Posted in Marc Marquez FanFic

As Long As You Love Me #9

image

Author memang rada soek ya? Katanya mau hiatus sebentar buat UTS..eh! malah dia nongol (emang author semprul! (-__-“)) sudahlah..dari pada melihat ke  semprulan author..mari langsung saja ke TeKaPe!!!😀

Happy reading😀

 

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Part 9 :

Pagi itu Jorge sudah menunggu sembari bersandar pada Ferarri hitam kesayangannya. Dan ketika orang yang ditunggunya muncul, senyum lebar dan manis mulai mengembang diwajahnya.

Beda dengan senyuman yang ditunjukkan Jorge pada orang itu yang hanya menatap Jorge dengan wajah masam tanpa ada sedikit pun senyum diwajahnya. Dan bak khayalan atau semacamnya, tiba-tiba saja orang yang sedari tadi berwajah masam itu berubah manis dengan senyum indah mengembang diwajahnya.

“Kau sudah siap sayang?”

“Su-sudah..”

Jorge kemudian membukakan pintu penumpang, samping kemudi, dan mempersilahkan gadis itu naik. Barulah setelah itu, Jorge masuk kedalam mobilnya dengan perasaan membucah senang. Gadis itu tak membutuhkan waktu lama untuk melupakan Marc, pikirnya.

Flashback :

“Pakai ini.” Pinta Ji Hyun sembari menyodorkan sebuah earphone kecil kepada Ji Eun.

“Oppa yakin ini akan berhasil?”

“Kita tidak akan tau kalau belum mencobanya, bersiap-siaplah sebentar lagi Jorge datang.”
“Maksud oppa aku ini sejenis kelinci percobaan?”

“Oh ayolah Lee Ji Eun! Ingat, ini hanya sandiwara. Kecuali kau benar-benar menyukai pria maniak itu.”

Ji Eun akhirnya berhenti membantah. Toh, Ji Hyun benar, ini hanya sandiwara. Dan sandiwara ini pun demi melepaskan dirinya dari belenggu pria tolol yang paling dibencinya itu.

Dengan patuh, Ji Eun pun masuk kedalam kamarnya dan mulai bersiap-siap. Tak lupa, Ji Eun memasang earphone itu ditelinganya dan menutupinya dengan geraian rambut coklat gelapnya.

Tuhan..semoga hari ini cepat berlalu…

Dan benar saja, ketika gadis itu keluar dari dalam rumahnya, Jorge sudah menunggu sembari bersandar pada mobil Ferrari hitamnya. Dengan refleks, wajah masam dan tak berekspresi Ji Eun tunjukkan pada pria itu. Dengan langkah kesal, Ji Eun berjalan kearah Jorge yang sudah tersenyum manis padanya.

[Oh ayolah, Lee Ji Eun-ku sayang..kau tak akan memasang wajah semasam itu, kan?] suara aba-aba Ji Hyun mulai terdengar diearphone kecil itu dan segera membuat Ji Eun mengubah ekspresinya tadi menjadi ekspresi paling manis yang pernah ia buat.

Mungkin Jorge akan berpikir kalau gadis ini punya sedikit ganguan mental pagi ini.

“Kau sudah siap sayang?” tanya Jorge manis sembari membukakan pintu mobil untuk Ji Eun.

“Su-sudah.” Balas Ji Eun singkat masih dengan senyum manis dibuat-buatnya, kemudian masuk kedalam mobil Jorge. Astaga! Aku ingin muntah! Ini terlalu menjijikan! Tuhan..semoga saja kami tidak berpapasan dengan Marc dijalan nanti..aku tidak mau dia salah sangka dengan sikapku ini..

Flashback End :

 

Mereka sudah tiba disebuah cafe. Dan entah mengapa, ingin rasanya Ji Eun tak turun dari dalam mobil Jorge. Firasatnya benar-benar tidak enak jika seandainya dia keluar dari dalam mobil Ferrari hitam itu.

“Ayo..” ajak Jorge. Pria itu sudah membukakan pintu mobil untuk Ji Eun, bahkan tangannya sudh terulur untuk digapai gadis itu.

“Eum..ti-tidak. Aku ingin berkeliling saja. Lagi pula, untuk apa ke cafe. Aku sudah sarapan tadi dari rumah.” Kilah Ji Eun yang kembali memasang senyum paksaannya.

“Oh ayolah..aku yakin kau akan suka suasana cafe ini.” Bujuk Jorge.

[Ikut saja, Ji Eun. Dia akan curiga kalau kau menolak. Jangan khawatir soal Marc..oppa akan jelaskan padanya nanti..]

“NANTI?!” pekik Ji Eun spontan membuat Jorge sedikit melonjak kaget dan bingung, “..ehm..ma-maksudku. Nanti saja kita kesini..jalan-jalan saja dulu. Mungkin sore nanti, suasananya akan lebih bagus.”kilah Ji Eun lagi. Bodoh kau Ji Eun! Dasar bodoh!

“Baiklah. Kalau begitu, kau mau jalan-jalan kemana, hm?”

“Bagaimana kalau toko buku. Ada novel baru yang ingin aku beli.”

“Baiklah. Kemana pun kau inginkan, princess.”

Jorge tersenyum dan kembali menutup pintu mobil penumpang itu. [Akting yang bagus, adikku] pekik girang Ji Hyun diseberang sana.

“Aku akan membunuhmu sepulangku nanti, Ji Hyun..” desis Ji Eun setengah berbisik.

Saat Jorge masuk, Ji Eun kembali memasang senyum munafiknya dengan manis, berlaku seperti tidak ada apa-apa yang ia sembunyikan. Dan perlahan, mobil Jorge menjauh dari areaa parkir cafe itu.

Kapan hari ini akan berakhir, Tuhan…

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

Entah apa yang membuat Marc datang ke toko buku ini. Pria itu menyusur setiap rak buku, namun tak berniat membeli apa pun. Pikirannya pun tak tertuju pada buku-buku ini, tapi pada seseorang yang sangat suka dengan buku-buku ini.

“Kalau ku ajak dia kemari, mungkin uang ku akan habis hanya untuk membeli beberapa tumpuk novel.” Gumam Marc kemudian terkikik geli.

Ponsel Marc bergetar disakunya dan segera ia mengangkat panggilan itu ketika melihat nama siapa yang tertera disana, “..halo..”

[Kau dimana? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.]

“Bicara apa?”

[Datang saja ke cafe Daydream. Kalau bisa sekarang.]

“Baiklah.”

Marc langsung menutup pembicaraan ditelepon itu dan langsung bergegas keluar dari toko buku. Namun, tepat setelah Marc keluar dari toko buku itu, matanya menangkap sebuah mobil Ferrari hita yang baru saja terparkir disana. Hatinya sedikit tergetlitik untuk melihat siapa gerangan pemilik mobil itu. Dan benar saja, Jorge keluar dari dalam mobil itu dengan wajah sumringah. Ia tidak sendirian, buktinya Jorge masih sempat membukakan pintu mobil untuk seseorang yang duduk dibangku penumpang.

Hati Marc serasa tertikam ketika malihat siapa yang baru saja turun dari kursi penumpang itu, “..Ji Eun?” gumam Marc lirih.

Segera Marc masuk kedalam BMW Cope miliknya, dan memilih memantau dari dalam sana sampai sosok Ji Eun dan Jorge menghilang dibalik pintu toko buku itu.

Sakit dihati Marc makin menjadi-jadi. Rasa curiga mulai menghantui pikirannya. Benarkah ini semua? Apa Ji Eun sudah merelakan diri kepada keputusan ayahnya?

Tidak! Ji Hyun harus jelaskan semua ini padaku..

Segera Marc memacu BMW Cope miliknya ketempat dimana Ji Hyun janjikan padanya tadi.

Tak butuh waktu lama, Marc sudah sampai di Daydream Cafe, dimana mobil Porsche Silver Ji Hyun sudah terparkir. Dengan langkah panjang terburu-buru, Marc masuk ke dalam cafe itu dan langsung menemukan Ji Hyun.

“Kupikir kau akan lama.”

“Jelaskan semuanya padaku.”

Tuntut Marc langsung yang menolak basa-basi Ji Hyun, “..tenang dulu, Marc. Kau tak mau pesan apa-apa dulu?”

“Kumohon jelaskan saja apa yang terjadi pada Ji Eun dan Jorge.”

Bukan langsung menjawab, Ji Hyun malah mengangkat tangan dan melambai kearah seorang pelayan cafe untuk memesan sesuatu untuk Marc, “..sudah kuduga kau akan salah paham. Kupikir kau cerdas dalam hal-hal begini.”

“Maksudmu?”

Ji Hyun tersenyum, sedang pelayan tadi sudah datang membawa pesanan Ji Hyun, “..kau pikir adikku terlalu bodoh untuk langsung menerima Jorge?”

“Jadi yang tadi..”

“Itu semua hanya rencana yang aku dan Ji Eun buat. Rencana untuk menjebak Jorge dan menyelamatkan Ji Eun.”

“Rencana seperti apa?”

“Mengikuti rencana Jorge.”

Marc mengernyit bingung mendengar rencana Ji Hyun. Namun, pria didepannya itu tetap nampak tenang dan santai, seperti tak merasa aneh dengan rencananya sendiri.

“Jorge bukan pria yang cerdas Marc. Cukup mengiming-imingi dia dengan Ji Eun, semua akan berjalan sesuai rencana. Sebenarnya rencanaku yang sesungguhnya bukan itu. Tapi..ada bahasa yang bilang ‘Saf the best for the last’, bukan? Maka tunggu saja  diakhirnya seperti apa.”

“Apa kau berniat mengubah pemikiran Jorge? Kurasa pikiranmu terlalu pendek. Jorge tidak sebodoh yang kau pikirkan Ji Hyun. Dengan melakukan ini, sama saja kau memberinya banyak peluang. Kau sama saja menjual adikmu untuk hasil yang sia-sia.” Tatapan Marc lurus dan tajam terarah pada Ji Hyun, “..sebaiknya kau perbaiki rencanamu ini.”
“Hmm..aku yang berpikiran pendek atau kau yang terlalu cemburu dan tidak sabaran? Bukankah kau selalu bilang, hal yang baik akan datang pada orang yang mau menunggu? Maka perbuatlah demikian, Marc. Kontrol rasa cemburumu itu, dan jika memang kau mencintai adikku. Maka kau harusnya mau terlibat dalam rencana ini tanpa harus kutawar lagi, bukan?” ujar Ji Hyun santai kemudian menyeruput Mocca Latte miliknya yang sudah mulai sedikit mendingin.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Mudah. Kumpulkan sebanyak mungkin data tentang Jorge. Dan dari data-data itu, kita cari titik lemah Jorge. Aku ingin tau, selain Ji Eun, apa ada hal lain lagi yang membuat Jorge tidak bisa berkutik?”

“Baiklah. Tapi aku butuh waktu untuk..”

“Usahakan sebelum pertunangan Ji Eun dan Jorge.”

“Pertunangan?”

“Ya. Pertunangan. Ayahku sudah barang tentu akan percaya dengan sandiwara ini, dan dengan segera, mungkin dia akan memutuskan tanggal pertunangan Jorge dan Ji Eun. Jadi kuharap, sebelum hal itu terjadi, kau sudah harus menyelesaikan tugasmu.”
“Data Jorge tak akan mudah didapat, tapi akan kuusahakan.”

“Kau tidak akan berkerja sendiri, Marc. Aku akan membantumu dalam hal ini. Karena data Jorge tak akan bisa kau kumpulkan segera tanpa bantuan orang yang ahli dalam hal seperti ini.”

“Maksudmu..kau akan meminta tolong orang-orang ayahmu itu untuk membantu kita?”

“Orang-orang ku lebih tepatnya, Marc. Dan mereka lebih dari sekedar cerdas dalam hal itu.”
Marc menatap sebentar kearah Ji Hyun. Bahkan lebih dari ekpetasi Marc. Ji Hyun sudah memikirkan rencanannya ini dengan sangat matang. Bahkan, orang dalam pun dikerahkannya demi kelancaran rencananya ini.

“Baiklah. Aku akan coba cari data lain tentang Jorge dan sisanya kuserahkan padamu dan orang-orang mu itu.”

Ji Hyun hanya tersenyum tanpa membalas.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

“Bagaimana jalan-jalan kalian, menyenangkan?” tanya Emillio pada Ji  Eun yang baru saja masuk kedalam rumah.

[Jawab saja dengan baik dan manis, ok?] pintah Ji Hyun yang terdengar dari earphone kecil ditelinga Ji Eun.

“Iya, paman. Sangat menyenangkan. Ji Eun membeli banyak buku hari ini. Sampai-sampai dia kerepotan sendiri.”

“I-iya. Oh ya, kalau tidak keberatan, aku keatas sebentar untuk menyimpan buku-buku ini dulu.”

“Segeralah kembali kemari. Ada yang ingin ayah bicarakan dengan kalian. Ajak kakakmu juga turun kemari.”

[Aku punya firasat..mungkin ayah akan membicarakan soal pertunangan kalian..]

“Apa?!” pekik Ji Eun spontan lagi dan kali ini gadis itu langsung menutup mulutnya, “..eh..em..ma-maksudku..apa yang ayah bicarakan tadi? Aku kurang mendengarnya..” ralat Ji Eun terbata-bata. Dua kali, Ji Eun! Kau ini bodoh atau tak berotak, hah?!

“Ayah bilang, segeralah turun dan ajak kakakmu juga. Ada yang ingin ayah bicarakan.” Ulang Emillio tanpa  menaruh sedikit pun curiga pada Ji Eun.

“Ba-baik, ayah..” balas Ji Eun sembari tersenyum kemudian bergegas naik keatas.

Gadis itu langsung membanting tubuhnya keatas kasur  sesampainya dikamar. Ia mendesah keras, pertanda hari ini dia lumayan lelah. Ternyata sandiwara seperti ini bisa memakan banyak energi juga, pikir Ji Eun.

“Bagaimana?” tanya Ji Hyun yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamar Ji Eun dan membuat gadis  itu melonjak kaget dari kasurnya.

“Oppa! Kau mau membuatku mati, hah?! Dan kenapa selalu mengatakan hal-hal yang mengejutkan seperti  itu? nyaris tadi ketahuan!”
“Tapi kau bisa mengatasinya, kan? Oh ya, bagaimana tadi?”

“Oppa sudah beritahu Marc soal ini atau belum?”

“Jawab dulu..bagaimana tadi?”

“Ayah ingin bicara dengan kita. Mungkin oppa benar, ayah akan membicarakan soal  pertunanganku dengan Jorge karena sudah mulai percaya dengan sandiwara ini. Lalu, bagaimana dengan Marc?”

“Kau tenang saja soal Marc. Oppa sudah memberitahunya. Dan..apa lagi yang kita tunggu disini.”

“Aku tidak mau turun.”

Ji Hyun yang tadi sudah berdiri, akhirnya kembali duduk disamping Ji Eun ketika melihat gadis itu lesu dikasurnya.

“Oh ayolah Ji Eun..percaya saja pada oppa kalau kalian tidak akan sampai bertunangan.”

Ji Eun melirik lesu kearah Ji Hyun. Matanya memancarkan ragu pada kakaknya itu. Rasa takut akan kegagalan rencana mereka ini, lebih besar dari rasa percaya Ji Eun akan keberhasilan rencana mereka, “..percayalah pada oppa, hm?” ujar Ji Hyun meyakini Ji Eun sekali lagi. Dan gadis itu hanya mengangguk lesu kemudian perlahan turun dari atas kasurnya dan bersama Ji Hyun keluar dari kamarnya.

“Kemarilah. Ada hal penting yang ingin ayah bicarakan dengan kalian berdua. Terlebih denganmu, Ji Eun.” Panggil Emillo ketika Ji Hyun dan Ji Eun sudah menuruni anak-anak tangga rumah mereka.

“Bicara apa ayah? Sepertinya penting sekali dan kau…kau disini juga?”

“Begini. Ini soal pertunangan Ji Eun dan Jorge. Tadi ayah sudah sedikit berbicara dengan Jorge. Dan ayah ingin memajukan tanggal pertunangan kalian. Awalnya, ayah memilih tanggal 30 Desember nanti, tapi karena beberapaa hal, jadi ayah memajukannya ke tanggal 25  November ini.”

“Maksud ayah? 2 minggu depan?!” tanya Ji Eun dengan nada yang sedikit tinggi yang dengan sigap langsung mendapat cubitan kecil dari Ji Hyun.

“Baguslah kalau begitu, kan?” sahut Ji Hyun dengan senyum lebar mengembang sempurna diwajah tampannya, “..berarti kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, bukan?” usul Ji Hyun kemudian.

“Tapi..”

“Oh ya..sepertinya, aku harus menghubungi kenalanku yang memiliki aula megah yang pernah aku ceritakan pada ayah itu.” dengan cepat Ji Hyun langung menyambar memotong ucapan Ji Eun yang tentunya mungkin saja menggagalkan rencana yang sudah terpikir matang olehnya itu.

“Benar, Ji Hyun. Terima kasih. Oh ya, Ji Eun..tadi kau mau bilang apa, nak?”

Ji Hyun memberi aba-aba samar pada Ji Eun dengan gerakan alisnya, “..ti-tidak ada apa-apa ayah. Hanya saja aku sedikit terkejut. Apa tidak bisa dimudurkan sedikit? Aku masih mau melakukan banyak hal, perawatan mungkin? Itu butuh waktu yang tidak cepat, ayah.”

“Begitu, ya? Jorge..bagaimana menurutmu?”

“Yaah..bagaimana pun juga Ji Eun pastinya ingin terlihat cantik diacara sepenting itu kan, paman. Terlalu cepat juga tidak begitu baik.”

“Baiklah. Kalau begitu, kita kembali ke tanggal yang semula.” Putus Emillio kemudian tersenyum sembari mengusap sayang pipi Ji Eun yang duduk disampingnya.

Setidaknya semua berjalan sesuai rencanaku. Batin Ji Hyun.

to be continued..

Sorry guys kalo part ini jelek gk karuan *tears* author sadar butuh banyak saran dan masukan juga kritikan dari reader-reader budiman semua😀 jadi, author harap jangan jadi SILENT READER ya semua😀 soalnya, author betul-betul butuh masukan setelah dilumpuhkan soal UTS *lumpuhkan lah ingatanku..(Mulai deehh..mulai jadi Saipul Jamil)* Tinggalkan komentar kalian dibawah, kalo gk bisa di twitter dan facebook author..terima kasih semua😀 Kalian luar biasa *ala Ariel ‘The Mermaid’ (author sarap!)*

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

5 thoughts on “As Long As You Love Me #9

  1. banyak repetisi di paragraf dua, tapi overall aku menikmati part ini😀 btw sejak awal main ke blog ini, aku ngerasa ada yang aneh sama judul blog dan taglinenya. The Story of Mine bukannya harusnya The Story of Me ya? trus Let the story have been told setauku harusnya Let the story been told. CMIIW.

  2. Makasih buat sarannya kak😀 gk tau, aku ngerasa aneh aja sama part ini makanya minta kritik dan saran *tear* kalo soal nama blog dan beberapa hal lain itu..hehe, sebenarnya bingung juga *loohh?? Situ yang punya blog??* by the way..makasih sekali lagi buat sarannya kak..kalo ada saran tambahan boleh kok ditambah lagi..hehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s