Posted in Marc Marquez FanFic

Tell Your Mom, I Love Her! #10

photocat_tellyourmomilovehercover2

Sorry ya baru bisa posting sekarang ๐Ÿ˜” dan tanpa harus banyak monyong lagi *ngomong thor..ngomong!* Happy Reading ya, guys ๐Ÿ˜˜

*************************

Part 10 :

Marc dan Scott masih sama-sama membatu dan belum ada yang mau merespon ucapan Hanna tadi.
“Ha-Hanna..ini bukan..”
“Iya, Hanna. Aku daddy mu..daddy kandungmu. Dan wanita yang biasa kau panggil dengan sebutan eonni itu adalah mommy kandungmu. Percayalah padaku, sayang.”
“Cukup, Scott! Cukup! Kau sudah tidak waras, Scott. Hanna tidak punya seorang daddy yang kasar, brengsek dan tidak waras sepertimu. Jadi pergi sekarang atau aku tidak akan sungkan untuk menghajarmu.”
Mendengar ucapan Marc membuat emosi Scott makin tersulut, “..aku sudah bilang berulang kali, Marc. Jangan ikut campur urusanku! Kau mau mati, hah?!” Seru Scott marah. Matanya merah dan menyala. Membuat ngeri sipapun yang menatapnya, termasuk Hanna. Kaki kecil gadis itu bergetar hebat.
“Sekarang Hanna ikut denganku. Dan jangan melawan!”
“Tidak mau.”
Kalimat paksaan Scott langsung disergah cepat oleh Hanna. Gadis itu menolak dan berlindung dibelakang Marc. Satu-satunya tempat berlindung yang ia punya, “..kau mengerikan. Aku benci padamu.” Isak gadis kecil itu dari balik tubuh Marc.
“Kau dengar sendiri Scott. Kau itu mengerikan. Jadi pergilah.” Sambung Marc dengan suara rendah kemudian menggendong Hanna dan membawa gadis kecil itu masuk kedalam mobilnya.
Rolls Royce milik Marc menjauh dan tinggallah Scott yang masih berdiri mematung ditempat. Pria itu bahkan tak menyangka kalau putrinya sendiri akan sebegitu ketakutan padanya. Maafkan daddy sayang..daddy selalu saja membuatmu takut.

Ada hal yang tidak biasa malam itu. Entah mengapa, gadis kecil yang selalu cerewet itu mendadak diam dan tiba-tiba saja melontarkan pertanyaan yang jelas membuat ketiga orang dewsa yang sedari tadi menunggunya mengoceh itu luar biasa terkejut.
Hanna menatap bergantian ketiga orang dewasa yang duduk didepannya itu. Air matanya masih belum mau berhenti bergulir turun. Rasa penasarannya pun makin menjadi-jadi. Pertanyaan demi pertanyaan makin menggunung dikepalanya. Tapi satu yang paling ingin ia ketahui adalah, kebenaran ucapan Scott siang tadi.
“Coba seseorang jawab aku. Apa yang dikatakan Scott itu benar atau tidak?” Desaknya. Namun masih sama, ketiga orang dewasa itu tetap memilih diam.
“Scott..dia bohong kan, eonni?” Kini gadis itu menatap lurus kearah Ji Eun. Tatapannya jelas sebuah tatapan penuh tuntutan.
“Apa kalau eonni bilang dia bohong, kau akan percaya pada eonni?” Tanya Ji Eun balik, berusaha menutupi ketakutannya yang makin menjadi-jadi.
“Iya, aku percaya!” Jawab gadis kecil itu mantap.
Ji Eun menunduk, sengaja menghindar dari tatapan Hanna. Ji Eun takut kalau Hanna tau dia lah yang sedang berbohong sekarang.
“Dia memang bukan ayahmu.” Jawab Ji Eun datar namun suaranya bergetar. Seperti ada sesuatu yang terrtahan ditenggorokannya, “..ini sudah malam. Sebaiknya kau segera tidur. Dan eonni mohon..kau jangan sekali-kali lagi, bertemu dengan Scott. Dia itu orang yang sangat jahat, kau sendiri tau itu.”
Gadis kecil itu berjalan mendekati Ji Eun yang masih menolak untuk menatapnya. Ada rasa bersalah yang menggelayut dihati gadis kecil itu, “..eonni..kau marah padaku?” Tanya Hanna lambat-lambat. Nada bicaranya terdengar sangat merasa bersalah. Ji Eun sendiri pun sebenarnya tidak marah dengan Hanna. Wanita itu marah dengan situasi yang makin rumit ini. Situasi yang tak pernah terpikir olehnya sedikitpun.
Wanita itu mengalah dan berbalik menatap wajah lesu gadis kecilnya itu, mengelusnya dengan penuh cinta, mengusap pipinya yang basah karena air mata, “..tidak sayang..eonni tidak marah padamu. Eonni hanya sedih saja, kenapa ada orang yang sejahat Scott?”
“Aku janji eonni..aku janji pada eonni kalau aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Aku tidak mau eonni sedih.” Sesal gadis itu sembari memeluk Ji Eun.
“Iya sayang. Terima kasih.”
Maafkan eomma, sayang. Eomma hanya ingin kau aman. Eomma membohongimu supaya kau tetap baik-baik saja.

*************************

“Bagaimana dengan Hanna?”
“Dia akan baik-baik saja. Lagi pula, Scott sendiri yang membuat Hanna makin jauh darinya.”
Kedua wanita itu diam beberapa saat untuk menyeruput minuman hangat mereka masing-masing, “..kau yakin Scott benar-benar tidak akan mengganggu lagi?”
“Entahlah, Anya..aku juga takut.”
Ji Eun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Wanita itu bahkan tak pernah berpikir kalau masalah yang sudah dianggapnya selesai ini makin memburuk.
“Lalu Marc? Bagaimana dengan dia?”
“Sudah cukup dia kerepotan mengurusiku dan Hanna. Aku hanya tidak mau dia terlibat lebih jauh lagi dengan Scott. Entahlah, aku hanya takut hal buruk akan terjadi padanya kalau dia terus ikut campur.”
Anya mengusap bahu Ji Eun pelan, “..tidak Ji Eun. Kalau aku diposisi Marc pun aku akan terus ikut campur. Lagi pula, dia sangat menyayangi kalian berdua. Kurasa tidak akan mungkin kalau Marc mau lepas tangan begitu saja pada kalian berdua.”
“Tapi bagaimana kalau Scott melukainya. Kau sendiri tau bagaiman Scott itu. Aku hanya tidak mau Marc kenapa-kenapa, itu saja.”
Keduanya kembali terdiam.
“Ji Eun..dengarkan aku. Kau sangat beruntung memiliki Marc disisimu saat ini. Jadi kumohon, hargai usahanya untuk melindungimu dan Hanna, karena mau tidak mau, Marc sekarang sudah terlibat.”
Ji Eun berpikir sejenak. Dan benar, Anya memang tidak salah. Marc bahkan sudah terlibat terlalu jauh dalam urusannya dengan Scott ini. Jadi akan sulit untuk membawa Marc keluar dari masalah mereka, “..sekarang yang terpenting adalah bagaimana cara kalian melindungi Hanna. Itu saja.”
“Terima kasih, Anya. Setidaknya aku merasa sedikit lega sekarang.”

Marc terus melirik kearah pintu ruangan Ji Eun, namun sosok yang ia tunggu itu tak kunjung muncul dari balik pintu. Hingga beberapa saat kemudian, sosok itu akhirnya muncul juga.
“Kau dari mana?” Tanya Marc dengan sedikit nada khawatir kemudian ikut menerobos masuk kedalam rusngan Ji Eun.
“Aku dari cafetaria. Kenapa?”
“Tidak. Hanya saja…eum, bagaimana kemarin? Apa Hanna…”
“Dia belum tau. Kemarin aku coba jelaskan padanya bahwa apa yang Scott katakan itu bohong.”
“Dan Hanna percaya begitu saja?”
“Dia masih kecil, Marc. Tentu saja dia belum begitu paham soal ini. Jadi aku pun tak sulit untuk membohonginya.”
Marc terdiam. Pria itu menatap lurus kearah Ji Eun, mencari makna dari raut wajah wanita itu. Itu raut penyesalan. Yang sebenarnya adalah Ji Eun ingin sekali jujur pada Hanna kalau memang benar Scott itu adalah ayahnya dan Ji Eun lah ibu kandung Hanna.
“Kau juga sedang berbohong padaku sekarang, Ji Eun.”
Perkataan Marc jelas membuat Ji Eun tidak mengerti. Apa maksud Marc dengan dia membohongi pria itu?, “..kumohon jangan berpura-pura tegar seperti ini. Aku tidak keberatan kalau kau menangis didepanku ataupun mengeluh padaku. Tapi jangan simpan rasa sakitmu sendiri. Itu akan sangat melukaiku.” ujar Marc lembut sembari merengkuh wajah Ji Eun dengan kedua tangannya. Perlahan, pria itu mencondongkan wajahnya kearah Ji Eun dan mengecup bibir gadis itu.
“Maafkan aku..aku hanya tidak mau kau khawatir atau terlibat lebih jauh lagi Marc. Kau tidak tau siapa itu Scott.”
“Lalu apa masalahnya? Ji Eun, aku tidak perduli seperti apa Scott itu. Saat ini, aku hanya sedang berusaha melindungi dan mempertahankan apa yang sudah menjadi bagian dalam hidupku. Kau dan Hanna sangat berharga bagiku, apa salah kalau aku berusaha melindungi yang menurutku berharga bagiku?”
Ji Eun menggeleng. Sejenak wanita itu teringat perkataan Anya tadi. Dan benar, siapa pun yang ada diposisi Marc saat ini mungkin akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Marc sekarang. Pria ini hanya mencoba melindungi hal berharga dalam hidupnya. Tak ada yang bisa dipermasalahkan dengan itu.
“Kalau begitu berjanjilah padaku kalau kau akan baik-baik saja dan terus berada disampingku dan Hanna.”
Marc tersenyum hangat sembari mengangguk. Tanpa kau minta pun, selamanya…aku akan terus berada disisimu dan Hanna.

“Kuharap kau disini untuk memberi kami pekerjaan dengan bayaran mahal, tuan muda.”
“Tentu saja. Dan mungkin akan lebih mahal dari tugas-tugas sebelumnya.”
Scott tersenyum licik kearah pria berbadan tinggi besar didepannya itu. Sembari menyodorkan sebuah amplop tebal, Scott menjelaskan detil pekerjaan yang harus dilakukan beberapa pria yang tidak lain adalah mafia itu, “..jangan sampai membuatku kecewa karena…kalian tak akan pernah tau apa yang akan aku lakukan untuk membuat kalian menyesal sudah membuatku kecewa.”
Tanpa harus banyak bicara lagi, Scott bergegas keluar dari ruanga remang itu. Kali ini, meskipun kau memohon beribu ampun sekali pun…tak akan ada gunanya Marc. Aku benar-benar akan menghilangkanmu dari dunia ini.

*************************

Marc yang sebenarnya hanya berniat mengantar Ji Eun, akhirnya harus menginap dirumah wanita itu. Selain karena hujan deras dan Marc tidak sedang membawa mobil, namun karena Hanna juga mendesaknya untuk menginap semalam saja dirumahnya.
Lain lagi dengan Ji Eun. Entah mengapa wanita itu khawatir kalau Marc pulang sekarang. Maka, wanita itu setuju-setuju saja Marc menginap.
“Kau sudah ijin pada orang tuamu?” Tanya Hanna sembari terus sibuk dengan tugas sekolahnya.
“Tentu saja. Kalau belum, mana mungkin aku masih disini, kan?” Balas Marc kemudian melirik kearah tugas yang sedang dibuat Hanna, “..kalau kau ijinkan, aku mau membantumu mengerjakan tugas sekolahmu.” Tawar Marc.
“Benarkah? Baiklah.”
Keduanya pun tenggelam dalam kesibukan mengerjakan tugas. Sedang Ji Eun juga Ra Im menatap pemandangan itu dengan senyum hangat.
“Kurasa dia pria yang baik. Lagi pula, Hanna juga nyaman dan senang bersamanya.” Ujar Ra Im pada putrinya itu.
“Hmm..aku juga berpikir begitu, eomma. Kurasa, dia bisa jadi ayah yang baik untuk Hanna.” Balas Ji Eun sembari terus tersenyum lembut.
Tak berselang lama, pemandangan hangat tadi berubah tegang selesai Marc menerima telepon dari seseorang.
“Ada apa, Marc?” Tanya Ji Eun sedikit khawatir.
“Alex…dia dirumah sakit. Kanya bilang, dia dicelakai orang. Entahlah..tapi aku harus kerumah sakit sekarang.”
“Aku ikut.” Desak Ji Eun. Setelah mendapat persetujuan dari Marc, segera Ji Eun mngambil kunci mobilnya dan mereka bergegas keluar.
Tak sampai 20 menit, Marc juga Ji Eun sudah tiba di Royal Hospital tempat dimana Alex dirawat sekarang. Dengan tergesah-gesah, Marc juga Ji Eun melangkah dikoridor rumah sakit. Sesampai mereka didepan kamar rawat Alex, Ji Eun langsung diserbu dengan pelukan serta tangis ketakutan Kanya. Sedang Marc berusaha menenangkan ibunya.
“Kak Ji Eun..” Isak gadis itu sembari terus memeluk erat tubuh Ji Eun, “..aku takut sekali.”
“Coba jelaskan semuanya padaku perlahan, Kanya.” Desak Marc sembari terus mendekap ibunya.
“Tadi, karena hujan aku meminta Alex menjemputku dari tempat les musik menggunakan mobilmu dan saat diperjalanan pulang, ada beberapa orang pria yang berperawak seperti mafia. Mereka menghalangi jalan kami dan…Alex…mereka hampir membunuh Alex. Aku panik, makanya aku lari untuk mencari bantuan…dan saat bantuan datang, orang-orang itu sudah tidak ada.” Tutur Kanya sembari terus terisak. Ji Eun berusah menenangkan gadis itu dengan mengusap-usap punggung gadis itu, “..kalau tau akan jadi begini, aku pasti tidak akan meminta Alex menjemputku.” Sesal Kanya. Tangis gadis itu kembali pecah.
Sebenarnya siapa orang-orang itu?

“Sialan kalian semua!” Bentak Scott marah. Mata pria itu menyala bak kilat yang menyambar, “..dasar bodoh..bodoh kalian semua! Aku tidak pernah menyuruh kalian untuk menghajar Alex Marquez..”
“Kau bahkan sama bodohnya dengan kami, Scott. Kau tidak pernah menunjukkan fotonya pada kami.” Bantah seorang pria berbadan sedikit kurus memotong ucapan Scott yang berapi-api.
“Tapi ciri-ciri yang kujelaskan pada kalian tempo hari itu jelas brebeda dengan ciri-ciri orang yang semalam kalian cegat, dungu!”
“Lalu kita harus bagaimana sekarang?”
Scott melempar tatapan paling bengis yang pernah ia lontarkan pada siapapun, “..menunggu polisi untuk datang menjemput kalian.”
Desisnya kemudian berlalu pergi dari situ. Belum sempat pria itu keluar, seorang pria berbadan lumayan besar menghadang jalan Scott, “..kalau kami harus masuk penjara, berarti kau juga harus ikut bersama kami, tuan Scott Redding.”
Scott tersenyum licik seperti ada sebuah hal jahat yang sudah terpikir matang dikepalanya, “..lalu, kau mau apa sekarang?”
“Kalau kami menunggu kedatangan polisi-polisi itu disini, berarti kau juga harus ikut menungguย disini bersama kami.”
‘DOORR!’
Bunyi pistol itu membuat ruang remang itu hening, “..nasib kalian bisa sama seperti dia kalau mencoba melawan atau mengancamku.” Ucap Scott dengan nada suara datar dan penuh dengan kelicikkan. Pria itu pun berlalu pergi dari situ.
Awas saja kau Marc Marquez…kali ini, aku sendiri yang akan menanganimu langsung.

To Be Continued…

Cuplikan Part 11 :

“Aku akan tetap menikahi Ji Eun, dad. Tak perduli seperti apa masa lalunya. Aku sangat mencintainya, begitu juga dengan putrinya.” Pria itu menatap mantap dan lurus tepat didalam manik mata pria paruh baya didepannya itu. Sedang pria paruh baya itu, bahkan masih menolak untuk memberi jawaban.

Will Posting Soon..

Sorry guys kalo pendeknya cerita ini masih mengganggu kalian ๐Ÿ˜ญ tapi, author sudah berusaha dengan baik membuat cerita ini bagus *maybe๐Ÿ˜’* by the way, author tetap menunggu komentar-komentar kalian juga jempol kalian. Dan jangan jadi SILENT READER, please ๐Ÿ˜”โ˜บ๏ธ

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

5 thoughts on “Tell Your Mom, I Love Her! #10

  1. Akhirnya update jg๐Ÿ˜„
    KEREEEEENNNNN,,,,,tp koq scott nya jahat bgt tsi ><
    poor alex yg jd korban salah sasarannya T_T
    tp ntar gmana reaksi hanna nya kalau tau jieun ibunnya?
    #penasaran
    Please update soon,,,,,^^

    1. Hahaha…namanya juga peran antagonis โ˜บ๏ธ Iya sih..kasian Alex nya.. ๐Ÿ˜” author jadi merasa bersalah nyiksa Alex ๐Ÿ˜ญ hehe..by the way, makasih udah membaca ya eonni โ˜บ๏ธ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s