen Nana berbunyi ketika Nana tengah sibuk-sibuknya mematut diri dicermin. “Iya sebentar!” seru Nana dari dalam kamarnya. Nana kemudian memakai High Heelsnya dan berjalan kedepan pintu. Tanpa melihat dimonitor kecil disamping pintu itu, Nana langsung saja membuka pintu apartemennya dan mendapati sosok Marc tengah berdiri dengan Stelan jas dan dasi hitam, juga kemeja putih. Nampak begitu tampan dan elegan. Ini seperti bukan Marc yang Nana ketahui. Dia nampak lebih dewasa dan berwibawah dengan tampilan seperti ini.

 

“Oohh..rupanya kau sudah siap, ya?” kata Marc ketika melihat Nana yang sudah begitu cantik dan sempurna dengan balutan mini dress hitam dan high heels hitam. Rambut berombaknya yang berwarna coklat tua itu dibiarkannya terurai. Sangat cantik, bahkan Marc hampir pangling melihatnya.

 

Tanpa basa basi lebih lama lagi, Marc segera menyodorkan tangannya dan disambut Nana nampak ragu. Marc lagi-lagi menggenggam tangannya dengan lembut. Membuat sensasi tak biasa itu muncul lagi. Kali ini makin aneh, makin membuat Nana berdebar kencang.

 

*********

 

            Tibalah mereka disebuah hotel, tempat acara pertunangan itu diadakan. Baru memasuki lobi utamanya saja Nana sudah cukup terperangah. Dan bertambah terperangah lagi, saat Nana masuk ke dalam balai acar itu. Semua dekorasi mewah itu, dan musik instrumental romantis yang mengiring para tamu, terlihat begitu sempurna. Nana bertanya-tanya, berapa biaya yang harus Joo Won dan Mae Rii habiskan untuk pesta pertunangan seperti ini.

 

“Nana..kau tidak apa-apa, kan?” tanya Marc mengkhawatirkan Nana yang sedari tadi tak banyak bicara. Dan tanpa Nana sadar, mereka sudah duduk.

 

“Tidak. Aku tidak apa-apa…” jawab Nana.

Masih khwatir, Marc mencoba membuat Nana lebih  nyaman. Ia menggeser bangkunya mendekati Nana dan menggenggam tangan gadis itu dengan lembut.

Seketika rasa hangat itu kembali mengalir dari tangan Marc keseluruh tubuh Nana dengan cepat seiring aliran darah Nana yang rasa-rasanya mengalir lebih deras dibanding biasanya. Jantungnya pun berdetak tak karuan lagi. Nana tak mengerti…atau mungkin Nana mengerti tapi tetap tak mau mengakui. Mengakui kalau sekarang, ia sudah benar-benar terperangkap oleh cinta pria ini.

 

            Acara pun dimulai, dan penyematan cincin pun dilaksanakan. Anehnya, Nana tak merasa sakit saat Joo Won dengan tersenyum bahagia, menyematkan cincin pertunangan itu ke jari Mae Rii, kemudian mencium wanita itu dengan diiringi tepuk tangan suka cita.

Apa ini semua karena genggaman tangan Marc yang sampai detik ini masih melekat ditangannya.

 

“Kau benar-benar tidak apa-apa kan?” bisik Marc.

 

“Tidak. Aku tidak apa-apa. Terima kasih.” Jawab Nana lembut.

**********

            Marc dan Nana berhenti sebentar disebuah taman dekat hotel itu. Kemudian duduk disebuah bangku ditengah taman itu.

 

“Kupikir kau akan menangis. Tak kusangka, kau sudah melupakan pria itu.” puji Marc yang nampak salut pada gadis itu.

 

“Huh…buat apa menangis! Dia pikir dia itu satu-satunya? Aku bisa mencari yang lain yang bahkan lebih baik darinya!” jawab Nana kini dengan perasaan santai dan legah.

 

“Oh ya? Semoga beruntung.” Ujar Marc dengan nada yang tak biasa. Tak seceria biasanya. “Oh ya, Nana…aku…mau pamit.” Ujar Marc sontak membuat Nana membatu ditempat. Ia tak percaya, pria ini benar-benar akan meninggalkannya setelah semua ini selesai.

Apa dia tidak tau kalau kenyamanan yang diberikannya membuat Nana akhirnya mengalah dan jatuh cinta padanya.

Nana menatap pria itu tak percaya. Rok dressnya diremas berusaha menahan tangisnya yang sudah mencapai tenggorokannya. “Besok..aku dan tim ku harus kembali ke Spanyol. Ada banyak hal yang akan kami kerjakan disana, sambil menunggu pre test dibulan Februari tahun depan. Kuharap, kau tidak marah padaku lagi. Dan aku minta maaf atas apa yang sudah kulakukan padamu selama aku disini.” Ujar Marc.

 

“Be-begitu, ya?” jawab Nana sembari terus berusaha menahan sakit yang makin menjadi-jadi saja dihatinya.

Ini tidak adil! Masa setelah dia membuatku begitu nyaman bersamanya, bahkan mencintanya…dia akan pergi begitu saja meninggalkanku! Ini tidak adil!! Tapi, bagaimana aku harus mencegahnya? Aku sama sekali tidak punya hak untuk menahannya lebih lama disini.

“Pergilah…kalau kau mau pergi. Oh ya, aku mau pulang. Besok aku shift pagi…” ujar Nana terus menahan tangisnya yang sebentar lagi mungkin akan pecah kalau ia tak segera pergi dari situ.

Namun, sepertinya itu sia-sia saja. Bukannya membawa Nana pergi, malah Marc menarik gadis itu dan mencium bibirnya denga lembut. Lagi-lagi perasaan ini…perasaan yang tak mampu Nana bendung lagi, sampai-sampai air matanya pun tak bisa ditahannya lagi. Nana menangis. Mengeluarkan sesak yang sedari tadi ia tahan.

Marc melepas ciumannya, dan menarik Nana dalam pelukannya.

 

“Maaf..kalau aku melukaimu..berbuat seenaknya padamu..membuatmu menangis. Aku benar-benar minta maaf…tiada niatku untuk menyakitimu. Sebaliknya, aku mencintaimu…sangat mencintaimu, makanya aku melakukan ini semua. Tapi..aku tak akan memaksamu membalas perasaanku.” Kata Marc kemudian melepaskan pelukannya dari Nana. Pria itu mengusap kedua pipi Nana yang basah karena air mata. “Setelah aku pergi…ku harap kau mampu mendapatkan pria yang lebih pantas untukmu.”

 

“Lebih pantas apanya? Memangnya siapa lagi? Dasar bodoh! Kau jahat! Kau menciumku dengan lembut..membuatku berdebar seperti..kau pikir setelah semua yang kau lakukan itu tak membuatku memiliki perasaan yang sama sepertimu! Kau jahat..JAHAT!!” seru Nana kemudian kembali terisak. Gadis itu benar-benar mengeluarkan yang beberapa hari ini dia pendam dihati. Perasaan yang dirasanya aneh beberapa hari ini. “Aku mencintaimu, bodoh! Aku bahkan mengharapkanmu sebagai hadiah Natal untukku!” ujar Nana lagi sembari menyeka air matanya dengan kedua tangannya.

Tangan Marc kembali membawa gadis itu kedalam pelukannya. Memeluk hangat gadis itu, menengkannya..meredahkan tangisnya.

 

“Kupikir kau sebegitunya membenciku. Sampai-sampai, kau bahkan tak perduli kalau aku akan pulang. Awalnya juga, aku sempat ragu untuk mengungkapkan perasaanku padamu, apa lagi kalau aku mengingat perkataanmu minggu lalu di Café…aku jadi tidak berani mengungkapkan perasaanku. Aku jatuh cinta pada keberanianmu menentangku di Café waktu itu. Kupikir, jarang ada gadis yang sepertimu. Makanya aku terus berusaha mendekatimu..berusaha untuk akrab denganmu.

Terima kasih…kau sudah mau menerimaku…bahkan..kaulah Natal terindah dalam hidupku.” jelas Marc kemudian makin memeluk Nana erat. Dengan lembut, Nana membalas pelukan hangat Marc itu.

Pelukan yang membuat Nana jadi lebih nyaman. Perasaannya pu juga ikut tenang. Pelukan yang akan Nana rindukan jikalau pria ini jauh darinya nanti.

 

*********

 

            “Setelah aku pergi, kuharap kau tidak akan nakal disini. Mengerti, Kim Nana!” Marc mewanti-wanti sebelum menyusul beberapa rekannya yang sudah terlebih dahulu masuk keruang tunggu.

 

“Iya..iya..bawel! kau juga, berani aku dengar kalau kau selingkuh. Aku akan kesana dan menghajarmu sampai mati!” ancam Nana.

 

“Hahaha..itu tidak akan terjadi. Setauku, aku memiliki seorang gadis yang sangat cantik dan gadis itu benar-benar menawan hatiku. Jadi..mana bisa aku mencari wanita lain.” Jawab Marc sembari menatap Nana dengan hangat. Senyum manisnya pun tak lupa mengembang diwajahnya.

 

“Dasar..masuklah! nanti kau ketinggalan pesawat.” Pinta Nana sembari membalas senyum Marc itu.

 

Sebelum pergi, Marc kembali menarik tengkuk Nana dan mengecup bibir gadis itu.

 

“Kau bilang, disini aku tak punya Fans, kan? Sekarang, coba kau lihat dibelakangmu.” Bisik Marc kemudian memutar pelan tubuh Nana.

Ternyata sedari tadi, beberapa gadis sedang mengamat-amati Marc dengan heboh sedang mereka menatap Nana dengan tatapan yang tak begitu baik.

 

“Kurasa mereka akan menghajarku kalau kau pergi.” Gumam Nana pelan.

Kembali Marc memutar tubuh Nana mengahadapnya.

 

“Itu tidak akan terjadi. Lagi pula, mana berani mereka ditempat ramai seperti ini, hm? Aku pergi dulu, ya? Jaga dirimu baik-baik.” Kata Marc. Kemudian mengecup kening Nana dan berjalan menyusul rekan-rekannya.

Nana melambai dari tempat ia berdiri kearah Marc yang sesekali melihatnya dari balik kaca ruang tunggu itu.

Setelah Marc benar telah hilang dari pandangannya, Nana pun berjalan keluar dari bandara itu.

 

            Inilah cinta sejati Nana yang pertama. Dan semoga, Marc bisa menjadi cinta sejatinya yang terakhir…bahkan selamanya.

 

 

THE END…???

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s