Posted in Marc Marquez FanFic

You Belong With Me (5th Chapter)

BeFunky_YouBelongWithMe.jpg

Here the 5th Chapter🙂 Hope you enjoy, guys😀

!!NO SILENT READER!! !!MUST LEAVE ‘LIKE’ OR ‘COMMENT’!!

Than you and Happy Reading😀

* * * * * * * *

      “Sam..kau baik-baik saja kan?”
Alex mulai berjalan perlahan mendekat kesamping ranjang Sam. Gadis itu duduk dengan lesu sembari memaksakan seulas senyum.
“Aku baik-baik saja, Alex. Kau sendiri saja? Dimana Austin dan Karen?”
“Iya. Austin dan Karen sebentar lagi datang. Mereka masih ada sedikit urusan dikampus. Oh ya, Sam..aku sudah dengar semuanya dari Austin. Maaf ya, kemarin aku tidak bersama-sama denganmu.”
“Sudahlah, Alex. Aku baik-baik saja. Kau juga tak ada salahnya kok. Tak perlu minta maaf begitu.”
Lagi-lagi Sam memaksakan seulas senyum dibibirnya. Namun, nampak jelas dimatanya kalau gadis itu masih merasa sedih atas kejadian kemarin.
“Sam..jangan bohong padaku. Aku kenal kau. Kita bukan baru saja berkenalan. Kita sudah berteman dari kecil. Kumohon..kalau kau bisa menyembunyikan ini dari Marc. Tapi, jangan sembunyikan rasa sedihmu dariku.”
Alex sudah menggenggam lembut tangan Sam. Ya, Alex sangat menyayangi Sam. Ia sudah menganggap Sam seperti kakak kandungnya sendiri. Dan untuk saat ini, ketika gadis itu terluka. Entah mengapa, Alex pun ikut terluka. Gadis itu terlihat begitu rapuh dan tak berdaya. Ia tak seceria kemarin.
“Alex..kau itu adikku yang paling baik. Terima kasih selama ini sudah mau mendengarkanku. Terima kasih sudah mau menjadi adik yang paling baik untukku.”
“Sam..”
Air mata Sam kembali mengalir. Dan lama kelamaan makin menderas. Dengan lembut, Alex membawa Sam kedalam pelukannya dan ikut menangis bersama gadis itu.
Alex tak pernah tega melihat Sam menangis. Apalagi sampai dengan keadaan yang seperti ini.
Sedang didepan pintu kamar Sam sana, Austin dan Karen menatap haru kepada kedua orang disana.
Perlahan Austin dan Karen masuk kedalam kamar Sam.
“Sam..”
Tegur Karen lirih. Gadis itu langsung saja memeluk Sam dengan erat, menangis bersama gadis itu. Sedang Alex sudah melepaskan pelukannya dari Sam.
Hanya inilah yang bisa mereka lakukan. Memberikan kekuatan kepada Sam.

# # # # # #

      “Hmm..kupikir Vheea tak akan memberitahuku soal proposal ini.”
“Mana mungkin? Dia sendiri saja sudah lumayan kerepotan.”
Ujar Austin sembari duduk disisi ranjang Sam. Gadis itu sudah kelihatan lebih baik sekarang setelah tadi sudah banyak menangis.
“Hmm..sepertinya ini harus kuberikan kepada ayahku. Kalau soal lobi-melobi itu bukan keahlianku. Semoga saja, ayahku mau membantu.”
“Aku yakin ayahmu bisa membantu. Dan lagi..dana yang diperlukan untuk prom tahun ini lumayan besar, lho!”
“Ini pekerjaan yang berat.”
Sam sudah memegang tengkuknya. Menatap angka yang ada didalam proposal itu saja sudah membuat tubuh Sam pegal semua.
“Kupikir ini akan lebih mudah kalau kami juga ikut membantu. Itupun kalau kau mengijinkan.”
Ujar Austin sembari mengambil dokumen proposal yang ada ditangan Sam. Pria itu sudah tersenyum lembut kepada Sam.
“Bagaimana?”
“Kalau kalian memaksa apa boleh buat?”
Sam tersenyum. Meski itu belum bisa disebut senyum yang tulus. Hati gadis itu masih nyeri. Luka yang ada masih belum mengering betul. Tentu saja, masih sulit bagi gadis itu untuk tersenyum.
Andai dia tau..andai dia tau siapa gadis yang lebih mencintainya..pasti semuanya tidak akan jadi seperti ini..harus ada pelajaran yang ia dapat…

# # # # # #

     Pagi ini bukan pagi yang baik untuk Sam. Bukan tidak, entah kenapa harus sepagi ini gadis itu melihat wanita yang bahkan tak ingin ia temui.
“Selamat pagi, Samantha.”
Tegur Ann dengan suara manis dibuat-buat. Sedang Sam hanya menatap datar kearah gadis itu.
“Kenapa kau? Wajahmu tidak bersahabat sekali..Owh,,aku tau…ini pasti ada hubungannya denganku juga Marc, ya? Uuuhh,,kasihan..kau seharusnya tau. Kalau kau tak akan pernah bisa menang dariku, cantik.”
Sam mengepal tangannya kesal. Ingin sekali ia menonjok muka munafik Ann itu sekarang, untung saja Sam masih tau batasan tempat.
“Oh ya..soal Marc..sebaiknya kau menyerah, Samantha. Tak ada gunanya lagi kau berjuang untuk mendapatkannya. Karena hanya aku..yang Marc cintai sekarang. Mengerti? Kalau begitu..aku masuk kelas dulu, ya? Daa Sam..”
Gadis itu benar-benar membuatku muak! Sial! Kenapa juga aku mau mendengarkan setiap perkataannya.
Tapi…apa yang ia katakan tidak ada yang salah…semuanya benar..memang aku tak akan pernah bisa menang darinya..dan mungkin benar juga kalau sebaiknya aku harus mundur dari pertarungan yang sia-sia ini…Ya..memang itu yang paling baik…
“Jangan dengarkan dia. Karena sebenarnya yang tak pantas untuk Marc cintai itu dia, bukan kau..jadi, kalau kau memang mencintai Marc. Jangan berpikir untuk menyerah.”
Austin yang baru saja datang itu, lantas menguatkan tekad Sam. Yang sebenarnya mungkin akan sia-sia saja.
Sam sudah bertekat untuk menyerah. Gadis itu bahkan hampir tak punya harapan lagi.
“Tidak, Austin. Kurasa semuanya sudah cukup. Aku sudah terlalu sibuk membuang-buang waktuku hanya untuk hal yang tidak nyata. Jadi…sebaiknya aku segera bangun dari mimpiku ini…dan kembali kepada kenyataan.”
“Maksudmu? Kau menyerah?”
“Iya. Karena sedari awal seharusnya aku tak perlu mencoba. Karena, aku sendiri seharusnya sudah tau jawabannya.”
Sam berjalan dengan langkah lesu masuk kedalam kelas, sedang Austin mengikuti Sam dengan masih terus bertanya didalam hatinya. Apa sungguh Sam sudah menyerah?
Sore itu Sam sengaja berlama-lama diperpustakaan supaya tidak melihat Marc.
Gadis itu sekarang memiliki misi baru. Yaitu, berusaha untuk menghindari Marc.
“Tidak baik terus-terusan menghindar darinya, Sam.”
“Lalu..apa yang harus aku lakukan Austin? Sudah cukup aku menangis terus hanya karena melihatnya dengan wanita itu. Memang aku selalu sabar..tapi batas kesabaran itu ada Austin. Dan inilah batas kesabaranku..aku tak sanggup lagi Austin..”
Sam kembali menumpahkan air matanya dihadapan Austin. Dan kembali pria itu merengkuh gadis rapuh itu kedalam dekapan hangatnya.
“Lupakan dia Sam..kembalilah pada Sam yang aku kenal. Sam yang ceria..yang bersemangat meski sedikit cerewet. Aku sangat merindukan sosok Sam yang itu.”
Austin semakin mempererat pelukannya ketika ia merasa tubuh gadis itu makin bergetar hebat.
“Lupakan dia, Sam..dan lihat aku..aku mencintaimu, Sam..dan aku berjanji akan membuatmu bahagia seperti dulu lagi.”
Perasaan itu akhirnya Austin lontarkan. Sejenak Sam berhenti menangis dan mengangkat wajahnya, menatap Austin. Ia tak percaya kalau Austin akan mengatakan hal itu. Kalimat itu. Kalimat yang ia harapkan terlontar dari bibir Marc.
Apa ini..??

To Be Continued…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

2 thoughts on “You Belong With Me (5th Chapter)

  1. Maaf ya Cha, aku baru sempet baca2 ffmu…thx udah tag terus….
    Hari ini aku khususkan buat baca2 ffmu, aku obrak-abrik blogmu😀

    Woaaaa si Austin…diam-diam jd secret admirernya Sam toh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s