Posted in Marc Marquez FanFic

You Belong With Me (7th Chapter)

BeFunky_YouBelongWithMe.jpgHappy reading guys😀 and please do not be SILENT READER..hope you could leave ‘LIKE’ or ‘COMMENT’ bellow and would be a pleasure for me if you leave an advice for me..thank you very much😀 and enjoy😀

* * * * * * * * * * * *

      Marc berjalan dengan lesu mengikuti langkah Ann kedalam sebuah boutique. Sebenarnya Marc bukanlah tipe pria yang suka menemani wanita berbelanja. Sekalipun ibunya yang mengajaknya. Menurutnya, itu hal yang paling membosankan dan melelahkan.
Tapi sejenak rasa bosan Marc itu hilang ketika tatapannya menangkan sosok Karen yang tengah terduduk dibangku depan kamar pas. Seperti sedang menunggu seseorang. Marc terus melekatkan pandangannya kearah pacar adiknya itu, menanti apa yang juga sedang dinanti Karen.
Hingga akhirnya mata Karen menangkap tatapan mata Marc. Gadis itu nampak kaget bukan main.
Astaga! Kenapa mereka disini? Batin Karen. Gadis itu benar-benar panic sekarang. Ia hanya takut kalau Sam akan sedih lagi kalau melihat Marc dan Ann disini.
Dan gadis yang ditunggui Karen itu akhirnya keluar dari kamar pas. Secara bersamaan, namun dengan perasaan yang berbeda, Marc dan Karen menatap kearah Sam dengan gaun putih itu membalut tubuhnya.
Karen bahkan kehilangan kata-kata. Selain terlalu syok melihat Marc dengan Ann disini. Gadis itu juga terlalu kagum dengan kecantikan Sam.
Begitu juga Marc..pria itu bahkan tak fokus dengan gaun-gaun yang Ann tunjukan padanya.
“Marc..kau kenapa? Bagaimana dengan ini..”
Marc hanya tersadar sebentar untuk menggangguk sembarang kemudian kembali berpaling menatap Sam. Namun, gadis itu sudah lenyap dari sana. Ia dan Karen sudah tak ada lagi dikamar pas itu.
Entah kemana perginya kedua gadis itu. Mereka bahkan menghilang seperti hantu.
“Ssstt..jangan berisik.”
“Tapi kenapa, Karen..kenapa kita bersembunyi seperti ini?”
“Anggap saja, kita sedang dikejar depkolektor..bagaimana? Sudah! Jangan banyak tanya.”
Karen mengintip sebentar dan sosok Marc juga Ann sudah berjalan mendekat kearah kamar pas. Untung saja, boutique itu menyediakan dua kamar pas. Kalau tidak..Karen bahkan tak bisa lagi memikirkan kemungkinan selanjutnya.
10 menit sudah, kedua gadis itu bersembunyi didalam kamar pas. Hingga akhirnya sosok Marc dan Ann telah dipastikan benar-benar menghilang dari boutique itu, barulah Karen mengajak Sam keluar.
Gadis itu masih mengenakan gaun putih yang ia coba. Dan belum dilepasnya juga karena masih sibuk bermain kucing-kucingan dengan Karen.
“Bagaimana kalau aku mengganti pakaianku dulu, kita membayarnya dan pulang. Kau harus menjelaskan sikapmu tadi padaku.”
“Entahlah..anggap saja tadi aku sedang dicari oleh musuh bebuyutanku dikampus, ok?”
Sam menatap bingung kearah Karen dan kembali masuk kekamar pas untuk mengganti pakaiannya.
Ada yang aneh dengan Karen…tapi apa? Kenapa dia begitu panic tadi?

# # # # # #

      “Kau yakin tidak ikut, Gollum?😦 ”
Tunjuk Sam pada Marc. Gadis itu ikut memasang tampang sedih sesuai dengan pertanyaannya.
“Dalam 2 hari ini aku ada uji coba mesin baru dengan tim-ku, Sam…aku benar-benar tidak bisa ikut.”
Balas Marc dengan senyum lemas. Sebenarnya, Marc juga ingin ikut pada pesta yang digelar setahun sekali dikampusnya itu. Namun, ada hal yang lebih penting yang harus ia kerjakan. Maka, mau tak mau ia tak bisa ikut.
“Pasti tidak akan menyenangkan kalau kau tidak ada, Gollum😦 Oh ya, bagaimana dengan Ann?”
Meski tulisan itu membuat hati Sam berkedut, tapi Sam harus bisa membiasakan diri sekarang.
“Dia juga tidak ikut, Sam. Katanya tidak akan menyenangkan kalau tidak punya pasangan prom.”
Tentu saja gadis itu tidak akan ikut kan, Sam! Mana mungkin ia pergi tanpa Marc? Kau bodoh sekali..mugnkin dia mau menemani Marc untuk uji coba..
“Oh ya…sudah waktunya makan malam. Ayo turun untuk makan malam..jangan sampai kau sakit (^_^). Semangat, Gollum!”
Marc hanya mampu membalas dengan senyuman. Setidaknya, pria itu sedikit merasa lega. Semuanya sudah kembali seperti dahulu.
Gadis itu kembali tertawa dan tersenyum padanya. Gurauannya juga…Marc senang dan bahagia, meski itu terlihat sederhana dan biasa.
Ponsel Marc berdering dan nama Anastasya tertera dilayar datar itu.
“Hallo, Ann?”
“Marc..sayang..maaf..”
“Maaf kenapa? Suaramu aneh..kau baik-baik saja kan?”
“Yaahh..begitulah. Makanya aku minta maaf padamu kalau mungkin besok dan lusa aku tidak bisa menemanimu.”
“Iya..tidak apa-apa, Ann. Dan sebaiknya kau istirahat. Ini sudah malam.”
Marc kemudian mematikan ponselnya tanpa mendengar ucapan selamat malam dari Ann. Tidak biasanya Marc bertingkah sedingin itu pada Ann.
“Tumben kau tidak lagi memanggil Ann ‘sayang’?”
Alex yang tiba-tiba muncul didalam kamar Marc dengan pertanyaan bodohnya itu membuat Marc sedikit tersentak.
“Kau bisa kan ketuk pintu dulu, bilang permisi baru masuk?”
“Ini juga kamarku..untuk apa aku minta permisi?”
“Kamarmu? Bilang saja malam ini kau ingin menumpang tidur denganku? Dasar penakut!”
“Sekali-sekali kan tidak apa-apa..hanya kakak yang jahat dan tega saja yang tak mengijinkan adiknya tidur bersamanya.”
“Hmm..asal jangan mendengkur! Aku benci mendengar dengkuranmu yang mirip dengan dengkuran babi.”
“Enak saja! Kau juga biasa mendengkur, Marc! Bahkan dengkuranmu yang lebih mirip dengan babi.”
“Terserah kau mau bilang apa! Yang penting jangan mendengkur.”
Alex sudah berbaring diatas kasur Marc. Bahkan tak sampai 5 menit, Alex sudah pulas dan mulai mendengkur.
“Astaga..ini akan menjadi malam yang panjang untukku..”

# # # # # #

      Pagi itu tubuh Marc terasa berat. Bahkan untuk berbalik pun pria itu sangat kesulitan.
“Alex..menyingkir dari punggungku!”
Pekik Marc dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur. Dan karena tak mendapat respon, Marc langsung menghempas tubuh Alex hingga anak itu terjatuh dari atas tempat tidur.
“Dasar babi tidur! Jatuh dari tempat tidur pun tak membuatnya bangun.”
“Jangan panggil aku babi tidur, bodoh!”
Kini anak itu mengigau. Padahal matahari sudah setinggih ini. Astaga, anak ini! Batin Marc, hingga dengan keras Marc menghantam tubuh Alex dengan bantal yang akhirnya membuat anak itu bangun seketika.
“A-ada apa? Mana pencurinya?”
“Keluar dari kamarku sekarang atau aku akan melemparmu keluar dari jendela kamarku!”
Tanpa kedua pria itu sadari, pertengakaran mereka dipagi hari itu terdengar sampai dijendela seberang. Dimana seorang gadis dijendela seberang sana sudah mulai tertawa terbahak mendengar pertengkaran kakak beradik itu dihari sepagi ini.
“Ya Tuhan..kedua anak itu…tidak malu ya bertengkar dengan suara sekeras itu sepagi ini?”

# # # # # # #

      “2 hari ini mungkin aku akan pulang malam..jadi, aku benar-benar tidak bisa ikut prom night besok.”
“Yaahh..mau bagaimana lagi, kan? Semangat, ya?”
Ucap Sam dengan senyum tulus diwajahnya. Dan entah mengapa, ingin sekali Marc merengkuh gadis manis itu dalam pelukannya. Dia sangat manis! Dan seperti inilah Sam yang aku kenal..
“Oh ya..aku harus pergi. Mungkin Emilio dan Shanti juga yang lainnya sudah menungguku.”
“Iya. Hati-hati, ya?”
Sebatas itu Marc..hanya sebatas itu yang bisa aku lakukan untukmu..memberimu semangat dan terus mendoakan keberhasilan juga kebahagiaanmu…selamanya..hanya akan sebatas itu..

To Be Continued…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s