Posted in Marc Marquez FanFic

As Long As You Love Me #4

image

Hai..haii semuaaa..*sumringah*😀 author back again dengan next Part nya🙂 author harap kalian tidak bosan ya sama ceritanya😀 dan tanpa author harus basa basi kayak nasi basi *bau lo thor yang kayak nasi basi* mari langsung saja pada ceritanya..Happy Reading🙂

 

Part 4 :

Ji Eun meletakan gagang telepon itu perlahan, sedang otaknya masih berpikir keras. Kira-kira orang gila siapa tadi yang menelepon? “Bisa-bisanya dia memfitnah orang sampai sebegitunya?”

“Siapa yang memfitnah siapa, Ji Eun?”

Gadis itu tersentak kaget mendengar suara Marc tepat dibelakangnya. “..Da-Daniel? Ka-kau sudah..”

“Siapa tadi yang menelepon?” nada tanya Marc lebih tajam ketimbang tadi. Nampak pria iu benar-benar penasaran dengan siapa si  penelepon tadi.

“Entahlah. Kupikir orang gila dengan berjuta-juta obsesi, mungkin?”

Marc mengernyitkan dahinya mendengar pernyataan Ji Eun. Ada yang aneh, pikir Marc. Gadis itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

“Memangnya apa yang dia katakan padamu sampai kau menganggapnya orang gila dengan berjuta-juta obsesi?”

“Pembunuh bayaran..Marc..dan semua itu dituduhkan padamu. Jelas itu gila, kan?”

Napas Marc sedikit tercekat, namun setidaknya ada sedikit rasa lega yang meringankan hati  juga pikiannya.

“Ya. Kau benar. Mungkin dia terobsesi menjadi seorang mata-mata atau semacamanya.”

“Aku lebih berpikir kalau dia terlalu terobsesi menjadi seorang aktor?”

“Haha..Ya. Kau boleh anggap begitu.”

Aku tau kau yang menelepon Julia. Aku tau itu kau..

* * * * * * * * * * * * * * *

“Lezat seperti biasanya.”

Shanti tersenyum lebar mendengar pujian Ji Eun pada sup Kimchi buatannya, “..beberapa hari ini aku belajar membuatnya. Dan kupikir sebagai pemula, rasanya mungkin tidak akan enak. Ternyata aku salah.”
“Makanya. Jangan ragukan kemampuanmu sebagai koki handal.”

Ji Eun kembali sibuk menyesap pelan sup kimchinya, sambil terus berdecak  kagum atas masakan lezat yang Shanti sajikan untuknya. Tak berselang lama, dering telepon diruang tengah kembali berbunyi dan dengan sigap Shanti berlarih kearahnya dan menerima panggilan itu. Wajah Shanti nampak tegang, segera pria itu menutup sambungan telepon dan berlari kearah Ji Eun yang menunggu dengan bingung dimeja makan.

“Ada ap..”

“Mari ikut saya, nona.”

Wajah Shanti nampak panik. Segera pria paruh baya itu menarik lengan Ji Eun dan membawanya turun keruang bawah tanah.

“Anda bersembunyilah disini. Jangan bersuara atau membuat suatu hal yang bisa mengundang perhatian.”

“Tapi sebenarnya ada apa?”

“Saya mohon nona. Ikuti saja apa yang saya katakan, nanti saya akan jelaskan semuanya.”

Segera Shanti berlari naik kembali keatas dan meninggalkan Ji Eun dalam ruangan itu. Ji Eun masih bingung. Namun belum berani untuk menerka apapun. Pertanyaan demi pertanyaan mulai menggelayuti hati Ji Eun. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku merasa sangat ketakutan?

Sebuah mobil Ford hitam baru saja terparkir didepan halaman rumah Marc. Seorang pria dengan berbalut busana serba hitam turun dari sana dengan wajah penuh senyuman.

Dilihatnya teliti setiap sudut rumah itu dengan kagum, “..bantuanku kau gunakan untuk rumah ini rupanya.” Gumam pria itu kemudian berjalan dengan langkah mantap kearah pintu rumah berwarna coklat muda itu.

Belum sempat jemarinya menyentuh tombol bel rumah, pintu rumah itu sudah terbuka. Seakan sang pemilik rumah sudah tau seseorang datang kerumah itu.

“Selamat datang, tuan Rossi. Kedatangan anda sudah ditunggu.” Sapa sopanseorang pelayan rumah sembari mempersilahkan Vale masuk kedalam rumah bergaya Eropa Klasik itu.

Nampak diruang tamu sana, sudah menunggu seoang pria muda dengan pakaian yang sedikit lebih santai dibanding dengan yang digunakan Vale.

“Aku tak mau banyak basa-basi Marc. Aku kesini untuk menanyakan hasil kerjamu. Bagaimana?”

“Kau terlalu terburu-buru Vale. Hal yang baik akan datang pada orang yang mau menunggu dengan sabar. Kupikir akan lebih baik kalau kau serahkan semuanya dan biarkan aku bekerja dengan caraku sendiri.”

“Bagaimana cara kerjamu itu, nak? Apa akan membuatku puas nantinya?”

“Tentu saja.”

“Hmph..bunuh gadis itu secepatnya. Aku tidak akan memberimu toleransi lagi kalau kau berani-berani mempermainkanku.”

Vale berbalik dan segera menghilang dibalik pintu rumah Marc. Dan mobil Ford yang tadi mengantarnya perlahan menjauh dari pandangan Marc.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tuhan..aku hanya ingin mlindunginya. Itu saja. Aku bahkan tak perduli jika Vale harus melampiaskan semuanya padaku…aku hanya ingin dia baik-baik saja..

“..mati kita cari bantuan dari ayahku.”

Suara Ji Eun membuat Marc tersentak kaget. Dengan refleks dan cepat, Marc berbalik kearah suara itu, “..apa yang..”

“Aku sudah tau semuanya..dari Shanti. Siapa kau dan apa yang akan kau lakukan padaku.”

Marc terdiam. Pria itu menatap Shanti tidak percaya. Tidak seharusnya Shanti membongkar identitas Marc seperti ini, “..sebenarnya kenapa kau membohongiku? Dan kenapa kau bukannya membunuhku, malah melindungiku?”

“A-aku..aku..”

“Jelaskan semuanya paadaku, tuan Marc Marquez Alenta.”

Marc menghela npas panjang dan menghembusnya pelan, “..maaf kalau aku membohongimu. Ya. Awalnya aku membawamu kemari untuk menyelesaikan apa yang sudah ditugaskan padaku. Tapi…ada satu dan dua hal yang membuatku akhirnya berubah pikiran. Kenapa aku tak membiarkanmu pulang..itu karena aku berpikir bahwa kau akan lebih aman disini. Karena bisa saja Vale bukan hanya membunuhmu, tapi semua orang yang ada dirumahmu.”

“Kenapa dia megincarku? Bukankah yang dia inginkan ayahku turun dari jabatannya? Tanpa dia harus membunuhku, dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan. Ayahku akan turun dari jabatannya. Setidaknya itulah yang kakakku beritahukan padaku.”

Marc terdiam sejenak. Matanya lurus menatap masuk kedalam manik mata Ji Eun, “..bukan hanya itu Ji Eun. Ada dendam yang Vale punya untuk ayahmu. Nyawa harus dibayar dengan nyawa, begitulah yang ia katakan padaku saat memberi misi ini.”

“Apa maksudmu.”

“Romano Fenati. Putra tunggal Vale yang meninggal ditangan ayahmu pada kecelakaan mobil tanggal 28 Agustus tahun lalu.”

“Kecelakaan? 28 Agustus?”

“Ya. Ayah dan ibumu dalam perjalanan kesuatu tempat. Dan ayahmu memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi sehingga kecelakaan itu tak bisa dihindari. Ibumu dan Romano meninggal ditempat.”

“Tapi ayahku bilang..eomma..meninggal karena sakit.”

Marc mengerutkan dahinya. Bagaimana gadis ini tidak tau cara ibu kandungnya meninggal? Batin Marc, “..kau..tidak tau?”

“Aku…aku di Amerika waktu itu. Aku hanya diberitahu kakakku kalau ibuku meninggal karena serangan jantung. Da-dari mana kau tau?”

“Aku saksi kecelakaan maut itu. Aku yang memanggil ambulans dan aku yang mengeluarkan jenazah ibumu dari dalam mobil.”

Sekujur tubuh Ji Eun bergetar. Kakinya tak lagi menapak ditanah. Tubuh gadis itu lunglay dan nyaris tersungkur kelantai kalau Shanti tidak segera menangkap cepat tubuh Ji Eun.

“Eo-eomma..kenapa?” gumam gadis itu sedang butir-butir bening mulai bergulir turun dari matanya dan membasahi pipinya, “..kenapa semuanya disembunyikan dariku?”

Marc bergerak mendekat kearah Ji Eun dan menarik gadis itu dalam pelukannya, “..aku yakin ayahmu punya alasan sendiri dengan menyembunyikan cara kematian ibumu. Yang pasti, dia tak mau kau membencinya karena menjadi penyebab kematian ibumu. Dan inilah sebabnya ia tak membiarkanmu tanpa pengawasan. Dia terlalu menyayangimu, Ji Eun dan dia tau kalau Vale akan mencarimu sebagai bahan balas dendam.”

“Tapi kenapa  dia tidak mencoba jujur saja? Apa salahku padanya?”

Gadis itu terisak hebat didada Marc. Tangisnya pecah menggema diseluruh penjuru rumah itu. Sedang Marc makin mempererat pelukannya. Membiarkan gadis itu menumpahkan rasa sesaknya didada Marc.

Dan ini yang terakhir aku melihatmu menangis seperti ini Ji Eun…aku tak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi…aku akan melindungimu…aku tak akan membiarkan Vale merenggutmu..tidak akan..

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

            Pandangan Marc tak lepas  dari wajah teduh Ji Eun yang terlelap itu. Gadis itu terlalu lelah menangis sampai-sampai terlelap didalam pelukan Marc tadi. Tangan Marc bergerak pelan menyusur tiap lekuk wajah gadis itu. Bagaimana aku bisa bilang aku tidak jatuh cinta padamu? Bagaimana mungkin hatiku menolak perasaan itu? Awalnya aku hanya ingin melindungimu…tapi lama-kelamaan perasaan itu bertumbuh lebih besar dari yang kubayangkan…bukan hanya ingin melindungi..tapi aku juga ingin memilikimu…yang Shanti bilang itu benar…aku benar-benar jatuh cinta padamu…

Perlahan, Marc bergerak turun dari atas kasur itu namun, belum sempat kaki Marc menyentuh lantai. Marc merasa lengannya ditahan. Dan benar, Ji Eun membuka matanya dan tangan mungilnya menggenggam tangan Marc erat, “..jangan tinggalkan aku. Aku takut sendirian.”

Marc hanya terdiam. Ia menatap tangannya yang digenggam Ji Eun dan wajah gadis itu bergantian. Ada perasaan hangat menjalar dari tangan gadis itu dan masuk dalam hatinya. Akhirnya Marc kembali naik keatas kasur dan mendekap Ji Eun hangat, “..aku tidak akan kemana-mana. Aku akan disini. Tidurlah.” Ujar Marc lembut.

Gadis itu pun kembali memejamkan matanya, dan lengannya ia lingkarkan dipinggang Marc. Eomma…apa aku sudah gila? Tapi kenapa aku merasa sangat nyaman dan tenang jika bersamanya? Bahkan aku tidak keberatan didekapnya seperti ini. Sebaliknya, eomma..aku bahagia..sangat hangat..

Tanpa keduanya sadari, seorang pria menatap mereka dari balik pintu kamar sana dengan rasa harus, “..tuan muda akhirnya tidak kesepian lagi..”

To Be Continued…

Maaf ya kalau semuanya terkesan cepat…soalnya, on the beggining..FF ini sebenarnya FF Twoshot…tapi entah mengapa, author akhirnya memutuskan agar FF ini berseri…dan maaf ya kalo masih ada typo nya😀 jangan lupa tinggalkan LIKE dan COMMENT kalian..buat yang mau nge-SHARE juga dengan senang hati..asal NO PLAGIATISME! Dan NO SILENT READER…terima kasih sudah membaca😀 ditunggu next part nya, ya?

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

9 thoughts on “As Long As You Love Me #4

  1. part favoritku😀 entah kenapa aku jadi ikut ngefly pas marq baru sadar kalau dia jatuh cinta sama jieun, kata-kata author itu sederhana tapi mampu menyentuh hati para readers *ceilah*
    pokoknya good job buat author, ganbatte-ne nulisnya 9(*0*)9

    NP: kirimin password ff yang diproteksi dong ke @IUonee_chan aku udah follow twitter kamu dari duluuuu banget😀 kirimin ya, please. arigatou gozaimasu.

    1. Uaaahhh😀 terima kasih reader-nim😀 terima kasih banyak..padahal author ngerasa kata-katanya seadanya aja lohh..hehe😀 dan makasih juga sudah membaca, reader-nim😀

      Eum? Judul FF-nya apa reader-nim nanti biar aku kirim passwordnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s