Posted in Marc Marquez FanFic

As Long As You Love Me #7

image

Baru diangkat dari panci..selamat menikmati😀

 

 

* * * * * * * * * * * * * * * * *

 

 

Part 7 :

 

Marc masih menatap lama kearah dua orang pria yang baru saja memasuki rumahnya.

Kaget sudah jelas Marc rasakan, tapi rasa kagetnya tak lebih besar dari rasa kesalnya terhadap Jorge.

“Kembalikan putriku seka..”

“Kenapa ayah disini?”

Serempak Marc, Emillio dan Jorge berbalik kearah Ji Eun yang sudah berdiri tepat dibelakang Marc. Gadis itu menuruni anak tangga dan menghampiri ayahnya dengan tatapan dingin dan tak bersahabat.

“Bukannya aku sudah titip pesan pada oppa kalau aku tak akan mau pulang kerumah lagi?”

“Kau harusnya sadar dengan siapa kau tinggal sekarang ini, Ji Eun!”

“Aku tau dan toh, sampai detik ini aku masih baik-baik saja. Marc bahkan sudah berjanji akan menjagaku. Termasuk dari pria sialan yang mau ayah jodohkan denganku ini.”

Ji Eun mendelik tidak suka kearah Jorge. Namun entah pria itu mengerti arti tatapan Ji Eun atau tidak, ia tetap memasang senyum termanisnya untuk Ji Eun.

“Kau harus pulang nak..ayah mohon.”

“Tidak! Tidak kalau keputusan ayah masih sama untuk menjodohkanku dengan pria bajingan disamping ayah ini.”

“Aku punya nama sayang..”

“Bahkan untuk menyebut namamu perutku terasa mual.”

Mendengar desisan kesal Ji Eun membuat Jorge hening seketika. Ia sudah tau gadis itu tak akan pernah suka padanya. Tapi, baginya jika masih ada kesempatan tidak ada salahnya mencoba, bukan?

“Sebaiknya ayah pulang saja kalau keputusan ayah masih sama. Jangan harap aku mau memaafkan ayah karena sudah bertindak seenaknya padaku seperti ini. Dan tentang kematian eomma…aku sudah tau semuanya. Kenapa Vale mengincarku..dan apa cerita dibalik Vale menyewa Marc untuk membunuhku.”

Emillio tercekat mendengar tuturan Ji Eun. Kakinya tak terasa menapak tanah lagi. Jantungnya bertalu tak karuan. Satu pertanyaan dibenaknya, apa yang diketahui Ji Eun?

Jorge mencondongkan wajahnya mendekat ketelinga Emillio kemudian berbisik.

“Kita tidak akan bisa membawa Ji Eun pulang jika hanya dibujuk seperti ini. Butuh sedikit kekerasan ternyata.”  Hasut Jorge yang akhirnya membuat otak Emillio kembali bekerja.

“Javier..Hans…bawa Ji Eun masuk kedalam mobil sekarang.” Pinta Emillio  kepada kedua  pria berbadan kekar yang sedari tadi berdiri mengamat dari luar.

Dengan cepat Marc bertindak. Cara ini sudah salah pikirnya, dan segera pria itu menarik Ji Eun kebelakangnya, “..tuan, anda tidak bisa memaksa putri anda seperti ini. Kalau anda mau dimaafkan, harusnya anda berubah, bukannya mempertahankan kesalahan anda dan menganggapnya benar..”

“Jangan ikut campur kau, bajingan! Sudah cukup kau cuci otak putriku dengan semua omong kosongmu! Sekarang serahkan dia, atau aku akan mengambilnya sendiri dengan paksa.”

Marc masih kukuh mepertahankan Ji Eun dibalik tubuhnya. Bahkan tak segan Marc melwana kedua body guard yang tubuhnya jelas lebih besar dan lebih terlihat tangguh. Hingga akhirnya Marc lah yang tumbang dengan kondisi babak belur setelah menerima beberapa pukulan keras dari kedua body guard Emillio tadi.

Ji Eun terus berseru memanggil Marc. Gadis itu pun dengan segenap tenaganya berusaha melepaskan diri dari cengkraman dua orang body guard itu, namun apa daya, tenaga tubuh mungilnya tak lebih besar dari dua orang pria berotot itu.

“Kalau sampai terjadi sesuatu pada Marc. Seumur hidup, aku tidak akan memaafkan ayah!”

“Dia pantas mendapatkan itu! Pembunuh bayaran yang sudah dengan berani menculikmu dan mencuci otakmu..”

“Dan aku mencintainya ayah!”

Emillio tercekat mendengar seruan mantap dan lantang dari Ji Eun. Sorot tajam putrinya itu pun seakan ikut meneriaki perasaannya. Dan tentu saja, hal itu membuat Emillio makin geram.

“Buang jauh-jauh perasaanmu itu. Ayah sudah menjodohkanmu dengan Jorge. Dan ayah tidak mau kau berhubungan dengan pria macam pembunuh bayaran itu.”

“Ayah tidak punya hak menjodohkanku dengan pria busuk seperti Jorge. Dan lebih baik aku mati daripada harus dijodohkan dengan pria macam dia!”

“Ji Eun!” seru geram Emillio yang hampir saja melayangkan tamparan dipipi putrinya.

“Apa? Ayah mau menamparku? Tampar..ayo tampar..biar eomma tau bahwa dia sudah salah memilih pria dalam hidupnya!”

Ucapan Ji Eun membuat mata Emillio sedikit terbuka. Dan pikirannya terlempar pada kejadian malam itu, dimana dalam nafas-nafas terakhir mendiang istrinya, wanita itu menitip pesan pada Emillio..”..kumohon, jaga kedua anakku..sayangi mereka seperti yang kau lakukan padaku..meski mereka bukan anak kandungmu…kumohon sayangi mereka dan jangan biarkan mereka disakit…aku hanya minta itu darimu, Emillio..hanya itu..”

Perlahan Emillio menurunkan tangannya. Dan perjalanan mereka hanya diwarani suasana hening, sedang Ji Eun terus terisak.

Pikirannnya tak bisa lepas dari Marc, ‘apakah Marc baik-baik saja?’, ‘bagaimana mereka bisa bertemu lagi?’ dan masih banyak pertanyaan lain yang menggantung dihati Ji Eun.

Eomma..apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bahkan tak sempat bilang kalau aku juga mencintainya…apa yang akan terjadi padaku setelah ini, eomma…

* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Marc masih mencoba menahan rasa sakit ketika Shanti mulai menempel obat merah pada luka-luka diwajahnya. Pria itu meringis beberapa kali sampai akhirnya, yang terlihat diwajahnya ialah tekukan sedih dan putus asa.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Shanti? Apa semua ini sudah benar? Atau aku harus pergi dan mengambil Ji Eun kembali kemari?”

Shanti nampak menimbang sejenak. Sejujurnya semua hal yang terjadi tadi, bahkan tak sempat dipikirkan Shanti akan terjadi secepat ini.

Pria paruh baya itu hanya bisa menjawab pertanyaan Marc dengan senyuman sembari menepuk pelan pundak pemuda itu.

“Apa aku salah untuk menginginkannya terus tinggal disini? Apa dengan mencintainya, aku sudah melakukan dosa besar sehingga aku harus dihukum seperti ini?”

“Takdir kalian lah yang beda. Tapi..kalau anda tidak setuju dengan takdir yang seperti ini, buatlah takdir yang baru. Untuk saat ini, anda harus banyak berpikir dengan jernih terlebih dahulu sebelum bertindak. Masih ada satu hal yang anda lakukan sebelum mengarah pada nona Lee.”

“Maksudmu?”

“Jorge dann Vale. Selesaikan itu terlebih dahulu, baru kau tentukan, akan kemana takdir kalian.”

Shanti langsung bangkit dari ranjang Marc dan keluar dari kamar pria itu. Sedang Marc, pikirannya mulai perlahan mencerna maksud perkataan Shanti dan merenungkannya.

Apa bisa aku mengubah takdirku?

Malam sudah berganti dengan pagi. Namun seperti tak bertenaga, Marc merasa enggan menyambut mentari pagi ini.

Tubuhnya masih menggeliat diatas kasur, masih menolak untuk bangkit dari kasur empuk itu.

Bukan karen masih mengantuk atau sakit, namun Marc merasa paginya kurang sempurna tanpa gadis itu.

Ya. Gadis yang semalam dibawa pulang paksa oleh ayahnya dan Jorge.

“Tuan muda..sarapan anda sudah saya siapkan.” Seru Shanti dari balik pintu kamar Marc.

“Aku tidak lapar, Shanti. Nanti saja..”

Seakan mengerti dengan keadaan Marc. Shanti tak lagi mengganggu pemuda itu dan langsung turun kembali kedapur untuk membereskan meja makan.

Sama halnya yang terjadi dikediaman Ji Eun.

Gadis itu sama sekali tak mau keluar dari kamarnya. Pagi ini terasa asing baginya. Dan sinar mentari pagi terasa hangat lagi. Entah mungkin saja, karena hatinya mendingin. Tak ada lagi perasaan hangat yang biasa menggelitik hati Ji Eun.

Perasaan hangat yang menggelitik, ketika matanya bertemu dengan mata coklat milik Marc.

Serua pelayan rumah tangga dari balik pintu kamar Ji Eun tertupi dengan headphone yang menempel ditelinga Ji Eun. Alunan lagu yang mengalir lembut itu, mengiringi tiap tetes air matanya yang bergulir turun kepipinya.

 

Remember the first day when I saw your face
remember the first day when you smiled at me
you stepped to me and then you said to me
I was the woman you dreamed about

Ji Eun mulai teringat waktu pertama bertemu dengan Marc. Pria itu berbohong kalau dia saudara sepupu jauhnya yang bernama Daniel. Dimana saat itu, Marc tanpa sungkan mengajak Ji Eun masuk kerumahnya dan dengan berani menggoda Ji Eun.

Bahkan, senyum diwajah Marc tak pernah lelah menghias  wajah Marc.

Kenangan itu membuat Ji Eun sedikit tersenyum geli.

remember the first day when you called my house
remember the first day when you took me out
we had butterflies although we tried to hide it
and we both had a beautiful night
The way we held each others hand
the way we talked the way we laughed
it felt so good to find true love
I knew right then and there you were the one

 

Marc lah pria yang membuka matanya akan dunia ini. Menunjukan betapa indah dan menyenangkannya kebebasan. Marc jugalah yang memperkenalkannya pada perasaan hangat yang selalu menggelitik hatinya dikala mereka saling bersentuhan, atau saling menatap.

Cinta. Ya. Perasaan hangat dan selalu berhasil membuat Ji Eun terpukau itu bernama cinta.

Dan Marc lah yang memperkenalkan Ji Eun pada rasa cinta dan rasa percaya.

Remember the first day, the first day we kissed
remember the first day we had an argument
we apologized and then we compromised
and we haven’t argued since
remember the first day we stopped playing games
remember the first day you fell in love with me
it felt so good for you to say those words
cause I felt the same way too

Hangat bibir Marc masih belum hilang dari bibir Ji Eun. Mungkin karena ciuman yang Marc berikan semalam adalah ciuman tulus yang benar-benar berasal dari dalam hati pria itu. Perlahan ibu jari Ji Eun bergerak menyentuh bibirnya, dan air matanya kembali bergulir turun.

Pria itu. Ji Eun sangat merindukan pria itu, “..sedang apa kau sekarang, huh? Bagaimana keadaanmu? Kau sudah sarapan atau belum?”

“Aku mencintaimu, Ji Eun..”

I know that he loves me cause he told me so
I know that he loves me cause his feelings show
when he stares at me you see he cares for me
you see how he is so deep in love
I know that he loves me cause its obvious
I know that he loves me cause it’s me he trusts
and he’s missing me if he’s not kissing me
and when he looks at me his brown eyes tell his soul

Tangis Ji Eun kembali pecah pagi ini. Ia tak perduli akan seberap bengkak matanya nanti. Dan akan seberapa menyedihkan tampangnya nanti. Yang ia tau saat ini ialah, hatinya sakit. Dan ia butuh air mata ini untuk mengeluarkan segala rasa sakit yang sedari malam terus menghujam hatinya. Rasa sakit yang bahkan tak mengijinkannya untuk berisitirahat dimalam hari.

“Apa salahku, Tuhan? Tidak ada yang salah dengan perasaanku ini. Aku hanya mencintai seorang pria yang bisa mencintaiku dengan tulus. Tapi kenapa semuanya jadi seperti ini?”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Ji Hyun berjalan dengan langkah panjang penuh amarah ke ruang kerja ayahnya. Didalam sana, pria itu masih sibuk tertawa-tawa dengan Jorge. Membuat Ji Hyun makin geram dan kesal.

“Apa yang kau lakukan pada adikku, tuan Alzamora?”

Tawa kedua pria itu terhenti dan serempak keduanya berbalik menatap Ji Hyun.

“Kalian pikir, kalian bisa menyakiti adikku? Aku bersumpah, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Dan camkan ini, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyetujui keputusanmu, Emillio.”
Tanpa banyak berkata lagi, ataupun sekedar memberi kesempatan untuk Emillio membalas. Ji Hyun langsung berjalan meninggalkan ruangan itu masih dengan tampang kesal.

“Jangan pikirkan apa yang Ji Hyun katakan paman. Kau sudah melakukan hal yang baik. Mungkin Ji Eun dan Ji Hyun hanya butuh waktu untuk berpikir saja.”
“Kau pikir begitu?”

“Tentu saja.”

Hmph…aku sudah bilang Marc..jangan pernah main-main denganku…karena ku bukan Vale yang dengan mudahnya kau tipu..

Ji Eun masih menatap kosong kearah jendela kamarnya dengan lemas. Makanan yang tergeletak dimeja kamarnya sedikitpun tak disentuh.

Matanya sayu. Ia lemas. Belum ada asupan makanan atau pun minuman yang masuk ketubuhnya sejak pagi tadi.

Kabur. Ya, penglihatannya mulai kabur. Sampai-sampai ia mulai bisa berhalusinasi. Berhalusinasi tentang Marc yang muncul tiba-tiba didepan jendela kamarnya.

“Ji Eun..psst!” seru Marc setengah berbisik.

Halusinasi yang menyenangkan. Setidaknya itu tampak sangat nyata.

“Ji Eun..hei!” seru Marc lagi dan kali ini Ji Eun mulai sedikit tersadar. Matanya yang kabur sedikit ia kucak dan..

“Marc?” gadis itu hampir menjerit namun segera ia membungkam mulutnya sendiri dengan tangan, “..sedang apa kau?”

“Aku mau melihatmu. Aku merasa ganjil kalau tidak mengucapkan selamat pagi padamu.” Ujar Marc sembari mencoba masuk kedalam kamar Ji Eun, “..kau kenapa? Kau sakit?” tanya Marc sedikit panik. Namun, Ji Eun tak menjawab. Gadis itu masih mau memastikan kalau ini benar-benar bukan hanya halusinasinya saja.Perlahan tangan gadis itu menyusur pipi Marc, dan menariknya pelan.

“Selamat pagi..” bisiknya kemudian mengecup lembut bibir Marc.

Marc mulai membalas ciuman Ji Eun. Makin lama makin dalam dan hangat. Seperti  biasanya.

“Ji Eun..”

Suara itu otomatis melepas tautan antara bibir Marc dengan bibir Ji Eun

“Ayah?”

To Be Continued…

Sekian untuk part 7😀 dan terima kasih sudah membaca😀 jangan lupa tinggalkan jejak (LIKE atau COMMENT) kalian dibawah ini atau diaccount Facebook author (Lea Ravensca Octavia Obiraga) dan account Twitter author (@LeaObiraga) jangan menjadi SILENT READER..

Thank you..😀

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

9 thoughts on “As Long As You Love Me #7

  1. Ini Emilio dan Ji Eun kayaknya menganggap remeh para pembunuh bayarannya, ya? Jadi kesan garangnya kurang. Btw itu lagu judulnya apa? Penyanyinya siapa? *alaaah ini komentator banyak nanya!*. Hehe thanks udh ditag. Keep writing!😀

  2. Nah lho…
    Apa si bapake bakal luluh ya? Kepergok nih pas lagi kissing. Ayo, kawin sana!!!
    Hihihihi….
    Wah, lagu jadul ini. Hihihi….
    Next!!!

  3. jadi.. ji eun & ji nyun itu bukan anak kandungnya emillio??

    wah!! gila ni si jorge.. nekat and ambisius banget dia!

    dan WAH BANGET!!! tapi itu bener marc?? kalo iya, makin sulit dong hubungan mereka, kepergok sang ayah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s