Posted in Marc Marquez FanFic

You Belong With Me (Last Chapter)

BeFunky_YBWMLC.jpg

Ok, guys! Ini adalah ‘Last Chapter’😀 So..i hope you enjoy it dan jangan lupa, tinggalkan ‘LIKE’ atau ‘COMMENT’ kalian dibawah…tidak menerima ‘SILENT READER’ Thank you, guys! Happy reading😀

 

************

          Austin POV…
Aku selalu berjalan dibelakangmu..menatap indahnya dirimu dari belakang sini…selalu mengaggumimu..namun, aku tak pernah bisa ungkapkan semua perasaan ini padamu…aku juga tak pernah bisa membuatmu berhenti dan menatap kearahku…
Kau selalu mengejar punggungnya…dengan senyum manis kau selalu berada disampingnya…sedang aku..aku hanya bisa menunggumu untuk sedikit menoleh kebelakang, dimana aku terus menatapmu…
Bahkan saat kau menangis karenanya…aku tak pernah lari…aku ada disana…aku membalut air matamu dalam pelukanku…
Hanyalah bayanganku yang tau semua ini…segala rasa yang ingin kusapaikan padamu…hanyalah bayanganku yang tau…kalau aku sangat menginginkanmu untuk tinggal disini…didalam hatiku..dan selamanya…mungkin hanya bayangkulah yang tau ini…perasaan ini…

“Aku bahkan sulit untuk melupakannya Austin! Aku sangat mencintainya!” tangisnya dihadapanku sembari terus mengutarakan sakit hatinya. Jujur…aku ingin sekali menggantikan posisinya di hatimu. Aku ingin sekali kau tak lagi mengenangnya dan hanya mencintaiku.
Tapi apa daya…aku bahkan terus menyemangatimu untuk tetap disampingnya.
“Kalau kau benar-benar mencintainya. Seharusnya kau tidak disini dan bersembunyi. Kau harus katakan semua itu padanya..”
Entah mengapa, ucapan itu begitu terdengar munafik ditelingaku..aku memintanya untuk tidak bersembunyi…lalu aku? Apa yang aku lakukan selama ini? Apa aku sepengecut ini?
Bahkan setiap hari..setiap malam..aku hanya bisa memimpikan semua tentang kita. Aku hanya bisa menyimpan perasaan yang sudah bertengger lama dihatiku ini. Tanpa sedikitpun membiarkanmu tau. Tapi…aku berjanji…saat kau membutuhkanku..membutuhkan bahu untuk bersandar…bahkan, disaat kau butuhkan pelukan hangat…aku akan selalu ada disana…aku tak akan pernah sedikitpun meninggalkanmu sendirian…meski…aku hanya akan selalu menjadi bayanganmu…
Aku selalu berharap bisa mengutarakan ini semuanya padamu, saat kutatapan kepedihan dimatamu…dan tetap saja bibirku tak mau terbuka…dan tetap saja…hanya bayanganku yang tau…
Austin POV End..

“Kau pikir itu semua akan menyelesaikan permasalahan, Austin? Kau bilang kau mencintainya! Lalu kenapa sekarang..kau..”
Alex hampir melayangkan pukulan diwajah Austin kalau tidak segera Karen menahan lengan Alex.
“Sudahlah! Kalian berdua ini kenapa? Tidak akan menyelesaikan masalah juga dengan berkelahi. Dan Austin…coba kau jelaskan lagi semua ini.”
“Alex..kau benar..kau sangat benar kalau aku memang sangat mencintai Sam..tapi, bagaimana dengan Sam sendiri? Dia bahkan tak pernah bisa jauh dari bayang-bayang Marc. Dan aku tau…meski aku bisa mengembalikan senyumannya, keceriaannya…tapi aku tetap tidak bisa menggantikan Marc dihatinya. Aku kalah, Alex. Aku kalah.”
Alex dan Karen terdiam. Apa yang Austin katakan memang kenyataannya. Sam memang belum bisa lepas dari bayang-bayang Marc, meski bibirnya terus berkata kalau ia akan melupakan Marc. Tapi, itu tidak untuk hatinya. Hati gadis itu tidak mengikuti perintah otaknya. Hatinya terus bekerja sendiri tanpa perintah dari Sam. Dan Alex juga Karen tau betul itu. Jadi, mereka juga salah kalau hanya menyalahkan Austin dengan keputusannya ini.
“Aku akan membuat Sam bahagia dengan caraku, Alex..Karen. Percayalah padaku.”
“Meski itu akan mengorbankan perasaanmu?”
Sejenak Austin terdiam. Karen benar…tapi…cinta bukan berarti harus memiliki, kan? Pria itu lantas tersenyum perih.
“Aku tau yang akan aku lakukan, Karen..percaya saja padaku. Dan kuharap, kalian mau membantu.”
“Lalu? apa rencanamu?”

# # # # # # #

          Acara yang ditunggu-tunggu akhirnya dimulai. Dibuka dengan sambutan Rektor, Ketua Senat dan Ratu Prom tahun lalu, maka acara prom tahun ini dimulai.
“Dimana Sam?”
Alex mulai melihat kesana dan kemari namun tetap tak menemukan gadis itu.
“Austin masih menjemputnya..kita harus tetap pada rencana Austin. Ingat! Jangan ceroboh!”
Peringat Karen pada Alex.
“Baik, princess!”
Pria itu lantas mengaitkan lengan Karen dilengannya, “..aku hanya takut kau hilang..”. Karen hanya menjawab gurauan Alex itu dengan senyuman.
Tak berapa lama, Austin dan Sam datang dari pintu aula sana. Dan betapa terkejutnya Alex melihat penampilan Sam malam ini.
“Astaga! Itu Sam?”
“Lalu? kau pikir itu siapa? Bodoh!”
Alex masih terus terpana dengan penampilan gadis itu malam ini. Dia begitu beda dengan Sam yang biasanya. Tidak ada sepatu skets, tidak ada kemeja ataupun kaos oblong. Yang ada hanya gadis cantik dengan gaun putih pendek dan sneaker high heels berwarna senada.
“Ini kau, Sam?”
Tanya Alex yang masih sedikit pangling dengan penampilan Sam. Sedang, Austin dan Karen sudah menertawakan kebingungan Alex itu.
“Lalu? kau pikir siapa aku?”
“Tidak..hanya saja..”
“Dia cantik sekali, bukan? Bahkan bukan kau saja yang pangling…aku juga tadi sempat pangling.”
Mereka kemudian tertawa bersama, sampai akhirnya tawa Sam lenyap terlebih dahulu dengan diikuti Karen dan Alex juga Austin.
“Apa yang kau lihat, Sam?”
“Itu…bukankah itu Ann..dan..”
“Jezz..”
Karen menyambung kalimat Sam yang terpotong saking kagetnya. Bagaimana bisa? Bukannya dia bilang dia tidak enak badan? Bahkan dia tak pergi menemani Marc, malah…apa-apaan ini?
Austin segera mencengkram tangan Sam, sebelum gadis itu menghancurkan rencananya yang sudah matang.
“Biarkan Marc sendiri yang menyelesaikan masalah ini.”
“Marc? bagaimana bisa? Dia sedang melakukan uji coba motor baru dengan tim-nya Austin. Dia tak mungkin kesini..”
“Lalu..siapa itu?”
Sam memutar kepalanya mengikuti arah jari Austin. Dan ditatapnya Marc dengan kaget. Bagaimana bisa..dia..disini? Pria itu sudah melihat semuanya. Tatapannya bahkan tak lepas dari adegan penghianatan gadisnya itu. Dengan langkah panjang, Marc segera menghampiri Ann dan Jezz yang masih asyik berduaan diconter minuman.
“Kupikir kau sedang sakit dan beristirahat dirumah, Anastasya..”
Suara Marc datar dan berat juga dingin. Pertanda pria itu marah sekali dengan sikap Ann.
“Ma-Marc..sa-sayang..kau..”
“Jangan panggil aku sayang, Ann..pacarmu akan marah nanti..”
Marc kemudian melangkah pergi meninggalkan Ann yang masih terus berusaha menjelaskan semuanya pada Marc. Dan akhirnya, Austin melepaskan genggaman tangannya dari lengan Sam. “Kau harus menghentikan Ann sekarang, Sam..”
“A-Austin..maksudmu?”
“Kau mencintai Marc, kan? Inilah saatnya kau tunjukan padanya, siapa gadis yang pantas ia cintai itu.”
“A-Austin..aku tidak mengerti. Bu-bukannya kau..”
“Ya. Aku mencintaimu, Sam. Sangat mencintaimu, bahkan melebihi diriku sendiri. Tapi..aku pun tak bisa memaksakanmu untuk juga mencintaiku kan? Itu jahat namanya..sekarang pergilah..aku akan sangat sedih kalau kau terus membohongi dirimu sendiri seperti ini.”
Tanpa menjawab apapun lagi, Sam langsung menghambur kepelukan Austin. “..terima kasih, Austin..”.
“Cepatlah!”
Segera Sam berlari kecil menjauh dari jangkauan Austin. Aku tau..dan seharusnya aku melakukan ini sejak lama, Sam…aku melepasmu karena aku yakin…kau akan lebih bahagia bersamanya…aku yakin itu…

# # # # # # #

          “Marc! Marc! Sayang..aku bisa jelaskan semuanya..kau harus dengar penjelasanku dulu..”
“Cukup, Ann!!”
Sentak Sam dari belakang sana. Gadis itu sudah berjalan cepat mendekat kearah Ann dan Marc. Dan gadis itu lantas menghempas keras tangan Ann yang mencengkram lengan jas Marc.
“Sudah cukup kau terus-menerus membohonginya, Ann! Kau tidak puas membohonginya seperti ini? Marc bukan mainanmu, Ann!”
“Kau..! diam kau! Atau aku..”
“Kau akan apa? Kau pikir kau bisa menamparku? Aku tak akan segan menghajarmu kalau kau tak segera pergi sekarang!”
“Kupikir kau puas dengan semua ini kan, Sam…aku yakin, kau yang sudah mejebakku. Iya kan?”
“Maksudmu?”
“Kau sengaja memberitahu Marc, kan? Itu karena kau mencintainya dan kau ingin merebutnya dari ku, iya kan!?”
Sejenak Sam tersentak. Gadis itu terdiam. Tapi rencana apa? Ia bahkan tak tau sama sekali kalau Marc akan datang. Lalu? siapa yang membuat pria ini merubah pikirannya?
“Benar kan kataku..Marc, percayalah padaku. Perempuan ini jahat, dia sengaja membuatku begini Marc.”
Marc masih menatap Sam yang terus terdiam. Dan hatinya mulai goyah, apa..semua yang dikatakan Ann benar, Sam? Kau mencintaiku…makanya kau…
“Dia menjebakku, sayang. Percayalah padaku..aku tak berniat untuk..”
“Ann..cukup. Aku ingin ini berakhir disini. Aku mau putus.”
“Ta-tapi..Marc..”
Air mata Ann sudah mengalir deras. Kakinya bergetar sampai tak dapat lagi menopang berat tubuhnya. Ia terjatuh dirumput taman kampus sambil terus menangis. Sedang Marc, berjalan meninggalkan gadis itu meratapi kebodohannya.
“Marc..”
Akhirnya Sam membuka suaranya, gadis itu berlari kecil mengikuti langkah panjang Marc, yang akhirnya berhenti disebuah bangku taman yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat tadi.
“Marc..”
Sam berusaha untuk menahan isakkannya. Namun, suaranya sudah terdengar serak. Ia harus menahan air matanya. Ia tak mau membuat pria ini bertambah sedih. Marc sudah cukup terluka dan terpuruk karena tingkah laku Ann.
Sam sudah mengambil tempat disebelah Marc yang sedari tadi duduk membelakanginya itu.
“Marc..”
Tegur gadis itu lagi, dan perlahan Marc memutar tubuhnya dan menghadap gadis itu dengan pipi yang sudah basah karena air mata.
“Kupikir dia mencintaiku, Sam…aku terlalu bodoh karena terlalu mempercayainya. Padahal aku yakin..aku yakin kalau dia sudah bisa melupakan Jezz dan menerimaku dengan cinta yang tulus..aku salah, Sam..aku salah besar..”
Air mata Marc makin menderas. Isakkan pria itu terdengar. Dan pertahanan Sam akhirnya runtuh. Gadis itu ikut menangis bersama Marc. Dirangkulnya Marc dengan lembut, membiarkan air mata pria itu membasahi gaun cantiknya. Membiarkan pria itu menumpahkan semua kekesalan dan kesedihannya.
“Kumohon Marc..jangan menangis lagi..aku akan ikut menangis..dan kau tau, kalau aku menangis nanti dandananku akan luntur..aku tak akan cantik lagi nanti..”
Ujar Sam berusaha menghibur pria itu. Dan sedikit berhasil, karena Marc yang sedari tadi menunduk, akhirnya bisa mendongkakkan kepalanya menatap Sam.
Marc baru sadar, kalau gadis itu memakai dandanan. Gadis itu cantik sekali. Bahkan lihat saja gaunnya. Dengan seulas senyum, Marc menyeka air matanya dengan kedua telapak tangannya, dan setelah itu menyeka air mata Sam dengan jari telunjuknya.
“Kupikir..kau tak bisa berdandan secantik ini? Tapi..” goda Marc sembari merogoh sesuatu dari sakunya,”..aku lebih suka kalau kau tampil sebagai Sam yang kukenal selama ini. Karena, tanpa dandanan pun kau tetap terlihat cantik dan manis dimataku.”
Marc menghapus semua dandanan Sam dengan tissue basah yang tadi ia rogoh dari sakunya.
“Nah..begini baru Sam-ku.”
Perlahan, kedua tangan Marc menarik pipi Sam lembut dan mengecup bibir gadis itu. Dan semakin lama, Marc semakin menarik Sam mendekat kearahnya dan memperdalam ciumannya. Gadis itu bahkan kesulitan bernafas sekarang. Ditambah dengan detak jantungnya yang tak karuan. Sampai akhirnya, Marc yang terlebih dahulu menjauhkan wajahnya, barulah detak jantung serta helaan napas Sam bisa ia atur kembali.
“Mungkin sudah terlambat..tapi, ijinkan aku untuk mengutarakan ini..aku mencintaimu, Sam..dan terima kasih sudah membuatku sadar siapa sebenarnya yang pantas untuk aku cintai.”
“Tidak Marc..belum terlambat. Siapa bilang kau terlambat..kau tak pernah terlambat Marc..karena aku selalu menunggu..menunggumu mengutarakan ini..”
“Lalu..bagaimana dengan Austin?”
“Aku memang sempat mencintainya dan berharap bersamanya, aku bisa melupakanmu..tapi, dia juga yang menyadarkanku bahwa, aku sedang berbohong pada diriku sendiri. Aku terlalu takut untuk terluka lagi..aku sangat berhutang kepadanya.”
Marc tersenyum dan membawa gadis itu kedalam pelukannya. Bau cologne bayi tercium dari tubuh gadis itu, bahkan rasanya lebih hangat dari pelukannya dengan Ann dahulu. Marc merasa lebih tenang ketika menenggelamkan wajahnya dibahu mungil gadis itu.
Setelah teringat sesuatu, Marc akhrinya melepaskan pelukannya itu dan menatap Sam dengan senyum khas Marc.
“Kau mau jadi pasangan promku, Sam?”
Sam mulai terkikik pelan dan hanya menggangguk tanpa menjawab apapun.

“..if you could see that I’m the one who understand you, been here all along. So why can’t you see..you belong with me..you belong with me..”

THE END😀

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

3 thoughts on “You Belong With Me (Last Chapter)

  1. Pengorbanan Austin besar juga disini….

    Sabarrr yah Tin, nanti kmu jg dpt yg lebih baik lg dr Sam. *lirik tike* #alahhh apaan ?

    Ehya selamat yg udah jadian dan sudah sadr dgn hatinya. *lirik marc*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s