Posted in Marc Marquez FanFic

To Make You The One and Only (Ch. 4)

“Eomma!! Jebal jom![1]” sentak Nana pada ponsel yang entah sudah dari beberapa menit yang lalu menempel ditelinganya, “Sudah kubilang kan, jangan datang kemari. Bagaimana kalau mereka tau?” lanjutnya lagi setelah mendapat balasan dari sana, “Eomma..gwaenchanha[2], eo?[3]”. Setelah berkata dengan tenang, Nana menutup pembicaraan ditelpon tadi dan melempar sembarang benda itu kekasurnya, kemudian diikuti tubuh lelahnya yang jatuh bebas begitu saja keatas kasur.

“Aigoo…aku capek sekali..” gumam gadis itu kemudian memejamkan mata beratnya. Dan perlahan gadis itu terlelap dan tenggelam dalam mimpinya.

 

& & & & & & & &

 

“MWORAGO???[4]!!!! Eomma-a!!! sudah kubilang jangan kemari!” seru Nana yang keras sampai-sampai burung-burung yang berkicau indah pagi itu terbang menghilang semuanya, “Jemput? Dibandara? Shirheo![5]” comel Nana dengan bibirnya yang sudah mulai mengerucut.

“Sudah kubilang, aku tak akan apa-apa!”, “Haah??? ANDWEEE!! Jeongmal Andwe![6]” seru gadis itu kencang-kencang sembari menggelengkan kepalanya.

“Kalau sampai eomma dan appa berbuat nekat! Aku akan mengusir mereka dengan kasar, arraseo?[7]  Sudah…aku mau kekampus. Nanti terlambat.” Ujar Nana kemudian mengakhiri percakapan ditelepon itu.

“Enak saja. Aku bukan anak kecil lagi, tau!” umpat Nana kemudian merauk kasar tasnya dari kursi dan melenggang keluar dari apartemennya.

 

& & & & & & & &

 

“Kenapa wajahmu begitu? Sedang kesal?” tanya Jeannet yang sedari tadi memperhatikan raut tak bersahabat diwajah Nana.

“Begitulah. Bahkan aku ingin sekali menghajar seseorang saat ini.” Desis Nana geram. Tatapannya pun dibuat sedemikian ngeri sampai Jeannet menjauh sedikit sembari menyilangkan kedua tangannya didepan Nana.

 

“Kalau begitu jangan aku.” Ujar Jeannet ngeri. Dalam hati Jeannet terus berdoa semoga saja Marc jangan datang dan membawa bencana baru untuk hari ini.

Tapi sayang, sepertinya doa Jeannet itu tak terkabulkan. Karena saat ini, pria itu sedang berjalan kearah keduanya yang tengah duduk dikursi koridor kampus.

 

“Hai Kim Nana…apa kabarmu pagi ini? Baik?” tanya Marc dengan suara manis dibuat-buat. Seketika itu juga Jeannet menepuk jidatnya sampai berbunyi. Ia tak akan bisa membayangkan apa jadinya Marc kalau terus-terusan mengganggu Nana, apalagi disaat ini.

Jeannet akhirnya menggerak-gerakkan tangannya seperti memeberi isyarat pada Marc untuk segera pergi dari sini. Tapi, lagi-lagi harapan Jeannet sia-sia saja. Bukannya mundur, Marc malah bertambah nekat dengan duduk disebelah Nana dengan santainya.

Ini kesalahan besar, seru Jeannet dalam hati.

“Oh ya, sebentar sepulang latihan drama. Kuantar pulang, ya?” tawar Marc dengan tampang berseri-seri. Namun, gadis itu tak bergeming sama sekali. Ia bahkan hanya mengepal-ngepal kesal tangannya. Meremas tali tasnya sampai tali tas yang malang itu kusut tak beraturan lagi.

 

“Ya!![8] Kau ini mau mati, ya?” desis Nana. Tersirat kegeraman dalam kata-katanya itu. Diliriknya Marc dengan tatapan super mematikan yang pernah dibuatnya seumur hidup. Pria itu tiba-tiba bergidik ngeri melihat tatapan gadis itu.

“Kau mau pergi dari sini atau aku akan membawamu pergi ketempat dimana kau tak akan lagi melihat matahari terbit?” ancam Nana dengan sinis. Gadis itu benar-benar kesal sekarang. Nada bicaranya pun bak dalam film-film horror yang pernah Marc tonton. Apa ini Kim Nana, gadis cantik yang dia taksir itu? Marc sudah tak tau lagi. Karena sekarang yang dilihatnya kini, seorang malaikat surga yang tiba-tiba berubah menjadi iblis penjaga neraka.

“Ba-baiklah..” jawab Marc tergagap kemudian perlahan berdiri dan menghilang dari situ.

Jeannet yang hanya bisa menatap ngeri adegan tadi, tak berani lagi berkomentar apa-apa. Mulutnya lebih memilih mengatup dari pada harus berbicara dan langsung ditelan bulat-bulat oleh gadis marah ini.

 

Sungguh..pagi yang tak akan terlupakan untuk Marc.

 

& & & & & & &

 

“Sial! Lagi-lagi ditolak! Apa sih..apa sih lebihnya si anak drama itu dibandingkan denganku?” comel Marc kesal. Pria itu kini sudah melempar-lempar batu-batu kecil kearah danau kecil ditaman kampus itu.

Tito hanya mampu mendengar. Ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia takut memberi saran lagi pada Marc, karena saran pertamanya yang meminta Marc untuk memutuskan semua pacar-pacarnya untuk Nana, sudah dengan senang hati Marc lakukan.

Tapi sekarang, pria itu malah makin kesulitan mendapatkan gadis Asia itu.

“Tito…sekarang aku harus bagaimana lagi? Aku sudah menuruti saran-saranmu, mulai dari memutuskan pacar-pacarku dan tidak bersikap berlebihan padanya. Tapi..sama saja! Toh, memperdulikanku juga tidak! Naas!” tutur Marc kesal. Tapi nada suaranya terdengar begitu menyedihkan ditelinga Tito. Tangan Tito hanya bisa menepuk-nepuk pundak Marc yang kini sudah tertunduk lesu itu.

 

“Dude! Aku juga sedang tidak punya ide sekarang. Dan lagi…kenapa juga harus si Nana itu? kan masih banyak juga gadis-gadis cantik di Kampus ini yang sangat mengidolakanmu. Pilihlah salah satu diantar mereka. Jangan susah-susah begini!” ujar Tito sembari terus menepuk pundak sahabatnya itu.

 

Kalau mau dipikir-pikir lagi. Apa yang dikatakan Tito memang benar. Banyak gadis di Barcelona University ini yang cantik dan sangat mengidolakannya. Tapi, entah mengapa mata dan rasa tertariknya tak bisa lepas begitu saja dari gadis itu. Gadis itu seperti magnet. Meskipun Marc berniat terlepas, tapi daya tarik gadis itu sungguh sangat kuat. Bahkan Marc sampai bingung kenapa Playboy sepertinya sekarang hanya mampu tertarik pada seorang gadis saja.

 

“Ayo pulang. Kau tak mungkin mau terus tinggal dikampus kan?” ajak Tito yang sudah bangkit dari duduknya.

Dengan malas dan lesu, Marc bangkit dari duduknya. Kepalanya terus menunduk sepanjang perjalanan menuju parkiran kampus. Pria itu bukan sedih. Tapi otaknya kini terlalu lelah memikirkan strategi apa yang pas untuk sekedar dekat dengan gadis itu.

Kalau mau diingat lagi. Kurang apa lagi pengorbanan Marc untuk mendapatkan Nana. Ia rela melepaskan pacar-pacarnya yang cantik dan Marc juga bela-bela berperan menjadi pohon dalam drama hanya untuk melindungi Nana dari adegan-adegan yang tak ia inginkan terjadi. Pria itu tau benar kini apa arti berkorban demi cinta.

Karena setaunya selama ini, yang berkorban dan bersabar deminya adalah para gadis-gadis itu. Ia juga tak pernah merasa sulit dalam mengejar gadis-gadis yang ia inginkan. Tinggal membuai mereka dengan kata-kata manis, pasti akan jatuh.

 

Gadis ini beda…dan hal itulah yang menjadi magnet. Ya, magnet yang menarikku sampai-sampai mata ini tak akan terlepas dari sosok itu. Sosok dingin yang sedikitpun tak menginginkanku berada disampingnya. Apa hanya dengan bertobat sebagai playboy saja masih kurang untuk mendapatkan gadis itu? lalu..apa lagi yang harus aku lakukan? Aku mulai putus asa…dan mungkin akan lebih putus asa lagi…benar..ada Scott.

 

“Hei, dude! What’s wrong? Focus, man! We’ll gonna been crush if you like this, bro!” tegur Tito yang saat ini menebeng pulang dengan Marc. Dan tadi, nyaris saja Marc melewati traffic light yang masih menyala merah.

 

“Mian..[9]” jawab Marc lesu. Dan tanpa sadar, pria itu mulai berbahasa Korea. Sontak, Tito yang mendengar bahasa asing itu membuka lebar mulutnya saking terkejut.

 

“Apa yang kau katakan, Marc? Aku tak mengerti. Dan..sejak kapan kau belajar bahasa Korea? Demi Nana?” tanya Tito bertubi-tubi menghalangi suara Marc yang sebenarnya hendak menjawab pertanyaan itu pelan-pelan.

 

“Iya. Sepertinya aku memang belajar bahasa ini untuk menyesuaikan diri dengan gadis itu. Cinta butuh pengorbanan kan?” ujar Marc dengan senyum miris. Pria itu benar-benar sedang merasa patah hati sekarang. Pemandangan langka untuk Tito.

 

“Lalu..kau belajar dari mana?” tanya Tito lagi, mengulang pertanyaan yang belum dijawab Marc.

 

“Jae Kwon..” jawab Marc lesu.

 

“Pria culun yang berdarah Korea itu? bukannya dia membencimu?” tanya Tito terheran-heran. Karena, setau Tito pria cerdas itu paling membenci Marc. Selain karena Marc yang sok tampan, ia juga sangat membenci sifat playboy Marc. Ia menganggap sikap itu sangat tak pantas bagi seorang laki-laki.

 

“Entahlah. Tapi..dia yang mengajariku bahasa Korea, meski aku juga baru bisa sedikit.” balas Marc datar kemudian perlahan melajukan mobilnya ketika traffic light berubah warna hijau.

 

“Begitu, ya? Baguslah kalau begitu. Lalu..kau tak latihan drama hari ini?” tanya Tito yang teringat satu hal. Bukannya sekarang Marc harus latihan drama. Meski hanya menjadi objek mati, tapi Marc harus tetap berlatih kan?

 

“Tidak, aah! Hari ini mereka melatih adegan untuk scene terakhir. Dan aku tau pasti akan ada…”

 

“Adega ciuman, maksudmu?” tanya Tito memotong pembicaran Marc yang belum selesai itu, “Kau bodoh, ya? Bagaiman Nana mau melakukan hal itu kalau hanya latihan? Lagi pula, kalau dilihat-lihat gadis itu sangat menjaga dirinya. Tak mungkin lah dia mau melakukan hal itu kalau hanya sekedar latihan. Jadi..kau juga tak akan melindunginya jika memang hal itu terjadi?” tanya Tito yang akhirnya membuat Marc tersentak dari kemalangannya.

 

“Benar juga! Tak akan kubiarkan!” ujar Marc kemudian dengan cekatan memutar stirnya dan berbalik arah, kembali kekampus. Pria itu kini lebih bersemangat dari hari-hari kemarin. Inilah yang dinamakan cinta. Jarak yang jauhpun tak akan terasa lagi kalau sudah berniat.

 

& & & & & & &

 

“Apa yang kau lakukan?” tanya Nana datar. Gadis itu menatap sebal kearah Marc yang dengan kostum pohonnya menindih pinggiran peti kaca Nana juga Nana yang suda berbaring dalam peti kaca itu.

 

“Anggap saja pohonnya tumbang dan menutupi si Snow White sebelum pemburu itu datang.” Ujar Marc yang sudah menyengir lebar pada Nana.

Gadis itu sekarang mulai merasa risi dengan posisi Marc yang berada diatasnya. Tapi untung saja terhalang oleh pinggiran peti kaca dan juga kostum besarnya itu.

 

“Minggir.” Desis Nana datar. Tatapan tajam sudah diarahkan gadis itu tepat pada mata Marc. Bukan merasa takut dengan tatapan itu, Marc malah makin tertarik untuk menatap dalam mata gadis itu. Senyum jahil mulai mengembang dibibir Marc. Pria itu seperti sangat senang dengan momen ini.

 

“Marc. Bisa kau minggir. Tidak ada dalam cerita jika pohon itu akan tumbang.” Tegur Scott sembari berkacak pinggang dari sudut sana.

Bukannya mendengar, Marc terus menindih pinggiran peti kaca itu. Menjahili Nana.

Gadis itu akhirnya hilang kesabaran. Dengan sekuat tenaga, tangan mungil itu mendorong Marc hingga tubuhnya yang berbalut kostum itu terpelanting kelantai.

 

“Sudah kubilang minggir, kan?” desis Nana dingin. Gadis itu kembali berbaring didalam peti kaca, sedang Marc berusaha bangkit berdiri dan akhirnya dibantu oleh beberapa orang.

Adegan kembali dilanjutkan. Kini kepala Scott perlahan menunduk kedalam peti itu. dengan tajam Marc menatap perlakuan pria itu.

 

Apa yang akan pria itu lakukan, hah? Ini hanya sesi latihan! Awas saja dia kalau berani macam-macam..aku benar-benar akan menghajarnya habis-habisan.

 

Ocehan batin Marc sepertinya tak selaras dengan apa yang Nana rasakan. Gadis itu kini sudah berdebar kencang ketika wajah Scott perlahan mendekati wajahnya. Gadis itu mempererat pejaman matanya, seperti sedang menahan sesuatu atau sedang menunggu sesuatu. Tapi gadis itu sepertinya harus menunda kesempatan itu, ketika Scott menjauhkan lagi wajahnya.

 

“Latihan hari ini sekian. Dramanya tinggal 3 hari lagi, kuharap besok kita semua hadir untuk memaksimalkan drama kita ini. Baik..selamat sore.” Ujar Scott kemudian menjauh dari sisi peti kaca itu. Sebenarnya, Nana merasa sedikit kecewa. Tapi, mau bagaimana lagi. Mungkin saja, seniornya itu tak memiliki perasaan yang sama dengannya.

 

Sepertinya sepulangku dari tempat ini, aku harus mencuci otakku berulang kali sampai bersih. Bodohnya! Masa aku bisa jatuh cinta dengan enteng begitu! Dengan senior pula! Gila kau, Kim Nana!

To Be Continued…

[1] Ibu..tolonglah!

[2] Ibu, aku baik-baik saja..

[3] Ya?

[4] Apa kau bilang?

[5] Tidak Mau!

[6] TIDAAAK!! Benar-benar tidak mau!!

[7] Mengerti?

[8] Hei!

[9] Maaf..

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s