Posted in Marc Marquez FanFic

To Make You The One and Only (Ch. 8)

Pagi itu dengan langkah gontai, Nana berjalan memasuki halaman kampus. Sebenarnya, hari ini gadis itu terlalu malas menampakkan diri dikampus. Apalagi setelah kejadian semalam. Matanya sampai bengkak karena menangis semalaman. Alhasil, pagi ini Nana harus berbohong sebisa-bisanya demi menghindari bermacam-macam pertanyaan dari Jeannet.

 

“Digigit semut? Memangnya kau memelihara semut diapertemenmu? Hmm..ya sudah lah…sudah beri salep?” tanya Jeannet prihatin dengan mata Nana yang bengkak itu. Membuat mata semi sepitnya itu bertambah sipit saja.

 

“Su-sudah. Hanya saja masih sedikit perih.” Elak Nana. Gadis itu sebenarnya malas berbohong. Ia jarang berbohong dan saat ini harus berbohong. Nana seperti dipaksa menelan batu bulat-bulat.

 

“Oh ya…kata Scott semalam…”

 

“Ya..tapi..aku tidak bisa..” potong Nana lesu. Raut gadis itu pun berubah. Ini lain, biasanya Nana akan segera bersikap biasa saja. Bahkan seperti tak terjadi apa-apa. Tapi sekarang, gadis itu seperti kebingungan.

 

“Kau sebenarnya kenapa, Nana…kau bisa cerita padaku. Aku janji, aku tak akan memeberitahu siapapun. Kau percaya aku kan?” bujuk Jeannet. Sebenarnya dari awal gadis itu muncul didepan pintu kelas, Jeannet sudah merasa janggal.

Pertama matanya yang bengkak dan sembab, kedua sikapnya yang tak biasa, selalu menunjukan wajah murungnya. Anak kecil yang baru belajar bicarapun pasti tau kalau ini ada apa-apanya.

 

Nana menarik napas dalam kemudian mengembusnya perlahan dari mulut. Puncak hidungnya kembali perih, wajahnya dan hatinya terasa panas, bibirnya bergetar. Sulit sekali Nana menceritakan kejadian semalam, juga perasaannya sekarang. Ini terlalu memalukan dan menyakitkan untuk diakui, “Semalam…” akhirnya gadis itu mengumpulkan keberaniannya dan bicara, “..aku melihat Marc dengan seorang gadis..mereka kelihatan mesra dan bahagia sekali…dan entah mengapa, aku merasa sangat marah..sangat sakit..aku bahkan tak mengerti dengan sikapku malam itu yang langsung meninggalkan Scott dimall..aku tak tau, apa yang sedang terjadi padaku…”, “..akhir-akhir ini, aku sangat merindukan Marc, celotehannya, sikap menjengkelkannya, senyum konyolnya…aku merindukan itu semua..tapi…apa dia juga merindukanku?..dan kurasa tidak setelah apa yang kulihat semalam..dia sudah pergi..”

Kini Nana sudah kembali menitihkan air mata keatas kepalan tangannya. Wajahnya memerah, berusaha menahan cucuran air mata itu tak mengalir lebih deras. Tapi, usahanya sia-sia. Tangan lembut Jeannet lah yang membawanya kedalam pelukan gadis itu. menenangkan kebingungan dan kesakitan Nana.

Ya, Nana bingung. Ia juga sakit. Ia bahkan tak sanggup berbagi lebih jauh lagi pada Jeannet. Ia pernah bilang pada Scott, kalau disaat seperti ini menangis sejadi-jadinyalah yang paling pas untuk mengeluarkan semua kesesakan itu dari dalam hati.

Dan seperti saran itu tak lantas hanya untuk Scott saja. Tapi untuknya yang saat ini sedang meredam isakkannya dibahu kecil Jeannet.

 

“Sudah..sudah…hmm..seharusnya kau lebih jelih dan percaya pada hatimu sejak awal. Kau tentu pernah mendengar ini bahwa ‘benci itu bisa jadi cinta’ maka kalau kau terlalu membenci Marc, kau bisa saja akan terlalu mencintainya nanti. Dan kurasa itu terbukti sekarang..”, “..satu hal lagi…kau tak akan pernah kehilangan Marc…aku percaya, sekarang mungkin Marc hanya sedang kebingungan sepertimu saja, makanya dia berbuat seperti itu. Percayalah pada kekuatan cinta itu, hm?”

Kini, Jeannet yang biasanya bersikap kekanak-kanakan nampak lebih dewasa ketimbangnya. Nana masih terus terisak dibahu Jeannet dan tangan Jeannet juga sibuk mengelus lembut pundak Nana yang bergetar karena tangis itu.

Mungkin setelah ini akan lebih baik.

 

& & & & & & & &

 

Sore itu Nana belum berniat pulang keapartemennya. Gadis itu lebih memilih duduk menyendiri ditepi danau kecil kampus itu.

Gadis itu kembali mengeluarkan gitarnya dari kotak. Mengatur senar-senar itu dan mulai menarik napas dalam-dalam. Saat itulah, Nana lebih meresapi luka yang ia rasakan saat ini. Rasa sakitnya, bahkan kedutan yang terus menyerang hati Nana.

 

“..it’s a quarter after one, I’m all alone and I need you now.
And I said I wouldn’t call but I’m a little drunk and I need you now.
And I don’t know how I can do without.
I just need you now
I just need you now.
Oh, baby, I need you now..”

 

Lagu Need You Now milik Lady Antebellum itu pun mengalun indah dari bibir Nana. Perlahan butiran bening itu kembali membasahi pipi gadis itu yang sudah bersemu merah. Dipejamkan lagi matanya dan aliran air mata itu makin menderas. Suaranya bergetar, napasnya tercekat ingin melantunkan lagu itu lagi, terasa sulit bagi Nana. Ditariknya lagi, napasnya dalam-dalam dan sebuah lagu kembali terlintas dikepala Nana. Perlahan gadis itu membuka mulutnya dan melantun pelan lagu itu sembari menahan isakkannya.

 

 “Oneuldo meonghani haneulman boda.. (Hari ini pun aku mendongak ke langit tanpa tujuan)

 Ne eolgureul gomanhi geuryeo bwasseo..(Ku coba menggambar wajahmu perlahan)

 Ne ipsul ne nundongjakkaji..(Bibirmu sampai  matamu yang indah)

 Da sarangseureoweo oneulttara deo..(Semua terlihat indah hari ini)

Ije ijeoyaji aereul sseobwado..(Kukatakan pada diriku aku harus melupakanmu sekarang)

 Ijen an bwayaji dajimhaebwado..(Aku tak bisa melihatmu lagi sekarang)

 Naegen ojik neoppuniya..(Kamu satu-satunya untukku)

 Dareun saram andwae..(Tak bisa orang lain)

 Ireon nae mameul ije arajullae..(Inilah hatiku, bisakah kau tau sekarang?)

Saranghandago malhalkka..(Haruskah kukatakan aku mencintaimu)

 Maeil neoman baraboneun nae mameul alkka..(Apakah kau tau yang kurasakan setiap hari melihatmu?)

 Naegen neo hanaman isseojumyeon..(Jika kau hanya ada untukku)

 Amugeotteo nan ije weonhaji anha..(Sekarang aku tak menginginkan apapun)

 Ne gyeotheman isseo jullae..(Maukah hanya ada di sisiku?)

 Neoege dallaga bulkka..(Haruskah aku pergi ke arahmu?)

 Ijen ne maeumeul algo sipheo..(Sekarang aku ingin tau hatimu)

Nan geugeo hanamyeon dwae..(Itulah satu-satunya yang kubutuhkan)

Nega eobneun haruneun sangsanghal sudo eobseo..(Aku tak bisa membayangkan jika sehari tanpamu)

 Ireon nae mameul badajullae..(Bisakah kau menerima hatiku ini?)..”

 

Isakan itu kini tak tertahan lagi. Nana menangis sejadi-jadinya tanpa menghabiskan lirik lagu milik Hyorin ‘Sistar’ yang berjudul ‘Saying I Love You’ itu. Ia bahkan tak sanggup untuk melanjutkannya. Dari lagu itu, ia teringat akan kebodohannya yang melewatkan Marc. Pria yang bahkan rela melakukan apapun deminya. Tapi, Nana tak pernah mau sadar dan mengakuinya. Nana terus berlari, tak mau percaya pada hatinya. Nana lebih meilih mempercayai otaknya. Nana menyesal. Akankah masih ada waktu? Sedikit saja…bolehkah aku sedikit saja berharap? Mungkinkah semua sudah terlambat?

 

& & & & & & & &

 

3 bulan sudah, Nana tak melihat pria itu. Meski mereka sekampus, Nana bahkan jarang sekali melihatnya sekarang. Terakhir Nana melihatnya diparkiran kampus bersama salah seorang gadis yang adalah-salah satu dari-pacarnya.

 

“Nana..aku gugup sekali. Ujian praktek terakhir dan penentu. Bukankah itu seperti intimidasi lembut dosen ini?” omel Jeannet yang mulai gemetaran.

 

“Hmm..sudahlah. Hadapi saja, toh..ini yang terakhir.” Jawab Nana datar. Nama Jeannet dipanggil masuk. Gadis itu menegang ditempat beberapa saat kemudian memberanikan dirinya masuk bersama biola kesayangannya.

 

‘Tenang..’ ujar Nana tanpa bersuara.

Berlebihan sekali aku ini. Hm..sebaiknya aku juga mempersiapkan diri, habis ini kan aku..

 

“Cepatlah Marc! kau lama sekali..!!”

 

Sontak Nana mendongkak kepalanya, mencari sumber suara itu. Entah mungkin pendengaran Nana yang salah, tapi pemilik suara itu sempat menyerukan nama Marc.

 

“Sabar sedikit kan Tito. Kau ini sudah seperti Jeannet sedang mengikuti lomba saja.” omel Marc balik yang kini sudah berjalan mendekat kerah kelas mereka.

Dengan cepat Nana mengambil gitarnya dan segera berpindah tempat. Gadis itu kini duduk didekat pot besar samping pintu kelas.

Cukup sudah ia menangis beberapa bulan terakhir, jangan saat ini juga. Ia tak mau lagi mengenang pria itu. Toh, setelah lulus ini ia akan kembali ke Seoul. Mungkin disana akan ada pria yang lebih baik darinya.

Kini Nana sudah mengatur senar-senar gitarnya. Didengarnya Jeannet hampir habis dengan lagu aransemennya.

Nana pun bersiap-siap dengan gitarnya. Masih terduduk disamping pot itu sembari terus menghela napas dan membuangnya lewat mulut.

 

Ayo..kau bisa Kim Nana…tapi…apa mereka masih disitu?

 

Gadis itu kemudian memanjangkan lehernya sembari mengintip apa Marc dan Tito masih ada disitu atau sudah pergi.

Dan celakanya belum. Nana juga tak mungkin terus bersembunyi disini kan? Ayo Nana! Apa yang kau takutkan..??

Jeannet pun keluar dari kelas seketika membuat Nana keluar dari persembunyiannya dengan gitarnya. Gadis itu langsung saja melengos masuk kekelas tanpa melirik Marc dam Tito yang berdiri mematung disitu.

 

Aku harus kembali seperti aku yang dulu, ya…Kim Nana yang dingin dan tak perduli apapun..harus bisa…

 

“Silahkan..” ujar seorang wanita paruh baya didepan Nana itu.

 

& & & & & & &

 

“Selesai juga…” gumam Nana kemudian keluar dari ruang kelas itu. Dalam hatinya, ia berharap semoga ketika ia membuka pintu ini pria itu sudah tak ada lagi. Dan harapan itu hanya dikhayalan Nana. Yang nyatanya pria itu masih duduk dengan manis dibangku koridor.

Dengan tampang tak perduli Nana langsung mencari Jeannet. Gadis itu menanyakan keberadaan Jeannet pada Tito yang langsung menujuk kearah Toilet.

 

“Terima kasih, Tito.” Ujar Nana sembari mengulaskan sedikit senyum pada Tito. Dengan cepat gadis melangkah menuju Toilet.

 

“Nana…kau sudah selesai?” tanya Jeannet yang kaget melihat Nana menyusulnya sampai ke toilet. Dan bisa ditebak, ini pasti karena Marc.

 

“Ayo kita kembali kekelas, toh nilainya belum dibagi kan?” ajak Jeannet. Sebenarnya berat untuk Nana kembali melangkah kekelas. Tapi, benar juga ini demi nilai. Mau tak mau, Nana harus kembali kekelas.

 

Dan benar saja, sosok Marc juga Tito masih ada disitu. Nana tidak keberatan kalau hanya ada Tito saja disitu. Tapi Marc? itu hanya akan menambah luka Nana saja.

 

“Nana…” tegur Marc dingin. Pria itu mulai geram terus diacuhkan Nana. Bahkan gadis itu menganggapnya seperti tak ada. Bukankah itu hal biasa?

 

“Ada apa lagi?” balas Nana lebih dingin dan datar tapi sedikitpun gadis itu tak menoleh pada Marc.

 

“Apa…tak ada kesempatan untukku lagi?” tanya Marc lirih. Pria itu lebih terdengar seperti sedang memelas. Dan terdengar begitu menyedihkan ditelinga Nana. Hati gadis itu kembali berkedut seketika. Genangan itu kembali berkumpul pelupuk mata Nana.

 

“Tidak. Jeannet..bisa kau lihat nilaiku. Aku tidak enak badan, mau pulang, terima kasih sebelumnya.”  Ujar Nana kemudian berjalan meninggalkan Marc yang terduduk lesu dibangku itu.

Nana kembali menitihkan air matanya setelah merasa cukup jauh dari kampus. Gadis itu terduduk lesu dibangku halte bus. Ingin sekali ia berteriak sekencang-kencangnya, hanya saja ini tempat umum. Sesedih apapun Nana, ia masih sadar kalau ia berada ditempat umum sekarang. Untuk saat ini, biarlah hatinya yang menjerit. Menjerit sekuatnya memenuhi relung hatinya.

To Be Continued…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s