Posted in Uncategorized

As Long As You Love Me #11 (Part 1)

image

Happy reading guys!

(*segala bentuk penjelasan akan dijelaskan setelah kalian selesai membaca*)

 

*********************

 

 

Part 11 (Final) : -Bagian Pertama-

 

Undangan pertunangan sudah disebar. Dan  seminggu lagi, acara pertunangan itu dihelat disebuah aula megah yang Ji Hyun sewakan dari sahabatnya. Sedang Ji Eun. Jangan ditanya lagi, gadis itu bahkan tak lagi punya semangat hidup. Apa lagi, sudah 3 minggu lebih Marc tidak pernah menampakkan batang hidungnya didepan Ji Eun lagi. Apa pria itu benar-benar menyerah begitu saja? Batin Ji Eun.

Semuanya terkesan santai. Bahkan Ji Hyun beberapa hari ini pun hanya bermalas-malasan dirumah seperti dia yang biasanya. Seakan tak akan ada yang terjadi jika pertunangan Ji Eun dan Jorge benar-benar terjadi. Membuat Ji Eun sedikit gemas dengan sikap masa bodo kakaknya itu.

Sore itu, Ji Eun hanya mengetuk-ngetuk cemas jarinya diatas meja riasnya. Tak ada yang ia lakukan. Hanya duduk dan berpikir keras.

Kalau kau benar-benar mencintaiku..ayo datang dan selamatkan aku, Marc..aku mohon..

Ji Eun menenggelamkan wajahnya dilengannya. Menutup mata sejenak. Bermimpi sejenak. Bermimpi kalau pangeran berkuda putihnya itu akan datang dan membawanya pergi dari kehidupan tragis yang ia jalani sekarang.

“Merindukanku?”

Suara itu..suara berat yang lantas membuat kepala Ji Eun terangkat dan dengan refleks berbalik kearah suara tadi berasal.

“Marc?” gumamnya lebih pada dirinya sendiri.

Tidak! Ini khayalanku..hanya khayalan yang tervisualisasikan karena aku terlalu memikirkannya saat ini..ya, dia hanya khayalan…tapi kenapa terlihat nyata?

Perlahan gadis itu berdiri dari meja riasnya. Mendekati sosok yang menurutnya, hanya khayalannya itu. Rasa rindu yang tervisualisasikan dengan sempurna oleh khayalannya.

Tangan gadis itu terulur, berusaha menggapai wajah dengan garis tegas itu. Menyentuh pria yang tengah tersenyum lembut padanya itu.

Nyata! Ini nyata..aku bisa menyentuhnya…hangat…dia bukan khayalan, kan?

Sosok yang dikira khayalan itu pun menyerang Ji Eun dengan lumatan lembut dibibir mungil gadis itu dan menarik tubuh gadis itu kedalam rangkulannya. Dia nyata..senyata rasa ciumannya yang lembut…dia Marc..ya, Marc-ku…

Ji Eun akhirnya membuka mulutnya dan membalas ciuman hangat Marc.

Tautan bibir mereka pun terlepas, namun lingkaran lengan Ji Eun dileher Marc tidak dilepasnya. Gadis itu malah makin memperdalam pelukannya, seakan tak membiarkan Marc pergi lagi kali ini barang seinchi pun.

“Kenapa baru datang sekarang?” tanya gadis itu.

“Banyak yang harus aku kerjakan. Dan..aku juga mencari waktu yang tepat untuk bertemu denganmu.”

Marc membenamkan wajahnya dibahu mungil milik Ji Eun, menghirup aroma collogne bayi yang masih sering Ji Eun gunakan itu. Bau yang sangat khas, yang selalu bisa membuat Marc nyaman saat membenamkan wajahnya seperti ini, “..aku merindukanmu, Ji Eun. Aku bahkan hampir gila karena terlalu merindukanmu.”

“Aku juga Marc, bahkan aku sampai berpikir kalau kau menyerah begitu saja dan pergi meninggalkan aku.”

Marc membuat sedikit jarak diantara mereka dan menatap wajah Ji Eun yang terlihat cemas itu, “..bagaimana mana mungkin aku melakukan itu? Sedangkan alasanku berjuang dan bertahan sampai detik ini adalah kau.”

Suara lembut Marc, yang dipadukan dengan ucapan menyentuh pria itu, membuat hati Ji Eun menghangat. Seperti ada sesuatu yang mengalir didalam hatinya. Sangat hangat dan nyaman.

“Aku mencintaimu, Ji Eun. Dan aku tidak pernah memiliki niat untuk meninggalkanmu.  Itu sama saja dengan aku bunuh diri jika  harus hidup tanpamu.”

“Aku juga Marc. Tapi sekarang bagaimana? Pertunanganku seminggu lagi, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau bertunangan dengan pria seperti Jorge, Marc..aku juga tidak mencintai dia.”

Marc tersenyum sembari menangkup lembut wajah Ji Eun, “..aku bersumpah itu tidak akan terjadi. Kau hanya akan bertunangan, dan menikah denganku. Bukan dengan pria lain.”

Ji Eun kembali memeluk Marc. Gadis itu benar-benar salah jika beberapa hari ini meragukan Marc. Seharusnya dia bisa lebih percaya pada pria itu. Pria yang ia cintai. Dan kembali terngiang apa yang pernah Ji Hyun katakan padanya, “..oppa percaya pada Marc. Dia sangat mencintaimu. Makanya oppa yakin, dia tak akan membiarkan orang seperti Jorge sampai merebutmu darinya, hm?” Oppa saja bisa begitu percaya pada Marc, kenapa aku tidak bisa? Mulai sekarang, aku harus bisa percaya pada Marc. Karena aku tau, dia mencintaiku dan aku hanya akan menikah dengannya, bukan dengan Jorge atau pria mana pun.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

 

“Kau tentu tau kalau kakak gadis itu tak akan tinggal diam, bukan?”

“Untuk itulah aku datang kemari, Vale. Itulah yang akan aku bicarakan denganmu.”

Pria paruh baya itu menatap lurus tanpa berkedip kearah Jorge yang tersenyum tipis kearahnya, “..apa rencanamu?”

“Tidak susah. Siapkan saja orang-orang terbaikmu untuk acara pertunanganku nanti. Akan kuberitahu tugas mereka saat tiba harinya.”

Jorge tersenyum licik, begitu pula dengan Vale, “..aku selalu menyukai cara berpikirmu, Jorge. Bagus.”

Sedang disudut sana, sepasang mata terus mengamati mereka dengan senyum puas.

[Terima kasih, Laia] ujar seseorang diujung sambungan telepon itu dengan nada puas.

“Tidak masalah.”

Percakapan singkat itu berakhir. Dan gadis bernama Laia itu segera bangkit dari duduknya dan naik ke kamarnya.

Semoga berhasil, Marc. Kalau kau butuh bantuanku, apapun itu..akan aku lakukan untukmu…

Tatapannya terlempar pada pemandangan langit jingga disore itu. Sedang, ingatannya terlempar pada 10 tahun silam.

“Kau harusnya tidak melawan seperti tadi. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Gadis itu terus memebersihkan luka pukulan diwajah anak lelaki itu tanpa perduli ringisan demi ringisan yang keluar dari mulut anak lelaki itu.

“Bagaimana mungkin aku hanya diam saja saat seorang perempuan diperlakukan seperti itu, hah? Aku tidak mau disebut banci.”

“Tapi kau babak belur juga kan?”

“Setidaknya aku melakukan sesuatu dan tidak diam saja. Buktinya kau juga tidak kenapa-kenapa kan?”

Laia menatap lembut kearah Marc, direngkuhnya wajah penuh luka pria itu dan menatap mata coklat milik anak lelaki berusia 11 tahun itu dalam, “..terima kasih, kalau begitu.” Ucapnya sebelum akhirnya mengecup pelan luka yang ada didahi Marc.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Marc dengan wajah mulai merona merah.

“Tidak. Hanya mengikuti saran kakakku. Katanya, luka kalau dicium pasti sembuh.”

“Dia membohongimu!”

Gadis itu tertawa renyah melihat tingkah kesal Marc. Sangat mirip dengan bocah berusia 5 tahun. Sangat lucu dan manis.

Tanpa sadar, air mata Laia jatuh dan membasahi pipinya. Kenangan yang terlampau indah. Kenangan yang mungkin hanya dimiliki olehnya sendiri.

Sakit. Ya, jelas hati gadis itu terasa sakit. Sudah sering kali gadis itu melayangkan protes pada Tuhan. Kenapa bukan dia yang beruntung dan bisa mendapatkan Marc? Bukankah dia yang lebih dahulu bertemu dengan Marc? Bukankah dia yang selama ini selalu ada bersama-sama Marc saat pria itu dalam kesusahan? Gadis itu baru saja masuk dalam kehidupan Marc, tapi kenapa dia yang mendapatkan apa yang paling Laia inginkan? Yaitu hati Marc.

Tapi, apa boleh buat. Diprotes sebagai manapun tetap dia telah kalah. Toh, cinta tak harus memiliki bukan? Alasan satu-satunya yang dapat Laian terima hingga saat detik ini. Kalau Marc memang bahagia dengan gadis itu…kenapa aku harus sedih? Aku juga harus bahagia bukan?

Tanpa sadar, langit jingga tadi sudah berubah gelap. Matahari yang tadi masih bersinar, sudah diganti dengan cahaya bulan dan bintang.

Aku penasaran, apakah gadis itu sudah tau kau yang sesungguhnya Marc? Bagaimana rekasinya nanti kalau dia sudah tau?

..will be continued on last part..

Guys..kalian pasti bingung kan kenapa di Part akhir ini musti ada bagian satunya? (*kayak Hunger Games : Monkingjay Pt 1 aja -_-*) Nah, berikut penjelasannya..Kenapa harus ada dua bagian? Itu karena, kalo author tulis semuanya jadianya KEPANJANGAN! Untuk itulah, author membaginya jadi 2 bagian😀 sedikit lebay, ya reader? -_- Tapi itulah…dan, jangan lupa di LIKE atau di COMMENT ya? Saran dan kritik kalian sangat author butuhkan demi perbaikan FF author kedepan…

Terima kasih karena sudah membaca..😀

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

9 thoughts on “As Long As You Love Me #11 (Part 1)

  1. Wah ff nya bagus2 thor…
    Kapan lanjut part 2 thor?

    Ohh iya thor bisa kirim password buat chapter yg di protected nggak?
    Twitter : @lianda_eby
    Makasih thor🙂

    1. Hehehe..author masih UAS atuh…jadi belum bisa dipost part 2-nya *biar penasaran sekalian..khekhe*😀 ditunggu, ya? mohon maap kalo bakalan agak lama🙂 udah dikirimin atuh passwordnya..😀 selamat membaca😀

  2. aku selalu penasaran dengan kalimat akhir.. selalu seperti itu.. chingu-aa pintar gantung cerita. jadi marc itu seperti apa??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s