Posted in Marc Marquez FanFic

61 Days With You #4

BeFunky_61DaysWithYouCover.jpg

Hi everyone!!😀 Ready for 4th Chapter of 61 Days With You?🙂 Ok, then…Happy reading😀 and jangan lupa leave ‘LIKE’ or ‘COMMENT’ kalian bellow, ya?😀 !!NO SILENT READER!! Enjoy, guys!😀

***********************

          Pagi itu Ji Eun sudah mengemas semua pakaian dan perlengkapannya masuk kedalam koper. Setelah ia yakin semuanya sudah siap, gadis itu segera keluar dari kamar hotel tempat mereka menginap.
“Sudah semua?” tanya Marc yang sedari tadi menunggu gadis itu diluar.
“Cih! Kau pikir aku sepikun kau!” sahut ketus gadis itu kemudian berjalan kearah lift.
“Pasangan serasi, eh?” goda Shanti kemudian menyikut pelan lengan Marc, “..sudahlah, kau tenang saja. Lama-lama dia akan luluh juga.” Lanjutnya.
“Dia? Luluh? Cih! Jangan bercanda!” balas Marc kesal kemudian berjalan kearah Ji Eun pergi tadi.
Cih! Luluh? Mereka pikir sudah berapa usahaku untuk membuatnya luluh, hah? Sedikit baik padaku saja tidak! Gadis sinting itu!

“12 hari untuk berpikir? Cih! Mana sanggup aku terus mempertahankan ini dengan laki-laki macam dia!” omel Ji Eun sesampainya diloby, sedang beberapa pasang mata terus mengamatinya dengan aneh, mungkin pikir mereka ‘Gadis secantik ini bertingkah seperti orang gila!’, “..mereka pikir laki-laki itu selama ini bersikap baik padaku?! Aah! Ini menyebalkan!”
Gadis itu lantas kemeja resepsionis untuk mengembalikan kunci kamar, setelah itu melenggang sendiri keluar dari hotel besar itu.
Tengah menunggu taksi didepan, mata Ji Eun menangkap sosok yang sepertinya tak begitu asing lagi untuknya. Diperhatikannya sosok diseberang sana dengan seksama dan setelah yakin gadis itu segera berdiri dan berlari menghampiri sosok pria yang ia kenal itu, “..oppa!” serunya sembari berlari kecil menghampiri pria itu.
“Ji Eun-shii? Sedang apa?” tanya pria itu setelah Ji Eun sampai dihadapannya, “…kau sendiri? Mana manager Yoon dan Agatha?” tanya pria yang nampak begitu akrab dengan Ji Eun itu.
“Eum..aku sendiri saja. Dan aku disini…untuk…eumm..tour! Ya, tour! Hehe..” dusta Ji Eun. Dalam hati, gadis itu terus berdoa supaya si bodoh Marc itu tidak menampakkan batang hidungnya sampai ia selesai berbicara dengan pria didepannya ini, “..oh ya, oppa juga…sendirian saja?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Iya. Ada pekerjaan yang harus aku bereskan disini.” Balas pria itu kemudian tersenyum manis.
Astaga…Hyun Woo oppa memang selalu tampan… pekik gadis itu dalam hati. Wajahnya bahkan berseri-seri sekarang, “..oh ya, oppa mau pulang, ya?” tanya gadis itu saat melihat koper-koper besar yang dibawa pria itu.
“Iya. Kau juga kan? Bagaimana kalau kita sama-sama saja?” tawar Hyun Woo yang langsung membuat Ji Eun panic seketika, “..kau juga akan pulang ke Seoul, kan?” tanya pria itu lagi ketika melihat raut panik diwajah Ji Eun.
“E-eum..be-begini…a-aku..aku..ngg…” Ya Tuhan…bagaimana aku menjelaskannya? “..itu..aku ada urusan di Barcelona…jadi…aku…harus kesana..iya!” jawab Ji Eun akhirnya dan gadis itu berharap, pria cerdas dihadapannya itu tidak lagi banyak bertanya.
“Urusan? Urusan apa? Sendirian saja?” tanya pria itu. Untung aku menyukaimu…kalau tidak aku sudah memakimu, oppa!
“Urusan rahasia…dan lagi, manager Yoon juga Agatha sudah menungguku disana.” Kilah gadis itu sedang butir-butir keringat halus sudah mengucur deras dari keningnya. Oppa…mianhe…jeongmal mianhe, oppa…

Tak berapa lama, Marc juga beberapa kru timnya juga Emilio keluar dari hotel tersebut. Mata pria itu menjelajah ditiap sudut hotel itu, berusaha mencari Ji Eun yang sudah melengos hilang duluan tadi, “..kemana gadis bawel itu, hah?! Dia mau ketinggalan pesawat?” omel Marc terus mencari.
“Tidak usah mencari jauh-jauh..itu disana.” Tunjuk Hector sedang Marc mengikuti arah telunjuk pria itu. Dan untuk beberapa saat Marc membatu ditempat. Ada rasa sakit dan marah yang bercampur dan menumbuk-numbuk hatinya. Marc mengepal kesal tangannya hendak menghampiri gadis yang berstatus ‘istri’nya itu.
“Tidak, Marc! Kau harus ingat…ini hanya kontrak. Dan kau tak berhak marah kalau kau tak punya perasaan apapun padanya.” Cegat Emilio sebelum Marc bertindak bodoh.
Segera pria itu tersadar. Ia melihat kedua tangannya yang terkepal kuat disisi tubuhnya. Bodoh! ada apa denganmu!
“Ji Eun!” tegur Shanti kemudian melambai dan gadis itu merespon. Segera gadis itu menghampiri mereka bersama dengan Hyun Woo.
“Kalian sudah siap? Oh ya..ini Hyun Woo…dia temanku semasa SMA.” Ujar Ji Eun dengan senyum manis kemudian memperkenalkan pria itu kepada Marc dan yang lainnya.
Dia bisa tersenyum begitu manisnya didepan pria itu? Cih! Menyebalkan!
“Oh ya…bagaimana kalau aku duluan. 30 menit lagi aku harus cek in…Ji Eun, aku duluan, ya? Sampai ketemu di Seoul..” pamit Hyun Woo kemudian berlalu pergi setelah menaiki sebuah taksi.
“Sampai jumpa, oppa!” seru Ji Eun sembari melambai sampai taksi itu tak lagi terlihat.
“Oppa?” beo Marc dengan kesal, “..sok manis sekali..apa dia tau kau itu liar?” ketus Marc kesal.
“Ada apa denganmu? Lagi pula itu bukan urusanmu! Dan lagi, Hyun Woo-oppa itu jauh lebih baik darimu!” sahut Ji Eun ketus pula.
Kenapa pria ini? Menyebalkan sekali!

***************

          12 jam perjalanan mereka tempuh dari Jepang menuju Barcelona. Lelah sudah pasti mereka rasakan. Segera Ji Eun melenggang keluar ruang kedatangan setelah melihat manager Yoon dan Agatha yang sudah menunggunya diluar sana.
“Kau mau kemana?” tanya Marc datar.
“Aku tidak mau pulang denganmu! Mengerti? Dan jangan banyak tanya, karena itu bukan urusanmu!” balas Ji Eun ketus kemudian berjalan keluar dan menghampiri Agatha juga manager Yoon.
“Mana Marc dan yang lainnya?” tanya Agatha dengan bingung, “..oh ya, Alex…dia tidak bersama kalian?” tambahnya.
“Aku mau menginap diapartemenmu hari ini. Boleh kan? Dan Alex…dia sudah pulang duluan kemarin.” Balas Ji Eun kemudian segera menarik Agatha dan manager Yoon keluar dari ruang tunggu kedatangan bandara El Prat, Brcelona itu.

“Eonni bertemu Hyun Woo-oppa? Disana? Lalu..apa dia tau skandalmu, eonni?” tanya Agatha sedikit panic. Gadis itu sangat tau kalau Ji Eun begitu menyukai Hyun Woo sejak gadis itu masih duduk dibangku SMA.
“Tidak. Sepertinya dia tidak tau. Bukankah itu bagus? Jadi..setelah aku bercerai dari si bodoh Marc itu, aku bisa langsung mendekatinya, kan?” cerita gadis itu bersemangat.
“Eo-eonni…begini…sebenarnya aku mau tanya hal ini dari beberapa hari yang lalu…”
“Tanya apa?”
Sejenak Agatha melirik kearah manager Yoon dan menghela napas panjang sebelum mulai berbicara, “..begini, eonni…eum..aku dan manager Yoon ingin tau..apa kau…benar-benar sebenci itu pada Marc? Eumm…menurutku…50 hari bersama itu bukan waktu yang singkat, lho! Apa…tidak ada perasaan macam itu eonni…perasaan seperti yang kau rasakan untuk Hyun Woo-oppa..”
Ji Eun tertegun sebentar..Ya, ada begitu banyak memori konyol yang terkadang mampu membuatnya berdebar selama 50 hari ini bersama pria itu. Ada begitu banyak memori yang rata-rata semuanya ada pria itu didalamnya. Tapi..sekali lagi. Ji Eun lebih memilih mengikuti otaknya yang berpikir logis, bahwa..pria itu bukanlah haknya. Ia hanya meminjam pria itu dari wanita yang rela diduakan dan rela dengan sabar menunggu prianya untuk dikembalikan. Dan akan sangat jahat pula, kalau Ji Eun merampas apa yang bukan miliknya itu.
“Agatha…dengarkan aku. Ada yang harus aku katakan pada kalian.” Gadis itu berhenti sejenak kemudian memulainya, “..sebenarnya..Marc sudah memiliki seorang kekasih..dan aku merasa sangat kasihan pada gadis itu. Dia rela diduakan..bahkan dia tak keberatan menunggu kami sampai menyelesaikan kontrak ini. Dan akan jahat sekali kalau aku merebut apa yang bukan milikku, kan?”
“Jadi…misalkan kalau Marc bukan milik siapapun…Eonni mau..mempertahankan pernikahan eonni ini?”
“Entahlah Agatha…aku belum tau perasaanku yang sebenarnya seperti apa..”
Beberapa saat apartemen milik Agatha itu terasa sepi. Tak ada lagi yang berbicara sampai bunyi bel pintu apartemen Agatha berbunyi.
“Siapa?” seru gadis itu kemudian berlari kearah pintu itu dan membukanya, “..Marc? A-ayo masuk…eonni ada didalam.” Ajak Agatha dan hanya dijawab gelengan Marc.
“Bisa kau tolong panggilkan Ji Eun? Ada yang ingin aku bicarakan dengannya.” Ucap Marc dengan tatapan tajam. Sepertinya ada yang sangat serius yang hendak dibicarakan pria itu dengan Ji Eun, pikir Agatha. Buru-buru gadis itu berlari lagi kedalam dan menyampaikan apa yang Marc katakan padanya tadi.
Segera Ji Eun menghampiri pria yang masih menunggunya didepan pintu itu.
“Mau apa..hei!” baru gadis itu muncul dihadapan Marc, pria itu langsung membawanya dengan paksa, “..kau mau bawa aku kemana, hah! Lepaskan!” rontanya namun, kuat genggaman Marc lebih besar dari usaha gadis itu melepaskan diri.
Marc membawa masuk gadis itu dengan paksa kedalam mobilnya sedang Ji Eun hanya bisa mengikutnya dengan terpaksa pula.
“Sebenarnya kau mau bawa aku kemana, hah?!” marah gadis itu kemudian menatap Marc dengan tajam.
“Kesuatu tempat..untuk sedikit membuka matamu.” Jawab Marc dingin. Tatapan pria itu lain. Ada rasa takut dalam hati Ji Eun. Apa yang akan dia lakukan denganku?

******************

          “Apa yang Vanessa katakan padamu?” tanya Marc datar. Tatapan pria itu lurus kedepan. Menatap kosong kearah danau ditaman kota Barcelona yang sudah diselimuti gelapnya malam.
“Tidak. Dia tidak mengatakan apapun..”
“Jangan bohong!”
Nada bicara pria itu meninggi seketika. Dan tanpa sadar, nada tinggi Marc itu membuat Ji Eun bergetar ketakutan, “..u-untuk apa aku berbohong padamu? Tidak ada untungnya juga kan?” balas gadis itu masih mengelak.
“Apa dia bilang kalau aku dan dia memiliki hubungan?” tanya Marc masih sedatar tadi, “..dan kuharap kau jujur padaku. Karena ada hal yang perlu kau ketahui juga..”
“Baiklah. Iya…dia bilang kau itu kekasihnya. Dan…itu benar kan? Seharusnya kau merasa beruntung memiliki gadis pengertian seperti Vanessa itu. Dia rela menunggumu seperti ini dengan sabar.”
“Jadi begitu…” jawab pria itu singkat kemudian berdiri dari duduknya, “..terima kasih..kupikir kau belum tau soal ini..” tambahnya kemudian berjalan masuk kedalam mobilnya dengan diikuti Ji Eun. Apa maksudnya?

Malam itu Ji Eun tak bisa memejamkan matanya. Didalam otaknya terus berkelabat perkataan Marc ditaman tadi. Tatapannya..nada bicaranya..sorot matanya..seakan semua itu mampu membuat Ji Eun merasa terluka tiap kali mengingatnya.
Tanpa sadar, pelupuk mata Ji Eun sudah ditutupi selapis tipis air mata yang kapan saja bisa jatuh kalau ia mau. Sebenarnya…yang bodoh itu aku atau dia? Dan yang sebenarnya menjadi keledai bodoh dalam pernikahan ini aku atau dia? Dan air mata itu jatuh seiring ingatannya terlempar pada punggung Marc yang berjalan menjauh darinya tadi. Pria itu tak lagi melirik atau sekedar mencibirnya seperti biasa. Dan Ji Eun merasa tidak nyaman dengan perasaan ini.
Tidak…ini salah…dan aku tidak boleh terus menerus begini…lagi pula, aku masih punya Hyun Woo…untuk apa aku jadi keledai bodoh yang menanti hal mustahil…

Marc’s POV :

Aku baru akan memejamkan mataku saat kejadian ditaman tadi kembali berkelabat diotakku. Berkali-kali aku memaki kebodohanku sendiri dalam hati. Kebodohanku yang menganggap kalau gadis itu sudah mulai bisa membuka hatinya untukku. Yang ternyata itu hanya harapan terliarku yang bahkan tak bisa diwujudkan menjadi kenyataan.
Karena kenyataannya…gadis itu tidak mencintaiku, dan hanya aku yang mulai merasakan perasaan itu. Karena kenyataannya, gadis itu mencintai pria lain dan terlihat begitu manis didepan pria itu, yang bahkan selama ini, tidak pernah aku dapatkan meski statusku adalah suaminya.
Aku cemburu. Ya, aku cemburu. Aku iri pada pria itu. Ya, aku memang sangat iri padanya. Padahal kalau mau dibilang, aku sama pantasnya dengan pria itu. Dan aku bisa lebih pantas lagi darinya. Bahkan…yang lebih membuatku sakit hati ketika dia menyerahkanku pada seseorang yang memang dulu pernah aku cintai.
Apa dia menyerah? Tapi dia serius dan terlihat begitu tenang…dia tak merasa terluka sedikitpun saat mengatakan bahwa aku harus kembali pada Vanessa…sial!
Aku terus menggeliat gelisah tanpa sedikitpun merasakan kantuk diatas tempat tidur. Bau gadis itu masih tercium disprei dan bantal ini. Aku merindukannya…Ya..pria bodoh ini sangat merindukan gadis itu…gadis bawel yang selalu memakinya dan berbicara ketus padanya..gadis bawel yang pernah menggigit bahkan memukulinya sampai berdarah…gadis bawel yang pernah menangis didalam pelukannya dalam keadaan mabuk…
Dan aku sadar betul…semua itu tentu saja bukan kenangan indah untuknya, kan? Karena hanya aku yang mengemas itu sebagai memori berharga…
Marc’s POV end :

To Be Continued…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

16 thoughts on “61 Days With You #4

  1. udah ada titik terang perasaan marquez untuk IU.
    waaaa IU jahat banget sih gak peka-peka *geregetan*
    gak sabar chapter 5 ><)9

  2. ahhhh… gregetan bgt bacanya… cepet dilanjut yaa… HWAITING… dan kalo bisa lebih dipanjangin ya.XD

  3. duhhh greget banget nih sama sama galau cuman gara gara gengsi huhuuu. Itu marc dikirain mau ngomong apa, taunya cuman gitu…
    makin penasaran nihhh, keep writing yaa!!😉

  4. demi apa geregetan … kenapa iu ga peka peka. kenapa marc juga ga terus terang aja ke jieun? vannesa siapa lagi (?)

    next chap ditunggu author

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s