Posted in Marc Marquez FanFic

As Long As You Love Me #3

image

iHola! Hi! Annyeong! Hallo! Author kembali lagi dengan Part baru nih! Udah pada penasaran kan sama kelanjutannya? Hehe *emang iya, thor? Perasaan elu aja kali (-__-“)* Nah! Si author gk mau banyak kinclong lagi, ya? *Cingcong, thor..cingcong! ditabok nih!* Langsung aja saudara-saudari…Happy Reading😀

 

* * * * * * * * * * * * * * * *

 

Part 3 :

 

Ji Eun POV :

 

Aku tidak mengerti kenapa ayahku bisa sampai menemukanku disini. Tapi untung saja aku sedang keluar makan malam bersama Daniel saat dia datang. Bukannya aku tidak mau pulang, hanya saja ini bukan saat yang tepat untuk aku pulang kerumah. Aku masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku juga masih sedikit terluka karena sikap ayahku. Mungkin benar, beberapa hari ini aku berharap dia mencariku. Supaya aku tau seberapa khawatir dia padaku. Tapi, entah mengapa ketika dia mulai memperlihatkan rasa khawatirnya dengan mencariku, aku malah menolaknya dengan menghindar seperti pengecut.

Bukan! Bukan pengecut…hanya saja aku belum siap bertemu dengannya. Tentu saja itu tidak dihitung sebagai sikap yang pengecut, bukan?

Aku berjalan dengan langkah lesu menuju kolam berenang yang terdapat ditaman belakang. Dan sebuah tangan menyentuh pundakku pelan, membuatku sedikit tersentak kaget, “..kau baik-baik saja?” Tanya Daniel kemudian mengambil tempat disampingku.

“Entahlah. Menurutmu, aku ini pengecut, ya?”

Aku dapat melihat kerutan bingung itu didahinya, pertanda dia tidak mengerti dengan apa yang aku tanyakan padanya, “..lupakanlah..anggap saja aku tidak bertanya apapun padamu.”
“Entahlah. Aku juga tidak tau. Bagaimana denganmu sendiri? Apa kau merasa seperti seorang pengecut?”

Sejenak aku terdiam. Kalau mau dipikir kembali, apa yang membuatku menjadi seorang pengecut? Aku hanya berusaha menenangkan diriku. Bersembunyi dan mencoba menyembuhkan lukaku. Apa itu salah? Apa itu disebut tindakan seorang pengecut? Aku bukannya sengaja menghindar..aku hanya perlu waktu untuk sendiri. Perlu waktu untuk melupakan semua kekangan yang selalu kudapat dirumah karena aku putri dari seorang perdana mentri.

“Bagaimana?”

“Yang kurasa saat ini..aku hanya ingin menenangkan diri saja. Aku hanya ingin sebentar melarikan diri dari kehidupanku yang sempit dan terbatas. Aku ingin merasakan kembali masa-masa bebas dimana sebelum aku menjadi putri seorang perdana mentri. Itu saja. Apa itu sikap seorang pengecut?”

Kulihat Daniel menggeleng. Senyum manis terbentuk indah dibibirnya. Senyum tulus yang bahkan bisa menggetarkan hatiku, “..kalau seperti itu, berarti kau bukan pengecut. Tapi, sangat salah juga kalau kau menganggap ayahmu membatasimu. Dia mengekangmu karena dia sangat sayang padamu. Itu karena dia tau, pekerjaannya saat ini begitu beresiko dan bisa berdampak buruk untukmu dan kakakmu. Mungkin kedengaran klasik tapi, semua ayah didunia ini dengan jabatan tinggi tentunya, akan mengekang anak-anak mereka, membatasi mereka. Supaya mereka tetap aman dan selamat. Kau beruntung memiliki ayah seperti paman Emillio. Dia pria dan ayah yang sangat baik. Tidak seperti ayahku yang…” kalimatnya terpotong. Dahiku berkerut. Aku penasaran apa kelanjutkan kalimatnya itu. Karena setauku, Daniel punya kedua orang tua yang baik dan keluar mereka sangat harmonis, “..maksudku, tidak seperti ayah temanku, Marc. Pembunuh kejam yang dengan tega membunuh istri juga putra bungsunya sendiri dengan kejam. Menelantarkan Marc menjalani hidupnya sendirian. Dia memiliki kehidupan yang sulit.”

“Lalu? Bagaimana keadaan temanmu itu sekarang?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku. Dan terdengar sangat bersimpati.

“Dia sudah memiliki kehidupan yang baik. Namun tetap saja, dia sebatang kara. Dan hanya tinggal bersama seorang pria paruh baya yang sudah ia anggap ayah baginya.”

“Apa kau masih berhubungan dengan Marc?”

“Ya. Dia teman baikku. Sangat baik. Kami akrab sedari SMA.”

Aku mengangguk paham. Toh, ternyata didunia ini aku bukan satu-satunya manusia paling malang. Diluar sana, ada seorang anak lelaki kurang beruntung dengan keluarga yang terpecah belah. Aku masih beruntung punya ayah dan kakak yang sangat menyayangiku. Tapi Marc..sendirian..sebatang kara.

“Terima kasih, Daniel. Setidaknya kau membuka pemikiranku selama ini yang menganggap akulah manusia paling malang didunia ini.”
“Aku senang bisa membuat perasaanmu membaik.”

Entahlah..apa karena ucapanmu atau senyumanmu lah yang membuat hatiku tenang…

Ji Eun POV End :

 

Marc hanya bisa duduk mematung diatas kasurnya sembari kembali memikirkan ceritanya tadi pada Ji Eun. Terbayang kembali wajah Ji Eun yang penuh simpati dan rasa ibah. Sejujurnya Marc malu, hanya saja mau tak mau Marc harus mengungkapkan semuanya. Marc harus segera mengamankan gadis itu. Ya. Gadis itu harus pulang. Dirumahnya lah satu-satunya tempat yang paling aman.

“Tuan muda, boleh saya masuk?” seru Shanti daru luar kamar Marc.

“Masuk saja, Shanti. Pintunya juga tidak kukunci.”

Perlahan pintu kamar Marc terbuka dan sosok Shanti mulai nampak disana. Pria paruh baya itu kemudian berjalan mendekati Marc dan mengambil tempat disamping pria itu.

“Ada apa, Shanti? Apa ayahku atau Vale menelepon lagi?”

“Tidak tuan muda. Bukan itu, hanya..tadi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan anda dengan nona Lee. Dan saya rasa, anda lumayan berani dengan menceritakan semua hal tentang anda padanya.”

“Aku harap dia tidak segera mencium penyamaranku ini. Entahlah, aku hanya ingin dia sedikit lebih lama disini. Mungkin karena aku kesepian, tapi aku ingin dia disini lebih lama lagi.”

“Anda mencintainya, tuan muda?”
Marc sedikit tersentak dengan pertanyaan Shanti. Sejenak Marc terdiam, hingga beberapa saat kemudian dengan ragu-ragu Marc mulai menjawab, “..mungkin. Aku juga bingung dengan perasaan seperti apa yang kumiliki untuknya saat ini.”
“Cepat atau lambat, anda akan segera menemukan jawabannya, tuan muda. Dan aku bareharap, saat anda sudah tau jawabannya, semuanya belum terlambat. Selamat malam.”

Segera pria paruh baya itu berjalan keluar dari kamar Marc. Meninggalkan pria itu dengan banyak pertanyaan menggantung diotaknya. Apa benar yang Shanti katakan kalau aku jatuh cinta pada Ji Eun? Tapi mana mungkin secepat ini? Aku baru saja mengenalnya? Mungkin saja ini hanya rasa simpati…ya, mungkin saja begitu…

* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Marc tau bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Ji Eun. Meski waktu diarloji nya sudah menunjuk pukul 11.30 malam, Marc tetap memacu BMW Cope miliknya menuju markas Vale yang jaraknya bisa dibilang lumayan jauh dari rumah Marc.

Mesin mobil Marc yang tidak begitu berisik, menguntungkannya untuk sedikit mengendap-endap datang ke markas Vale.

“Mau apa lagi kau kemari? Apa kau punya berita bagus?”

Pria paruh baya itu tak langsung menghadap Marc. Sambil membelakangi Marc, pria itu berujar, “..aku harap kau tidak mengecewakanku Marc. Ingat! Kau sudah banyak berhutang budi padaku.”

Marc masih terdiam. Belum berani menjawab rentetan pertanyaan Vale. Apa lagi mengingat kedatangannya kemari untuk membatalkan misi tersebut, “..Vale..aku..”

“Jangan main-main denganku, Marc. Aku bisa saja menghabisi kalian berdua sekaligus kalau aku mau. Jadi sebaiknya, kau tetap pada rencana. Apapun yang terjadi.”

“Baiklah.”

“Bagus. Kalau begitu pulanglah. Aku tidak mau melihatmu disini sebelum kau membawa bukti nyata bahwa misi mu sudah benar-benar kau selesaikan. Ingat! Jagan sekali-kali menipuku. Aku punya banyak mata, Marc.”

Tanpa mau membalas lagi, Marc berbalik dan berjalan keluar dari rumah itu. Ia keluar dengan perasaan campur aduk. Antara marah dan sedih. Yang seharusnya dipanggil pengecut itu aku, Ji Eun..aku bahkan tidak tau bagaimana caranya untuk melindungimu dari Vale..

Marc mengintip kedalam kamar Ji Eun dan ternyata gadis itu belum tidur juga. Pandangan gadis itu terarah kosong keluar jendela. Mungkin masalah kemarin, pikir Marc. Dengan memberanikan diri Marc masuk kedalam dan duduk disamping Ji Eun.

“Kau belum tidur?”

“Hah?! Sedang apa disini?”

Gadis itu nampak terkejut. Bukan apa-apa, hanya kaget saja seorang pria tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.

“Tidak. Tadi pintumu tidak tertutup rapat jadi aku tidak sengaja melihatmu belum tidur.”

“Perasaan tadi aku menutup pintuku rapat.”

“Sudahlah..kenapa belum tidur?”

Gadis itu menunduk lesu, “..enthalah Daniel..kurasa dalam beberapa waktu ini aku harus pulang. Bukan apa-apa..hanya saja aku juga merasa bersalah karena menghukum ayahku seperti ini. Setelah mendengar ceritamu tentang temanmu Marc, aku jadi sadar. Bahwa setidaknya aku punya ayah yang sayang padaku. Dan aku saja yang terlalu egois.”

“Kau yakin?” Tanya Marc sedikit tak percaya. Ada nada tak rela disana.

“Yaah..kupikir itu keputusan yang paling baik yang sudah kupikirkan dengan matang.”

Pulang? Secepat itu? Apa aku harus senang atau sedih? Tapi kenapa hatiku tidak rela? Rasanya sakit saat dia bilang akan pergi…entahlah, apapun keputusannya..kuharap dia bisa aman dan jauh dari jangkauan Vale..

“Kapan?”

“Mungkin lusa atau hari sabtu nanti.”
“Baiklah. Bagaimana kalau kau buat sisa-sisa harimu disini menyenangkan?”

“Kita akan bertemu lagi nanti, Daniel. Kau saudara sepupuku..kita pasti akan bertemu lagi.”

Ya…kalau saja aku benar-benar Daniel, saudara sepupumu…kita mungkin akan bertemu lagi…

* * * * * * * * * * * * * * * *

Pagi baru saja memijak dibumi namun suara dering telepon sudah menggema diseluruh penjuru ruang tamu kediaman Marc. Terus berdering sampai akhirnya derap langkah cepat terdengar dari tiap undukan anak tangga rumah itu.

Dengan cepat, tangan mungil itu meraih gagang telepon dan menyahut si penelepon.

“Halo..”

[Kumohon ijinkan aku bicara dengan Marc. Bisa kau panggilkan dia?]

“Marc? Tuan..mungkin anda salah sambung. Disini kediaman Daniel Alzamora bukan..”

[Daniel Alzamora? Tunggu! Siapa kau?]

“Aku Jane Alzamora, saudara sepupu Daniel. Lalu..anda siapa?”

[Segera keluar dari rumah itu kalau kau masih mau bertemu dengan ayahmu nona Alzamora. Pria yang mengaku sebagai sepupumu itu adalah seorang pembunuh bayaran. Dan aku berkata hal jujur sekarang.]

“Ap-apa maksud anda? Pembunuh bayaran? Siapa? Dia sepupuku! Sebenarnya kau ini siapa?”

[Aku sudah mencoba memperingatkanmu nona. Larilah selagi masih bisa.]

“Ha..”

Sambungan telepon itu terputus. Sekarang banyak pertanyaan menggelayuti kepala Ji Eun. Seperti teka teki. Siapa pria itu? Dan kenapa dia begitu yakin kalau Daniel menipuku?

To Be Continued…

Ok, guys! Setelah membaca..diharap meninggalkan ‘LIKE’ atau ‘COMMENT’ kalian, pertanda kalian itu reader yang baik dan budiman😀 jangan jadi SILENT READER yang tak bertanggung jawab, ya?😀 Next Part will posting as soon as author can, ya?🙂 Terima kasih🙂 Muchas Gracias🙂 Thank You🙂 Gumawo🙂

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

9 thoughts on “As Long As You Love Me #3

  1. Aku berjalan dengan langkah lesu menuju
    (kolam berenang) yang terdapat ditaman
    belakang. Dan sebuah tangan menyentuh
    pundakku pelan, membuatku sedikit
    tersentak kaget, “..kau baik-baik saja?”
    Tanya Daniel kemudian mengambil tempat
    disampingku.

    Ada sedikit typo disini😀 akan lebih enak kalau kata Kolam berenang diganti dengan kolam renang😀

    #keepwriting
    #salamkarya93

  2. yah.. ketauan deh, si marc. apa yang akan dilakukan marc dan ji eun..??

    ngomong-ngomong soal daniel, jadi inget dani oppa..haha bakal muncul di fic ini kah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s