Posted in A-Fanfiction

Love at Special Course

FF ini adalah FF request dari @dinta21…

Hope you like, dear..😀 Enjoy😀

* * * * * * * *

Cervera Senior High School
Tidak Lulus
Dinta permadani | 1 8 1 0 9 5
Acceleration Course

“Tamatlah riwayatku..” sesal Dinta. Gadis itu terus menatap kertas kecil dihadapannya dengan lesu. Andai saja dia memiliki kekuatan super, mungkin saat ini pun dia akan memutar waktu kembali. Dan kembali lagi mengikuti ujian itu dengan lebih sungguh belajar. “Ayah pasti akan membunuhku..”
Angin pagi itu berhembus cukup kencang sampai-sampai kerta kecil yang digenggam lesu Dinta terlepas begitu saja dari tangannya.
“AAAHH!! Tunggu!”
Seketika dari belakang Dinta, muncul sosok seorang anak lelaki seumurannya yang entah dari mana datangnya, membantu Dinta menggapai kertas itu.
Tubuhnya yang tinggi mempermudahnya mengambil kerta yang terbang sudah lumayan tinggi itu.
“Dia tinggi sekali..” batin Dinta. Gadis itu menatap bingung kearah anak lelaki itu.
“Ini punyamu?” ucap anak lelaki itu sembari menyodorkan kertas milik Dinta itu.Senyumnya bahkan membuat Dinta tak sanggup untuk sekedar mengucapkan terima kasih.
Hanya anggukan yang bisa gadis itu jawabkan pada anak lelaki itu.
Tanpa banyak basa-basi lagi, segera anak laki-laki itu pergi meninggalkan Dinta yang masih sibuk dengan pikirannya.

     

Musim semi, usia 17 tahun. Ini masa paling kritis dalam hidupku. Terlempar dari sekolahku di Indonesia, dan sampai ke sini. Cervera Senior High School. Sekolah ini, punya kelas yang top, jadi favorit disekolah ini, “Acceleration Course”. Dan ada juga “Special Course” kumpulan orang punya bakat dalam bidang olahraga, kesenian, dan lain sebagainya.
Awalnya, pilihan pertamaku adalah “Acceleration Course”. Tapi…aku gagal ujian masuk.

‘DUUUK!’
“Ma-maaf..maaf..” Dinta kemudian mendongkak, menatap siapa yang baru saja ditabraknya. Dan..
“Anak baru, ya?”
Pria berbadan tambun dan tinggi itu sudah menatap sangar kearah Dinta yang hanya memiliki tinggih tak setengah darinya.
A-aku akan ditelan…batin Dinta. Tubuh gadis itu bergetar hebat. Ia ketakutan bukan kepalang. Orang-orang asing ini. Tubuh mereka tinggi dan besar. Warna kulit mereka bahkan sangat jauh berbeda dengan warna kulit Dinta yang kuning langsat.
“Wah! Ada anak perempuan dikelas kita. Tumben..Maria! Kau ada teman.”
“Hei! Aku Maria Herrera. Kau dikelas ini juga, ya?”
Astaga! Jadi anak perempuan dikelas ini hanya dua orang ditambah denganku? Dan lagi…lihat mereka. Ada yang bertindik. Ada yang Mohawk..Ya Tuhan..kelas macam apa ini?
“Dinta Permadani!”
Sontak suara itu membuat Dinta berbalik. Dan..
“Kau..” bisik Dinta lebih pada dirinya sendiri. Gadis itu kaget bukan main ketika melihat anak laki-laki itu lagi disini.
“Jangan duduk disana! Mengganggu!” ketusnya.
Dia tau namaku? Dari siapa? Oh iya…kertas yang kemarin. Astaga! Itu memalukan!
“Alex! Dia ini teman baru kita dan anak perempuan kedua yang masuk ke kelas kita. Tapi…dari mana kau tau namanya? Kami saja belum mengenalnya.”
“Kau tidak perlu tau..”
“Oh ya, Dinta. Ini Alex..dia itu sprinter andalan dikelas ini, lho. Larinya kencang sekali.”
Memangnya aku bertanya siapa dia, ya? Tidak. Hmm…sprinter andalan, ya? Baguslah kalau begitu. Tapi, sama sekali tak ada urusannya denganku, kan?
“Ini keriting asli?”
Tanpa Dinta sadari, Alex sudah berada tepat didepan wajahnya. Tangan anak lelaki itupun sudah menyentuh rambut hitam panjang bergelombang milik Dinta.
Jelas Dinta kaget bukan main, dan dengan reflex gadis itu mundur dengan panic.
“I-ini keriting asli..”
“Hmm…kayak Medusa.”
Apa? Kayak Medusa katanya? Yang benar saja?
“Lihat! Baju ini pasti cocok untuk Medusa.” Tunjuk Maria pada gambar gaun yang baru saja ia buat. Entah kapan gadis itu mulai menggambar.
“Dan aku yang akan mengalahkan Medusa.” Pekik angkuh anak lelaki berbadan tinggih dan tambun itu.
Ya Tuhan..aku terdampar ditempat mengerikan. Dalam krisis kehidupanku ini..aku terdampar didaerah tanpa hukum. Namanya “Special Course”.

     

‘PIK PIK’
“Hosh..hosh..hosh..”
“Astaga! Dinta. Kau ini lari..atau jalan santai? Masa 50 meter saja, 15 detik?” ujar Henry prtihatin sembari mentap kearah Dinta dan Stopwatch secara bergantian.
“Kenapa juga sih harus ada lomba lari antar kelas begini? Dalam kelas kita, anak perempuan kan hanya dua orang. Aku dan Dinta. Kalau aku sih kuat lari, tapi Dinta?” Maria mulai nampak putus asa. Gadis itu sudah menjongkok lesu.
“Maksudnya apa? Ini sebenarnya ada apa?” tanya Dinta polos. Gadis itu merasa seperti dia sedang dipelonco sekarang.
“Ini. Baca!”

Cervera Senior High School
Lomba Lari Antar Kelas
Dimulai Tanggal 5. Dan untuk setiap kelas, diwakili oleh 6 peserta.

“Ini saatnya kita membalas perlakuan murid-murid Acceleration Course kepada kita selama ini.” Ujar Ray bersemangat sembari menunjukkan selebaran itu kepada Dinta.
“Kau mengerti kan, Dinta.”, “..lalu? bagaimana kalau sampai kalah?” Kini Ray dan Henry mulai menatap mengancam kepada Dinta.
Aku pasti akan dibantai…
“Tidak apa-apa teman-teman…aku juga akan ikut berlari. Kita tidak mungkin kalah.” Ujar Alex dengan yakin. Senyum lebar seakan menambah rasa yakin teman-temannya yang mulai putus asa itu.
“Iya. Benar juga. Kan ada Alex, ya?”
“Iya. Kita pasti menang!”
Semuanya berseru girang, sedang Dinta hanya menatap heran kearah sekumpulan anak-anak bahagia itu.
Mereka tak nampak gugup sedikitpun. Bahkan, mereka punya tekat yang mungkin kalau dipikir sangat tidak masuk akal.
Jadi ini semua dijadikan ajang balas dendam, ya? Memangnya, apa yang dilakukan anak-anak Acceleration Course pada mereka?
“Oh ya..agar mengacaukan konsentrasi lawan. Bagaimana kalau kau lari dengan pakaian renang?”
Pernyataan super konyol Alex itu sontak membuat sekujur tubuh Dinta bergetar hebat. Enak saja! Apa dia sudah gila? “Eh??!! Ma-mana bisa begitu?! Ma-masa pakai baju renang?” Tapi..kalau dipikir-pikir lagi. Apa yang anak ini sarankan ada benarnya juga. “..tapi, aku hanya punya baju renang sekolah.” Kini gadis itu berbicara dengan polosnya.
“HAHAHAHAHAHAHA!!!! Kau serius sekali! Kami kan hanya bercanda!”
“Nah! Bagaimana kalau pakai bikini saja!”
Aku sama sekali tidak mengerti. Apa yang akan terjadi padaku nanti?!

     

“Hosh..hosh..hosh..mati..aku hanya kuat lari 2 kilometer..” latihan selama seminggu memangnya bisa mengubah keadaan? Mana bisa aku jadi wakil kelas dilomba lari..
Langit mendung itu akhirnya memuntahkan guyuran hujan. “Hu-hujan!!” segera Dinta berlari mencari tempat berteduh. Untung saja disekitar situ ada taman bermain. Jadi, Dinta bisa berlindung dirumah kurcaci pada taman itu.
“Ya Tuhan..kenapa begini? Hiii!!! Rambutku mekar gara-gara lembab!”
“YA TUHAN!!!” pekik Alex terkejut bukan main, “..lho? ternyata Dinta. Kupikir ada monster tadi. Sedang apa kau? Menyasar?” tanya anak laki-laki itu sembari ikut masuk kedalam rumah kurcaci itu.
Monster? Medusa? Lalu apa lagi?
“Aku tadi sedang jogging..tiba-tiba hujan..”
“Aku juga..padahal sedang asyik lari.”
“…”
“Jangan pelototi aku begitu.”
“Bu-bukan begitu. Ka-kau ini betul-betul suka lari, ya?”
“Memangnya salah, ya?”
“Bukannya salah..tapi..kau hebat, ya? Bisa melakukan yang ingin kau lakukan…”
“Kau sendiri..”
Kini Alex mulai menatap tajam kearah Dinta. Tapi, entah mengapa pertanyaan Alex itu seperti tombak yang menusuk hatinya. Tidak sakit. Hanya membuatnya sedikit sadar akan satu hal.
“Kenapa kau ikut ujian masuk Acceleration Course?”
“Aku..ingin jadi dokter. Aku harus meneruskan rumah sakit keluarga. Semua keluargaku di Indonesia rata-rata berasal dari kelas Akselerasi.”
“Tu-tunggu dulu..kau dapat nilai berapa sebelum ujian?”
“Dapat A.”
“Lalu kenapa gagal?”
“Sehari sebelum ujian, aku keracunan makanan..jadinya, aku tak bisa fokus.”
“….”, “HAHAHAHAHA!!! Kok begitu? Keracunan makanan? Hahahaha…”
“I-ini bukan lawakan, kau tau! Aku…hanya bisa belajar. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku bahkan tidak punya bakat dan hobi seperti kau, Alex.”
Senyum hangat tersungging dibibir Alex. “Sama saja kan?” ujar Alex membuyarkan pemikiran Dinta. Gadis itu lantas berbalik menatap Alex. “Kau bukan hanya bisa belajar..tapi, kau punya bakat belajar kan?”
Sejenak Dinta tertegun dengan ucapan Alex tadi.
“Astaga..kakiku lecet. Pantas dari tadi aku merasa perih dikakiku. Oh ya, kau punya plester?”
“GYAAAAAAAAA!!!!!!”
“Ke-kenapa kau?? Ada hantu?? Atau apa??”
“Ti-tidak..hanya saja..aku..aku..aku takut darah..”
“Dan kau masih mau jadi dokter?”
Aku kaget…aku sama sekali tak pernah berpikir..belajar bisa jadi kekuatanku. Rasanya…aku senang juga.

     

“Akhirnya..hari ini tiba..”
“Hei, lihat tidak? Anak-anak Special Course. Mereka bikin T-Shirt kembaran, lho.”
“Masa? Jadi tambah konyol laah! Mereka itu tidak tau diri sekali. Bikin sakit mata saja.”
Apa yang mereka bicarakan? Mereka tidak tau apa-apa! Kenapa mereka bicara begitu? Mereka salah! Sangat salah!
“Jangan asal bicara, ya! Terong!”
“Te-terong?”
“Memang penampilan mereka memalukan. Tapi..mereka punya hati yang baik. Mereka juga kompak dan setia kawan. Tidak seperti kalian. Egois! Mereka terus berjuang dan tak kenal menyerah. Jadi…”
Astaga! Aku terlanjur menantang mereka. Mereka bahkan sedang memelototiku. Apa yang harus aku lakukan? aku takut sekali..seseorang..tolong aku..Alex!
“Hmm..melihat para idiot bertanding? Mengganggu saja!”
‘BRUUUKK’
A-apa yang…kenapa mereka mendorongku…aku..aku akan mati jatuh dari tangga setinggi ini…tolong!!
“Eh?!”
“Ternyata kau berani juga, ya? Dari mana sebutan terong itu?”
“Alex? Kau tidak apa-apa? Maaf, ya? Kau terluka?”
“Tidak. Hanya keseleo sedikit. Wah! Sampai keluar darah nih!”
“….”
“Lho? Kau tidak takut, ya?”
“Ayo ikut aku ke UKS. Aku akan membalut lukamu.”
Aku tidak perlu takut lagi. Ini semua berkat kau, Alex. Aku tidak akan takut lagi. Pada darah…atau apapun. Aku akan lebih percaya pada diriku sendiri. Aku akan berusaha keras.
“Wah! Hebat! Kalau pakai ini, kurasa aku bisa lari. Anak dokter memang beda, ya? Kau sudah tidak takut darah lagi kan?”
“Syu..syukurlah..” Eh?! Kenapa aku menangis? Kenapa air mata ini…
“Apanya?”
“Kaki…aku takut…aku takut kau tak bisa lari lagi..” Aku takut telah menghancurkan masa depan Alex.
“Kau terlalu bodoh dan lugu…Kau kira, aku ini siapa? Kalau hanya ini tak akan membuatku lumpuh!”, “..Oh ya..hari ini, kalau kita juara satu..”
‘TING TONG’ “Alex dan Dinta dari kelas 3-F segera kelapangan! Gawat!!”
“Ayo pergi.”
Kalau kita jadi juara 1…apa lanjutannya?
Sorak sorai terdengar diseanteru lapangan. Mereka saling memberi semangat satu sama lain. Sedang, persaingan diarena sana begitu ketat.
“Se-sekarang kita peringkat keberapa?” tanya Henry dengan panic.
“Kita urutan Sembilan..” jawab Tommy ikutan panic. (Si badan tambun)
“Astaga! Ayo, Dinta! Kau pasti bisa!”
Aku akan berusaha! Aku tidak mau mengecewakan mereka. Mereka punya harapan yang besar. Bahkan mereka sudah dihina. Aku tidak terima. Ini kesempatan kami. Kami tidak boleh kalah!
“Nya-nyaris…A-AYO LARI, ALEX!” pekik Dinta bersemangat. Gadis itu lantas terus melekatkan pandangannya pada punggung kurus Alex itu. Kalau kita juara satu..dan kalau kita jadi juara satu…
“KITA MENAAAANNGGG!!!” seru murid-murid Special Course 3-F sembari melompat kegirangan. Mereka menangis terharu. Ini yang pertama kalinya mereka bisa menang saing dengan Acceleration Course. Dendam mereka akhirnya terbalas.
“A-Alex…kalau kita jadi juara satu…lalu apa?” Astaga..lagi-lagi aku menangis. Ada apa ini? Memalukan sekali!
“Kalau kita jadi juara satu..nanti akan kutraktir.”
“Waahh?? Boleh, ya? Kalau begitu, aku mau Pasta saus tuna pedas..spagetti juga boleh..”
“Bohong kok..”
Eh?! Maksudnya…apa?
“Kau bisa jadi dokter..dan pelari sprinter terhebat didunia..butuh seorang dokter untuk mendukungnya kan?”, “..ngg..serius kau dapat nilai A waktu ujian masuk?”
A-apa maksudnya? Aku tidak mengerti? Membingungkan..
“Ya ampun..keahlianku..” seru Alex sembari mengacak-acak rambutnya frustasi. Sekarang, wajahnya sudah terlihat merah padam. Melihat wajah Alex yang merah padam itu, Dinta pun tak kuasa menahan malunya. Wajahnya pun ikut-ikutan panas sekarang.
“Dan kalian…JANGAN MENGINTIP SEPERTI ITU!!” Alex kemudian menggenggam tangan Dinta lembut dan membawa gadis itu pergi dari situ.
Angin baru bertiup, menuntun masa depanku ke garis finish yang belum terlihat. Dan…aku tidak hanya berlari sendiri sekarang…bukan hanya aku…tapi kami..dan Alex…pacarku..pelari sprinter terhebat.

The End

 

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s