Posted in Marc Marquez FanFic

To Make You The One and Only (Ch. 6)

“Kakak..” tegur seorang gadis dari depan pintu kelas sana.

 

“Vanessa…sedang apa disini?” tanya Jeannet nampak senang melihat adik cantiknya itu disini.

 

“Tidak. Aku hanya disuruh mama, memberikan ini untuk kakak. Kata mama, tadi pagi kakak lupa membawa bekal ini. Makanya aku yang dimintai tolong untuk mengantarkan.” Jelas gadis itu sembari tersenyum hangat pada kakaknya.

 

“Siapa?” tanya Nana yang tiba-tiba muncul dibelakang Jeannet.

 

“Oh..Nana. Ini adikku Vanessa. Dia mahasiswi junior difakultas kedokteran. Dan Vanessa, ini Nana yang sering aku ceritakan padamu.” Ujar Jeannet memperkenalkan keduanya.

 

“Senang bertemu dengan kak Nana. Kata kak Jeannet kak Nana sangat keren, lho! Dan ternyata benar, bukan hanya keren..kakak juga cantik.” Puji Vanessa. Mata gadis itu berbinar-binar sekarang, dan tampak tak ada kebohongan tersirat dari sorot mata polos itu.

Tapi, bagi Nana pujian itu sedikit berlebihan. Bagi Nana ia hanyalah gadis biasa yang juga memiliki paras yang biasanya saja.

“Oh ya, aku harus kembali. Kelasku lumayan jauh dari sini, permisi.” Ujar gadis manis itu kemudian berlalu dari situ.

 

“Oh ya, Nana. Ada satu hal yang harus kau tau.” Tutur Jeannet kemudian mengajak Nana kembali ketempat duduk mereka.

 

“Hal apa?” tanya Nana bingung.

 

“Kau tau. Sebenarnya, Marc itu…”

 

“Sudahlah, Jeannet! Jangan bicarakan dia juga, kan? Aku malas kalau tentang dia..” potong Nana kesal.

 

“Tunggu..dengar dulu. Kau ini, jangn selalu berprasangka buruk begitu padanya. Dia itu lumayan baik, lho Nana..” lanjut Jeannet sembari tersenyum hangat pada Nana. Tatapan gadis itu, seperti membujuk Nana untuk mendengarkan apa yang akan dia katakana meski, apa yang dia katakana ini menyangkut pria menyebalkan itu, “Begini..” Jeannet memulai, “Kau tau Marc bukan..dia terkenal dengan sifat playboy-nya yang, yaahh…terserah kau mau berkomentar apa. Tapi..ada satu hal yang membuatnya berubah. Dan perubahan itu adalah perubahan yang sangat luar biasa yang pernah dilakukan Marc.”

 

“Perubahan? Perubahan seperti apa? Apa pria seperti dia bisa berubah juga?” tanya Nana meremehkan. Jujur, dalam hati gadis itu ia tak pernah percaya kalau pria itu bisa berubah.

 

“Hmm..makanya dengarkan dulu sampai habis. Jangan memotong begitu! Begini..Marc sudah memutuskan semua pacar-pacarnya karena seorang gadis. Yaah..katanya sih, gadis itu adalah gadis paling istimewa untuknya makanya dia mau membuat gadis itu satu-satunya. Dan kau tau, siapa gadis itu?” , “Ya..gadis itu adalah kau. Itulah mengapa Marc selalu mengganggumu beberapa hari ini. Dia mengusikmu bukan karena ingin mengganggumu, ia hanya ingin kau mengakui keberadaannya. Dia hanya ingin dekat dengamu. Yaahh..selanjutnya itu terserah kau. Tapi..kurasa, ada baiknya kalau kau sedikit berbaik hati padanya.” Tutur Jeannet panjang lebar. Gadis itu menyunggingkan lagi senyum hangatnya. Dan lagi-lagi, senyum hangat itu seakan memaksanya untuk percaya pada ucapan itu.

 

Apa benar laki-laki itu berbuat hal semacam itu untukku? Kalau itu benar…apa aku selama ini terlalu kejam padanya? Dan mungkin apa yag dikatakan Jeannet ada benarnya juga. Tidak ada salahnya kalau aku sedikit baik padanya, kan?

“Bagaimana? Yaah..aku juga tak akan memaksa, itu semua kembali pada keputusanmu. Yang menurutmu baik, harus kau jalankan, bukan? Dan coba kali ini gunakan hatimu untuk berpikir. Karena selama ini, kau terlalu mempercayai otakmu yang selalu berpikir logis. Cobalah kali ini percaya pada kata hatimu. Karena, hatimu tak akan  mungkin membohongimu.”  Tutur Jeannet sembari menepuk pelan pundak Nana.

 

Benar juga. Kakak juga sering bilang padaku untuk belajar mempercayai hatiku. Apa karena aku akan menghadapi hal-hal macam ini? Tapi kenapa pada hatiku? Bukannya hati itu sering bertindak tidak logis? Bahkan akan sangat konyol nantinya. Apa aku harus megikuti kekonyolan itu? tapi..mungkinkah hatiku ini akan memperlakukanku dengan konyol?

 

& & & & & & &

Jalanan nampak begitu sepi.

Langit Barcelona pun mulai menghitam.

Hujan lebat mungkin akan segera turun.

Ia merapatkan jacketnya sembari bersandar pada Audi Q7 miliknya. Dengan sabar ia menunggu sosok yang sudah berjalan keluar dari gedung kampus itu. Senyumnya lebar mengembang. Seiring dengan semakin dekatnya sosok indah itu dihadapannya. Dibukanya pintu mobil itu dengan penuh harap. Tapi…tatapan tak bersahabat dan dingin yang didapat.

Sebenci itukah??

Senyum lebar itu hilang musnah seiring dengan menghilangnya sosok indah itu diantara kerumunan orang diujung sana. 

Dengan perasaan tak beraturan, kembali ia masuk kedalam mobilnya dan memacu keluar mobil itu, menjauh dari sosok indah yang kini berdiri dihalte bus.

Sendiri..

Hanya sosok indah itu dan hembusan angin. Menatap kosong kearah jalanan…

 

Ya sudahlah…kalau memang tak bisa hari ini…akan kucoba lagi nanti…tapi kapan??

 

& & & & & & & &

 

Seperti biasa, setiba Marc dirumah. Ia langsung disambut dengan serentetan ocehan adiknya, Alex. Bahkan, ocehan-ocehan ini sudah sama persis dengan comelan-comelan ibunya. Andai saja Alex ini perempuan, Marc tak akan keberatan dicomeli. Tapi, adiknya ini adalah seorang laki-laki. Kalau laki-laki secerewet ini, apa jadinya nanti kalau ia sudah berkeluarga. Mungkin dia akan lebih cerewt dari istrinya.

 

“Alex..kau bisa diam tidak. Aku capek, baru pulang kampus! Mau minta kuhajar, ya?” bentak Marc dan langsung mengatup mulut Alex yang sedari tadi berkomat-kamit, sibuk mencomeli keterlambatan Marc pulang kerumah, “..oh ya, apa mama dan papa meneleponmu tadi?” tanya Marc kali ini lebih sedikit tenang. Pria itu sudah duduk dan bersandar pada sandaran sofa ruang keluarga.

 

“Iya. Tadi mama yang menelepon, mama menanyakanmu. Dan katanya, mereka belum bisa pulang besok, karena papa ada pertemuan mendadak dengan pemegang anak perusahaan. Jadi, mereka mungkin akan pulang minggu depan.” Jelas Alex, “..lalu, kau kemana saja tadi? Kucari sampai kekelasmu kau juga tak ada…kata teman-teman sekelasmu, kau sudah pulang..kau masih mengurusi pacar-pacarmu itu lagi, ya?” cerocos Alex lagi dan langsung mendapat lemparan bantal tepat diwajahnya, “MARC MARQUEZ!! Tega sekali kau padaku!” seru Alex kesal. Pria itu hendak membalas namun mengurungkan kembali niatnya ketika Marc menatapnya dengan bengis.

 

“Jadi..belum pasti juga mereka akan pulang minggu depan?” tanya Marc dengan nada dingin kali ini.

“Yaah..begitulah…” jawab Alex singkat kemudian mengambil tempat disebelah Marc, “..aku merindukan mereka..kau tau..aku merindukan masakan mama..pasta yang sering kau buat memang enak..tapi tidak sama dengan buatan mama..” tutur Alex. Bibirnya kini mengerucut. Si bungsu itu memang sangat manja pada ibu mereka. Tapi, mau bagaimana lagi. Kata orang, anak bungsu sudah sifatnya begitu.

Marc menatap Alex dan tersenyum lembut pada adiknya. Kembali Marc melempar ingatannya pada 18 tahun lalu. Ketika itu Marc kecil baru berusia 3 tahun. Ia dengan bahagia menunggu kelahiran adiknya, dalam hatinya terus berharap mendapat adik laki-laki, ia ingin memiliki teman beramain, cukup sudah ia bermain sendiri 3 tahun ini.

Tapi, semua tak berjalan begitu mulus. Dimana saat itu adiknya lahir dan tidak menangis. Kepanikan melanda ruang nifas. Marc kecil menatapnya dengan heran, kenapa adik kecilnya tak menangis seperti anak bayi yang lahir pada umumnya.

Tubuh kecil Marc pun memaksa masuk kedalam, tak ada yang memperhatikannya karena kepanikan yang menyibukkan mereka. Dipandangnya leka-lekat wajah mungil adiknya yang masih basah dan berlendir itu.

 

“Hei..kau kenapa?” tanya Marc kecil pada adiknya yang tak bergeming sama sekali itu. perlahan jemari kecil Marc menyentuh pucuk kepala adiknya mengelusnya dengan lembut. Dan..bayi itu menangis. Tangisnya memecah kepanikan itu. terdengar helaan napas sang dokter yang kini sudah mendekat pada Marc.

 

“Kau membangunkan adikmu..dia tertidur tadi..” ujar lembut dokter itu kemudian tersenyum lembut pada Marc, “..terima kasih, ya..” ujarnya lagi.

Kenangan itu masih membekas dikepala Marc. Dan sadar, sekesal apapun ia pada Alex. Ia tetap menyayangi Alex. Apa jadinya dia kalau misalnya hari itu Alex tak tertolong. Ia akan kembali sendiri. Karena dihari itu juga, rahim sang ibu harus diangkat karena bermasalah dan tak memungkinkan ibunya untuk mengandung lagi.

 

“Sudah habis bengong?” tanya Alex dan hanya dijawab anggukan kecil dan senyum dari Marc.

 

“Aku mau mandi dulu..masak, ya?” ujar Marc kemudian melangkah menuju kamarnya.

 

“..memangnya aku tau masak apa? Huh! Ya sudah, aku pesan saja dari restoran, dari pada rumah terbakar..” gumam Alex kemudian menambil ponselnya dari saku dan mulai menelepon restoran yang menerima pesan antar.

 

& & & & & & & & &

 

 “Hei, Nana!!!” seru Marc dari ujung sana. Pria itu sudah nampak berlari-lari kecil mendekati Nana dan Jeannet.

 

“Ada apa?” tanya gadis itu ketus ketika sosok Marc kini sudah berdiri didepannya.

 

“Tidak. Begini, kau mau pulang bersamaku?” tawar Marc. Dan sepertinya Nana sudah sering mendengar permintaan itu keluar dari mulut Marc setiap pulang kampus. Hanya saja, Nana sering menolak. Bahkan tak perduli dengan tawaran itu.

 

“Ingat..apa yang kukatakan padamu tadi..” bisik Jeannet ditelinga Nana.

 

“Hmm..baiklah. Hari ini saja, ya?” ketus Nana kemudian berjalan terlebih dahulu dan disusul cepat oleh Marc. Nampak, pria itu berseri-seri sekarang. Ia sangat bahagia saat ini, akhirnya gadis itu mau juga diantarnya pulang.

Bagi Marc, cukup Nana mau menerima tawarannya yang satu ini saja sudah cukup membuat Marc kembali percaya akan keajaiban itu.

 

Segera Marc berlari terlebih dahulu menuju mobil dan membukakan pintu untuk gadis itu, “Silahkan..” ujar Marc sembari tersenyum lebar pada gadis itu.

 

“Terima kasih..” balas Nana sembari masuk kedalam dan duduk dengan tenang. Marc pun menutup pintu mobilnya dan segera masuk juga.

Tak lama setelah masuk, Marc langsung menyalakan mesin mobil dan perlahan meninggalkan pelataran kampus itu.

 

Sepanjang perjalanan begitu sepi. Marc begitu canggung untuk memulai pembicaraan, sedang Nana malah malas memulai pembicaraan apapun dengan pria disebelahnya ini. Akan lebih baik kalau diam terus seoerti ini sampai ia tiba diapartemennya.

Dan benar. Sampai diapartemen Nana pun tak ada pembicaraan berarti selain gadis itu turun dan berucap terima kasih. Kemudian berjalan masuk kedalam lobi apartemen tanpa menoleh lagi sedikitpun kearah Marc.

 

Tidak apa-apa…setidaknya ini pertanda kalau aku tidak boleh menyerah dulu…toh, sudah ada kesempatan seperti ini pasti akan ada hal baik lagi yang terjadi..

Semoga saja..

 

Marc pun keluar dari kompleks apartemen itu dan pulang. Meski hanya beberapa menit. Meski hanya sekedar ucapan terima kasih. Itu semua sudah cukup bagi Marc. Ia bahagia. Itulah yang ia rasakan. Tapi, tetap..perjuangannya untuk mendapatkan gadis itu masih panjang. Mungkin akan begitu banyak rintangan. Dan itu akan membutuhkan banyak kesabaran dari Marc sendiri.

 

& & & & & & &

 

“Apa kau bilang!!! Scott sudah putus dengan Tara??”  seru seorang gadis dikelas seni ketika Nana masuk. Anehnya itu tak menjadi berita bahagia untuknya yang menyukai Scott. Menyukai Scott?? Atau Marc?? Ya! Kim Nana-a, neun micheosseo?? (Hei! Kim Nana, kau gila??) kau tak mungkin berpindah perasaan pada ‘Playboy’ itu kan?? Tidak..tidak..tidaaakkk!!!!

 

To Be Continued…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s