Posted in Marc Marquez FanFic

To Make You The One and Only (Ch. 2)

Pagi itu Marc berdiri dengan angkuhnya didepan kelas Fakultas Seni. Memang, dengan tampang dan peringkatnya sebagai pria terpopuler diseanteru kampus membuat gadis-gadis di Fakultas itu hampir mati histeris melihat pangeran mereka berdiri didepan kelas itu.

Tapi, ada yang sedikit berbeda dengannya hari ini. Ekspresinya kali ini, mungkin lebih mirip dengan iblis penghuni nereka. Sangat sangar dan mengerikan. Setidaknya itu tak akan mengurangi ketampanannya.

Setengah jam menunggu dan sosok yang ditunggu muncul juga. Bukannya dihiraukan, gadis itu malah acuh dan langsung menerobos masuk saja kekelas dan duduk dengan tenang.

Dengan ekpresi tak percaya, pria itupun masuk dan menghampiri gadis yang sangat acuh padanya itu.

 

“Hei, kau! Kau tau, aku sudah setengah jam khusus menunggumu disana. Bisa kan kau sapa aku?” semprot Marc pada gadis itu.

 

“Apa aku yang menyuruhmu menunggu? Tidak kan?” balas gadis itu datar. Tatapannya pun tal sedikitpun diberinya pada pria disampingnya itu. Nana terus sibuk mengeluarkan majalah dan ipod-nya juga sebuah earphone.

 

“Kau…” desis Marc kesal. Amarahnya benar-benar sudah ditenggorokan. Ingin sekali dia membentak gadis itu, tapi demi mendapatkan gadis itu. Marc berusaha keras menahan emosinya yang hampir mencapai ubun-ubun itu.

Nana lebih tak perduli lagi. Dengan santai gadis itu memasang earphone itu dikedua telinganya. Menghalang suara bising Marc yang mengganggunya pagi-pagi begini. Kemudian, membuka majalah yang dibawanya dan tak lagi memperdulikan Marc yang hampir mati kesal.

Saking emosi karena tak diperdulikan, Marc meninggalkan ruang kelas itu dengan kesal. Langkahnya dihentak kasar kelantai. Sampai-sampai sapaan Jeannet yang baru tiba itu tak dihiraukannya.

Dengan tampang bingung, Jeannet menghampiri Nana yang sudah asyik dengan earphone dan majalahnya.

 

“Nana..” sapa Jeannet. Gadis itu kemudian melepas earphonenya, “Ada apa dengan Marc? Cari gara-gara lagi?” tanya Jeannet menyelidik. Gadis itu kemudian mengambil tempat disamping Nana.

 

“Begitulah.” Jawab Nana datar. Untuk saat ini, Nana sangat malas membahas pria menyebalkan itu.

 

“Hmm…Marc itu. Tidak malu apa dipermalukan sekali kemarin? Masih saja cari gara-gara.” Ujar Jeannet tak habis pikir dengan sikap keras kepala Marc.

Sudah sifat Marc seperti itu. Apalagi kalau menyangkut seorang gadis. Mati-matian Marc akan mendapatkan gadis yang disukainya itu sebagai koleksi. Jeannet sampai gerah memperkenalkannya pada teman-teman Jeannet.

 

“Sudah. Jangan dibahas lagi, sekarang kita pikirkan saja drama musikal nanti.” Ujar Nana sembari membuka majalah didepannya itu. Nana menunju pada sebuah halaman yang menurutnya cocok dijadikan tema drama itu.

 

“Hmm..bagus juga. Sepertinya itu akan sangat menarik. Tapi, coba kau usulkan pada kak Scott, dulu. Semoga saja dia setuju.” Usul Jeannet sembari tersenyum lebar pada Nana.

Bel masuk tanda kuliah pertama dimulai akhirnya berbunyi. Dengan cepat, Nana menyurukkan majalah, earphone dan ipodnya masuk kedalam tas. Kemudian mengeluarkan gitar yang sedari tadi bersemayam didalam kotaknya.

 

& & & & & & & &

 

            “Permainan gitarmu tadi hebat, Nana…aku sangat terpukau, lho.” Puji Jeannet sembari tersenyum bangga pada sahabatnya itu.

 

“Terima kasih.” Balas Nana singkat kemudian membalas senyuman Jeannet.

Hari ini Jeannet dan Nana tak ke Cafetaria. Mereka lebih memilih menghabiskan istirahat mereka diteras kampus saja. Seperti sudah ada firasat buruk sebelumnya kalau mereka ke Cafetaria. Jadi sebaiknya menghindar dari pada terus maju dan mendapat masalah.

Tapi..bukannya terhindar, malah masalah itu yang datang mendekat. Astaga!

 

“Hai Ladies..” sapa Marc dengan manisnya. Pria itu seperti tak kapok-kapok diacuhkan Nana. Bahkan sampai dipermalukan dan dibuat emosi.

 

Apa otak pria ini masih bekerja?

 

“Sedang apa?” tanya kemudian duduk disebelah Nana yang sengaja menyibukkan diri dengan senar-senar gitarnya.

 

“Eh..Marc…mana Titto?” tanya Jeannet akhirnya mengambil alih. Sepertinya akan ada perang dunia yang terjadi kalau membiarkan Nana yang berbicara langsung dengan Marc.

 

“Oh..nanti dia menyusul. Waahh..kamu bisa main gitar, ya? Bisa mainkan untukku?” tawar Marc dengan manis. Tapi sayang, seperti sebelum-sebelumnya. Nana kembali acuh, bahkan tak perduli sama sekali dengan tawaran Marc yang disampaikan dengan manis itu.

Marc berusaha sabar. Karena kalau emosi hanya akan memperburuk keadaan.

“Jangan terlalu acuh begitu juga, kan? Nanti cantiknya hilang, lho.”

Kali ini Nana benar-benar terganggu dengan semua ocehan busuk pria disampingnya itu. Gadis itu akhirnya menatap pria itu, tapi sangat tajam bahkan dengan keji.

 

“Kalau cantikku hilang…apa itu akan merepotkanmu? Tidak kan?” balas gadis itu ketus kemudian berdiri dan pergi dari tempat itu.

 

“Nana tunggu aku..” seru Jeannet kemudian mengekor temannya itu dari belakang.

Marc masih membatu tak percaya ditempat. Pria itu benar-benar tak habis pikir dengan gadis yang satu ini. Terbuat dari apa sih hatinya, sampai tak bisa disentuh dengan kata-kata indahku? Aneh!

 

& & & & & & & &

 

Sore itu Marc buru-buru keluar dari kampus. Langkahnya cepat menuju parkiran. Belum sempat mencapai tempat dimana mobilnya diparkir, desiran angin ini seakan meniupkan sebuah petikan indah gitar serta nyanyian merdu seorang gadis.

Meski bahasa dari lagu itu tak begitu dimengerti Marc. Setidaknya kemerduan suara itu yang selaras dengan petikan gitar, membuat Marc tertarik. Tertarik untuk mencari sumber suara.

Suara-suara indah itu membawa langkah kakinya pada taman kampus. Seakan segala keindahan sore ini menyatu dengan keindahan sang pemilik suara merdu itu. Bukan hanya itu saja, petikan indah gitar itu juga dibuat oleh sang pemilik suara. Makin diintip, makin Marc melihat jelas sosok itu.

Matanya terpaku pada sosok cantik disana yang dengan merdunya melantunkan lagu yang bahkan tak dimengerti artinya.

 

“Eonjengan I nunmuri meomchugil
Eonjengan I eodumi geodhigo
Ttaseuhan haetsari I nunmureul mallyeojugil”

 

Dengan merdunya Nana melantunkan lagu ‘Someday   milik penyanyi Korea terkenal IU.

Suara mereka tak begitu berbeda jauh. Pantas saja, dulu waktu Nana masih tinggal di Korea, teman-temannya sering memanggilnya duplikat IU. Mereka memiliki paras dan suara yang hampir mirip. Itulah sebabnya ia memang pantas disebut sebagai duplikat IU.

 

Kini, tak sengaja mata gadis itu bersitemu dengan sosok diujung sana yang mungkin sedari tadi melihatnya itu. Gadis itu terkejut, dan langsung membereskan gitarnya kemudian beranjak dari situ sampai suara si pengintip itu menghentikan langkahnya.

 

“Ternyata suaramu bagus. Kau juga hebat memainkan gitar itu. Kagum aku.” Ujar Marc sembari tersenyum lembut pada gadis itu. Entah mengapa senyum itu begitu tulus Marc berikan pada gadis menyebalkan itu.

 

“Terima kasih.” Balasnya singkat kemudian berlalu pergi dan kembali langkahnya harus tertahan karena tangan besar Marc itu meraih lengan kecilnya.

 

“Boleh kuantar pulang? Sudah hampir gelap, tidak baik seorang gadis pulang sendiri.”  Tawar Marc lembut. Kali ini ia terlihat tulus dan ketulusan itu tak dibuat-buatnya.

 

“Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri, aku juga tidak takut.” Ketus gadis itu kemudian melepaskan diri dari cengkraman Marc dan berlalu pergi.

Gadis itu masih saja sesulit biasanya. Padahal Marc sudah benar-benar serius, tapi gadis itu tetap tidak menggubrisnya.

 

Ya sudahlah…perlahan saja. Jangan terlalu dipaksakan juga. Bisa benci dia nanti padaku. Biarkan waktu yang membawanya padaku.

 

& & & & & & & &

 

“Jangan! Tidak ada diantara kalian yang boleh datang kesini, mengerti! Sudah..aku mau istirahat aku baru pulang kuliah, selamat malam.”

Gadis itu pun meletakkan benda pipih yang sedari tadi menempel ditelinganya itu, kemudian menghela napas panjang. Tubuh mungilnya itupun dibaringkannya diatas kasur empuk bersprei Nila itu. Perlahan mata lelahnya ia pejamkan. Rasa kantuknya bahkan lebih besar dari rasa laparnya yang saat ini melanda perutnya.

Berulang kali perutnya itu protes minta diisi. Tapi, Nana tetap berbaring sambari memejamkan matanya. Ia tak perduli lagi dengan perutnya yang makin bergetar perih itu. Tubuhnya terlalu lemah untuk berdiri sekarang.

Seakan belum cukup menyiksa, ponselnya kembali berdering. Dengan kesal, gadis itu meraih benda pipih itu dan tanpa harus melihat layar datar benda itu, langsung saja Nana jawab.

 

“Sudah kubilang, kalian tidak perlu kesini!” bentaknya pada si penelefon.

 

“Nana..ini aku Scott.”  Jawab suara dari seberang sana. Sontak gadis itu kaget dan langsung mengambil sikap duduk diatas kasurnya.

 

“Ma-maaf kak…aku pikir siapa. Ada apa, ya?” tanya Nana mulai salah tingkah. Untung saja pria ini adalah tipe pria masa bodo yang tak akan pernah mau ikut campur masalah orang lain. Kalau tidak, bisa ditanyai macam-macam Nana.

 

“Tidak, hanya saja untuk drama ini aku memilih tema yang kau usulkan tadi. Tapi setelah kucari-cari pemeran yang bagus untuk memerankan pemeran utama wanita, tak ada yang cocok dari club drama. Jadi, bagaimana denganmu? Kau bisa?”  tawar Scott.

 

“Tapi, pengalamanku dalam bermain drama masih kurang. Apa itu tak apa?” ungkap Nana ragu. Bukan maksud hati menolak tawaran Scott, tapi Nana sangat lemah kalau disuruh beracting. Menonton drama Korea saja sudah membuatnya mual, apalagi dia harus berseni peran sekarang. Baginya, hal itu akan sangat merepotkan.

“Tenang saja, nanti kuajari. Yang jadi pemeran utama prianya aku, jadi kau tak perlu khawatir atau sungkan, ya?”  bujuk Scott. Sepertinya ketua club drama ini sudah benar-benar tertarik dengan Nana. Ia tertarik jika Nana mau menerima tawarannya ini.

Sebenarnya ada beberapa pertimbangan Scott sehingga memilih gadis ini sebagai pemeran utama wanita, selain karena Nana memiliki paras yang luar biasa cantiknya, Nana juga memiliki kemampuan seni suara dan musik yang baik pula. Menyangkut, drama ini adalah drama musikal, jadi pilihannya haruslah pemeran wanita yang bisa bernyanyi dan memainkan alat musik. “Bagaimana Kim Nana?”  tanya Scott meminta kepastian.

 

“Baiklah. Akan kucoba.” Jawab Nana akhirnya. Kini terdengar helaan napas legah Scott.

 

“Baiklah kalau begitu, besok siang selesai jam kuliah, kita akan mulai latihan. Jangan sampai lupa, ya?”  peringat Scott kemudian menutup percakapan ditelepon. Pria yang simple, pikir Nana. Menelepon dan langsung to the point pada masalah. Bahkan pria ini lebih baik dibandingkan dengan beberapa pria yang akhir-akhir ini sering mengusiknya. Terlebih Marc Marquez yang katanya pangeran di Universitas Barcelona itu.

 

Pangeran apa? Tampan sih…tapi kelakuannya tidak normal.

 

Gadis itu kembali membaingkan tubuh lelahnya. Rasa lapar yang sedari tadi menyerang perutnya hilang sudah. Matanya pun dengan nyaman terpejam, tapi…entah mengapa getaran yang sedari tadi mengguncang perutnya kini berpindah didadanya. Kini hatinya lagi yang bergetar. Entah apa sebabnya?

 

Masa iya aku menyukai senior Scott?? Tidak, Kim Nana! Tidak boleh!

 

To Be Continued…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s