Posted in Marc Marquez FanFic

To Make You The One and Only (Ch. 1)

Kelas itu sudah kosong sejam yang lalu. Lampu-lampu pun sudah dinyalakan. Langit mulai menjingga, dan perlahan sang mentari meninggalkan singgah sana langit.

 

“Sayang, antarkan aku pulang, ya? Sudah sore, aku tidak berani pulang sendiri.” Bujuk gadis itu sembari bergelayut manja pada lengan pria tampan itu.

 

“Iya, sayang. Aku pasti akan mengantarkanmu, kok. Masa aku akan meninggalkanmu pulang sendirian?” jawab pria itu dengan wajah manis dibuat-buat, dan membuat ketampanan pria itu makin menghipnotis.

 

“Terima kasih, sayang.” Ujar gadis itu yang masih terus bergelayut manja dilengan pria itu. Hatinya berbunga-bunga dibuat pria tampan disebelahnya.

 

“Marc Marquez!!!!” seru sebuah suara dari kejauhan sana. Pemilik suara itu terlihat begitu geram dan menghampiri sepasang kekasih tadi dengan sangarnya.

“Oohh..jadi ini ya, alasan kamu tidak bisa bertemu denganku hari ini? Katanya kau mau mengantarkan ibumu belanja? Hah?” semprot gadis itu dengan amarah yang menggebu-gebu, “Bukannya menemani ibumu, malah bermesraan dengan perempuan ini! Kita putus!” seru gadis itu geram. Dan sebelum ia pergi, satu tamparan ia layangkan dengan keras dipipi pria yang bernama Marc itu.

 

“Marie..tunggu..aduuh..” serunya mulai salah tingkah. Ia tak tau lagi harus berbuat apa sekarang.

 

“Oh..jadi, dia itu pacarmu, ya? Dasar, playboy sialan!” umpat gadis itu kemudian melayangkan lagi satu tamparan keras dipipi yang masih perih karena tamparan pertama.

“Kita putus!” lanjut gadis itu kemudian pergi meninggalkan Marc yang masih meringis kesakitan sembari mengelus pipinya yang ditampar dua kali itu.

 

“Pergi sana!! Dasar wanita-wanita bodoh!” umpatnya kesal kemudian berjalan dengan langkah yang dihentak kesal menuju Audi Q7 miliknya.

“Marie dan Mia hilang dari list. Sekarang, masih ada Grace, Lana, Brenda, Alena, dan Chiara. Hmm…” gumamnya kemudian melaju Audi Q7 itu keluar dari pelataran Barcelona University.

 

& & & & & & & & &

 

Pagi itu, bunyi ponsel Marc berulang kali menggema diseanteru kamarnya. Namun, pria itu sama sekali belum mau meninggalkan kasur empuk dan terus berbungkus dengan selimut diatasnya.

Alarm jam pun sudah berusaha memaksanya untuk bangun, tapi itu semua terasa percuma ketika tangan kekarnya meraih jam itu dan melemparkannya hingga hancur kearah lantai.

“Berisiiikkk!!!” serunya kesal dengan seuara serak khas orang yang masih mengantuk.

Meski jam itu sudah tak lagi berbunyi, namun ponselnya kini yang menggantikan peran jam tadi. Benda pipih itu terus berbunyi, mulai dari nada telepon, pesan masuk dan masih banyak lagi yang lainnya. Akhirnya Marc menyerah. Tubuhnya perlahan merespon bunyi itu dan dengan kesal merai benda pipih diatas meja tidurnya. Ditatapnya layar datar ponselnya itu dan mulai terbelalak kaget. Disana sudah ada 20 pesan masuk dan 15 panggilan tidak terjawab.

Dibukanya salah satu pesan itu dan mulai panic.

 

From : Titto Rabbat


“Dude! Hari ini jadwal kuliah berubah. Jadi yang kuliah siang diover pagi semuanya!”

5 minutes ago

 

“APAAA??” pekik Marc panik, kemudian bergegas menghambur masuk kekamar mandi.

 

“Marc!! Kau bisa diam tidak??” seru kesal sebuah suara dari seberang kamar Marc.

 

Dan bukannya menggubris. Kegaduhan itu makin menjadi-jadi saja. Mulai dari bunyi barang yang berjatuhan sampai dengan bunyi tubuh Marc yang terpelanting kelantai.

Seketika, pintu kamar Marc yang tak terkunci itu menjeblak terbuka.

 

“DEMI TUHAN!! Maaarrcc??!! Apa yang kau lakukan?” seru cowok yang adalah adik Marc itu saking terkejutnya.

 

“Berisik! Minggir kau!” sentak Marc sembari bangkit dari lantai dan bergegas keluar meninggalkan kamarnya yang super berantakan itu.

 

“Katanya, kau kuliah siang…”

 

“Bukan urusanmu!” potong Marc sebelum adiknya itu selesai berbicara, “Oh ya, Alex. Kau tidak kuliah hari ini?” tanya Marc heran melihat adiknya yang sudah sesiang ini masih saja santai.

 

“Aku kuliah jam 10 sebentar. Memangnya kenapa?” tanya Alex balik, “Sebaiknya kau pergi sekarang. Kau itu sudah sangat terlambat sekarang.” Ujar Alex sambari melipak tangannya didepan dada.

 

“Kau tidak usah memberitahuku juga aku akan segera pergi, dasar.” Comel Marc kemudian bergegas menghampri mobilnya. Pria itu langsung saja tancap gas seteleh ia masuk kedalam mobil.

 

“Dasar playboy..makanya jangan terlalu sibuk mempermainkan anak orang, jadinya begini kan?” gumam Alex sembari menatap mobil kakaknya yang sudah menghilang dari halaman rumah mereka, “Ya Tuhan…kenapa kau memberikan kakak yang playboy begitu padaku? Hmm…” gumamnya lagi dan berbalik masuk kedalam rumah.

 

& & & & & & & &

 

Di Cafetaria kampus…

 

“Dude..tadi itu nyaris. Untung kau lebih cepat semenit dari Miss Daphnie. Kalau tidak, bisa diusir kau tadi. Apa lagi rumornya, kau pernah menolaknya kan? Hahaha..ada-ada saja dia itu.” ujar Tito sedikit mencibir Marc.

 

“Iyalah…dia itu lebih tua 5 tahun dariku. Masa aku pacaran dengan kakak-kakak? Meskipun dia cantik dan seksi, tapi dia bukan tipeku.” Balas Marc setengah kesal.

 

“Oh ya, Marc. Aku dengar-dengar di Fakultas Seni, ada mahasiswi baru lho. Kalau menurut Jeannet, gadis itu sangat sempurna. Bagaimana tidak, dia cerdas, pandai bernyanyi, main alat musik, menulis lagu, sangat cantik pula. Rumornya, sudah banyak mahasiswa yang mencoba mendekatinya tapi ditolak mentah-mentah.” Cerita Tito setengah berbisik.

Dengan seksama, Marc mendengarkan cerita Tito itu kemudian mengelus-elus dagunya dengan tangan.

 

“Hmm…sepertinya menarik. Sekalian, bisa tambah koleksi emas.” Ujar Marc sembari tersenyum geli. Pria itu sangat berambisi setelah mendengar cerita Tito. Marc penasaran siapa gerangan gadis itu.

 

“Jangan sembarang kau Marc. Ditolak baru rasa.” Peringat Tito. Sebenarnya, Tito kurang setuju dengan sifat Playboy Marc itu. Tapi, apa mau dikata. Biar dinasehati berulang kali pun tetap saja tidak akan didengar. Bahkan hanya dianggap angin lalu.

 

“Tidak akan. Pria sepopuler dan setampan aku ini mana bisa dia tolak?” ujar Marc saking percaya dirinya. Tengah asyik bercerita, tiba-tiba saja objek yang dibicarakan itu muncul di Cafetaria bersama Jeannet, kekasih Tito.

 

“Itu dia Marc…yang bersama Jeannet itu.” tunjuk Tito bersemangat. Jari pria itu rasa-rasanya hampir lepas dari tangan ketika Marc hanya menatap bingung kearah tunjukan Tito, “Kau lihat, tidak?” tanya Titto yang mulai gemas dengan penglihatan Marc yang tak kunjung mendukung sama sekali.

 

“Sudah. Oohh..itu…itu sih bukan cantik lagi. Luar biasa.” Puji Marc. Kini wajah itu nampak berseri-seri.

 

“Hei..hei..mau kemana kau, hah?” tanya Tito yang kaget melihat sahabatnya itu sudah bangkit berdiri dari kursinya. Sepertinya Tito mulai mendapat firasat kurang bagus soal ini, “Kau mau menghampiri dia, ya? Jangan gila, kau Marc! Bisa ditolak mentah-mentah kau nanti.”  Peringat Tito dengan wajah serius. Ia seperti sudah tau hal apa yang bakal terjadi kalau sahabatnya itu terus nekat mendekati gadis itu.

 

“Kau tenang saja. Ini adalah hari keberuntungannya, kau tau. Karena, pangeran kampus ini akan memacarinya.” Ujar Marc lagi-lagi percaya diri kemudian berjalan menghampiri Jeannet dan gadis itu yang sudah duduk dibangku pojok sana.

 

“Hai, Marc!” sapa Jeannet, “Mana Tito? Tumben terpisah? Biasanya kalian seperti anak kembar, kemana-mana selalu bersama.” Lanjut Jeannet. Marc kemudian mengambil tempat disebelah gadis itu, tapi dilirik sedikit pun tidak.

 

“Ohh..Tito. Itu, dia disana.” Tunjuk Marc pada Tito yang yang sudah melambai-lambai dari tempat duduknya disana. Semakin lama Jeannet lihat, Tito seperti sedang memberi isyarat sesuatu untuk Jeannet. Dan dari lambaian tangan itu seperti hendak berkata “jangan biarkan Marc mendekati gadis itu.”. Jeannet tau, pasti itu yang dimaksud Tito.

 

“Oh ya, Marc…aku…” belum selesai Jeannet bicara, Marc keburu menyuruh Jeannet diam dengan menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya.

Dan dengan percaya diri Marc memulai rencananya.

 

“Hai..boleh kenalan? Namaku Marc Marquez, kau boleh memanggilku Marc. Namamu?” tanya Marc manis.

 

“Kim Nana.” Jawab gadis itu singkat dan datar. Rautnya wajahnya pun tanpa ekspresi. Matanya pun terus fokus pada makan siang yang ada dinampannya itu.

 

“Kim Nana…jadi, boleh kalau aku memanggilmu Nana. Oh ya, bagaimana kalau sepulang kampus aku mengantarmu pulang?” tawar Marc masih dengan suara manis dibuat-buat.

 

“Tidak usah.” Jawab gadis itu lagi-lagi datar dan dingin. Sedikit melirik pun tidak.

 

“Ayolah..aku memaksa lho…” ujar Marc dengan santai. Gadis itu terdiam sejenak, dilepasnya sendok makannya dan berdiri dari duduknya.

Raut Jeannet kini penuh dengan kekhawatiran. Meskipun dia baru beberapa hari dikampus ini, Jeannet sudah hafal betul cara Nana menolak seorang pria yang dianggapnya keterlaluan.

 

“Jeannet, ayo kita pergi. Selera makanku hilang, akan sangat memuakan kalau berada lama disini. Mungkin aku akan muntah.” Ujar Nana dingin sembari berjalan terlebih dahulu. Mata Marc terbelalak kaget, berani-beraninya gadis itu bersikap begitu padanya. Apa mungkin begitu saja masih kurang?

 

“Sabar ya, Marc. Dia memang begitu. Gadisnya dingin, tidak bisa diajak kompromi.” Ujar Jeannet kemudian menyusul Nana.

 

“Hei kau!” seru Marc pada Nana, dan akhirnya mengentikan langkah gadis itu. Dengan dingin gadis itu berbalik dan menatap Marc, “Bagaimana kalau kau jadi pacarku?” seru Marc dan sontak membuat seanteru Cafetaria menjadi heboh, terlebih para gadis yang merasa patah hati.

 

“Kau menjijikan.” ketus gadis itu dengan tatapan dingin, kemudian berjalan keluar Cafetaria bersama Jeannet.

Ini sejarah. Baru pertama kali terjadi. Baru ada gadis yang berani menolak pernyataan cinta Marc. Ini sangat memalukan. Didepan umum pula.

 

Dia mengataiku menjijikan?? Protes Marc dalam hati.

 

Perlahan Tito mendekati Marc sahabatnya, menepuk-nepuk pundaknya.

 

“Dude..aku sudah mencoba memperingatkanmu. Tapi kau acuh saja.” Ujar Tito yang sedikit menyesal.

 

“Aku tidak terima diperlakukan begini! Gadis itu sudah tidak sopan menolakku didepan umum begitu!! Caranya menolak pun sangat tidak bisa diterima! Lihat saja, aku benar-benar akan membuatnya bertekuk lutut padaku!” Seru Marc kesal. Pria itu benar-benar bertekat mewujudkan kata-katanya itu. Baginya, gadis itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dia harus mendapat balasan dari Marc. Gadis itu harus menarik kembali kata-katanya. Dan menjadi milik Marc

Lihat saja kau Kim Nana, akan kubuat kau jatuh cinta padaku juga..!

 

To Be Continued..

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

2 thoughts on “To Make You The One and Only (Ch. 1)

  1. Aku… Suka sama jalan ceritanya. Si Marc minta ditampol dan karakter Nana bagus. Cuma… Ada beberapa typo yang sedikit mengganggu *ini lumrah* kayak singgasana jadi singgah sana, di seantreo jadi diseanteru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s