Posted in Marc Marquez FanFic

Tell Your Mom, I Love Her! #11

photocat_tellyourmomilovehercover2

Happy Reading ya, guys 😘

*************************

Part 11 :

Marc masih belum mau beranjak dari ranjang Alex. Masih banyak pertanyaan pula yang menggelayuti hatinya seperti, ‘Siapa orang-orang itu?’, ‘Apa maksud mereka melakukan ini?’, ‘Mengapa Alex?’ dan masih banyak pertanyaan lain yang terus mengganggunya. Dan kalau pun benar seperti yang dikatakan Anya bahwa orang-orang itu mafia, pasti ada dalang dibalik tindakan mafia-mafia itu, bukan?
Marc makin bingung. Pria itu bahkan hampir tak pernah mendengar kalau Alex punya masalah dengan seseorang. Selain karena sikapnya yang dingin. Adik lelakinya itu pun selalu menyibukkan dirinya dengan belajar. Mana mungkin, kan?
Tengah sibuk berpikir, Marc dikejutkan dengan gerakkan tangan Alex yang kemudian diikuti dengan sadarnya Alex.
“Alex..” Ujar Marc hampir seperti berbisik. Segera, Marc keluar dari kamar rawat Alex dan memanggil seorang dokter untuk memastikan lagi keadaan adiknya itu.
“Bagaimana dok?” Tanya Marc dengan senyum lega yang mulai melengkung dibibirnya.
“Dia sudah baik-baik saja. Namun, saya harap Alex bisa istirahat yang cukup untuk seminggu kedepan.” Jawab dokter itu kemudian melangkah keluar dari kamar rawat Alex.
Sejenak, Marc menangkap ada yang aneh dengan tatapan Alex. Namun Marc lebih memilih untuk mengabaikkan, mengingat pesan dokter tadi kalau Alex harus banyak beristirahat.
“Marc..” Seru Alex dengan suara serak yang seketika menghentikan langkah Marc untuk keluar dari kamar itu, “..bisa kita bicara sebentar? Ini soal kejadian kemarin malam.”
Seketika Marc membalikkan badannya dan kembali berjalan mendekati ranjang rawat Alex.

Kedua pria beda generasi itu masih saling diam dan belum ada yang berniat untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Marc tau, seharusnya dia yang memulai duluan karena dialah orang yang meminta ayahnya itu untuk bicara saat ini.
“Sebenarnya..” Marc akhirnya mengeluarkan suaranya dan mulai bicara, “..ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu.”
“Aku tau. Makanya aku kemari, nak. Ada apa?”
Sejenak Marc kembali terdiam. Setelah merasa siap, pria itu mulai membuka mulutnya lagi, “..aku akan menikahi seorang gadis dad..aku mencintainya.”
Pria paruh baya itu tersentak mendengar ucapan mantap putra sulungnya. Kaget sudah pasti, tapi rasa bahagia tak dapat pria paruh baya itu sembunyikan dari wajahnya.
“Kau sudah memiliki kekasih dan tidak memperkenalkannya pada kami?”
“Sebenarnya sudah kuperkenalkan, dad. Dia gadis yang kemarin malam datang waktu Alex masuk rumah sakit.”
Sejenak Julia tertegun. Pria paruh baya itu berusaha mengorek memorinya dan akhirnya menemukan, “..dr. Lee?? dr. Lee Ji Eun? Kau..dan dr. Lee?”
Marc hanya mengangguk menjawab pertanyaan ayahnya itu. Namun, tatapannya tetap lurus dan nampak serius, “..tentu saja daddy setuju, Marc. Siapa pun pasti ingin punya menantu seperti dr. Lee itu. Sudah cantik, pintar dan berbakat. Daddy penasaran, bagaimana reaksi mommy mu kalau mendengar ini.”
“Tapi dad…ada hal mengenai Ji Eun yang belum dad ketahui dan aku ingin memberitahukan itu padamu.” Marc menghela napas panjang dan menghembuskannya. Pria itu sudah siap. Siap dengan resiko apapun. Meski ia harus dimaki ayahnya sekali pun, yang dia inginkan hanyalah menikah dengan gadis yang dia cintai itu, “..Ji Eun..dia punya seorang putri. Putri yang dikandungnya sewaktu ia masih menempuh perkuliahan. Putri yang didapatnya dari seorang pria bajingan yang tak mau mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tapi dad…aku mencintai mereka.”
Marc tau ekspresi ayahnya berubah. Yang tadinya tersenyum bahagia, kini beubah dingin dan datar, “..aku akan tetap menikahi Ji Eun, dad. Tak perduli seperti apa masa lalunya. Aku sangat mencintainya, begitu juga dengan putrinya.” Pria itu menatap mantap dan lurus tepat didalam manik mata pria paruh baya didepannya itu. Sedang pria paruh baya itu, bahkan masih menolak untuk memberi jawaban, “..dad, kumohon..”
Masih terdiam. Dan kemudian pria paruh baya itu memperbaiki posisi duduknya dan mulai membuka mulutnya, “..nak, daddy tidak membenci keputusanmu. Daddy diam bukan karena marah, tapi takjub dengan sikapmu. Bahkan, kalau itu dihadapkan pada daddy sendiri, mungkin daddy tak akan sanggup dan lari. Tapi kau bukan daddy. Kau Marc…putra sulung yang sangat daddy banggakan. Toh, kalau dia pilihanmu, daddy hanya bisa memberikan restu, bukan?”
Senyum kebar mengembang diwajah Marc. Pria itu tak menyangka kalau ayahnya tidak marah padanya. Padahal sejak tadi, Marc sudah siap jika ayahnya akan memakinya atau mengusirnya. Tapi dia salah, bukan makian, tapi pujian.
Setidaknya, sekarang perasaan Marc sudah sedikit lega, “..daddy akan coba jelaskan pada mommy mu..dia pasti mengerti.”
“Terima kasih, dad.”

*************************

“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Kita bisa bicara ditempat yang lebih leluasa kan?”
Ji Eun mengedarkan pandangannya kesekeliling restoran mewah itu dan kembali memandang dirinya sendiri dengan busananya malam ini, “..apa tidak sebaiknya kita pulang dan ganti baju dulu?”
“Oh ayolah…kau akan tetap terlihat cantik dengan mengenakan apapun dan dalam keadaan apapun.” Sergah Marc sambari tersenyum lembut kearah Ji Eun. Tangan besar pria itu kemudian menggenggam erat kedua tangan Ji Eun yang sedari tadi diletakkan diatas meja. Mata coklatnya memandang lurus kedalam manik mata Ji Eun dan mengunci gadis itu didalam matanya, “..aku ingin kita akhiri ini.” Ujar Marc yang lantas membuat Ji Eun melongo tidak mengerti. Sakit. Jelas sangat sakit ketika kau sudah sangat mencintai seseorang dan ia mengatakan untuk mengakhiri semuanya. Jelas tidak akan bisa diterima dengan akal sehat sekali pun. Marc tersenyum pria itu tau, mungkin sekarang Ji Eun sedang salah paham dengan maksud ucapannya, “..kita akhiri hubungan kita sebagai sepasang kekasih dan menjalin hubungan yang lebih lagi dari itu.”
Sejenak Ji Eun tertegun, berusah mencerna perkataan Marc sampai akhirnya, Marc merogoh saku celananya dan kemudian menyodorkan sebuah kotak berbalut kain beludru merah dan membukanya, “..will you marry me?” Ucap Marc lancar dan tanpa ada ragu sedikit pun. Ji Eun masih membatu. Belum mampu merespon dan mencerna ini semua. Namun, hatinya seperti sudah lebih dahulu mencerna maksud Marc dan tanpa wanita itu sadari, air matanya mulai bergulir turun. Bukan karena sedih. Tapi karena terlalu bahagia dan tak percaya. Meski belum mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya, Ji Eun mengangguk. Ia mengiyakan lamaran Marc itu dengan bahagia.
“Kalau begitu, besok…apa kau punya waktu?”
“Untuk apa?” Tanya Ji Eun penasaran.
“Sudah saatnya aku memperkenalkanmu pada orang tuaku, bukan?”
Jantung Ji Eun memompa. Ingin sekali wanita itu menjawab, ‘Mungkin aku terlalu sibuk besok.’ Tapi yang ia jawan adalah, “..te-tentu saja.”
“Baguslah.” Jawab Marc singkat.
Ya. Ini terlalu cepat. Tapi…aku bahagia. Itu saja.

Ji Eun mulai membongkar isi lemarinya. Wanita itu mulai berpikir, apa yang akan dia kenakan besok untuk menemui orang tua Marc. Tentunya Ji Eun harus berbusana rapih, agar memiliki kesan sopan dimata kedua orang tua Marc.
“Sayang..kau sedang apa?” Tanya Ra Im yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu kamar Ji Eun. Dengan wajah sedikit memelas, Ji Eun menatap baju-baju yang berhamburan diatas kasurnya itu, “..besok aku akan bertemu dengan orang tua Marc. Apa yang harus aku lakukan?”
Ra Im tertawa renyah mendengar ucapan putrinya itu. Wanita paruh baya itu kemudian mendekat keatas kasur Ji Eun dan mulai melihat-lihat semua pakaian yang bertebaran itu.
“Sayang. Saran eomma, tampilah natural. Dan jangan bersikap berlebihan didepan mereka, hm? Setiap orang tua, pasti menginginkan menantu yang baik dan manis untuk putra mereka. Dan ibu berpikir, mungkin seperti itu juga kedua orang tua Marc. Dulu pun, waktu appa mu mau membawa eomma bertemu dengan keluarganya, eomma tidak terlalu ambil pusing soal penampilan. Yang penting eomma tampil apa adanya dan menunjukan sikap natural eomma. Dan eomma harap, kau juga akan seperti itu, sayang.”
Tampil natural, ya? Sedikit demi sedikit, Ji Eun paham dengan apa yang dikatakan ibunya. Setelah memberi sedikit wejangan kepada Ji Eun, wanita paruh baya itu berlalu pergi, “..eomma benar. Aku hanya perlu tampil senatural mungkin.”

*************************

“Eonni mau kemana?” Tanya Hanna sembari mengernyitkan keningnya dan memiringkan sedikit kepalanya.
“Rahasia.” Balas Ji Eun singkat kemudian terkikik pelan. Sedikit kesal, Hanna mengembungkan pipinya dan mulai merajuk.
“Eonni mau bertemu dengan Marc, ya? Kenapa aku tidak diajak?”
Ji Eun tertawa mendengar pertanyaan polos Hanna. Toh, salah Marc, kenapa setiap mengajaknya kencan selalu membawa Hanna.
“Sayang, kali ini situasinya beda. Lebih pribadi, eo? Eonni janji akan membawakanmu oleh-oleh nanti.” Bujuk Ji Eun agar gadis kecil itu tak lagi banyak bertanya.
“Baiklah..jangan lupa sampaikan salamku untuk Marc, ya? Oh ya..tanyakan padanya, kapan aku akan bertemu dengan Kanya lagi?”
Ji Eun hanya mengangguk kemudian mengecup pucuk kepala Hanna dan berpamitan ketika mobil Marc sudah terpakir didepan pekarangan rumah Ji Eun.
“Kau sudah siap?” Tanya Marc ketika Ji Eun sudah duduk didalam mobil.
“Entahlah. Aku gugup sekali.”
Dengan lembut Marc menggenggam erat tangan Ji Eun yang terasa sedingin es itu, “..kau sangat cantik malam ini.” Puji Marc setengah berbisik. Membuat rasa gugup Ji Eun bergani menjadi debaran yang menghangatkan.
“Aku tidak memakai dandanan. Hanya bedak dan lipstik saja.”
“Tetap saja sangat cantik.”
Seketika wajah Ji Eun bersemu merah. Oh ayolah..kau bukan gadis remaja lagi yang harus terus tersipu jika dipuji seperti ini. omel Ji Eun pada kekonyolannya sendiri.

Semakin dekat dengan rumah Marc jantung Ji Eun memompa makin cepat dan menyiksa, “..siapa yang menjaga Alex dirumah sakit?” Tanya Ji Eun tiba-tiba ketika Marc sudah memarkirkan mobilnya tepat didepan teras rumahnya.
“Kanya. Dia bilang dia akan menunggu kejutan dari kita.” Jawab Marc sembari tersenyum kemudian keluar dari mobil. Pria itu lantas membukakan pintu mobil untuk Ji Eun dan menuntun gadis itu keluar dari dalam mobil.
“Kau siap?” Tanya Marc kemudian membiarkan Ji Eun mengamit lengannya.
Terasa dilengan Marc kalau Ji Eun gemetaran, “..percaya padaku, semuanya akan baik-baik saja.” Ujar Marc mantap kemudian berjalan bersama Ji Eun masuk kedalam rumahnya.
Dan benar saja. Ji Eun tak melihat bahwa ada pemikirannya sedari tadi yang benar. Semuanya berlawanan dengan khayalannya. Tak ada ekpresi datar mengintimidasi. Apalagi kalimat dingin dan datar. Ji Eun benar-benar disambut seperti sudah menjadi bagian dalam keluarga ini. Roser, ibu Marc, bahkan tak sungkan lagi berpelukan akrab dengan Ji Eun dan langsung mempersilahkannya untuk duduk makan malam bersama mereka. Wanita paruh baya itu bahkan duduk disamping Ji Eun, dan banyak berbagi cerita dengannya. Suasana yang hangat dan akrab. Bahkan, yang lebih membuat Ji Eun takjub, ketika wanita paruh baya itu memuji Ji Eun yang mampu mempertahankan Hanna dalam kandungannya, meski ayah kandung putri kecilnya itu menolak keberadaan merek berdua.
Semakin lama dirumah Marc, Ji Eun makin betah. Wanita itu juga makin mengerti, dan tidak heran lagi, kenapa Marc memiliki sifat yang hangat dan sangat baik kepadanya. Pria itu memiliki keluarga yang sempurna untuk disebuat sebagai keluarga ideal.
Sebenarnya, Ji Eun ingin bermalam. Namun, karena pertimbangan akan Hanna. Mau tak mau Ji Eun harus pulang. Dan sebelum mereka pulang, Marc dan Ji Eun menyempatkan diri untuk singgah disebuah toko boneka. Yaahh..seperti janji Ji Eun pada Hanna sebelum pergi bersama Marc tadi, bahwa dia akan membawakan oleh-oleh untuk gadis kecil itu.
“Hanna suka dengan Stitch, kan?” Tanya Marc dengan senyum lebar diwajahnya.
“Dari mana kau tau?”
Marc melirik kearah Ji Eun dengan senyum hangat, “..aku calon ayahnya. Tega sekali kalau aku tidak tau apa yang putriku sukai, bukan?”
Ji Eun hanya mengangguk sambil membalas senyuman Marc.
“Kalau begitu, kita belikan untuknya yang ini saja.” Tunjuk Marc pada boneka Stitch berukuran besar yang mungkin tingginya sama dengan tinggi Hanna.
Ji Eun sedikit membelalak ketika melihat harga boneka itu, “..kau yakin? Aku tadi tidak membawa uang banyak dan lupa kartu kreditku dirumah.”
“Ji Eun. Aku yang menunjuk boneka itu, berarti aku yang akan belikan itu untuk Hanna.”
“Jangan terlalu memanjakannya?”
“Sebenarnya tidak salah juga kalau aku memanjakannya. Aku sangat sayang padanya.”
Ji Eun terlalu malas berdebat sekarang dan akhirnya mematuh. Marc sudah menganbil boneka besar itu dari etalase dan berjalan menuju kasir.
Setelah membayar, keduanya bergegas pulang karena takut gadis kecil itu sudah tidur dan tak melihat hadiah besar untuknya itu.

*************************

Marc turun dari mobilnya dengan penuh semangat. Ia menggendong boneka besar itu dengan girangnya dan berjalan bersama Ji Eun masuk kedalam rumah wanita itu.
Pekikkan suara gadis kecil itu membuat Marc makin bahagia dengan senyum lebar, Marc menyambut Hanna dalam pelukannya.
“Ini untukku?” Tanya Hanna penuh semangat. Nampak raut bahagia tergambar jelas diwajahnya.
“Tentu saja, sayang.” Balas Marc penuh cinta kemudian mengecup pucuk kepala Hanna.
“Lalu eonni? Apa eonni tidak membelikanku sesuatu?”
Ji Eun terdiam. Dan seperti mendapat idel wanita itu ikut menjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan Hanna, “..karena besok hari libur, bagaimana kalau kita pergi ketaman bermain?”
“Dengan Marc juga? Kalau tidak ada Marc aku tidak ikut.” Ucap polos gadis kecil itu. Ji Eun bahkan bingung, entah sejak kapan Hanna sangat lengket dengan Marc.
“Tentu saja aku ikut. Kita akan bermain sepuasnya sampai bosan.” Seru Marc kemudian diikuti Hanna dengan antusias, Astaga, entah mengapa mereka berdua begitu mirip. pikir Ji Eu. Sembari mendengus geli.
“Kalau begitu, sekarang kau harus segera tidur. Kita akan berangkat pagi-pagi besok, hm?” Ajak Marc kemudian menggendong gadis kecil itu menuju kamar tidurnya dilantai atas. Sedang Ji Eun mengekor keduanya sambil menenteng boneka Stitch milik Hanna.
Segera setelah masuk kekamar Hanna, Marc membaringkan gadis kecil itu diatas kasurnya, “..kau mau kudongengi?” Tanya Marc lembut sembari berjalan menuju rak buku-buku dongeng yang terletak disamping meja belajar Hanna, “..bagaimana dengan ini?” Tunjuk Marc pada sebuah buku cerita dengan sampul yang bertulis ‘The Frog Prince’.
Setelah mendapat anggukan setuju Hanna, Marc seger mendekat kembali kesisi ranjang gadis kecil itu, “..baiklah, ehm..”, “..suatu hari, hiduplah seorang pangeran yang sangat tampan dan pangeran itu sangat dimanja, sehingga ia menjadi sangat sombong dan angkuh juga malas. Suatu ketika, seorang wanita tua datang dan memohon pada si pangeran untuk membiarkannya berteduh sementara waktu didalam istana. Namun, dengan angkuhnya si pangeran menghina wanita tua itu dan mengusirnya dengan kasar. Tidak terima, wanita itu akhirnya mengutuk si pangeran dan merubahnya menjadi seekor katak.”
“Kenapa? Apa dia terlalu jahat?” Potong Hanna dengan wajah sedikit ngeri.
“Tentu saja. Dia jahat dan sombong. Lalu, penyihir itu bilang pada si pangeran ‘Kalau kau mau berubah kewujudmu yang semula, kau harus menemuka seorang putri cantik yang mau mencintaimu dengan tulus sebelum bulan penuh diminggu kedua bulan ini.’. Setelah berkata demikian, wanita tua itu menghilang.”
“Apa wanita tua tadi penyihir?” Tanya Hanna lagi dan nampaknya gadis itu masih enggan untuk mengantuk.
“Tentu saja. Dan kau tau, pangeran itu akhirnya menjadi sangat putus asa. Dia berpikir, mana mungkin ada seorang putri cantik yang mau mencintainya yang dalam wujud katak menjijikan ini.”
“Kasihan dia.”
Marc mengangguk sembari tersenyum, “..dan dua minggu terlewati sudah, namun tak ada seoran putri cantik pun yang ia temui. Rata-rata, semuanya melarikan diri dengan mengumpat ketika melihatnya. Hingga si pangeran menjadi makin dan makin putus asa sampai ia berkata ‘Kalau memang ini hukuman dari Tuhan untukku karena kesombonganku selama ini. Akan kuterima dengan lapang’. Dan ditengah keputus asaannya itu, ia bertemu dengan seoran putri cantik jelita yang tersesat dihutan, putri itu menangis tersedu-sedu dan membuat si pangeran katak itu ibah dan mendekatinya. Katanya, ‘Kau kenapa? Kenapa menangis?’ Tanya si katak pada putri cantik itu. Sesaat putri cantik itu sedikit terkejut, namun ia mulai membiasakan dirinya, ‘Aku tersesat. Dan aku ingin pulang, tapi tidak tau caranya keluar dari tempat ini.’ Jawab putri cantik itu masih tersedu. ‘Kalau begitu, kau mau kuantar?’ Tawar katak itu dan mulai berjalan bersama putri cantik itu. Sepanjang perjalanan, mereka bertukar lelucon dan akhirnya menjadi akrab. Pendek cerita..si putri nan cantik jelita tadi jatuh hati pada katak baik itu, ‘Meski kau tidak mau menerima imbalan, biarlah aku memberimu sedikit kenang-kenangan.’ Ujar putri itu kemudian membungkuk dan mencium katak tadi. Dan kau tau apa yang terjadi..Wussshh! Katak menjijikan tadi berubah menjadi seoran pangeran yang sangat tampan. Akhirnya, mereka menikah dan hidup bahagia selamanya. The End.”
Marc menutup buku itu dan hendak menanyakan pendapat Hanna, namun gadis kecil itu sudah terlelap. Perlahan Marc membungkuk sedikit dan mengecup kening Hanna.
“Kau juga harus pulang untuk istirahat, Marc.” Ujar Ji Eun yang sedari tadi berdiri didepan pintu kamar Hanna.
“Kau tidak mau kudongengi juga?” Canda Marc yang sudah berjalan mendekat kearah Ji Eun.
“Tidak perlu.” Ketus Ji Eun yang hendak berbalik. Belum sempat wanita itu melangkah, Marc menangkap tangannya dan menariknya dalam pelukan Marc.
“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.” Bisik Marc sembari membenamkan wajahnya dibahu mungil Ji Eun.
“Aku juga Marc. Aku juga sangat mencintaimu.” Balas Ji Eun lembut.
Perlahan Marc mengangkat wajahnya dari bahu Ji Eun dan menatap lekat-lekat kedalam manik mata wanita itu, wajahnya dicondongkan perlahan mendekati wajah Ji Eun. Hingga akhirnya bibir Marc yang lembut melumat bibir mungil Ji Eun dengan penuh cinta.
Mungkin aku bukan pria yang sempurna, tapi aku akan berusaha menjadi suami dan ayah terbaik untukmu dan Hanna.

To Be Continued..

Sorry guys..mulai dari part 11 sampai selesai Cuplikan Next Part nya udah gak aku buat lagi…biar bikin penasaran gitu #plak 😒 hehe..tetap author tunggu komentar dan like kalian 😊☺️

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

5 thoughts on “Tell Your Mom, I Love Her! #11

  1. Aku penasaran hal apa yang bakal dilakukan Scott buat ngehancurin Marc. Tuh orang asli minta digampar. Eh, itu namanya adiknya Kanya ato Anya? Kok kadang ada Anya dan ada Kanya juga?
    Kesian Alex-nya jadi korban salah sasaran. Seharusnya Marc tuh yang celaka. Nah, seharusnya Marc yang di RS *weilehhhhh……*
    Kutunggu next part yaa

    1. Gampar aja..aku yang nulis aja kesel setengah mati sama dia *looh? 😒* hahaha…Alex mah nasibnya gk ada beruntung2 mulu ☺️ Makasih ya udah membaca ☺️ Dan makasih juga buat komentarnya ☺️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s