Posted in Marc Marquez FanFic

As Long As You Love Me #2

image

Sorry long time no posting🙂

Tanpa banyak bicara..langsung aja ya?😉 Happy reading😀

* * * * * * * * * * * * * * * * * *

Part 2  :

Lagi-lagi Ji Eun bangun dengan mata sembab. Tangisnya pun masih dengan alasan yang sama. Ya, seminggu sudah Ji Eun kabur dari rumahnya. Namun, tak ada respon apapun dari ayahnya. Pria paruh baya itu bahkan tak menampakan usahanya untuk mencari putrinya. Putri kesayangannya yang selalu ia manjakan. Setidaknya begitulah yang terpikir oleh Ji Eun seminggu ini.

“Kenapa lagi? Kau sakit?” Tanya Marc sambil terus memantau bengkak dimata Ji Eun yang sudah beberapa hari ini tak kunjung turun.

“Mungkin kau bisa bilang seperti itu.” Jawab Ji Eun lesu. Gadis itu meneguk susu digelasnya dengan lemas. Sandwich lezat didepannya sekali pun tak menggugah selera makannya.

“Kau tak mau makan itu?” Tanya Marc dengan heran. Padahal, biasanya makanan seenak ini tak akan dilewatkan Ji Eun begitu saja.

“Aku tidak sedang ingin makan sekarang. Aku mau jalan-jalan sebentar.”

“Kau mau kutemani? Yaah..kebetulan hari ini aku tidak sedang sibuk.”

Ji Eun menatap tak yakin kearah Marc. Lama sekali sampai akhirnya gadis itu berbalik dan mengangguk, “..kalau begitu aku mau mandi dulu.”

Masih dengan langkah lesu gadis itu naik kembali kekamarnya. Sedang Marc, pria itu hanya bisa menatap heran kearah Ji Eun.

“Dari kemarin dia sering menangis. Entahlah..tapi aku rasa ini semua karena dia merindukan ayahnya.”

Ucapan Shanti seketika mengingatkannya pada Vale yang sudah beberapa hari ini terus mewanti-wanti Marc untuk segera menyelesaikan misinya. Misi yang akhirnya tak begitu Marc setujui.

“Bagaimana caranya aku membawa gadis ini menghilang dari hadapan Vale?” Tanya Marc tiba-tiba. Namun, hanya gidikan bahu pertanda tak tau yang ia dapat dari Shanti.

“Tidak bisa, ya?”

“Aku yakin tuan muda terlalu cerdas untuk masalah seperti ini.” Sahut Shanti kemudian membereskan meja makan dan berlalu dari situ.

Ji Eun’s POV :

Aku hanya menatap kosong keluar jendela mobil Daniel tanpa sedikit mengeluarkan kata-kata. Entahlah, aku sedang tidak ingin membicarakan apa-apa saat ini.

Tapi, beberapa saat kemudian aku merasa ada yang janggal dengan tempat dimana Daniel membawaku ini. Tempat ini indah, tapi terlalu sepi dan tak ada siapapun disana.

“Dimana ini?” Tanya ku setelah turun dari BMW Cope miliknya.

“Ini belum seberapa. Ayo..”

Kini Daniel membawaku lebih dalam lagi masuk kehutan itu. Dan seperti yang dikatakannya. Pemandangan ditempat kami memarkir mobil tadi tak seberapa dengan yang ada disini.

“Ini tempat rahasiaku. Kalau aku sedang merasa tidak baik, aku akan kesini dan menenangkan hatiku. Aku sering berteriak keras-keras disini untuk membuang kesalku. Mungkin kau bisa mencobanya.”
Aku menatap Daniel sesaat dan akhirnya berpikir, Manusia bertampang konyol sepertinya bisa sedih juga ternyata, “..baiklah. Tak salah juga kalau mencoba.”
Beberapa saat aku mengambil ancang-ancang didepan sebuah danau dan menghela napas panjang. Setelah merasa yakin aku mulai berseru, “..AKU BENCI AYAH!! AKU BENCI MENJADI PUTRI SEORANG PERDANA MENTRI!! AKU JUGA BENCI DENGAN KEHIDUPANKU!! KALAU BISA AKU INGIN TERLAHIR KEMBALI MENJADI GADIS BIASA SAJAA!!”

Setelah merasa cukup aku kembali berjalan kearah Daniel. Pria itu terlihat menahan tawanya. Namun, entah mengapa perasaanku sudah tak seberat tadi. Sedikit lebih enteng dan lega.

“Bagaimana nona Alzamora?” Tanya Daniel masih sambil menahan tawanya yang hampir pecah.

“Jangan panggil aku dengan nama belakang itu. Namaku Lee Ji Eun dan aku lebih suka menggunakan nama itu dari pada Jane Alzamora.”
“Baiklah..baiklah. Kalau begitu, bagaimana perasaanmu sekarang nona Lee?”

Aku hanya tersenyum dan mengangguk mantap.

“Baguslah kalau begitu. Oh ya, mau makan? Kau belum sarapan, kan?”

“Tentu saja. Dan sepertinya aku mulai menyesal menyia-nyiakan sandwich lezat buatan Shanti.”

Entahlah..tapi aku mulai merasa hal-hal yang selama ini ingin kulakukan akhirnya dapat terwujud karena pria satu ini..

Ji Eun’s POV End :

* * * * * * * * * * * * * * * * *

“Bagaimana? Kalian sudah temukan putriku?” Tanya Emilio dengan cemas. Pria itu nampak sangat frustasi. Sudah seminggu ini ia belum berhasil melacak keberadaan putri bungsunya itu.

“Bagaimana kalau daddy buat pengumuman di Koran atau televisi saja. Mungkin lapor polisi juga bisa. Kalau hanya mengandalkan anak buah daddy saja, itu tak akan berhasil.” Usul Ji Hyun juga sama cemasnya dengan ayahnya.

“Tapi bagaimana kalau timbul skandal. Bagaimana kalau public menanyakan masalah yang terjadi? Daddy tidak mau nama baik keluarga kita dipertaruhkan hanya karena hal ini.”

“Hal ini? Hal ini, daddy bilang? Yang daddy lindungi itu nama baik keluarga atau nama baik daddy sendiri? Entah apa yang akan eomma katakana kalau beliau masih hidup.”

Dengan kesal Ji Hyun meninggalkan Emillio. Ada rasa kecewa yang memuncak dalam hatinya. Yang hilang dari rumah mereka bukanlah harta benda, namun adik perempuan miliknya yang paling ia sayangi. Adik perempuan yang sudah dititipkan oleh ibunya untuk dilindungi dan disayangi.

Ji Hyun sangat kecewa dengan ayahnya yang adalah seorang Perdana Menteri. Perdana Menteri yang bahkan tak bisa mengingat perannya sebagai seorang ayah.

Dalam kesalnya, ponsel Ji Hyun berbunyi. Dahinya berkerut ketika nomer yang tidak ia kenal tertera disana. Mungkin salah satu mantanku..pikir Ji Hyun geli. Buru-buru pria itu menekan layar datar ponsel itu untuk menerima panggilan tersebut, “..hallo..”

[Oppa..Nae ya..]

“Ji Eun-aah! Ji Eun-aah? Kau dimana? Kami sangat cemas mencarimu..ayo pulanglah, eo?!”

Ji Hyun merentet si penelepon dengan pertanyaan ketika ia tau bahwa penelepon itu adalah adiknya, Ji Eun.

[Aku..untuk beberapa hari atau minggu ini mungkin belum bisa pulang. Tapi, aku hanya mau bilang kalau aku baik-baik saja. Hanya, aku sekarang butuh waktu untuk sendirian dan menenangkan diri. Katakan pada daddy kalau aku baik-baik saja.]

“Tapi kau dimana? Biar oppa pergi melihat keadaanmu, ya?”

[Tidak perlu, oppa. Aku baik-baik saja. Dan aku butuh waktu untuk sendiri sekarang. Oh ya, bilang pada daddy jangan terlalu cemas. Aku pasti akan pulang kalau merasa baik. Jadi jangan buang-buang tenaga hanya untuk mencariku.]

“Tapi kau yakin kau baik-baik saja, kan?”

[Oppa bisa percaya padaku.]

“Baiklah. Jaga dirimu dan sering-seringlah kabari oppa keadaanmu, hm?”

[Baik oppa. Oh ya, aku harus pergi. Sampai jumpa.]

Sambungan telepon itu terputus. Tapi setidaknya, Ji Hyun bisa bernapas sedikit lega karena adiknya dalam keadaan baik saat ini.

“Kau bicara dengan siapa?”

Suara itu lantas membuat Ji Hyun berbalik cepat, “..daddy tidak perlu tau. Dan kurasa daddy tak akan mau tau.” Sahut Ji Hyun dingin saat tau bahwa ayahnya lah pemilik suara itu.

“Apa maksudmu? Jangan bilang itu dari adikmu?”

“Kalau iya, memangnya apa yang akan daddy  lakukan?”

“Membawa dia pulang. Sekarang berikan nomer yang tadi meneleponmu biar daddy menyuruh orang daddy untuk melacak pemilik nomer itu.”

“Tidak! Dia bilang dia sedang berada ditempat yang aman. Dan kalau pikirannya sudah tenang baru dia akan pulang. Jadi aku harap daddy tidak mengganggunya untuk saat ini.”

“Ji Hyun! Berikan nomer itu padaku, sekarang!”

Bentakan bernada tinggi itu lantas membuat Ji Hyun sedikit tersentak kaget. Baru pertama kalinya ia melihat seorang Emillio yang begitu marah dan khawatir. Entah harus merasa senang atau takut. Tapi dengan pasrha, Ji Hyun memberikan nomer tadi pada ayahnya.

“Bagus. Dan jangan sekali-sekali kau menganggap daddy tidak perduli pada kalian. Karena daddy perduli makanya sering daddy mengekang kalian.”

Pria paruh baya itu kemudian berjalan naik kembali keruangannya. Di hati terdalamnya ada sedikit rasa menyesal karena sudah membentak putra sulungnya tadi. Tiada maksud sebenarnya Emillio membentak putranya itu. Ia hanya sedang merasa kalut dan khawatir sekarang.

Daddy akan membawamu pulang. Dan akan memperbaiki apa yang salah, sayang..meski daddy harus melepas singgahsana ini..

* * * * * * * * * * * * * * * *

Kepala Emillio berputar, jantungnya memompa 2x lebih cepat. Pria paruh baya itu masih kesulitan mencerna perkataan pegawai pelacak tadi. Rasa cemas yang seharusnya bisa berkurang kini makin menggunung dan mengganggunya.

Flashback :

“Bagaimana hasilnya? Kau sudah dapat identitas pemilik nomer?” Tanya Emillio pelan.

“Sudah tuan. Tapi awalnya kami kesulitan. Nampaknya si pemilik nomer ini bukan orang biasa, tuan. Dia bahkan mampu membuat kami sedikit keliru tentang identitasnya. Nama pemilik nomer itu adalah Marc Marquez Alenta, salah satu pembunuh bayaran professional yang bekerja untuk seorang mafia kelas atas, Valentino Rossi. Dan untuk saat ini, tuan Marquez ini sudah masuk kedalam daftar pencarian orang dikepolisian Spanyol.” Jelas si pelacak dengan akurat tanpa kekurangan satu data pun.

Seketika mata Emillio menjadi kabur. Kakinya bergetar hebat sampai-sampai tak mampu menopang berat tubuhnya lagi. Ia terhuyung dan hampir jatuh tersungkur, kalau saja tidak ada orang yang segera menahannya.

“Jadi..putriku..”

“Kemungkinan besar dia menjadi salah satu target dari Valentino Rossi.”
Emillio berusaha mencerna itu semua. Dan akhirnya satu hal yang mampu ia putuskan, “..berikan alamatnya. Aku akan menjemput putriku mala mini juga. Dan tak akan aku biarkan dia menyentuh putriku barang sedikit saja.”

“Baik tuan.”

Segera para pelacak itu kembali membuka file mereka dan meng-copy alamat si pembunuh bayaran itu untuk Emillio.

Flashback End :

“Sebenarnya tidak perlu makan malam seperti ini Marc.”

“Kurasa kau pantas mendapat makan malam istimewa seperti ini. Anggap saja kita sedang berkencan.”

Ji Eun mengernyitkan dahinya. Dan beberapa saat kemudian, gadis itu terkekeh pelan, “..kita ini saudara, Daniel..jangan bercanda.”

“Memangnya saudara tidak bisa kencan?”

“Terserah kau saja. Oh ya..bukankah restoran ini terlalu mahal?”

“Aku tidak akan merasa rugi. Karena yang kuajak kemari adalah seorang wanita yang sangat cantik.”
“Kau bercanda.”

“Aku tidak pernah bohong masalah itu. Memangnya kau sendiri tidak sadar kalau kau secantik ini?”
Sejenak Ji Eun tertegun. Selama ini memang banyak orang yang mengatainya cantik. Bahkan ayahnya menganggapnya titisan malaikat. Tapi Ji Eun tak pernah melihat itu. Wajahnya memang sempurna, tapi kurang akan satu hal.

Ya. Senyuman..dan semburat merah dipipinya pertanda jatuh cinta.

“Kau tidak akan setersipu itu hanya karena aku memujimu, kan?”

Ji Eun tersedak. Apa yang ia katakan? Tersipu? Kapan?

“Wajahmu memerah begitu.”

Segera Ji Eun meraba-raba wajahnya yang memang tanpa ia sadari mulai terasa panas. Padahal, pujian yang Marc lontarkan, kira-kira hampir sama bahkan sedikit lebih sederhana ketimbang pujian-pujian yang ia dapat selama ini.

Dengan tergesah-gesah, Ji Eun memasukan steak miliknya secara rakus masuk kedalam mulutnya. Mungkin akan lebih baik kalau sekali-kali ia terlihat jelek dan memuakkan.

“Haha..tidak perlu seperti itu. Mau kau apakan mukamu juga akan tetap terlihat cantik.”
Sekarang Ji Eun mulai kesusahan menelan steak yang penuh mendesak dalam rongga mulutnya itu.

Aku tidak merasa jijik..tapi sebaliknya..jantungku bahkan sangat mengganggu sekarang..entahlah, tapi aku bahagia hanya karena pujian seperti ini…

* * * * * * * * * * * * * * *

“Tuan Muda..tadi tuan Perdana Mentri datang kemari.”

“Lalu apa katanya?”

“Dia datang mencari putrinya, tuan. Dan..”

“Dan apa?”

Shanti sedikit ragu mengatakan ini pada Marc. Namun pria itu akhirnya mulai lambat-lambat mengucapkan kata demi kata itu, “..dia sudah tau siapa tuan muda sebenarnya..”

Marc sedikit tercekat. Wajahnya memucat seketika, “..ini akan sangat bahaya. Benar-benar sangat bahaya.”

To Be Continued…

OK guys..sekian dari author..dan jangan menjadi SILENT READER ya?😀 Thank You🙂

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

7 thoughts on “As Long As You Love Me #2

  1. kira-kira marquez ngajak jieun kabur gak ya? hehe makin penasaran😀
    ditunggu kelanjutannya, jangan lamaaa updatenya, kangen tulisan authornim soalnya😀
    ohya btw aku udah follow twitternya author buat minta password FF yang diproteksi tapi ga dibales sama sekali😦 pfft.
    pokoknya semangat aja nulisnya thor ^0^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s