Posted in Marc Marquez FanFic

61 Days With You #2

BeFunky_61DaysWithYouCover.jpg

Ok guys🙂 This is it..’61 Days With You’ chapter 2 ala author Lea Ravensca😀 **chef Fara Queen kaleee (-___-“)** happy reading yaa😀 jangan lupa leave ‘LIKE’ or ‘COMMENT’ bellow😀 dan !!NO SILENT READER!! enjoy guys! **sorry kalo ceritanya ada typo (-___-“) mohon koreksinya😀 **

*******************

TWO

          “Bulan madu yang menyenangkan, bukan?” goda Alex sembari menepuk-nepuk pundak Marc yang bahkan masih kesal dengan kejadian pagi ini.

View Hours Ago…

Marc merasakan ada yang berat menindih perutnya. Begitu pula dengan dadanya. Perlahan pria itu membuka matanya dan melihat kedua kaki gadis itu sudah berada diatas tubuhnya.
Demi Tuhan!! Apa-apaan gadis ini? Tidurnya sudah mirip dengan gaya tidur Alex..
Dengan kasar Marc menghempas kedua kaki gadis itu dan membuatnya jatuh kelantai dengan bunyi yang cukup keras.
“Auch!!” rintih gadis itu dengan suara serak, “..apa yang kau lakukan, hah?!”
“Seharusnya aku yang tanya..apa yang kau lakukan? Gaya tidurmu bahkan mirip sekali dengan gaya tidur kerbau.” Balas Marc yang sudah bangkit berdiri dari atas kasur.
“Apa kau bilang?” perlahan Ji Eun bangkit berdiri. Gadis itu masih merasakan nyeri pada bokongnya, “..kau benar-benar sudah membangunkan naga yang tertidur, tuan Marquez!”
Dengan geram, Ji Eun berjalan mendekat kearah Marc dan mendorong kuat pria itu keatas tempat tidur. Gadis itu lantas menduduki perut Marc, meraih tangannya dan menggigitnya kencang.
Marc menjerit kesakitan. Gigitan gadis itu bahkan lebih menyakitkan dari gigitan anjing Pittbull milik Emilio.
“Hentikan!! Aaarrgghh!! Sakit!! Hentikan!!” jerit Marc benar-benar kesakitan. Wajah pria itu bahkan sudah semerah tomat masak.
Ji Eun melepaskan gigitannya namun masih tetap menindih tubuh Marc, “..kau tidak rabies kan?”
Mendengar pertanyaan bodoh Marc yang jelas sangat menghina itu kembali membuat tangan Marc yang satunya lagi digigit Ji Eun. Lagi-lagi Marc menjerit kesakitan. Ia rasa, suaranya hampir hilang hanya karena menjerit meminta ampun pada gadis jadi-jadian itu.

Now…

“Astaga?? Kau digigit, Marc? Berarti bulan madu kalian tidak berjalan begitu baik, bukan?”
Alex kemudian bergidik ngeri dan perlahan meninggalkan Marc yang masih bertampang masam itu. Aku bersumpah akan membalas gadis itu. Awas saja dia!!

Lagi-lagi Marc meraih kemenangannya. Dengan bangga pria itu berfoto ria setelah usai menerima piala. “..pindahkan foto-foto tadi dilaptopku, ya?” pinta Marc berseri-seri. Sudah kebiasaannya mengupload foto di Twitter ataupun Facebook miliknya. Namun, hal luar biasa menakutkan dan membuat bulu kuduk berdiri ketika Marc mendapati begitu banya ‘Notification’ pada account twitternya. Dan dari sekian banyak notification itu sedikit saja yang bernada positif dengan rata-rata bernada negative.

Marc’s Notification…
@JiHyoon_18 : Hei!! Pria brengsek..cepat jauhi IU-nunnha..kalau tidak kau akan tau akibatnya!
[Nunnha : kakak perempuan yang disebutkan oleh adik laki-laki]
@HyunJi : Dasar laki-laki tidak tau malu! Kau hanya mencemarkan nama baik IU-eonni saja. Kau pikir dengan menikahi IU-eonni semuanya akan beres? Dasar laki-laki tak berotak!
[Eonni : Kakak perempuan yang disebutkan oleh adik perempuan]
@Henry_IU : Bajingan kau! Berani-beraninya kau melecehkan IU-ku! Dasar laki-laki menjijikan!
@JimmyRitz : Hei bung! Kalau kau pintar, segera jauhi IU-ku yang manis, atau kau tak akan lagi melihat matahari terbit besok! Son of a b***h!!
**dan masih banyak lagi yang lainnya, kira-kira masih ada 100 notification bernada negatif lainnya**
Ya Tuhan..ini mengerikan! Sungguh! Apa mereka benar-benar akan membunuhku? Batin Marc. Pria itu bergidik ngeri melihat sebegitu banyaknya notification ancaman untuk dirinya.
Hal yang tak jauh berbeda pun terjadi pada Ji Eun. Gadis itu bahkan tak mau lagi membuka account twitter, facebook dan instagramnya hanya karena pesan-pesan bernada mengerikan itu.
Bahkan ada salah satunya yang mengancam hendak membunuh Ji Eun kalau dia tidak segera menceraikan Marc. Mereka hanya bercanda kan? Ini baru hari kelima dari perjanjian, lho! Omona!! Apa yang harus aku lakukan?
“Eonni sedang apa?”
Suara itu lantas membuat Ji Eun sedikit tersentak. “..ti-tidak..hanya saja..”
“AntiFan ya? Hmm..aku tau jadinya pasti seperti ini.”
Gadis berambut pirang itu mengambil tempat disebelah Ji Eun kemudian menepuk-nepuk pelan pundak Ji Eun.
“Lalu? apa yang harus aku lakukan, Agatha?” tanya Ji Eun dengan ekspresi bingung bercampur takut.
“Entahlah, eonni..biasanya hal seperti ini akan berlangsung sampai eonni bisa menyanggupi keinginan mereka.”
Aku ingin sekali seperti itu..lepas dari pria itu sekarang juga…tapi bagaimana dengan kontrak yang harus aku selesaikan.. “..tapi bagaimana aku bisa melakukan itu? kau tau sendiri, kalau ini adalah keinginan agency.”
“Itu yang aku tak tau, eonni…sudahlah, yang penting sekarang eonni harus tetap pada rencana agency. Kalau tidak…mungkin hal lebih parah yang akan terjadi.”
“Apa?”
“Karirmu akan lenyap, eonni. Masa eonni tidak tau itu?”
Ji Eun tertegun. Apa yang dikatakan Agatha benar. Kalau ia berbuat sedikit melenceng dari rencana, karirnya lah taruhannya. Lalu bagaimana dengan zombie-zombie mengerikan ini??

“Lihat ini!” tunjuk Marc pada Alex.
“Lalu? kau mau aku melakukan apa untukmu?”
Alex pun bingung dengan sikap kakaknya itu. Pria itu sudah semirip manusia depresi tingkat tinggih, dengan wajah yang merah padam, bahkan Alex pun takut hanya untuk menatap kakaknya itu. Tapi ada sedikit rasa kasihan juga. Inilah resiko besar skandal ini, pikir Alex.
“Gadis itu benar-benar membuatku seperti dalam neraka..”
“Kau pikir kau saja!!”
Omel depresi Marc terpotong oleh seruan kencang Ji Eun yang entah darimana muncul begitu saja di motorhome Marc, “..kau pikir kau saja yang diserang begitu? Ini lihat, fans-fans gila dan mengerikan milikmu ini mengancam mau membunuhku! Mereka itu punya otak tidak sih?”
“Fans-fans sintingmu ini juga mengancam mau membunuhku, kau tau! Jadi jangan hanya protes padaku!”
Keduanya saling mengadu pandang dengan sengit. Perlahan, Alex menyingkir dari situ dan akhirnya menghilang dari tempat itu.
“AntiFanku akhirnya bertambah! Bahkan AntiFanCafe-ku membeludak. Apa yang harus aku lakukan?”
“Lalu bagaimana denganku? Kau pikir aku juga tidak merasa sangat sial ketika moodku yang bagus hilang begitu saja karena fans-fans bodohmu!”
“Masa bodo! Bukan urusanku!”
“Kalau begitu semua yang terjadi padamu pun bukan urusanku, rabies!!’
Umpat Marc kasar. Dan jelas, kata terakhir Marc itu membuat Ji Eun benar-benar geram. Padahal emosinya sudah berusaha ia tahan sejak tadi. Tapi, tidak untuk sekedar mentolerir kata terakhir itu.
“Kau bilang apa?” desis Ji Eun kesal. Perlahan gadis itu mendekat kearah Marc yang membuat Marc juga perlahan mundur selangkah demi selangkah, “..kau benar-benar ingin mati ternyata..”
Tanpa takut, Marc berdiri tegak dan menantang gadis itu remeh, “..apa yang mau kau lakukan, hah? Dasar girly!”
Cukup sudah! Dengan cepat kepalan tangan mungil gadis itu menonjok keras wajah Marc, yang membuat cairan merah segar itu mengalir deras dari hidung Marc. Pria itu sempoyongan seketika. Ia tak menyangka kalau gadis ini adalah gadis jadi-jadian. Disentuhnya cairan merah yang masih mengalir dari lubang hidungnya itu.
“Kau gila, ya?!!”
“Kau yang gila! Berani-beraninya mengataiku rabies! Awas saja kalau sekali lagi kau mengataiku rabies..aku tak hanya akan memukulimu tapi aku juga bisa membunuhmu!”
balas Ji Eun kemudian berjalan pergi meninggalkan Marc yang masih membatu ditempatnya itu. Pria itu bahkan tak habis pikir kalau dihidupnya ini, ia bisa bertemu dengan gadis brutal seperti Ji Eun. Sumpah! Gadis itu sangat liar dan menyeramkan! Aku berani bertaruh..selesai kontrak ini pasti aku sudah ada dirumah sakit dengan keadaan yang mengenaskan..

Marc dan Ji Eun hanya saling diam. Seakan tak ada penghuni didalam ruang apartemen itu. Tak jarang, keduanya saling bertatap sengit jika berpapasan.
“Seharusnya seorang istri itu memasakkan sesuatu untuk suaminya..” sindir Marc yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ji Eun namun, pria itu terlihat masa bodo, “..atau..kau tidak tau memasak?” ‘JLEB!’ Itu tepat sekali. Pertanyaan itu sangat tepat sasaran. Ji Eun memang tidak tau caranya memasak. Untuk memasak nasi pun gadis itu kelimpungan setengah mati.
“Maksudmu apa, hah?” tanya Ji Eun datar dan dingin.
“Yaah..hanya menebak saja kan? Kalau tidak benar jangan marah..buktikan! Kalau benar, yaahh..entahlah..”
Seketika sandal tidur bergambar karakter Stitch milik Ji Eun mendarat tepat diwajah Marc dan kembali membuat pria itu meringis kesakitan.
“Hei!!” seru Marc marah sembari menyentuh wajahnya yang terasa perih.
“Kenapa?” tanya Ji Eun ketus dan dingin. Tak lupa sorot mata bengis ia lempar kearah Marc.
“Tidak..” jawab Marc singkat kemudian berhenti melawan.
Astaga! Aku benar-benar dijajah gadis ini! Apa yang terjadi denganmu, Marc? Kau masih laki-laki, kan?

***********

          Hari demi hari terlewati. Tak terasa, 29 hari sudah mereka bersama dari total 61 hari yang dijanjikan. Dan tetap, tidak ada perubahan sama sekali, mereka masih semirip dengan Tom dan Jerry mungkin, lebih parah lagi dari itu. Meski sudah terbukti bahwa memang Marc tak melakukan apapun pada Ji Eun yang beresiko membuat gadis itu hamil.
“CEPAT KELUAAARR!!” jerit Ji Eun sembari membungkus tubuhnya dengan bedcover.
Pagi ini, gadis itu mendapat kejutan luar biasa. Seingatnya, semalam Marc bilang kalau dia akan menginap dirumah orang tuanya tapi, entah mengapa..pagi ini, pria itu sudah tidur disisinya dengan bertelanjang dada, ditambah lagi dengan bau alkohol yang menyeruak dari tubuh pria ini. Sudah jelas, Ji Eun panik luar biasa. Apalagi, gadis itu hanya mengenakan tank top putih dan hotpants hitam sepaha.
Dia tidak mengapa-apakan aku, kan?? **Omo!! Eotteokhae??** [**Astaga!! Apa yang harus aku lakukan??]
Marc masih sedikit sempoyongan saat keluar dari kamar itu. Bokong dan sikunya juga masih terasa sakit. Bagaimana tidak, gadis itu membangunkannya dengan tendangan kasar yang membuat Marc harus terjatuh dari atas tempat tidur.
Ini gila! Ini benar-benar gila!! Gadis itu benar-benar akan membunuhku kalau begini terus.
“Sebenarnya, apa masalahmu, hah!!” seru Marc kesal dari luar kamar yang tak berapa lama, sosok mungil itu keluar dari kamar dengan tatapan paling mengerikan, “..masalah apa?? Masalah apa katamu?? Kau..kau bilang semalam kau akan menginap dirumah orang tuamu, tapi kenapa kau ada disini dan sekasur denganku? Apa yang sudah kau lakukan padaku, hah??!!”
“Memangnya aku tidak boleh pulang ke apartemenku sendiri? Lagi pula itu kamarku! Untuk apa aku perlu ijin darimu?”
“Cih! Kau ini..benar-benar minta dihajar ya?”
“Kau pikir aku takut padamu? Kau juga sudah melukai harga diriku sebagai laki-laki, kau tau!”
Tanpa harus membalas lagi, kaki gadis itu bekerja, memelintir kaki Marc dan berhasil membuat keduanya jatuh saling menindih dilantai.
“Ugghh!! Minggir! Kau berat sekali!” keluh Ji Eun yang ditindih Marc. Gadis itu masih memejamkan matanya saking pusing terbentur dilantai. Sedang Marc, pria itu kaget bukan main, jantungnya pun memompa 4x lebih cepat dari normalnya. Kalau sedekat ini…dia terlihat sangat cantik.. Gadis itu akhirnya membuka matanya dan menatap kaget Marc yang masih menguncinya dalam tatapan pria itu. Gadis itu dapat merasakan debaran jantung Marc, bahkan ada perasaan asing yang juga menggelitik hatinya. Dan perasaan asing itu begitu hangat.
Tanpa sadar, Marc mencondongkan perlahan wajahnya mendekat kewajah Ji Eun sampai gadis itu dapat merasakan hembusan nafas Marc diwajahnya. Anehnya, gadis itu tak keberatan sama sekali ataupun berniat untuk melawan. Matanya ia pejam, namun..’TING TONG!’ bel pintu rumah itu membuat keduanya berburu-buru memisahkan diri. Dengan segera, Ji Eun mengambil sembarang kemeja putih yang ada disofa itu, mengenakannya dan membukakan pintu. Sedang Marc, pria itu menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
Masih ada sisa-sisa raut panik diwajah keduanya, “Se-selamat pagi..” sambut Ji Eun pada sosok Alex dengan senyum merekahnya.
“Selamat pagi kakak ipar..wooww!” anak itu sedikit terkejut dengan pakaian Ji Eun dan Marc yang bertelanjang dada, “..kalian..sibuk, ya?” tanya Alex takut-takut sedang pikirannya sudah terbang pada kemungkinan ‘itu’.
“Tidak!” seru Ji Eun dan Marc kompak.
“O-oh..be-begini…aku disuruh mom untuk mengantarkan ini..dan Emillio juga bilang kalau hari ini ada testing terakhir untuk Marc..” ujar Alex sembari menyodorkan sebuah rantang berisi makanan.
“Te-terima kasih, Alex. Dan bilang terima kasih juga untuk ibumu, ya?” ujar Ji Eun yang berusaha bersikap normal. Tenang Ji Eun..tenang..kau nampak kacau sekali pagi ini…tenang…
“Iya. Sama-sama kak Ji Eun..oh ya, aku juga harus segera pulang. Permisi..” pamit Alex kemudian bergegas keluar dari apartemen itu.
Sosok Alex telah menghilang dari situ, kini tinggal Ji Eun dan Marc yang masih kelihatan canggung satu sama lain.
“A-aku harus siap-siap sekarang..” ujar Marc singkat kemudian berlari kekamar mandi. Sial! Ada apa denganku?

To Be Continued…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

14 thoughts on “61 Days With You #2

  1. hyaaaaa~
    cepet dilanjut author, aku udah overdose ama FF ini ~keke
    btw kurang panjang T-T aku pengen liat banyak moment IU-marquez soalnya aku penggemar berat mereka berdua hehe
    semangat nulisnya ya author-nim ^-^9

  2. reader baru… maaf baru sempet baca sekarang. suka banget sama ff ini. kocaknya dapet… sebenarnya aku gak kenal sam march, tp entar liat di google… mungkin ntar jadi penggemarnya dia.keke
    btw, aku mau nanya back sound?… yang terakhir judulnya apa, lagu milik siapa?… maaf ya banyak nanya… semangat yaaa…

  3. haha, konyolnya..

    tapi kadang emang ya antifans ITU super-duper nyebelin. padahal kan gk perlu kaya gitu… reaksinya gk perlu berlebihan dalam mendapati suatu hal yang gk mereka kehendaki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s