Posted in Marc Marquez FanFic

As Long As You Love Me #6

image

Hai..hai semua *lambai-lambai anggun* setelah menimbang-nimbang..akhirnya author memutuskan untuk memosting FF ini meski pun si abang (Marc) tidak berhasil menyentuh garis finish alias jatuh L Tapi..sebenarnya author gk galau-galau amat sih, karena si abangnya sudah berhasil menjadi juara MotoGP 2014 *sorak*

Ok..tanpa banyak bicara lagi..langsung author persilahkan..Monggooo..Happy Reading😀

 

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

 

Part 6 :

Hari sudah gelap. Dan jalanan di Madrid sudah sepi. Tapi deru mesin sebuah mobil Ferrari masih memburu dijalanan. Yang akhirnya, mobil itu berlabu didepan sebuah rumah megah. Rumah itu nampak sangat gersang. Seperti tak ada tanda-tanda makhluk hidup disana. Pria pengendara mobil itu turun dari dalam Ferarri hitam miliknya kemudian tersenyum miris, “..sepertinya Vale membutuhkan pekerja untuk merenofasi rumahnya. Benar-benar memprihatinkan.” Gumamnya sebelum melangkah masuk kedalam rumah itu.

Perlahan tangan pria itu mendorong daun pintu berwarna putih itu dan sedikit mengintip kedalam.

“Tidak perlu mengendap-endap seperti pencuri begitu, Jorge.”

Jelas suara berat itu membuat Jorge sedikit tersentak kaget. Tubuhnya dengan refleks berbalik kearah pemilik suara itu.

“Hai, Vale. Maaf aku datang malam-malam begini. Kupikir kau sudah tidur tadi.”

“Kalau aku sudah tidur, kau mau apa?”

“Yaah..paling tidak aku bisa mengendap-endap lagi dan masuk kekamar putrimu, Laia.”
“Dan hanya jasadmu saja yang akan kubiarkan keluar dari rumah ini, Jorge. Tak usah basa basi lagi. Sebenarnya apa yang membuatmu datang kemari?”

Jorge tersenyum licik, “..bagaimana kita buat pertukaran, Vale? Pertukaran ini cukup adil menurutku.”

“Pertukaran? Pertukaran seperti apa?”

“Aku tau kau ingin putrimu bersanding dengan pria favoritmu itu. Dan aku juga tau, kau ingin melihat Emillio menderita seperti penderitaanmu sepeninggal Romano. Jadi..bagaimana kalau kita buat keduanya terwujud?”

“Maksudmu?”

“Biarkan Ji Eun aku yang urusi. Sedang Marc…buat dia menjadi milik putrimu. Aku yakin, apapun yang kau minta darinya pasti akan kau dapatkan. Termasuk hal seperti ini, Vale.”

Vale menimbang sejenak. Kembali ia pikirkan, yang Jorge katakan barusan memang benar. Tak pernah ada permintaan Vale yang ditolak Marc. Itulah sebabnya, Vale menjadikan Marc sebagai anak lelaki favoritnya. Mungkin pertukaran yang diajukan Jorge ini memang adil adanya.

“Baiklah. Akan kucoba. Tapi ini juga harus aku bicarakan dengan putriku, Laia.”

“Tanpa kau rundingkan dengan Laia pun, putri kesayanganmu itu pasti sangat setuju.”

“Dari mana kau tau?”

“Sesekali…lihatlah kedalam kamar putrimu. Atau..sedikit mengintip kedalam diary nya.”

Jorge berbalik dan meninggalkan rumah itu sembari tersenyum penuh kemenangan. Pikirnya rencanannya akan berjalan sangat lancar dan mulus.

Kali ini..kita lihat siapa yang akan memenangkan hati Ji Eun,  Marc…kau atau aku…

Pagi itu Vale memutuskan untuk bertandang kerumah Marc. Membuat Marc dan Ji Eun juga Shanti, sempat kelabakan dipagi itu.

Shanti dan Ji Eun sudah bersembunyi dibalik pintu rahasia dibalik conter minuman. Sedang Marc, pria itu sudah duduk dan mulai bercengkrama dengan Vale.

“Tumben kau datang sepagi ini kerumahku. Ada apa?” tanya Marc penasaran.

“Aku bukan orang yang suka basa basi Marc dan kau tau itu. Aku datang kemari untuk melakukan pertukaran yang adil denganmu.”

“Pertukaran yang adil? Maksudmu?”

Entah mengapa perasaan Marc terasa tidak enak. Hatinya jadi tidak tenang.

“Aku tidak akan menyuruhmu  membunuh gadis itu dengan satu syarat..”

“Syarat apa?”

“Nikahi putriku Laia. Dan gadis itu tidak akan ku apa-apakan.”

‘DEG!’ Meski ini kesempatan bagus. Tapi Marc juga tidak bisa mengabaikan perasaannya sendiri. Ia  mencintai Ji Eun dan bukan Laia. Laia sudah dianggap adik bagi Marc. Dan tak ada perasaan lebih yang Marc rasakan untuk Laia.

Lalu apa yang harus aku lakukan?

“Bagaimana Marc? Aku berjanji kau bisa memgang ucapanku.”

Marc kembali berpikir. Otak dan hatinya, benar-benar sepakat untuk tidak mengiyakan permintaan Vale itu.

“Maaf Vale. Aku tidak bisa.”
“Apa maksudmu tidak bisa, Marc? Kau mau gadis itu mati, hah?”

“Kenapa kau begitu ingin aku menerima pertukaranmu ini? Setidaknya kau punya alasan yang kuat untuk ini, bukan?”

“Tidak perlu alasan untuk itu Marc..”

“Apa karena Jorge?”

Ji Eun dalam persembunyiannya sedikit tersentak mendengar nama itu. Nama  pria yang paling dibencinya.

“Kenapa harus menuduh Jorge, Marc? Ini tidak..”

“Karena hanya Jorge yang bisa punya pemikiran selicik dan sekotor ini.”

“Jadi maksudmu permintaanku ini licik dan kotor, begitu?”

Marc tersenyum sinis, “..kau tau Vale..kenapa kau bertanya? Permintaanmu ini seperti  orang rendah yang tak memiliki harga diri, Vale. Kau mau tau apa yang akan dipikirkan Laia jika dia tau? Dia akan menangis dan malu mengakuimu. Jorge sengaja membuatmu memohon seperti ini. Dia ingin melihatmu seperti orang rendahan.”

Wajah Vale memerah. Ekspresinya kentara sedang menahan amarah. Entah siapa yang menjadi bahan amarahnya? Ucapan Marc kah? Atau Jorge?

Pria paruh baya itu berdiri dan langsun pergi begitu saja. Tak ada ucapan apapun. Entah siapa yang sedang menjadi bahan amarahnya, bahkan Marc sendiri pun tidak tau.

“Dia sudah pergi?”

Marc tak langsung menjawab pertanyaan Ji Eun. Pria itu masih menatap pintu rumahnya yang barus saja dilewati Vale dengan kesal.

Aku harus tetap berjaga-jaga. Dan Ji Eun…aku sudah berjanji untuk melindunginya. Jadi..apapun yang akan terjadi, aku akan tetap melindunginya..

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Jorge masih terngiang dengan setiap bahasa yang keluar dari mulut Vale malam itu. Tangannya masih sering terkepal kesal ketika mengingat siapa penyebab keluarnya kalimat-kalimat kasar dari mulut Vale semalam.

“Akan kupastikan kau mendapat balasannya, Marc. Dan tentu balasannya akan sangat setimpal dengan perlakukanmu padaku.”

Ponselnya berdering. Dan nama yang tertera dilayar datar ponsel itu membuat senyum licik mulai melengkung tipis dibibirnya.

“Halo, paman.”

[Apa sudah ada perkembangan?]

“Maafkan aku paman. Sejauh ini aku masih belum mendapatkan petunjuk apapun. Tapi..aku sudah tau, siapa yang bisa memberitahu aku petunjuk langsung itu.”

[Siapa?]

“Tentu putra sulung kesayangan paman itu.”

[Ji Hyun?]

“Siapa lagi orang yang bisa berkomunikasi dengan Ji Eun selain kakaknya?”

Beberapa saat tak terdengar suara dari seberang sana. Hingga akhirnya sambungan telepon pun terputus. Jorge mulai tersenyum puas. Setumpuk rencana jahat yang sempat lama terkubur akhirnya kembali memenuhi benaknya.

Tunggu pembalasanku, Marc…

Setelah Emillio mengakhiri percakapannya dengan Jorge. Segera pria paruh baya itu berjalan cepat menuju kamar Ji Hyun.

“Ji Hyun. Buka pintunya!” seru Emillio sembari mengetuk kasar pintu kamar Ji Hyun.

Berulang kali Emillio mengetuk dan berseru dari balik daun pintu kamar Ji Hyun, namun tak ada jawaban apapun dari si pemilik kamar. Sampai seorang pelayan rumah lewat dan melihat Emillio masih kukuh berdiri dan berseru didepan kamar Ji Hyun.

“Tuan..tuan muda sudah pergi dari semalam tadi. Dan sampai pagi ini pun dia belum pulang.”
“Pergi? Pergi kemana?”

“Saya tidak tau, tuan. Tuan muda juga tidak bilang apa-apa sebelum pergi.”

“Tolong bawakan untukku kunci cadangan kamar ini.”

Segera pelayan itu berlari kebawah dan mengambil kunci cadangan kamar Ji Hyun yang tersimpan dilaci penyimpanan kunci. Setelah mendapat yang diminta majikannya, pelayan itu kembali berlari keatas untuk menyerahkan kunci cadangan itu.

“Ini tuan..” ujar pelayan itu setibanya dihadapan Emillio.

Tanpa membuang waktu lagi, segera Emillio membuka pintu kamar putra sulungnya itu.

Kamar yang berantakan. Lemari yang kosong. Dan sepucuk surat tergeletak dimeja tidur, menunggu seseorang untuk membacanya.

Ayah…maaf…aku tidak pernah bermaksud  menjadi pembangkang…tapi, untuk keputusan ayah..aku tidak bisa menerimanya…aku hanya berusaha memenuhi janjiku pada eomma. Itu saja..maaf, aku pergi…

Emillio masih terpaku menatap surat ditangannya. Semakin lama, tangannya makin meremas kuat kertas itu sampai kusut bahkan sobek.

“Panggil beberapa penjaga. Dan kau..coba lihat apa mobil Ji Hyun ada digarasi atau tidak?”

“Baik tuan.”

Apa salah ayah, nak? Apa ayah terlalu ceroboh? Coba jelaskan salah ayah tanpa melarikan diri seperti ini?

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Ji Eun menatap kosong keluar jendela kamarnya. Pikirannya masih berputar soal kejadian beberapa hari yang lalu. Entah harus merasa sedih atau senang. Tapi, jauh didalam hatinya kecilnya sangat setuju dengan keputusan Marc waktu itu.

Meski nyawa Ji Eun makin terancam, tapi ia bahkan tak merasa takut sama sekali.

“Kau sedang apa?”

Suara Marc seketika memecah lamunan Ji Eun. Refleks gadis itu berbalik dan tersenyum kepada Marc, “..tidak. Hanya saja..kenapa kau menolak tawaran Vale waktu itu?”

Marc tau kalau akhirnya Ji Eun akan bertanya seperti ini. Dan tentu saja, Marc sudah mempersiapkan jawabannya.

Pria itu berjalan mendekat kearah Ji Eun dan berdiri tepat didepan gadis itu.

“Menurut tebakanmu..kira-kira apa yang kupikirkan saat itu?”

“Entahlah.  Aku tidak bisa menebak apapun.”
Marc tersenyum. Tatapannya lurus menatap dan mengunci gadis itu dalam matanya.

“Ada seorang gadis..menyebalkan. Tapi..tanpa gadis itu, aku merasa ada sesuatu yang kurang. Aku jatuh cinta padanya. Itulah sebabnya aku tidak bisa menerima tawaran Vale..”

“Siapa dia?”

Sura gadis itu bergetar ketika bertanya. Hatinya sedikit terluka. Namun, tetap mencoba mendengar cerita Marc. Bahkan Ji Eun sendiri tidak tau, kenapa dia begitu terluka..

“Gadis itu…menyebalkan. Menyebalkan dan…sangat cantik. Sangat cantik sampai-sampai aku tak bisa melepaskan pandanganku barang sedetikpun darinya sekarang ini.”

Atmosfir dalam kamar Ji Eun terasa hangat. Jantung gadis itu pun bertalu-talu tak karuan. Tatapan tajam Marc, benar-benar melumpuhkan otaknya. Tak ada yang mampu ia pikirkan, hanya Marc dan Marc. Ya, pria itu kini sudah memenuhi kepala Ji Eun.

Deru napas Marc, hangat menyapu wajah Ji Eun. Membuat Ji Eun dengan refleks memejamkan matanya. Dan perlahan, Marc mencondongkan wajahnya kearah wajah gadis itu. Ia berhenti sejenak dan tersenyum ketika jarak wajahnya dengan wajah Ji Eun hanya bersisa 5cm.

“Aku mencintaimu, Ji Eun.” Bisik Marc kemudian mengecup lembut bibir gadis itu.

Anehnya, Ji Eun tak memberontak atau pun marah. Bahkan gadis itu tak melayangkan tamparan dipipi Marc, seperti halnya dengan yang ia lakukan pada Jorge waktu semasa SMA dulu, ketika Jorge mencuri ciuman pertamanya.

Makin lama, ciuman Marc makin dalam dan Ji Eun yang awalnya belum berani membalas, akhirnya membuka mulutnya dan membalas setiap lumatan demi lumatan dari bibir Marc.

Pria itu melakukannya dengan sepenuh hati dan lembut. Membuat Ji Eun semakin nyaman dan tak berniat mengakhiri ini.

Suara ketukan pintu kamar Ji Eun lah yang akhirnya memisahkan mereka.

Sosok Shanti muncul dari balik pintu kamar gadis itu dengan wajah panik, “..nona..”

Tanpa menunggu kalimat lanjutan dari Shanti, segera Marc berlari kebawah dan melihat sebenarnya apa yang membuat Shanti sampai sepanik itu.

“Jorge?”

To Be Continued…

Kira-kira seperti itulah FF dari author..

Semoga berkesan..dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian (LIKE & COMMENT) dibawah atau bisa juga diaccount Facebook (Lea Ravensca Octavia Obiraga) dan Twitter (@LeaObiraga) milik author😀

Jangan menjadi SILENT READER, ya? Tolong hargai tulisan author yang masih kurang ini dengan kritik dan saran..

Terima kasih sudah membaca..😀

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

6 thoughts on “As Long As You Love Me #6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s