Posted in Marc Marquez FanFic

To Make You The One and Only (Ch. 14)

Pagi itu matahari mulai meninggi. Sinar-sinarnya perlahan menusuk masuk ke dalam sebuah kamar.  Dan setitik sinar itu akhirnya berhasil menyentuh lembut wajah pria yang masih berbungkus dengan selimut itu.

Pria itu akhirnya bergeming. Merespon sentuhan lembut sinar sang mentari pagi. Dibukanya perlahan matanya. Menarik badanya yang terasa pegal dan menegang.

Kembali teringat olehnya malam itu. Malam dimana perasaan rindu dan cinta yang menggebu itu akhirnya membuat mereka saling memiliki seutuhnya.

 

Gadis itu? bagaimana kabarnya, ya? Batin Marc. Pria itu langsung meninggalkan kamar Nana ketika melihat gadisnya itu sudah terlelap karena kelelahan.

Marc sempat bersumpah dalam dirinya bahwa ia akan bertanggung jawab kalau Nana sampai mengandung anaknnya nanti.

Tanpa sadar pria itu tersenyum. Ia teringat akan wajah manis Nana malam itu. Ternyata gadis itu akan makin cantik jika dilihat dari dekat. Matanya, bibirnya, wajahnya yang bersemu merah…selalu bisa membuat Marc berdebar tak karuan.

Bahkan kejadian malam itu bagai mimpi untuk Marc. Berulang kali pria itu mencubiti keras pipinya, namun tetap terasa sakit.

Ini bukan mimpi. Ini nyata. Dan Marc bisa menebak, beberapa saat lagi akan ada gadis dengan tampang kesal mendatangi kamarnya dengan comelan-comelannya.

 

& & & & & & & &

 

“Eotteokhe??” seru Nana panik dalam kamarnya. Gadis itu terlampau panik dan kelabakan ketika melihat dirinya yang tak berbungkus sehelai benang pun diatas tempat tidur. Dan lebih sialnya lagi. Pria yang sudah merenggut kegadisannya itu malah sekarang menghilang entah kemana.

 

Saekki namja!!!! (Pria Brengsek!!) Awas saja dia!! Aku akan membunuhnya!!! Katanya mencintaiku..sekarang dia malah lari..dasar pengecut!!

 

Bel pintu kamar membuyarkan kekesalan juga kepanikannya. Nana mulai turun dengan panik dari tempat tidurnya dan mulai memakai cepat pakaiannya yang berhamburan dilantai.

 

“Kim Nana-aa..na ya!! (Kim Nana..ini aku!)” kini terdengar seruan kencang Hyun Ki dari luar sana. Ketika gadis itu hendak berlari mencapai pintu, ia merasakan sakit yang luar biasa didaerah kewanitaannya.

 

“Apa ini?? Sakit sekali..” erang Nana. Gadis itu kemudian terduduk diatas kasur dan sulit untuk berdiri. Kedutan itu makin menjadi-jadi saja, “..oppa..aku masih dikamar mandi, nanti aku susul oppa kekamar oppa..” seru Nana dari dalam kamarnya. Gadis itu tak mau kakaknya melihatnya dalam keadaan begini. Apalagi kalau sampai kakaknya tau apa yang sudah ia lakukan semalam.

Nana tak akan bisa membayangkan kalau headline berita esok pagi yang memuat tentang hamilnya putri presiden Korea diluar nikah. Bagaimana perasaan ayahnya nanti kalau itu menjadi kenyataan.

Mungkin Nana akan ditendang keluar dari rumah.

 

Berbagai pikiran muluk sudah memenuhi setiap sudut otak Nana. Gadis itu masih terduduk membatu diatas tempat tidur, meski rasa sakit itu sudah menghilang.

Yang Nana butuhkan saat ini adalah Marc. Pria itu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan pada Nana.

Dia harus segera bertanggung jawab.

 

& & & & & & & & &

 

Jadi..ini kamarnya, ya? Pantas saja dia menghilang begitu cepat…ternyata kamarnya tak begitu jauh dari kamarku..dasar!

Dengan kasar Nana memencet bel pintu kamar itu. Kini terdengar suara dari dalam, meminta Nana untuk bersabar.

 

“Selamat pagi, yeobo (sayang)..” sapa Marc ketika membuka pintu kamarnya dan melihat siapa yang ada didepan pintu kamarnya itu.

 

“Yeobo?? (Sayang??) Kau bisa berbahasa Korea? Oh ya…jangan seenaknya memanggilku, yeobo!” sentak Nana kemudian gadis itu menerobos masuk kedalam kamar Marc.

 

“Kenapa? Kau kan sudah menjadi pacarku? Memangnya salah kalau aku memanggilmu ‘yeobo’? tanya Marc dengan bingung. Apakah benar semua kejadian yang terjadi semalam hanya mimpi?

 

“Pacar?? Enak saja! kau yang sudah memaksa masuk kedalam kamarku, menciumku seenaknya dan melakukan hal itu padaku…”

 

“Tapi kenapa kemarin kau tak menolak waktu aku melakukan itu padamu?”

Tanya Marc memotong ucapan Nana yang penuh kekesalan itu.

Seketika gadis itu membatu. Teringat kalau malam itu ia tidak sedang mabuk. Bahkan ia tak keberatan sama sekali dengan yang dilakukan Marc padanya. Ia juga tidak membenci cara Marc menyentuhnya..cara Marc memeperlakukannya malam itu.

Nana tertegun dan ia teringat juga kalau ia bahagia saat itu, “..bagaimana Kim Nana? Apa benar kau tak menginginkan kejadian semalam. Kalau memang tidak..aku akan bertanggung jawab hanya sampai kalau anak yang nanti kau kandung lahir. Setelah itu aku akan pergi bersamanya dan tak akan menampakan wajah kami lagi dihadapanmu.” Ujar Marc dingin. Pria itu seperti menuntut kejelasan Nana.

Nana tak mau lari lagi. Tak ada gunanya juga Nana berlari. Toh, ujung-ujungnya Marc akan kembali menangkapnya. Dan hati Nana pun tak bisa memungkiri lagi kalau dia sekarang benar-benar mencintai pria itu.

 

“..a-aku..ma-maaf Marc..maaf kalau selama ini aku terus menghindar darimu. Bukannya aku tidak menginginkan kejadian semalam…hanya saja, aku takut…aku takut dengan akibat yang akan terjadi…aku..aku juga mencintaimu Marc…aku tidak ingin lari lagi darimu..aku sudah lelah terus menghindar darimu…maafkan aku..” jelas gadis itu lesu. Kepalanya menunduk, bukti kalau dia menyesal sudah menyusahkan pria itu selama ini.

Tapi, Nana juga takut akan mempermalukan ayahnya nanti. Apalagi ia memikul gelar sebagai putri presiden. Ini akan menjadi aib besar keluarganya.

 

“Aku mengerti. Dan aku akan bertanggung jawab penuh atas itu. Aku yang sudah membuatmu begini…kau tidak salah..” ujar Marc lembut sembari membawa gadis itu kedalam pelukannya, “..sepulang kita dari sini, aku berjanji akan langsung menemui ayahmu. Aku akan memintamu darinya…dan semoga saja dia bisa merelakan putri bungsunya ini untukku..” tutur Marc sembari tesenyum. Pria itu kemudian mengecup lembut pucuk kepala Nana dan makin mendekap hangat tubuh mungil gadisnya itu.

Sekarang, Nana lebih tenang dari sebelumnya. Ia senang dengan tekat Marc. Tapi..bagaimana dengan ayahnya? Apa yang akan pria itu katakan nanti? Apa pria itu akan menerima Marc dengan mudah?

 

& & & & & & & &

 

“Kenapa kau baru bilang pada oppa?” tanya Hyun Ki dingin. Pria itu menatap adiknya yang kini menunduk didepannya itu dengan tajam. Pria itu jelas nampak marah dengn pengakuan adiknya. Ia kecewa kenapa adiknya tidak memberitahukan itu lebih awal padanya.

 

“Mianhe, oppa..jeongmal mianhe..(Maaf kak, aku benar-benar minta maaf..)..tapi aku mencintainya kak…bantu aku bicarakan ini dengan ayah. Aku sangat mencintainya kak, dan kakak lihat sendiri betapa rapuhnya aku ketika aku jauh darinya kak…ketika aku tersakiti oleh kebodohanku sendiri. Sekarang..sekarang ia datang lagi dan membawa cinta yang hangat itu lagi padaku..aku tak mau lari lagi kak..ku mohon bantu aku…” sesal Nana. Kini mata gadis itu kembali berair. Genangan itu kembali menetesi tangan Nana yang terkepal dipangkuannya.

Sebenarnya Hyun Ki sangat marah pada sikap adiknya yang tak memeberitahukan kalau ada pria itu dihotel ini. Dan malah menyembunyikan hubungan mereka. Tapi, ketika melihat betapa rapuhnya adiknya itu saat ini, hati Hyun Ki luluh. Ia dulu juga pernah seperti ini ketika memperjuangkan Na Young saat itu.

Na Young hanyalah gadis penjual bunga yang ia temui ketika hendak membeli bunga untuk ibunya yang berulang tahun.

Ia tau betapa sakitnya ketika sang ayah mati-matian hendak menjodohkannya dengan gadis pilihan ayahnya dan menyuruhnya menjauhi Na Young.

Itu tak lantas Hyun Kin lakukan. Ia terus-menerus menemui Na Young, dengan mendapat bantuan dari adiknya juga ibunya. Hyun Kin terus meyakinkan Na Young untuk bersabar melewati ini semua bersamanya.

 

“..baiklah..oppa akan membantumu..maksud oppa..kami akan membantumu..oppa yakin kalau ini diceritakan pada eomma..dia akan mengerti dan menyetujui hubungan kalian berdua..” ujar Hyun Ki lembut. Pria itu kini sudah tersenyum hangat pada adiknya, “..sudahlah..jangan sedih begitu..apa yang akan appa katakan kalau melihat matamu bengkak? Dia pasti akan memarahiku..” ujar Hyun Ki setengah bercanda. Pria itu kemudian merangkul lembut adiknya dan mengusap kepalanya dengan lembut.

Na Yaoung menatap kagum pada suaminya itu. Tidak sering Hyun Ki bersikap begini. Biasanya ia lebih sering bertingkah konyol. Dan membuat adiknya selalu kesal padanya.

Tapi kini, yang Na Young lihat. Hyun Ki adalah sosok kakaknya yang lembut dan hangat. Itulah sebabnya Na Young selalu percaya pada pria itu.

& & & & & & & &

 

“Eommo..putriku?? apa benar yang oppamu bilang ini?” tanya wanita itu terkejut. Memang, ini sangat medadak. Tapi harus Nana sampaikan. Mengingat, Marc tidak pernah main-main dengan ucapannya. Ia selalu nekat untuk mewujudkan apa yang sudah dia ucapkan, “..sayang..eomma sangat senang mendengarnya..tapi, kau tau sendiri..yang kepala keluarga adalah appamu..eomma tak bisa berbuat banyak selain mendoakan kalian..eomma percaya padamu kalau menurutmu pria itu baik..karena kau tak pernah mengecewakan eomma..tapi ini kembali lagi pada appamu, sayang..” tuturnya lembut, kemudian membawa putrinya itu dalam pelukannya, “..eomma sangat senang akhirnya kau bisa membuka hatimu untuk seorang pria..eomma sangat bahagia ketika kau bisa merasakan perasaan seperti itu..dan eomma mau kau jangan menyerah dalam memperjuangkannya. Sekeras apapun appamu nanti, tetaplah bertahan seperti apa yang oppamu pernah lakukan dahulu. Kau tentu masih ingat kan, seberapa tegarnya oppa mu menghadapi tentangan appamu. Tapi ia tak pernah melarikan diri dari Na Young. Ia tetap memegang Na Young sampai ayahmu luluh sendiri. Kau juga harus seperti itu. Apalagi, appamu sangat mempercayaimu..dia pasti juga akan percaya dengan pilihanmu..” tuturnya lagi sembari terus mengusap lembut kepala putrinya itu.

Nana merasanya nyaman sekarang. Ia bahkan mendapat seluruh keberaniannya kini. Hanya dengan berada dalam pelukan wanita inilah. Nana bisa menumpahkan semuanya. Tangis, tawa, juga amarahnya yang terkadang meledak-ledak itu.

 

“Gumawo eomma..gumawo..(Terima kasih ibu..terima kasih..)” ujarnya lirih. Nana membenamkan wajahnya didalam pelukan ibunya. Membenamkan air matanya dan juga ketakutannya. Dekapan hangat itu. Dekapan yang tak akan bisa tergantikan oleh siapapun.

 

& & & & & & & &

 

Disinilah Marc akhirnya. Pria itu berdiri dengan mantap didepan istana kepresidenan Seoul. Ia telah memantapkan hatinya untuk meminang putri kepala Negara ini.

Sebelum datang kesini, ia sudah menelepon ayah dan ibunya dan meminta restu mereka. Meski awalnya mereka sedikit terkejut ketika mendengar siapa yang akan Marc lamar. Namun, pada akhirnya mereka menyetujuinya dan menyerahkan semua itu kembali pada Marc. mereka hanya bisa mendoakan si sulung itu dari jauh.

Pria itu kini menarik napas panjangnya dan mulai melangkah masuk kedalam sana.

Didepan pintu itu sudah ada dua orang penjaga berjas hitam lengkap. Mereka menanyakan keperluan Marc, dan kemudian mempersilahkan pria itu masuk ketika sang ibu Negara sendiri yang memberi perintah.

 

“Aku sudah dengar banyak tentangmu dari putriku. Bagaimana putriku sangat mencintaimu dan aku mempercayai apa yang ia pilih. Aku harap, kau tak akan mengecewakanku. Tapi, satu hal..aku memang sudah menyetujui kalian. Tapi, tetap yang berhak atas semua keputusan menyangkut putrinya itu adalah suamiku sendiri..”, “..betapapun aku menyetujui kalian tapi aku tak tau apa yang akan diputuskan suamiku..jadi aku harap kalau kau benar-benar mencintai putriku. Perjuangkan dia. Sesulit apapun itu, kau harus tetap bersamanya. Karena…dia akan sangat rapuh tanpamu..”jelas wanita paruh baya itu panjang lebar. Marc berdehem dan tersenyum hangat pada wanita didepannya itu.

 

“Tanpa anda memintanya pun akan ku lakukan, nyonya..alasanku berada disini adalah putrimu. Jadi, aku tak akan kembali ke Barcelona sebelum mendapat lampu hijau dari suami anda.” Tegas Marc. Pria itu nampak tenang. Ia begitu yakin dengan keputusannya.

Ini sebuah angin segar untuk Marc. Ia sudah mendapat restu dari ibu Nana. Sekarang, tinggal pria paruh baya yang adalah tuan presiden itu.

Seperti yang ibu Nana katakan. Kalau Marc benar-benar mencintai Nana, Marc harus memperjuangkan gadis itu. Sesulit apapun, Marc harus berjuang. Toh…bukannya cinta itu butuh pengorbanan dan perjuangan?

“Terima kasih, Marc…jangan kecewakan aku kalau begitu.” Ujar wanita itu sembari membalas senyum hangat Marc.

To Be Continued..

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s