Posted in Marc Marquez FanFic

To Make You The One and Only (Ch. 10)

“Nana-aaa!! Nae ddal…!! (Nanaaa!! Anak perempuankuu..!!) kamu sudah kembali..!!” seru seorang wanita paruh baya ketika Nana turun dari kamarnya.

 

“Eomma..jaebal jom!(Ibu..please deh!) Aku ini bukan baru pulang Wamil (Wajib Militer). Berlebihan sekali..!!” ketus Nana datar ketika ibunya mulai berlari-lari kecil dan memeluknya erat.

 

“Oo, Sesangil (Oh Tuhan..)…putriku tambah cantik saja, eomma sampai pangling melihatnya.” Ujar wanita itu kemudian tertawa kecil.

 

“Nana..” sapa seorang pria paruh baya dari sofa sana.

 

“Appa..” balas Nana kemudian berjalan mendekati pria yang adalah ayahnya itu.

Dengan lembut pria itu membawa putri bungsunya itu dalam pelukannya.

 

“Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja, kan? Oh ya, maafkan appa kalau waktu kau wisudah tak bisa datang dan menemanimu. Ada banyak kunjungan yang tak bisa appa batalkan waktu itu.” Ujar pria itu kemudian melepaskan pelukannya dari putrinya.

 

“Aniyo, appa. Gwaenchaneyo..(Tidak, papa. Tidak apa-apa..)” balas Nana lembut.

 

“Oh ya, Hyun Ki dan Na Young akan datang. Mereka sangat merindukanmu.” Jelas ayahnya kemudian mengajak putrinya itu duduk, “..oh ya..mm..lama di Barcelona, apa kau sudah memilki pacar?” tanya ayahnya tiba-tiba. Sekarang, otak Nana kembali teringat akan Marc.

 

Marc?? Nae namja-chingu?? Hah?? Utkijima! (Marc?? pacarku?? Jangan melucu!) menyadari perasaanku saja terlambat, bagaimana bisa dia menjadi pacarku?

“Tidak, ayah. Aku belum berpikir sampai kesitu.” Elak Nana datar. Ia berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

Gadis itu terlambat mencintai seorang pria. Itulah kenyataanya. Kenyataan pahit yang harus ia terima. Bahkan sebelum ia pulang ke Seoul pun, gadis itu seperti diingatkan bahwa ia tak akan mungkin mendapatkan pria itu lagi. Pria yang sudah memilih kembali pada kehidupannya yang lama.

 

“Ooh..”.  Pria itu kini hanya menjawab Nana dengan ‘ooh’. Dan Nana tau, pria itu masih kurang yakin dengan jawaban Nana, “..bagaimana kalau kau ceritakan pada ayah yang sebenarnya?” tanya pria itu lagi. Kini, Nana benar-benar kehabisan akal untuk mengelak. Toh, tidak ada salahnya ia menceritakannya pada ayahnya. Selama ini juga, kalau ada apa-apa, pasti Nana akan dengan senang hati menceritakannya pada ayahnya.

Tapi..itu masalah lain. Bukan masalah perasaannya. Lalu, haruskan Nana bercerita?

 

“Aku..”

 

“Kim Nanaaa…oppa-mu dataaang!!”

 

Mungkin ini bisa dibilang bala bantuan. Ucapan Nana seketika terpotong oleh seruan konyol kakaknya yang baru saja tiba bersama istrinya, Na Young.

Nana dan ayahnya kemudian bangkit berdiri untuk menyambut mereka.

 

“Kim Nana-a..kau tambah cantik, ya? Bahkan kau terlihat seperti gadis Spanyol sekarang.” Puji Na Young sembari mengelus rambut coklat berombak Nana itu.

 

“Ya..Na Young-aa…adikku ini memang pada dasarnya cantik. Kau tidak lihat aku tampan begini?” kini giliran Hyun Ki yang memuji dirinya sendiri.

 

“Oppa..??(Kakak..??*kakak laki-laki dipanggil oleh adik perempuan*)…utkijima..(jangan melucu..)” balas Nana datar.

 

“Nana-aa..bisa tidak kau bela oppa-mu ini sedikit. Dari dulu saja selalu begitu.” Ujar Hyun Ki yang mulai cemberut.

Sifat kakanya memang sama persis dengan ibunya yang menurut Nana sangat aktif dan bahkan bisa menjadi konyol. Sedang Nana, benar-benar menuruni sifat ayahnya. Dingin, datar, dan tidak terlalu pusing dengan hal-hal yang menurut mereka tidak begitu penting.

 

“Oh ya, Nana. Kami berencana berlibur ke pulau Jeju. Kau mau ikut?” tawar Hyun Ki yang kini kembali pada ekspresi awalnya.

 

“Pulau Jeju? Untuk apa? Kurang puas kalian berdua bulan madu setahun lalu? mau bulan madu lagi?” ketus Nana dingin.

 

“Bukan begitu…kami hanya mau berlibur kok. Sekalian..merencanakan program bikin anak.” Jelas Hyun Ki dan mengecilkan sedikit suaranya pada kalimat terakhir.

 

“Ya! (Hei!)  Lalu kalian mau menjadikanku obat nyamuk begitu?” sentak Nana kesal. Dan sontak membuat ayah, kakak juga kakak iparnya itu tertawa, “..wae irae? (kenapa, sih?)” tanya Nana sembari menatap kesal pada kakaknya yang tertawa paling keras itu.

 

“Kau itu lucu sekali. Tentu saja tidak, Nana. Apa salah, aku mengajakmu liburan setelah terpisah 2 tahun setengah darimu?” tanya kakaknya masih terkekeh kecil melihat wajah adiknya yang masih cemberut karena kesal.

 

“Boleh. Tapi, appa dan eomma harus ikut!” pinta Nana seenaknya. Dan langsung dijawab gelengan kepala oleh ayahnya.

 

“Appa sibuk, sayang..appa tidak bisa kemana-mana beberapa bulan ini. Eomma juga harus menamani appa..kalian pergilah bersenang-senang, ya?” jawab ayahnya lembut.

 

“Hmm..jadi..kapan kita pergi?” tanya Nana akhirnya. Sebenarnya dengan terpaksa juga gadis itu ikut. Selain karena ini liburan ke pulau yang paling ia sukai. Juga ini demi merefreshing otaknya yang sudah semakin penat karena terus teringat akan Marc.

 

Ya..lagi-lagi ia memikirkan pria itu. Otak dan hati Nana terlalu sensitive sekarang kalau mendengar atau megingat nama itu.

Seketika juga, bayangan pria itulah yang akan muncul dan berputar-putar dikepala Nana.

Dan Nana tidak suka itu.

 

“..Nana..kau dengar tidak..” tegur Hyun Ki sembari mengguncang pelan tubuh adiknya yang sibuk dengan hayalannya sendiri itu.

 

“Dengar apa?” tanya Nana balik dengan bingung. Akhirnya gadis itu sadar dari lamunan muluknya itu.

 

“Kita berangkat besok, jadi siapkan barang-barangmu sekarang, arraseo? (mengerti?)”pinta Hyun Ki kemudian. Tapi, hati pria itu merasa sedikit janggal dengan adiknya. Jadi, ia memutuskan untuk mengikuti Nana sampai kekamar gadis itu.

 

“Nana-a..boleh oppa masuk..” ujar Hyun Kin dari luar kamar Nana yang tertutup.

 

“Masuklah..” balas Nana dari dalam kamarnya. Perlahan pintu kamar Nana terbuka, dan sosok Hyun Ki segera masuk dan menutup kembali pintu kamar itu.

Terlihat kini, adiknya sedang sibuk memasukan pakaiannya kedalam koper.

 

“Mwo ya? (ada apa?)” tanya Nana datar sembari terus melakukan kegiatannya.

 

“Ngg..apa kau benar tidak apa-apa sekarang? Yaah..kalau kau ada masalah, kau bisa ceritakan pada oppa..oppa tidak janji bisa membantu, tapi oppa janji akan menjadi pendengar yang baik.” Ujar Hyun Ki lembut. Tapi sorot mata itu, seperti menuntut Nana untuk segera jujur padanya.

Ya, selain ayahnya. Yang paling tak bisa ia bohongi adalah kakaknya. Hyun Ki seakan tau dan bisa merasakan apa yang Nana rasakan saat ini. Bahkan, kalau menyangkut soal ini. Kakaknya lah yang paling sering ia ceritakan terlebih dahulu.

 

“..aku..akhir-akhir ini merindukan seseorang. Dan bisa dibilang, aku mungkin saja sudah jatuh cinta padanya…” mulai Nana. Kini tatapan gadis itu mulai menerawang. Gadis itu perlahan duduk diatas kasurnya dan Hyun Ki pun mengambil tempat di sampingnya.

 

“Siapa dia?” tanya Hyun Ki lembut. Ia tau tatapan itu. Tatapan murung dan sedih itu. Adiknya sedang terluka.

 

“..dia..dia..pria yang kutemui di Barcelona saat aku kuliah. Awalnya dia begitu berisik dan menggangguku, tapi..lama kemalamaan aku terbiasa dengan semua ocehan dan senyuman konyolnya itu, sifatnya persis seperti oppa.Tapi…setelah kejadian itu…ocehan dan senyuman konyol itu tak lagi nampak untuk beberapa lama, sampai pada akhirnya…” ucapan gadis itu terpotong isakkannya. Setelah menarik napas panjang dan berat, Nana kembali melanjutkan, “..aku sadar kalau aku terlambat…aku terlambat menyadari perasaanku. Dan ketika itu, dia sudah bukan lagi yang biasa kukenal. Dia berubah..dan aku tak bisa lagi menggapainya. Dia sudah terlalu jauh..” butiran bening itu jatuh dan mengalir deras kini. Luka hatinya kembali terbuka. Rasa sakit itu datang lagi.

Perlahan Hyun Ki mendekat dan membawa adiknya itu kedalam pelukannya.

 

“Yaah..terkadang cinta itu memang datang tiba-tiba dan tanpa kita sadari. Bahkan, kita sering mengacuhkan cinta itu. Dan beginilah akhirnya ketika kita terlambat menyadari akan cinta itu…” Hyun Ki perlahan melepaskan pelukannya, “Nah..sekarang. Kau tak perlu mengingat itu lagi, buanglah kenangan menyakitkan itu. Toh, kalau memang kalian berjodoh ia pasti akan datang padamu dengan sendirinya, bukan?” hibur Hyun Ki yang sudah menampakkan senyum lembut pada Nana.

 

“Gumawo oppa…(terima kasih, kakak..)” ujar Nana sembari mengusap air matanya.

 

Oppa benar..toh kalau memang kami berjodoh. Marc tak akan kemana. Tapi, kalau tidak..perasaan ini pun nanti akan hilang dengan sendirinya..

 

To Be Continued…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s