Posted in Marc Marquez FanFic

Tell Your Mom, I Love Her!

TellYourMomILoveHerCOVERiHola, guys!😀 Annyeong chingu-deul!😀 Jumpa lagi kita😀 setelah sekian lama author menghilang tanpa jejak *kemana loe?!* sekarang author nongol lagi dengan FF barunya🙂 Daaann..tanpa basa-basi yang begitu banyak lagi..author persembahkan FF barunya kepada semua reader yang budiman dan setiawan *Hendra Setiawan kali, thor! -_-* Jangan lupa, setelah membaca, tinggalkan ‘LIKE’ atau ‘COMMENT’ kalian dibawah !!NO SILENT READER!! Gracias!😀 Gumawo!😀

* * * * * * * * * * * *

Cast :
Lee Ji Eun (IU) as Lee Ji Eun
Lauren Hanna Lunde as Lee Hanna
Marc Marquez Alenta as Him Self
Scott Redding as Him Self
Etc…

Genre :
Romance, Family

Author :
@LeaObiraga & @EchaObiraga

 

 

Part 1 :

Malam itu..aku masih ingat betul malam itu..dimana malam itu aku sudah siap menerima cacian dan pukulan dari ayahku..malam dimana aku sudah siap jika harus terusir dari rumahku sendiri..malam dimana aku memberitahukan aibku pada kedua orang tuaku..dan pria itu..pria brengsek yang sudah menitipkan benih ini dalam rahimku..dia tak mau bertanggung jawab dan lari, menghilang entah kemana..
“Siapa pria itu, Ji Eun..biar ayah bunuh dia!” mata pria paruh baya itu memerah. Ada selapis tipis air mata yang menggenang dikantung mata keriputnya. Bibir dan suaranya bergetar menyerukan kemarahannya, “..cepat katakan pada, ayah!” bentaknya lagi dan kini membuat kedua wanita didalam ruang itu tersentak dan menangis.
“Yeobo..keumanhe, eo? Ji Eun juga sudah minta maaf..” isak wanita paruh baya itu sembari berusaha menenangkan suaminya.
Aku memang pantas dikasari ayahku. Aku memang pantas mendapat benci darinya. Ini adalah kesalahan terbesar yang memang tak bisa dimaafkan. Terlebih untu pria itu.
Seumur hidup. Aku tak akan pernah mau mengenalnya lagi..begitu pula dengan anakku. Seumur hidupnya..dia tak akan mendapatkan gambaran sedikitpun tentang siapa ayah biologisnya.

4 years latter…

“Hanna..ayo bangun, sayang.” Sapa lembut seorang wanita sembari berjalan mendekat kearah ranjang bersprei Hello Kitty itu.
“Ini masih pagi sekali, mom.” Balas seorang gadis kecil dari atas kasurnya, “..lagi pula, hari ini libur.” Tambahnya yang makin menarik bed cover senada –dengan sprei- menutupi sekujur tubuhnya.
“Baiklah. Kalau begitu, mom dan eonni tak akan mengajakmu jalan-jalan.” Ancam wanita itu kemudian berjalan pelan kembali kearah pintu kamar gadis kecil itu.
(*Eonni = Kakak perempuan yang disebutkan oleh adik perempuan*)
“Memangnya kalian akan pergi kemana?” tanya gadis kecil itu setelah setengah berbalik menghadap wanita tadi, “..kebun binatang? Mall atau..”
“Kau akan tau kalau kau segera bangun dan mandi sekarang.” Pinta wanita itu yang langsung direspon dengan malas oleh gadis kecil tadi.
“Yaah..yaah..mom selalu berhasil membujukku.” Ucap bocah 4 tahun itu sebelum menghilang dibalik pintu kamar mandi.

Mobil Porsche Panamara putih itu melaju dengan kecepatan sedang dijalanan kota London. Dan akhirnya berhenti disebuah bangunan besar nan luas, yang didepannya, bertulis De Deu Hospital.
“Humph! Kupikir hari ini kita akan kekebun binatang atau mall. Kalau tau akan datang kemari untuk menjenguk Leo. Aku tidak akan mau ikut!” geurut gadis kecil itu dengan kesal.
“Oh ayolah sayang..jangan seperti itu. Tidak baik.” Nasehat lembut wanita paruh baya itu sebelum memutar kenop pintu kamar rawat Leo.
Bau obat mulai menguar dari dalam ruangan itu. Sedang diatas ranjang sana seorang bocah lelaki terbaring lemah, bahkan matanya tak ia buka. Terus terpejam seperti sedang tertidur dan menikmati mimpinya sendiri.
“Bagaimana keadaan Leo, Mag?” tanya wanita paruh baya itu kepada seorang wanita paruh baya lain yang tak lain adalah ibu Leo.
“Yaah..seperti yang kau lihat Ra Im. Dia masih seperti itu dan belum sadar.” Jawab Maggie lirih sembari menatap nanar putra kecilnya.
“Apa yang Ji Eun katakan?” tanya Ra Im sembari mengajak Maggie duduk dan menenangkan sahabatnya itu.
“Ji Eun bilang, ini hanya koma ringan karena benturan keras dikepalanya. Dan dia bilang, mungkin dalam beberapa hari ini Leo pasti sadar. Tapi..”
“Percayalah, Mag..percaya pasti Leo sembuh.”
Kedua wanita itu kemudian kembali menatap haru pemandangan didepan mereka. Dimana gadis kecil Ra Im sudah memanjat susah payah keatas ranjang temannya itu.
“Hei, Leo. Aku tau kau tidak mau diganggu saat tidur, tapi..aku mau minta maaf. Aku mau minta maaf kalau waktu itu aku sempat marah padamu dan bilang tak mau berteman lagi denganmu. Aku tau aku salah. Jadi..kau mau berteman denganku lagi, kan? Kalau kau mau..ayo bangun dan kita main lagi. Kau lihat..ibuku membelikanmu mainan. Kita bisa memainkannya bersama kalau kau mau.”
Air mata Maggie turun tanpa bisa ia kendalikan. Kedua wanita itu terharu dengan kepolosan Hanna. Entah gadis itu mengerti situasi atau tidak. Ia tetap memperlakukan Leo selayaknya bocah laki-laki itu hanya tertidur dan sedang asyik bermimpi.
Sesekali gadis kecil itu tertawa geli ketika ia menggelitik telapak kaki telanjang Leo dan mengelus-elus hidung bocah lelaki itu dengan bulu jacaketnya.
Sesaat kemudian seorang wanita muda dengan pakaian putih masuk kedalam bersama seorang perawat dan mereka tersenyum melihat adegan yang terjadi diatas ranjang rawat itu.
“Hanna, sayang..ayo turun. Eonni mau memeriksa keadaan Leo.”
Segera gadis kecil itu turun dari atas ranjang Leo meski tak beranjak sedikit pun dari sisi ranjang bocah lelaki itu.
Wanita muda itu mulai menempelkan steteskop yang ia bawa tadi didada bocah lelaki itu. Dirasa sudah cukup, tangan wanita itu mulai meraba-raba pergelangan mungil Leo sedang pandangannya diarahkan pada jam dinding yang tertempel didinding kamar itu.
“Ji Eun..bagaimana?” tanya Maggie setelah Ji Eun selesai memeriksa Leo dan melaporkan hasil periksaannya pada perawat yang bersamanya tadi.
“Sudah mulai membaik. Denyut nadi juga detak jantungnya sudah tidak selemah kemarin. Jadi, kita tinggal tunggu saja kapan Leo mau bangun dari mimpi indahnya.” Jawab Ji Eun sembari tersenyum lembut, “..dan lagi..tidak boleh ada yang naik keatas tempat tidur pasien, ya?” peringat Ji Eun sembari melirik kearah Hanna yang mulai kembali memanjat dengan susah payah keatas ranjang Leo.
“Oh, ayolah eonni. Lalu aku harus dimana?”
“Kau bisa duduk dikursi ini, Hanna.”
Ji Eun kemudian memindahkan Hanna keatas kursi yang terdapat disamping ranjang rawat Leo, “..eonni..kenapa Leo belum bangun juga? Padahal aku sudah menggelitiki kakinya juga hidungnya. Dia memang seperti babi tidur!”
Baru saja Hanna akan kembali menggelitik hidung Leo dengan bulu jacketnya, bocah lelaki itu perlahan membuka matanya, “..apa yang akan kau lakukan, hah?” tanya bocah lelaki itu dengan suara lemah.
“Leo!” pekik bahagia Maggie kemudian menghampiri putra kecilnya itu dan mengelus-elus pucuk kepala bocah lelaki itu.
“Mommy..apa yang si cerewet ini lakukan disini?”
“Kau masih marah padaku, Leo?” tanya Hanna lambat-lambat. Ada isyarat penyesalan dari pijar mata gadis kecil itu. Ji Eun yang melihat itu seakan kembali teringat sesuatu.
Hanna sangat mirip denganku, bukan? Dan kuharap..hanya aku..bukan pria itu..
“Cium aku dan aku akan memaafkanmu.” Canda Leo kemudian tertawa pelan.
“Tidak mau! Kau bau obat, Leo. Apa tidak ada cara lain?”
“Tidak ada. Ya sudah..kalau kau tidak mau.”
Tingkah kedua bocah 4 tahun itu sontak membuat Maggie, Ji Eun dan Ra Im menahan tawa mereka. Cara mereka bahkan sudah semirip drama-drama Korea yang sering Ji Eun nonton di TV.
“Ba-baiklah! Dipipi saja, ya?”
Lambat-lambat Hanna mencondongkan wajahnya mendekat kewajah Leo. Dan dengan cepat gadis kecil itu mengecup pipi Leo, “..sudah kan? Kau mau memaafkanku?”
Leo mengangguk pelan dan tersenyum. “Nah..kalau begitu. Biarkan Leo istirahat, ya? Besok baru kita datang lagi.” Tawar Ra Im kemudian berpamitan pada Maggie dan Leo.
“Eomma pulang duluan, ya?”
“Ne, eomma.”
“Eonni..kami pulang duluan, ya? Daa eonni!”
“Tunggu! Sepertinya kau lupa sesuatu..”
Ji Eun menatap menuntut kearah Hanna yang juga menatapnya dengan bingung, “..lupa apa eonni?” tanya gadis kecil itu.
“Kau hanya mencium Leo saja. Lalu, eonni?” rajuk manja Ji Eun kemudian mendekat kearah Hanna dan mendekap gadis kecil itu.
“Tentu saja aku juga akan mencium eonni-ku.”
Ji Eun menjongkok hingga tingginya sejajar dengan Hanna dan membiarkan bibir mungil nan lembut gadis kecil itu menempel dipipinya, “..aku sayang eonni..sayaaang sekali.”
“Eonni juga, sayang. Eonni sangaaat sayang padamu.”
Gadis kecil itu melambai kemudian berjalan mejauh dari koridor rumah sakit. Eomma sangat menyayangimu, nak…sangat sayang…

* * * * * * * * * * * *

          “dr. Lee..dokter kepala ruangan memanggil anda. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan soal Poli Anak.”
“Baiklah. Setelah ini saya akan segera kesana?”
Ji Eun segera membereskan arsip-arsip yang bertebaran dimejanya. Dan keluar dari ruangannya menuju ruangan dokter kepala.
“Apa anda mencari saya, dok?”
“Iya. Silahkan duduk. Begini, dr. Lee. Besok kita akan kedatangan 2 kelompok dokter magang, dan salah satu kelompok itu akan ditaruh pada poli anak. Kuharap, kau bisa membimbing mereka dengan baik. Karena salah satu dokter magang yang akan berada dipoli anak adalah putra pemilik rumah sakit ini.”
“Putra dr. Marquez maksudmu?”
“Putra sulung tepatnya.”
Ji Eun mengangguk paham. Tapi, dalam hati gadis itu membuat tekat lain dari perintah dokter kepala mereka ini.
“Tapi..dokter magang tetaplah dokter magang, dok. Siapapun ayahnya dan apapun jabatannya, mereka tetap harus dididik dengan baik. Dan jika salah, mereka harus ditegur dengan cara yang sama pula.”
“Maksudmu?”
“Kau tau maksudku, dok. Aku akan menerapkan disiplin yang merata untuk semua dokter magang dipoli anak nanti.”
Pria lanjut usia itu hanya tersenyum salut kepada keberanian wanita muda didepannya ini, “..baiklah kalau itu maumu..aku akan mendukung.” Balas pria lanjut itu kemudian mempersilahkan Ji Eun keluar dari ruangannya.
Enak saja..tidak ada yang boleh diistimewakan disini..siapapun itu!

To Be Continued..

Cuplikan Part 2 :

“Kalau tidak bisa membandingkan darah dari Vena dan Arteri seperti ini, untuk apa kau jadi dokter, hah?” delik tajam Ji Eun kearah Marc yang hanya bisa menunduk dan terdiam, “..cepat ambil lagi darah anak ini dan bawa ke laboratorium sekarang!” bentak marah wanita muda itu sembari melempar hasil lab keliru tadi kewajah Marc, “..atau bilang pada ayahmu untuk mencari rumah sakit lain yang bisa menempatkan calon pembunuh sepertimu.” Tambahnya dengan suara rendah.

Will Posting soon..😀

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

16 thoughts on “Tell Your Mom, I Love Her!

  1. Kereen..
    Penasaran jd anaknya itu gak tau ya kalau yg dipanggil eonnie nya itu sbnrnya ibunya?
    Btw,kalau nama nya Jieun tsi aq bakal share sayang bgt namanya bkan jieun😄
    Aq gak bisa ngeshare di fp

      1. Wah makasih bnyak wkwkwk
        😄

        Pstinya ditunggu kelanjutannya :3
        Penasaran juga ma karakter marc nya disini bakal kaya apa?😄
        Kalau Jieun kayanya bkal ttep galak ya haha

  2. Itu Leo yang main hello baby bareng Lauren, kan? Hihihi… Aku suka liat mereka berdua.
    Bagian awalnya kurang gereget. Let me guess yang cuplikan part 2 itu yang bagian kata pembunuh, apa dulu Marc pernah suruh Ji Eun gugurin kandungannya? Dan, umur mereka samakah atau gimana?

    1. Klo soal Ji Eu bilang Marc pembunuh itu bakal dijelasin di Part 2😀 dan sama juga apa Marc dan Ji Eun seumuran itu bakal dijelasin di Part 2😀

      Iya. Si Leo yang main sama Lauren di Hello Baby😀

      Makasih buat sarannya, Rit😀 dan makasih juga sudah membaca😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s