Posted in Marc Marquez FanFic

61 Days With You #3

BeFunky_61DaysWithYouCover.jpg

This is it! 61 Days With You ala Chef Lea Ravensca..hehe😀 sorry telat postingnya..soalnya banyak yang musti dirombak dari FF ini😀 By The Way…Happy reading ya, guys! Jangan lupa, leave ‘LIKE’ or ‘COMMENT’ bellow😀 !!NO SILENT READER!! Enjoy, guys!!

*********************

THREE

          “Bagaimana? Sudah ada perubahan? Oh ya, Marc..kupikir sebaiknya kalian benar-benar menikah…yaah..ini bukan usulku saja. Yang lainnya juga berkata begitu. Menurut kami, kalian cocok sekali.”
Marc masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ia masih mengenang kejadian pagi tadi. Sedikit konyol, tapi berhasil membuatnya berdebar tiap kali Marc mengenang ekspresi gadis itu.
Tanpa sadar, sudut bibir Marc tertarik keatas, membentuk lengkung senyum. Dan sebuah perasaan asing nan hangat, menggelitik hatinya.
“Entahlah, Emillio…” balas Marc singkat kemudian kembali pada lamunannya.
Entahlah..aku tidak tau lagi harus percaya yang mana…otakku yang selalu berpikir logis ini…atau hatiku yang sering berlaku seenaknya. Bahkan berdebar pun tanpa sekomando otakku. Tapi…berpikir logis adalah yang terpenting kan? Mana bisa aku jatuh cinta dengan gadis macam itu? Gila!
“Hei Marc..jangan banyak melamun begitu. Kau itu..sudah seperti orang tua yang banyak beban pikiran saja..” Goda Shanti yang ikut bergabung bersama Emilio dan Marc, “..bagaimana? berjalan lancar, kan?” tanya Shanti lagi dengan senyum jahil.
“Apanya yang berjalan lancar? Gadis itu…ugh!! Bahkan mengenangnya saja membuatku ketakutan.”
“Kenapa? Dia manis dan mudah bergaul. Bahkan dia sudah akrab dan tau nama kami semua dalam 2 hari perkenalan. Gadis yang cerdas, sangat cocok denganmu.”
“Cih! Bicaramu itu…apa kau pernah digigit atau ditonjok istrimu?”
“Tidak..Kau? Pernah?”
“Jangan tanyakan…”
Marc lantas berdiri dan melangkah dengan kesal meninggalkan kedua pria paruh baya itu saling menatap heran, “..apa semua pengantin baru selalu seperti itu, ya?” tanya Shanti pada Emillio yang hanya menggeleng tak tau.

Marc’s POV :

Selesai uji coba hari ini, aku lebih memilih menyendiri dimotorhome milikku. Entahlah..mungkin aku terlalu malas mendengar wejangan-wejangan pria-pria berkeluarga didalam paddock sana, yang sebenarnya juga tidak sesuai untukku.
Aku mengemasi beberapa barang milikku masuk kedalam ransel. Kemudian bergegas untuk melepas pakaian balapku ini. Sekarang..aku hanya ingin pulang dan menenangkan diri.
Aku berjalan keparkiran setelah berpamitan dengan Emillio dan beberapa kru timku. Sedang dari belakangku, ada Alex yang juga baru selesai dengan testing motor baru miliknya, “..apa? Kau mau nebeng lagi?” Tanyaku ketus.
“Cih! Kau pikir aku tidak bisa menyetir sendiri dan harus selalu nebeng?” Cibirnya kemudian masuk kedalam mobil Ferarri hitam yang terparkir disebelah mobilku.
“Mobil siapa?” Tanyaku penasaran. Takut-takut kalau itu mobil curian.
“Ini mobilku. Dad yang membelikannya untukku.” Sahutnya kemudian menyetir menjauhiku. Astaga! Mom dan Dad sudah keterlaluan memanjakan anak ini..dengusku dalam hati yang kemudian juga masuk kedalam BMW hitamku dan melaju menjauh dari area parkir sirkut Aragon.

30 menit aku menyetir dari sirkuit menuju kawasan Barcelona Mansion. Dalam hati, aku terus berdoa semoga gadis itu bisa membiarkanku tenang hanya untuk malam ini.
“Aku pulang!” Sapaku saat masuk, namun tak mendapat jawaban dari dalam ruang apartemen mewah itu, “..Ji Eun..” Bagus! Sekarang kemana dia? Aku menjelajah seisi ruang apartemen itu dengan kebingungan. Namun hasilnya sama, tak ada seorang pun didalam apartemen ini. Hingga beberapa saat kemudian, gadis itu muncul dari depan pintu dalam keadaan sempoyongan. Astaga! Apa yang terjadi dengan gadis itu? batinku, kemudian dengan cepat menghampirinya dan memegangi gadis itu agar tidak terjatuh.
“Kau habis dari mana, Ji Eun?!” Tanyaku sedikit panik, sedang dari tubuh gadis itu menguar bau sake yang sangat tajam, “..kau habis minum? Dengan siapa? Siapa yang..”
“Diam kau!” Bentaknya sembari berusaha melepaskan diri dari genggamanku, “..lepaskan aku! Jangan sentuh..” Rontanya lemah, sedang kulihat butir-butir air mata berjatuhan dipipinya, “..jangan pura-pura baik padaku, bajingan!” Umpatnya kasar, sedang butir-butir air mata itu makin menderas. Aku hanya mendengar dan enggan untuk membalas. Aku mungkin lebih baik mendengar gadis ini mengutarakan isi hatinya, karena setauku orang mabuk itu tidak pernah bohong.
“Gara-gara kau…” Gadis itu memulai, “…dia meninggalkan aku! Padahal aku begitu mencintainya…kau jahat! Kau benar-benar jahat!” Isaknya dan akhirnya tangisnya mulai pecah. Sungguh, ini pertama kalinya aku melihat Lee Ji Eun yang serapuh ini. Tanpa sadar, kedua tanganku membawanya dalam dekapanku. Kudekap dia erat, merasakan tiap isakkan dan helaan napasnya didadaku. Membiarkan semua sesak dan sakit yang menerjang hatinya, keluar seiring deras air matanya yang membasahi kaosku.

Marc’s POV end :

Pagi itu, Ji Eun bangun dengan mata yang sembap. Kepalanya masih terasa sangat pusing. Perlahan, gadis itu memutar arah baringnya, dan mulai terkejut ketika mendapati sosok Marc tertidur pulas disampingnya. Gadis itu ingin berteriak, bahkan ingin juga memaki pria itu. Tapi..kejadian semalam. Meski mabuk, Ji Eun masih sedikit sadar. Sadar dan tau kejadian semalam, dimana dengan hangat Marc memeluknya, mencoba membuatnya tenang. Air mata gadis itu kembali jatuh. Namun, ia berusaha menahan isakkan itu ditenggorokannya. Makin lama, air mata yang jatuh makin deras. Brengsek kau Marc! Kau benar-benar membuatku kesal! Jerit gadis itu dalam hati.
Tanpa sadar, tangan gadis itu terangkat kemudian, perlahan menyentuh wajah Marc. “..kau bodoh!” Bisik gadis itu disela-sela tangisnya.
“Kau bilang apa?” Gumam pria itu masih dengan mata yang terpejam. Sontak itu membuat Ji Eun terkejut dan segera bangun dari tidurnya. Buru-buru Ji Eun mengelap air matanya, “..bi-bilang apa? Ce-cepat bangun! Pemalas!” Ujar Ji Eun terbatah. Gadis itu lantas berjalan keluar dari kamar dengan langkah panjang.
Cih! Gadis itu..tapi, apa yang terjadi padanya semalam? Dan siapa pria brengsek yang sudah membuatnya seperti itu? Eh?! Kenapa aku yang kesal?

**************

          “Minggu depan aku ada race di Jepang. Kau mau ikut?” Tanya Marc kemudian menyodorkan sebuah amplop putih berisi tiket perjalanan ke Jepang.
“Tumben kau mengajakku? Ada angin apa?” Tanya gadis itu masa bodo, “..yaah..kalau kau memaksa.” Lanjutnya kemudian mengambil tiket itu dengan girang.
“Jangan repotkan aku!” Sindir Marc kemudian berjalan meninggalkan Ji Eun yang masih mendelik kesal kearah Marc.
“Cih! Kalau tidak niat, jangan ajak!” Seru Ji Eun kesal sembari membanting tiket itu keatas meja. Dia benar-benar pria yang menyebalkan!

40 hari dari 61 hari terlewati, dan sekarang Ji Eun berada di Jepang, menemani Marc yang akan berada disini selama seminggu untuk race MotoGP. Pria itu kini sedang menjalani sesi latihan bebas pertama.
“Ji Eun..mau minum?” Tawar seorang gadis, sembari menyodorkan sebotol air mineral pada Ji Eun.
“Terima kasih.” Ujar Ji Eun sembari tersenyum ramah.
“Oh ya…boleh aku bicara sesuatu padamu?” Tanya wanita itu sembari menyibak poninya kesisi telinga.
“Bicara apa, Vann?” Tanya Ji Eun lembut.
“Eum..begini…ini…soal Marc..” Mulai Vanessa terbatah, “..eum..kapan kalian akan mengakhiri kontrak ini? Yaahh…menurutku kau harus tau kalau aku dan Marc…kami..”
“Kau tenang saja…aku..tidak punya perasaan apa-apa padanya. Dan setelah kontrak ini selesai, aku akan segera mengembalikannya padamu.” Balas Ji Eun tanpa sadar. Saat itu juga, Ji Eun merasa sesuatu yang aneh menerjang hatinya. Rasanya sakit. Tapi, Ji Eun tidak tau apa ini.
“Terima kasih, Ji Eun.” ujar Vanessa sembari tersenyum lembut pada Ji Eun.
Yaah..sudah seharusnya seperti itu kan?

“Sedang apa?” Tanya Marc dengan bingung kemudian perlahan mendekati Ji Eun yang hanya menatap datar kearah ponselnya, “..kau sedang apa?” Tanya Marc lagi namun gadis itu tetap tidak meresponnya.
“Ini gila!” Gumam gadis itu masih belum melepaskan pandangannya dari ponsel.
“Apa yang gila?” Tanya Marc bingung dan dengan cepat Marc merampas ponsel milik Ji Eun dari tangan gadis itu.
“He-hei! Kembalikan!”
“Sebenarnya ada apa sampai kau bengong dan bergumam tak jelas begitu, hah?”
Pria itu lantas melihat layar datar itu dengan seksama, “..siapa dia?” Tanya Marc penasaran, ada amarah yang memercik dari dalam hatinya. Apa pria dalam foto ini yang penyebab tangis Ji Eun beberapa hari yang lalu?
“Bukan urusanmu! Sekarang cepat kembalikan ponselku!” Seru Ji Eun kesal sambil berusaha meraih ponselnya dari tangan Marc, “..Marc, cepat kembali..aah!”. Tak sengaja Ji Eun menginjak kaki Marc dan membuat keduanya sama-sama rubuh diatas sofa.
Belum terpikir untuk bangun, Ji Eun malah sibuk dengan debarannya. Kalau dilihat dari dekat seperti ini, pria itu makin tampan. Binar mata coklat itu, alisnya yang tebal, bibir yang terbentuk dengan sempurna, hidung yang mancung, Astaga! Pikir apa kau! Hendak gadis itu bangun dari atas tubuh Marc. Kedua lengan pria itu malah menahan pinggang gadis itu. “..ap-apa yang…le-lepas..” Ronta Ji Eun pelan. Namun, semakin merontak, Marc makin mempererat dekapannya.
Pria itu bahkan tak mengerti dengan apa yang ia lakukan. Ia hanya menuruti perintah hatinya. Perlahan, tangan Marc sedikit bergeser dari pinggang Ji Eun ke tengkuk gadis itu, menariknya pelan sampai wajah gadis itu tinggal beberapa senti didepan wajah Marc. Pria itu lantas mencondongkan pelan wajahnya lebih mendekat kewajah gadis itu. Napas mereka menderu hebat, sampai-sampai terasa begitu menggelitik diwajah masing-masing. Semakin dekat, jantung mereka semakin berpacu, sampai akhirnya Ji Eun yang terlebih dahulu sadar, buru-buru memisahkan diri dari Marc.
Ada apa ini? Tidak..tidak..Ya Tuhan..bagaimana ini?

***************

          Race telah berakhir, dan Marc makin mengukuhkan kedudukannya dipucuk klasemen setelah berhasil menjuarai race disirkuit Motegi, Jepang. Pria itu merayakan kemenangannya dengan bahagia. Dan rasa bahagia itu seketika berubah canggung ketika Marc berhadapan dengan Ji Eun.
“Se-selamat, ya?” Ucap Ji Eun berusaha mengotrol kegugupannya.
“I-iya.” Balas Marc singkat kemudian tersenyum canggung pada Ji Eun. Sedang, dari kejauhan sana, seseorang menatap iri pada mereka. Tatapan itu lebih tepatnya adalah tatapan benci.

Ji Eun POV :

Aku mendengus geli beberapa kali mengingat debaran bodoh -menurutku- yang sejak tadi mengganggu hatiku.
Bahkan, yang makin membuatku bingung adalah kenapa aku merasa nyaman dengan debaran ini. Kalau kuhitung, ini sudah hari ke 49 aku bersama pria bodoh itu hidup dalam pernikahan kontrak kami. Pria bodoh?! Tidak! Ya, hanya mengingatnya saja mampu membuatku berdebar. Dan sekali lagi, aku mendengus geli. Mengumpat khayalan terliarku, yang aku sendiri tau, itu tak akan terjadi.
Sampai hari ini, tak ada perubahan yang berarti dari hubungan kami. Paling-paling hanya sedikit rasa canggung karena, kecerobohan kemarin. Dan kali ini, kenangan itu membuatku bergidik geli.
Jangan bercanda!
Aku berjalan mengitari hotel disore itu. Berusaha mencari angin segar untuk kepenatan otakku. Dan dari arah bangku taman sana, Emilio melambai, memanggilku kearahnya.
“Ada apa?” Tanyaku kemudian mengambil tempat disebelahnya, “..oh ya..sendirian? Dimana yang lain?” Tanyaku sambil melihat kesekeliling dan memang dia hanya sendiri.
“Boleh aku bicara denganmu sebentar?” Mulai pria paruh baya itu, “..begini, ini…masalah pernikahanmu dan Marc…apa kalian tidak…berencana mempertahankannya? Yaahh…maksudku…apa selama 49 hari kalian bersama…perasaan seperti itu tidak ada?” Pria itu lantas menatapku dalam. Seakan tak kudapati jawaban, aku terus diam. Aku bahkan bingung dengan perasaanku sendiri. Karena terkadang, aku merasa nyaman dengan pria itu dan terkadang pula, aku merasa kesal dan ingin lari dan sisi pria itu. Lalu? Apa yang membuatku ragu? Opis kedua itu sudah cukup, kan?, “..tidak Emillio…kami tidak pernah punya perasaan macam itu. Aku juga…tidak berniat mempertahankan yang bukan milikku.” Jawabku akhirnya. Pria itu hanya mengangguk paham, kemudian tersenyum, “…tapi, kalau dia bukan milik siapa pun…apa akan ada kemungkinan kau mempertahankannya.”
“Tetap tidak, Emillio.”
“Kenapa?”
Aku terdiam sejenak, menghela napas panjang dan mulai berbicara, “..karena aku bukan gadis yang pantas untuknya dan aku juga bukan gadis yang ia dambakan.”
Kembali pria itu hanya mengangguk sembari tersenyum. Sikap pria paruh baya ini sungguh membuatku sedikit bingung.
“Aku mau kau pikirkan ini baik-baik..waktu kalian tinggal 12 hari lagi, kan…kurasa 12 hari itu lebih dari cukup untuk kau berpikir lagi.” Ujarnya kemudian bangkit berdiri dan berjalan menjauh. Aku masih duduk dibangku taman itu dengan banyak pertanyaan berkelabat diotakku. Berpikir? Apalagi yang harus aku pikirkan? Keputusan ini sudah final kan? toh! Sedari awal, aku yang membuat mereka berpisah. Jadi, sudah seharusnya aku mengembalikan yang bukan milikku..

Ji Eun POV end :

To Be Continued…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

16 thoughts on “61 Days With You #3

  1. udah tahu lagunya…. milik austin shadow…
    dan sorry ya di komen sebelumnya manggilnya march…keke. kan marc gak pake h…keke

  2. 12 hari lagi?cepet banget itumah TT-TT
    disini IU kayak mau tapi malu ya, hehe.
    cepet diupdate lagi yaaa, gak sabar pengen liat endingnya😀

    Hwaiting Author-nim 9(^-^)9

      1. Kakak ini suka moto Gp yaa ? Kok tau semua tentang moto gp (?) dan pasti fansnya Marquez😀 kalo aku Pedrosa *gak ada yg nanya😀

      2. Iya. Aku suka banget sama MotoGP…tapi, sebenarnya gak tau banyak juga soal MotoGP. Aku juga idola sama Marc..habis dia ganteng dan berbakat😀 Tapi, Pedrosa juga bagus kok performanya akhir-akhir ini..😀

  3. eh?? emang dulunya marc pacaran sama vanessa?? kok nggak diceritain?? marc juga kayaknya gak ada apa apa sama vanessa.. apa cuma vanessa aja yang punya rasa ke marc??

  4. ji eun sebenarnya udah mulai menyukai Marc, kan? cuman, dia masih gengsi gitu? Dan juga kehadiran Vanessa.. tapi siapa cowo yang di cintai ji eun?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s