Posted in Marc Marquez FanFic

’61 Days With You’ The Last

BeFunky_61DAYSWITHYOUFINAL.jpgAnnyeong chingu-deul😀 iHola, todos!😀 Hi, everyone😀 si author balik lagi nih!😀 setelah beberapa hari ngilang, akhirnya nongol lagi dengan chapter terakhir ’61 Days With You’😀 Author pengen banget ngucapin banyak terima kasih buat kalian-kalian semua yang sudah dengan setia membaca FF ini dari Chapter pertama sampai terakhir…dan author sangat terharu dengan apresiasi kalian😀

Ok! si author gak mau banyak cing cong lagi..nih, langsung aja, ya😀 Happy reading guys, dan jangan lupa leave ‘LIKE’ or ‘COMMENT’ kalian bellow😀 !!NO SILENT READER!! Enjoy, guys😀

****************************

The Last

          Marc masih mematung sembari menatap map merah itu dan Ji Eun bergantian. Apa hanya aku yang memiliki perasaan ini, Ji Eun? jerit Marc dalam hati. Pria itu benar-benar tidak habis pikir kalau Ji Eun ingin segera mengakhiri pernikahan kontrak mereka ini, bahkan sebelum kontraknya habis.
Entah Marc yang salah lihat, atau memang mata Ji Eun sudah diselimuti bulir-bulir bening. “..katakan padaku kalau kau tak mencintaiku..” Ucap Marc tiba-tiba.
Gadis itu masih bergeming. Ia bahkan tak mendongkak sedikitpun untuk menatap Marc atau sekedar menjawab pertanyaan Marc tadi, “..Ji Eun..lihat aku dan katakan kau tidak mencintaiku!” Sentak Marc dan akhirnya membuat gadis itu mendongkak dan menatap Marc tajam semampunya.
“Aku tidak mencintaimu, Marc Marquez Alenta…aku tidak pernah sedikitpun mencintaimu!” Ucap gadis itu mantap dengan penekanan pada kata ‘tidak’. Butir-butir bening itu jatuh mengiringi tiap ucapan gadis itu. Membuat Marc semakin yakin, kalau memang tak ada lagi kesempatan atau pintu keajaiban yang terbuka untuknya.
“Baiklah.” jawab Marc singkat kemudian mengambil pena dalam ranselnya dan menandatangani surat cerai dimap itu, “…kalau begitu pergilah. Kau sudah mendapatkan yang kau mau kan? Pergilah.” Eh?! Apa yang kau katakan, bodoh! Cegah dia! ronta hati Marc. Namun, lagi-lagi Marc lebih patuh pada emosi dan egonya. Ia membiarkan gadis itu berbalik dan pergi, menjauh dan hilang dari hadapannya, dan dari kehidupannya, “..aku mencintaimu, gadis bodoh..” Bisik Marc lirih. Hatinya terasa begitu sakit. Gadis itu bahkan tak mengucapkan apapun sebelum pergi. Hanya membungkuk dan pergi. Mungkin lebih baik begitu. Karena aku tak akan bisa menahan diri lagi kalau kau mengatakan sesuatu. batin Marc.

Ji Eun POV :

Aku berjalan kearah lift dengan langkah mantap. Tapi tidak dengan hatiku yang terus mendesak untuk tetap tinggal. Sakit. Ya, terlalu sakit sampai-sampai aku tak mampu lagi menahan air mata ini mengalir lebih deras. Sesak. Ya, sangat sesak sampai-sampai aku kesulitan untuk menghirup oksigen.
Gadis bodoh macam apa aku ini? Yang terus menerus mengikuti ego dan emosinya, sampai harus menyakiti hatinya sendiri dengan melepaskan orang yang dia cintai.
Aku baru akan keluar dari loby mansion itu sampai ada sebuah tangan yang menahan lenganku. Ya, itu Vanessa.
“Kau mau kemana, Ji Eun?” Tanya Vanessa lembut, “..jangan bilang kau..”
“Semua sudah selesai, Vann…sekarang Marc milikmu..aku berjanji untuk tidak mengganggu lagi.” Ucapku sembari menahan tangis kemudian berlalu pergi dari situ. Sedang wanita itu tak berbuat apa-apa lagi.
Apa Marc benar-benar tidak mengejarku? Atau berusaha menahanku agar tidak pergi? Apa dia benar-benar sudah membenciku?

Ji Eun POV end :

Marc’ POV :

Aku masih berdiri dan mematung didepan pintu apartemenku. Masih menyesalkan yang sudah kulakukan tadi. Bukankah seharusnya, aku menahan gadis itu? Bukankah seharusnya, aku memeluknya dan berkata kalau aku mencintainya? Bukankah seharusnya, aku tidak dengan emosi menandatangani surat sialan itu? Tidak..bukan surat itu yang sialan…akulah laki-laki sialan dan pengecut yang cepat menyerah hanya karena penolakan gadis itu.
Akulah laki-laki sialan dan pengecut yang tidak bisa membaca pijar mata coklat itu lebih dalam lagi. Dan akulah laki-laki sialan dan pengecut yang tak bisa mempertahankan yang seharusnya bisa kupertahankan.
Tekatku untuk memulai semuanya dari awal ternyata hanya ilusiku yang tidak akan menjadi kenyataan.
“Aarrgghh!! Brengsek kau Marc!” Makiku pada diriku sendiri seraya melampiaskannya pada tembok yang tak bersalah itu, “..laki-laki brengsek dan pengecut macam apa kau, hah?!” Makiku lagi dan kali ini membuat tanganku yang beradu dengan tembok itu berdarah.
“Marc! Hentikan!” Seru seorang wanita dari arah lift sana. Pandanganku kabur, dan aku mulai berhalusinasi. Ini Ji Eun..apa gadis itu benar-benar kembali.
“Ji Eun?” Ujarku lirih, hampir menangis. Kurengkuh wajah wanita didepanku itu dengan tatapan memohon.
“Bukan, Marc. Ini aku…Vanessa.” Seru wanita itu seraya menghempas kedua tanganku, “..sadar Marc! Kalau kau memang sangat mencintai Ji Eun…pergi dan katakan! Jangan hanya diam dan menyesal disini. Bilang padanya kalau kau mencintainya dan tak ingin berpisah darinya!” Desak Vanessa.
“Tapi itu yang dia inginkan, Vann…aku tak bisa memaksanya terus bertahan kalau dia sendiri tak mau bertahan. Kalau kupaksakan..aku hanya akan melukainya.” Gumamku tanpa sadar. Seakan aku benar-benar harus menyerah. Menyerah sebelum aku berjuang.

Marc’s POV end :

*****************

          Ji Eun masih merenung dikamarnya. Ingatannya terus berputar pada sosok Marc yang bahkan tak sedikitpun berniat untuk menahannya. Bahkan, saat sidang perceraian mereka digelar pun, Marc tidak hadir sampai hakim akhirnya mengabulkan gugatan cerai itu. Ji Eun juga masih ingat, betapa bodohnya dia yang berharap kalau Marc akan mencegahnya pergi dibandara El Prat, Barcelona waktu itu.
Kembali bulir-bulir bening itu berjatuhan membasahi pipi gadis itu. Dan tak berselang lama, isakkan-isakkan yang sedari tadi berusaha ia tahan, mulai menggema dikamarnya. Aku tidak percaya kalau aku sudah disini. Dirumahku..bahkan ada dikamarku sendiri. Aku pulang. Tapi tidak dengan hatiku. Hatiku masih disana. Di Barcelona.
“Ji Eun..” Seru lembut sebuah suara dari luar kamar gadis itu yang kemudian diikuti dengan terbukanya pintu kamar Ji Eun, “..sayang..kau belum siap?” Tanya wanita paruh baya itu lembut sedang Ji Eun dengan cepat mengusap air matanya.
“Eomma..oh, ini…aku baru saja akan ganti baju.” Jawab gadis itu sembari menyunggingkan senyum paksaan dibibir mungilnya.
“Sayang..kau kenapa? Kau baru habis menangis?” Tanya wanita itu lembut kemudian perlahan mendekat kearah Ji Eun yang sedari tadi duduk dimeja rias, “..ayo ceritakan pada eomma, nak..”
“Aniyeo, eomma..gwenchana..” Elak Ji Eun masih memaksakan seulas senyum diwajahnya.
“Sayang..” Wanita itu merengkuh lembut wajah putrinya dan mengarahkannya kewajahnya, “..kau bisa membohongi orang lain, bahkan dirimu sendiri..tapi, kau tidak bisa membohongiku…ayo ceritakan yang sebenarnya terjadi..”
Bulir-bulir air mata kembali menggenang dipelupuk mata Ji Eun, “..eomma..apakah semua yang kulakukan ini benar?” Tanya gadis itu lirih, “..apa dengan menceraikan Marc..aku sudah melakukan hal yang benar?” tambahnya.
“Lalu..bagaimana dengan perasaanmu sekarang? Kalau kau merasa baik-baik saja, berarti apa yang kau lakukan itu sudah benar..tapi, kalau sebaliknya..maka hal yang kau lakukan itu salah.” Wanita itu kemudian mengambil tempat disebelah putrinya dan menyandarkan kepala gadis itu didalam dekapannya, “..karena dia tidak mencegahmu, bukan berarti dia tidak mencintaimu kan? Tapi..semua kembali padamu, sayang..cobalah, untuk memutuskan ini semua dengan hatimu.”
Eomma benar. Selama ini aku terlalu patuh pada egoku. Sampai-sampai aku lupa pada pendapat hatiku dan mengabaikannya. Aku mencintai seorang pria, namun melepaskannya karena egoku pula. Aku tidak mau menyesal dua kali. Dan inilah finalnya.

****************

          “Ji Eun..boleh, kita bicara berdua saja diluar?” Tawar Hyun Woo. Wajah pria itu nampak tegang dengan butir-butri keringat terlihat mulai membasahi keningnya.
Ji Eun mengangguk dan mengikuti arah langkah Hyun Woo yang membawanya ketaman belakang rumah, Ji Eun.
Tanpa banyak bicara lagi, pria itu berlutut dihadapan Ji Eun dan menyodorkan sebuah kotak berlapis kain beludru berwarna merah tua, “..will you marry me, Lee Ji Eun?” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Hyun Woo yang membuat Ji Eun benar-benar kehilangan kata. Ada rasa terkejut dan bimbang yang bercampur dihatinya.
Selama ini, Hyun Woo begitu baik padanya, dan pria itulah cinta pertama Ji Eun. Tapi, Ji Eun tak mungkin menerima lamaran Hyun Woo ini, karena hati dan cintanya bukanlah lagi untuk pria yang selalu ia sukai ini. Pria yang selalu menjadi pangeran berkuda putih didalam setiap mimpinya.
Ji Eun mulai merasakan panas dipipinya karena air mata yang mulai berjatuhan.
“Maaf Hyun Woo..aku minta maaf.” Ujar Ji Eun kemudian membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Berusaha menahan isakkan yang mulai mendesak keluar, “..aku benar-benar minta maaf..”
Hyun Woo bangkit berdiri dan membawa Ji Eun dalam pelukannya. Dengan lembut Hyun Woo mengusap-usap pundak Ji Eun, berusaha menenangkan gadis itu.
“Aku tau. Aku sudah tau sejak awal Ji Eun. Sejak pertama aku menemukanmu menangis diloby mansion waktu itu. Saat itu, entah mengapa hatiku begitu yakin kalau kau menangis karena pria itu. Tapi, aku berusaha untuk menepis anggapan itu dan berpikir mungkin ada hal lain. Mulai saat itu, aku terus mengamatimu dan benar…setelah perceraian itu, kau terus menangis diam-diam.
Aku mencintaimu. Tapi, akan sangat jahat jika aku memaksamu juga untuk mencintaiku. Dan akan sangat menyakitkan pula untukku jika aku harus berama-sama dengan wanita yang tidak mencintaiku, tidak perduli seberapa besar aku mencintainya.
Pergilah, Ji Eun. Kembalilah padanya. Aku yakin dia juga pasti sangat mencintaimu.”
Hyun Woo melepas pelukannya, dan merengkuh wajah Ji Eun sembari mengusap air mata gadis itu, “..jangan buat dirimu menyesal untuk kedua kalinya, Ji Eun. Pergilah. Aku tidak apa-apa.”
Gadis itu tersenyum kemudian mengecup lembut pipi Hyun Woo, “..terima kasih.” Ujarnya kemudian berlari masuk kembali kedalam rumah. Yang kulakukan sudah benar. Melepasnya pada pilihan hatinya.

******************

          Satu jam lagi balapan akan dimulai. Sedang dilintasan sana, masih ada mesin-mesin Moto2 yang berlalu-lalang saling mengejar.
“Marc..ada seseorang yang mencarimu diluar.” Ujar Vanessa dengan nada dan senyum yang tak biasa. Mungkin Fans yang mendapat passing card pikir Marc kemudian mendengus bosan.
“Bilang padanya aku sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa. Ada race penting yang harus aku jalani sejam lagi.” Balas Marc masih tetap duduk ditempatnya.
Ya. Sudah sebulan ini Marc memiliki kesulitan dalam berkonstrasi. Setiap kali berhasil mengumpulkan fokusnya itu. Bayang-bayang seorang gadis bernama Lee Ji Eun selalu berkelabat dikepalanya dan memporakporandakan fokusnya. Bahkan, yang lebih parah lagi. Marc gagal melewati garis finish di Philip Island karena terjatuh.
“Kau benar tidak mau bertemu dengannya?” Tanya Vanessa sedikit membujuk dan hanya dijawab Marc dengan anggukan mantap.
‘BUK!’ Sebuah sepatu sket berhasil mendarat tepat dipucuk kepala Marc dan membuat pria itu meringis kesakitan, “..siapa itu, hah?!!” Seru geram Marc sembari mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit.
“Kenapa? Mau apa?” seru geram balik sebuah suara yang tak begitu asing lagi ditelinga Marc. Suara yang pemiliknya begitu Marc rindukan sebulan ini. Suara melengking yang sering memaki Marc. Ya. Itu Lee Ji Eun. Gadis itu sudah berdiri dengan garang didepan Marc. Kedua kakinya telanjang sedang sebelah sepatunya sudah ia pegang ditangan kanannya, yang sudah dipersiapkan untuk melempari Marc lagi.
“Nah. Itu dia yang kumaksud, Marc. Kalau begitu aku pergi dulu, ya?”
Vanessa berjalan keluar dari motorhome Marc dan meninggalakn Ji Eun juga Marc didalam sana.
“Sebenarnya apa masalahmu, hah?!” Bentak Marc kesal sedang tangannya masih mengusap-usap pucuk kepalanya.
“Masalahku? Kau masih berani bertanya begitu, tuan Marquez?! Menurutmu bagaimana perasaan seorang wanita yang tidak mau ditemui seorang pria?!” Geramnya kemudian mencengkram kerak baju Marc dengan tangan kirinya.
“Masa bodo! Bukan urusanku! Dan lepaskan tanganmu, cepat!”
Marc menepis tangan Ji Eun dari kerak bajunya dan menatap tajam gadis itu, “..mau apa kau kesini?! Kita tidak punya hubungan apapun lagi, kan?”
Gadis itu terdiam sejenak. Perlahan ia mundur selangkah dan menunduk. Gadis itu merasa matanya kabur karena bulir-bulir air mata kembali menyelimuti matanya.
Apa yang Marc katakan itu benar. Mereka memang tak punya hubungan apapun lagi sekarang. Mereka sudah menjadi orang asing satu sama lain. Bulir-bulir bening itu jatuh. Jatuh saat rasa sakit itu mulai kembali menerjang hatinya.
“Baiklah kalau begitu.” Balas Ji Eun datar kemudian memungut sepatunya tadi dan berbalik. Belum sampat gadis itu melangkah selangkah, Marc memeluk gadis itu dari belakang. Menahan gadis itu agar tidak pergi lagi. Marc tidak mau menyesal lagi dengan melepas gadis itu begitu saja.
Ia pernah melepas gadis itu sebelum berjuang sekali, dan tidak akan dia lakukan lagi kali ini setidaknya Marc harus mencoba dulu.
“Jangan pergi..lagi..” Ucap Marc perlahan, “..setidaknya dengar dulu apa yang akan aku katakan.” Marc memutar tubuh Ji Eun menghadap kearahnya dan menatap dalam manik coklat itu, “..aku mencintaimu..aku sangat mencintaimu..dan aku kesulitan sebulan ini tanpamu. Jujur, aku sangat merindukan makianmu, omelan suara melengkingmu, dan hal-hal konyol yang terjadi diantara kita. Aku ingin kita kembali. Kembali seperti kita 61 hari yang lalu…kita ulang semuanya dari awal.”
Air mata gadis itu makin mengalir deras. Kesungguhan Marc membuatnya tersadar. Kalau selama ini dia terlalu bodoh dan egois. Selalu menutup mata atas segala usaha Marc. “Kau mau…memulai semuanya lagi dari awal bersamaku?” Tanya Ji Eun lambat-lambat dan hanya Marc jawab dengan anggukan sembari tersenyum lembut, “..baiklah..hai, namaku Lee Ji Eun..tapi aku lebih dikenal dengan nama IU. Dan kau?”
“Aku Marc Marquez Alenta. Tapi kau bisa memanggilku Marc. Salam kenal.”
Ya. Kita akan mulai semuanya dari awal. Dan mengukir kenangan baru yang mungkin lebih konyol dari kenangan-kenangan sebelumnya.

**************

          “Kenapa Vanessa bisa ada diapartemenmu waktu itu, hah? Dan kau pake acara tidak berbaju pula..habis melakukan apa?” Omel Ji Eun yang sudah duduk sembari melipat kedua tangannya diatas perutnya yang buncit.
“Hahaha..kau ini. Sensitif sampai sebegitunya. Lagi pula, waktu itu Vanessa datang hanya untuk membawakan rekaman hasil balapanku.” Jelas Marc kemudian perlahan mendekati istrinya itu, “..jangan marah-marah, nanti Melody bangun.” Bisik Marc sembari mengusap-usap perut buncit Ji Eun.
“Melody?” Dahi Ji Eun berkerut mendengar nama itu dari mulut Marc.
“Iya. Melody..anak kita.”
“Kau yakin dia anak perempuan?”
“Yaah..tentu saja aku percaya alat USG dokter Jimmy yang selalu akurat itu.”
Wanita itu tersenyum kemudian ikut mengelus-elus perutnya, “..sayang..daddy sudah memberimu nama. Kau suka?”
Seperti berusaha menjawab pertanyaan ibunya, bayi itu menendang-nendang dari dalam dan membuat senyum Ji Eun makin lebar. Dengan lembut, Marc merengkuh wajah Ji Eun dan menariknya mendekat kewajah Marc hingga hanya bersisa beberapa senti saja, “..aku mencintaimu..” Bisik Marc kemudian melumat lembut bibir Ji Eun.
61 hari bersamamu..adalah 61 hari terbaik dalam hidupku…dan 61 hari hari bersamamu, membuatku mengerti…kalau kau dan aku memang ditakdirkan untuk bersama…aku mencitaimu..

The End..

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

9 thoughts on “’61 Days With You’ The Last

  1. hyunwoo oppa hiks, kalo uri IU ga mau ama ak aja ne?/ngarepwak/digebukinauthor
    yeaaay happy endiiiiing :3 tapi berarti jieun melepas karirnya dong?
    hehe daebak thoor, keep writiing ”)9

    1. Hahaha..Hyun Woo-oppa nya baru patah hati tuh! hahaha😀
      Yaah..begitulah..demi Marc seorang, IU-eonni akhirnya melepas karirnya sementara sampai uri Melody lahir😀 *itu sih kalo ada sequelnya..cuman authornya lagi less idea😀 *

  2. omegat omegat baca ff ini bikin senyum senyum sendiri haha😀
    pokoknya ff ini wajib dikasih sequel! harus! *maksa*
    aku suka banget cara author menceritakan alur ceritanya, gak terlalu berat dan almost gaada typonya😀 apalagi castnya Marquez dan IU, makin demen hehe😀

    pokoknya harus di buatin sequelnya ya thor, Hwaiting 9(^.^)9

  3. end?? hah.. gk kerasa.. udah penghujung cerita rupanya.. always happy ending kisahnya marc-iu ini. walau sempet termehek-mehek di awal cerita di last part ini. mong-ngomong, kok aku malah ngebayangin iu itu Suzy miss a, ya? karakternya sama pas di kdramanya dream high, haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s