Posted in Marc Marquez FanFic

To Make You The One and Only (Ch. 11)

        From  : Jeannet Greyson

       To    : Kim Nana

Nana..aku tidak bisa tidur..disanakan sudah pagi, kau mau kan temani aku..kita berkirim e-mail..ya?

 

To    : Jeannet Greyson

From  : Kim Nana

Apa yang membuatmu tidak bisa tidur..hmm..baiklah..Oh ya, Jeannet..aku seakarang, sedang berlibur ke Pulau Jeju bersama kakakku. Pemandangan disini indah sekali.

 

       From  :Jeannet Greyson

       To    : Kim Nana

Benarkah? Waah..aku tau pulau itu. Aku pernah melihatnya di Internet. Aku ingin sekali kesana.. L

 

       To    : Jeannet Greyson

       From  : Kim Nana

Yaah..semoga saja. Tapi..aku harap kau disini, pemandangannya benar-benar indah. Apalagi disini sedang musim panas. Kau benar-benar harus melihat pemandangan indah disini. Apalagi lautnya. Benar-benar indah.

 

Beberapa menit menunggu. Tak ada lagi balasan dari Jeannet, “Huh! Anak itu pasti sudah tidur..dasar..” gumam Nana sembari memasukan lagi ponselnya kedalam tas ransel miliknya.

 

“Kau kenapa?” tanya Hyun Kin sembari terus menyetir.

Kini mereka sudah sampai dipulai Jeju dan sedang dalam perjalanan menuju penginapan yang sudah kakaknya pesan itu.

 

“Tidak. Sedang mengrim e-mail pada sahabatku di Barcelona. Tapi, sudah tidak dibalas lagi. Mungkin sudah tidur.” Jawab Nana seadanya.

 

“Tidur? Jam berapa sekarang sampai ia masih bisa tidur?” tanya Hyun Kin dan bagi Nana, itu adalah pertanyaan paling bodoh yang pernah Nana dengar.

 

“Oppa..kau ini bodoh, ya? Di sana masih jam 01.00 pagi. Pertanyaanmu ada-ada saja..” semprot Nana dari bangku belakang. Na Young hanya bisa tertawa melihat pertengakaran kedua kakak beradik itu.

 

“Sudah..sudah..kalian ini. Seperti anak kecil saja..” lerai Na Young akhirnya. Keduanya pun menghentikan pertengkaran mereka. Padahal kalau mau dibilang itu hanya masalah kecil, “..oh ya, berhubung ini masih jam 8, bagaimana kalau kita singgah ke pantai?”tawar Na Young. Wajahnya kini sudah nampak berseri-seri.

 

“Bagus. Baiklah kalau begitu..” jawab Hyun Ki bersemangat, menerima tawaran istrinya itu.

Sudah 2 tahun lebih mereka menikah, dan mereka belum juga bisa memberikan Nana keponakan. Sebenarnya akan sangat menyenangkan kalau liburan ini ditemani sosok mungil yang mungkin akan secerewet kakaknya. Bahkan kalau sosok itu mengoceh, Nana mungkin tak akan keberatan sama sekali. Karena akan lebih menyenangkan mendengarkan ocehan anak kecil ketimbang ocehan kakaknya yang kadang terdengar berlebihan dan konyol.

 

“..Nana..dari tadi Eonni perhatikan, kau diam saja.. kau tidak apa-apa kan?” tanya Na Young lembut. Wanita itu sedikit mengkhawatirkan sikap diam Nana itu.

 

“Aniyo, eonni (Tidak, kak). Gwaenchaneo (Aku tidak apa-apa). Usul eonni sepertinya bagus. Tidak ada gunanya kita ke sini kalau tidak ke pantai, kan?” jawab Nana kembali pada pembicaraan awal mereka. Sebenarnya, kalau berbicara ocehan dan kekonyolan. Nana kembali teringat akan Marc yang sering melakukan itu pada Nana.

Ocehan yang terkadang memuakan itu akhirnya Nana rindukan juga.

 

& & & & & & & &

 

Sore itu Jeannet meminta bertemu dengan Marc di Café. Alasan gadis itu ingin memberitahu Marc hal penting mengenai Nana.

Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Marc bertanya-tanya. Hal apa itu?

Setiba Marc di Café itu, Marc langsung masuk  kedalam dan mendapati Jeannet juga Tito duduk dimeja kedua dari depan sebelah kiri.

Segera, pria itu melangkahkan kakinya mengampiri Jeannet dan Tito.

 

“Kau sudah sampai Marc..” ujar Jeannet ketika melihat sosok Marc sudah mengambil tempat didepannya.

 

“Ada apa?” tanya Marc langsung dan tanpa meminta basa-basi lagi. Tatapan pria itu tajam ia nampak sangat serius sekarang.

 

“Begini. Ini tentang Nana, dan perasaan gadis itu padamu. Yaah..meski sudah terlambat, tapi…dia benar-benar mencintaimu sekarang. Dan…kalau kau mau, dia sekarang ada di Pulau Jeju. Pergilah, kalau kau memang masih mencintainya. Juga…tinggalkan gadis-gadis itu. Aku tau kau tak benar-benar mencintai mereka.” Ujar Jeannet serius. Baru pertama Marc melihat Jeannet yang seperti itu. Dia terlihat begitu yakin. Yakin bahwa Marc masih mencintai Nana. Ya, pria itu masih sangat mencintai gadis dingin dan datar yang selalu menolaknya itu. Dan lagi-lagi, Jeannet benar. Memacari gadis-gadis yang sekarang ini, hanyalah sebagai pelampiasannya untuk sekedar melupakan Nana. Namun tetap saja. Wajah gadis itu tak pernah lepas dari ingatannya.

 

“Mereka menginap di Seas Hotel and Resort…aku sudah memesan sebuah kamar untukmu disana. Tapi..itu kembali padamu saja, Marc. Kami tak akan memaksamu.” Lanjut Tito sembari menyodorkan sebuah kertas bukti pembayaran.

 

“Terima kasih, Tito, Jeannet. Sepertinya aku harus mendapatkan kembali apa yang harus menjadi milikku, kan?” ujar Marc sembari tersenyum tipis pada kedua sahabatnya itu.

 

“Jadi? Kau akan pergi?” tanya Jeannet mulai bersemangat.

 

“Tentu.” Jawab Marc singkat, “..bolehkan kalau aku menculik putri presiden itu?” gumam Marc sembari tertawa geli.

 

“Kau akan mati kalau kau berani menculiknya.” Ancam Jeannet sambil mengacungkan kepalan tangannya didepan wajah Marc.

Gadis itu tau kalau Marc hanya bercanda. Mana mungkin ia berani berbuat begitu.

 

Kalau memang ini kesempatan yang kuminta…tolong bantu aku, Tuhan..

 

& & & & & & & &

 

            Pagi itu baru menunjukan pukul 03.00. Marc berangkat ke Seoul dengan penerbangan pertama. Dalam benaknya, pria itu terus memikirkan Nana.  Apa yang akan Nana katakan ketika melihatnya disana? Apa Nana akan menerimanya atau tidak? Semuanya pertanyaan itu kini sudah berputar-putar dikepala Marc.

Terkadang pria itu ragu akan keputusannya ini. Tapi, gadis itu juga mencintainya. Begitu juga Marc. Marc juga ingin meminta maaf pada gadis itu atas apa yang sudah ia laukan padanya.

12 jam sudah Marc menempuh perjalanan  dari Barcelona menuju Seoul.

Sekarang sudah pukul 3 sore waktu Seoul. Marc langsung menuju ke hotel untuk sedikit beristirahat. Karena besok, ia harus melanjutkan perjalanannya lagi ke pulau Jeju.

       From  : Tito Rabat

       To    : Marc Marquez

Dude..kau sudah sampai? Bagaimana Seoul? Oh ya, besok jadwal berangkatmu ke Jeju pukul 10 pagi. Jadi kau sudah harus ada dibandara setengah 10 untuk cek in. Pokoknya kau tenang saja, aku sudah mengurusi semuanya.

 

       To    : Tito Rabat

       From  : Marc Marquez

Seoul panas. Lebih panas dari Barcelona.Oh ya, by the way..thank’s , dude..

 

Perlahan pria itu menyandarkan tubuh lelahnya disandaran sofa. Memejamkan matanya, mencoba untuk membayangkan wajah gadis itu. Gadis yang sudah beberapa bulan ini tak dilihatnya. Bagaimana dia sekarang?

 

To Be Continued…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s