Posted in Marc Marquez FanFic

Tell Your Mom, I Love Her! #12 (Last Part)

photocat_tellyourmomilovehercover2

Happy Reading ya, guys ๐Ÿ˜˜

*************************

Part 12 :

[Lupakan rencanamu, Scott. Ibu tetap tidak mau menerima wanita itu juga anaknya.]
“Itu terserah ibu. Aku tetap akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”
[Scott! Dengarkan ibu! Kau akan menikah dengan Stella dan harus segera kembali ke Manchester. Titik! Ibu tak mau dengar alasan apapun lagi dari mu dan..]
“Aku yang tidak akan menerima nasehat ibu lagi. Dan lupakan pernikahan itu. Aku tidak mencintai Stella. Katakan maaf ku padanya.”
Scott langsung menutup pembicaraan ditelepon itu dan mengambil kunci mobil juga jacket kulit hitam miliknya kemudian keluar dari apartemen mewahnya. Tak peduli dengan seberapa berantakan keadaannya saat ini, pria itu terus berjalan dengan mantap dan mengacuhkan setiap mata yang terus memandanginya dengan ngeri.
“Masa peringatan kalian habis, Marc..Ji Eun. Inilah batas kesabaranku.” Gumam pria itu kemudian melaju cepat Ferarri putih miliknya keluar dari area gedung parkir itu.
Caranya menyetir bak orang kesetanan. Tak peduli beberapa mobil juga pejalan kaki yang hampir menjadi korban keganasannya menyetir. Kecepatan maupun caranya menyetir tidak berubah sedikit pun sampai beberapa saat kemudian, mobil ferarri itu sudah terparkir diarea parkir Olympic Park.
Dengan langkah mantap pria itu berjalan menyusuri tiap area wahana permainan di Olympic Park. Hingga akhirnya mata pria itu menangkap sosok yang amat sangat dia rindukan beberapa minggu ini. Dan sesuai rencana, gadis kecil itu sedang menunggu sendirian disebuah bangku panjang.
Dengan langkah hati-hati, Scott berjalan mendekat kearah Hanna, “..hei, manis. Sedang apa?” Tanya Scott lembut. Pria itu tidak mau membuat gadis kecil itu ketakutan melihatnya.
“Kenapa kau disini?” Tanya Hanna dengan suara yang sedikit bergetar. Namun, ada rasa lega yang Hanna rasakan, seperti rasa rindunya telah terbayar.
Tanpa sadar, air mata Scott menetes. Hanna dapat melihat betapa terlukanya pria itu. Penampilannya sudah cukup menjelaskan penyesalannya, “..kumohon, kau mau jalan-jalan denganku sebentar. Setelah itu, aku tidak akan muncul dihadapanmu lagi, hm?” Bujuk Scott masih terus disela isakannya.
Sejenak Hanna mempertimbangkan yang akhirnya, gadis kecil itu mengangguk dan mengikuti Scott dengan patuh.
Sesampai mereka diarea parkir, Hanna mulai merasa ada sesuatu yang janggal. Pria ini nampak sangat depresi dan tidak seharusnya Hanna mempercayainya begitu saja.
“Kita mau kemana?” Tanya Hanna dengan suara gemetar ketika Scott memasukannya kedalam mobil.
Scott tak menjawab, pria itu kemudian menyalakan mesin dan menyetir menjauh dari taman bermain itu. Sedang Hanna, gadis kecil itu mulai menangis ketakutan.
Sambil menyetir Scott mengetik sebuah pesan diponselnya dan nampak senyum licik tersungging dibibirnya.
“Kita mau kemana?” Tanya Hanna sembari terus menangis ketakutan. Gadis kecil itu terus mendesak untuk turun. Tapi seperti tuli dan tak perduli, Scott mengacuhkan tangisan dan ketakutan Hanna itu. Yang dipikirannya saat ini adalah, menghabiskan waktunya bersama Hanna, malaikat kecilnya.

*************************

“Aku tadi hanya pergi membeli es krim sebentar. Sekarang bagaimana Marc?” Tanya Ji Eun disela-sela isakkannya. Sekujur tubuh wanita itu mulai bergetar hebat.
“Kita cari lagi, ya? Kalau tidak ketemu juga, kita lapor saja kepolisi.” Usul Marc dan Ji Eun hanya mengangguk patuh. Keduanya pun mulai berpencar untuk mencari Hanna. Namun, setelah lama berkeliling gadis kecil itu tak kunjung ketemu juga.
Panik, khawatir juga takut mulai menggelayuti hati Ji Eun. Wanita itu bahkan tak perduli dengan perutnya yang terus protes minta diisi. Nafsu makannya hilang sudah sekarang.
“Kita harus bagaimana sekarang?” Tanya Ji Eun dengan suara bergetar. Sedang Marc hanya terdiam tak tau harus menjawab apa lagi. Toh, pria itu juga mulai merasa khawatir dan takut sekarang.
Dalam kekalutan mereka itu, ponsel Marc bergetar pertanda sebuah pesan masuk. Dan betapa terkejutnya Marc ketika membaca pesan itu, “Kalau aku tidak bisa miliki Hanna. Begitu pun dengan kalian.”
“Scott..” Desis Marc geram.
“Apa?”
“Scott..Hanna sekarang bersama dengan Scott. Pria itu..”
Marc mulai mengepal tangannya dengan geram. Amarah mulai meletup-letup dihatinya. Segera pria itu berjalan dengan langkah cepat menuju area parkir, sedang Ji Eun mengikuti Marc dengan setengah berlari.
“Kita mau apa?” Tanya Ji Eun sedikit bingung.
“Mengejar mereka. Mungkin saja mereka belum begitu jauh.”
“Tapi kemana, Marc?”
Pria itu hanya menggeleng. Dan masuk kedalam mobil, “..cepat hubungi 999..setidaknya kita juga harus punya bala bantuan.” Pinta Marc kemudian mulai menyetir mobilnya menjauh dari Olympic Park.

Hanna tak lagi banyak bertanya. Tangisannya pun sudah meredah. Pandangan gadis itu terus melihat keluar, ketempat demi tempat yang Scott lewati bersamanya. Seketika tersembul sedikit memori pada tempat-tempat ini.
Taman bermain tempat Scott memberinya gaun biru cantik, rumah sakit De Deu tempat pertama Hanna bertemu dengan Scott dan sekolahnya tempat dimana Hanna sangat ketakutan melihat amarah Scott waktu itu.
Batin gadis kecil itu mulai bertanya-tanya, apa maksud pria ini membawa Hanna melewati tempat-tempat kenangan mereka.
Hingga tibalah mereka pada sebuah bangunan sekolah, yang setau Hanna ini adalah sebuah SMA. Sejenak Scott memberhentikan mobilnya dan menatap lama kedalam sekolah bangunan sekolah yang lengang karena liburan itu.
“Disinilah pertama kali aku bertemu dengan ibumu, Ji Eun. Aku benar-benar jatuh cinta padanya saat itu, bahkan aku rela melakukan apapun untuk mendapatkannya. Kami sangat mencintai dan berhasil memelihara hubungan kami sampai kuliah.”
Kembali Scott menyetir menjauh dari gedung itu dan berhenti lagi didepan sebuah bangunan kampus, “..disini..disinilah semuanya berakhir. Ketika aku terlalu bodoh dan egois, menyakiti Ji Eun dan melepas kalian berdua. Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan sangat merindukan kalian berdua. Aku juga bahkan tidak pernah sadar kalau selama ini aku selalu mencintai kalian berdua.”
Hanna mengernyit bingung. Apa yang Scott bicarakan? Gadis itu masih terlalu kecil untuk mencerna dengan baik maksud perkataan Scott, “..oh ya, ini..” Scott merogoh sakunya dan mengambil sebuah foto kecil dari dalam dompetnya, “..ini adalah foto USG pertama mu. Malam itu Ji Eun membawa ini padaku. Dan hampir saja aku buang karena frustasi tapi…entah mengapa, aku mengurungkan niatku itu dan terus menyimpannya sampai saat ini.”
Mata Hanna menerawang menatap foto USG itu, “..aku tau kau mungkin tidak begitu mengerti apa yang dari tadi kuceritakan tapi..kebenaran yang sesungguhnya adalah kau..kau putri kandungku. Putri yang dulu dengan bodohnya ku sia-siakan. Terserah kau mau percaya atau tidak..tapi setidaknya aku sedikit bisa merasa lega karena bisa menghabiskan sedikit waktuku bersamamu.”
Scott kembali menyetir menjauh dari bangunan kampus itu. Dan arah perjalanannya mulai membuat Hanna sedikit lega, “..ku pikir kau akan menculikku.” Celetuk polos gadis kecil itu.
“Mana mungkin, sayang.” Balas Scott singkat kemudian berhenti tepat didepan rumah Ji Eun, “..turunlah..aku harus segera pergi. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan.” Pinta Scott kemudian, “..oh ya, boleh kau memanggilku daddy sekali ini saja?”
Hanna nampak berpikir sesaat sampai akhirnya bibir mungil gadis kecil itu mulai bergerak, “..daddy..” Ucap gadis kecil itu ragu. Namun, tak berapa lama, seperti ada sebuah keyakinan dalam hatinya. Tangan mungilnya mulai menyusur dan menyentuh lembut pipi Scott yang mulai dibasahi air mata, “..maafkan aku daddy..aku tidak mau membencimu lagi. Aku menyayangimu.”
Air mata Scott yang awalnya hanya beberapa tetes saja, kini mulai turun dengan deras. Pria itu tak bisa menahan lagi rasa rindunya terhadap gadis kecil ini. Dengan spontan, pria itu memeluk erat tubuh mungil Hanna. Menghabiskan sisa-sisa menit kebersamaannya dengan gadis kecilnya itu.
“Daddy juga sayang padamu, Hanna. Sangat sayang.” Ungkap Scott seakan tak ada lagi kata maupun kalimat yang sanggup mengungkapkan perasaannya terhadap gadis kecil it saat ini. Ini akan jadi yang pertama dan terakhir, Hanna. Tapi ingatlah..bahwa daddy akan selalu sayang padamu.

Perasaan Scott lega. Seluruh beban dan pikiran yang mengganggunya beberapa minggu ini menguap sudah. Hatinya jauh lebih enteng sekarang. Pria itu terus menyetir dengan santai, senyum pun tak lepas dari wajah pria itu. Hingga sampai beberapa mobil polisi mengejar mobilnya dari belakang. Scott tau, seharusnya ia tidak lagi boleh menghindar, namun kakinya yang menginjak pedal gas, seakan tak berkoordinasi dengan baik dengan otaknya sehingga, mobil pria itu kembali melaju membabi buta dijalanan.
Scott terus berusaha meyakinkan hatinya juga mengkoordinasi tubuhnya, agar mau menurut dan tidak lagi melarikn diri seperti pengecut. Namun seperti semuanya terlambat ketika tanpa sadar, Scott sudah berada diluar jalur.
Pria itu tepat berada dijalur yang berbeda arah dengannya. Dan kalau pun aku mati hari ini. Setidaknya aku mati dengan perasaan bahagia. Dan tak ada lagi beban yang menggantung dihatiku.
Tabrakan keras antara sebuah truk gandeng dengan mobil Ferarri putih Scott tak terelakan. Membuat beberapa mobil polisi yang sedari tadi memburu Scott segera turun dan berlari menghampiri kedua mobil tersebut.
“Cepat panggil ambulans!” Seru salah seorang polisi yang masih terdengar samar ditelinga Scott. Dan lama kelamaan, pendengarannya melemah, matanya mengabur dan gelap, napasnya berhenti menderu dan jantungnya tak lagi berpacu. Kau akan menjadi ayah yang baik untuk Hanna kan, Marc?

*************************

Flashback :

“Eomma..”
Sejenak Ji Eun tertegun dengan panggilan baru untuknya dari Hanna itu. Jantung Ji Eun hampir melonjak keluar, antara karena senang atau terkejut. Gadis kecil itu kemudian berjalan mendekati Ji Eun dan memeluk wanita itu dengan penuh sayang.
“Kau eomma kandung ku kan?” Tanya Hanna membuat hati Ji Eun menjadi pilu, “..terima kasih, eomma. Selama ini mau jadi eonni yang baik dan sayang padaku. Selama ini sudah mau memberikanku kedua orang tua yang lengkap. Tapi, sebenarnya aku tidak apa-apa kalau hanya dengan eomma saja. Aku juga tidak akan perduli dengan apa yang akan teman-temanku katakan padaku. Aku sayang eomma juga daddy. Aku tidak berharap kalian bersatu lagi karena eomma sendiri sudah punya Marc. Tapi aku mau, kalian tetap mengurusiku bersama dan bergantian menjemputku dari sekolah. Boleh kan kalau setiap seminggu sekali aku menginap dirumah daddy?”
Ji Eun masih terdiam. Masih berusaha mencerna tiap perkataan polos gadis kecilnya itu. Ji Eun bahkan menganggap dirinya terlalu bodoh selama ini yang menganggap Hanna sebagai anak kecil yang rapuh. Ia salah kalau menganggap Hanna tak akan mau menerima situasi ini. Bahkan kalau mau dibilang, bocah 4 tahun ini memiliki sikap yang lebih dewasa ketimbangnya yang sudah berusia 21 tahun.
Ji Eun memeluk erat tubuh Hanna. Mendekapnya hangat dan mengecup pucuk kepalanya.
“Maafkan eomma. Sungguh maafkan eomma, sayang. Eomma hanya tidak ingin kau tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Eomma juga tidak ingin melukaimu dengan menceritakan bahwa ayahmu sudah menolakmu dulu. Sekarang eomma sangat menyesal, sayang. Maafkan eomma.” Isak Ji Eun sambil terus mendekap Hanna erat.
“Tidak eomma. Tidak apa-apa. Tadi..daddy menceritakan semuanya padaku. Bagaimana kalian saling jatuh cinta, bagaimana kalian memelihara cinta kalian itu, sampai dimana kalian terpisahkan karena egoisme. Aku tidak mau menyalahkan eomma atau daddy. Aku hanya mau berterima kasih pada eomma yang terus memperjuangkan dan mempertahankan aku, meski eomma sendiri tau kalau daddy tak akan mau bertanggung jawab.”
Ji Eun terus terisak. Air matanya kian membanjiri wajahnya. Dan dibelakangnya sana, Marc hanya bisa menatap haru pemandangan didepannya itu.
Hanna adalah gadis kecil yang tangguh. Setangguh Ji Eun. Dia bahkan tak berespon berlebihan atau bahkan membenci Ji Eun, “..Hanna.” Sapa Marc pelan.
“..maafkan aku juga yang berusaha menjauhkanmu dari ayahmu. Tapi, kalau kau ingin daddy dan eomma mu kembali. Aku tidak apa-apa.”
Gadis kecil itu melepas diri dari dekapam Ji Eun dan beralih pada Marc. Gadis kecil itu merengkuh wajah Marc dengan kedua tangan mungilnya, “..tidak. Aku juga sayang padamu. Aku ingin kau jadi daddy ku juga.”
“Terima ka..”
Belum Marc menyelesaikan kalimatnya, ponsel pria itu berdering. Segera, Marc menerima panggilan itu dan beberapa saat kemudian raut wajahnya berubah tegang.
Ponsel digenggamannya itu diturunkan perlahan.
“Ada apa Marc?” Tanya Ji Eun penasaran.
“Ji Eun..Hanna..Scott meninggal. Tadi saat polisi melakukan pengejaran, mobil Scott mengalami tabrakan mengerikan dengan truk gandeng. Dan dia…langsung meninggal ditempat.”
Perkataan Marc sudah cukup jelas untuk keduanya. Hanna mulai menangis histeris. Hari ini, gadis itu baru mengetahui ayahnya yang sebenarnya, namun hari ini juga, Tuhan mengambil kembali ayahnya. Sedang Ji Eun, wanita itu masih membatu. Tak ada setetes air mata pun yang turun atau sepatah kata pun darinya.
Rasa sesal. Ya, itulah yang Ji Eun rasakan kini.

Flashback End :

Ji Eun masih terdiam dikamarnya. Entah sudah berapa jam wanita itu terus duduk didepan jendela sembari menatap keluar dengan pandangan kosong.
Saat peti jenazah Scott dimasukan kedalam liang lahat pun, tak setetes atau sepatah kata yang keluar. Hanya pandangan kosong juga hati yang terus menjeritkan penyesalan Ji Eun.
Toh, sekeras apapun aku menjerit atau menangis sekarang, Scott tak akan bangkit lagi. Ia sudah pergi. Dia tak akan mendengar permintaan maafku lagi.
Perlahan, Marc masuk kedalam kamar Ji Eun dan duduk disamping gadis itu.
“Sampai kapan kau mau begini terus?”
“Sampi rasa bersalahku hilang, Marc.”
“Kapan? Ji Eun..dengan begini, rasa penyesalanmu tidak akan hilang. Kau tau, cara satu-satunya menebus kesalahan kita pada Scott adalah menjaga Hanna. Menyayangi Hanna. Dan membesarkan Hanna dengan baik tanpa sedikit pun membiarkannya melupakan sosok ayah kandungnya. Kalau kau hanya sibuk menghukum diri seperti ini, kau tak akan ada waktu untuk menebus kesalahanmu itu.”
Ji Eun akhirnya berbalik. Dan air mata yang sedari kemarin terus disimpannya, akhirnya menetes juga. Makin lama makin deras. Segera Ji Eun menghambur kedalam pelukan Marc dan menangis sesenggukan didalam dekapan hangat pria itu.
“Aku takut tidak bisa membesarkan Hanna sesuai harapan Scott. Aku takut, suatu saat nanti Hanna akan membenciku karena membuatnya kehilangan ayahnya. Aku takut Marc.”
“Hanna tidak pernah membencimu Ji Eun. Dia tidak akan pernah bisa membencimu. Dia malah membutuhkanmu sekarang. Dan aku..aku bersumpah akan menjadi ayah yang baik untuknya. Kita akan membesarkannya dengan kasih sayang. Kau mau kan?”
Terharu. Ya, Ji Eun sangat terharu dengan tekat Marc. Entah apa jadinya Ji Eun kalau dalam hidupnya, ia tidak pernah bertemu dengan Marc. Mungkin saat ini, ia masih sibuk untuk terus menghukum dirinya sendiri.
“Terima kasih sayang..terima kasih.” Ucap Ji Eun tulus.

Persiapan pernikahan Marc dan Ji Eun sudah matang. Segala duka sudah mereka tinggalkan dibelakang. Dan Hanna, gadis kecil itu bahkan lebih bersemangat ketimbang Ji Eun dan Marc.
“..aku akan punya adik dan kami bisa bermain bersama. Menyenangkan sekali kan, grandma..grandpa!” Ujar Hanna penuh semangat. Sedang Ra Im dan Joo Won hanya tertawa renyah menanggapi celotehan demi celotehan polos Hanna.
“Memangnya kau mau punya adik berapa banyak?” Tanya Marc setengah becanda.
“2 atau 1 mungkin.” Jawab gadis kecil itu dengan tampang serius. Membuat Marc tak bisa menahan tawa gemasnya terhadap Hanna.
“Bagaimana Ji Eun?”
Mendengar pertanyaan Marc yang terkesan sedikit menyindirnya itu membuat Marc langsung mendapat tatapan bengis.
Semuanya kembali ceria Scott. Aku tau kau terus memperhatikan Hanna dari atas sana. Dia sekarang bahagia, dan aku berjanji. Dia tak akan melupakanmu lagi.

*************************

Prosesi lempar bunga adalah satu hal yang paling ditunggu-tunggu oleh kerabat pengantin, terkhususnya wanita.
Anya sudah berdiri mantap dibelakang sana, sedang Ji Eun memunggungi mereka dan bersiap-siap untuk melempar bunga.
“1..2..3..!!” Pada hitungan ketiga, Ji Eun melempar sebuket kecil bunga mawar merah itu kebelakang. Dan bisa ditebak, Anya lah yang berhasil menggapai bunga itu. Selain karena postur tubuhnya yang tinggi semampai. Tapi juga, karena niat wanita itu ingin segera menikah diusia mudanya.
Acara resepsi pernikahan Marc dan Ji Eun dihelat disebuah taman luas yang letaknya tak begitu jauh dari gereja.
“Sekarang, aku bisa memanggilmu daddy, kan?” Tanya Hanna polos sembari naik kepangkuan Marc.
“Tentu saja, sayang. Oh ya, kau mau melakukan satu hak untuk daddy?”
“Apa?”
Segera Marc berbisik ditelinga Hanna, “..kau bisa?”
Hanna hanya menjawab dengan mencungkan jempolnya kearah Marc. Dan gadis kecil itu kemudian berlari kecil kearah Ji Eun, “..eomma, menunduk sebentar aku mau bisikan sesuatu!” Pinta gadis kecil itu yang membuat Ji Eun mau tak mau mematuh. Wanita itu perlahana sedikit menunduk dan membiarkan gadis kecil itu mengucapakn kalimat..
“Daddy Marc bilang : Katakan pada ibumu, kalau aku mencintainya. Sangat mencintainya!”
Ji Eun tersenyum dan kembali membisikan sesuatu pada Hanna, “..pergilah.”.
“Eommau bilang apa?” Tanya Marc setibanya Hanna kembali padanya.
Gadis kecil itu kemudian membisikan hal yang tadi juga diungkapkan Ji Eun, “Eomma bilang : Dia juga sangat mencintaimu!”
“Lalu bagaimana dengamu? Aku mencintaimu, Hanna! Dan kau?”
“Aku sangat..sangat..sangat menyayangimu, daddy.” Ungkap gadis kecil itu sambil tersenyum lebar.

The End..

Guys..maaf ya, kalo terkesan terburu-buru dan jelek sekali ๐Ÿ˜” author sekarang lagi mengejar waktu karena, sekarang udah mulai kuliah jadi author gk punya banyak waktu untuk buat FF..tapi, author tetap menunggu kritik dan saran dari kalian semua..โ˜บ๏ธ Terima kasih sudah membaca FF ini (Tell Your Mom, I Love Her!) dari Part 1-12..terima kasih juga buat setiap masukan yang sudah kalian berikan..akan author simpan untuk FF- FF selanjutnya..๐Ÿ˜Š sampai jumpa lagi di FF yang lain โ˜บ๏ธ

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

7 thoughts on “Tell Your Mom, I Love Her! #12 (Last Part)

  1. Nggak nyangka ceritanya akan berakhir secepat ini. Btw aku bingung pas bagian flashback karena alurnya nggak mundur malah maju. ._. Overall ceritanya keren! Sedikit saran utk next FF: feelnya dipertajam, ya.๐Ÿ˜€ Semangat kuliah! Aku pun sedang skripsi sekarang ini. ._.

  2. Horeeeee…….
    Akhirnya semuanya berakhir bahagia. Tragis juga akhir kisah Scott. Tapi, gak pa2 deh demi kebaikan bersama (?)
    Hihihi…. Semangat kuliah ya dan ditunggu karya-karya selanjutnya

  3. kyaaaa,,,,,, ini bagus bgttttt saeng๐Ÿ˜„ ,,,,,,, walaupun sdkit tragis hehe
    ditunggu FF2 nya yg laen terutama yang main cast.nya IU kkkkk
    btw,good luck bwt study nya jg saeng ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s