Posted in Marc Marquez FanFic

You Belong With Me (Chapter 4th)

BeFunky_YouBelongWithMe.jpg

Here the 4th Chapter🙂 Hope you enjoy guys😀 and Happy reading😀

!!NO SILENT READER!! !!PLEASE, LEAVE ‘COMMENT’ OR ‘LIKE’!!

Cerah mentari pagi ini sama cerahnya dengan hati Sam. Bagaimana tidak. Pagi ini, tumben Marc hanya mau ke kampus berdua saja dengannya. Bahkan pria itu tak segan-segan mengusir adiknya sendiri dari dalam mobil. Hingga akhirnya, dengan terpaksa Alex harus ke kampus dengan Honda CBR 150cc miliknya.
“Kau senang sekali. Dari tadi senyum terus..seperti orang gila.”
Marc mulai terkikik pelan sembari terus menyetir.
“Cih! Dasar!”
Dasar bodoh! Bagaimana aku tidak senang, Marc. Tidak biasanya kita seperti ini kan? Didalam mobil ini, hanya berdua. Tidak ada ocehan Alex. Hanya kita berdua.
“Kenapa kau melihatku seperti itu? Haaa..aku tau! Kau terpesona pada ketampananku pagi ini kan? Yaaahh..itu sudah biasa untukku.”
Lagi-lagi banyolan konyol itu keluar dari mulut Marc dan membuat Sam tertawa lepas. Gadis itu tak habis pikir kalau Marc bisa jadi se-PD ini.
“Memang iya? Wajahmu hari ini aneh!”
“Aneh? Apanya yang aneh? Matamu rusak, ya? Aku sudah setampan ini dibilang aneh?”
“Siapa bilang kau tampan? Wajahmu itu mirip sekali dengan character Gollum di film The Hobbit.”
“Gollum???!!! Sejelek itu?? Matamu benar-benar sudah rusak Samantha!”
Marc mulai kesal dan merajuk. Pria itu nampak manis kalau sedang merajuk seperti ini. Tapi, setidaknya biar hanya hati Sam yang tau kalau dalam keadaan merajuk seperti ini pun, Marc tetap manis.
“Jangan merajuk begitu. Kalau kau merajuk begitu, kau bahkan lebih jelek lagi dari Gollum.”
“Samantha!!!!”
Gadis itu tak bisa menahan tawanya lagi. Tawanya lepas begitu saja. Perutnya terasa geli. Dan Marc mulai menatap merajuk kearahnya.
“Kau senang sekali menghinaku seperti itu? Kau jahat sekali.” rajuk Marc memanja.
Inilah Marc yang Sam kenal. Marc yang selalu menunjukan dirinya apa adanya. Tapi entah mengapa, dia hanya menunjukan dirinya ini pada Sam. Tapi, tidak kepada Ann, pacarnya sendiri.
Setidaknya aku lebih suka Marc yang suka merajuk dan manja ini, ketimbang Marc yang sok cool dan dingin dihapan gadis lain.

# # # # # # #

“Tumben sore ini kalian tidak pulang dengan Alex? Kemana anak itu?”
Austin bertanya dengan heran kepada Sam yang hanya menjawabnya dengan mengidikkan bahu, tanda kalau gadis itu pun tak tau kemana Alex pergi.
“Tadi pagi juga kalian tidak kekampus bersama, kan? Jangan-jangan dia merajuk dan tidak kekampus?”
“Bisa jadi.”
Dari arah sana, Marc sudah berlari kecil dengan wajah super bahagia. Entah berita apa yang ia bawa sekarang.
“Kau senang sekali Marc? Menang undian berhadiah?”
Tanya Austin setengah menggoda.
“Tidak. Kalian mau tau saja..oh ya, dan kau belum pulang Austin?”
“Belum. Aku masih menemani Sam disini. Katanya dia menunggumu untuk pulang bersamamu. Bukan begitu, Sam?”
Lagi-lagi Sam hanya mengangguk. Gadis itu kemudian menatap kearah Marc. Ada yang janggal yang Sam rasakan sekarang. Seperti ada firasat tidak baik.
“Eum..bagaimana, ya? Sam..maaf, aku tidak bisa pulang denganmu. Austin..kau bisa antarkan Sam pulang kan?”
“Lho? Kenapa? Aku sudah capek-capek menunggumu disini..”
“Bukan begitu, Sam…anu..itu..aku..harus mengantarkan Ann pulang.”
“Bukannya kalian sudah putus?”
Austin mulai bingung dengan keadaan ini. Padahal baru kemarin Sam bercerita dengan girangnya pada Austin kalau Marc dan Ann sudah putus. Tapi..kenapa begini?
“Iya. Tapi…kami…sudah…sudah..”
“Sudah balikan?”
Sam berusaha menyambung kalimat Marc yang terbata-bata itu. Dalam hati, gadis itu berharap, semoga saja apa yang ia tebak itu salah.
“I-iya..kami sudah balikan.”
Entah memang tadi ada kilat yang menyambar atau tidak. Tapi, seperti itulah perasaan Sam sekarang. Bahkan ia seperti sedang tersambar petir sekarang.
Ada rasa sedih, kecewa dan sakit yang bercampur didalam dadanya. Air matanya pun siap turun kapan saja ia mau, kalau saja Austin tidak cepat memotongnya dengan menyalami Marc.
“Selamat, bro. Kalau begitu kau harus cepat, kan? Nanti ada masalah baru lagi..Nah, Sam denganku saja. Aku berjanji padamu dia akan baik-baik saja.”
Apakah…yang tadi pagi itu hanya mimpiku? Atau…aku yang terlalu mengharapkan yang berlebihan? Tidak…memang yang tadi pagi itu bukan mimpi…tapi…hanya aku yang salah…salah karena terlalu banyak berharap.
Gadis itu masih membatu. Kakinya seakan kaku sekali untuk sekedar melangkah. Bahkan, gadis itu tak sadar kalau Austin yang menariknya keparkiran dan menududukannya didalam mobil pria itu.
“Sam..kau tidak apa-apa, kan?”
Sam tak mendengar apapun. Yang terngiang ditelinganya hanyalah pengakuan Marc tadi. Ia bahkan tak merespon sama sekali pertanyaan Austin.
“Sam..Hei..”
Austin menggenggam lembut tangan Sam, barulah gadis itu menoleh dengan air mata yang mulai jatuh dipipinya yang bersemu merah.
“Kau tau, Austin…padahal..aku sudah berharap kalau dia tak akan kembali lagi pada wanita itu. Aku sudah berharap kalau kejadian tadi pagi adalah satu pertanda untukku kalau aku masih punya kesempatan..tapi…tapi aku terlalu bodoh dan banyak berharap..”
Tangis gadis itu pun pecah. Austin tak sanggup melihat gadis yang dia sukai itu menangis. Dengan lembut, Austin membawa Sam kedalam pelukannya. Ia memeluk gadis patah hati itu dengan hangat dan lembut. Sampai-sampai, Austin dapat merasakan tiap isakkan Sam didadanya. Austin ingin melindungi gadis ini. Ia ingin menghentikan air mata gadis ini. Tapi bagaimana caranya? Sebab, Austin tau. Satu-satunya orang yang dapat melakukan semua itu bukanlah dirinya..melainkan Marc. Pria yang saat ini ditangisi oleh gadis itu.
Sam terlelap. Ia terlalu lelah menangis, sampai-sampai ia tak sadar kalau sekarang mobil Austin sudah terparkir dihalaman rumahnya.
Merasa tak enak membangunkan gadis itu. Austin memutuskan untuk menggendong Sam dan membawa gadis itu masuk kedalam rumahnya.
“Austin! Ada apa dengan Sam?”
Tanya ibunda Sam dengan cemas. Wanita itu bahkan sampai lupa kalau ia sedang memasak didapur dan makanan itu hampir hangus.
“Tidak apa-apa, tante. Dia hanya kelelahan. Mungkin terlalu giat belajar.”
Austin kemudian naik keatas, mengantarkan Sam kekamarnya. Gadis itu masih terlelap. Sampai akhirya, Austin membaringkan tubuh mungil itu diatas tempat tidur.
“Kuharap..besok kau sudah melupakan kejadian ini, Sam. Kau tak perlu cemas..ada aku..ada aku yang selalu mencintaimu. Dan aku berjanji akan membuatmu bahagia.”
Bisik Austin kemudian mengecup kening Sam lembut. Tak lupa Austin menyelimuti gadis itu dan keluar dari dalam kamar Sam.
Aku akan berusaha untuk membahagiakanmu, Sam…percayalah padaku..meski harus aku yang tersakiti…asal itu demi kebahagiaanmu..akan aku lakukan..

# # # # # #

“Kudengar, Marc kembali lagi dengan Ann. Apa itu benar?”
“Yaahh..begitulah. Itulah alasan kenapa Sam hari ini tak masuk.”
Austin menyeruput jus jeruk miliknya sambari bertopang dagu dimeja Cafeteria.
“Aku penasaran bagaimana keadaan Sam, ya?”
“Kemarin kau kemana saja? Kasihan dia…dia menangis sampai kelelahan. Aku jadi kasihan..”
Kedua pria itu lantas terdiam sejenak sampai akhirnya ponsel Alex bergetar.
“Ini Sam! Halo, Sam..”
“Hai Alex…kau sedang bersama Austin?”
“Iya. Ada apa? Kau baik-baik saja kan? Suaramu lesu sekali.”
“Aku baik-baik saja, Alex. Oh ya, boleh aku bicara sebentar pada Austin?”
Alex segera menyodorkan ponselnya pada Austin yang menatap bingung kearah Alex.
“Dia mau bicara denganmu.”
“Iya. Halo, Sam. Kau baik-baik saja, kan?”
“Aku baik-baik saja, Austin. Oh ya, terima kasih kemarin kau sudah mengantarku sampai rumah. Maaf sudah merepotkanmu.”
“Tidak masalah, Sam. Tapi kau benar baik-baik saja, kan?”
“Iya. Aku baik-baik saja, hanya sedikit kurang enak badan saja.”
“Eum…kalau begitu. Sepulang kampus, aku, Alex dan Karen main-main kerumahmu, ya? Sekalian..kami mau mengantarkan proposal prom night untuk bulan depan, setidaknya wakil ketua senat kami ini harus tau kan?”
“Hehe..iya. Maaf sekali lagi merepotkanmu. Oh ya, aku mau istirahat dulu. Kepalaku pusing sekali. Sampai jumpa.”
“Sampai jumpa.”
Austin kemudian memutuskan sambungan telepon itu dan menyodorkan kembali ponsel milik Alex itu kepada tuannya.
“Bagaimana?”
“Yaah..bagaimana kalau kita menghiburnya sepulang kampus ini? Jangan lupa ajak pacarmu itu!”
“Beres! Kau tenang saja.”
Aku tau kau tidak sedang baik-baik saja Sam. Aku tau kau baru habis menangis, kan? Suaramu bukan lesu…tapi serak…karena kau lagi-lagi menangis..dan aku benci melihatmu terus sakit hati seperti ini..

To Be Continued…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

4 thoughts on “You Belong With Me (Chapter 4th)

  1. Yahhhhhhh kenapa CLBK ???
    Apa istimewanya si Ann diakan sudah selingkuh dibelakangmu Marc !

    Uhukkk kapan2 bikin spesial chapter karen+alex lagi yah *kedip mata*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s