Posted in Uncategorized

To Make You The One and Only (Ch 3)

“Kupikir kau tak akan datang..” seru Scott sembari tersenyum hangat pada sosok yang sudah mucul didepan pintu aula sana.

 

“Maaf aku terlambat…” ujar gadis itu sembari berjalan mendekati panggung, tempat dimana akan dihelat pertunjukan drama nanti.

 

“Tidak apa-apa…baiklah, karena semua sudah lengkap, ayo kita mulai latihannya.” Ajak Scott yang membuat semua pemeran disitu menghentikan kegiatan istirahat mereka bersiap diposisi masing-masing.

 

Tema drama kali ini adalah mengangkat kembali kisah Snow White and The Huntsman, tapi akan dibungkus secara musikal. Jadi mungkin akan sedikit sulit bagi Nana ataupun bagi Scott dan yang lainnya.

 

“Sungguh! Aku tak bisa membunuhnya…aku pun telah jatuh cinta padanya…pada kelembutan hatinya juga kecantikannya…dia benar-benar telah menawan hatiku.” Seru Scott yang berperan sebagia Huntsman.

 

“Membunuhku? Kenapa kau ingin membunuhku? Apa salahku?” balas Nana yang berperan sebagai Snow White.

 

“Tiada niatku untuk membunuhmu. Aku hanya di perintahkan untuk membunuhmu dan yang memerintahku untuk membunuhmu adalah ibu tirimu sendiri.” Balas si Huntsman. Wajahnya memperlihatkan rasa bersalahnya. Kemudian pemburu itu berlutut dan memohon ampun pada Snow White karena sikap keterlaluannya yang hampir saja membunuh gadis itu.

“Ku mohon maafkan aku. Aku tak bisa membunuhmu karena aku jatuh cinta padamu…tapi aku pun tak memaksamu untuk menerimaku. Aku sudah jahat padamu, dan aku pun tak pantas untukmu. Aku bukan pangeran…aku hanya seorang pemburu miskin yang akhirnya menjadi pembunuh bayaran karena desakan ekonomi. Kumohon…maafkan aku saja itu sudah cukup.”

Mohon Scott dengan sungguh. Ia seperti menghayati perannya itu sampai-sampai Nana pangling dibuatnya. Buktinya, gadis itu akhirnya lupa akan dialognya untuk menjawab permohonan maaf si pemburu.

 

“Eumm..kak Scott…maaf…aku lupa dialogku selanjutnya..” bisik Nana sungkan. Scott hanya membalas itu dengan tawa kecil. Pria itu pun bangkit berdiri dan mengacak rambur Nana.

 

“Kita istirahat, ya? Hafalah dialogmu.” Kata Scott dengan lembut. Pria itu pun tak lupa melemparkan senyum termanisnya. Dan membuat getaran yang semalam ia rasakkan itu melanda hatinya lagi. Ini aneh…benar-benar aneh. Apa aku benar-benar jatuh cinta padanya?

 

Nana duduk dipojok panggung sendirian. Gadis itu berusaha menghafal dialognya serta sibuk mengumpat dirinya yang bodoh karena sudah terhipnotis oleh Scott sampai membuatnya pangling seperti tadi.

Menurutnya itu adalah sikap memalukannya sepanjang sejarah hidupnya.

 

“Bagaimana? Bisa kita mulai?” tanya Scott yang ternyata sudah menjongkong disamping Nana.

 

“E-eh…i-iya..” jawabnya canggung. Dan lebih membuat Nana berdebar lagi saat Scott menyodorkan tangannya dengan lembut kepada Nana.

Ragu-ragu, Nana menerima ulran tangan itu. Scott pun menarik gadis itu hingga gadis itu berdiri.

 

“Ayo kita mulai lagi…lanjut dari yang terpotong tadi, ya…”

 

“Tunggu!”

 

Seruan Scott terpotong oleh teguran dari pintu aula sana.

Raut bahagia, serta debaran yang baru saja Nana rasakan tiba-tiba saja menghilang. Dan diganti dengan rasa kesal yang luar biasa.

 

“Marc…sedang apa?” tanya Scott ramah.

 

“Scott..apa masih ada peran kosong? Aku ingin sekali ikut drama ini…” mohon Marc dengan wajah manis dibuat-buat.

 

Pria ini memang sudah gila, ya? Dasar pria berotak kosong!

 

“Ada…mari..” ajak Scott, beberapa menit kemudian mereka berdua kembali dengan Marc yang sudah memakai kostumnya. Raut wajahnya begitu tidak bahagia dengan peran yang diberikan Scott untuknya.

 

“Masa jadi pohon? Scott…kau yang benar saja? Masa pria setampanku itu menjadi pohon? Masuk akal tidak?” protes Marc. Tawa geli kini sudah menggelegar diaula. Nana pun tak mau ketinggalan tertawa saat melihat penampilan Marc yang seperti orang bodoh itu.

 

“Yaahh..itupun kalau kau mau. Kalau tidak, yaaa…tak apa juga.” Ujar Scott acuh tak acuh. Pria ini memang berniat mengerjai Marc, ya?

 

“Ya sudah…pohon pun tak apalah. Yang penting dapat peran.”  Ujar Marc berusaha bersabar. Ini semua pun ia lakukan untuk Nana.

Marc sangat berterima kasih atas info dari Tito yang berkata kalau Nana ikut dalam drama Snow White ini dan menjadi Snow White-nya. Tapi sayang, yang menjadi sang Huntsman adalah Scott. Sepertinya Marc kalah taktik dan strategi dari Scott.

Dan seperti pada drama Snow White pada umumnya. Pasti akan ada adegan ciuman..dan Marc bersumpah tak akan membiarkan si Scott mendapat kesempatan itu sedikitpun dari Nana. Karena kesempatan langka seperi itu hanya akan menjadi milik Marc. Apalagi kalau itu dari Nana.

 

Dan bukan hanya ini saja pengorbanan Marc untuk mendapatkan Nana.

Ia rela memutuskan semua pacar-pacarnya dengan berbagai alasan, hanya untuk menjadikan Nana satu-satunya untuk Marc.

 

“Baiklah…kalau semuanya sudah siap. Ayo kita mulai..”

Scott kembali pada posisinya tadi, pria itu sudah berlutut dihadapan Nana.

“Ku mohon maafkan aku. Aku tak bisa membunuhmu karena aku jatuh cinta padamu…tapi aku pun tak memaksamu untuk menerimaku. Aku sudah jahat padamu, dan aku pun tak pantas untukmu. Aku bukan pangeran…aku hanya seorang pemburu miskin yang akhirnya menjadi pembunuh bayaran karena desakan ekonomi. Kumohon…maafkan aku saja itu sudah cukup.”

 

“Aku memaafkanmu…tapi..untuk pernyataan cintamu..aku..aku..”

 

“Tuan Putri…ayo kita pergi dari sini! Aku merasa ada hal yang buruk akan terjadi..” ajak salah seorang pemeran yang memerankan sebagai salah satu kurcaci.

 

Nana pun ditarik oleh pemeran kurcaci itu kebelakng panggung. Dan tinggalah Scott disana seorang diri beserta yang berperan sebagai pohon-pohon dan binatang.

 

“Wahai pemburu…apa kabar? Sepertinya…kau melanggar janjimu padaku, hmm?” ujar Jeannet yang entah dari mana datangnnya dan langsung memerankan si Penyihir jahat yang adalah ibu tiri Snow White.

 

“Jeannet?” bisik Scott, “Dari mana saja kau? Kita sudah pertengahan latihan, lho.” Lanjut Scott masih mencomeli Jeannet.

 

“Maaf..maaf…Ehm..ayo mulai lagi.” Jawab Jeannet kemudian melanjutkan perannya, “Aku menyuruhmu membunuh Snow White! Bagaimana bisa kau membiarkannya pergi begitu saja, hah?!” bentak marah si Penyihir. Ia nampak tak suka dikhianati oleh si pemburu itu.

 

“Aku tak bisa membunuhnya…aku terlalu mencintainya. Dan kau…enyahlah kau dari hadapanku. Ku tak sudi lagi mendengar perintah darimu!” bentak si pemburu sembari bangkit berdiri.

 

“Oooh..kau berani padaku, ya? Baiklah..kalau kau tak bisa membunuhnya…biar aku saja yang membunuhnya! Tak akan kubiarkan gadis itu hidup dan menyaingi kencantikanku lagi! Hahahaha…” ujar si penyihir kemudian menghilang dari hadapan si pemburu.

 

“Baiklah…untuk hari ini kita akhiri sampai disini latihannya. Besok sehabis jam kuliah, kita berkumpul lagi untuk latihan. Oh ya, bagi para pemeran tolong hafalkan dialog kalian. Dan para pohon dan hewan…bersikaplah yang baik, ya?” ujar Scott sembari tersenyum manis.

Tapi senyum itu sangat memuakkan bagi Marc.

 

Apa maksudnya itu? dasar menyebalkan! Kalau bukan karena Nana, aku juga tak akan mau jadi pohon begini.

 

“Baiklah. Sekarang kita bubar.” Ujar Scott kemudian mengangkat ranselnya dan berjalan turun dari panggung.

“Nana…” sapa Scott dan hanya ditatapn sinis oleh Marc diseberang sana, “Boleh aku mengantarmu pulang?” tawar Scott. Sebenarnya Nana tidak mau, tapi itu kalau otaknya yang meminta. Tapi, hatinya memintanya untuk berkata ia. Nana sangat bingung harus mematuhi siapa? Otak atau hatinya?

“Baiklah..” jawab Nana akhirnya. Terlihat senyum bahagia mengembang diwajah Scott dan sebaliknya rasa kesal mulai memuncak diubun-ubun Marc. Dengan marah, Marc buru-buru meninggalkan aula dan tak lagi memperdulikan sapaan Jeannet.

 

“Si Marc kenapa, ya?” gumam Jeannet kebingungan.

 

“Entahlah.” Balas Nana kemudian.

 

“Oh ya, kau juga mau kuantar sekalian, Jeannet?” tanya Scott sembari menyunggingkan senyum pada gadis Inggris itu.

 

“Benarkah? Kau baik sekali, Scott. Tapi..Tito sudah menjemputku didepan, lain kali saja ya?” balas Jeannet sembari tersenyum tulus pada kedua orang itu, “Oh ya, aku duluan ya?” pamit Jeannet kemudian berjalan mendahului Nana dan Scott yang lebih memilih berjalan pelan dibelakang.

 

“Jadi..kau benar tak keberatan kalau kuantar pulang?” tanya Scott lagi yang merasa kurang yakin kalau Ice Queen itu mau pulang dengannya.

 

“Itupun kalau kau tak keberatan.” Balas Nana datar. Sepertinya pria ini tak begitu tulus mengajaknya pulang bersama. Setidaknya itu yang Nana pikirkan.

 

“Aku sih tak akan keberatan sama sekali. Lagi pula, diluar sudah mendung mungkin akan turun hujan.” Sahut Scott yang mulai menerwangkan matanya kelangit-langit aula, seakan-akan sedang melihat langit-langit gelap diluar sana, “Jadi?” tanya Scott lagi berusaha meyakinkan dirinya sekali lagi.

 

“Terserah kau saja.” Jawab gadis itu datar, kemudian berjalan mendahului Scott.

 

“Baiklah…ayo kalau begitu.”  Ajak Scott dari belakang Nana. Tangan pria itu dengan cekatan meraih tangan Nana. Dan anehnya, Nana sama tidak sekali melawan, berniat melawan pun tidak. Gadis itu terus sibuk dengan debaran asing yang berdentum-dentum dalam dadanya.

 

Apakah ini yang namanya jatuh cinta? Tapi..sejak kapan?

 

Tanpa mereka berdua sadar, sedari tadi dipojok tersembunyi sana sedang ada sepasang mata sinis terus memperhatikan kebersamaan mereka berdua. Tangannya terkepal kencang dan matanya memerah. Kegeraman menguasainya seutuhnya. Tanpa sadar, kepalan tangan itu dengan keras memukul tiang tembok yang menjadi persembunyiannya itu.

 

Apa semua sia-sia saja? Apa ini akan menjadi percuma? Percuma karena aku rela melepaskan gadis-gadis itu untuk seorang gadis yang belum tentu mencintaiku?

 

 

To Be Continued…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s