Posted in Marc Marquez FanFic

To Make You The One and Only (Ch. 9)

Satu setengah tahun terlewati sudah. Masa belajar Nana di Barcelona University selesai sudah. Waktunya gadis itu kembali kekampung halamannya. Menjalani hidup normalnya. Kehidupan yang ia sembunyikan dari teman-teman.

 

“Nana..bilang padaku kalau kau sedang bersandiwara..” ujar Jeannet yang masih sangat terkejut dengan ucapan Nana tadi, “..kau sedang bercanda kan? Iya kan? Tapi sayang, itu tidak lucu, Nana..” lanjut gadis itu sembari melipat kedua tangannya didepan dada.

 

“Maaf, Jeannet..tapi itulah kenyataannya. Maaf kalau selama ini aku menutupinya darimu, bukan karena aku tak percaya padamu. Tapi…tapi..aku berusaha melindungi apa yang harus aku lindungi..ayahku..negaraku..” Nana menjelaskan semuanya, sebenarnya berat juga. Selain karena wanti-wanti ayahnya, Nana juga tak mau dibeda-bedakan dengan teman-temannya yang lain. Itulah yang membuat Nana menuruti keinginan ayahnya menyembunyikan jati dirinya.

 

“Jadi?? Benar kau putri seorang presiden? Tapi kenapa kau tak mau memberitahukan ini padaku. Aku juga tak akan bilang pada siapapun…aku janji. Tapi…sudahlah, setidaknya kau punya alasan masuk akal yang bisa diterima. Aku akan memaafkanmu. Tapi tidak dengan yang satunya lagi…” wajah gadis itu kembali cemberut. Padahal katanya ia sudah memaafkan Nana. Lalu apa lagi?, “..kenapa kau tidak bilang padaku kalau besok kau akan pulang? Aku salah padamu, ya?” kini nada bicara gadis itu terdengar kecewa.

 

“Ti-tidak kok, Jeannet. Kau tidak salah..hanya saja, ini adalah bagian perjanjianku dengan orang tuaku. Kalau setelah aku wisudah, aku sudah harus pulang. Maaf ya, Jeannet aku baru bisa bilang padamu sekarang.” Sesal Nana, namun gadis itu tetap menyunggingkan senyum simpul pada sahabatnya itu.

 

“Lalu..Marc? apa dia..”

 

“Maaf Jeannet..aku tidak mau membicarakan tentangnya lagi. Dan aku harap, kau tak memberitahukan apapu padanya soal aku dan kepulanganku.” Potong Nana dingin. Begitulah Nana setelah satu setengah tahun itu lewat. Kalau ditanya soal Marc pasti bawaannya akan dingin dan datar. Gadis itu benar-benar bertekad untuk melupakan semua tentang Marc.

 

“Ba-baiklah..” balas Jeannet lesu. Jeannet tau, sebenarnya ia tak boleh lagi bertanya tentang Marc kepada Nana. Tapi, ini juga tak bisa dibiarkan. Yang sakit nanti mereka berdua juga.

 

“Oh ya, Jeannet. Bagaimana kalau kita jalan-jalan. Aku mau melihat-lihat kota Barcelona sebelum pergi.” Ajak Nana. Kini gadis itu sudah tersenyum lebar lagi.

 

“Ok. Mau kemana kita?” tanya Jeannet bersemangat. Gadis itu sudah bangkit dari duduknya.

 

“Pertama kita ke Café yang biasa, lalu kita ke taman kota. Bagaimana?” tawar Nana dan hanya dijawab anggukan bersemangat Jeannet. Gadis itu sudah menarik tasnya dari sofa yang ia duduki tadi. Kemudian berjalan terlebih dahulu kedepan pintu apartemen.

Dalam hati, Jeannet berdoa semoga dijalan mereka bertemu dengan Marc. Tapi tidak dengan salah satu dari pacarnya. Semoga saja..

 

& & & & & & &

 

“Aku selalu suka suasana café ini. Menenangkan. Harum semilir kopinya. Benar-benar membuat café ini seperti tempat spa. Hehe..” ujar Nana kemudian terkekeh. Gadis itu seperti melupakan masalah hatinya yang sebenarnya belum habis. Jujur, ia masih merindukan sosok Marc. Dan akan lebih menyenangkan jika dihari terakhirnya di Barcelona ini, ia bisa duduk bersama Marc di Café ini. Bukan bersama Jeannet saja.

“Nana..kau kenapa? Kau terlihat tidak senang?” tanya Jeannet merasa aneh dengan air muka Nana yang tiba-tiba saja berubah murung dan sedih.

Kalau boleh Jeannet menebak, mungkin ini karena..

 

“Aku tak bisa menyembunyikan kalau aku masih merindukan dia. Bahkan aku masih menyalahkan diriku sendiri ketika aku bilang, tak ada lagi kesempatan kedua untuknya waktu itu. Padahal, waktu itu..ketika ia bertanya ‘masih adakah kesempatan untuknya’ aku ingin sekali memeluknya, dan bilang…kalau dia akan selalu punya kesempatan untuk mencintaiku..tapi sayang..aku terlalu terbawa emosiku…”, “..waktu itu aku juga merasa sangat sakit..aku seperti mencoba membunuh diriku sendiri…aku masih menyesal, Jeannet..” tutur Nana. Kini gadis itu hanya mengelus bibir gelas itu dengan jari telunjuknya. Seperti ia telah kehilangan selera untuk menyeruput sedikit lagi Mocca Latte yang ada didepannya itu.

“..rasanya berat untuk pulang besok..tapi, aku harus..janji adalah hutang, bukan?” lanjutnya kini dengan memaksakan seulas senyum miris dibibir mungilnya, “..mungkin dengan memiliki banyak gadis disampingnya, ia akan lebih bahagia ketimbang hanya satu gadis saja..” kata Nana lirih. Gadis itu menatap nanar kebawah. Ia bahkan tak sanggup lagi mendongkak. Seperti ada beban yang menindih tengkuknya.

 

“..kau tak akan tau kalau kau belum mencoba kan? Karena yang kulihat selama ini, yang berusah hanyalah Marc..jadi, kau pun harus mencoba..siapa tau, hasilnya akan baik.” Ujar Jeannet sembari menyentuh lembut tangan Nana. Sentuhan yang seperti berkata pada Nana untuk tetap semangat, dan jangan menyerah, “..ayo kita ketaman kota saja, siapa tau kau bisa lebih tenang disana.” Ajak Jeannet kemudian berdiri terlebih dahulu. Nana pun mengangguk lesu kemudian ikut bangkit dari duduknya.

Keduanya pun berlalu pergi setelah membayar di kasir.

 

“Taman kota kalau jam seperti ini akan sepi, disana hanya akan ada pasangan saja. Tak apa kan?” tanya Jeannet pelan.

Dan hanya dijawab anggukan kecil Nana. Gadis itu terus menatap keluar jendela taxi. Melihat keindahan kota Barcelona yang kini sudah berbalut warna jingga ketika matahari perlahan mulai tenggelam.

 

“Nana..kita sudah sampai.” Ujar Jeannet membuyarkan lamunan Nana. Tanpa Nana sadar, keduanya kini sudah berada ditaman kota. Dan benar seperti yang Jeannet katakan, tempat ini tak seramai saat liburan. Sekarang pun hanya ramai dengan beberapa pasang kekasih, “..kita duduk disebelah sana, ya?” ajak Jeannet kemudian menarik tangan Nana kearah pohon besar disebelah sana. Dan disana nampak sepi dan jauh dari pasangan-pasangan itu.

 

Tengah asyik duduk sembari bercanda, seketika Jeannet membatu ditempat. Tatapannya terpaku pada sebuah pemandangan diujung sana. Pemandangan yang tak seharusnya ada disaat begini. Pemandangan yang pastinya akan sangat menyakitkan bila dilihat gadis didepannya ini.

 

“Kenapa kau? Kesemutan?” tanya Nana dengan nada mengejek. Kemudian gadis itu terkekeh.

Namun, Jeannet tak bergeming sama sekali. Nana merasa aneh dengan cara pandang Jeannet pada sesuatu yang ada dibelakang Nana. Saking penasaran, gadis itu perlahan berbalik untuk melihat apa yang dilihat Jeannet.

 

“JANGAN BERBALIK!” seru Jeannet mencegah, namun..sudah terlambat. Nana sudah melihatnya. Dalam beberapa saat gadis itu terdiam. Terdiam dan melihat kejadian disana, dimana seorang pria yang akhir-akhir ini sangat Nana rindukan, mecium mesra seorang gadis. Yang bahkan berbeda dengan gadis yang sebelumnya.

Spontan, Nana berdiri. Dan bahkan dirinya tak sadar kalau langkahnya kini membawanya mendekati pria dan wanita itu.

Tak perduli lagi dengan teguran Jeannet yang kini sudah berlari kecil menghampiri Nana.

 

Sontak pria itu kaget, ia melepaskan tautannya dari bibir gadisnya itu. Dan segera berdiri dan menatap terkejut kearah Nana.

 

“Na-Nana..aku..aku bisa…”

 

“Tidak. Tidak perlu. Toh, ini dirimu yang sebenarnya, kan? Jadi, tidak salah kalau aku sangat membencimu. Oh ya, terima kasih karena luka yang akhir-akhir ini mendera hatiku..” wajah datar dan dingin gadis itu kemudian ditetesi air mata. Dan semakin lama semakin deras, “..terima kasih sudah membuatku menyukaimu beberapa bulan terakhir ini..kalau ini yang kau pilih, biar aku yang pergi..permisi..” ujar gadis itu dingin, tapi suaranya bergetar. Ya, Nana memang ingin terlihat tegar didepan pria itu. Meski tetap berwajah datar dan dingin, ada air mata yang berlinang dipipinya. Langkah gontai Nana kini sudah meninggalkan Marc dan gadis itu. Marc nampak masih sangat terkejut dan tak percaya dengan ucapan gadis itu tadi.

 

“Nana..tunggu…kau ini kenapa?” tanya Jeannet sedikit marah dengan tindakan Nana.

 

“Jeannet..tak ada yang perlu dicoba lagi. Dia sudah memilih kehidupan lamanya. Aku juga tak akan memaksanya, dan selama dia bahagia…aku juga akan bahagia. Sesederhana itu.” tutur Nana sembari tersenyum miris, “..aku pulang dulu, ya? Terima kasih untuk hari ini Jeannet. Dan sampai jumpa lagi.” Ujar Nana kemudian menahan sebuah taxi dan naik.

 

Ini yang terakhir. Ya, ini yang terakhir kali aku melihat Marc…meski pertemuan kami seperti tadi…aku tetap senang, Tuhan…setidaknya aku bisa melihatnya baik-baik saja tadi…

 

& & & & & & & &

 

            Pagi itu Nana berangkat dengan pesawat pertama ke Seoul. Dan selama 12 jam perjalanan, Nana tak memejamkan matanya sedikitpun meski sekedar untuk beristirahat.

Dan kini, tibalah ia di Seoul. Kembali kepada kehidupan semulanya. Sebagai Kim Nana, sang putri presiden Korea Selatan.

 

“Selamat datang nona…mari saya bawakan koper anda.” Sapa seorang pria bertubuh besar juga berjas hitam lengkap.

 

“Terima kasih. Oh ya, dimana appa dan eomma?” tanya gadis itu sembari mengedarkan pandangan kesekeliling bandara internasional Incheon.

 

“Maaf nona, Tuan presiden sedang ada tamu dari luar negeri sekarang, jadi nyonya sedang mendampingi beliau.” Jelas singkat pria itu sembari berjalan menuju parikiran.

 

Ini Seoul, Nana…bukan Barcelona…kau tak akan menemukan Marc disini…meski kau berputar seanteru Korea Selatan pun kau tak akan menemukan dia…

 

“Oh ya, nona..apa nona masih ingin singgah kekantor tuan presiden atau..??” tanya pria itu sembari terus menyetir membawa mereka keluar dari area Bandar udara Incheon.

 

“Langsung pulang saja..aku lelah sekali.” Balas Nana singkat dan datar. Gadis itu kemudian menyandarkan kepalanya kesandara kursi mobil kemudian memejamkan matanya yang lelah.

Ya, semalam penuh gadis itu hanya menangis dan tidak tertidur. Bahkan dipesawatpun ia terus menitihkan air mata meski dalam diam.

Matanya terasa berat sekarang, entah karena bengkak atau mengantuk. Yang penting, gadis itu sekarang merasa lelah sekali, ia butuh istirahat. Istirahat yang lama sekali.

 

& & & & & & &

 

“Kau bahkan tak langsung meneleponku! Dasar!” omel suara dari seberang sana.

 

“Haha..maaf..maaf..tadi aku capek sekali, makanya aku ketiduran. Tapi, sekarang aku sudah meneleponmu, kan?” balas Nana pada lawan bicaranya itu, “..oh ya, Jeannet aku lumayan kesepian lho disini, tak ada lagi yang bawel sepertimu disini..jadinya sepi..” lanjut Nana sembari tertawa kecil.

 

“Jadi..maksudmu, aku bawel, begitu? Kau ini..untung kau sudah disana, kalau masih disini mungkin akan kujewer telingamu sampai putus…” balas Jeannet kemudian ikut tertawa bersama Nana.

 

“Oh ya, Jeannet. Aku mau istirahat lagi. Aku masih capek sekali ‘jetlag’..aku akan menghubungimu lagi nanti, daa..” ujar Nana kemudian mengakhiri pembicaraanya ditelepon bersama Jeannet.

 

Nana merindukan saat-saatnya di Barcelona. Saat ia mulai menginjakan kaki di kota itu, dan saat ia menemukan Jeannet, sahabatnya.

Juga…

Saat-saat terburuknya ketika ia tau kenyata kalau Marc bukan lagi untuknya..

 

Ngomong-ngomong..bagaimana ya, keadaan Marc sekarang?

E-eh?? Untuk apa aku cari tau lagi…untuk apa? Bikin repot saja…bisa ditebak kan? Pasti dia sedang bersama pacar-pacarnya itu…Lalu? kenapa aku yang marah??

 

To Be Continued..

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s