Posted in Marc Marquez FanFic

The Proposal To Love You #2

BeFunky_TPTLY.jpg

FINALLYYYYY!!!! Ah! Akhirnya author bisa sedikit mup on😀 dan kembali menyelesaikan FF ini😀 meski nantinya sedikit mengecewakan😀 untuk itu author butuh kritik dan saran dari pembaca semua😀 Baiklah, author ini gk mau banyak monyong lagi daahh…Happy reading all dear readers yang sudah dengan setia menunggu FF ini😀

*Plagiators and Silent Reader are not Welcome!*

*********************************************

Part 2 :

 

Dalam ruangan itu Marc mencoba setenang mungkin. Tapi, tatapan datar penuh intimidasi itu mau tak mau membuat Marc sedikit gemetar takut.

Pria itu susah payah meneguk ludahnya sembari bangkit berdiri untuk menyampaikan presentasi yang sudah semalaman dikerjakannya. Kau harus dapatkan pekerjaan ini Marc..harus! satu tekat itu saja membuat tubuh Marc lebih sedikit ringan.

“Baiklah, tuan Marquez. Silahkan mulai presentasi anda.”

Marc menghela napas sebentar sebelum menampilkan hasil kerjanya itu. Dan ketika layar LCD putih berukuran sedang itu menampilkan hasil kerjanya, Marc mulai berbicara. Masih ada sedikit rasa gugup yang memompa jantungnya dengan keras, tapi Marc berusaha semampu mungkin untuk menepis perasaan paling tidak enak itu. Yang ia pikirkan hanyalah, bagaimana caranya untuk membuat para tetuah perusahaan ini terkesan dan membuat mereka mau menerimanya diperusahaan ini.

Mulai dari grafik penjualan perusahaan itu, sampai tawaran solusi dari hasil penjualan akhir-akhir ini yang menurun, menjadi bahan presentasi Marc. Bukan hanya itu saja, Marc juga menampilkan, bagaimana cara membuat iklan yang menarik untuk menjual produk-produk perusahaan. 30 menit waktu presentasi pun berakhir. Setelah Marc membungkuk dan mengucapkan terima kasih, senyum puas juga mengembang dari bibir para tetuah perusahaan itu. Setidaknya senyum puas mereka bisa menjadi angin segar untuk Marc dan juga sebagai rambu pertanda kalau Marc akan diterima diperusahaan itu.

Hingga angin segar itu tiba-tiba berubah dingin dan tegang ketika seorang gadis muda cantik dan sebaya Marc memasuki ruangan itu dengan tatapan super dingin yang, seumur hidup Marc, belum pernah dilihatnya.

“Apa yang membuat kalian puas dengan hasil presentasinya?”

“No-nona, kami akan memintanya mengulang lagi dari..”

“Tidak perlu. Aku sudah cukup banyak melihatnya dari luar. Dan aku lumayan kecewa dengan cara kalian menilai hasil presentasinya.”, “..aku tidak butuh pegawai dengan pengalaman minim juga wawasan sempit seperti itu.”

Tanpa menunggu bantahan atau jawaban dari siapapun, gadis itu langsung melenggang keluar tanpa ragu. Dalam hati, Marc terus bertanya, siapa gadis mengerikan itu. Tatapannya benar-benar mengisyaratkan pertanyaan dibenaknya itu sehingga seorang tetuah pun menjawab pertanyaan dibenak Marc itu.

“Dia Lee Ji Eun, Presiden Direktur City’s Group. Dan kami harap kau mau memahaminya. Dia memang sangat selektif dalam memilih karyawan. Tapi, kami akan coba membicarakan ini dengannya. Kami memang sedang mencari solusi atas penjualan yang akhir-akhir ini menurun, dan kami rasa kau bisa memberikan solusi itu, tuan Marquez.”

“Kalau begitu, biar saya juga coba bicara dengan nona Lee.”

“Tidak perlu. Kami akan menghubungimu lagi nanti.”

“Baiklah. Saya menunggu jawaban kalian semua. Terima kasih.”

Sekali lagi Marc membungkuk sebelum meninggalkan ruangan itu. Jujur, ia sedikit kecewa dengan apa yang terjadi tadi. Seharusnya gadis itu mau mengikuti saran salah satu tetuah perusahaan tadi dan mendengar presentasi Marc dari awal.

Piuuh..kupikir hari ini akan berjalan dengan baik. Seharusnya aku mendengarkan Tito dan tidak melamar kemari. Tapi…aku tidak sepenuhnya gagal kan? Toh, mereka masih akan membicarakan ini dengan nona presdir itu. Astaga, aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya diriku kalau seandainya aku diterima bekerja disini. Mungkin gadis itu tidak akan memberikanku kesempatan untuk bernafas.

 

“Hei dude! Kau sudah pulang? Bagaimana tadi? Apa mereka menyukai presentasimu?” Tanya Tito beruntun dengan semangat. Sedang yang ditanya hanya diam dan masih enggan untuk menjawab. Marc terlalu lelah sekarang. Entah apa yang harus ia katakan pada sahabatnya ini. Karena kalau Marc bilang dia langsung ditolak oleh presdir City’s Group, mungkin Tito akan langsung memintanya menyerah saat itu juga.

Jujur, Marc masih belum mau menyerah. Ia masih sangat berharap pada para tetua perusahaan.

“Hei bung! Ada apa? Bagaimana tadi?”

“O-oh..itu, baik. Mereka menyukai presentasiku.”

“Jadi? Kau diterima?”

“E-eum..itu..itu..kata mereka. Mereka akan menghubungiku lagi nanti.”

“Begitu, ya? Haahh…kau sebentar lagi akan mendapat kerja. Sebaiknya aku juga mulai mencari kerja. Aku tidak mau disebut sebagai ‘ibu rumah tangga’.”

“Memangnya kau merasa begitu?”

Tito memicing sebal kearah Marc yang membuat pria tampan itu hanya tertawa geli melihat sahabatnya, “..jadi kalau aku ibu rumah tangga, kau itu suamiku ya?” goda Tito sembari mencolek dagu Marc.

“Kalau kau lakukan itu lagi, aku benar-benar akan membuatmu tidur diluar malam ini.”

“Astaga, suamiku. Jangan marah-marah begitu. Aku takut. Lihat tanganku gemetar.”

“ESTEVE RABAT!!!”

$ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $ $

Ji Eun melangkah keluar dari Lamborgini putih miliknya dengan ekspresis lelah. Gadis itu sedikit terhuyung dan akhirnya berakhir dengan membuang dirinya keatas sofa ruang tamu. Gadis menghela napas panjang kemudian menghembuskannya berat.

Entah bagaimana aku harus menggambarkan rasa lelahku ini…

Telapak tangannya memijat pelan keningnya yang terasa  pening kemudian mencoba untuk bangkit dan duduk sambil bersandar.

“Ji Eun-aah, sudah pulang?” sapa seorang pria paruh baya dengan senyum lebar diwajahnya.

“Oh, halabeoji. Annyeong.”

“Kenapa lagi, eo? Apa tetuah-tetuah cerewet itu menceramahimu lagi? Cih! Mereka itu benar-benar..”

“Anieo. Nan gwaenchanhayo , halabeoji. (Tidak. Aku baik-baik saja, kakek.)”

Gadis itu tersenyum berusaha meyakinkan pria tua itu kalau ia benar-benar baik-baik saja sekarang.

“Aigoo..kau itu tidak pandai berbohong. Sebaiknya kau ceritakan saja pada kakek mu ini, meski tak dapat banyak membantu, setidaknya dengan bercerita pada kakek bisa sedikit meringankan beban pikiranmu.”

Man Deok mengambil tempat disamping Ji Eun. Tubuh rentanya ia putar sedikit menghadap gadis kecilnya, “…nah, ayo ceritakan. Apa yang terjadi dikantor tadi?”

“Jujur saja, aku sangat lelah kek. Aku mau menyerah saja. Entah mengapa, akhir-akhir ini terasa begitu berat.”

“Ji Eun-aah. Kadang-kadang kau itu mengingatkanku pada ibumu, kadang juga kau mengingatkanku pada ayahmu. Tapi, aku lebih senang disaat seperti ini, sikapmu itu mengingatkanku pada seorang Kim Nana. Kau tau, bersemangat, tidak mudah menyerah, wanita yang hebat dan tak takut pada apapun. Dimana pun kau bekerja dan dengan siapapun itu, kesulitan-kesulitan macam ini pasti akan kau hadapi. Sekarang tinggal bagaimana kau menyikapinya. Tentu saja menyerah dan berputus asa bukan jawabannya. Kau tau, teguran-teguran yang diberikan tetuah-tetuah perusahaan padamu,  bukanlah hal yang harus kau jadikan beban. Jadikan itu sebagai motivasimu. Dan berubah. Aku yakin, suatu saat mereka akan melihat siapa itu Lee Ji Eun yang sebenarnya.”

“Ini masalah karyawan baru yang kan mereka rekrut sebagai manager divisi pemasaran. Entahlah, aku tau aku salah tapi..”

“Apa salahmu?”

“Aku menolaknya langsung bahkan sebelum berunding terlebih dahulu dengan para tetuah perusahaan. Yang sebenarnya, para tetuah perusahaan sangat menginginkan pemuda itu untuk bekerja sebagai manager divisi pemasaran. Menurut mereka, pemuda itu dapat menjawab semua krisis yang sedang dihadapi perusahaan pada divisi pemasaran.”

“Begitu, ya? Dan harusnya kau terima saran itu, bukan? Jangan anggap semua teguran dari tetuah-tetuah itu adalah sindirian untukmu. Mereka hanya berusaha yang terbaik untuk perusahaan itu dan juga untukmu. Mereka mencarikan seseorang yang pantas bekerja denganmu.”

Gadis itu menunduk sebentar. Dan ia senyum manis mengembang lebar diwajah lelahnya ketika diangkatnya kembali wajahnya, “..gumawo halabeoji. Perasaanku lebih baik sekarang. Halabeoji yang terbaik.”

“Ya..ya, sekarang pergilah mandi. Setelah itu turun dan kita makan malam bersama.”
Ji Eun mengangguk kemudian mengecup singkat pipi pria tua itu dan beranjak dari ruang tamu menuju kamarnya.

Perasaannya lebih baik sekarang. Toh, apa yang dikatakan kakeknya ada benarnya juga. Untuk saat-saat seperti ini, ia tak boleh menyerah begitu saja. Dan lagi, ia tak boleh mengecewakan ayahnya yang telah memberikan tanggung jawab besar ini padanya.

Appa..aku akan berusaha..akan kutunjukkan kalau putrimu ini tak kalah tangguh darimu…aku pasti bisa membuat City’s Group lebih hebat dari yang kau buat sebelumnya..

“Marc! Ada telepon untukmu!” seru Tito dari ruang tamu sembari mengayun-ayun gagang telepon yang ada ditangannya.

“Dari siapa?”

“City’s Group?”

“Ada apa?”

“Mana ku tau! Kenapa tidak kau tanya saja sendiri disini, cepat!”

Ragu-ragu, Marc menerima gagang telepon itu dari tangan Tito. Jantungnya memompa cepat ketika telinganya mendengar suara dari seberang sana menyapanya hangat.

[Selamat malam, tuan Marquez. Saya dari City’s Group.]

“O-oh i-iya..ada apa?”

[Begini, kami sudah coba berbicara dengan presdir Lee dan hasilnya..]

“E-eh, tidak apa-apa kalau aku tidak diterima. Setidaknya aku sudah berusaha dengan baik dan..”

[..anda diterima bekerja diperusahaan kami, tuan Marquez. Dan diharapkan besok anda untuk mulai bekerja di divisi pemasaran.]

“A-a-a-apa? A-anda ti-ti-tidak bercanda k-kan?” ucap Marc terbata-bata mencoba menahan gejolak dihatinya.

[Tidak, tuan Marquez. Dan masalah posisi anda akan saya beritahu besok. Selamat tuan Marquez, selamat malam.]

Sambungan telepon pun terputus. Marc merosot dengan tangannya yang bergetar hebat. Sedang Tito hanya menatap sahabatnya itu dengan tatapan heran, “..dude! kau baik-baik saja?” tanya Tito sedikit khawatir.

Marc masih belum menjawab. Tangan bahkan sekujur tubuh pria itu bergetar hebat. Bukan karena ketakutan atau apa..namun, rasa senang yang berusaha ia tahan membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat tak karuan.

Tito masih terlihat cemas. Ia tak akna berhenti merasa  cemas kalau belum mendapat jawaban apapun dari Marc. Dalam hati ia terus menduga, setauku Marc tidak punya penyakir ayan atau yang lainnya..tapi, kenapa…

“Mereka bilang..aku..aku..aku diterima..” gumam Marc hampir pada dirinya sendiri, bahkan Tito harus mendekatkan telinganya kewajah Marc untuk mendengar apa yang digumamkan pria itu.

“Mereka bilang apa?” tanya Tito lagi.

“A-aku diterima..be-besok mulai bekerja..diterima..bekerja..AAAAAAAARRGGGHHHH!!”

Sontak seruan girang Marc itu membuat Tito melonjak kaget. Digosok kupingnya yang sakit akibat teriakkan Marc dengan kesal, “..Marc! Kau gila, ya?? Kau mau membuatku tuli, hah?!”

Tak menghiraukan kekesalan Tito, Marc langsung memeluk tubuh jangkung sahabatnya itu masih sambil berseru girang.

“Astaga, kau ini kenapa hah?! Demi yang Kudus, kau perlu diperiksa ke rumah sakit jiwa, kawan!”

“Tidak, bodoh! Kau tidak dengar apa yang ku katakan tadi, hah?! Aku diterima bekerja di City’s Group, Tito. City’s Group! Bisa kau bayangkan itu! Astaga..aku tak percaya ini.”
“Jadi kau diterima?”

“Tentu saja! Haahh..aku senang sekali. Dan mulai besok, mereka ingin aku mulai bekerja.”

“Jadi..dimana mereka meletakanmu? Maksudku posisimu?”

“Entahlah..besok baru akan mereka beri tahu.”

Tito seperti menimbang sejenak sebelum menyeret sahabatnya itu ke kamar, “..anakku yang tampan, sebaiknya kau segera beristirahat sekarang. Besok kau sudah mulai bekerja, ee?”

“Anak? Sejak kapan..”

Belum Marc menyelesaikan kalimatnya, dengan cepat Tito mengecup pucuk kepala Marc yang memang lebih pendek darinya, “..tidurlah, nak..ibu menyayangimu.”

“ESTEVE RABAAAATTTTT!!!!!!!!”

“Kenapa? Itu motivasi, Marc.”

“Keluarlah sekarang sebelum aku benar-benar akan melemparmu dari sini kebawah sana.”

“Baiklah..baiklah..kau kasar sekali pada mama mu ini, nak?”

Marc baru saja akan menangkap lengan Tito namun kalah cepat dari pria bertubuh jangkung itu yang langsung melengos keluar dari kamar Marc. Tentu ia masih sadar kalau ia hanya manusia biasa dan bukan peri bersayap yang dapat terbang jika dibuang Marc dari lantai 16 apartemen ini kebawah sana.

Marc menghela napas panjang. Ia kesal pada Tito, tapi rasa kesal itu tak dapat melebihi rasa bahagia yang ia rasakan sekarang. Namun, ada satu hal yang mengganjal hatinya.

Apa yang membuat gadis itu berubah pikiran?

..to be continued..

Author:

Author Biodata : Name : Lea Ravensca Octavia Obiraga Called : Echa D.O.B : October 18th 1995, Age : 19 y.o Zodiac : Libra Hobby : Reading, Writing, Sleeping and watching TV Collage : Bina Nusantara University Faculty : International Relation :D That's all information about me..and if you want to know more about me..you could follow me on my twitter @LeaObiraga or @EchaObiraga and add my facebook page Echa Obiraga or Echa Obiraga II.. Oh ya..also you can find me at my Instagram ravenscaobiraga..

10 thoughts on “The Proposal To Love You #2

  1. Kok aku lebih nyaman jika kata “tetuah” perusahaan diganti dengan petinggi perusahaan. Itu lebih enak kedengarannya. Kalo tetuah kek sebuah suku gitu ya😀 tapi terserah kamunya aja sih😄

  2. ESTEVE RABAT!!! Aku cinta padamu *muachhhhhh* hihihhi….
    Ceritanya menghibur. Penulisanmu udah berkembang. Tapi masih ada beberapa typo. It’s okay-lah. Terus nulis ya😉

  3. Haluww maaf baru bisa baca ya hehe. Oke td aku nemu satu aja sih koreksi… Kalo awal kalimat gabole pake angka *efek abis belajar eyd di kampus hihihi* kalo emang terpaksa pakein huruf.
    Daaann, itu si Marc sama Tito nggak bisa santai ya? Mereka cowok dan mereka… heboh. OMG >.< dan satu lagi, cepet lanjut ya. Aku kangen Marc soalnya, masih belum sempet nulis ttg dia *curcol*,:D

    1. hehehe..makasih buat koreksinya😀 dan maaf yaa kalo lanjutannya bakalan sedikit kelamaan..soalnya, habis UTS bawaannya mager mulu khekhekhe😀 by the way, makasih udah baca dan buat sarannya yaa??🙂

  4. woaaaaa sorry baru sempet baca + komen sekarang. aku sukaaaa bromance-nya Marc & Tito! ESTEVE RABAATTT….. hahaha. ayo dong dilanjut next part, pengen liat Marc didamprat sama Ji Eun wkwk…

    1. gk apa2 kok kak hehe😀 bromance Tito-Marc akan terus berlanjut kok hehehe…siap kak, si Marc bakalan didamprat habis-habisan nanti hehehehe😀 makasih udah baca dan buat comment nya kak😀

  5. kok blom dilanjut kk? aku reader baru, hehe.. maaf ya kk klo g komen satu-satu. aku baca semua ff yg castnya IU dan bagus-bagus. dilanjutin ya kk yg ini. hwaiting!🙂

    1. Maaf yaa kalo FF ini belum bisa dilanjut..
      Soalnya author sibuk banget sama kuliahnyaa..
      Kalo ada waktu senggang, pasti author lanjutin kok hehe..
      By the way, makasih yaa udah dibaca FF author ini😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s