Posted in Marc Marquez FanFic

To Make You The One and Only (Ch. 7)

Bel pulang pun berbunyi. Marc mencoba-coba peruntungannya lagi. Ia kembali menghampiri Nana dikelasnya. Tapi..

 

“Lebih baik begini kan, kak…akan lebih baik kalau kakak mengeluarkan apa yang membuat hati kakak sesak.” Ujar Nana yang sudah berada dalam dekapan Scott. Nampak pria itu menangis sembari memeluk Nana. Ia bahkan tak sadar lagi kalau Marc sedang menatap perih kearah mereka.

 

Marc terluka. Ya, sangat. Matanya bahkan sangat kabur saat ini. Kepalanya seperti dihantam sebuah balok dengan keras. Dengan langkah gontai, pria itu meninggalkan pintu kelas Nana. Ia berjalan dengan tatapan kososng kebawah. Marc bingung, kemana sekarang ia hendak pergi.

Sekarang pria itu denga lesu menyandarkan tubuhnya ketembok. Ia terlalu lemas untuk berjalan keluar kampus. Kakinya yang bergetar menambah parah keadaannya.

Perlahan Marc menyentuh dadanya, “Disini…disini sakit sekali..” isaknya kemudian terduduk dan setetes air mata jatuh kepangkuan Marc.

Ini pertama kalinya ia menangis seperti ini. Tapi ia tak tahan lagi. Ini terlalu menyakitkan. Akan lebih baik kalau gadis itu menolaknya dengan dingin seperti biasanya, dari pada dengan cara seperti ini. Ini tidak adil, Tuhan! Tidak adil sama sekali! Aku yang berjuang disini..bukan Scott! Kenapa harus dia!! Aku yang berjuang dan berusaha menahan sakit..bukan Scott, Tuhan!!  Jerit Marc dalam hati. Pria itu meremas leher bajunya. Dadanya terlampau sakit, sampai-sampai terlalu sesak untuknya bernapas.

 

“Marc…” sapa sebuah suara dari belakang Marc, namun pria itu tak bergeming sama sekali, “Marc…kau kenapa, kawan? Ini aku Tito..” tanya Tito lembut sembari berjongkok dan menyentuh pundak Marc. Tito kemudian mengalihkan pandangannya kearah Jeannet dengan bingung. Jeannet hanya bisa mengangkat bahunya pertanda tak tau apa-apa.

“Marc..hei..ayo pulang kawan..” ajak Tito. Tapi, Marc tetap tidak bergeming. Kini tedengar isakan dari Marc. Tito terkejut, bisa-bisanya pria seperti Marc ini menangis, “Dude..what happen to you, huh?” tanya Tito lagi. Dan kali ini Marc perlahan berbalik dan menatap nanar kepada sahabatnya. Pipinya sudah basah karena air mata.

 

“Marc..kau bisa cerita pada kami. Kami ini sahabatmu, kan?” ujar Jeannet lembut kemudian perlahan menjongkok didepan Marc, “Apa ini karena kau melihat Nana dan Scott berpelukan dalam kelas?” tanya Jeannet berhati-hati. Pria itu mengangguk perih. Kemudian kembali tertunduk, “Kau jangan khawatir..Scott seperti itu karena dia butuh teman untuk menyandarkan rasa sakitnya. Dan dia rasa, Nana bisa melakukan itu.” jelas Jeannet lembut pada Marc, “..Scott juga tak menyukai Nana, kok..kau tenang saja..ya?”

 

Menyandarkan rasa sakit?? Lalu aku?? Bagaimana denganku yang selalu disakitinya…perduli sedikitpun tidak…kenapa harus Scott? Lalu aku bagaimana? Akankah dia akan datang dan memelukku seperti dia memeluk Scott sekarang? Tidak, kan?

 

“Ayo kuantar kau pulang, kawan…Jeannet, kau bisa membawa mobil Marc kan?” ajak Tito kemudian menarik Marc sampai pria itu berdiri. Meski sedikit oleng.

 

“Bisa. Biar aku yang bawakan mobilnya.”  Tawar Jeannet kemudian merogoh saku jacket Marc untuk mengambil kunci mobilnya.

 

“Jeannet…kalian belum pulang.” Tegur datar sebuah suara dari belakang mereka.

 

“Nana..Scott..ooh..ini kami mau mengatarkan Marc pulang. Dia..dia..ngg..sakit..iya, Marc sedang sakit…jadi kami akan membawanya pulang. Pe…”

 

“Cepatlah Jeannet…aku muak disini.” Desis Marc.  Pria itu kemudian menatap tajam kearah Nana dan Scott secara bergantian.

Ia merasa dirinya dikhianati. Cukup sudah. Cukup sudah sikap baiknya itu. Sudah tak ada gunannya lagi mempertahankan Marc yang sekarang. Toh..dia mungkin akan lebih bahagia kalau kembali sebagai Marc yang playboy. Diluar sana, masih banyak gadis-gadis yang mau mencintainya.

 

Mereka pun keluar dari situ dan meninggalkan Nana juga Scott. Entah mengapa mendengar desisan Marc juga menatap tatapan tajam itu membuat hati Nana sakit.

Ini bahkan lebih sakit ketimbang saat Nana tau kalau Scott sudah punya pacar. Dan niat Scott tadi untuk kembali pada Tara yang mungkin saja masih mencintainya juga.

 

“Nana…kau tidak apa-apa?” tanya Scott pelan, namun Nana tak bergeming sama sekali. Gadis itu terlalu sibuk dengan kedutan dihatinya. Entah mengapa sesakit ini. Padahal ia sangat membenci Marc. Bukannya senang, pria itu menjauh dengan sendirinya, Nana malah merindukan ocehan-ocehan berisik Marc yang selalu mengganggunya tiap saat.

 

Kenapa aku seperti disakiti begini?

 

& & & & & & & &

 

Scott ditolak Tara, tapi senyum terus mengembang diwajahnya. Seakan hal itu tak begitu mengganggunya. Kini ia sudah ber-high five ria dengan Jeannet. Mereka nampak begitu gembira entah apa sebabnya.

Tapi..Nana…ia malah terdiam sepanjang hari ini. Biasanya, kalau seperti ini akan ada seseorang yang dengan tidak tau malu, datang dan mengganggunya. Membuat telinganya sakit mendengar tiap ocehan yang keluar dari mulut pria itu.

Ya, Nana merindukannya. Merindukan pria itu dan segala ocehannya.

Hatinya mengakui itu, tapi otaknya mati-matian menentang. Ini tidak logis, kata otaknya. Tapi itu bisa saja, tentang hatinya.

Nana bingung, harus mengikuti yang mana. Seharusnya, hati juga otaknya berkerjasama dalam memerintahkan organ tubuhnya, tapi…pertentangan ini, membuat Nana bingung. Ia butuh seseorang yang bisa menjawab kebingungannya ini. Tapi, siapa?

 

“Nana..kau kenapa? Kulihat dari pagi tadi kau diam saja. Ada masalah?” tanya Scott dan disambung anggukan Jeannet. Tatapan mereka kini hanya tertuju pada Nana. Tapi, Nana ragu untuk menceritakan ini pada mereka, jadi gadis itu lebih memilih menggeleng dan menutupi perasaannya saat ini.

 

“Benar, Nana. Kau tak biasanya begini.” Desak Jeannet. Gadis itu nampak sangat khawatir sekarang.

 

“Yaah..mau bagaimana lagi, soalnya tak ada yang menggangguku lagi, jadi aku tak usah repot-reot mencomel kan? Kurasa diam seperti ini lebih bagus.” Ujar Nana sembari memaksakan seulas senyum pada Scott dan Jeannet.

 

“Baiklah kalau begitu..oh ya, sore ini kalian ada waktu tidak? Aku mau mengajak mentraktir kalian makan, bisa?” tanya Scott. Kini pembicaraan dialihkannya.

 

“Aku sih mau-mau saja, Scott. Tapi, sepertinya kau terlambat. Tito sudah mengajakku duluan. Lain kali saja, ya? Oh ya, kau bisa ajak Nana.”  Jawab Jeannet.

 

“Boleh..” balas Nana singkat dan datar. Ya, lebih baik begini. Toh, memang awalnya begini. Nana selalu saja dingin dan datar. Mungkin dengan menghilangnya Marc dari hari-harinya akan membuat semua normal seperti semula.

 

“Benarkah, Nana…waahh..” seru Scott senang. Pria itu sekarang sudah tersenyum lebar dihadapan Nana. Menunjukan deretan giginya yang rapi. Tapi sungguh, Nana tak tertarik lagi. Entah mengapa, tapi hatinya ingin sekali menolak tawaran Scott. Dan lagi-lagi, Nana mematuhi otaknya yang selalu berpikir logis itu untuk pergi bersama Scott.

 

& & & & & & &

 

Sore itu dengan menggunakan hoodie coklat dan jeans abu-abu, Nana menunggu Scott dilobi apartemen. Pria itu sudah terlambat 10 menit, dan jujur Nana paling benci menunggu.

 

“Nana..” seru Scott dari depan pintu lobi, “Maaf aku terlambat, ada sedikit masalah diapartemennku jadi aku harus selesaikan dulu..” jelas Scott. Tampang bersalahnya tak lupa ia tunjukan pada Nana.

 

“Tak apa..” balas Nana datar dan dingin. Gadis itu kemudian bangkit dari duduknya, “Ayo..” ajaknya kemudian keluar dari lobi apartemen dengan diikuti Scott.

 

“Oh ya, Nana…apa kau bisa temani aku ke supermarket. Hari ini ibuku akan datang dari London. Jadi, aku mau memasakkan makanan untukknya. Kau tidak keberatan kan?” tawar Scott setengah memohon.

 

“Baiklah..” jawab Nana datar dan dingin. Sebenarnya gadis itu paling tidak suka berjalan-jalan disupermarket. Menurutnya tempat ramai itu membosankan dan berisik. Nana lebih suka berada ditempat yang tenang dan tak ada hiruk pikuk.

Tapi, demi mengubah image datarnya itu, Nana dengan terpakasa mau saja ikut dengan Scott.

 

            Selesai mereka makan bersama, Nana dan Scott langsung berangkat menuju mall yang ada didekat situ.

Saat memasuki mall itu mata Nana menangkap sosok yang beberapa hari ini dirindukan hatinya. Tapi…gadis itu..siapa?

“Sayang..kita kesana, yuk?” ajak gadis itu dengan manja. Sedang Marc terus merangkul bahunya dengan mesra.

 

“Baiklah.” Jawab Marc sembari tersenyum paksa kepada gadis itu. Matanya pun tak sengaja menangkap tatapan Nana yang entah sejak kapan sudah mengamatinya itu.

Dan dengan acuh, Marc malah membuang muka dan tak memperdulikan Nana.

 

DEG!

 

Seketika ada sesuatu yang menggores hati Nana. Rasanya perih. Bukan perih. Tapi sakit. Kali ini, lebih terasa seperti disayat-sayat. Bahkan Nana tak perduli lagi dengan sebetapa lembutnya Scott menggenggam tangannya. Nana seperti mati rasa. Pangkal hidungnya terasa perih, matanya seperti ada genangan air.

Ada apa ini?

 

“Scott..aku mau pulang. Tak usah antarkan juga, tak apa. Aku akan pulang dengan taxi. Terima kasih.” Ujar Nana kemudian melepas genggaman tangan Scott dan berlari keluar mall.

Butiran bening itu menetes dipipinya. Sakit. Itu yang ia rasakan sekarang. Segera tangan mungil itu menahan sebuah taxi yang lewat dan segera naik. Sebelum ada seseorang yang melihat tangisnya itu.

 

Ini konyol! Kenapa aku terluka begini? Bukankah ini yang aku inginkan? Dia pergi dan terserah apa yang akan dia lakukan! Tapi kenapa…kenapa sekarang aku merasa disakiti begini? Aku belum mau menerima kalau aku mulai kehilangan dia…karena ku tak sekalipun pernah mencintainya…aku baru mau mencoba mencintainya…

 

            Sesampainya dikamar apartemen. Nana membuang dirinya diatas kasur. Membenamkan wajah juga tangisnya kedalam bantal. Ia menangis. Menangis sejadi-jadinya, terisak sejadi-jadinya. Tapi Nana bahkan masih belum mengerti, kenapa begini?

Ponselnya berdering. Dilayar tersebut tampil nama Scott. Segera, Nana menenangkan dirinya dan menerima telepon dari Scott.

 

“Nana..kau kenapa? Maaf ya kalau aku membuatmu tidak nyaman..tapi aku begitu karena aku menyukaimu..aku tak tau sejak kapan. Tapi,,aku benar-benar menyukaimu. Aku senang saat kau mau menjadi pendengarku waktu aku putus dari Tara. Aku juga senang kau mau menjadi temanku. Tapi kurasa itu tidak cukup untukku. Aku mau kau menjadi orang yang berharga untukku. Aku mau kau menjadi pacarku. Tapi, tadi saat kau menarik diri tiba-tiba aku merasa kurang yakin dan bersalah. Kuharap kau mau memaafkanku…”  cerocos Scott. Sontak penjelasan pria itu membuat Nana tertegun.

 

“Maaf…aku tidak bisa.” Jawab Nana dan kembali terisak, “Kau terlambat Scott…dulu..aku memang pernah menyukaimu…tapi, aku sadar itu bukan cinta…tapi hanya rasa kagumku padamu. Aku tidak bisa menyebut itu cinta. Maafkan aku Scott..kuharap kau bisa mencari yang lebih baik daripada aku..selamat malam.” Jelas Nana. Kemudian menutup pembicaraan itu. Tangisnya kembali pecah. Bukan karena ia telah menolak Scott, tapi karena ia teringat Marc yang sudah berulang kali, entah berapa kali, menyatakan perasaannya pada Nana. Dan dengan dingin dan kejam Nana menolak mentah-mentah pernyataan cinta itu.

Tapi, waktu itu Nana takut…takut Marc yang berpredikat sebagai Playboy itu hanya mempermainkannya.

Tapi sekarang Nana sadar. Nana sadar dan mengaku kalau ia benar-benat kehilangan Marc. ia membutuhkan Marc sekarang. Membutuhkan ocehan berisiknya itu. Membutuhkan senyum lebar nan konyol yang sering diperlihatkannya pada Nana.

 

Saranghae..babo!! (Aku mencintaimu..bodoh!)

To Be Continued..

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

2 thoughts on “To Make You The One and Only (Ch. 7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s