Posted in Marc Marquez FanFic

61 Days With You #5

BeFunky_61DaysWithYouCOVER2.jpg

iHola, todos!! Annyeong chingu-deul!! Meet again in new chapter of ’61 Days With You’ dan tanpa basa-basi lagi…Happy reading guys😀 jangan lupa, tinggalkan ‘LIKE’ atau ‘COMMENT’ kalian dibawah, ya🙂 !!NO SILENT READER!! Enjoy, all😀

******************

FIVE

Ji Eun POV :

Setelah dua hari aku menginap diapartemen Agatha, aku memutuskan untuk kembali keapartemen Marc. Kurasa, perkataan Emilio dan Agatha ada benarnya. Setidaknya, kami harus meninggalkan kesan yang baik sebelum berpisah, kan?
Aku berdiri dengan canggung didepan pintu apartmen mewah milik pria itu. Dan takut-takut, aku mengangkat tanganku untuk menekan bel rumah yang terdapat disamping pintu itu.
Beberapa saat kemudian ada suara seorang wanita yang dengan hangat menyapaku dari dalam, mungkin saja itu ibu Marc, mommy Roser.
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka dan jauh dari tebakanku. Wanita itu bukan mommy Roser melainkan…”..Vanessa?” gumamku terheran-heran. Aku sedikit mengintip kedalam, apa pria itu ada didalam sana dan benar saja, Marc baru keluar dari kamarnya dengan bertelanjang dada.
Seketika, aku merasakan nyeri dihatiku. Selayaknya ada pisau yang menghujam jantungku berulang-ulang kali. Aku merasa mataku mulai panas. Dan hidungku terasa perih. Tidak! Tidak boleh menangis disini! Tekatku kemudian melengos masuk kedalam tanpa dipersilahkan.
“A-aku hanya akan mengambil beberapa barangku yang tertinggal. Dan..aku akan pindah ke apartemen Agatha sampai semuanya selesai.”
Kulihat Marc yang juga nampak kaget dengan kehadiranku. Ada raut panik disana. Tapi aku tidak perduli lagi, yang harus aku lakukan sekarang adalah segera berkemas dan pergi dari tempat ini.
Aku mengambil semua pakaianku yang masih tersusun rapi dalam lemari milik Marc dan dengan sembarang juga tak beraturan, memasukannya kedala koperku.
“Apa yang kau lakukan? Kau mau kemana?” tanya Marc yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamar kemudian menggenggam tanganku yang masih sibuk berkemas itu.
“Sudah kubilang, kan? Mulai hari ini sampai kontrak kita selesai, aku akan tinggal diapartemen Agatha. Toh, 9 hari lagi kontrak kita selesai, kan?” jawabku sinis kemudian menghempas tangannya yang menggenggam tanganku dan kembali berkemas, “..lagi pula, Vanessa juga sudah ada disini kan? Untuk apa aku mengganggu lagi.” Tambahku yang kemudian menutup koperku dan menyeretnya, “..oh ya, soal surat cerai itu…kau tidak usah repot-repot. Nanti aku dan manager Yoon yang akan mengurus semuanya.”
Aku melangkah keluar dari kamar Marc sedang pria itu masih membatu didalam sana tanpa sedikitpun berniat untuk menahanku. Untuk apa juga aku berharap seperti itu? Toh! Dia tak akan mungkin melakukannya karena disini ada Vanessa. Langkahku dengan cepat membawaku keluar dari apartemen mewah itu. Dan sesampainya diloby, seakan langkah kakiku yang ringan tadi, menjadi berat seketika. Seakan tak lagi bertenaga hanya untuk berjalan keluar dari pintu loby itu. Sedang, pelupuk mataku sudah tertutupi selapis tipis air mata, yang setetes demi setetes jatuh dipipiku. Baru saja aku akan menyeka air mata itu dengan punggung tanganku, sebuah sapu tangan tersodor dihadapanku.
“Oppa..”
Segera kuambil sapu tangan itu darinya dan menyeka air mataku, “..oppa sedang apa?”
“Bisa kita bicara?” tanyanya dengan serius.

Setengah berlari aku mengikuti langkah panjangnya yang membawaku kembali masuk kedalam lift. Dengan cepat, pria itu menekan tombol angka 12 setelah kami berdua sudah masuk kedalam. Dia juga menginap disini, ya? Tapi…untuk apa dia kesini?
Dan tak berapa lama, pintu lift itu akhirnya terbuka. Kami segera keluar kemudian berjalan kesebuah kamar yang tidak begitu jauh dari lift tadi.
“Ayo masuk.” Ajaknya setelah membuka pintu, “..kau pasti heran kan kenapa aku bisa sampai disini?” tanyanya yang memang sedari tadi menjadi pertanyaan diotakku. Perlahan, aku mengangguk kemudian duduk diatas sofa.
“Aku disini karena skandal itu, Ji Eun.” Lanjutnya dan sontak membuatku terkejut. Skandal? Bagaimana dia tau? Iya! Manager Yoon… aku baru teringat kalau manager Yoon adalah saudara tiri Hyun Woo.
“Lalu? Apa yang akan kau lakukan?” tanyaku asal. Sebenarnya aku lebih suka diam karena tak ada yang ingin aku bicarakan dulu untuk saat ini.
“Aku akan membawamu pulang dan mengembalikan semuanya seperti dulu lagi.” Jawabnya yang tak pernah kuduga sebelumnya. Meski aku tak begitu mengerti maksudnya, tapi entah mengapa aku sedikit terhenyak mendengar kalimat ‘mengembalikan semuanya seperti dulu..’ apa mungkin maksudnya, perasaanku yang dulu? Kalau memang begitu…aku harus jawab apa?
“Aku akan membuatmu seperti Lee Ji Eun yang dulu. Lee Ji Eun yang dulu aku kenal dan…” ucapannya terhenti. Membuatku makin penasaran dengan apa yang akan dia sampaikan. Tapi, entah mengapa..hatiku tidak begitu tertarik dengan apa yang akan diucapkan Hyun Woo.
“Dan..aku cintai..” lanjut pria itu akhirnya dan sukses membuatku berdebar. Tapi, debaran ini aneh. Benar-benar aneh dan tidak biasa. Debaran ini tidak sehebat waktu aku dan Marc…Ah! Masa bodo dengan debaran yang kumiliki untuk pria itu..ada hal penting dan nyata yang sekarang harus aku hadapi…yaitu Hyun Woo…,”..lalu? bagaimana dengamu? Apa kau mau?” tanya pria itu yang jelas belum bisa aku jawab sekarang.
“O-oppa..aku..”
“Sstt..kau tidak perlu menjawab sekarang, kan? Aku akan memberimu waktu untuk berpikir.” Balasnya sembari tersenyum lembut kepadaku. Biasanya aku selalu luluh dan suka dengan senyuman lembut itu. Tapi sekarang..entah mengapa senyuman hangat itu membuatku terluka?

Aku tau saat ini Agatha sedang menatapku dengan heran. Karena setau gadis itu, aku akan pulang keapartemen Marc hari ini. Bukannya pulang, aku malah makin membawa banyak barang keapartemennya dan berkata kalau aku akan tinggal bersamanya sampai kontrak ini selesai.
Aku masih duduk merenung sembari bertopang dagu dijendela kamarku. Pandanganku terpaku pada hiruk pikuk kota Barcelona dibawah sana, sedang pikiranku melanglang buna entah kemana.
“Eonni…ini kubuatkan Hot Chocolate untuk eonni..diminum, ya?” tawarnya kemudian meletakkan segelas coklat panas itu diatas meja, “..oh ya, eonni…aku akan kemini market dulu. Mau membeli bahan-bahan makanan..eonni tak apa sendirian, kan?” tanya gadis itu dan hanya kujawab dengan anggukan sambil tersenyum. Dan sosok Agatha akhirnya menghilang seiring dengan tertutupnya pintu kamarku.
Aku mendesah lelah. Lelah dengan semua keadaan rumit ini. Andai aku tau cara menyelesaikannya, sudah kuselesaikan segera dan pergi dari masalah ini. Tapi buntu…tak ada yang dapat kupirkan saat ini. Yang terpikir olehku hanyalah…bagaimana caranya agar aku bisa melupakan pria bodoh yang sudah hampir dua bulan ini menjadi suamiku.

Ji Eun POV end :

Ji Eun masih duduk didepan jendela. Pandanganya masih tak lepas dari langit kota Barcelona yang mulai ditaburi cahaya-cahaya bintang dan bulan. 9 hari lagi ya? Tidak teras semuanya secepat ini…batin Ji Eun. Gadis itu tersenyum ketika ingatannya terlempar pada beberapa kenangan yang ia lewati bersama Marc. Kenangan konyol yang terkadang membuat Ji Eun mendengus geli, terkadang pula dapat membuat Ji Eun bedebar-debar dan tersipu malu.
Tanpa sadar, pipi gadis itu terasa panas karena air mata yang mulai berjatuhan. Makin lama makin deras dan menghasilkan isakkan-isakkan kecil dari bibir mungil Ji Eun.
Ada sesak dan sakit yang ia rasakan didalam hatinya. Sesak sampai ia tak bisa bernapas, dan sakit sampai ia tak bisa mengontrol air matanya lagi. Aku mulai mencintainya…dan aku sadar betul itu…tapi aku terlalu egois untuk mengakuinya…aku terlalu bodoh dan pengecut menyadari betapa aku benar-benar menginginkan Marc disisiku…semakin aku mengatainya menyebalkan, semakin aku sadar bahwa ia sudah menawan hatiku..dan semakin aku mengatakan bahwa ia menggangguku, semakin aku sadar kalau aku ingin dia selalu disisiku..aku mencintainya..Ya..tapi aku terlalu pengecut dan egois untuk mengungkapkan kalimat sederhana itu padanya…atau…aku terlalu takut kalau-kalau dia akan berkata tidak…
Tangis Ji Eun makin pecah seiring ingatannya membawanya kepada kejadian pagi ini. Dimana, dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat Marc bersama wanita itu sepagi itu. Itu juga karena kebodohan Ji Eun. Bukankah dia yang meminta Marc untuk kembali dengan Vanessa? Marc hanya mengikuti sarannya. Dan itu bukan salah pria itu. Itu semua salah Ji Eun. Salah gadis egois yang lebih menjaga gengsinya ketimbang menyadari perasaannya sendiri.
Aku yang harus menyerah kan?

*******************

Marc’s POV :

Aku melihat kesekeliling ruang apartemen ini dan kenangan-kenanganku bersama gadis itu kembali berkelabat dikepalaku. Aku ingat pertama kalinya kami masuk kesini sebagai pasangan suami istri, dimana ditempat tidur itu, gadis itu menggigiti kedua tanganku sampai lebam. Dimana dilantai depan kamar itu, aku hampir menciumnya kalau saja Alex tidak datang untuk mengantarkan makanan pagi itu.
Tanpa sadar, sudut bibirku tertarik keatas, membentuk sebuah lengkung senyum. Dan aku juga ingat, saat dia melempari wajahku dengan sandal tidurnya, karena aku menyindirnya yang memang tak bisa memasak.
Satu lagi kenangan yang paling membekas diingatanku adalah saat gadis itu datang dalam keadaan mabuk dan menangis didalam pelukanku. Saat itu, untuk pertama kalinya aku melihat Ji Eun yang rapuh. Untuk pertama kalinya aku menerima semua umpatan kasarnya tanpa sedikitpun membalas. Dan untuk pertama kalinya, aku dengan sadar mendekap hangat tubuhnya.
Saat itu ada perasaan hangat yang menjalar dari lenganku, yang merangkulnya, sampai kedalam hatiku. Dan aku merasa nyaman terhadap perasaan itu. Selayaknya menghisap morfin. Aku benar-benar ketagihan dengan kehadiran perasaan hangat itu lagi didalam hatiku.
Saat berhasil kucerna semua itu. Satu kesimpulan yang kudapat Aku mencintainya…aku sangat mencintainya…dan aku sangat ingin memilikinya…
Ruang hampa ini, makin bertambah hampa tanpa kehadiran gadis itu, dan aku merindukan semua tentangnya. Aku terjebak…aku benar-benar terjebak dalam perasaan ini dan enggan keluar dari dalamnya. Maka dari itu, satu hal yang harus aku lakukan. Aku harus membawanya kembali disini dan memulai semuanya dari awal lagi…

Marc’s POV end :

Marc sudah mengemasi pakaiannya masuk kedalam koper. Pria itu memutuskan untuk kembali tinggal bersama kedua orang tuanya. Pria itu baru saja akan keluar dari apartemennya saat Ji Eun datang dan berdiri dengan tatapan datar didepannya.
“Kau mau kemana?” tanya gadis itu datar.
“Aku mau pulang. Mau apa kesini?” jawab Marc juga dengan nada yang sama.
“Ada yang perlu kau tanda tangani.” Ujar Ji Eun sembari menyodorkan sebuah map merah kepada Marc. Dengan penasaran, pria itu membuka map tersebut dan membaca isi surat yang terdapat dalam map merah tadi.
Surat cerai? Tapi ini kan.. “..ini belum genap 61 hari..bagaimana bisa kau..”
“Aku sudah memberitahukan semua ini pada agencyku dan mereka setuju. Jadi cepat kau tanda tangani, karena dua jam lagi pesawatku akan berangkat.”
Pesawat? Apa maksudnya?

To Be Continued…

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

16 thoughts on “61 Days With You #5

  1. oh nooo. kenapa ga dijelasin si vannesa kok bisa ada di apartement marc?! bertelanjang dada (?)

    ditunggu next chapnya

  2. aaa…. boleh komplen gak?.
    kurang panjaaannggg…. mau lagi…XD
    akhirnya Jieun ngakuin perasaannya juga…kkk, lanjut… klo bisa cepet.kk

  3. palli-palli Marc, katakan perasaan mu yang sebenarnya!! sebelum terlambat gitu.

    ah, dua orang ini kenapa gengsinya selangit sih??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s